Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi


Mata saya membiru, ketika melihat sebuah video yang lewat di beranda sosial media. Video itu adalah seorang ayah yang dipenjara dan dijenguk seorang anak perempuan. Perempuan kecil itu berusaha memeluk ayah yang berada di balik jeruji besi.



Beruntung polisi yang menjaga sel tahanan itu membukakan pintu besi agar perempuan kecil itu bisa memeluk ayahnya tanpa terhalang. Tentu sikap polisi baik itu dapat pujaan dari berbagai kalangan. Polisi baik itu seperti malaikat.


Hukum di Indonesia apapun bisa terjadi. Seorang ayah tadi yang dipenjara, belum tentu dia berbuat jahat. Atau mungkin kalaupun dia jahat, satu pelukan putrinya adalah obat. Pelukan adalah penawar segala macam jenis penyakit.


Mungkin seorang laki-laki dewasa bisa saja menahan rindu, jauh dari kekasihnya. Tapi tidak bisa jauh dari putri-putrinya. Pun dengan ayahmu yang cengeng ini.


#DearDifa #DearHilwa satu pelukan, ciuman yang bertubi-tubi dari kalian setiap hari, setiap saat adalah obat untukku. Obat untuk setiap kegelisahanku. Obat bagi kelelahanku. Obat atas dosa-dosaku.


Konon dalam sebuah penelitian kardiolog, jantung manusia adalah makhluk sosial, dia butuh pelukan dan kasih sayang orang sekeliling. Agar terus sehat. Terus bermanfaat. 


Dalam ilmu psikologi, satu pelukan juga sebagai terapi. Jaman yang semakin modern sakit mental tentu sering terjadi. Jika kau merasa sendiri, merasa sedih, katakanlah padaku, aku akan memelukmu.


Pelukan tentu bukan budaya kita. Amat jarang kita temui leluhur kita dalam banyak foto dan album–Dalam momen bahagia berpelukan. Namun dalam momen-momen tertekan, pilu, banyak mereka berpelukan. Seperti kisah Rumini yang tidak tega meninggalkan ibunya yang renta, mereka meninggal terkena wedus gembel Gunung Merapi dalam keadaan berpelukan. Dan kisah-kisah lainnya. Pelukan itu saling menguatkan.


#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi

Terimakasih pelukan-pelukan itu. Pada dasarnya saya sedang tidak baik-baik saja. Maka peluklah aku selamamu. Aku juga akan memelukmu selamaku. Walaupun aku tahu, salah satu hal yang saya khawatirkan tentang waktu. Kalian tumbuh dewasa. Dan malu untuk memeluk bapak.





 #DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersamayamDalamSepi


Aku mencintai kalian, sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.

Ini hari ke tujuh Ramadhan tahun 2023 saya tidak hapal tahun hijriyahnya. 


Momen Ramadhan adalah momen yang mengharu biru bagiku. Puasa adalah hal tentang yang menyenangkan, juga tentang mengenakan. ini bukan tentang surga-neraka. Hanya memori nostalgik saja. 


Dari tahun ketahun dari saya kecil, saya bisa masih ingat momen² itu. Jika dituliskan tentu bisa dijadikan buku. Bagaimana saya latihan lapar, mengenal seorang yang sangat berkesan yang bernama Ali di Sebuah masjid, kuliah subuh, puasa sampai duhur dibelikan nasi warteg oleh nenek. Sampai momen² yang tidak menyenangkan yang menimpaku di Pemalang.


Tapi lupakanlah hal-hal yang tidak baik. karena kita harus mencintai diri sendiri.



Tahun ini adalah Ramadhan ketiga setelah saya sakit asam lambung. Tahun ketiga ini saya merasa sangat sehat. Serangan gerd minim terjadi. Tentu semua ini berkat Maha Ndak Teganya Allah kepada saya. Melalui banyak terapi dan disiplinnya berbagai pengobatan. Juga tidak dipungkiri karena hadirnya #DearHilwa diantara kita.


Ramadhan tahun ini seolah memang mudah dijalani. Berkat Allah yang menguatkan segalanya tentang saya dan kita. Ramadhan ini juga #DearHilwa telah berhenti minum ASI, tentu ini tidak mudah. Betapa banyak pengorbanan dan segala bentuk kegiatan sebagai pengalihan. Dalam hati, saya tidak tega #DearHilwa, tetapi ini adalah siklus hidup. Kita terjebak dalam kubangan ini. Kita nikmati.


Banyak sekali hal yang ingin aku kisahkan kepada kalian #DearDifa #DearHilwa dan #DeerKauYangBersemayamDalamSepi 


Ini adalah tahun pertama #DearDifa berlatih puasa. Laku puasa adalah warisan leluhur-leluhur kita, mereka yang selalu berpuasa, menahan segala lapar dahaga dan hal-hal yang bersifat nafsu lainnya. Tidak terlalu sulit untuk membangunkan #DearDifa sahur, karena beberapa kali #DearHilwa juga ikut sahur.


Saya tidak tahu, apakah puasa kita akan diterima atau hanya sekedar menahan nafsu. Yang terpenting adalah kita menjalani sebagai bentuk kepatuhan kita kepada Allah.


Puasa itu bagi saya adalah seperti menikmati musik, tidak perlu orang tahu selera musik kita apa. Tidak perlu berisik. Yang penting kita menikmati keindahan-keindahan itu dalam diam. Karena hanya satu-satunya ibadah yang paling sunyi adalah puasa. Hanya Tuhan dan kita saja yang tahu.


Puasa itu juga bentuk mencintai diri sendiri. Ada banyak hal yeng bersifat negatif yang selalu masuk ke tubuh kita. Dari makanan dan minuman. Kita lerai sebentar demi kasihan tubuh kita. 


Tulisan ini tentu tidak ada dalil Alquran dan Sunnah. Karena sebuah rasa itu tidak perlu lagi dalil-dalil itu.


Aku ingin peluk kalian. 

#DearDifa 

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi




FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE