Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saya tidak tahu harus menulis ini dimulai dari mana. Karena pesimis itu adalah luka. Sulit untuk sembuh. Diantara pesimisme yang berkembang sesama anak bangsa banyak bertebaran di sosial media. Dan kisah-kisah nelangsa yang kita temukan di mana-mana. 


Sastrawan tidak bisa hidup dari sastra, petani tidak bisa hidup dari hasil pertanian, guru tidak bisa menghidupi dirinya sendiri dari kegiatan dia mengajar. Dan para fasilitator pemberdaya sama sekali tidak berdaya. 


Pengangguran, drama-drama pembubaran dan karyawan dirumahkan. Dan teori-teori kurikulum pendidikan kita untuk pembodohan sesama anak bangsa. Karena berbagai faktor itulah. Pesimisme muncul sebagai anggapan yang —sekedar menatap masa depan pun enggan. 



Seolah, sebentar lagi, Indonesia akan hancur. Lebur. 



Saya akan memulai sebuah kisah, barangkali ini bisa dijadikan titik terang, pondasi, melihat Indonesia ke depan– Atau barangkali suatu saat, bangsa ini bukan bernama Indonesia lagi. 

****

Kisah pertama adalah dari baju Parcok. Akronim dari Partai Coklat. Jika Anda pengikut Sosmed aktif, lembaga ini mendapatkan nilai rendah dari netizen. Dari banyaknya kegiatan dan kasus yang ada. Begitulah rakyat kita menilai.


Kata guru filsafat saya dulu, menggeneralisir permasalahannya itu tidak baik. Tidak objektif. Saya ceritakan salah satu personel Parcok yang keren. Setidaknya keren bagi saya. Dia mungkin tidak setenar Hugeng yang dikisahkan Gus Dur. Tapi kisah tirakat hidupnya sejak kecil hingga meraih pendidikannya tidak mudah. Dia menceritakannya padaku di ladang sawah saat itu. Meski dia Parcok, dia lebih senang disebut petani. 


Dia seorang pemberdaya sejati. Kebermanfaatan hidupnya banyak dirasakan oleh masyarakat desa. Pengangguran ia pekerjakan. Bidang dia di Parcok, membidangi ekonomi. Karena integritasnya, ia banyak meraih penghargaan. Sayangnya karirnya hanya mentok di situ-situ saja. Dan dia tidak bersosial media. Jarang dikenal manusia. 


Kisah yang lain dari dua kawan saya, dua orang yang tidak saling kenal. Tapi saya kenal dekat dengan mereka berdua. Yang satu kawan saya saat SMA, yang satunya lagi senior saya di sebuah organisasi. Mereka bekerja dalam instansi yang sama. Mereka adalah tiang penyangga APBN kita, saat saya bertanya, kenapa dia tidak menerima duit dari para cukong itu, intinya mereka bilang. Di angkatan mereka, ada semacam kesepakatan, ingin sekali memutus mata rantai angkatan-angkatan dulu yang memungut TAX yang tidak setorkan ke negara. 


Di dunia akademik, juga ada cerita yang hampir sama. Ketika banyak dosen yang mengejar kepangkatan menjadi guru besar. Beliau malah menghindar. Saya tahu, beliau adalah orang yang paling produktif karya dan pemikirannya. Konon alasan beliau adalah, dia sudah merasa cukup dengan apa yang ada. Namun para koleganya, membantunya. Saat ini beliau sudah bergelar profesor, semangatnya untuk menolak jabatan patut dipercontohkan.


Cerita lain yang membuat saya optimis bahwa Indonesia akan terus jaya adalah, seorang bendahara di sebuah organisasi perangkat daerah. Secara SDM dia biasa-biasa saja. Bukan golongan unggul sebagai manusia. Tapi suatu hari saya saat saya sedang berjalan dengan motor butut saya, saya melihat dia di proyek gorong-gorong pinggir jalan. Tidak berseragam dinas. Bersama pekerja lain, ia ikut terjun menggali dengan cangkul. Saat saya tanya apakah dia mendapatkan honor tambahan dari pekerjaan dia mencangkul, dia jawab tidak. Tentu saja saya tahu, dia bukan pencari panggung, pencitraan untuk kenaikan jabatan. 

“Lalu untuk apa lo ikut menggali?”, tanya saya lebih dalam. 

“Agar suatu hari nanti, di hadapan Tuhan, tenggorokan saya tidak keselek ketika dimintai pertanggungjawaban!”.


****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Kelak hidup kalian tidak usah bersaing dengan siapapun. Ucapkan pada yang lain. Silahkan mendahului dari sisi manapun. Hidup ini perjalanan pribadi dan abadi. 


Tumbuhlah dengan indah, tanpa merusak hal di sekitarmu. Kita tidak sedang berlomba dalam perkara dunia, tapi perihal menjadi yang terbaik di sisiNya. Barangkali dengan cara itu, Tuhan Maha Tidak Tega melihat Indonesia selesai. 


Kata Iksan Skuter pada sebuah Podcast, tugas seniman itu berkarya, tugas guru adalah mengajar, tugas petani bertani. Tidak lebih, tidak kurang. 



Ini tulisan Om Bud, yang saya gubah sedikit. Sangat relevan denganku yang dulu menggebu-gebu. 

*****

Dulu saya pikir hidup itu medan perang. Setiap hari saya bangun dengan pikiran bahwa saya harus "mengalahkan hari ini". Saya paksa semua hal berjalan sesuai rencana. Kalau tidak sesuai, saya anggap itu kegagalan.


Sampai suatu hari, saya duduk di taman sendirian. Tak ada yang spesial. Hanya pohon, langit, dan angin sore. Tapi sore itu saya sadar—tak satu pun dari mereka sedang melawan. Pohon tidak memaksa daun bertahan. Awan tidak protes ketika hujan turun. Bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam. Alam seperti menepuk bahu saya pelan: "Kenapa kamu terus melawan, padahal kami hanya sedang mengalir?"


Sejak itu, saya mulai mencoba mendengar. Lebih sering diam. Lebih sering bertanya daripada mengatur. Ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, saya tidak langsung menyalahkan hidup. Saya tanya dulu: “Apa mungkin ini arah yang lain, bukan kegagalan?”


Saya belajar bahwa bersinergi dengan semesta bukan berarti pasrah. Tapi belajar kapan harus bertindak, dan kapan harus diam. Belajar membedakan mana yang memang harus diperjuangkan, dan mana yang perlu dilepaskan.


Ternyata, semesta tak pernah melawan saya. Saya aja yang terlalu sibuk jadi komandan, sampai lupa bahwa saya bagian dari orkestra besar yang bernama kehidupan.


Suatu pagi saya duduk di halaman rumah, menatap semut yang mondar-mandir membawa remah roti. Di sebelah saya, kucing tetangga melintas dengan langkah malas, sementara burung gereja berkicau dari atas pagar. Saya tersenyum. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi entah kenapa pagi itu terasa hidup.


Saya jadi sadar: saya tidak sendiri di planet ini. Kita semua—manusia, semut, burung, pohon, air, batu—adalah sesama penghuni bumi. Sesama penduduk alam semesta.


Manusia memang sering gak tau diri. Kita merasa pemilik bumi. Tanah, hewan dan pepohonan adalah asset. Padahal tanpa makhluk lain, tanpa pohon yang memberi oksigen, tanpa lebah yang membantu bunga tumbuh, tanpa angin yang menggerakkan awan...apa yang tersisa dari kehidupan?


Sejak itu, saya mulai membiasakan sesuatu yang mungkin terdengar aneh: saya mengajak mereka bicara. Kadang saya menyapa pohon. Kadang saya bilang “terima kasih” ke air yang saya minum. Kadang saya minta maaf ke tanah yang saya injak. Mungkin terdengar konyol, tapi rasanya hangat.


Semesta ternyata tidak pernah sunyi. Ia selalu menjawab. Lewat angin. Lewat gerak daun. Lewat perasaan yang muncul tiba-tiba, entah dari mana. Semesta bicara, kalau kita mau mendengar.


Saya percaya: kalau kita mau menjaga bumi ini, kita harus mulai bersilaturahmi dengan seluruh penghuninya. Bukan hanya manusia, tapi juga makhluk lain yang selama ini kita anggap diam. Mereka bukan diam. Kita saja yang tak pernah menyapa.


Menjaga bumi bukan tugas manusia sendiri. Itu kerja kolektif. Kita perlu berteman, bukan hanya memakai. Perlu mendengar, bukan hanya meminta. Perlu berbicara bukan memerintah.


Ketika kita mulai hidup bersama, bukan di atas yang lain, semesta pun akan ikut merawat kita.


Dulu saya pikir suara semesta itu semacam bisikan gaib atau petunjuk mistis yang muncul tiba-tiba. Ternyata bukan.


Suara semesta sering datang sebagai rasa. Rasa yang lembut tapi menggelitik, muncul saat saya diam. Saat saya berhenti dari rutinitas yang bising, duduk tenang, dan benar-benar hadir.


Saya ingat suatu sore, saya duduk di bawah pohon jambu yang tumbuh di belakang rumah. Angin sore menyentuh pelan kulit saya. Daun-daunnya berdesir seperti membisikkan sesuatu. Dan entah kenapa, sore itu saya merasa damai sekali. Rasanya seperti dipeluk. Padahal saya sendirian.


Mungkin itulah suara semesta.


Kadang semesta tidak berbicara lewat kata-kata. Ia berbicara lewat getaran. Lewat angin yang tiba-tiba berhenti, lewat hujan yang turun di saat hati sedang berat, lewat pelangi yang muncul setelah hari-hari mendung. Lewat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan, seolah bilang, “Hei, tenang, kamu tidak sendiri.”


Dan untuk bisa mendengar semua itu, kita harus belajar satu hal penting: diam.


Bukan diam karena tak tahu harus berkata apa, tapi diam yang penuh kehadiran. Diam yang tidak melarikan diri dari rasa, tapi justru menatapnya. Diam yang membuka pintu-pintu batin, agar suara-suara lembut dari luar bisa masuk.


Semakin saya diam, semakin saya peka.


Saya mulai bisa membedakan: mana suara hati saya sendiri, mana suara ego, mana suara semesta. Tiga hal itu sering tumpang tindih, tapi pelan-pelan saya belajar membedakannya lewat latihan sederhana: duduk, napas panjang, dan tidak buru-buru menjawab dunia.


Mendengar semesta adalah keahlian yang bisa dipelajari. Bukan karena kita jadi sakti, tapi karena kita belajar hadir. Hadir sebagai manusia di tengah rimbunnya kehidupan lain, sebagai salah satu dari banyak makhluk yang sama-sama ingin hidup dengan damai.


Semesta memang tidak selalu memberi jawaban yang kita mau. Tapi ia selalu memberi jawaban yang kita butuh. Kalau kita mau benar-benar mendengar.


Kata sastra jalanan yang pernah saya baca di bokong truk, “cepat-cepat mau ngejar apa, pelan-pelan nungguin siapa”. Hidup semengalir saja. 


*****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar




Dalam sebuah diskusi film, di Gedung B6, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Dedi Mizwar mengatakan: ”Sekolah itu penting, agar tahu bahwa sekolah itu tidak penting”.


****
Toha, namanya diabadikan Tuhan dalam Alquran. Tapi bukan itu, Toha adalah nama bapak kawan saya. Sahabat saya ini umurnya jauh dibawah saya. Manusia seusia saya ini bisa nyambung dengan umur berapapun. Termasuk dengan bapak kawan saya yang jauh lebih sepuh. Jika nongkrong dan ngobrol dengan para tetua,, yang diceritakan adalah kisah-kisah terdahulu sebagai bentuk kejujuran kehidupan. Inilah Pak Toha dengan hikayatnya yang diceritakan. 


Barangkali ini adalah kisah biasa. Kisah-kisah zaman dulu dengan berbagai perjuangan, kelaparan, dan kemiskinan. Namun sesungguhnya, dibalik kisah ini saya tahu, Pak Toha adalah orang kaya, kaya hatinya, kaya pengetahuannya. Dan paling penting kaya cita-cita luhurnya. 


Saya akan menarik seting kisah ini. Cerita ini bertempat di sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Listrik baru masuk desa ini pada saat kawan saya lahir di dunia, 1995.

Pagi itu, cuaca agak mendung Pak Toha membuka obrolan dengan saya perjuangannya sekolah SD pada tahun 1970an. Di desanya dulu, belum ada SD sekolah SD hanya sampai kelas 3, itupun bukan bangunan SD, hanya gubuk rumah warga yang disulap sebagai kelas untuk pembelajaran, selepas kelas 3, yaitu kelas 4, SD hanya ada di desa tetangga yang harus melewati bukit dan jalanan terjal. Pantas saja, dari jumlah teman-teman Pak Toha saat kelas 1 sampai kelas 3 berjumlah 40, hanya tersisa 4 yang melanjutkan ke kelas 4 hingga kelas 6 di desa tetangga.

Dia mengaku untuk pergi ke sekolah, saat musim hujan adalah sebuah hal yang paling payah, jalanan licin, tidak ada payung, baju basah, apalagi sepatu sebagai alas kaki. Pada musim kemarau, lebih parah, jalanan berdebu luar biasa, hingga terkadang dia dan kawan-kawannya terbatuk-batuk. Singkatnya, dalam musim apapun, pergi sekolah adalah hal yang tidak menyenangkan. Terlebih pada zaman itu, ketika kemiskinan dan kelaparan adalah teman, berangkat sekolah belum tentu tersedia sarapan. 



Dulu itu – entah dengan sekarang,, pendidikan dan sekolah tidak terlalu penting. Terlebih bagi perempuan. Dulu, ketika saya belajar dasar-dasar pendidikan dan gender, saya rasa, anggapan perempuan yang hanya Tiga Ur: Dapur, Sumur, Kasur, adalah teori belaka. Ternyata hal seperti ini sangat kental di masyarakat desa kawan saya pada saat itu. 


Pak Toha mempunyai lima anak, empat diantaranya adalah perempuan. Yang laki-laki hanya kawan saya itu, dia anak nomor tiga. Pak Toha sebagaimana lelaki desa biasa, tentu saja bukan orang kaya, saat para anak perempuannya sekolah sampai SMP, dan SMA, banyak yang mencemooh, apalagi sampai di awal milenium, perempuan pertamanya kuliah, tidak ada dukungan sama sekali, dari keluarga besarnya, karena latar belakang Pak Toha di desa yang hanya kalangan menengah ke bawah, kata-kata 3 Ur tadi sering keluar dari masyarakat desa. Tapi tidak dengan Pak Toha, optimisme akan masa depan, dan cita-cita menghilangkan kebodohan tidak melihat gender anaknya. Keempat anaknya adalah sarjana di kampus Yogya. Tinggal  perempuan terakhirnya yang sekarang sedang skripsi di Kampus Bandung.

Dengan latar belakang ekonomi Pak Toha tersebut, yang saya herankan, adalah, kok ada saja rezekinya untuk pendidikan anak-anaknya.

Saat anak perempuannya kuliah di Yogya, misalnya, Pak Toha berkisah, dia menjual 2 ekor kerbaunya untuk membeli laptop! Ya, harga laptop jaman dulu belum terjangkau, dan satu kerbau dewasa itu, yang sekarang mengalami inflasi ekonomi berharga paling murah 25 juta!

Ada lagi, saat anaknya yang keempat wisuda kemudian menikah, Pak Toha yang petani itu, sedang menanam cabai, satu kilo cabai pada saat itu mencapai 90 ribu, kok ya ndilalah ada.

Sekarang, ketiga anak perempuannya berkiprah dalam dunia kerja masing-masing, yang pertama selain menjadi guru, dia menjadi tokoh di desa, yang kedua dan keempat tinggal di Yogya, bekerja di bidangnya. Banyak gadis-gadis di desa terinspirasi kepada para anak perempuan Pak Toha, mereka mengejar pendidikannya, mimpi dan cita-citanya. Kawan saya sarjana dalam bidang pertanian, dia banyak membantu bapaknya dengan ilmu-ilmu pertanian mutakhir, seolah dia yang akan disiapkan bapaknya menjadi petani generasi  masa depan.


Saat saya mengkonfirmasi kepada kawan saya tentang kisah-kisah tersebut, 

“Bro, bapak lo luar biasa!”,

“Bukan, bro, bukan bapak gw yang luar biasa, tapi kakek gw yang keren.”.

Kawan saya menceritakan, bahwa, kakeknya berpesan, pendidikan itu penting, motivasi itu yang menjadikan Pak Toha bisa sampai kelas 6 SD, walaupun saat ujian kelas 6 Pak Toha tidak lulus, karena ujian kenaikan tingkat pada saat itu harus dilakukan di Sekolah di ibu kota kecamatan, sementara untuk pergi ke kecamatan pada saat itu belum ada jembatan.

****

#DearDifa
#DearHilwa

#DearAsfar




Saya tidak tahu, saya yang seperti ini, bagaimana nantinya akan memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan kalian di masa depan, selain berharap pada Tuhan Yang Maha tidak Tegaan. Kembali lagi, pendidikan itu penting, agar kita tahu bahwa SISTEM pendidikan kita itu sebenarnyatidak penting.






Semester ini, saya mengampu kelas Kitabah. Menulis dalam Bahasa Arab—sebuah kegiatan yang bagi sebagian mahasiswa masih terasa asing, menantang, bahkan kadang menakutkan. Tapi kita sepakat untuk memulainya, perlahan. Meski bukan di ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tapi di kotak-kotak kecil bernama Zoom, dengan suara yang kadang delay dan wajah yang tak selalu menyala.

Saya memilih pendekatan qawaid dalam tiap bab. Bukan tanpa alasan. Saya percaya, menulis dalam bahasa Arab bukan semata soal mengalirkan kata, tapi memahami struktur di baliknya. Maka kami belajar mengenal mubtada’ dan khabar, hingga naik ke inna wa akhwatuha, dan menyelami perubahan makna dalam kana wa akhwatuha. Setiap bab hadir bukan hanya dengan teori, tapi dengan harapan: semoga pola-pola itu menjadi pijakan dalam tulisan.

Namun, tidak semua berjalan mulus.

Pernah suatu sore, langit gelap, angin bertiup kencang. Di rumah saya, suara genteng berderak, sinyal naik-turun, bahkan listrik sempat berkedip. Tapi ketika saya buka Zoom, satu per satu nama kalian muncul. Ada yang menyalakan kamera, ada yang diam dalam mode mute, tapi saya tahu: kalian hadir. Dan di tengah bisingnya hujan, saya sampaikan salam, saya buka pelajaran, dan kita mulai menyusun kalimat.

Hari lain, saat penarikan KKN, saya sebenarnya sudah lelah. Tubuh rasanya minta istirahat, tapi hati tak tenang kalau kelas kitabah harus kosong. Maka dengan sinyal seadanya, saya tetap masuk. “Ana ma’akum,” saya bilang. Dan kalian, seperti biasa, menyambut dengan semangat yang membuat lelah itu luruh. Kita tetap belajar. Kalimat demi kalimat. Walau pendek, walau masih terbata, tapi kita menulis.

Sebagai fasilitator, saya tahu saya bukan yang terbaik. Banyak hal yang belum sempurna. Mungkin ada penjelasan yang terlalu cepat, mungkin saya kurang peka saat kalian bingung, atau mungkin saya terlalu sering mengulang contoh yang sama. Saya minta maaf. Sebesar-besarnya. Sedalam-dalamnya. Tapi percayalah, saya berusaha. Karena saya yakin, kalian layak mendapatkan pembelajaran yang baik.

Dan saya percaya, kalian juga sudah berjuang. Di balik layar laptop atau ponsel kecil, kalian menulis. Kadang sambil mengasuh adik, sambil sibuk bekerja, kadang sambil mengisi daya HP yang nyaris habis, atau sambil bertanya dalam hati: “Benar nggak ya jumlah ini?” Tapi kalian tetap menulis. Dan bagi saya, itu luar biasa.

Tujuan dari kelas ini sederhana: agar kalian bisa membangun kalimat dengan sadar. Tidak hanya paham teori, tapi tahu mengapa kalimat itu ditulis begitu. Dan semoga dari pola-pola yang kita pelajari, lahir tulisan-tulisan yang tidak hanya benar secara nahwu, tapi juga punya makna dan rasa.

Sekarang semester telah usai. Tapi pelajaran belum. Karena menulis tidak selesai di Zoom. Ia hidup dalam tugas, dalam skripsi, dalam doa-doa yang kalian ketik dalam bahasa Arab di catatan pribadi.

InsyaAllah, semester depan kita bertemu lagi. Dengan qowaid yang lebih dikuasai, dengan semangat yang tidak pernah padam, dan dengan lembar-lembar digital yang siap diisi.

Terima kasih telah hadir, bahkan saat hujan angin, bahkan saat saya lelah. Terima kasih telah menulis, bahkan saat tak ada yang memaksa.

Kitabah kita mungkin sederhana. Tapi semangatnya tak pernah biasa.

#DearAsfar

Cerita ini saya dapatkan dari Om Bud, dia adalah master Copywriting Indonesia. Banyak iklan produk terkenal di tivi-tivi yang kita tonton, dibalik layar, penulis iklan tersebut adalah Om Bud. Saya percaya bahwa dia adalah penulis yang jujur. Pun dalam kisah yang dibagikan kepada saya. Saya yakin apa adanya. 


Epic kisah ini. Endingnya seperti FTV.


Om Bud punya teman.  Seorang laki-laki, namanya Alif. Ia berpostur tinggi. Wajahnya tampan. Rumahnya mewah, di garasi rumahnya, terparkir mobil sport banyak. Namun karena kesederhanaan hidupnya, saat pergi ke mana-mana hanya memakai sepeda.


Tidak sampai itu, saat Om Bud membuat puisi dan dibagikan ke teman-temannya. Teman-teman lain mencemooh, mengolok-olok, ada yang mengatakan bahwa puisi Om Bud ini seperti susunan kata-kata anak SD saja. Tapi tidak dengan Alif, dia memberikan penilaian dan apresiasi yang luar biasa pada puisinya Om Bud.


Hal yang paling menyenangkan bagi Om Bud adalah saat bermain ke rumah Alif. Pembantu di rumah Alif selalu menyajikan makanan yang enak-enak, dari mulai kue dan makanan berat yang tentu saja lezat. Dia pembantu yang luar biasa. Meski hanya pembantu di rumah itu, Alif sangat menyayangi dia.


Jadi ngga ada yang perlu diherankan, banyak cewek yang naksir sama Alif. Dari sekian perempuan yang berkompetisi, Wulan menjadi pemenangnya. Wulan cantik, cerdas, dan mereka menjadi pasangan ideal. Mereka tampak mencintai satu sama lain, seakan dunia milik mereka berdua. Sering Om Bud menatap mereka dengan perasaan iri dan dengki melihat mereka jalan bareng, bergandengan kayak truk dan saling memberi perhatian satu sama lain. 


Tapi di tengah jalan. Pacarnya Alif selingkuh. Dia lebih memilih laki-laki lain. Dan herannya bagi Om Bud, si Alif sama sekali tidak marah. Malah saat pergi ke mana-mana–laki-laki itu dan mantannya Alif, Alif lah yang menjadi sopir mereka!


Suatu hari Om Bud berhasil mengajak Alif ngobrol berdua di sebuah warung kopi. Untuk memuaskan rasa penasaran, Om Bud bertanya, “Lif, kok elo bisa, sih, selalu tenang dan bijak banget?"


Dia cuma senyum sambil menghirup kopinya, "Gini, Bro. Hidup itu bukan tentang menang atau kalah. Hidup itu tentang ikhlas. Lo akan ngerasain damai asal lo mau belajar ikhlas. Kalau lo ngerasa hidup ini berat, mungkin lo perlu lihat dari perspektif yang lain."


“Secara umum hidup memang begitu. Tapi soal Wulan?” desak Om Bud.


“Intinya begini. Kalo ada orang menemukan jodohnya. Lalu keduanya berbahagia. Bukankah gue ada andil dalam mempertemukan mereka? Bukankah ini sesuatu yang harus disyukuri?”


“Tetep gak masuk di otak gue,” sahut Om Bud sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Coba lo bayangin. Ada orang yang setiap malam berdoa untuk menemukan jodohnya. Lalu Tuhan menjawab doa itu dengan cara menunjuk kita sebagai jalan untuk mempertemukan kedua pasangan itu. Masak harus gue tolak, sih?” sahut Alif tersenyum lalu menghirup kopi panasnya dengan wajah teduh.


Masya Allah. Om Bud semakin terkagum.

Hingga beberapa bulan, Om Bud tidak bertemu Alif, akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Alif, sesampainya di sana, dia bertemu tante cantik. Kulit glowing. Pasti skincarenya mahal. Dengan dandanan pakaian khas orang kaya. Om Bud memastikan bahwa ini adalah ibunya Alif.


"Alif ada, Tante?" tanya Om Bud.


Dia sedikit mengernyitkan dahi, lalu menjawab dengan suara lembut, "Alif nggak ada di sini, Nak."


"Loh, ke mana, Tante?"  Om Bud mulai bingung.


"Dia nggak kasih tau ya? Bulan lalu dia pergi. Pulang kampung sama ibunya," jawab Tante itu dengan senyum kecil yang agak aneh.


Om Bud masih bingung, "Oh? Bukannya Tante ini ibunya Alif?"


Tante itu tertawa kecil, "Hihihi... bukan, Nak. Alif cuma tinggal sama saya."


Om Bud terdiam beberapa detik, mencoba menyerap apa yang baru saja Tante itu katakan, "Maksudnya gimana, Tante? Kok saya nggak mudeng?”


Tante itu melanjutkan, "Ibunya kerja dengan saya. Jadi Alif memang bukan anak saya. Dia tinggal di sini karena ikut ibunya."


“Hah? Jadi ibunya yang mana Tante? Ibu Marfuah?” tanya Om Bud dengan suara bergetar.


“Iya, betul. Ibu Marfuah asisten rumah tangga saya. Dia ibunya Alif."


Om Bud tercengang. Darah bergolak. Jantung berdetak lebih cepat. Perasaan berkecamuk. Selama ini saya mengira Alif anak orang kaya. Rumahnya yang megah, gaya hidupnya yang terlihat begitu sempurna, semua itu ternyata hanya gambaran luar.


“Kapan Alif balik ke sini, Tante?” tanya Om Bud dengan suara bergetar.


“Mereka nggak akan balik lagi.”


“Oh...” Cuma itu yang keluar dari mulut Om Bud. Hari itu terlalu banyak kejutan sehingga membuat perbendaharaan kata Om Bud menipis. 


Tante itu melanjutkan dengan tatapan penuh simpati, "Saya juga sedih. Alif itu anak yang luar biasa. Baik, sopan, rajin dan selalu tahu diri. Dia pintar mengaji, dan sudah beberapa kali khatam Quran."


Masya Allah. Meskipun Alif sudah pergi ternyata dia nggak berhenti membuat Om Bud kagum.


"Saya kan ngga punya anak, makanya  Alif udah saya anggap seperti anak sendiri.” Tante cantik ini menutup ceritanya dengan suara teramat lirih.


Om Bud terdiam lama. Semua peristiwa yang Om Bud alami bersama Alif berkelebat-kelebat. Semakin Om Bud merenung, kotak pandora semakin terbuka. Makanya Om Bud bisa menduga kenapa Alif putus sama Wulan. Kenapa dia bisa berteman dengan pacarnya  Wulan. Bahkan menjadi "supir pribadi" saat mereka bepergian.


Dengan hati gundah Om Bud pamit pada Tante tadi. Sebelum menstater Vespa sambil melirik ke arah garasi tempat nongkrong mobil-mobil mewah dengan merek berbeda. Perlahan Om Bud semakin merasa betapa besar hati Alif. Meski hidupnya sederhana, dia bisa memandang dunia dengan lebih lapang. Dan Om Bud memberikan pelajaran bahwa kekayaan yang sebenarnya ada di hati. Bukan di garasi.

Saat buka Instagram, dan membaca akun SkeNU tentang fenomena anak muda yang ramai ke makam wali untuk memenangkan diri. Itu sangat relet dg saya. Saya jadi ingat kawan saya. Dia kolega saya di sebuah lembaga. 


Di Whatsapp Group kami, dia sering membagikan pencapaian-pencapain dia pergi ke makam-makam "wali", hingga di pelosok-pelosok desa, sampai makam-makam yang jarang dikenal manusia pada umumnya. Sampai suatu saat ada anggota group lain nyinyir. 


Kata seseorang, hidup hanya tirakatan, dia masih muda. Masih bujangan. Puluhan tahun lalu saya juga merasakan hal yang sama seperti itu. Saat masih bujangan. Ketika pekerjaan tidak kunjung datang. Ketika masa depan tidak tahu arahnya akan seperti apa. Meskipun saat ini juga masih sama. 


Mau curhat ke siapa? Psikolog? Saya tidak punya akses. Apalagi uang. Ke teman? Apa yang diharapkan pada seorang yang bernasib sama. Mario Teguh? Haha. Dulu ada istilah  yang terkenal, bahwa hidup tidak seindah c*c*tnya Mario Teguh. 


Maka, makam-makam wali adalah jalan. 


Sendiri membaca sedikit tahlil. Selebihnya menenangkan diri. Dan selebihnya diserahkan ke Tuhan yang Maha Tidak Tegaan. 


Jadi, ini bukan lagi tentang bagaimana halal atau haram berziarah. Tapi ada yang lebih penting. Kondisi ekonomi negara yang tak menentu, berimbas pada masa depan pemuda pemudi merajut masa depan. Depresi takut akan kegagalan. Belum lagi permasalahan asmara yang tak kunjung padam. 


Santri yang realistis tentu dia tahu bagaimana kaifiyah berdoa di Makam Wali. Sebagai penganut penyerempet pakem-pakem Positivisme dalam filsafat, bahwa pengetahuan yang valid hanya berasal dari pengalaman indrawi dan metode ilmiah. Meskipun ziarah ini kata sebagian kaum tidak ada ilmiah-ilmiahnya sama sekali. Positivisme dan bahasa agama dikolaborasi. 


Di sana–di makam wali-wali itu, sangat menenangkan, kita bisa berdialog dengan diri sendiri, sebenernya apa yang saya cari. 


Di sana, tidak cari karomah, hanya mencari sunyi, cari ruang yang tidak berisik seperti dunia sosial media hari ini. Tidak ada motivator-motivator seperti Mario Teguh. Adanya motivator seperti Sudjiwo Tedjo, tapi dia mengaku dia hanya seorang motivan*uk! 


Makam Wali itu lucu, kita datang sambil nangis, tidak akan ada yang tanya, kamu kenapa? Tidak ada yang menghakimi, tidak seperti konten-konten motivasi. Di makam Wali, hanya cukup diam. Karena mungkin wali-wali itu tahu, tidak semua luka itu harus diceritakan, hanya cukup dirasakan. 


#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar

Nenekku buta itu fakta. Itu yang aku tahu sejak kecil. Tapi dulu, tak pernah ada yang betul-betul bercerita kenapa. 


Orang-orang bilang karena kakek meninggal. Dan rasa kehilangan itu membuat matanya perlahan gelap. Katanya, saking sedihnya, penglihatannya ikut padam. Seolah-olah hati dan mata itu satu paket. Ketika hati tak kuat menahan duka, maka mata pun ikut menyerah.

Tentu saja  saya kecil, saya percaya saja. Tapi setelah saya tumbuh, setelah saya belajar menimbang makna, setelah aku belajar filsafat. Saya ragu. Sedih, bisa bikin mata buta? Aku mulai curiga, jangan-jangan ada cerita lain yang selama ini disembunyikan. Atau mungkin, dianggap tak perlu diceritakan.

Baru belakangan aku dengar cerita yang berbeda. 


Katanya dulu, waktu nenek masih gadis, pernah ada kejadian. Antara dia dan saudara kandungnya. Saya ragu untuk menyebutnya: adik atau kakaknya sendiri. Mereka bertengkar, atau mungkin cuma salah paham kecil. Tapi saat itu, saudaranya menusukkan sesuatu ke arah nenek. Semacam bolpen. Mungkin kayu kecil. Yang jelas, sesuatu masuk ke mata. Berdarah.

Nenek tidak melawan. Tidak marah. Tidak mengadukan. Ia diam saja. Menerima. Seolah rasa sakit bukan sesuatu yang harus dibalas. Seolah luka itu adalah bagian dari takdir yang harus dilewati.

Aku membayangkan, berapa lama luka di mata itu mengendap. Pelan-pelan menggerogoti penglihatan. Hingga suatu hari, dunia mulai samar. Lalu jadi gelap. Dan nenek, tetap diam. Tidak pernah mengutuk. Tidak pernah mengeluh. Hanya menjalani. Seperti jalan panjang yang memang harus ditapaki.

Tapi justru cerita sesudah kakek meninggal yang membuat dadaku sering sesak.


Waktu itu, ibu masih dua tahun. Anak bungsu. Masih menyusu. Tapi karena nenek akan berangkat haji—ya, dengan kapal laut yang memakan waktu tujuh bulan lebih—ibu disapih. Tanpa perayaan. Tanpa bekal berlebih. Dan setelah pulang dari haji, tidak lama kemudian, kakek wafat.

Nenek benar-benar sendiri. Dengan mata yang sudah gelap, dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Tidak ada penghasilan tetap. Tidak ada kendaraan. Tidak ada listrik di dapur atau air ledeng di belakang rumah. Tapi semua anaknya tumbuh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang terlantar.

Kadang aku berpikir. Bagaimana bisa?

Bagaimana mungkin seorang perempuan buta, dengan tangan seadanya, membesarkan anak-anaknya? Sementara hari-harinya hanya diisi oleh rasa kehilangan, kecemasan, dan hidup yang tak kunjung lapang?

Mungkin jawabnya: nenek bukan sendirian. Ada Tuhan. Yang Maha Tidak Tegaan. Yang ketika melihat seorang ibu terus menggenggam hidup meski tak melihat apa-apa, Dia yang Rahman Rahim turun tangan. Pelan-pelan. Tanpa bunyi.

Dan di sanalah aku paham, kenapa ibuku seperti itu. Kenapa kami dibesarkan bukan dengan harta, tapi dengan cerita. Dengan keteladanan. Dengan nilai-nilai diam yang tidak diajarkan lewat mimbar-mimbar agama, tapi lewat hidup itu sendiri.

Aku ingin anak-anakku tahu, bahwa kami ini berasal dari seorang perempuan tua yang buta. Tapi melihat lebih jauh dari orang yang bisa membaca buku. Seorang perempuan yang tak pernah pergi sekolah, tapi mengerti bahwa hidup ini, kadang cukup dijalani dengan tabah. Bukan dibanggakan. Bukan dipamerkan. Cukup dijalani. Biasa saja.

Nama itu adalah perjalanan. Kadang kita tak tahu pasti, apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat seseorang, seperti kakek saya, yang dulu bernama Wastam, berubah menjadi Abdul Aziz. Semua itu penuh dengan kisah yang tak tampak. Perjalanan hidup yang dipenuhi oleh keputusan-keputusan besar, oleh tantangan, dan ujian yang datang tanpa diundang. Ini kisah seperti potongan-potongan mozaik yang berserakan.

Kakek saya, Wastam, dulu dikenal tak pernah banyak bicara soal dirinya sendiri. Tapi saya tahu, dalam diamnya itu, tersimpan sejuta cerita yang tak pernah keluar, yang tak pernah diceritakan. Salah satunya adalah perjalanan haji yang mereka tempuh, bersama nenek saya, yang dulu bernama Munirah, kemudian berganti menjadi Azizah.

Kini, nama-nama itu lekat pada mereka. Tapi nama itu bukan sekadar nama. adalah simbol dari perjuangan mereka yang luar biasa.

Dulu, perjalanan haji itu bukan seperti sekarang. Kalau sekarang, kita bisa terbang dalam hitungan jam, ke Tanah Suci, dengan kenyamanan yang cukup. Kakek dan nenek saya harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut, berbulan-bulan. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tegal, kapal itu bergerak perlahan, melewati pelabuhan-pelabuhan besar di sepanjang pantai, menuju lautan luas yang tak tahu kapan akan berhenti.

Tujuh bulan.

Itulah lama perjalanan mereka, dengan bekal seadanya. Mereka bertahan dalam keterbatasan, dalam perjalanan yang tidak mudah. Setiap gelombang yang menghempas, setiap angin yang menderu, itu adalah ujian bagi mereka. Tapi mereka terus maju, tanpa menyerah.
Ibu saya, waktu itu masih bayi, masih menyusu ke nenek saya. Dan karena nenek saya akan berangkat haji, ia harus disapih. Begitu banyak cerita yang terputus karena jarak dan waktu, cerita yang terlupakan oleh dunia, tetapi selalu hidup dalam memori saya.

Cerita ini mengingatkan saya pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan tentang perjalanan hidup, tentang bagaimana orang-orang harus meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu pula perjalanan kakek dan nenek saya. Mereka meninggalkan segalanya, demi sebuah panggilan. Sebuah tujuan yang lebih besar.

Perjalanan haji itu bukan hanya tentang ritual agama. Itu adalah perjalanan hidup yang penuh dengan ketekunan, perjuangan, dan keteguhan hati. Mereka pergi, berlayar melewati samudra Hindia yang luas, memutari Jawa bergerak ke Semarang, Surabaya, Pacitan, Yogyakarta, Cilacap, dan Banten.
Itulah perjalanan mereka. Dari Wastam, ke Abdul Aziz. Dari Munirah, ke Azizah. Perjalanan itu bukan hanya mengubah nama mereka. Itu mengubah hidup mereka.

Kakek saya bukanlah orang yang kaya. Tapi kakek adalah orang yang penuh dengan ketulusan. Seorang petani yang jujur, seorang tukang yang jujur.  Saya berharap Sifat itu turun ke dalam darah kami, tentu warisan itu menjadi warisan yang sangat berharga.

Kakek Abdul Aziz adalah lelaki yang biasa saja. Dulu dia bekerja di lahan milik Nenek Buyut saya, Aisyah. Konon, Aisyah ini adalah seorang wanita kaya, yang memiliki banyak sawah. Kakek saya, dengan ketulusan hatinya, merekomendasikan sawah-sawah yang sebaiknya dibeli. Karena itulah, kekayaan Buyut Aisyah sebagian besar datang dari keputusan-keputusan yang bijak dari kakek saya. Kakek saya bukan hanya seorang pekerja biasa. Ia adalah seorang yang penuh dedikasi, yang jujur dalam setiap langkahnya.

Saat Buyut Aisyah ingin membeli sesuatu, kakek saya lah yang akan menjualkan gabah-gabah yang sangat banyak itu, sebagai bekal untuk membeli sawah. Sebuah transaksi yang penuh kepercayaan dan kejujuran.

Cerita-cerita ini --- duhai anak-anakku, adalah bagian dari hidup saya. Saya dibesarkan dengan cerita-cerita tentang kebaikan para tetuaku dulu. Tentang bagaimana nenek dan kakek saya mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita dapat, tetapi tentang seberapa besar kita memberi kepada orang lain.

Warisan mereka bukan harta, bukan kekayaan yang bisa dihitung dengan uang. Warisan mereka adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang saya ingin teruskan kepada anak-anak saya, generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, saya ingin mereka tahu, bahwa hidup ini lebih berarti ketika kita hidup dengan kejujuran, ketulusan, dan pengabdian yang tulus.

Nama Abdul Aziz dan Azizah bukan sekadar sebutan. Mereka adalah doa. Doa yang mengalir dalam darah kami, doa yang mengingatkan kami untuk selalu menjadi orang yang baik, meskipun dunia sering kali tak mengenal kebaikan itu.

Nenekku buta. Tapi matanya yang tertutup itu tak membuat hatinya gelap. Namanya Azizah, dan kakekku Abdul Aziz. Nama mereka seperti sepasang pujian yang saling menguatkan. Nenek hidup panjang, 83 tahun. Tapi yang membuatnya terasa lebih panjang lagi adalah wirid dan puasanya, doa-doanya, kesabarannya. Beliau kehilangan penglihatan, konon setelah kakekku wafat. Kesedihan itu pelan-pelan mengambil penglihatannya, tapi membuka mata hatinya lebih lebar. Sejak saat itu, hari-harinya hanya dihabiskan di musholla kecil rumah kami. Tempat shalat itu jadi tempatnya mencurahkan rindu. Bukan lewat air mata, tapi lewat doa yang lirih tapi dalam. Nama-nama cucunya seperti disebut satu-satu, termasuk aku.

Aku percaya, apa pun yang kumiliki sekarang—kesehatan, jalan hidup, bahkan keberuntunganku—mungkin adalah hasil dari doa-doa panjang nenekku. Doa yang tak pernah ia minta balasannya, tak juga ia ceritakan. Ia hanya berdoa, lalu diam.

Aku masih ingat kamar mandi rumah kami dulu. Bak mandinya besar, dari semen. Gayung harus ditaruh di pinggir dan diisi air. Jangan dilempar ke tengah. Itu bukan aturan rumah, tapi bentuk cinta. Karena nenekku buta, kalau gayungnya dilempar ke tengah, beliau kesulitan menjangkaunya. Bapakku yang mengajarkan itu. Bapak—yang sebenarnya hanya menantu—memperlakukan nenek seperti ibunya sendiri. Telaten, lembut, dan sabar. Bahkan saat nenek sudah tua dan mulai tak bisa mengendalikan buang air kecil, bapak tetap menjaganya. Ia bersihkan, ia bantu, tanpa sekalipun mengeluh. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku jarang melihat hubungan menantu dan mertua sedekat dan sedamai itu.

Kini, ketika aku dewasa, kebiasaan itu masih ada. Aku masih suka meletakkan gayung di pinggir bak, dan mengisinya dengan air. Kadang istriku protes, takut gayungnya jatuh dan pecah. Tapi aku tak pernah menjelaskan alasannya. Karena setiap kali aku menaruh gayung seperti itu, rasanya seperti sedang menyambung kasih sayang dari masa lalu. Ada cinta yang diturunkan secara diam-diam lewat kebiasaan.

Nenekku tidak pernah melihat wajahku yang dewasa, tapi aku merasa doa-doanya tetap mengawasi langkahku. Kadang aku yakin, bukan hanya aku yang merasakannya. Cucu-cucunya yang lain mungkin juga mengalaminya. Rezeki yang entah datang dari mana, keberkahan yang tak masuk akal, perlindungan yang hadir di saat genting. Mungkin itu bukan hasil usaha kami semata. Mungkin itu tetes-tetes dari sumur doa yang tak pernah kering.

Nenek, perempuan buta yang penuh cahaya, mungkin sudah lama pergi. Tapi wiridnya masih terdengar di hati kami. Dan aku yakin, doa-doanya masih hidup di udara. Karena ada cinta yang tidak butuh mata untuk menjaganya. Cukup hati. Dan hati nenekku tak pernah benar-benar pergi.

Ibuku tak pernah benar-benar tahu seperti apa ayahnya.

Ia hanya mengingat satu malam—entah pukul berapa, entah bulan apa. Yang dia tahu, tubuhnya kecil dan sedang sakit. Dan dalam keadaan menggigil, ia digendong oleh seseorang. Lengan hangat. Dada bidang. Bau peluh dan sabar yang entah kenapa menenangkan.

Itulah satu-satunya kenangan Ibu tentang Bapak kandungnya. Ayahnya wafat saat ia baru berusia dua tahun.

Tapi lucunya, meski nyaris tak pernah mengenal, jejak lelaki itu seperti tak pernah benar-benar hilang.

Orang-orang bercerita bahwa kakekku bertubuh tinggi dan tegap, bermata bulat, dan tangannya terampil memahat dan membangun. Ia bukan arsitek bersertifikat, tapi tukang sejati yang tahu cara menjadikan kayu jadi rumah dan rumah jadi hangat. Seorang seniman yang tak mencetak lukisan, tapi warisan.

Mungkin karena itulah, sepupu kami, Mas Amin, tumbuh jadi ahli seni. Seperti ada sesuatu yang menurun diam-diam dari tangan yang sama—tangan yang tak sempat menuntun anaknya tumbuh besar, tapi masih mampu mengalir ke generasi berikutnya.

Kakekku bukan orang kaya. Tapi justru di situlah letak kebesarannya. Dalam kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Dalam cara hidup yang tidak banyak menuntut. Dalam keteguhan hati yang tidak butuh sorotan. Nilai-nilai itu, katanya, banyak ditiru oleh cucu-cucunya. Entah sadar atau tidak.

Dan aku masih ingat—waktu kecil, aku pernah melihat wajahnya. Lebih tepatnya, bayangannya. Di ruang tamu rumah uwakku, rumah tua peninggalan kakek, tergantung sebuah lukisan besar. Hitam putih. Sorot matanya dalam, wajahnya tegas, tapi ada kelembutan yang samar. Aku sering berdiri diam di depannya, seperti menunggu sosok itu bicara.

Suatu hari, angin kencang datang sore-sore. Jendela terbuka. Lukisan itu jatuh. Kacanya pecah. Kami semua terdiam. Tak ada yang terluka, tapi rasanya ada yang patah. Mungkin itu cuma kebetulan. Tapi buatku, seperti pertanda kecil dari alam: bahwa kenangan bisa jatuh, tapi tak hilang. Bahwa masa lalu tidak bisa disimpan utuh, tapi bisa dikenang dalam potongan.

Dan ada satu kisah lagi, yang tak pernah absen dari cerita keluarga kami: perjalanannya menunaikan haji.

Dulu, orang-orang pergi haji bukan dengan pesawat yang tinggal naik. Mereka naik kapal laut, berbulan-bulan di lautan. Perjalanan panjang. Bekal seadanya. Tapi mereka tetap pergi. Bersama nenekku, kakek menempuh perjalanan spiritual itu dengan sabar. Tak ada foto-foto dokumentasi, hanya cerita yang hidup dari mulut ke mulut. Bahwa mereka pergi bukan untuk dilihat, tapi untuk taat.

Cara beliau pergi haji itu yang paling membekas. Bukan karena kemewahan, tapi karena niat yang penuh. Dan diam-diam, aku berharap... cara beliau menempuh perjalanan itu bisa ditiru oleh cucu-cucunya. Tidak hanya dalam arti berangkat ke Tanah Suci, tapi juga dalam menjalani hidup.

Dengan sabar. Dengan cukup. Dengan hati yang penuh walau tangan sederhana.

Karena mungkin, jejak seorang kakek bukan hanya ada di foto tua, atau lukisan yang jatuh. Tapi ada dalam cara cucu-cucunya bersikap, bermimpi, dan menyederhanakan cinta.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE