Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

 #DearDifaa


Pelajaran sejarah adalah bagi saya pelajaran yang membosankan. Selain hanya mendengarkan guru mendongeng, saat itu saya juga harus menghapalkan tokoh, peristiwa, sekaligus tanggal dan tahunnya. Konon, sejarah itu milik pengusa yang sedang duduk di singga sana.

.

.

Suatu hari, ketika saya sudah mentas dari bangku sekolah, saya baru tahu; ada satu tokoh, tokoh ini adalah tokoh sentral, bagaimana tokoh ini berperan sebagai pemantik pergerakan yang disebut nasionalisme dalam lingkungan kolonialiasme Belanda. Dia yang awal mula membidani lahirnya sebuah bangsa, yang kelak bangsa itu menamakan dirinya Indonesia. 

.

.

Tokoh ini, kelak saat kamu besar, mungkin tidak akan mengenalnya. Tidak pernah dijadikan nama jalan di kota-kota maupun di desa. Tahun 2006 pemerintah memang sudah menetapkan bahwa dia pahlawan. Tapi tempat peristirahatannya yang terkahir tidak di makam pahlawan. Karena sebenarnya dia dilupakan dan yang terlupakan. Maka, ijinkan saya memintamu menyimpan baik-baik nama tokoh ini; Raden Mas Tirto Adhi Soerja. 

.

.

Dia anak Bupati Bojonegoro. Darah biru. Keturunan ningrat. Saat manusia sebangsanya tidak mendapatkan akses pendidikan, dia memperoleh pendidikan Eropa. Pada jaman itu, awal tahun 1900an, perbedaan kelas sosial sangat kental sekali. Rakyat jelata akan menyembah, membungkuk jika menghadap atau bertemu dengan pejabat. Nah, R.M Tirto menolak sembah dan sungkem. Baginya, yang sudah mendapatkan pendidikan Eropa, manusia di atas bumi ini adalah sama. Dia tidak membutuhkan sembah dari rakyat jelata. Karena manusia itu hakikatnya sama, maka pribumi, Belanda, dan semua ras manusia juga seharusnya kedudukannya sama. Perbudakan, penjajahan, kolonialisme harus dibuang.

.

.

Dialah manusia pertama Hindia Belanda, yang menginisiasi membentuk organisasi. Dia melawan tirani melalui wadah bernama organisasi. Dia juga Bapak pers Indonesia. Dia yang pertama kali menerbitkan koran berbahasa Melayu, bahasa yang kelak akan menjadi bahasa Indonesia. Bahasa yang kelak akan menjadi bahasa sumpah pemuda.

.

.

#DearDifa. Dia fasih berbahasa Belanda baik tulis maupun lisan. Jika umurku panjang, ijinkan aku nanti berkisah banyak hal padamu. Kita akan berdiskusi panjang. Aku akan menjadi teman mengobrolmu. Bisa jadi akulah teman debatmu. Dan, Difa. Tepat hari ini, 17 Agustus tahun 1918. Seorang lelaki pembela rakyat, meninggal tanpa banyak orang mengiringi pemakamannya. 17 Agustus 1945 Merdekalah bangsa kita. Dan R.M Tirto tetap saja dilupakan.

 #DearDifa

Simpan baik-baik nama gadis kecil ini: Ghina Bou Hamdan. Dalam acara The Voice Kids for Arab 2015, ia menyanyikan Atoua Toufuli (Give Us the Chilhood). Ghina, saat itu, hampir tidak bisa menyelesaikan nyanyiannya. Dan banyak orang yang menangis mendengar ia menyanyi. 

.

.

Kau tahu, Nak. Kenapa Ghina dan para pendengar menangis? Mereka rindu nikmat kedamaian. Damai yang seharusnya mereka rasakan sejak kanak-kanak. Lagu ini, mengkisahkan kerinduan seorang bocah Lebanon, Remi Bendali. Dia merasa kegembiraan kanak-kanaknya tercabut karena perang pada tahun 1985. Kala itu, Remi berusia 5 tahun. Lebanon sedang porak poranda akibat perang sekterian. 

.

.

Konon, lagu ini adalah lagu wajib anak-anak di dunia Arab. Lagu yang mereflesikan kerinduan seorang anak akan kedamaian yang hingga hari ini, tanah para nabi itu tak pernah berhenti bergejolak. Tontonlah videonya ini: https://youtu.be/y7KqSrXnpSg

.

.

Pada sore hari tanggal 4 Agustus 2020 pukul 18.08 waktu setempat, terjadi ledakan di Pelabuhan Beirut yang berlokasi di Beirut, Lebanon. Sekitar 137 orang meninggal dunia, 80 orang hilang,dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka.

.

.

#DearDifaa, dulu bangsa kita juga mengalami hal yang sama, di atas tanah yang belum dinamai Indonesia. Perang, suasana mencekam. Tidak ada canda tawa anak. Bernyanyilah, Nak. Nyanyianmu akan diperdengarkan banyak orang. Dan akan menghibur Bapakmu ini. 

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE