Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Kira-kira seabad yang lalu, Umi Kultsum, penyanyi legenda Mesir, menyanyikan lagu A Ghadan Al Qak. Apakah besok kita akan bertemu, duhai kekasih. Syair yang penuh kegalauan, dan penuh ketidak pastian. Bagi seorang pecinta, namun takut merindu.


Di tanah air, lebih sadis lagi. Kita disajikan penyanyi legendaris. Yang menyanyi dengan bahasa ibu kita sendiri. Lord Didi Kempot, lagu-lagunya relate dengan para sobat ambyar. Ambyar hatinya. Ambyar hidupnya.


Namun ada kisah, seseorang yang merasa dirinya ambyar itu, ia jadikan ke-ambyaran hatinya sebagai kekuatan, untuk lebih meloncat lebih tinggi dalam hidupnya. Tapi ia tahu persis, bahwa hidup itu bukan soal berlomba pencapaian apapun dengan orang lain.


Persis seperti cerita Gus Dur, Konon ketika dia ditanya bagaimana cara menulis yang konsisten, dia menjawab, kamu harus pernah merasakan patah hati dulu dalam hidupmu.


Dia adalah mantan muridku, ketika saya mengajar di SMK dulu, namanya Je. Pengusaha Martabak yang tengah viral. Sebelum ia mendirikan usahanya sendiri, dia ikut bekerja Martabak juga di temannya Er. Je dan Er dulu satu kelas, sama-sama murid saya.


Mereka adalah golongan Gen Z yang bukan pemalas. Mereka tipe petarung. Tidak pernah memelas kasih pada negara. Meraka bukan yang suka tongkrongan, ngalor ngidul tidak jelas. Seperti yang banyak digeneralisir di Sosmed – Gen Z dengan segala keburukannya. Seolah generasi si pemberi stereotip itu generasi dewa yang serba bisa.


Kemarin saya melihat, komentar di status  Fesbuk, saat Dahlan Iskan dan Direksi Jawa Pos sekarang berseteru, padahal Dahlan Iskan yang dulu membesarkan nama Jawa Pos, salah satu komentar followernya mengatakan bahwa, ia berterimakasih kepada Dahlan Iskan dan Jawa Pos, saat itu tahun 80an, si follower dulu mengais rezeki dari loper koran, dan penjajakan Koran-koran pagi di Surabaya. Ia berterimakasih karena secara tidak langsung Jawa Pos dan Dahlan Iskan membentuk karakternya untuk menjadi pebisnis tangguh. Mentalnya menjadi kuat.


Saya tidak tahu, mental yang seperti apa yang telah membentuk Er dan Je sehingga menjadi pengusaha sukses di usia muda. Er sudah tamat S1. Sudah menikah. Menikahi perempuan yang dia cintai. Sementara Je. Je ini unik. Kisah cintanya...  Ah sudahlah.


Martabak Rindu tentu saja tidak seperti Markobar. Dia dilahirkan betul betul dari dedikasi pemuda. Banyak diendorse artis-artis ibu kota. Para Food vlogger juga banyak yang datang. Yang manis, ketebelan adonannya, brutal topingnya. Yang telor sangat istimewa.


Martabak Rindu setidaknya sudah mempunyai 6 cabang yang tersebar di Jabodetabek. Aslinya di Bogor. Milik Er. Je sebelum membuka kedainya sendiri, meminta doa padaku. Padahal saya bukan agamawan yang do'anya pasti dikabulkan Tuhan. Namun setulus hati saya, saya selalu terkesan untuk orang yang selalu konsisten dalam berjuang.


Je ini luar biasa, dari usahanya, adik-adiknya bersekolah tinggi. Dan segala Pencapaian-pencapain lainnya. Sepuluh tahun yang lalu Je dan Er adalah muridku. Belajar kosakata, belajar macam-macam ideologi dunia. Tapi kedepannya mereka adalah guruku. Dalam berjuang dalam negara yang ekonominya, sebagai kelas menengah seperti kita, tidak baik-baik saja.

Seorang kawan dalam story WhatsApp menggunggah screenshot chat dia dengan mantan muridnya dulu di SMK.

“Pak, bagaimana cara menjadi penyabar seperti bapak? ”
Sepertinya di kehidupan nyata, si murid butuh bernafas untuk menjadi seorang yang lebih sabar. Dia mempunyai uswah, bahwa gurunya dulu di SMK adalah keteladanan sabar itu.
*****
Terkadang manusia menjadi bertumbuh, setelah sekian waktu mengalami rasa sakit dan penderitaan. Tentu saja, ini tidak didapatkan jika hidup dalan zona nyaman. Konon, ada sedikit penjelasan dari neurosains.


Jadi, saat seseorang berhasil melewati masa sulit, otak melepaskan dopamin. Sebuah hormon kebahagiaan, ia memberikan rasa bangga dan motivasi. Maka, penderitaan bukanlah tanda  gagal. Ia adalah proses otak yang sedang berlatih menjadi lebih hebat. Lebih keren.


Tapi sewaktu-waktu kita  mengalami jalan buntu. Capek berpikir. Maka sikap "berserah kepada Tuhan" menjadi cara terbaik.


Dalam kondisi ini, otak justru tidak efektif menemukan solusi, dan seseoranh merasa stuck. Namun, ketika kita berserah, entah dalam bentuk doa, pasrah, atau meditasi spiritual, sistem saraf kita masuk ke dalam mode istirahat dan pemulihan yang disebut default mode network (DMN).


DMN aktif saat kita tidak fokus pada tugas tertentu dan menariknya, di sinilah banyak ide kreatif dan insight tiba-tiba muncul. Fenomena ini disebut juga “aha moment” atau insight problem-solving.


Ketika logika berhenti dan kita berserah, otak masuk dalam kondisi tenang yang justru membuka ruang bagi ide, koneksi, dan solusi muncul. Dalam neuroscience, ini disebut “insight through surrender” keajaiban yang muncul bukan karena kita menyerah, tetapi karena otak akhirnya diberi ruang untuk bernafas, memproses, & terinspirasi.


Tulisan  ini sebagai refleksi hari-hari yang begitu berat. Saya mendapat banyak ide dan keajaiban bertahan karena otak adalah akal budi yg Tuhan beri untuk kehidupan.


Percayalah, wahai aku. Iman sebagai jalan filsafat epistemologis kebahagiaan. Tuhan akan menunjukkan yusro disebelah usri. Perpaduan akal, hati dan kesabaran akan menunjukkan jalan.

Saya punya Betet. Burung paruh bengkok. Bertubuh besar. Lebih besar dari Lovebird. Di komunitas Betet, burung ini bisa dilatih berbicara. Para pelatih secara tidak langsung menggunakan teori linguistik behavior. Betet yang saya punya bukan Betet bahasa. Ia fokus sebagai penerbang. Terbang tinggi. Jika dipanggil, ia kembali lagi ke tangan pelatihnya. Persis seperti burung merpati jantan jika di klepek-klepek merpati betina.


Betet saya ini asli Jawa. Endemik dari Jawa. Berasal dari pegunungan Merapi Kabupaten Magelang. Di komunitas free fly, Betet merupakan Burung yang mempunyai harga lumayan. Karena kecerdasannya. Komunikasinya dengan manusia. Dan segala indikator menunjukkan Betet ini luar biasa. Meskipun tidak sekeren Macaw atau Parkit dan Nuri. Betet tetap masuk dalam radar burung yang dicari dalam komunitas ini.


Betet Jawa mempunyai saudara dekat. Hampir mirip. Namanya Betet Enggano. Enggano lebih besar dari Betet Jawa. Ekornya juga lebih panjang. Lebih cantik. Berasal dari Pulau Enggano. Provinsi Bengkulu. Salah satu pulau terluar dari Pulau Sumatera. Berjarak 151 kilometer. Ditempuh kurang lebih 12 Jam perjalanan dengan kapal.


Namun, kecantikan Betet Enggano sepertinya tidak akan mempengaruhi kondisi Pulau Enggano saat ini. Pulau ini terisolasi lebih dari 5 bulan. Disebabkan oleh pendangkalan parah di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu. Menghambat akses transportasi laut ke pulau tersebut. Kondisi ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di sana. Ekonomi, akses layanan dasar : pendidikan dan kesehatan, serta kesediaan pangan.


Regulasi negara kita sudah ditetapkan, melalui Inpres. Namun belum juga solusi itu keluar. Data Litbang Kompas tahun 2023 jumlah penduduk pulau ini sekitar 4000 an, terdiri dari 5 desa.


Enggano tentu saja lebih kaya alamnya. Penduduknya luar biasa. Bertahun-tahun tinggal di pulau terluar Sumatera. Bahkan beratus-ratus tahun dikelilingi samudra Hindia. Ia tetap eksotis.  Sesekali Betet Enggano terbang menampakkan diri.


Mereka akan lebih kuat lagi, Do'a kami bersama mereka yang selalu terdampak dari apapun itu kebijakan dan kekuasaan yang tidak berpihak. Sebagaimana malam ini, malam 10 Asyura. Kesyahidan Husain dalam tanah Karbala.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE