Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

#DearDifa

Kisah ini jauh-jauh hari sebelum pandemi ini masuk ke negara itu. Saat itu umurmu belum genap 3 tahun. Kamu sakit. Suhu tubuhmu panas. Disertai batuk kering juga. Kesepakatan itu terjadi di antara kita. Bahkan kamu yang menginkannya: periksa.
.
.
Kita pergi bukan ke dokter, bukan pula ke tabib. Di desa kita, tabib jaman ini sudah tidak ada. Kita pergi ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu adalah seorang perempuan tua, namanya Bu Ken. Meski Bu Ken bukan seorang dokter atau perawat, tempat dia buka praktek sangat laris. Banyak juga pasien dari tetangga desa. Bisa jadi, karena tarif bayarnya yang merakyat. Jika berobat di dokter paling minim sekali berobat 50 ribu, maka di Bu Ken hanya 20 ribu. Atau mungkin saja, pelayanannya yang supel. Ramah. Dan juga banyak pasien yang sembuh.
.
.
Di Bu Ken inilah kamu sendiri yang mengambil nomor antrian, dan mengantri bersama ibumu di dalam. Sementara saya menunggumu di luar. Tempat di Bu Ken agak sempit. Rata-rata pasien Bu Ken adalah anak-anak. Kata Ibumu, saat tiba giliranmu, kali ini kau tidak seperti biasanya; merajuk digendongan. Takut diperiksa dan ingin segera pulang. Kali ini kau berjalan sendiri, menuju ruang kerja Bu Ken. Naik ke bad sendiri. Membuka baju sendiri agar dadamu dibuka. Dan siap untuk diperiksa. Tentu saja, Bu Ken takjub dengan apa yang kamu lakukan. Dengan cekatan Bu Ken memeriksamu dengan stetoskponya.
.
.
Stetoskop itu, bisa jadi adalah alat yang sama yang dulu memeriksa saya saat kecil – sepertimu yang sedang sakit. Waktu sepertinya begitu cepat. Memerlukan lamunan panjang untuk menyadari bahwa saya sudah setua ini.
.
.
Konon, Bu Ken bukan asli orang desa kita. Jika mendengar intonasi berbicara, sepertinya dia berasal Solo. Dan menetap di sini bersuami sang suami. Suatu ketika, saat saya kecil dan sakit. Ibu saya membawa ke Bu Ken. Namun sial. Bu Ken hari itu tutup. Rumahnya sepi. Karena sebuah kepercayaan dan keyakinan tinggi, saya jika tidak diperiksa Bu Ken sakitnya lama sembuh. Pernah mencoba berobat ke dokter. Tapi tidak ada tanda sembuh. Maka, saya disuruh memegang pagar rumahnya saja. Dan bim salabim. Tentu saja Tuhanlah yang maha menyembuhkan.
.
.
Kisah tentang lompatan-lompatan waktu seperti kisah Bu Ken juga dialami Ibumu. Dulu, Ibunya Ibumu –nenekmu, melahirkan bayinya di rumah bersalin Bidan Solihin. Si bayi itu, setelah berusia 25 tahun menjadi istri saya. Saat hamil, bayi yang sudah dewasa itu yang dilahirkan di Bidan Solihin, melahirkan juga di bidan Solihin. Bayi yang dilahirkan itu kamu. 
.
.
Sehat selalu untuk semua makhluk yang melompati waktu. Waktu tidak beranjak ke mana-mana. Hanya kita yang semakin tua.
#DearDifa

Kemarin tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional. Pendidikan, kata seorang teman–dia seorang seniman Yogya, adalah agar membuat manusia menjadi tidak jahat-jahat amat. Seperti biasa, dia membuat status fesbuknya dalam rangka lucu-lucuan. Tapi tidak dengan anggapan saya. Dia sedang serius. Manusia itu tadinya jahat. Sangat jahat. Datanglah alam pikir buah pendidikan dengan tetek bengeknya kurikulum, agar mencetak manusia tidak jahat. Tapi seriuskah? Manusia menjadi tidak jahat setelah dia berpendidikan? Kamu yang akan menjawab nanti di jamanmu.
.
.
Mengingat pendidikan, saya kemarin membelikanmu mainan huruf abjad. Tentu tujuannya adalah agar kamu mengenal huruf. Kemudian membaca. Kemudian bisa menulis. Karena saya benar-benar tidak mengingat, bagaimana cara dulu bapak saya mengenalkan saya pada huruf.
.
.
Yang saya ingat adalah ketika saya di kelas 1 SD, berada di kelas, latihan membaca, dipandu seorang guru; ini Budi, ini bapak Budi. Kelas satu saya sudah membaca. Saya sangat beruntung. Bapak saya yang juga guru mempunyai beberapa koleksi buku. Buku tentang cerita rakyat Nusantara. Juga beberapa buku pelajaran bahasa Indonesia. Yang sebenarnya, semua buku itu, milik perpustakaan sekolah di mana bapak saya mengajar. Ketika bapak sudah tiada. Buku-buku itu dikembalikan lagi.
.
.
Tentang sebuah huruf, dulu Belanda saat menjajah kita membuat klaim sepihak. Membuat survei. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang buta huruf. Tidak bisa baca tulis. Benar saja. Yang dimaksud baca tulis adalah baca dan tulis huruf abjad. Padahal kondisi rakyat saat itu, banyak yang kenal huruf Arab Pegon. Juga aksara Nusantara (Jawa, Bali, Lampung, dlsbya)Tapi mereka dianggap buta huruf.
.
.
Ini adalah masa-masa emas umurmu. Belajar segala sesuatu dengan gampang. Saya berharap. Sebelum kamu kenal dengan huruf abjad, hijaiyyah, dan berbagai aksara dunia. Kamu kenal dulu dengan Hanacaraka. Hanacaraka itu huruf asli leluhur nenek moyangmu. Saya tidak tahu, jika kehidupan ini masih berlangsung, apakah Hanacaraka masih digunakan oleh anak turunmu atau sudah usang.
.
.
Tapi apalah saya. Kurang semangat untuk mengenalkanmu pada Hanacaraka. Tulisan saya ini saja adalah huruf abjad. Terlebih jarang media, mainan, yang menggunakan Hanacaraka. Jadi kamu fokus hanya dengan huruf abjad. Sudah menjadi prinsip saya, hidup yang biasa-biasa saja, tidak perlu menjadi hero yang sok-sokan.
.
.
Saya ini lelaki yang bisa bahagia dari hal-hal sederhana. Saat masa pandemi. Mengetahui tentangmu. Di usia tiga tahun ini, kamu sudah membedakan huruf o dan angka 0 saja, sudah membuat imunku meningkat. Sesederhana itu saya bisa bersyukur. Tentu saja saya tidak menuntutmu kamu segera bisa kenal huruf hijaiyyah, kemudian menghapal Alquran. Itu terlalu sundul langit bagi saya. Alquran tentu sangat baik dihapalkan. Tapi menjalani kehidupan yang “'Ngur’ani” [berupaya menjalani ajaran Alquran, menjadi orang baik, jujur, dlsbya] adalah hal yang harus kita lakukan. Sehat selalu, Nadifa.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE