Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Jika ada guru atau dosen, yang sabdanya bisa memeberkahi perjalanan hidupku, beliau adalah Pak Zaim. Kaprodi PBA Unnes saat saya masih menjadi mahasiswa baru.


Saya ingat-ingat lupa momentumnya. Beliau pernah mengajar mata kuliah semantik Al-quran. Tetapi bukan momen itu sepertinya. Sebagai mahasiswa pendidikan bahasa Arab dari kalangan ndeso, kelak saya tidak tahu akan menjadi apa selain jadi guru. Tentu saja banyak rasa was-was, minder dan segala OVT lainnya terhadap masa depan.


Pak Zaim hadir.


Beliau berkisah: dulu, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II tahun 1945, kondisi Jepang hancur lebur secara ekonomi, infrastruktur, dan mental. Kaisar Hirohito mengumpulkan para pejabatnya, pertanyaan pertama yang diajukan memang bukan tentang berapa jumlah tentara atau sisa emas yang dimiliki, hanya: "Berapa jumlah guru yang masih hidup? Kumpulkan!". Maka kita bisa melihat Jepang yang sekarang.


Sepenggal kisah itu, yang diceritakan Pak Zaim, menjadi gacuk (senjata rahasia) saat saya lulus, saat posisi saya terpojok. Di sebuah FGD (Focus Group Discussion), perekrutan tenaga kontrak kementerian — kementerian yang bukan urusannya pendidikan, bukan juga keagamaan, saya lolos meyakinkan para panelis dan peserta lain, bahwa saya sepertinya adalah salah satu guru yang wajib dikumpulkan kaisar Hirohito, untuk 'ndandani' kementerian tersebut.  Alhamdulillah terbukti, tenaga saya mewarnai kementerian tersebut tepat 5 tahun.


Bahkan, saat kemarin, ketika saya terpojokan dalam test susbtansi LPDP. Karena tujuan kampus dan Prodi S3 saya Alquran, sementara, proposal disertasi saya masih rasa berbau keguruan. Reviewer akademik sungguh sangat meremehkan. Di akhir sesi, saat closing statement, gacuk yang diberikan Pak Zaim saya keluarkan, bahwa saya adalah salah satu guru, sebagaimana Kaisar Jepang dulu mengumpulkan para guru waktu itu. saya akan membuat Indonesia yang saya cintai ini lebih maju. Reviewer tadi, yang mengejar dengan segala pertanyaan yang meremehkan hanya berdiri, tepuk tangan dan tersenyum lebar, waktu itu saya tidak tahu apa makna dibalik itu.


Ah ya. Betapa, sepenggal kisah dari Pak Zaim sangat memberkati hidupku.
****
Pak Zaim, bagiku, role model pendewasaan keislaman. Saya yang jebolan santri salaf, NU. Dulu di Unnes agak kaget, saat bertemu dengan kalangan non NU. Pak Zaim adalah tetangga saya. Hidup saya nebeng, di kakak sepupu saya Mas Abdul Azis dosen Psikologi, di Patemon. Saya juga punya kawan kentel, satu kamar, satu Prodi, Fahmi Najib —yang dia juga nebeng kakak sepupunya, Mbak Zulfa Sakhiyya, dosen Pendidikan Bahasa Inggris. Mas Azis dan Mbak Afa suami istri, maka saya dan Fahmi dipertemukan di Patemon ini selayaknya keluarga jauh yang dekat.


Nah, dulu rumah Pak Zaim ada di samping rumah Mas Azis. Sepulang kuliah, saat salat Magrib, Isya dan subuh, saya akan berjama'ah di masjid yang di depan komplek kami bersama Pak Zaim. Madjid desa, yang kebanyakan dari kalangan NU.


Sepenuturan salah satu kawan saya, yang dekat dengan Pak Zaim, beliau pernah NU, kemudian di Muhammadiyah. Namun, di masjid itu, saat pak zaim jadi makmum, saat subuh, beliau tetap mengikuti do'a qunut. Hal yang membuat saya sedikit tidak percaya adalah, di bulan Safar. Orang-orang kampung Patemon mengadakan salat talak balak. Agar terhindar dari macam mara bahaya. Pak Zaim ikut juga sebagai makmum. Shalat yang mungkin sebagian kalangan mengakatan bahwa ini adalah bid'ah.



Di kampus, beliau dipanggil ustadz, sebagaimana tradisi mahasiswa PBA. Sesekali menjadi khatib dan imam masjid besar kampus, seringkali kali juga menjadi da'i narasumber, mengisi ceramah di acara-acara resmi dan non resmi. Gayanya seperti ustad maulana, jama'ah oh jama'ah alhamdulillah. Konten ceramahnya segar segar. Berisi tentang islam yang moderat, tidak dikotak-kotakkan oleh organisasi dalam sekat.

****
Suatu ketika, saya dan Fahmi mengikuti acara kampus sampai senja tiba. Ingin pulang. Tapi sudah terlalu sore dari kampus ke Patemon. Kami tidak membawa motor. Angkutan juga sepertinya sudah tidak ada. Dulu belum ada Ojol. Kami melihat mobil sedan Toyota Corona masih terparkir di depan dekanat. Ini mobil Pak Zaim batin saya. Saya dan Fahmi menunggu Pak Zaim keluar dari kantor jurusan, Pak Zaim tahu maksud kami, kami dipersilahkan masuk. Dan karena canggung dan malu, kami berdua duduk di belakang. Betapa su'ul adabnya saya waktu itu. Menjadikan Pak Zaim selayaknya Saiq biasa.
****
Ah Pak Zaim, jika boleh, saya ingin nebeng terus pada ideologi panjenengan dalam tiap langkah hidupku, Pak Zaim. Ya Allah husnul Khatimah.

SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.

Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.

Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.

Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.




FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE