Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearDHA

“Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik hari ini adalah kemarahan bentuk protes atas kejadian-kejadian yang melibatkan kepolisian. 


Ludwig Josef Johann Wittgenstein. Filsuf asal Austria. Lahir 1889. ​Pernah berkata kurang lebih: Kekacauan berpikir manusia terjadi ketika kita memaksakan satu label atau hukum universal untuk masalah-masalah yang sebenarnya berbeda konteksnya.

****

Saya memenuhi undangan LPDP sebagai peserta Persiapan Keberangkatan calon penerima beasiswa. Di Lembaga Pendidikan Sekolah Bahasa Polri, Jakarta Timur. Apa yang pertama dalam pikiran saya? Tentu saja menyeramkan. Ini semacam retret. Jauh hari saya sudah menyiapkan mental. Harus siap tahan banting. 


Dalam konteks pemimpin Indonesia sekarang ini. Yang paling menyeramkan dalam bayangan saya adalah, saya akan dididik seperti militer, sebagaimana para calon manager Kopdes. Oh tidak. Apa tubuh saya akan kuat. Bagaimana jika nyawa saya taruhannya. 


Perjalanan itu dimulai. Senin pagi hari ketika kalian belum bangun. Saya diantar Ibumu sampai Stasiun. Ibumu adalah support system yang paling keren bagiku. 


Saya tidak kenal siapa-siapa semuanya. Kecuali beberapa kawan kampus tujuan sama. Kereta berangkat dari Tegal tempat duduk saya sendirian. Di Cirebon, seorang laki-laki, berpakaian rapih duduk disisi saya. Dunia modern. Kereta modern. Sepertinya enggan basa-basi. Namun, saya sapa dia, silahkan mas. Kalo bertanya tujuan kemana jelas. Tujuan kereta ini adalah Jakarta. 


Saat dia sibuk menata dengan koper dan barang bawaannya. Saya tidak sengaja melihat namanya boarding pass. Rohman. Iseng saya cek di undangan PK LPDP. Cocok. 

“Mas, ikut PK LPDP di Jakarta, kah?.”

Betul jawabnya.Dia kaget, keisengan naluri detektif ini, membawa perjalanan ini tidak bener-bener sendiri. Dia berkisah banyak hal. Tujuan kampusnya prodi Komputer S2 UNY. Saya bercerita apa adanya.


Dari stasiun Jatinegara, kami menuju Gedung Sebasa bersama. Karena dia bukan kelompokku. Kami berpisah di depan meja registrasi. 


Sebelum kami sampai di Sebasa. Di Whatsapp group , seorang kawan menginfokan, harus berpakaian rapih. Karena disambut polisi. Pikiran kami macam-macam. Ini pasti akan disuruh cepat cepat. Sebagaimana dulu ketika saya Ospek es satu.


Di meja registrasi, seorang polisi menyapaku, menanyakan kelompokku. Berbasa-basi. Diselingi haha hihi. Dia memperkenalkan diri. Pak Miftah. Ada satu kesamaan yang kami bisa cukup banyak berbincang-bincang. Sama-sama ngapak. Dia asal Cilacap. Wajahnya seperti orang Ambon. Hampir mirip kawan saya Izam Kalijambu. Dia menceritakan bahwa dia pernah menjadi delegasi perdamaian PBB di Aleppo. Tentu saja dia fasih berbahasa Arab. 


Apakah pikiran saya tentang berapa 'jahatnya' polisi seketika itu hilang? Tentu saya iya. Tapi ternyata tidak. Sebasa dan saya tidur di Barak Dormitory masih menyimpan misterinya. 



#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Mendiang Umbu Landu Paranggi, yang sering disebut tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia pernah berpuisi. Apa ada angin di Jakarta?


Senin, 10 Agustus 2026 saya pergi ke Jakarta, memenuhi undangan LPDP. Selama enam hari itulah saya tak memegang HP. Semua dibatasi. Di tempat Diklat sekolah bahasa Polri. Dan saya akhirnya bisa menjawab pertanyaan Umbu.


Di Jakarta, tidak ada angin. Tidak ada cintamu. Tidak ada rengekanmu. Tak ada candamu. Yang ada hanya doa²mu yang deras memenuhi dadaku yang sesak.

Jika ada guru atau dosen, yang sabdanya bisa memeberkahi perjalanan hidupku, beliau adalah Pak Zaim. Kaprodi PBA Unnes saat saya masih menjadi mahasiswa baru.


Saya ingat-ingat lupa momentumnya. Beliau pernah mengajar mata kuliah semantik Al-quran. Tetapi bukan momen itu sepertinya. Sebagai mahasiswa pendidikan bahasa Arab dari kalangan ndeso, kelak saya tidak tahu akan menjadi apa selain jadi guru. Tentu saja banyak rasa was-was, minder dan segala OVT lainnya terhadap masa depan.


Pak Zaim hadir.


Beliau berkisah: dulu, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II tahun 1945, kondisi Jepang hancur lebur secara ekonomi, infrastruktur, dan mental. Kaisar Hirohito mengumpulkan para pejabatnya, pertanyaan pertama yang diajukan memang bukan tentang berapa jumlah tentara atau sisa emas yang dimiliki, hanya: "Berapa jumlah guru yang masih hidup? Kumpulkan!". Maka kita bisa melihat Jepang yang sekarang.


Sepenggal kisah itu, yang diceritakan Pak Zaim, menjadi gacuk (senjata rahasia) saat saya lulus, saat posisi saya terpojok. Di sebuah FGD (Focus Group Discussion), perekrutan tenaga kontrak kementerian — kementerian yang bukan urusannya pendidikan, bukan juga keagamaan, saya lolos meyakinkan para panelis dan peserta lain, bahwa saya sepertinya adalah salah satu guru yang wajib dikumpulkan kaisar Hirohito, untuk 'ndandani' kementerian tersebut.  Alhamdulillah terbukti, tenaga saya mewarnai kementerian tersebut tepat 5 tahun.


Bahkan, saat kemarin, ketika saya terpojokan dalam test susbtansi LPDP. Karena tujuan kampus dan Prodi S3 saya Alquran, sementara, proposal disertasi saya masih rasa berbau keguruan. Reviewer akademik sungguh sangat meremehkan. Di akhir sesi, saat closing statement, gacuk yang diberikan Pak Zaim saya keluarkan, bahwa saya adalah salah satu guru, sebagaimana Kaisar Jepang dulu mengumpulkan para guru waktu itu. saya akan membuat Indonesia yang saya cintai ini lebih maju. Reviewer tadi, yang mengejar dengan segala pertanyaan yang meremehkan hanya berdiri, tepuk tangan dan tersenyum lebar, waktu itu saya tidak tahu apa makna dibalik itu.


Ah ya. Betapa, sepenggal kisah dari Pak Zaim sangat memberkati hidupku.
****
Pak Zaim, bagiku, role model pendewasaan keislaman. Saya yang jebolan santri salaf, NU. Dulu di Unnes agak kaget, saat bertemu dengan kalangan non NU. Pak Zaim adalah tetangga saya. Hidup saya nebeng, di kakak sepupu saya Mas Abdul Azis dosen Psikologi, di Patemon. Saya juga punya kawan kentel, satu kamar, satu Prodi, Fahmi Najib —yang dia juga nebeng kakak sepupunya, Mbak Zulfa Sakhiyya, dosen Pendidikan Bahasa Inggris. Mas Azis dan Mbak Afa suami istri, maka saya dan Fahmi dipertemukan di Patemon ini selayaknya keluarga jauh yang dekat.


Nah, dulu rumah Pak Zaim ada di samping rumah Mas Azis. Sepulang kuliah, saat salat Magrib, Isya dan subuh, saya akan berjama'ah di masjid yang di depan komplek kami bersama Pak Zaim. Madjid desa, yang kebanyakan dari kalangan NU.


Sepenuturan salah satu kawan saya, yang dekat dengan Pak Zaim, beliau pernah NU, kemudian di Muhammadiyah. Namun, di masjid itu, saat pak zaim jadi makmum, saat subuh, beliau tetap mengikuti do'a qunut. Hal yang membuat saya sedikit tidak percaya adalah, di bulan Safar. Orang-orang kampung Patemon mengadakan salat talak balak. Agar terhindar dari macam mara bahaya. Pak Zaim ikut juga sebagai makmum. Shalat yang mungkin sebagian kalangan mengakatan bahwa ini adalah bid'ah.



Di kampus, beliau dipanggil ustadz, sebagaimana tradisi mahasiswa PBA. Sesekali menjadi khatib dan imam masjid besar kampus, seringkali kali juga menjadi da'i narasumber, mengisi ceramah di acara-acara resmi dan non resmi. Gayanya seperti ustad maulana, jama'ah oh jama'ah alhamdulillah. Konten ceramahnya segar segar. Berisi tentang islam yang moderat, tidak dikotak-kotakkan oleh organisasi dalam sekat.

****
Suatu ketika, saya dan Fahmi mengikuti acara kampus sampai senja tiba. Ingin pulang. Tapi sudah terlalu sore dari kampus ke Patemon. Kami tidak membawa motor. Angkutan juga sepertinya sudah tidak ada. Dulu belum ada Ojol. Kami melihat mobil sedan Toyota Corona masih terparkir di depan dekanat. Ini mobil Pak Zaim batin saya. Saya dan Fahmi menunggu Pak Zaim keluar dari kantor jurusan, Pak Zaim tahu maksud kami, kami dipersilahkan masuk. Dan karena canggung dan malu, kami berdua duduk di belakang. Betapa su'ul adabnya saya waktu itu. Menjadikan Pak Zaim selayaknya Saiq biasa.
****
Ah Pak Zaim, jika boleh, saya ingin nebeng terus pada ideologi panjenengan dalam tiap langkah hidupku, Pak Zaim. Ya Allah husnul Khatimah.

SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.

Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.

Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.

Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.




Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE