Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

#DearDifaa


Suatu siang di penghujung bulan Juli, langit tidak menampakkan panas, tidak pula hujan. Langit begitu sederhana. Apa adanya. Ibumu sudah menampakkan tanda kesakitan luar biasa. Itu sebagai tanda adikmu akan hadir di dunia.


Kita bergegas, sebenarnya banyak opsi kendaraan yang dipakai kita menuju rumah persalinan, tapi Ibumu memilih diantar dengan motor Supra butut saya. Dan kau Difa, anak gadis berumur empat tahun sudah menampakkan kedewasaanmu, kau berkenan ditinggal bersama tantemu. Saya sangat mengapresiasi itu.


Beberapa jam kemudian, kau menyusul bersama tante. Dan saya tahu, kau belum makan seharian setelah pulang sekolah. Kamu saya tawari makan makanan chiken siap saji – yang dulu saat kau masih kecil suka makan itu. Kau menolak.


Sementara pembukaan kelahiran adikmu sepertinya masih lama. Saya tinggalkan Ibumu sebentar dan mengajakmu makan. Pilihanmu jatuh pada tenda angkringan di bawah pohon beringin. Angin semilir sore itu, kau memesan es teh, memakan lontong dan gorengan. 


#DearDifaa. kamu yang dulu pecinta Chiken siap saji, kini memakan apa yang ayahmu makan: lontong dan gorengan. Bagi saya, ini adalah hal luar biasa. Terimakasih Difa. Ibu dan adikmu sedang berjuang. Dan kamu menunjukkan kedewasaan.


31 Juli tepat berkumandang adan Isya, hadir adikmu di dunia, membersamaimu tumbuh bersama. sehat senantiasa. Rukun agawe sentosa. Bersama: Hilwa Naina Zahida.

 #DearDifaa


Saya bapakmu, lelaki yang biasa saja. Saya biasa berkongsi dengan Ibumu pekerjaan rumah. Bila ibumu memasak, saya yang bertugas mencuci piring. Jika Ibumu mencuci piring, saya yang mencuci baju. Dan seterusnya. Itu biasa bagi saya. Karena saya ini lelaki yang biasa saja. Dan tugas-tugas yang konon kata kebanyakan orang terlihat feminim semua bisa saya lakukan. Karena bapak saya dulu begitu, karena lelaki asal Jombang yang ku sebut sebagai guru juga melakukan seperti itu. 



Tulisan ini bukan tentang hari perempuan. Mungkin lebih dari itu. Saya ingin membawamu ke perspektif lain, agar kamu bangga menjadi seorang perempuan. Bapakmu akan bahagia.



Suatu ketika, kelak, kau akan mendengar, Kisah nabi laki-laki dijadikan dalih untuk memberikan stereotip kepada perempuan bahwa mereka makhluk lemah, tidak mendapat kepercayaan atau mandat dari Tuhan. Mungkin ini salah satu argumen para Patriarkal dengan mudah memperlakukan istri dan perempuan secara semena-mena.



Rasyid Ridha dalam bukunya Wahyu Ilahi Kepada Muhammad, menerangkan kata 'nabi' secara bahasa. Nabi berasal dari kata Nubuwwah, yaitu Ar-Rif’ah. Asy-Syaraf, yang berarti keagungan, kemuliaan. Dalam bahasa Ibrani kuno, diartikan sebagai : “Yang berbicara tentang perkara keagamaan dengan suara keras”. Sedangkan secara umum kita menerima pemahaman bahwa nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah.



Kalau kita telisik, ada loh perempuan yang langsung dihibur oleh Allah. Perempuan yang saat itu ketakutan kepada rezim yang kejam. Allah sendiri yang langsung menghiburnya. Perempuan itu adalah Ibu nabi Musa (selangkapnya lihat Alqur'an Surat Alqashash ayat 7). Ini menunjukan kedudukan perempuan itu tinggi sehingga Allah sendiri bahkan yang bercakap-cakap secara langsung layaknya bercakap kepada para kekasihNya.



Amina Wadud Muhsin, secara lebih tajam dalam bukunya berjudul “Wanita di dalam Al-qur’an”, memberikan deskripsi tokoh-tokoh perempuan yang dipercaya Tuhan sebagai nabi. Mereka adalah Ibu Musa, Maryam, Balqis, dan Ratu Sheba. Maryam sendiri di kalangan kaum sufi memiliki kedudukan tertinggi karena kedekatannya dengan Tuhan dalam ketaatan dan melahirkan nabi Isa.


Wadud menulis:


“Alquran menyatakan, Ibu Musa telah menerima wahyu, jadi memperlihatkan bahwa wanita, seperti juga kaum pria bisa saja menerima wahyu. Kasus Ibu Musa memperlihatkan bahwa wanita memang berbeda dalam sejumlah aspek, namun di sisi lain wanita juga bisa universal terhadap masalah tertentu.”


Tahun 1959, awal-awal Indonesia merdeka, Indonesia memiliki duta besar perempuan yang pertama, dilantik Presiden Soekarno menjadi Dubes di Belgia, namanya Leili Roesad. Perempuan Muslim berbaju kebaya. 



Pelantikannya sebagai duta besar pada tahun itu menjadi berita besar di Belgia. Dan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Arab Saudi dan Malaysia diperbincangkan, seolah-olah, “mengapa Soekarno mengangkat perempuan jadi duta besar?".



Era itu, posisi politik perempuan tidak begitu ramah, apalagi di negara-negara Muslim. Soekarno memperkenalkan Leili Rusad. Masyarakat Indonesia mendukung keputusan Soekarno. Tidak ada yang marah. Ia dilantik. Perjalanan sejarah mengalir. Indonesia sejak awal berdirinya sudah maju. Pemahaman masyarakat tentang keislaman sudah hebat. Semoga tetap demikian adanya. 



#DearDifaa. 


Kamu tahu elep, kan? Iya, bus kecil satu pintu yang beroperasi dalam kota atau antar kota sebelah. Saya sedang keranjingan naik ini. Saya bisa mendapatkan apa saja yang tidak bisa saya dapatkan dengan naik kendaraan pribadi. 


Di elep, saya bisa bertemu dengan banyak juragan. Dari juragan tahu, juragan ikan asin, sampai pengamen biasa, atau Ibu Jamu gendong, tidak ketinggalan juga buruh-buruh pabrik. Obrolan mereka terkadang melebihi dawuhnya Socrates – mengandung filosofis yang dalam.


Terkadang juga, mereka lebih religius dari ustadz-ustadz selebriti TV. Seperti siang Jumat kala itu, ketika elep benar-benar sepi. Hanya mengangkut saya seorang, Alhamdulillah di tengah jalan, ada Ibu naik yang tergopoh dengan barang dagangannya. Dia penjual lauk keliling.

Sang Supir elep bertanya,

“Jumat-jumat kaya kie rame, Yu?”. 

“Ya embuh, Um. Arane beh ikhtiar”. 

 “Muga-muga tah rame yah, Yu”. Tukas Supir sambil senyum tulus.

Aku 'mbak deg'. Padahal supir ini rejekinya sedang seret. Elepnya kosong melompong. Dia tetap harus setoran. Tapi semua itu, tidak membuat dia terhalang untuk mendoakan rejeki orang.


Elep bagi saya adalah, tempat di mana manusia bisa bertegur sapa, tanpa harus saling mengenal sebelumnya. Di dalam elep, segala topik pembicaraan bebas untuk dilontarkan. Ekonomi adalah topik yang paling trendi. Politik, kesehatan, isu sosial, kebanjiran, semua bidang mereka bak ahli. 


Saya baru berani pertama naik elep sendirian waktu SMP kelas satu. Awal tahun milenium. Kalau kita amati secara sederhana, banyak perubahan signifikan terhadap elep di kota kecilku. Menururunnya jumlah penumpang, salah satunya.


Fenomena ini cukup klise. Di saat pemerintah mempermudah ijin regulasi penjualan kendaaraan bermotor, masyarakat banyak beralih naik kendaraan pribadi. Disisi lain, pemerintah mengkampanyekan naik bus umum sabagai solusi mecetnya jalananan. 


Namun, jika kita amati, di elep yang setiap hari saya naiki, jarang sekali saya temukan supir (juragan bus elep) menggunakan jasa kenek. Artinya, SDM di kota kecilku yang dari tahun ke tahun semakin membludak ini, tidak mungkin lagi bekerja sebagai kenek bus elep. Hilanglah satu jenis profesi di dunia ini. Hai apakabar Om Kenek yang dulu menemani saya berangkat sekolah? Sekarang bekerja sebagai apa.


Di dunia ini apa yang tidak paradoks. Tidak setiap di elep, bisa saya temukan semua kebaikan. Ada juga yang menyebaikan bisa saya temukan di jam-jam tertentu. Juga kejelakan: Supir yang egois. Suka kebut-kebutan. Tukang palak berkedok calo. Copet yang semakin canggih. Dan, dan, dan lain-lain.


Tapi semua paradoks itu, harus saya terima, saya syukuri, dan saya ikhlasi, bukan? Aihhh kata-kata saya sudah seperti Socrates belum? 




#DearDifa


Lama sekali saya tidak menulis #DearDifa untukmu. 


Saya akan bercerita lagi.


Usiamu mendekati empat tahun. Hari ini kamu bisa menggambar, mewaranai, dengan bantuan Ibumu. Ah, Nak, Coretan-coretan itu, kamu bagai seniman. Ini tentu saja sebuah proses tumbuh kembang yang wajar di usiamu. Saya tidak ingin muluk-muluk tentangmu. Hanya ingin kita, semua orang, bergembira saja. 



Ini tentang warna, Difa, kamu sudah faham betul semua jenis-jenis warna, bahkan pelangi sekalipun yang rumit jumlahnya. Kecuali satu warna yang kamu masih bingung, mungkin kelak saat kau dewasa, kau akan menafsiri sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Satu warna itu, adalah abu-abu.



Suatu hari, saat saya masih muda, saya masih mengajar di Purwokerto. Seperti biasa, senin pagi sebelum subuh, kesibukan menyertai kami, Ibumu menyiapkan bekal sarapan untuk saya bawa. Sementara saya persiapan alakadarnya. Sebelum adzan subuh berkumandang saya tancap motor. Untuk meringkas waktu, saya biasa shalat subuh di mushala pom bensin Bantarbolang yang jaraknya dari rumah kita 45 menit.



Dan pagi itu, sehabis shalat subuh, matahari tidak nampak tanda-tanda wujudnya. Mendung mengawan-awan. Langit gelap. Biasanya, saya akan janjian bertemu dengan kawan saya yang Muhammadiyah di RS Randudongkal (lihat tulisan saya persahabatan NU dan Muhammadiyah). Namun, saat itu, dia sedang ada tugas di luar kota. Terpakasa saya melanjutkan perjalanan seorang diri.



Sampai di Kecamatan Belik, biasanya Gunung Slamet akan menyuguhkan pesonananya. Pagi itu tidak demikian. peteng! Kabut di mana-mana. Saya punya masalah dengan penglihatan. Mata saya minus sejak MTs, dan baru mengenakan kacamata setalah masuk SMA. Intinya, saya punya masalah dengan mata, dan pagi itu, masalah itu, benar-benar memperparah: saya tidak bisa melihat jarak kurang dari satu meter! Yang saya pandang semua abu-abu. Semua kabut. Ini sangat bahaya. Salah sedikit, fatal akibatnya. Medan jalan yang berkelok, penuh turunan dan tanjakan tajam. Kiri kanan jurang.



Jarak perjalanan yang penuh kabut itu kira-kira lebih dari 30 menit, dari Belik ke Purbalingga. Waktu itu, saya sudah pasrahkan semua kepada Allah. Dengan hati-hati, pelan-pelan. Tak lupa melafalkan shalawat. 



Tentu suatu saat nanti kau akan bertanya, kenapa 30 menit itu yang menyebalkan, saya terus tetap berjalan? #DearDifaa saya tentu banyak kekurangan dalam hal mengajar, tapi kekurangan itu, saya tidak ingin menambahkan lagi dengan terlambat masuk kelas. Saya bukan sok idealis, tapi begitulah saya. Saya akan tetap dan terus berjalan. Se-menyebalkan apapun keadaan.



#DearDifa. Kabut itu, mengiatkan padaku tentang banyak sesuatu. Salah satunya adalah ini. Presiden ke-2 Indonesia, akan diperingati haulnya. Yang memperingati tidak tanggung-tanggung, sebuah akun media sosial: NU Channel.


Suatu saat, jika kamu membuka wawasanmu, kamu akan mempelajari apa saja. Kamu akan mengintip profil presiden ke-2 Indonesia dari berbagai sudut pandang. Kenapa banyak yang keberatan Khaulnya diperingati. Terlebih oleh warga Nahdliyin sendiri. 



Sementara, salah satu pengurus struktural NU menyatakan bahwa, platform 'NU Channel' adalah akun unofficial, dia bukan akun resmi NU. Namun hal yang lain, ini bukan kabar burung: konon 'NU Channel' punya ruangan khusus yang besar di gedung PBNU.



#DearDifa, lagi-lagi saya melantur. Dunia ini abu-abu, tapi kita akan terus tetap berjalan. Banyak hal yang sebenarnya kita tidak tahu. Kalau sudah begini, saya ingat nasihat yang tepat dari K.H Ahmad Dahlan pada anak turunannya, yang bisa kita kontekstualkan ke NU: “Hidup-hidupilah NU, jangan hidup di NU”.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE