#DearDifa
Ini
hari Senin. Biasanya saya menulis #DearDifa hari Sabtu. Tapi apa pentingnya
nama hari pada detik-detik ini. Semua sama saja. Segala aktifitas dilakukan
dari rumah. Sudah 14 hari pelajar Indonesia belajar di rumah. Kabarnya tahun ini tidak
ada UN [Ujian Nasional] untuk tingkat kelas akhir. Sebagian pekerja formalpun
bekerja dari rumah. Bukan hanya di Indonesia. Kondisi yang sama juga dialami
oleh banyak negara di dunia. Kejadian
yang luar biasa.
.
.
Sayangnya,
tidak semua pekerjaan dilakukan dari rumah. Pekerja non formal, abang ojek misalnya. Kalau tidak keluar
rumah, tidak mungkin mereka bisa makan. Maka, jika kondisi negara dilockdown
yang paling rentan secara ekonomi adalah para pekerja non formal.
.
.
Perhari
kemarin [29/03], Indonesia yang postif terjangkit Cofid 19 sejumlah 1285 orang.
Di negara kita, yang meninggal dan sembuh banyak yang meninggal. Saya tidak
tahu persis apa penyebabnya. Yang jelas, negara kita juara 1 seluruh dunia,
presentase jumlah orang meninggal.
.
.
Ada
dua cara penanggulangan Cofid 19 yang sudah sukses diterapkan di negara lain.
Pertama Lockdown, diterapkan di Tiongkok. Mereka sukses besar. Mata rantai
penyebaran pandemik Corona terputus. Meskipun ada konsekuensi besar dari
kebijakan Lockdown. Kedua tes massal. Diterapkan di Korea Selatan. Korsel
membuat alat tes sendiri. Dan menerapkan tes jutaan warga negaranya. Sehingga
bisa memetakan mana warga yang terjangkit, untuk segera diisolasi dan diobati.
.
.
Sampai
detik ini, obat dari Cofid 19 belum ditemukan. Seluruh ilmuwan berlomba untuk
meneliti. Dan di negara yang kita cinta, dua kebijakan pilihan tadi belum
menjadi pilihan. Pemerintah pusat kita belum memberi aba-aba. Kecuali Pemkot
Tegal yang sudah me-lockdown wilayahnya. Warga kota Tegal nyaris tidak bisa
kemana-mana! Tentu ada positif dan negatif kebijakan tersebut.
.
.
Pemerintah
Amerika di bawah Presiden Trump, baru-baru ini, dalam keadaan seperti ini, mengintruksikan warganya untuk tetap berliburan, tetap berkerumun, bergerombol.
Dan perusahan tetap berjalan seperti biasa. Untuk mengatasi Cofid-19, Trump agaknya mempunyai cara lain;
.
.
Ternyata, selain kebijakan dua diatas [Lockdown dan Tes Massal], ada alternatif kebijakan
lain, yaitu Herd
Immunity. Kekebalan kelompok. Adalah keadaan ketika sebagian besar orang kebal
terhadap penularan penyakit tertentu.
.
.
Herd
immunity bisa tercipta dengan dua cara, salah satunya dengan menyuntikkan
vaksin untuk penyakit tertentu secara masif. Ini biasa dilakukan dalam bentuk
imunisasi. Semakin besar cakupan imunisasi, semakin tinggi pula herd immunity.
.
.
Cara
kedua adalah dengan mekanisme alami. Herd immunity diupayakan dengan membiarkan
virus menginfeksi seluruh atau sebagian besar orang. Ini dilakukan ketika virus
tertentu belum ditemukan atau sedang diupayakan vaksinnya.
.
.
Tentu
saja, herd immunity pada COVID-19 hanya dapat dilakukan dengan cara kedua,
karena sampai saat ini vaksinnya belum ditemukan. Masalahnya, mengupayakan cara
ini, sama saja bunuh diri massal.
.
.
Tapi
begitulah sistem Kapitalisme yang dianut Amerika. Amerika sebagai negara besar dan maju adalah karena
sistem kapitalisnya. Perusahaan-perusahaan dibiarkan bersaing. Yang kuat yang
menang. Yang hebat yang bertahan. Yang ecek-ecek yang akan tumbang. Begitu juga
Herd Immunty. Yang kuat menahan virus yang akan hidup. Yang lemah yang akan
mati! Para Lansia, kekebalannya sudah menurun yang akan banyak korban. Juga
balita sepertimu, yang imunnya belum terbentuk secara sempurna, juga sangat
beresiko.
.
.
Dalam
situasi dunia yang kacau balau, kita beruntung masih bisa bergembira menonton
Upin Ipin, salah satu kartun kesukaanmu. Salah satu tokoh dalam Upin Ipin
adalah Uncle Muhto. Uncle Muhto mempunyai bisnis kedai di Kampung Durian
Runtuh. Dia ingin berinofasi dengan dagangannya. Salah satunya adalah menambah
menu makanan berupa Ayam Panggang. Di Kampung Durian Runtuh, yang mampu memasak Ayam Panggang dengan cita
rasa dahsyat hanya Opah seorang. Maka, dia meminta Opah untuk memasak setiap
hari untuk dihidangkan sebagai menu andalan di Kedai Uncle Mutho. Sayangnya,
cara berfikir Opah itu tidak kapitalsitik, yang memanfaatkan keadaan dan skil
yang ia punya untuk meraup keuntungan besar. Opah hanya akan memasak Ayam
Panggang setiap hari cuma dua ekor. Tidak lebih dari itu.
.
.
Jika
kita cermati, kehidupan Opah sehari-hari juga biasa-biasa saja. Opah selaku
kepala keluarga tidak bekerja sebagai orang kantoran. Kak Ros (Kakak dari Upin
Ipin) pun sama, dia hanya pelajar, yang sesekali mendapatkan honor dari ia
membuat komik ‘Kembara Kembar Nakal’. Sesekali kita lihat, Opah sedang berkebun
di kebun samping rumah. Sangat sederhana. Tidak sepeerti Kapitalistik yang
megah dan pongah. Sebentar lagi system itu akan hancur dengan sendirinya. Lalu apa langkah pemerintah Indonesia? Sulit menjelaskannya untukmu.
.
.
Hari
minggu kemarin kita tidak kemana-mana. Dan memang kita jarang kemana-mana. Sesekali
kita memang pernah ke Balaikota Tegal. Biasanya kamu ingin naik
odong-odong kereta yang berputar-putar itu. Sekarang kota Tegal Lockdown, tentu
saja balaikota saat minggu pagi juga sepi. Mungkin balaikota, jika
semua ini sudah berakhir, akan menjadi daftar tempat yang harus kita kunjungi. Menyaksikanmu
berbahagia menaiki odong-odong kereta. Berputar-putar. Seperti hidup yang hanya
seperti ini saja, terus berputar.
Tegal,
30 Maret 2020