#DearDifaa
.
.
.
.
.
Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
.
.
Sejujurnya saya malas menulis ini. Selain saya bukan seorang 'alim dalam agama, juga saya takut jika tulisan ini salah dipahami. Tapi apapun itu, saya tetap harus tuliskan ini untukmu. Untuk masa depan jamanmu.
..
Tahun baru 2020 akan segera tiba. Dan Bapakmu masih seperti ini saja. Kakekmu dulu tidak pernah mengajarkan resolusi kepada saya. Resolusi itu milik kaum priyayi. Dan kita golongan orang awam pinggir kali.
..
Sudah menjadi rutinitas tahunan di negeri kita. Setelah perdebatan Natal, akan muncul perdebatan lainnya. Sebentar lagi, akan ada pesan berantai, larangan untuk merayakan tahun baru dengan meniup terompet, komplit dengan dalilnya. Mereka—si penyebar pesan–, melakukan tafsir secara tekstuaal.
.
.
Tapi benarkah kita, jika meniup terompet akan auto memeluk agama Yahudi? #DearDifaa. Ada kisah yang sebaiknya harus kamu simak. Tokoh dalam kisah ini adalah seorang sastrawan. Dia mengkonfirmasi permintaan saya dalam pertemanan di Fesbuk. Maka kami berteman. Dan saya mengikuti berbagai hal yang dia bagi di akun fesbuknya. Privasi postingannya hanya bisa dibaca oleh daftar teman saja.
..
Darah dalam tubuhnya masih mengalir gen Nabi Muhammad. Dia Sayyid. Orang sekarang menggeneralisir dengan menyebut Habib. Namun, selayaknya sastrawan atau seniman, jalan pikirnya nyeleneh. Sepanjang saya ikuti, dia telah banyak pindah agama. Menjadi Budis, Hindu, Katolik, dan lain sebagainya.
..
Dia suka travelling ke luar negeri. Suatu ketika saat musim dingin tiba, dia ada agenda di Eropa [saya lupa nama negaranya]. Saat malam hari, dia harus pindah ke kota lain, namun sayang, dia tertinggal kereta. Waktu itu salju turun tebal. Dia gontai berjalan sendirian. Saat itulah dia melihat Sinagog tua [tempat ibadah umat Yahudi].
..
Di depan pintu besar Sinagog dia mengucapkan salam. Namun tidak ada yang membuka. Setelah sekian lama, dan dia juga mengeraskan suara. Pintu dibuka oleh seorang pria tua.
“Permisi, Pak. Saya melihat Sinagog ini, seolah memanggil saya untuk ke sini, dan Yahweh akan menolong saya di malam yang dingin ini”.
“Anda berasal dari Israel?”.Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
“Kalau begitu, pergilah, agama ini hanya untuk anak turun Musa”.
“Tapi pak, saya masih ada ikatan darah dengan Musa, bertemu di kakek kami, Ibrahim”.
..
Tokoh kita memang diperbolehkan masuk ke dalam Sinagog. Tapi tidak boleh memeluk Yahudi. Agama Yahudi itu tidak pernah membuka lowongan pemeluk agama baru. Tapi jika kita meniup terompet –kata Sobat Gurun– kita auto Yahudi. Kadang saya bingung dengan logika macam ini. Mereka mendorong-dorong orang untuk menjadi Yahudi. Sementara Yahudi tidak open rekruitment sama sekali.
..
#DearDifa. Point catatan ini bukan halal atau haramnya meniup terompet, saya bukan kiai. Terompet memang konon budaya kaum kapitalis. Orang-orang hedonis akan menghamburkan uang saat pergantian malam, di tahun baru. Tapi ada pria penjual terompet di pinggir jalan, yang meningalkan anaknya yang masih kecil. Anak itu seperti kamu. Saya akan membelikanmu terompet itu. Kita memang bukan orang kaya, tapi masih banyak orang yang di bawah kita.
