#DearDifa
Arah ideologi dunia yang semakin hari penuh dengan kapitalisme dan narsisme yang tidak ada ujungnya. Saya teringat kisah sufi yang terkenal. Tentang nasihat burung Kumbaroh. Cerita ini saya teringat lagi saat ngaji Ihya online Kiai Ulil Abshar Abdalla.
Ini cerita tentang ketamakan dan kerakusan manusia yang diberi pelajaran oleh burung. Kisah ini berasal dari Imam Sya'bi, ulama besar, perawi hadits.
Saat Kumbaroh sudah hinggap di ranting pohon. “Berikan aku nasihat kebaikan kedua, wahai Kumbaroh“, kata si lelaki. “Jangan mempercayai sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia ini, tiba-tiba akan ada“.
Pemburu menggigit bibir. Hampir menangis. Sangat sedih. Dia baru saja melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang kaya raya. Kemudian dia meminta wejangan ketiga.
"Kamu telah melupakan kedua wejanganku. Bukankah engkau sudah saya kasih tahu, nasihat pertama, jangan bersedih terhadap apa saja yang hilang darimu. Nasihat kedua, jangan percaya terhadap apapun yang tidak mungkin ada di dunia ini“.
“Duhai manusia tamak. Bagaimana mungkin, di dalam tembolokku terhadap mutiara. Jika ditotal semua berat tubuhku, bulu-buluku yang tipis. Semua organ yang ada di dalam tubuhku tidak lebih dari 40 miskol!“.
Kisah-kisah sufi alur ceritanya kebanyakan tidak realistis. Penuh imajinasi. Tapi bukan alurnya yang kita pelajari. Namun, konten dan hikmahnya yang kita dapati.
Sudahlah. Kita cukup segini saja. Jangan lebih. Jangan terlalu kaya, nanti kita menjadi semena-mena. Kita akan berjuang bersama.
Duhai kalian bertiga, saya tidak mungkin membesarkan kalian dengan balutan harta yang melimpah. Seperti bapakku dulu, saya dibesarkan dengan cerita, puisi, dan sastra.