#DearDifa
Lama sekali saya tidak menulis #DearDifa untukmu.
Saya akan bercerita lagi.
Usiamu mendekati empat tahun. Hari ini kamu bisa menggambar, mewaranai, dengan bantuan Ibumu. Ah, Nak, Coretan-coretan itu, kamu bagai seniman. Ini tentu saja sebuah proses tumbuh kembang yang wajar di usiamu. Saya tidak ingin muluk-muluk tentangmu. Hanya ingin kita, semua orang, bergembira saja.
Ini tentang warna, Difa, kamu sudah faham betul semua jenis-jenis warna, bahkan pelangi sekalipun yang rumit jumlahnya. Kecuali satu warna yang kamu masih bingung, mungkin kelak saat kau dewasa, kau akan menafsiri sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Satu warna itu, adalah abu-abu.
Suatu hari, saat saya masih muda, saya masih mengajar di Purwokerto. Seperti biasa, senin pagi sebelum subuh, kesibukan menyertai kami, Ibumu menyiapkan bekal sarapan untuk saya bawa. Sementara saya persiapan alakadarnya. Sebelum adzan subuh berkumandang saya tancap motor. Untuk meringkas waktu, saya biasa shalat subuh di mushala pom bensin Bantarbolang yang jaraknya dari rumah kita 45 menit.
Dan pagi itu, sehabis shalat subuh, matahari tidak nampak tanda-tanda wujudnya. Mendung mengawan-awan. Langit gelap. Biasanya, saya akan janjian bertemu dengan kawan saya yang Muhammadiyah di RS Randudongkal (lihat tulisan saya persahabatan NU dan Muhammadiyah). Namun, saat itu, dia sedang ada tugas di luar kota. Terpakasa saya melanjutkan perjalanan seorang diri.
Sampai di Kecamatan Belik, biasanya Gunung Slamet akan menyuguhkan pesonananya. Pagi itu tidak demikian. peteng! Kabut di mana-mana. Saya punya masalah dengan penglihatan. Mata saya minus sejak MTs, dan baru mengenakan kacamata setalah masuk SMA. Intinya, saya punya masalah dengan mata, dan pagi itu, masalah itu, benar-benar memperparah: saya tidak bisa melihat jarak kurang dari satu meter! Yang saya pandang semua abu-abu. Semua kabut. Ini sangat bahaya. Salah sedikit, fatal akibatnya. Medan jalan yang berkelok, penuh turunan dan tanjakan tajam. Kiri kanan jurang.
Jarak perjalanan yang penuh kabut itu kira-kira lebih dari 30 menit, dari Belik ke Purbalingga. Waktu itu, saya sudah pasrahkan semua kepada Allah. Dengan hati-hati, pelan-pelan. Tak lupa melafalkan shalawat.
Tentu suatu saat nanti kau akan bertanya, kenapa 30 menit itu yang menyebalkan, saya terus tetap berjalan? #DearDifaa saya tentu banyak kekurangan dalam hal mengajar, tapi kekurangan itu, saya tidak ingin menambahkan lagi dengan terlambat masuk kelas. Saya bukan sok idealis, tapi begitulah saya. Saya akan tetap dan terus berjalan. Se-menyebalkan apapun keadaan.
#DearDifa. Kabut itu, mengiatkan padaku tentang banyak sesuatu. Salah satunya adalah ini. Presiden ke-2 Indonesia, akan diperingati haulnya. Yang memperingati tidak tanggung-tanggung, sebuah akun media sosial: NU Channel.
Suatu saat, jika kamu membuka wawasanmu, kamu akan mempelajari apa saja. Kamu akan mengintip profil presiden ke-2 Indonesia dari berbagai sudut pandang. Kenapa banyak yang keberatan Khaulnya diperingati. Terlebih oleh warga Nahdliyin sendiri.
Sementara, salah satu pengurus struktural NU menyatakan bahwa, platform 'NU Channel' adalah akun unofficial, dia bukan akun resmi NU. Namun hal yang lain, ini bukan kabar burung: konon 'NU Channel' punya ruangan khusus yang besar di gedung PBNU.
#DearDifa, lagi-lagi saya melantur. Dunia ini abu-abu, tapi kita akan terus tetap berjalan. Banyak hal yang sebenarnya kita tidak tahu. Kalau sudah begini, saya ingat nasihat yang tepat dari K.H Ahmad Dahlan pada anak turunannya, yang bisa kita kontekstualkan ke NU: “Hidup-hidupilah NU, jangan hidup di NU”.