Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

#DearDifaa

Sejujurnya saya malas menulis ini. Selain saya bukan seorang 'alim dalam agama, juga saya takut jika tulisan ini salah dipahami. Tapi apapun itu, saya tetap harus tuliskan ini untukmu. Untuk masa depan jamanmu.
.
.
Tahun baru 2020 akan segera tiba. Dan Bapakmu masih seperti ini saja. Kakekmu dulu tidak pernah mengajarkan resolusi kepada saya. Resolusi itu milik kaum priyayi. Dan kita golongan orang awam pinggir kali.
.
.
Sudah menjadi rutinitas tahunan di negeri kita. Setelah perdebatan Natal, akan muncul perdebatan lainnya. Sebentar lagi, akan ada pesan berantai, larangan untuk merayakan tahun baru dengan meniup terompet, komplit dengan dalilnya. Mereka—si penyebar pesan–, melakukan tafsir secara tekstuaal.
.
.
Tapi benarkah kita, jika meniup terompet akan auto memeluk agama Yahudi? #DearDifaa. Ada kisah yang sebaiknya harus kamu simak. Tokoh dalam kisah ini adalah seorang sastrawan. Dia mengkonfirmasi permintaan saya dalam pertemanan di Fesbuk. Maka kami berteman. Dan saya mengikuti berbagai hal yang dia bagi di akun fesbuknya. Privasi postingannya hanya bisa dibaca oleh daftar teman saja.
.
.
Darah dalam tubuhnya masih mengalir gen Nabi Muhammad. Dia Sayyid. Orang sekarang menggeneralisir dengan menyebut Habib. Namun, selayaknya sastrawan atau seniman, jalan pikirnya nyeleneh. Sepanjang saya ikuti, dia telah banyak pindah agama. Menjadi Budis, Hindu, Katolik, dan lain sebagainya.
.
.
Dia suka travelling ke luar negeri. Suatu ketika saat musim dingin tiba, dia ada agenda di Eropa [saya lupa nama negaranya]. Saat malam hari, dia harus pindah ke kota lain, namun sayang, dia tertinggal kereta. Waktu itu salju turun tebal. Dia gontai berjalan sendirian. Saat itulah dia melihat Sinagog tua [tempat ibadah umat Yahudi].
.
.
Di depan pintu besar Sinagog dia mengucapkan salam. Namun tidak ada yang membuka. Setelah sekian lama, dan dia juga mengeraskan suara. Pintu dibuka oleh seorang pria tua.
“Permisi, Pak. Saya melihat Sinagog ini, seolah memanggil saya untuk ke sini, dan Yahweh akan menolong saya di malam yang dingin ini”.
“Anda berasal dari Israel?”.
Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
“Kalau begitu, pergilah, agama ini hanya untuk anak turun Musa”.
“Tapi pak, saya masih ada ikatan darah dengan Musa, bertemu di kakek kami, Ibrahim”.
.
.
Tokoh kita memang diperbolehkan masuk ke dalam Sinagog. Tapi tidak boleh memeluk Yahudi. Agama Yahudi itu tidak pernah membuka lowongan pemeluk agama baru. Tapi jika kita meniup terompet –kata Sobat Gurun– kita auto Yahudi. Kadang saya bingung dengan logika macam ini. Mereka mendorong-dorong orang untuk menjadi Yahudi. Sementara Yahudi tidak open rekruitment sama sekali.
.
.
#DearDifa. Point catatan ini bukan halal atau haramnya meniup terompet, saya bukan kiai. Terompet memang konon budaya kaum kapitalis. Orang-orang hedonis akan menghamburkan uang saat pergantian malam, di tahun baru. Tapi ada pria penjual terompet di pinggir jalan, yang meningalkan anaknya yang masih kecil. Anak itu seperti kamu. Saya akan membelikanmu terompet itu. Kita memang bukan orang kaya, tapi masih banyak orang yang di bawah kita.
#Dear Difa
Saya menemukan gambar ini di Sosmed. Kurang lebih maknanya begini: 
Petugas kebersihan di Teheran, Iran memberitahu puterinya: "Puteriku, jangan kau beritahu kepada seorangpun tentang ayahmu yang bekerja menjadi petugas kebersihan kota, nanti semua orang membulymu. Kemudian ia pergi mencari sang ayah. Lalu ia memotret momen ini bersama ayahnya, dan ia tulis, "Inilah ayahku. Dan aku bangga padanya".
.
.
#DearDifa, Suatu saat jika kamu malu memiliki bapak pendosa. Saya tidak apa-apa.

#DearDifaa

Saat duduk santai bersama, melepas lelah, teman kerja saya yang usianya jauh dari saya membuka obrolan.
"Orang tua masih komplit?".
"Tinggal Ibu". Jawab saya
"Orang tua saya sudah tidak ada semua".
Dia bercerita, bagaimana dulu saat kecil hidup begitu bahagia, kedua orang tua masih ada semua. Kini sudah tidak ada.
.
.
Dulu, semua tetangga kanan kiri rumah masih ada, Uwak (budhe-pakdhe) masih komplit. Kini satupun sudah tak ada. Hidup seolah begitu cepat. Dia berkisah, Bapaknya meninggal ketika usianya 17 tahun. 0-10 tahun dia menyadari perilakunya belum ndolor. 10-17 tahun itulah masa dimana dia mengenal Bapaknya. Fase dimana dia ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Jadi, dia belajar mengenal bapaknya dalam kurun waktu 7 tahun. Waktu yang begitu cepat untuk dilalui.
.
.
Kini jumlah anaknya 3. Dia bercerita. Saat dia berkendara, dia selalu berdoa sepanjang jalan. Agar selalu dilimpahi keselamatan.
.
.
Akhir-akhir ini, WAG (WA Gropup) team kerja kami selalu ada saja yang membagikan berita duka. Setidaknya seminggu sekali. Rentetan nestapa itu selalu menghiasi percakapan kami. Maka, ketika teman saya tadi mengajak merenung. Sudah siapkah bekal kita. Sedang kualitas ibadah masih seperti itu saja.
.
.
26 Desember 15 tahun yang lalu, ribuan nyawa melayang di Aceh. Kejadian Tsunami itu menegaskan kan bahwa manusia itu tidak punya kekuatan atau kuasa. Digebyur air ajur. Ditiup angin kawur. Dibakar geseng.
.
.
Sore tadi, setelah kemarin saya berbincang dengan rekan kerja tentang kematian. Dibawah rintik-rintik hujan, saya membuka WhatsApp. Komandan saya membagikan berita salah satu teman saya sudah tiada. Begitu cepatnya. H. Akhmad Salimi Bin Tasori.. Alfatihah...
#DearDifa

Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".


Guci, 27 Desember 2019.

#DearDifa
Kisah ini saya dapatkan dari teman MTs (SMP). Dia bekerja di Kedubes Aljazair. Sore itu dia kedatangan tamu. Seorang Alim. Beliau adalah pengasuh sebuah zawiyah [pesantren] di salah satu provinsi di Aljazair yang berjarak sekitar lima jam dari ibukota.
.
.
Kedatangan beliau ke kantornya memang sebuah agenda. Kebetulan pimpinan menyampaikan ingin bertemu beliau dan kebetulan hari itu juga beliau di ibukota sedang mengantarkan keluarganya yang akan pulang liburan ke negara asal.
.
.
Kedatangan beliau ke kantor, selain membicarakan program kerjasama,  beliau juga diamanahi untuk mengelola zawiyah oleh abahnya. Tahun  2018 zawiyah beliau telah memberikan beasiswa untuk 53 santri asal Indonesia. dan ditahun 2019 memberikan beasiswa lagi untuk 37 santri Indonesia yang menghafal Alquran di zawiyah beliau. Di kantor itulah mereka berbagi tentang banyak hal.
.
.
Di antara hal yang beliau bagi ke teman saya adalah tentang metode parenting  anak. Beliau menceritakan anak salah seorang kawan beliau yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk cinta kepada nabi.
.
.
Alkisah, beliau mempunyai kawan yang anaknya setiap diucapkan nama kanjeng nabi Muhammad Saw. selalu memegang dadanya seolah-olah nama Muhammad menghujam di hatinya. Si anak merasakan kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam kepada nabi.
.
.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada temannya yang merupakan ayah dari anak tersebut, apakah sang anak pura-pura atau memang kenyataan demikian. sang ayah menjawab, bahwa hal tersebut adalah benar adanya. Sang ayah mulai cerita. Sejak kecil, sang anak telah dididik untuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap kali anak tersebut berbuat baik, malam harinya sang ayah akan memberikan parfum ke tangan dan wajahnya ketika dia tidur. Serta memberikan hadiah di samping tempat tidurnya. Saat sang anak terbangun, dia akan mencium aroma wangi dari parfum tersebut dan menemukan hadiah di samping tempat tidurnya. Sang anak bertanya kepada sang ayah, dari mana asal parfum dan hadiah tersebut. Sang ayah menjawab, bahwa semalam Nabi Muhammad datang kepadanya dan memberikan hadiah karena hari itu sang anak telah berbuat baik.
.
.
Suatu hari ketika, sang anak berbuat nakal, malam harinya sang ayah tidak memberikan parfum dan hadiah. Esok paginya sang ayah mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin datang pada malam itu karena pada siang harinya sang anak berbuat nakal.
.
.
Kegiatan ini terus dilakukan hingga sang anak mulai dewasa dan mampu berpikir. Namun, hal ini telah menjadi pelajaran berharga bagi sang anak untuk membiasakan berbuat baik sejak kecil.
.
.
Ketika sang ayah ditanya, darimana dapat ide untuk melakukan hal tersebut memberikan hadiah secara diam-diam ketika anak tidur jika pada hari itu sang anak berbuat baik dan menisbatkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad—
.
.
Sang ayah menjawab, ide tersebut dia dapatkan dari temannya yang beragama Kristen yang anaknya sangat fanatik dengan sosok Baba Noel (Santa Claus) yang suka memberikan hadiah kepada anak-anak yang baik di malam natal.
.
.
Cerita tentang Baba Noel (Santa Claus) dia modifikasi dan dia ganti tokoh Santa dengan sang Nabi.
.
.
Di negara kita, mengucapkan tahniah, selamat natal menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan setiap tahunnya. Di Aljazair, teman sang alim mampu mengambil hikmah dari hal yang diperdebatkan sekalipun. Melampaui semua itu. Seribu langkah lebih maju. bukan terlarut dalam perdebatan.
#DearDifaa
Sebelum ini, Bikini Bottom belum pernah merayakan natal. Setelah Sandy si tupai yang hijrah dari Texas merayakannya. Rumah Sandy yang kedap air dihias dengan ornamen pohon dan lampu natal, Spongsbob yang melihat merasa aneh. Kemudian Sandy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah hari raya besar, semua makhluk dan alam raya bergembira. Penuh suka cita. Natal.
.
.
Suatu hal yang kental dengan nuansa natal, adalah kedatangan Santa yang memberi hadiah kepada anak-anak yang baik dan saleh. Sandy juga menjelaskan itu kepada Spongsbob. Kita semua tahu, Spongsbob itu sangat lugu. Dan ia langsung percaya begitu saja.
.
.
Sepulang dari rumah Sandy, Spongsbob menyebarkan kisah natal dan Santa dengan hadiahnya ke seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua wargapun percaya dengan kisah Spongsbob. Mereka menghiasi rumah-rumah mereka dengan ornamen khas natal. Semua warga Bikini Bottom berbahagia menyambut natal, kecuali Squidward. Dia sama sekali tidak percaya apa itu Santa dan hadiah-hadiahnya. Dia golongan kafir. Atau mungkin agnostik.
.
.
Saat semua warga berkumpul di malam dingin penuh salju untuk menyambut kedatangan Santa. Squidward tertawa menghina. Dia berkata, bahwa Santa itu hanya dongeng belaka. Namun, warga masih yakin dengan cerita yang dibawa Spongsbob, mereka bernyanyi-nyanyi khas gereja.
.
.
Sampai larut malam, mereka terus bernyanyi dan berharap. Namun Santa tak kunjung tiba. Sampai pagi masih ada yang nyanyi, hingga tenggorokan mereka kering. Dan bibir mereka ndower. Mereka akhirnya bubar. Mereka kecewa dengan cerita Spongsbob. Spongsbob pembohong besar.
.
.
Mata Spongsbob sembab setelah menangisi nasibnya, ternyata Santa itu memang benar tidak nyata. Saat down itu lah Squidward mendatangi Spongsbob dengan nanar mata menghina serta mulut tertawa. Spongsbob yang sedang bersedih, memberikan sebungkus kado untuk Squidward. Mulanya, Squidward tidak bergeming, itu hanya kado biasa. Mungkin saja bekas celana dalamnya. Setelah dibuka, ternyata isi kado tersebut adalah Klarinet, alat musik kesukaan Squidward. Klarinet itu terbuat dari jenis kayu yang sudah hampir punah. Bahkan di sisi tengah Klarinet itu terukir nama "Squidward".
.
.
Squidward tentu saja sangat gembira. Namun ia tidak bisa melihat pria kecil malang yang menjadi tetangganya itu terus bersedih. Akhirnya Squidward memutuskan untuk menyamar menjadi Santa. Dalam rangka membuat Spongsbob bahagia.
.
.
Squidward lengkap dengan jenggot putih tebal dan topi merah putih serta kostum Santa siap membuat Spongsbob gembira. Spongsbob yang mengira bahwa itu adalah Santa beneran mulanya menggandeng anak kecil untuk meminta hadiah ke Santa. Squidward si Santa palsu itu bingung, dia tidak punya kado apa-apa. Dia masuk kedalam rumahnya. Menimbang apakah ada barang yang pas untuk hadiah anak kecil. Dia menemukan sisir rambut. Dia hadiahi anak itu. Anak tersebut menerima dan pulang dengan gembira. Tentu saja Spongsbob juga sangat bahagia. Ia berterimakasih pada Santa yang telah membawa natal ke Bikini Bottom.
.
.
Ternyata tidak sampai di sana. Warga yang semalam berkumpul dan menyanyi ternyata kini sudah antri. Mereka juga menginkan hadiah juga dari Santa. Maka seluruh perabotan rumah Squidward ludes dibagi-bagi sebagai hadiah. Sofa, meja, kursi, piano, dan lain-lain tidak tersisa sama sekali. Squidward marah kepada dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia. Hanya karena Spongsbob dia melakukan hal yang paling bodoh.
.
.
Saat marah-marah itulah, seseorang mengetok pintu rumah Squidward. Dia berkata dengan nada marah, "Silahkan bawa pintu itu, hanya itu yang tersisa". Namun setelah dibuka. Ternyata itu adalah Santa asli. Seorang pak tua dengan Rusa terbangnya, "Terimakasih Squidward, telah membawa natal ke Bikini Bottom". Squidward yang agnostik, kini ia benar-benar beriman.
****

Selamat natal untuk teman-temanku yang merayakannya. Damai selalu.
#DearDifaa
Jika ditanya kepada saya, apa yang paling menyenangkan di dunia ini? Akan aku jawab. Menikmati, menemani tiap fase tumbuh kembangmu, adalah hal yang paling membahagiakan. Sangat menyenangkan.
.
.
Barangkali, saya adalah lelaki pertama yang mencintaimu di dunia ini. Setelah nanti, suatu saat ada lelaki lain yang akan merasa paling mencintaimu ketimbang saya. Saya masih ingat, bagaimana dulu kamu belajar merangkak, berlatih berjalan. Kemudian Ibumu membelikan sandal dan sepatu yang berbunyi "cit" ketika diinjak. Jika melihatmu hari ini, yang sudah besar, mampu bercerita, merajuk, mengambek, dan tertawa adalah suatu keajaiban bagi saya. Karena saya melihatmu dulu, menggendongmu yang masih bayi berwarna merah baru lahir. Dan sekarang tiba-tiba sudah besar. Luar biasa.
.
.
Difa, bagi saya, parenting adalah pekerjaan yang paling luas cakupannya di dunia. dan besar pula peluang gagalnya. Maka dari itu, saya dan Ibumu tidak benar-benar mengadopsi sepenuhnya pelajaran parenting yang kami dapatkan dari orang tua kami. Ada yang kami terapkan, ada juga yang kami buang, karena tidak sesuai kondisi jamanmu. Bukan berarti kami sok-sokan menganggap orang tua kami telah gagal dalam mendidik, justru kami sangat bersyukur bisa mendapatkan pendidikan oleh nenek dan kekek dari Ibu dan Bapakmu.
.
.
Barangkali saya terlalu memanjakanmu. Memperbolehkanmu menonton Upin Ipin selepas shalat magrib. Juga memberimu menonton Youtube Kids saat kamu merengek, kemudian Ibumu agak keras memberi batasan waktu. Sejujurnya, saya sedang menerapkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib dawuhkan: perlakukan anakmu 0-7 tahun seperti raja.
.
.
Ketahuilah, Nak. Selagi itu tidak membahayakan keselamatanmu. Tidak mengganggu kesehatanmu. Tidak berbenturan dengan norma. Dan semua itu membahagiakanmu, saya akan mengatakan "iya" untukmu. Akan tetapi sambung Imam Ali: Perlakukan anakmu 7-20 tahun seperti tawanan perang.
.
.
Mungkin saya akan keras di usiamu pada fase itu. Jika saya tidak tega, mungkin Ibumu lebih keras dari saya. Imam Ali melanjutkan: Perlakukan anakmu di atas 20 tahun seperti teman. Semoga, jika umur saya panjang, saya akan menjadi teman diskusimu yang insya Allah asik.
.
.
Selain parenting, ada yang lebih penting. Yaitu belajar bersamamu. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi orang baik. Bapakmu yang malas ke mushola, tiba-tiba harus shalat berjamaah di sana. Itu semua karena rengekanmu. Saya kadang merasa terenyuh, di usiamu yang belum genap 3 tahun mampu menyanyikan Asma Alhusna, meskipun belum lengkap 99 nama. Juga kadang merasa bangga, saat kamu melafalkan bismillah dan melalarkan doa-doa. Juga kamu menyanyi-nyanyi lagu bahasa Inggris yang saya tidak mengerti.
.
.
Meskipun saya harus sadar, kebanggaan itu sebenarnya milik Allah, kamu tidak perlu berlomba-lomba dengan sesama manusia. Kamu tidak perlu mengalahkan siapa-siapa untuk terlihat hebat luar biasa.
.
.
Ada hal lucu yang perlu dicatat agar selalu ingat. Saya sering mengapresiasimu karena tindakanmu, dengan mengacungkan jempol dan berkata: "mantap jiwa". Suatu sore yang hujan, kamu berkata pada Ibumu, "Mama, mantap jiwane yaya". "Mama, mantap jiwanya sakit". Sambil menunjukan jempolmu yang lecet terkena mainan. Ahhh Nadifaa...
#DearDifaa
Sejarah itu tidak selalu penuh heroisme dan menyenangkan. Ada juga sejarah yang menceritakan kekelaman. Tapi bukan kekelaman, point dalam catatan ini. Kisah ini mungkin akan ada padanannya nanti di jamanmu. Ini kisahnya: Pernah suatu ketika, saat muktamar organisasi ormas Islam terbesar Indonesia, Nahdhatul Ulama, di Jombang tahun 2015. Dalam pemilihan ketua umumnya penuh intrik dan trik serta kental atmosfir politik.
.
.
Tentu saja, saya tidak bisa bercerita terus terang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sejarah terus berulang. Tokohnya saja yang berbeda. Saat itu, Kiai yang saya hormati dan panuti, KH. Mustofa Bisri, yang sering disebut Gus Mus, mengasingkan diri. Beliau pergi dari perhelatan Muktamar yang penuh hingar bingar. Beliau salah satu tokoh sentral, yang ngendikanya menjadi pertimbangan.
.
.
Dalam suatu kesempatan, Cak Nun, sahabatnya Gus Mus, mengomentari, kurang lebih begini: Gus Mus itu orang baik. Allah tidak tega kepada Gus Mus. Beliau diberi Allah meripatnya ditutupi untuk melihat hal-hal yang tidak baik. Terutama dalam Muktamar itu.
.
.
Kita bukan kelas Ulama, bukan pula  Brahmana, bukan juga satria. Kita hanya kelas proletar. Kita tidak bisa mengklaim, bahwa kita orang baik. Namun tidak ada salahnya kita mencoba menjadi pribadi baik. Berupaya, berusaha, berproses menjadi orang baik. Sering saya mengingatkan kepada diri saya sendiri. Yang paling berat saat ini bukan rindu, tapi idealisme.
.
.
Pekerjaan kedepan ternyata jauh lebih berat. Tapi pekerjaan dulu juga ada hikam, selain saling mengenal dengan banyak kawan. Saya pernah menjadi guru honorer, gaji 400 ribu, saat kamu masih bayi. Gaji segitu pada jaman itu, cukup untuk mengebul dapur rumah kita. Saya pernah meninggalkanmu yang terlelap, di senin subuh yang dingin. Menembus kabut gunung Slamet. Mengajar di kampus negeri dengan honor pas-pasan untuk transport. Juga pernah menjadi penerjemah abal-abal di sebuah media bahasa Arab, yang honornya tidak seberapa, namun dimanajemen sedemikian rupa oleh Ibumu untuk membelikanmu sepeda roda tiga.
.
.
Saya pernah menjadi aktivis. Teman-teman diluar organisasi, menilai organisasi saya borjuis. Tapi saat mendengarkan lagu film sound track Soe Hok Gie yang dinyanyikan bang Duta, saya merasa sebagai aktivis sosialis. Begitulah kehidupan, penuh kebisingan.
.
.
Jika kata Cak Nun, Allah itu ndak tega kepada Gus Mus untuk memperlihatkan keburukan. Saat ini, saya tidak benar-benar mengerti. Allah sedang dalam rangka apa kepada saya memperlihatkan semua ini. Tahun lalu, saya mengajukan proposal kepada Allah melalui catatan: Proposal kepada Allah. Tahun itu memang belum dikun oleh Allah. Tapi sebagai makhluk, kita senantiasa untuk husnuzon kepada Allah. Barangkali Allah menyiapkan yang lebih istimewa, sesuatu yang lebih besar, juga menantang. Semoga tahun ini diacc. Cukup sudah saya melihat neraka yang seolah tampak surga. Menggiurkan. Namun mematikan.


Kota Tegal, 24 Desember 2019.
Ingatanku kategori ingatan pendek. Untuk mensiasati hal ini kadang aku menulis catatan-catatan acara penting dalam memo handphone. Selain ingatan yang pendek, keburukanku adalah berubah pikiran: pagi tempe, sore  kedelai. Teman dekatku paham betul akan ini.
.
.
Tapi semua aku syukuri dan nikmati. Karena ada seorang teman yang lebih parah dari ingatan pendekku. Dan seorang teman yang lain ada yang lebih parah plin-plan dariku.
.
.
Catatan ini dalam rangka untuk mengingat. Aku pernah mendaftar, berjuang, dan mendambakan sebagai seorang CPNS. Jika suatu saat nanti aku mengolok-olok profesi PNS ini, aku harus tilik catatan ini. Bahwa sejujurnya aku pernah diam-diam menginkannya.
.
.
Dulu, saat-saat idealisme dijunjung tinggi. Aku sok-sokan tidak butuh duit. Pada kenyataannya, ketika kebutuhan sebagai seorang bapak mendesak, apapun aku lakukan. Pun dengan CPNS ini. Tahun 2018 adalah tahun-tahun yang melelahkan. Ketika aku dulu lolos administrasi dan mengerjakan soal, kemudian gagal. Tahun 2018 ini juga merupakan catatan panjang. Sekitar 10 daftar pertemananku banyak yang lolos CPNS. Sebuah angka yang luar biasa bagiku.
.
.
Aku pikir, menjadi seorang non CPNS itu harus kreatif. Tidak perlu menjilat untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak usah menggonggong untuk menjadi perhatian. Hidup tidak seasu itu. Kemampuanku hanya sebatas itu. Dan semua harus aku syukuri, jalani, dan nikmati. Kadang aku menasihati diri, membesarkan hatiku sendiri. Bahwa, di manapun aku berada. Aku harus anfa'ahum linnas.
.
.
Catatan ini juga, menjadi pengingat. Bahwa ketika kelak suatu saat nanti aku menolak paham 'Dunia Tanpa Kompetisi', tanpa lomba. Catatan ini menjadi tesis dan mungkin antitesis: Aku pernah berlomba dan kalah.
.
.
Akhirnya dengan berbesar hati, aku ucapkan selamat untuk teman-temanku yang lolos. Kalian luar biasa.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Barangkali ini hanya hayalan dan dongeng belaka. Tapi bukan itu poin penting dalam tulisan saya. Levitasi adalah terbang. Manusia bisa terbang. Terbang dengan sesungguhnya, tanpa bantuan alat atau pesawat. Bagaimana mungkin? Saya tidak dalam rangka mendoktrinmu harus percaya ini dan itu. Kebenaran kelak akan kau temukan sendiri.
.
.
Konon bangsa Nusantara, nenek moyangmu adalah bangsa yang memiliki kecanggihan teknologi termutakhir dari bangsa-bangsa di dunia. Borobudur salah satu produk teknologi bangsa kita.
.
.
Di Borobudur ada gambar relief orang dengan posisi melayang, barangkali sejak dulu nenek moyang kita pandai berkhayal. Atau bisa jadi adalah suatu gambaran riyil, digambar sebagai pesan untuk dikirim ke masa depan.
.
.
Seseorang teman Fesbuk saya menulis tentang Levitasi atau Levitation, adalah melakukan perjalanan memperpendek jarak ruang dan waktu, dimana suatu objek melayang tanpa dukungan mekanis.
.
.
Tampilan yang tergambar proporsional presisi pada artefak Borobudur secara konsisten dan berulang-berulang barangkali adalah mencirikan kejadian itu benar terjadi. Levitasi dilakukan dengan memberikan gaya ke atas yang menangkal tarikan gravitasi yaitu proses dimana sebuah objek melayang melawan gaya gravitasi bumi dalam posisi yang setabil.
.
.
Leluhur kita terdahulu sudah berada di level unggul. Telah dan mampu melakukan levitasi tanpa alat dan banyak tampil di relief Borobudur, sementara science saat ini berada di level 1.
.
.
Kita coba pahami fakta sejarah leluhur kita dengan kaca mata sains saat ini: Levitasi magnetik, apakah manusia bisa melakukannya? Dalam ilmu pasti alam jika magnet beda kutub di dekat kan akan tarik menarik dan jika sama kutub akan saling tolak. Itu hukum alam.
.
.
Jika bumi ini adalah satu kutub magnet dan manusia membuat juga medan magnet yang sejenis tentu manusia dapat menolak tarikan kutub magnet bumi dengan cara mengelola fisik manusia tersebut. Mengakselerasi unsur-unsur inti dalam tubuh. membentuk magnet, sehingga tubuh mempunyai medan magnet yang sejenis dengan medan magnet bumi. Dalam keadaan seperti ini pasti tubuh akan melayang karena medan magnet bumi dan tubuh sejenis sehingga tubuh tertolak oleh medan magnet bumi. Bagaimana mungkin unsur di tubuh manusia bisa dikondisikan? Nenek moyang kita telah melakukannya.
.
.
Dengan kontemplasi spiritual memaksimalkan daya energi tubuh di dalam mitokondria mengaktifkan proses fusi ATP. Kemudian membuat medan gaya magnet sejenis dengan kutub bumi. Menjadikan tubuh fisik menolak medan magnit gravitasi bumi. Sangat memungkinkan tubuh fisik manusia dapat melayang.
.
.
ATP adalah nukleosida trifosfat yang mengandung adenosina yang mengeluarkan energi bebas ketika ikatan fosfatnya dihidrolisis. Energi ini digunakan untuk menggerakkan reaksi endergonik. Mitokondria menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat. ATP reaktor fusi unsur oksigen dan hidrogen di dalam bagian terkecil tubuh manusia yang bernama Mitokondria penghasil energi dalam fisika.
.
.
Energi adalah properti fisika dari suatu objek. Bisa berpindah melalui interaksi fundamental yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Yang dikenal dengan hukum kekekalan energi. Menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat.
.
.
ATP pembangkit energi menciptakan medan magnet sejenis dengan magnet bumi sehingga terjadi saling tolak antara tubuh dan bumi dan levitasi dimungkinkan terjadi.
.
.
Proses manusia mencapai tingkat tertentu hingga berkemampuan untuk berlevitasi dilakukan dengan prosesi kontemplasi Tapa-brata, istilah Jawa. Menyepi dan sunyi.
.
.
Leluhur Nusantara terdahulu sudah dapat melakukan teleportasi, telepati, levitasi juga menembus langit melintasi jagat raya dan mengelola Bulan. Maka selaras, ketika kau kelak besar nanti mendengar kisah-kisah para Wali sembilan tanah Jawa yang harus kumpul di Jawa Timur detik ini. Padahal asal dari para wali tersebut jauh, ada yang Jawa Barat dan lain sebagainya.
.
.
Kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar untuk membuat bangga berlebihan kita sebagai anak turun Nusantara. Tapi juga motivasi. Kenapa kita hidup hanya meributkan soal politik dan agama saja.
.
.
*****
Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan hangat saya yang dulu bersama di Jogja. Dia asal Jepara. Dan kini tinggal di Semarang. Dia pernah mengalami apa itu levitasi.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Hari ini adalah hari ketiga saya mendekam di rumah sakit. Mungkin ini kali pertama saya harus bernostalgia ditusuk-tusuk jarum suntik. Pertama kenal jarum suntik dan infus adalah saat kena gigit nyamuk DB, kira-kira umur saya waktu itu 5 tahun. Sudah lupa rasanya
.
.
Orang kecil seperti kita dalam memandang peristiwa, tentu saja harus lihat dari sudut pandang hikam. Kalau tidak, tentu kita akan banyak sambat selebihnya misuwur. Pun dengan apa yang saya alami beberapa hari ini. Meskipun saya yang sakit, saya yang tidak tega adalah kepada ibumu.
.
.
Meskipun banyak sanak, sodara, teman datang menangung rasa itu. Ibumu tetap saja memikul berat beban fisik dan psikologis. Itulah kenapa, Nak. Ketika saya sehat. Saya tidak segan-segan untuk  mencuci pakaian keluarga kita, mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Sekedar mengurangi beban fisik yg ditanggung ibumu. "Apa bapak tidak malu, melakukan pekerjaan perempuan?" kelak mungkin ketika kau dewasa bertanya seperti itu. Tidak Nak, bagi saya pekerjaan sebenarnya tidak berjenis kelamin. Kita saja yang sering mengkotak-kotakkan.
.
.
Semalam ibumu berkirim kabar. Kamu ingin jalan-jalan ketempat bapak (RS). Tentu saja itu tidak akan dilakukan, karena hari sudah malam. Dan kau masih kecil, rentan tertular penyakit. Saya akan segera sembuh, nak. Setelah sembuh, akan bergaya hidup sehat. Saya akan menyaksikanmu bergembira, tumbuh kembang menelusuri lorong-lorong liku dunia.
.
.
Kisah rumah sakit itu berawal ketika saya pulang dari pekerjaan di luar kota. Sebenarnya saya enggan menuduh siapa dan mengapa bisa terjadi. Wong ini sudah sunatullah. Tapi untukmu akan aku ceritakan, siapa tahu kamu bisa mengambil hikmahnya.
.
.
Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan saya dalam tekanan pekerjaan. Tibalah saatnya, kantor mengundang kami untk melakukan sesuatu. Semacam piknik. Saya sudah komunikasi dengan ibumu. Pada acara itu saya akan ijin saja. Karena tempat yang cukup jauh, ditambah cuaca yang ekstrim. Di sana kebalikannya cuaca dari kota kita. Selain itu, hari-hari tugas saya hampir tidak pernah ijin. Alasan yang peling melankolis: sejujurnya saya tidak tega meninggalkan kalian hanya untuk sekedar pesta.
.
.
Namun ibumu mendesak saya, untuk berangkat saja, karena selain sayang [eman-eman], ini adalah kesempatan liburan gratis. Percayalah, sampai di sini, saya sedang tidak menyudutkan ibumu. Akhirnya saya berangkat.
.
.
Singkat cerita, di sana saya makan kambing guling. Sebuah makanan yang asing bagi perut saya. Orang proletariat seperti kita memang tidak cocok dengan makanan seperti itu. Kita sudah terlalu akrab dengan tahu tempe. Tapi jika tahu dan tempe terus menerus, asam urat mengintai. Memang terlalu sulit kita hidup di Indonesia. Tapi ada seribu cara untuk bergembira.
.
.
Sepulang dari kegiatan itulah. Demam tidak kunjung turun, vertigo semakin menjadi. Ahad pagi, ketika seluruh dokter sedang berolahraga. Tidak ada dokter yang buka. Instalasi Gawat Darurat adalah tujuan utama.
.
.
Betapa sakit itu sama sekali tidak enak. Sehat itu anugrah luar biasa.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE