Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Menu Blog

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

#DearDifaa

Sejujurnya saya malas menulis ini. Selain saya bukan seorang 'alim dalam agama, juga saya takut jika tulisan ini salah dipahami. Tapi apapun itu, saya tetap harus tuliskan ini untukmu. Untuk masa depan jamanmu.
.
.
Tahun baru 2020 akan segera tiba. Dan Bapakmu masih seperti ini saja. Kakekmu dulu tidak pernah mengajarkan resolusi kepada saya. Resolusi itu milik kaum priyayi. Dan kita golongan orang awam pinggir kali.
.
.
Sudah menjadi rutinitas tahunan di negeri kita. Setelah perdebatan Natal, akan muncul perdebatan lainnya. Sebentar lagi, akan ada pesan berantai, larangan untuk merayakan tahun baru dengan meniup terompet, komplit dengan dalilnya. Mereka—si penyebar pesan–, melakukan tafsir secara tekstuaal.
.
.
Tapi benarkah kita, jika meniup terompet akan auto memeluk agama Yahudi? #DearDifaa. Ada kisah yang sebaiknya harus kamu simak. Tokoh dalam kisah ini adalah seorang sastrawan. Dia mengkonfirmasi permintaan saya dalam pertemanan di Fesbuk. Maka kami berteman. Dan saya mengikuti berbagai hal yang dia bagi di akun fesbuknya. Privasi postingannya hanya bisa dibaca oleh daftar teman saja.
.
.
Darah dalam tubuhnya masih mengalir gen Nabi Muhammad. Dia Sayyid. Orang sekarang menggeneralisir dengan menyebut Habib. Namun, selayaknya sastrawan atau seniman, jalan pikirnya nyeleneh. Sepanjang saya ikuti, dia telah banyak pindah agama. Menjadi Budis, Hindu, Katolik, dan lain sebagainya.
.
.
Dia suka travelling ke luar negeri. Suatu ketika saat musim dingin tiba, dia ada agenda di Eropa [saya lupa nama negaranya]. Saat malam hari, dia harus pindah ke kota lain, namun sayang, dia tertinggal kereta. Waktu itu salju turun tebal. Dia gontai berjalan sendirian. Saat itulah dia melihat Sinagog tua [tempat ibadah umat Yahudi].
.
.
Di depan pintu besar Sinagog dia mengucapkan salam. Namun tidak ada yang membuka. Setelah sekian lama, dan dia juga mengeraskan suara. Pintu dibuka oleh seorang pria tua.
“Permisi, Pak. Saya melihat Sinagog ini, seolah memanggil saya untuk ke sini, dan Yahweh akan menolong saya di malam yang dingin ini”.
“Anda berasal dari Israel?”.
Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
“Kalau begitu, pergilah, agama ini hanya untuk anak turun Musa”.
“Tapi pak, saya masih ada ikatan darah dengan Musa, bertemu di kakek kami, Ibrahim”.
.
.
Tokoh kita memang diperbolehkan masuk ke dalam Sinagog. Tapi tidak boleh memeluk Yahudi. Agama Yahudi itu tidak pernah membuka lowongan pemeluk agama baru. Tapi jika kita meniup terompet –kata Sobat Gurun– kita auto Yahudi. Kadang saya bingung dengan logika macam ini. Mereka mendorong-dorong orang untuk menjadi Yahudi. Sementara Yahudi tidak open rekruitment sama sekali.
.
.
#DearDifa. Point catatan ini bukan halal atau haramnya meniup terompet, saya bukan kiai. Terompet memang konon budaya kaum kapitalis. Orang-orang hedonis akan menghamburkan uang saat pergantian malam, di tahun baru. Tapi ada pria penjual terompet di pinggir jalan, yang meningalkan anaknya yang masih kecil. Anak itu seperti kamu. Saya akan membelikanmu terompet itu. Kita memang bukan orang kaya, tapi masih banyak orang yang di bawah kita.
#Dear Difa
Saya menemukan gambar ini di Sosmed. Kurang lebih maknanya begini: 
Petugas kebersihan di Teheran, Iran memberitahu puterinya: "Puteriku, jangan kau beritahu kepada seorangpun tentang ayahmu yang bekerja menjadi petugas kebersihan kota, nanti semua orang membulymu. Kemudian ia pergi mencari sang ayah. Lalu ia memotret momen ini bersama ayahnya, dan ia tulis, "Inilah ayahku. Dan aku bangga padanya".
.
.
#DearDifa, Suatu saat jika kamu malu memiliki bapak pendosa. Saya tidak apa-apa.

#DearDifaa

Saat duduk santai bersama, melepas lelah, teman kerja saya yang usianya jauh dari saya membuka obrolan.
"Orang tua masih komplit?".
"Tinggal Ibu". Jawab saya
"Orang tua saya sudah tidak ada semua".
Dia bercerita, bagaimana dulu saat kecil hidup begitu bahagia, kedua orang tua masih ada semua. Kini sudah tidak ada.
.
.
Dulu, semua tetangga kanan kiri rumah masih ada, Uwak (budhe-pakdhe) masih komplit. Kini satupun sudah tak ada. Hidup seolah begitu cepat. Dia berkisah, Bapaknya meninggal ketika usianya 17 tahun. 0-10 tahun dia menyadari perilakunya belum ndolor. 10-17 tahun itulah masa dimana dia mengenal Bapaknya. Fase dimana dia ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Jadi, dia belajar mengenal bapaknya dalam kurun waktu 7 tahun. Waktu yang begitu cepat untuk dilalui.
.
.
Kini jumlah anaknya 3. Dia bercerita. Saat dia berkendara, dia selalu berdoa sepanjang jalan. Agar selalu dilimpahi keselamatan.
.
.
Akhir-akhir ini, WAG (WA Gropup) team kerja kami selalu ada saja yang membagikan berita duka. Setidaknya seminggu sekali. Rentetan nestapa itu selalu menghiasi percakapan kami. Maka, ketika teman saya tadi mengajak merenung. Sudah siapkah bekal kita. Sedang kualitas ibadah masih seperti itu saja.
.
.
26 Desember 15 tahun yang lalu, ribuan nyawa melayang di Aceh. Kejadian Tsunami itu menegaskan kan bahwa manusia itu tidak punya kekuatan atau kuasa. Digebyur air ajur. Ditiup angin kawur. Dibakar geseng.
.
.
Sore tadi, setelah kemarin saya berbincang dengan rekan kerja tentang kematian. Dibawah rintik-rintik hujan, saya membuka WhatsApp. Komandan saya membagikan berita salah satu teman saya sudah tiada. Begitu cepatnya. H. Akhmad Salimi Bin Tasori.. Alfatihah...
#DearDifa

Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".


Guci, 27 Desember 2019.

#DearDifa
Kisah ini saya dapatkan dari teman MTs (SMP). Dia bekerja di Kedubes Aljazair. Sore itu dia kedatangan tamu. Seorang Alim. Beliau adalah pengasuh sebuah zawiyah [pesantren] di salah satu provinsi di Aljazair yang berjarak sekitar lima jam dari ibukota.
.
.
Kedatangan beliau ke kantornya memang sebuah agenda. Kebetulan pimpinan menyampaikan ingin bertemu beliau dan kebetulan hari itu juga beliau di ibukota sedang mengantarkan keluarganya yang akan pulang liburan ke negara asal.
.
.
Kedatangan beliau ke kantor, selain membicarakan program kerjasama,  beliau juga diamanahi untuk mengelola zawiyah oleh abahnya. Tahun  2018 zawiyah beliau telah memberikan beasiswa untuk 53 santri asal Indonesia. dan ditahun 2019 memberikan beasiswa lagi untuk 37 santri Indonesia yang menghafal Alquran di zawiyah beliau. Di kantor itulah mereka berbagi tentang banyak hal.
.
.
Di antara hal yang beliau bagi ke teman saya adalah tentang metode parenting  anak. Beliau menceritakan anak salah seorang kawan beliau yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk cinta kepada nabi.
.
.
Alkisah, beliau mempunyai kawan yang anaknya setiap diucapkan nama kanjeng nabi Muhammad Saw. selalu memegang dadanya seolah-olah nama Muhammad menghujam di hatinya. Si anak merasakan kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam kepada nabi.
.
.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada temannya yang merupakan ayah dari anak tersebut, apakah sang anak pura-pura atau memang kenyataan demikian. sang ayah menjawab, bahwa hal tersebut adalah benar adanya. Sang ayah mulai cerita. Sejak kecil, sang anak telah dididik untuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap kali anak tersebut berbuat baik, malam harinya sang ayah akan memberikan parfum ke tangan dan wajahnya ketika dia tidur. Serta memberikan hadiah di samping tempat tidurnya. Saat sang anak terbangun, dia akan mencium aroma wangi dari parfum tersebut dan menemukan hadiah di samping tempat tidurnya. Sang anak bertanya kepada sang ayah, dari mana asal parfum dan hadiah tersebut. Sang ayah menjawab, bahwa semalam Nabi Muhammad datang kepadanya dan memberikan hadiah karena hari itu sang anak telah berbuat baik.
.
.
Suatu hari ketika, sang anak berbuat nakal, malam harinya sang ayah tidak memberikan parfum dan hadiah. Esok paginya sang ayah mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin datang pada malam itu karena pada siang harinya sang anak berbuat nakal.
.
.
Kegiatan ini terus dilakukan hingga sang anak mulai dewasa dan mampu berpikir. Namun, hal ini telah menjadi pelajaran berharga bagi sang anak untuk membiasakan berbuat baik sejak kecil.
.
.
Ketika sang ayah ditanya, darimana dapat ide untuk melakukan hal tersebut memberikan hadiah secara diam-diam ketika anak tidur jika pada hari itu sang anak berbuat baik dan menisbatkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad—
.
.
Sang ayah menjawab, ide tersebut dia dapatkan dari temannya yang beragama Kristen yang anaknya sangat fanatik dengan sosok Baba Noel (Santa Claus) yang suka memberikan hadiah kepada anak-anak yang baik di malam natal.
.
.
Cerita tentang Baba Noel (Santa Claus) dia modifikasi dan dia ganti tokoh Santa dengan sang Nabi.
.
.
Di negara kita, mengucapkan tahniah, selamat natal menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan setiap tahunnya. Di Aljazair, teman sang alim mampu mengambil hikmah dari hal yang diperdebatkan sekalipun. Melampaui semua itu. Seribu langkah lebih maju. bukan terlarut dalam perdebatan.
#DearDifaa
Sebelum ini, Bikini Bottom belum pernah merayakan natal. Setelah Sandy si tupai yang hijrah dari Texas merayakannya. Rumah Sandy yang kedap air dihias dengan ornamen pohon dan lampu natal, Spongsbob yang melihat merasa aneh. Kemudian Sandy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah hari raya besar, semua makhluk dan alam raya bergembira. Penuh suka cita. Natal.
.
.
Suatu hal yang kental dengan nuansa natal, adalah kedatangan Santa yang memberi hadiah kepada anak-anak yang baik dan saleh. Sandy juga menjelaskan itu kepada Spongsbob. Kita semua tahu, Spongsbob itu sangat lugu. Dan ia langsung percaya begitu saja.
.
.
Sepulang dari rumah Sandy, Spongsbob menyebarkan kisah natal dan Santa dengan hadiahnya ke seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua wargapun percaya dengan kisah Spongsbob. Mereka menghiasi rumah-rumah mereka dengan ornamen khas natal. Semua warga Bikini Bottom berbahagia menyambut natal, kecuali Squidward. Dia sama sekali tidak percaya apa itu Santa dan hadiah-hadiahnya. Dia golongan kafir. Atau mungkin agnostik.
.
.
Saat semua warga berkumpul di malam dingin penuh salju untuk menyambut kedatangan Santa. Squidward tertawa menghina. Dia berkata, bahwa Santa itu hanya dongeng belaka. Namun, warga masih yakin dengan cerita yang dibawa Spongsbob, mereka bernyanyi-nyanyi khas gereja.
.
.
Sampai larut malam, mereka terus bernyanyi dan berharap. Namun Santa tak kunjung tiba. Sampai pagi masih ada yang nyanyi, hingga tenggorokan mereka kering. Dan bibir mereka ndower. Mereka akhirnya bubar. Mereka kecewa dengan cerita Spongsbob. Spongsbob pembohong besar.
.
.
Mata Spongsbob sembab setelah menangisi nasibnya, ternyata Santa itu memang benar tidak nyata. Saat down itu lah Squidward mendatangi Spongsbob dengan nanar mata menghina serta mulut tertawa. Spongsbob yang sedang bersedih, memberikan sebungkus kado untuk Squidward. Mulanya, Squidward tidak bergeming, itu hanya kado biasa. Mungkin saja bekas celana dalamnya. Setelah dibuka, ternyata isi kado tersebut adalah Klarinet, alat musik kesukaan Squidward. Klarinet itu terbuat dari jenis kayu yang sudah hampir punah. Bahkan di sisi tengah Klarinet itu terukir nama "Squidward".
.
.
Squidward tentu saja sangat gembira. Namun ia tidak bisa melihat pria kecil malang yang menjadi tetangganya itu terus bersedih. Akhirnya Squidward memutuskan untuk menyamar menjadi Santa. Dalam rangka membuat Spongsbob bahagia.
.
.
Squidward lengkap dengan jenggot putih tebal dan topi merah putih serta kostum Santa siap membuat Spongsbob gembira. Spongsbob yang mengira bahwa itu adalah Santa beneran mulanya menggandeng anak kecil untuk meminta hadiah ke Santa. Squidward si Santa palsu itu bingung, dia tidak punya kado apa-apa. Dia masuk kedalam rumahnya. Menimbang apakah ada barang yang pas untuk hadiah anak kecil. Dia menemukan sisir rambut. Dia hadiahi anak itu. Anak tersebut menerima dan pulang dengan gembira. Tentu saja Spongsbob juga sangat bahagia. Ia berterimakasih pada Santa yang telah membawa natal ke Bikini Bottom.
.
.
Ternyata tidak sampai di sana. Warga yang semalam berkumpul dan menyanyi ternyata kini sudah antri. Mereka juga menginkan hadiah juga dari Santa. Maka seluruh perabotan rumah Squidward ludes dibagi-bagi sebagai hadiah. Sofa, meja, kursi, piano, dan lain-lain tidak tersisa sama sekali. Squidward marah kepada dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia. Hanya karena Spongsbob dia melakukan hal yang paling bodoh.
.
.
Saat marah-marah itulah, seseorang mengetok pintu rumah Squidward. Dia berkata dengan nada marah, "Silahkan bawa pintu itu, hanya itu yang tersisa". Namun setelah dibuka. Ternyata itu adalah Santa asli. Seorang pak tua dengan Rusa terbangnya, "Terimakasih Squidward, telah membawa natal ke Bikini Bottom". Squidward yang agnostik, kini ia benar-benar beriman.
****

Selamat natal untuk teman-temanku yang merayakannya. Damai selalu.
#DearDifaa
Jika ditanya kepada saya, apa yang paling menyenangkan di dunia ini? Akan aku jawab. Menikmati, menemani tiap fase tumbuh kembangmu, adalah hal yang paling membahagiakan. Sangat menyenangkan.
.
.
Barangkali, saya adalah lelaki pertama yang mencintaimu di dunia ini. Setelah nanti, suatu saat ada lelaki lain yang akan merasa paling mencintaimu ketimbang saya. Saya masih ingat, bagaimana dulu kamu belajar merangkak, berlatih berjalan. Kemudian Ibumu membelikan sandal dan sepatu yang berbunyi "cit" ketika diinjak. Jika melihatmu hari ini, yang sudah besar, mampu bercerita, merajuk, mengambek, dan tertawa adalah suatu keajaiban bagi saya. Karena saya melihatmu dulu, menggendongmu yang masih bayi berwarna merah baru lahir. Dan sekarang tiba-tiba sudah besar. Luar biasa.
.
.
Difa, bagi saya, parenting adalah pekerjaan yang paling luas cakupannya di dunia. dan besar pula peluang gagalnya. Maka dari itu, saya dan Ibumu tidak benar-benar mengadopsi sepenuhnya pelajaran parenting yang kami dapatkan dari orang tua kami. Ada yang kami terapkan, ada juga yang kami buang, karena tidak sesuai kondisi jamanmu. Bukan berarti kami sok-sokan menganggap orang tua kami telah gagal dalam mendidik, justru kami sangat bersyukur bisa mendapatkan pendidikan oleh nenek dan kekek dari Ibu dan Bapakmu.
.
.
Barangkali saya terlalu memanjakanmu. Memperbolehkanmu menonton Upin Ipin selepas shalat magrib. Juga memberimu menonton Youtube Kids saat kamu merengek, kemudian Ibumu agak keras memberi batasan waktu. Sejujurnya, saya sedang menerapkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib dawuhkan: perlakukan anakmu 0-7 tahun seperti raja.
.
.
Ketahuilah, Nak. Selagi itu tidak membahayakan keselamatanmu. Tidak mengganggu kesehatanmu. Tidak berbenturan dengan norma. Dan semua itu membahagiakanmu, saya akan mengatakan "iya" untukmu. Akan tetapi sambung Imam Ali: Perlakukan anakmu 7-20 tahun seperti tawanan perang.
.
.
Mungkin saya akan keras di usiamu pada fase itu. Jika saya tidak tega, mungkin Ibumu lebih keras dari saya. Imam Ali melanjutkan: Perlakukan anakmu di atas 20 tahun seperti teman. Semoga, jika umur saya panjang, saya akan menjadi teman diskusimu yang insya Allah asik.
.
.
Selain parenting, ada yang lebih penting. Yaitu belajar bersamamu. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi orang baik. Bapakmu yang malas ke mushola, tiba-tiba harus shalat berjamaah di sana. Itu semua karena rengekanmu. Saya kadang merasa terenyuh, di usiamu yang belum genap 3 tahun mampu menyanyikan Asma Alhusna, meskipun belum lengkap 99 nama. Juga kadang merasa bangga, saat kamu melafalkan bismillah dan melalarkan doa-doa. Juga kamu menyanyi-nyanyi lagu bahasa Inggris yang saya tidak mengerti.
.
.
Meskipun saya harus sadar, kebanggaan itu sebenarnya milik Allah, kamu tidak perlu berlomba-lomba dengan sesama manusia. Kamu tidak perlu mengalahkan siapa-siapa untuk terlihat hebat luar biasa.
.
.
Ada hal lucu yang perlu dicatat agar selalu ingat. Saya sering mengapresiasimu karena tindakanmu, dengan mengacungkan jempol dan berkata: "mantap jiwa". Suatu sore yang hujan, kamu berkata pada Ibumu, "Mama, mantap jiwane yaya". "Mama, mantap jiwanya sakit". Sambil menunjukan jempolmu yang lecet terkena mainan. Ahhh Nadifaa...
#DearDifaa
Sejarah itu tidak selalu penuh heroisme dan menyenangkan. Ada juga sejarah yang menceritakan kekelaman. Tapi bukan kekelaman, point dalam catatan ini. Kisah ini mungkin akan ada padanannya nanti di jamanmu. Ini kisahnya: Pernah suatu ketika, saat muktamar organisasi ormas Islam terbesar Indonesia, Nahdhatul Ulama, di Jombang tahun 2015. Dalam pemilihan ketua umumnya penuh intrik dan trik serta kental atmosfir politik.
.
.
Tentu saja, saya tidak bisa bercerita terus terang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sejarah terus berulang. Tokohnya saja yang berbeda. Saat itu, Kiai yang saya hormati dan panuti, KH. Mustofa Bisri, yang sering disebut Gus Mus, mengasingkan diri. Beliau pergi dari perhelatan Muktamar yang penuh hingar bingar. Beliau salah satu tokoh sentral, yang ngendikanya menjadi pertimbangan.
.
.
Dalam suatu kesempatan, Cak Nun, sahabatnya Gus Mus, mengomentari, kurang lebih begini: Gus Mus itu orang baik. Allah tidak tega kepada Gus Mus. Beliau diberi Allah meripatnya ditutupi untuk melihat hal-hal yang tidak baik. Terutama dalam Muktamar itu.
.
.
Kita bukan kelas Ulama, bukan pula  Brahmana, bukan juga satria. Kita hanya kelas proletar. Kita tidak bisa mengklaim, bahwa kita orang baik. Namun tidak ada salahnya kita mencoba menjadi pribadi baik. Berupaya, berusaha, berproses menjadi orang baik. Sering saya mengingatkan kepada diri saya sendiri. Yang paling berat saat ini bukan rindu, tapi idealisme.
.
.
Pekerjaan kedepan ternyata jauh lebih berat. Tapi pekerjaan dulu juga ada hikam, selain saling mengenal dengan banyak kawan. Saya pernah menjadi guru honorer, gaji 400 ribu, saat kamu masih bayi. Gaji segitu pada jaman itu, cukup untuk mengebul dapur rumah kita. Saya pernah meninggalkanmu yang terlelap, di senin subuh yang dingin. Menembus kabut gunung Slamet. Mengajar di kampus negeri dengan honor pas-pasan untuk transport. Juga pernah menjadi penerjemah abal-abal di sebuah media bahasa Arab, yang honornya tidak seberapa, namun dimanajemen sedemikian rupa oleh Ibumu untuk membelikanmu sepeda roda tiga.
.
.
Saya pernah menjadi aktivis. Teman-teman diluar organisasi, menilai organisasi saya borjuis. Tapi saat mendengarkan lagu film sound track Soe Hok Gie yang dinyanyikan bang Duta, saya merasa sebagai aktivis sosialis. Begitulah kehidupan, penuh kebisingan.
.
.
Jika kata Cak Nun, Allah itu ndak tega kepada Gus Mus untuk memperlihatkan keburukan. Saat ini, saya tidak benar-benar mengerti. Allah sedang dalam rangka apa kepada saya memperlihatkan semua ini. Tahun lalu, saya mengajukan proposal kepada Allah melalui catatan: Proposal kepada Allah. Tahun itu memang belum dikun oleh Allah. Tapi sebagai makhluk, kita senantiasa untuk husnuzon kepada Allah. Barangkali Allah menyiapkan yang lebih istimewa, sesuatu yang lebih besar, juga menantang. Semoga tahun ini diacc. Cukup sudah saya melihat neraka yang seolah tampak surga. Menggiurkan. Namun mematikan.


Kota Tegal, 24 Desember 2019.
Ingatanku kategori ingatan pendek. Untuk mensiasati hal ini kadang aku menulis catatan-catatan acara penting dalam memo handphone. Selain ingatan yang pendek, keburukanku adalah berubah pikiran: pagi tempe, sore  kedelai. Teman dekatku paham betul akan ini.
.
.
Tapi semua aku syukuri dan nikmati. Karena ada seorang teman yang lebih parah dari ingatan pendekku. Dan seorang teman yang lain ada yang lebih parah plin-plan dariku.
.
.
Catatan ini dalam rangka untuk mengingat. Aku pernah mendaftar, berjuang, dan mendambakan sebagai seorang CPNS. Jika suatu saat nanti aku mengolok-olok profesi PNS ini, aku harus tilik catatan ini. Bahwa sejujurnya aku pernah diam-diam menginkannya.
.
.
Dulu, saat-saat idealisme dijunjung tinggi. Aku sok-sokan tidak butuh duit. Pada kenyataannya, ketika kebutuhan sebagai seorang bapak mendesak, apapun aku lakukan. Pun dengan CPNS ini. Tahun 2018 adalah tahun-tahun yang melelahkan. Ketika aku dulu lolos administrasi dan mengerjakan soal, kemudian gagal. Tahun 2018 ini juga merupakan catatan panjang. Sekitar 10 daftar pertemananku banyak yang lolos CPNS. Sebuah angka yang luar biasa bagiku.
.
.
Aku pikir, menjadi seorang non CPNS itu harus kreatif. Tidak perlu menjilat untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak usah menggonggong untuk menjadi perhatian. Hidup tidak seasu itu. Kemampuanku hanya sebatas itu. Dan semua harus aku syukuri, jalani, dan nikmati. Kadang aku menasihati diri, membesarkan hatiku sendiri. Bahwa, di manapun aku berada. Aku harus anfa'ahum linnas.
.
.
Catatan ini juga, menjadi pengingat. Bahwa ketika kelak suatu saat nanti aku menolak paham 'Dunia Tanpa Kompetisi', tanpa lomba. Catatan ini menjadi tesis dan mungkin antitesis: Aku pernah berlomba dan kalah.
.
.
Akhirnya dengan berbesar hati, aku ucapkan selamat untuk teman-temanku yang lolos. Kalian luar biasa.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Barangkali ini hanya hayalan dan dongeng belaka. Tapi bukan itu poin penting dalam tulisan saya. Levitasi adalah terbang. Manusia bisa terbang. Terbang dengan sesungguhnya, tanpa bantuan alat atau pesawat. Bagaimana mungkin? Saya tidak dalam rangka mendoktrinmu harus percaya ini dan itu. Kebenaran kelak akan kau temukan sendiri.
.
.
Konon bangsa Nusantara, nenek moyangmu adalah bangsa yang memiliki kecanggihan teknologi termutakhir dari bangsa-bangsa di dunia. Borobudur salah satu produk teknologi bangsa kita.
.
.
Di Borobudur ada gambar relief orang dengan posisi melayang, barangkali sejak dulu nenek moyang kita pandai berkhayal. Atau bisa jadi adalah suatu gambaran riyil, digambar sebagai pesan untuk dikirim ke masa depan.
.
.
Seseorang teman Fesbuk saya menulis tentang Levitasi atau Levitation, adalah melakukan perjalanan memperpendek jarak ruang dan waktu, dimana suatu objek melayang tanpa dukungan mekanis.
.
.
Tampilan yang tergambar proporsional presisi pada artefak Borobudur secara konsisten dan berulang-berulang barangkali adalah mencirikan kejadian itu benar terjadi. Levitasi dilakukan dengan memberikan gaya ke atas yang menangkal tarikan gravitasi yaitu proses dimana sebuah objek melayang melawan gaya gravitasi bumi dalam posisi yang setabil.
.
.
Leluhur kita terdahulu sudah berada di level unggul. Telah dan mampu melakukan levitasi tanpa alat dan banyak tampil di relief Borobudur, sementara science saat ini berada di level 1.
.
.
Kita coba pahami fakta sejarah leluhur kita dengan kaca mata sains saat ini: Levitasi magnetik, apakah manusia bisa melakukannya? Dalam ilmu pasti alam jika magnet beda kutub di dekat kan akan tarik menarik dan jika sama kutub akan saling tolak. Itu hukum alam.
.
.
Jika bumi ini adalah satu kutub magnet dan manusia membuat juga medan magnet yang sejenis tentu manusia dapat menolak tarikan kutub magnet bumi dengan cara mengelola fisik manusia tersebut. Mengakselerasi unsur-unsur inti dalam tubuh. membentuk magnet, sehingga tubuh mempunyai medan magnet yang sejenis dengan medan magnet bumi. Dalam keadaan seperti ini pasti tubuh akan melayang karena medan magnet bumi dan tubuh sejenis sehingga tubuh tertolak oleh medan magnet bumi. Bagaimana mungkin unsur di tubuh manusia bisa dikondisikan? Nenek moyang kita telah melakukannya.
.
.
Dengan kontemplasi spiritual memaksimalkan daya energi tubuh di dalam mitokondria mengaktifkan proses fusi ATP. Kemudian membuat medan gaya magnet sejenis dengan kutub bumi. Menjadikan tubuh fisik menolak medan magnit gravitasi bumi. Sangat memungkinkan tubuh fisik manusia dapat melayang.
.
.
ATP adalah nukleosida trifosfat yang mengandung adenosina yang mengeluarkan energi bebas ketika ikatan fosfatnya dihidrolisis. Energi ini digunakan untuk menggerakkan reaksi endergonik. Mitokondria menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat. ATP reaktor fusi unsur oksigen dan hidrogen di dalam bagian terkecil tubuh manusia yang bernama Mitokondria penghasil energi dalam fisika.
.
.
Energi adalah properti fisika dari suatu objek. Bisa berpindah melalui interaksi fundamental yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Yang dikenal dengan hukum kekekalan energi. Menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat.
.
.
ATP pembangkit energi menciptakan medan magnet sejenis dengan magnet bumi sehingga terjadi saling tolak antara tubuh dan bumi dan levitasi dimungkinkan terjadi.
.
.
Proses manusia mencapai tingkat tertentu hingga berkemampuan untuk berlevitasi dilakukan dengan prosesi kontemplasi Tapa-brata, istilah Jawa. Menyepi dan sunyi.
.
.
Leluhur Nusantara terdahulu sudah dapat melakukan teleportasi, telepati, levitasi juga menembus langit melintasi jagat raya dan mengelola Bulan. Maka selaras, ketika kau kelak besar nanti mendengar kisah-kisah para Wali sembilan tanah Jawa yang harus kumpul di Jawa Timur detik ini. Padahal asal dari para wali tersebut jauh, ada yang Jawa Barat dan lain sebagainya.
.
.
Kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar untuk membuat bangga berlebihan kita sebagai anak turun Nusantara. Tapi juga motivasi. Kenapa kita hidup hanya meributkan soal politik dan agama saja.
.
.
*****
Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan hangat saya yang dulu bersama di Jogja. Dia asal Jepara. Dan kini tinggal di Semarang. Dia pernah mengalami apa itu levitasi.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Hari ini adalah hari ketiga saya mendekam di rumah sakit. Mungkin ini kali pertama saya harus bernostalgia ditusuk-tusuk jarum suntik. Pertama kenal jarum suntik dan infus adalah saat kena gigit nyamuk DB, kira-kira umur saya waktu itu 5 tahun. Sudah lupa rasanya
.
.
Orang kecil seperti kita dalam memandang peristiwa, tentu saja harus lihat dari sudut pandang hikam. Kalau tidak, tentu kita akan banyak sambat selebihnya misuwur. Pun dengan apa yang saya alami beberapa hari ini. Meskipun saya yang sakit, saya yang tidak tega adalah kepada ibumu.
.
.
Meskipun banyak sanak, sodara, teman datang menangung rasa itu. Ibumu tetap saja memikul berat beban fisik dan psikologis. Itulah kenapa, Nak. Ketika saya sehat. Saya tidak segan-segan untuk  mencuci pakaian keluarga kita, mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Sekedar mengurangi beban fisik yg ditanggung ibumu. "Apa bapak tidak malu, melakukan pekerjaan perempuan?" kelak mungkin ketika kau dewasa bertanya seperti itu. Tidak Nak, bagi saya pekerjaan sebenarnya tidak berjenis kelamin. Kita saja yang sering mengkotak-kotakkan.
.
.
Semalam ibumu berkirim kabar. Kamu ingin jalan-jalan ketempat bapak (RS). Tentu saja itu tidak akan dilakukan, karena hari sudah malam. Dan kau masih kecil, rentan tertular penyakit. Saya akan segera sembuh, nak. Setelah sembuh, akan bergaya hidup sehat. Saya akan menyaksikanmu bergembira, tumbuh kembang menelusuri lorong-lorong liku dunia.
.
.
Kisah rumah sakit itu berawal ketika saya pulang dari pekerjaan di luar kota. Sebenarnya saya enggan menuduh siapa dan mengapa bisa terjadi. Wong ini sudah sunatullah. Tapi untukmu akan aku ceritakan, siapa tahu kamu bisa mengambil hikmahnya.
.
.
Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan saya dalam tekanan pekerjaan. Tibalah saatnya, kantor mengundang kami untk melakukan sesuatu. Semacam piknik. Saya sudah komunikasi dengan ibumu. Pada acara itu saya akan ijin saja. Karena tempat yang cukup jauh, ditambah cuaca yang ekstrim. Di sana kebalikannya cuaca dari kota kita. Selain itu, hari-hari tugas saya hampir tidak pernah ijin. Alasan yang peling melankolis: sejujurnya saya tidak tega meninggalkan kalian hanya untuk sekedar pesta.
.
.
Namun ibumu mendesak saya, untuk berangkat saja, karena selain sayang [eman-eman], ini adalah kesempatan liburan gratis. Percayalah, sampai di sini, saya sedang tidak menyudutkan ibumu. Akhirnya saya berangkat.
.
.
Singkat cerita, di sana saya makan kambing guling. Sebuah makanan yang asing bagi perut saya. Orang proletariat seperti kita memang tidak cocok dengan makanan seperti itu. Kita sudah terlalu akrab dengan tahu tempe. Tapi jika tahu dan tempe terus menerus, asam urat mengintai. Memang terlalu sulit kita hidup di Indonesia. Tapi ada seribu cara untuk bergembira.
.
.
Sepulang dari kegiatan itulah. Demam tidak kunjung turun, vertigo semakin menjadi. Ahad pagi, ketika seluruh dokter sedang berolahraga. Tidak ada dokter yang buka. Instalasi Gawat Darurat adalah tujuan utama.
.
.
Betapa sakit itu sama sekali tidak enak. Sehat itu anugrah luar biasa.
#DearDifana

Ayahmu bergolongan darah AB, golongan darah jenis ini saya dapat warisan dari ayah saya, kakekmu. Konon penyandang jenis Goldar ini berjumlah sedikit di dunia. Saya cenderung realistis, jarang menyikapi hal-hal yang di luar nalar, tentang kecenderungan psikologi golongan darah  misalnya. Saya tidak begitu percaya. Namun ada satu hal yang saya aminkan, sebagai tabiat golongan darah AB, karena saya juga mengalaminya. Teman-teman saya yang AB juga saya amati seperti saya: Ngantukan.
.
.
Tabiat jenis ini kadang merasa mengganggu aktivitas saya. Saya jarang tidur larut malam. Jika terpaksa harus beraktivitas malam, ketik siang, alam bawah sadar saya menagih untuk tidur. Itu terjadi sejak dulu. Saya pernah, bahkan sering tertidur di kelas saat duduk di bangku SMP.
.
.
Beruntung. Sangat beruntung. Ibumu adalah wanita yang luar biasa, menerima saya dengan segala kejelekannya. Tapi, sejak kehadarinmu April 2017 silam, penyakit ini membawa cerita.
.
.
Saat pertama kali, kami mengajakmu pulang ke rumah dari rumah bersalin.  Adalah sebuah cobaan pertama, air susu ibumu tidak mau keluar. Kamu sangat kelaparan. Kami putuskan untuk membeli susu formula. Namun, susu formula kamu enggan meminumnya. Segala upaya kami lakukan: Ibumu meminum jamu, ramuan-ramuan. Dan mulutmu berusaha, berupaya, terus menerus meminum air susu ibumu. Akhirnya, Tuhan itu Maha tidak teganan kepada kita. Air susu ibu mengalir. Sejak bayimu, kamu adalah perempuan pejuang.
.
.
Tidak sampai di situ. Sejak kamu bayi. Kamu tidak pernah tidur gasik. Paling cepat tidurmu jam 10. Itupun selalu diselingi drama dulu. Saat kamu bayi, tidurmu selepas adzan subuh. Bablas sampai siang, sampai malam. Bangun saat adzan isya menjelang. Dari isya sampai subuh, kamu mengajak kami ronda. Kamu mengajak bermain-main. Tersenyum. Diselingi menangis tentu saja. Kata ibumu yang bidan itu, fase tidur bayi memang wajar begitu. Tapi mungkin tidak denganmu. Sampai 40 hari lebih usiamu.
.
.
Bahkan sampai usiamu menginjak satu tahun. Tidurmu selalu larut malam. Pernah suatu ketika, kamu tidak tidur, hanya untuk menunggu saya pulang dari lembur kerja. Jam 1 dini hari. Ayahmu yang pengantuk berat, kadang ini adalah jalan ninja yang harus saya tempuh.
.
.
Saya pikir, golongan darah kita sama: AB. Dibuktikan pada saat saya kena flu, kamu sangat gampang tertular virus itu. Atau sebaliknya saat kamu pileg. Saya kena juga. Tapi jika dengan fase-fase tidurmu yang terus menerus seperti itu. Saya sangat sangsi. Tapi itu tidak mengapa. Tidak masalah bagi saya. Kamu perempuan pejuang. Sudah sepantasnya kamu menjaga malam.
.
.
Kembali membahas mengantuk. Ada suatu kisah, seseorang dan keluarganya yang selamat dari musibah. Itu karena ia terus terjaga ketika malam. Atau kisah yang rizki, wangsit, wahyu, atau apalah itu sebutannya, yang turun ketika malam. Kisah yang seperti ini, kelak kamu akan banyak menemukannya. Tapi ada suatu kisah. Terjadi pada teman saya. Dulu dia ketua OSIS saat SMA. Beberapa hari yang lalu dia dan keluarganya bepergian ke luar kota. Saat di jalan dia mengantuk berat. Hingga mobil yang dikendarainya oleng menabrak truck yang terparkir di pinggir jalan. Anaknya, yang seusiamu meninggal dunia dalam kecelakan itu. Saya juga seorang ayah. Tapi saya tidak bisa membayangkan suasana hati dia sebagai ayah. Remuk redamlah hatinya.
.
.
Betapa mengantuk itu adalah hal sepele, namun berakibat luar biasa. Maka, ketika kamu demam, badanmu panas. Kami bergantian mengompres tubuh mungilmu, sampai larut malam. Sampai dini hari menjelang.
.
.
Hari ini tidak tahu hari apa, sepertinya hari selasa biasa. Saya hanya ingin berkisah saja. Cepatlah besar matahariku.
Hanya karena aku mendengar lelaki yang berdaham. Tiba-tiba mengguncang pori-pori rindu. Dia hampir mirip dengan bapakku. Rambutnya yang putih nyaris botak. Hidungnya yang mancung. Perawakannya pendek. Caranya mengenakan sepatu. Kumis yang sebagian memutih. Sampai tertawa terbahak yang membuatnya jadi tampak lebih muda.
.
.
Saat-saat tertentu, aku jauh lebih bodoh dari biasanya. Aku yang bukan pecinta burung, mengitari keliling pasar burung. berharap menemukan warna dan suara Jalak yang dulu dipelihara bapak. Tentu saja itu hanya untuk menuntaskan hasrat yang ambigu. Aku benar-benar merindu.
.
.
Dan siang tadi, dengan alasan yang tidak jelas, aku memutuskan membawa diriku menelusuri lorong-lorong itu.

#hariAyah

#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah  Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.

Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah, kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara  usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing hitamkan saja setan. 

Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa. Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain, merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.

Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu  sudah sunatullah. Perseteruan ada di mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji Tuhan, saya  tidak punya kepentingan apa-apa.   

Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik, mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.


11 November 2019
Pertama, aku memohon ampun pada Allah, Tuhan seluruh alam. Atas apa yang selama ini aku lakukan. Kedua, aku meminta maaf yang sangat dalam. Pada banyak pihak yang termaktub secara terbuka atau tersirat dalam catatan ini. Aku tidak bermaksud untuk membuka dosa, aib, atau apapun itu sebutannya. Catatan ini hanya akan diposting di blog pribadiku. Tentu saja di sana sepi. Adapun jika ada pembaca yang mampir, berarti bonus, dan mungkin selebihnya musibah. Tujuan catatan ini adalah pembelejaran untuk anak-anakku kelak. Bahwa masih ada asa untuk Indonesia.
.
.
Difa, anakku. Cuaca akhir oktober tahun ini sangat panas. Di Tegal, tercatat dalam aplikasi hampir mendekati 38 derajat suhu panasnya. Yah, di luar sangat panas, tapi di dalam diri kita harus selalu sejuk. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini [yang mungkin akan membuat bertambah panas], aku sarankan untuk memutar lagu kesukaanmu.
.
.
Ini adalah catatan dari desa, untukmu, Difa. Budayawan asal Semarang pernah menulis, kurang lebih begini: "saya tidak korupsi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk koropsi". Lha mau korupsi bagaimana. Kesempatan tidak ada, jabatan tidak punya. Kewenangan apalagi. Dia menyadari, dia hanya budayawan. Bukan pejabat. Atau konglomerat yang bisa menyuap. Dalam catatan lanjutannya. Dia akan ragu pada dirinya sendiri, jika seandainya dia berada dalam posisi pejabat. Kemungkinan besar, dia tidak akan kuat untuk tidak korupsi.
.
.
Sialnya, laku korupsi, dalam penafsiranku, lebih luas, tidak hanya tentang merugikan uang negara. Menjadi pegawai pemerintahan atau pejabat itu sangat berpeluang untuk korupsi. Tetapi lebih merucut lagi: menjadi seorang hamba penyembah Tuhan juga penuh resiko untuk berlaku korup. Korup imannya, korup ibadahnya, korup shalatnya. Korup zakatnya. Korup hablu minnasnya. Dan lain sebagainya. Dalam arti luas, mungkin aku dan kamu adalah koruptor.
.
.
Sayangnya, aku tidak begitu mendalam memahami undang-undang tindak pidana korupsi di negeri ini. Sebagai pegawai semi pemerintahan, aku masih bisa bernafas lega ketika terlambat. Juga masih bisa menghirup kopi ketika deadline kerja belum terpenuhi. Tidak hanya aku, organisasi- organisasi yang aku dampingi mungkin juga begitu. Mungkin.
.
.
Di tengah iklim kerja yang seharusnya penuh kompetisi sehat, tidak jarang, konflik terjadi dalam organisasi. Terkadang aku sangat menyayangkan. Konflik di tubuh organisasi tidak termanajemen dengan baik. Padahal konflik ini, jika termanajemen dengan rapi, mungkin akan berakibat positif dalam iklim kerja. Perlu sentuhan tangan stake holder di atas tingkat organisasi yang aku dampingi.
.
.
Bagiku, yang pria kagetan. Di dunia ini apa yang tidak anomali. Semua kadang tampak aneh. Aturannya berbunyi A, tapi di lapangan kenyataan adalah B. Bahkan ada yang melenceng jauh, Z!
.
.
Desa adalah miniatur Indonesia. Desa bagian dari Indonesia, ataukah Indonesia  bagian dari desa? Ini sangat penting. Guna menentukan sikap, siapa yang sebenarnya yang paling berwenang. Siapa yang sesungguhnya membutuhkan.
.
.
Catatan ini sangat nanggung. Ditulis seorang pria yang galau. Sok idealis. Tapi seaslinya pragmatis. Jika kata Tan Malaka: 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.' Maka, si pria penulis ini adalah, tidak mempunyai kemewahan apa-apa. Tidak mempunyai kemewahan dalam idealis. Juga tidak punya kemewahan harta benda.
.
.
Ditulis pada hari Blogger Nasional 2019
PROF SURYADI. Profesor muda, guru besar ilmu hadits Uin Sunan Kalijaga. Belajar ilmu hadits dalam kelasnya tidak akan pernah bosan. Mahasiswa diajak menelusuri lorong waktu. Semacam piknik ke masa lalu. Seakan berziarah, sowan ke sumber pusatnya hadits: rasul Muhammad. Berkenalan dengan tokoh-tokoh rawi hadits. (Waladzi Nafsi Biyadih, sampai-sampai aku terbawa mimpi). Mahasiswa juga diajak bernalar kritis. Sangat menyenangkan. Sebagai jomblo saat itu, adalah hiburan yang menggembirakan.
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....
SHELDON J. PLANKTON masih menyimpan mimpinya mendapatkan resep bumbu rahasia krabby patty dari Crabs. Hari itu Bikini Bottom terasa panas. Impian Plankton, lebih tepatnya ambisinya, mengantarkannya untuk menghalalkan segala cara.


Siang terik, Plankton sibuk masak di dapur. Mencampur berbagai bahan makanan. Karen, si "WIFE" akronim dari Wired Integrated Female Electroencephalograph, mendekat.
"Apa yang sedang engkau lakukan, suamiku?"
"Aku sedang memasak untuk ku hidangankan pada Crabs. Aku campurkan DNA Patrick. Agar dia konyol dan bodoh, lalu dia akan dengan senang hati memberikan resep rahasia krabby patty padaku". Plankton terus mengaduk-aduk masakan itu. Mulutnya tertawa.
"Kali ini kau pasti gagal lagi!". Tukas Karen.


Benar apa kata Karen. Saat mengaduk, Plankton yang tubuhnya mungil terkena cipratan olahan makanan yang sudah  tercampur DNA Patrick. Dia memakannya! Seketika dia menjadi bodoh. Sialnya lagi olahan makanan itu meletup, meletus. Tersebar ke seluruh penjuru mata angin Bikini Bottom.


Yang diinginkan Plankton tercapai. Tuan Crabs menjadi bodoh. Tidak hanya tuan Crabs, SpongeBob, Squidward, juga Nyonya Pap–ibu guru kursus mengemudi–. Juga seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua menjadi bodoh dan konyol. Bikini Bottom menjadi keos. Orang-orang mirip seperti Patrick. Memperagakan segala hal yang lucu, konyol dan tentu saja tidak penting. Di atas kepala setiap orang terdapat benjolan besar. Seperti tonjolan pada kepalanya Patrick.


Kecuali dua penduduk yang tidak akan menjadi bodoh: Karen Plankton, dia komputer. Dan Sandy, dia seekor tupai dari Texas yang sekarang hijrah ke Bikini Bottom. Dia tidak terkena virus karena rumah dan helmnya kedap air.


Melihat situasi Bikini Bottom yang keos. Mereka berdua berpikir keras. Mereka tidak mungkin menemukan 'formula' untuk mengembalikan kondisi normal. Kesepakatan itu terjadi antara Sandy dan Karen: Membuat sekolah!


Setiap pagi, setiap hari. Penduduk berangkat sekolah. Gurunya tentu saja dua penduduk normal di Bikini Bottom. Peserta didik rata-rata pembelajar yang baik. Setiapkali Ibu guru Sandy atau Ibu guru Karen melakukan evaluasi, peserta didik menjawab dengan benar. Setiapkali menjawab pertanyaan dengan benar itulah, tanda benjolan sebagai tanda kebodohan di kepala mereka berangsur mengecil. Kecuali si Plankton pemalas itu.


Tibalah hari kelulusan. Seluruh peserta didik bergembira. Mereka akan mengikuti rangkaian acara wisuda. Namun, ada adegan yang menegangkan. Di sebuah koridor kelas sekolah yang gelap. Plankton si preman sekolah itu sedang membegal resep rahasia krabby patty dari Crabs. Tuan Crabs dengan mimik ketakutan, wajahnya yang bodoh, hampir saja memberikan resep itu. Namun, lampu dinyalakan. Sandy keluar dari ruangan dan memberi tepuk tangan. Ternyata tuan Crabs sedang mendalami pelajaran peran akting saja. Dia berhasil meraih nilai A dari ibu guru Sandy.


Tuan Crabs siswa cerdas. Karakternya sebagai pengusaha tidak mau rugi satu sen pun. Dia akan mengeksplor apa saja yang bisa menjadi tambang dolar. Dia lambang kapitalis.


****
Nah, meski agak kesiangan. Aku ucapkan selamat untuk adik-adikku yang hari ini mulai sekolah. Jadilah manusia cerdas. Jangan menjadi konyol. Jangan mau dibodohi. Kelak, saat sudah lulus sekolah. Kau tumbuh dewasa. Eksplorasi semua hal yang berbau uang. Tidak usah pedulikan alam yang rusak. Semua akan baik-baik saja. Asal anak-anak dan istrimu bisa berbahagia. Jadilah manusia terpelajar yang kapitalis.

Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat? - Cak Dlahom [Rusdi Mathari].


Disadari atau tidak, Kisah-kisah sufi yang sering didengarkan di pesantren-pesantren adalah kisah untuk mengasah kepedulian sosial seorang santri.  Aku ingin berkisah padamu dik, kisah tentang Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar pada masanya. Seorang tabi'ut tabi'in.


Hari itu, kesekian kalinya Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Setelah thawaf mengelilingi ka'bah. Beliau tertidur. Dalam tidurnya antara mimpi dan sadar, Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan antara dua malaikat:
"Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.
“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain.
“Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”.
Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak terperangah. Ibnu Mubarak menangis.
“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, berasal dari Damaskus. Seorang tukang sol sepatu".
"Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah". Seru malaikat.


Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.


Musim haji telah usai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Siapa sebenarnya Ali bin Muwaffaq. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus.


Damaskus tentu saja bukan kota kecil. Mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun, dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.
“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah sederhana itu.
“Wa’alaikum salam”
“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”
“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”.


Singkat cerita. Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya tentang percakapan dua malaikat di tanah suci kepada Ali bin Muwaffaq. Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, "apa sesungguhnya rahasia amalan-amalanmu, wahai Ali bin Muwaffaq?"

****

Ali bin Muwaffaq berkisah. Dia memang tidak jadi berangkat haji. Sesungguhnya dia telah menabung sejak lama. Menumpuk pundi-pundi uang. Hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu siang yang panas. Sebelum dia berangkat ke tanah suci, dia dan istrinya mencium masakan yang sangat sedap.


Istrinya saat itu sedang hamil. Sang istri nyidam menginkan masakan itu. Lalu Ali bin Muwaffaq mencari sumbernya, ternyata dari rumah tetangga. Sang tetangga adalah seorang janda. Anaknya banyak.


Demi sang istri dan calon buah hati, Ali bin Muwaffaq memberanikan diri mengetuk pintu rumah tetangga. Tanpa banyak basa-basi, dia mengutarakan maksud dan tujuan.


Sang tetangga berkata, "Wahai Ali bin Muwaffaq, maafkan aku, makanan ini halal untukku dan anak-anakku. Tetapi haram untuk mu dan istrimu".
"Lho kenapa?", Tanya Ali.
"Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati, tergeletak di pinggir kali. Aku potong dan sayati. Aku memasakknya menjadi masakan ini".


Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq si tukang sol sepatu merasa tertampar sekaligus sangat sedih. "Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan", dalam hati Ali.


Maka dia ambil seluruh uangnya dan diserahkan pada tetangga yang janda itu untuk memberikan makan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak jadi berangkat haji.


Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

Jika Anda berada di taman yang terdapat bunga yang warna warni. Cantik. Tentu Anda akan memetik bunga yang tercantik. Untuk dihirup baunya. Atau sekedar dibawa pulang untuk menemani hari Anda. Itu sebagai tamsil, bahwa Tuhan akan 'mengambil' orang-orang baik. Orang istimewa. Orang yang dikasihi-Nya.


Gus Dur (Allahu Yarhamhu). Mantan presiden Indonesia. Ketika ditanya seseorang. "Kenapa penjenengan suka ziarah kubur, Gus?". Gus Dur jawab sekenanya, "Karena orang mati tidak punya kepentingan". Secara tidak langsung jawaban Gus Dur menohok relung hati saya. Gus Dur itu Kiai. Tentu ilmu agamanya tinggi. Tapi Gus Dur tidak menjawab hukum dan berbagai macam dalil tentang ziarah kubur. Terlepas 'asbabun nuzul' Gus Dur saat menjawab pertanyaan itu menjadi tokoh nasional. Yang tentu saja banyak di sekitarnya pasti punya kepentingan. Dari jawaban Gus Dur itulah saya harus belajar. Belajar pada orang mati tentu saja. Belajar tentang apa? Belajar apa saja. Tokoh pertama adalah Gus Dur. Allah menyayangi beliau. Gus Dur dengan berbagai sepak terjang kontroversial dalam hidupnya. Saya merindunya.

Tokoh kedua adalah mbah Surip. Sang maestro reggae meninggal sekitar sepuluh tahun lalu. 04 Agustus 2009. Mbah Surip bagi saya saat itu adalah segalanya. Istimewa. Meski orangnya sudah meninggal, dendangan musik dan suaranya selalu mewarnai hari-hari saya yang kelabu. Siang dan malam. Mbah Surip itu bukan perihal lagu 'Tak Gendong'-nya saja. Ada banyak deretan judul lagu yang kebanyakan orang tidak tahu. Lagu religi pun ada, meski lirik dan suaranya tetap kental dengan jenaka.


Konon sebelum meninggal, mbah Surip belum sempat untuk menyelesaikan album religi. Mbah Surip seperti halnya Gito Rollies. Seorang Rocker, yang sebelum meninggal, dalam konsernya menangis saat menyanyikan lagu Rock berjudul 'Cinta yang Tulus'. Lagu yang sangat kentara akan cinta sejati. Lagu yang dipersembahkan oleh hamba untuk kekasihnya: Allah. Mbah Surippun sama.


Mbah Surip adalah kegetiran. Kegetiran manusia Indonesia. Tertawanya adalah kesedihannya. Orang Indonesia meskipun banyak masalah, ditolak perempuan pujaannya. Atau gaji pas-pasan, tarif dasar listrik naik, BBM naik, hutang semakin melangit. Tapi mereka tetap masih bisa ngopi dan merokok, serta tertawa dan tentu saja insya Allah bahagia. Itulah mbah Surip, representasi manusia Indonesia. Kepadanya saya belajar tertawa, meski sedang lara. Qonaah bahasa agamanya. I love you full, Mbah.


Tokoh berikutnya adalah Zainul Arifin, Allahu Yarhamhu. Mas Zainul dalam perjalanan terakhir hidupnya adalah vokalis Kiai Kanjeng. Suaranya bening. Menggetarkan 'sesuatu' yang di dalam. Di kota asalnya, Mojokerto, mas Zainul dikenal sebagai qori. Seorang pentilawah atau pembaca ayat-ayat suci. dengan teknik, gaya dan cengkok lisanul arabi. Ada 7 (tujuh) tradisi maqam tilawah, yang masing-masing berbeda genre-nya. Ketujuh maqam tilawah: bayati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika dan jiharka. Dan mas Zainul menguasai keseluruh maqam tilawah tersebut.


Saat tur-tur Emha dan Kiai Kanjeng ke seluruh penjuru tanah air dan beberapa kali ke luar negeri; Mesir, Abu Dhabi, Inggris, Vatikan, Belanda, Finlandia, dan lain sebagainya; mas Zainul salah salah satu vokalis andalan Kiai Kanjeng. Di negara-negara Timur Tengah, sebagai pusat kebudayaan Arab — mas Zainul yang kemampuan komunikasi bahasa Arabnya minim — justru sangat dielu-elukan karena kemampuan mengolah suara yang 'sangat Arab'. Langgam Arabic. Di Maroko misalnya, mas Zainul membawakan lagu yang sangat familiar bagi masyarakat setempat: Allah Ya Maulana, mendapat aplus meriah. Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko saat itu, meminta untuk bertemu dengan mas Zainul. Rektor bersama ketua lembaga bahasa universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu yang sering saya putar ketika sendiri di malam yang sunyi, adalah 'Kuncine Lawang Suwarga, Laa Ila ha Illa Allah'. 13 Juni 2015, mas Zainul lebih dirindui oleh Tuhan-nya. Allah bersegera ingin bertemu seorang makhluk-Nya yang sangat indah ketika melantunkan firman-firman-Nya.


Dari mas Zainul, tentu saja suaraku yang cempreng tidak akan belajar meniru suaranya. Tapi suaranya yang lembut, menginspirasi hidup kita seharusnya terus berfikir positif, jernih dan bening. Mas Zainul adalah keindahan. Dan kita suatu saat nanti akan bermuara ke yang Maha Indah.


Rusdi Amrullah bin Mathari adalah tokoh berikutnya. Allah menyayanginya. Semasa hidupnya beliau adalah seorang jurnalis. Dalam lingkungan pergaulannya dia orang yang baik. Sangat baik. Dia punya semboyan "Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan". Dia seorang idealis. Cak Rusdi, panggilan akrabnya seorang penulis. Menulis apa saja.


Yang paling saya suka adalah petuah-petuahnya tentang agama. "Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?"


Dulu, setiap pagi di beranda Facebook adalah keriaan yang disajikan oleh Rusdi Mathari. Hingga akhir hayatnya Cak Rusdi terus menulis. Belajar integritas itu bukan kepada penyelenggara negara. Cukup kepada Cak Rusdi saja.


Kepada beliau-beliau alfatihah....
Tuhanku...
Cintai anakku,
Dengan cinta yang tidak buta
Jangan manjakan ia oleh suka
Paksa ia mencicipi luka
Taburkan duri dikakinya
Cambuklah punggungnya
Agar mengerti dia
Hidup tak seindah khayalan tentang sorga


Tuhanku,
Jangan izinkan ia berdoa
Jika masih mengartikannya meminta
Kedatangannya di kaki-Mu, Paduka
Hanya karena rindu dan nyatakan cinta


Bungkam mulutnya jika ia memohon menang
Karena itu mengharapkan kekalahan orang
Hidup tak boleh ia artikan sebagai perlombaan
Cukuplah merupakan peristiwa agung Kau ciptakan
Tuhan hanyalah istilah yang dibuat manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Sebutan nama tuhan secara bahasa itu banyak ragamnya. Oleh sebab itu, banyak sekali istilah meski muaranya adalah sama, satu. Jika dalam ajaran Islam menyebut “tidak ada tuhan kecuali Allah”, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Ketika manusia mengumumkan dirinya sebagai tuhan, tentu ia tetap meyakini keberadaan tuhan di luar dirinya. Di ujung kebinasaan jasadnya, Firaun tak kuasa menolak suara ruhnya bahwa ajaran Musa tentang tuhan yang satu, benar adanya. Ketika ajaran materialisme menghinggapi sejarah peradaban manusia dengan isu kebebasan sehingga menghilangkan keberadaan dan peran serta tuhan (ateis) misalnya, hakikat ajarannya justru mengakui keberadaan tuhan. Bukankah kebebasan (nafsu) yang menjadi panglima ajaran materialisme dan juga liberalisme adalah wujud tuhan itu sendiri?
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan 43)
Gambaran akan Tuhan, tidak mungkin tak ada pada manusia. Sebagai bagian dari (kehendak) tuhan, pada manusia hakikatnya ada kemutlakan. Sebuah fitrah untuk mempercayai dan mengakui tuhan. Jika kemudian apa yang diyakini sebagai tuhan diwujudkan dalam banyak bentuk dan keyakinan, itu juga tak lepas dari kehendak tuhan sebagai satu-satunya pemilik segala kehendak. Tuhan adalah sesuatu yang wajib dan pasti ada bagi manusia, bahkan pada saat keberadaan tuhan ditolak dan diabaikan sekalipun.
Apa yang kemudian disebut sebagai tuhan, sejatinya hanya istilah manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Penyebutan nama tuhan secara bahasa, oleh sebab itu banyak ragam kendati muaranya pasti satu. Jika kemudian, ajaran Islam menyebutkan tidak ada tuhan kecuali Allah, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Kata Allah dalam bahasa Arab pada dasarnya sama dengan kata ilah (tuhan). Makna dari kata Allah adalah juga sama dengan makna dari kata ilah. Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya. Dalam bahasa Arab, kata “ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (bersifat umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat sementara kata Allah adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.
Ucapan seperti “ya Ilahi” atau “ya Allah” juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “ilah” kecuali bahwa yang satu (Allah) hanya digunakan untuk makna khusus sedangkan yang lainnya “ilah” lebih bersifat umum. Dalam kitab Tauhid dan Syirik, Syekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, karena berasal dari satu akar kata.
Kekhususan makna pada nama Allah dalam hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab menggunakan lafal “al ilah”. Penambahan kata “al” pada “ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab Majma’ul Bayan Jilid 9, Al Thabarsi menerangkan, bahwa huruf “i” pada “al ilah” menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga kemudian “al ilah” diucapkan sebagai Allah.
Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul lafal Allah juga diungkapkan Thabarsi dalam Majma’ul Bayan Jilid 1. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (seorang pakar gramatika tentang asal-usul lafal Allah) Thabarsi menjelaskan perubahan dari ilah menjadi Allah disebabkan penisbian huruf hamzah di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah yang tak bisa dipisahkan. Maka ketika menyebut “ya Allah”, pengucapannya bukan “yallah” melainkan “ya Allah”. Seandainya tidak ada huruf hamzah dalam kata aslinya, menurut Thabarsi niscaya pengucapan hamzah tersebut tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.
Tentang lafal Allah yang berasal dari kata ilah dengan menghilangkan huruf hamzah dan menggantinya dengan kata “al”, juga dijelaskan oleh Ar Raghib dalam kitab Al Mufradat. Nama tersebut dikhususkan bagi nama Allah sebagai Wajibul Wujud, Zat yang mutlak wajib ada. “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam 65).
Tuhan dalam Al Quran
Karena itu bisa dimengerti jika para ahli tauhid lalu memaknai Allah dan ilah dengan makna yang satu yaitu tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir (mufassirin) dalam kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” kata “ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah), dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar). Maka kalimat “Tidak ada tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada tuhan yang wajib disembah secara benar (hak) kecuali Allah”.
Kesimpulan para mufassirinmengacu kepada Al Quran surat Az Zuhruf 84, “Dan Dia adalah tuhan (yang disembah) di langit dan tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia adalah bijaksana dan mengetahui segala sesuatu.”
Selain kata “ilah”, kata yang bermakna tuhan adalah “rabb” yang berarti mengatur atau menuntun. Kata ini misalnya tertuang dalam surat Al Fatihah ayat kedua, “Segala puji milik Allah, rabb semesta alam.” Ayat 65 surat Maryam juga menggunakan kata rabb untuk menjelaskan tentang Allah, “Rabbatas langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah menyembah-Nya.”
Al Quran juga banyak menyebut nama Allah dengan sebutan “huwa”. Salah satunya diterangkan dalam surat Al An’an ayat ketiga. “Dan huwaadalah Allah yang disembah, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.”
Dalam bahasa Arab, “huwa” adalah dhamir (kata ganti) untuk seorang lelaki yang tidak kelihatan. Itu sebab, Allah dalam ajaran Islam cenderung dipahami sebagai maskulinitas karena hanya kata “huwa” yang digunakan dalam Al Quran, dan bukan “hiya” (perempuan).
Di Balik Nama Allah
Dari banyaknya ragam istilah dan makna tentang Allah, tak bisa tidak, Allah adalah pemilik semua nama (sifat) ketuhanan. Dalam surat Al A’raf ayat 180 diterangkan “Hanya milik Allah asma’ul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asma-Nya”
Dalam kitab Futuhatul Makiyyah Juz III Ibnu Arabi menjelaskan, sesungguhnya Allah merupakan hakikat dari seluruh nama-nama ketuhanan. Lafal “Allah” adalah lafdzul jalalah. Secara bahasa, jalalah berasal dari akar kata “Al Jalal” yang berarti “Zat” yang berhak untuk diagungkan, utama, berkuasa, berwibawa, pelaksana segala urusan, dan kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk. “Jalla Jalaluhu” karena itu adalah nama Allah yang satu, yang tahu akan zat-Nya yang suci dan meliputi semua sifat –Al Hayat, Al Azaliyah, Al Ilmu, Al Qudrah, Al Bashar, As Sami’u, Al Iradah dan seterusnya. Itulah nama-nama Allah, yang bahkan Dia menyebutkan untuk zat-Nya, dan disebut sebagai isim al a’dham. Tak satupun makhluk, apalagi hanya manusia, yang berhak atas nama-nama Allah. Al Quran menyebutkan ada 99 nama Allah dalam al asma’ al husna.
Dari seluruh nama itu, maka secara umum nama Allah bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama adalah nama-nama jalaliyyah yang menggambarkan kemutlakan kekuasaan Allah. Termasuk dalam kelompok ini adalah nama agung (Al Akbar), pemaksa (Al Qahhar), keras (Al Jabbar), sombong (Al Mutakbbir), pembalas (Dzun Tiqam). Kedua adalah nama-nama jamaliyyah yang berhubungan dengan kecintaan, keindahan dan kecantikan, seperti pengasih (Ar Rahman), penyayang (Ar Rahim), pengampun (Al Ghaffar), lembut (Al Lathiif), dan sebagainya.
Ada perbedaan konsekuensi terhadap manusia, yang timbul akibat nama-nama Allah. Nama-nama jalaliyyah menyebabkan manusia tunduk dan takut dan wajib mengikuti syariat (hukum) Allah, dan jamaliyyah menekankan manusia kepada aspek kecintaan terhadap Allah. Meskipun jalliyyah dan jamaliyyah hakikatnya adalah wujud Allah, menurut beberapa ahli tafsir Al Quran, jumlah nama Allah pada jamaliyyah lebih banyak dibanding jumlah nama pada jalaliyah. Hadits qudsi juga menyebutkan, “Cinta-Ku melampaui murka-Ku.”
Tak lalu dengan semua nama-Nya, manusia bisa mengetahui hakikat Allah. Nama-nama, istilah atau apapun julukan yang ditujukan untuk Allah hanyalah salah satu cara untuk mengenal (kekuasan) Allah. Di balik semua nama dan istilah, Allah adalah Allah dan hanya Allah yang tahu akan Allah.
 Sumber: Abdullah Imam Bachwar dan Rusdi Mathari
Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuatan itu yang membentuk karakterku sebagai manusia. Saya diberi rizki oleh Tuhan. Diberikan segalanya. Tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan itu. Orang-orang menyebutnya barokah.


Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.


Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.


Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.


Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.


Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.


"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.


Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.


Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah
Aku kadang tidak habis pikir. Kenapa operator salah satu pompa bensin kecil di kotaku pelayanannya sangat tidak ramah. Tersenyum saja susah. Operator itu lelaki setengah baya. Bertubuh ceking. Jika tidak mengenakan topi, rambutnya terlihat ikal. Matanya merah, pertanda ia sangat lelah. Terkadang mulutnya berbau alkohol. Pernah suatu ketika aku mengajak basa-basi. Tapi ia tak menggubris sama sekali.


Seorang teman berkabar. Pom yang aku maksud, konon sering melakukan kecurangan. Manipulasi nota pembayaran. Mengurangi takaran bensin, dan lain-lain. Aku jadi malas untuk mengisi bensin di sana. Pom tersebut terletak di jalan Pantura. Oleh karena itu, customer kebanyakan kendaraan dari luar kota.


Hingga terjadilah adegan dalam suatu perjalanan. Aku sangat terpaksa untuk mampir di pom-bensin tersebut. Kejadian ini terjadi ramadhan tahun lalu. Saat itu aku pulang dari Purwokerto. Setelah mengikuti RDK (Rapat dalam kantor).


Aku pulang sore. Matahari hampir terbenam. Langit memerah. Senja sudah merekah. Jarak tempuh rumahku masih sekitar 25 menitan lagi. Sementara maghrib sudah datang. Pada detik itu pula, indikator bensin memberi signal sudah hampir habis. Waktu itu tubuhku sungguh sangat lemas. Ingin segera berbuka. Atau sekedar minum air mineral untuk melepas dahaga. Aku tidak bawa bekal air. Celakanya juga, uang di dompet tinggal 7 ribu.


Aku diberi dua pilihan oleh keadaan: pertama, membeli air mineral, dan harap-harap cemas semoga motor bisa sampai rumah. Kedua, membeli bensin, dan menunda berbuka.


Aku pilih yang kedua. Dengan pertimbangan indikator bensinku sebenarnya sudah tipis sejak masuk Purbalingga. Aku tidak mau berjudi lebih dalam lagi. Satu-satunya pom yang tersisa adalah pom yang selalu aku hindari itu.


Tidak ada pilihan. Aku mampir isi bensin 7 ribu. Operator masih sama dengan yang dulu. Miskin senyum. Tentu dengan tubuhku yang masih lemas, berkomunikasi pun malas. Pom bensin sangat sepi. Bisa langsung ngisi tanpa antri. Setelah aku bayarkan uangku. Si operator mengambil sesuatu di meja. Sambil menyerahkan kepadaku dia berkata,

"Keh, Mas. Go takjil, mbokan durung buka".
Seplastik es campur dan 3 kurma.
Aku jawab dengan berbinar, "Suwun, Om!"


Kadang sesuatu yang kita tidak sukai
Kita selalu hindari, terdapat kebaikan di dalamnya. Terimakasih Tuhan. Maturnembahnuwun Ya Ramadhan...
Suatu ketika, antara Maulana Rumi dengan muridnya. Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan, dijawab dengan jawaban-jawaban nan indah.

"Apa itu racun ?"
"Apapun yang lebih dari kebutuhan kita, itu adalah racun . Bisa jadi, kekayaan, kekuasaan, kebencian, cinta, kemiskinan, ego, kemalasan, keserakahan, ambisi, dan bisa apapun".


"Apa itu ketakutan ?"
"Ketidak mampuan menerima ketidak pastian. Bila kita mampu menerima ketidak pastian, maka itu menjadi sebuah petualangan .


"Apa itu iri?"
"Ketidak mampuan melihat kebaikan pada orang lain. Bila kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain, maka itu menjadi sebuah inspirasi".


"Apa itu kemarahan ?"
"Ketidak mampuan menerima hal-hal diluar kendali kita. Bila kita mampu menerima, maka itu menjadi bentuk toleransi".


"Apa itu kebencian ?"
"Ketidak mampuan menerima orang lain. Bila kita menerima siapapun tanpa syarat, itu lah Cinta".


"Menurutmu, apa yang paling ajaib di dunia ini?" tanya seorang perempuan berkerdung merah.

"Sujud," ujar sang lelaki berpeci.

"kenapa sujud?!" tanya perempuan dengan air muka datar.

"Saat sujud, engkau berbisik pada tanah, tapi langitlah sebenarnya yang mendengarkan."

"So Sweet... ."

"Ajaib bukan?"

"lumayan."

"Oya, apa yang biasanya kau bisikan ke bumi saat sujud?" selidik sang perempuan.

"Aku membisikan namamu," jawab lelaki itu.

"Ah, kau..."

"Tapi sayangnya langit tak pernah mendengarkannya," tambah lelaki itu.

"Hua ha ha ha..." perempuan di depannya terbahak.


Seorang lelaki ingusan menyurati sang istri melalui blog pribadinya:


Dear istriku. Terimakasih sudah menemani hari-hariku. Sudah menemani kepayahan hidupku. Mau diajak melarat bersama. Menemani kemiskinan dan kepapaanku. Terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Engkau akuntan terbaik. Manager uang luar biasa. Chef yang selalu masak enak, meskipun makanan sederhana. Saat aku atau anak sakit, kau dokter pribadi yang selalu ada. Kau wanita karir 24 jam. Gajimu adalah surga.
Sehat selalu sayang. Berkah selalu sayang.


Semoga kita diberkahi Allah. Selamat dan panjang umur.
Pernah dengar kisah Layla Majnun? Aku akan cerita ulang dengan bahasaku. Diantara banyak kisah Layla Majnun ada kisah yang paling dramatis yang selalu terngiang dalam kepalaku. Adalah piring pecah.


Qays nama asli dari Majnun. Dia digadang-gadang menggantikan ayahnya kelak sebagai ketua suku. Kepala suku yang berpendidikan, alim, saleh, berwibawa, bijak besari bisa mengayomi sukunya. Di madrasah dia malah tergila-gila dengan Layla.


Rasa cintanya Layla kepada Qays dipendam dalam-dalam. Sebaliknya, cintanya Qays kepada Layla diekspresikan. Disebarluaskan.


Suatu hari, ayahnya Layla mengadakan perhelatan pesta. Para kepala suku, orang mustdhafin, fakir miskin, anak yatim, janda,  semua penduduk dapat undangan.


Saat itu Qays sedang duduk seorang diri di lembah nan sunyi yang terdapat mata air. Qays melamun. Dari arah jauh dia melihat rombongan kafilah berduyun-duyun. Ketika rombongan melewati oase, Qays masih saja hanyut dalam lamunan. Qays ditegur oleh kepala rombongan.

"Kisanak, sedang apa Anda berada di sini?"
Tetap saja Qays acuh.
Kemudian ditanya kembali,
"Apa engkau tidak ikut datang ke pestanya Abu Layla (Bapaknya Layla). Semua orang diundang! Tidak pandang bulu, pengemis, pengembara, boleh datang semua".
Sontak Qays terbangun dari lamunan. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam rombongan.


Ketika Qays dan rombongan sudah mendekati tempat pesta, Qays melihat orang-orang sedang mengantri makanan. Wajah yang biasanya pucat karena derita cinta, tatapan kosong karena lamunan yang tiada akhir. Tiba-tiba jadi memerah. Qays sumringah. Qays penuh gairah. Oh Tuhan, ini rumah Layla, kekasihnya.


Saat itu, sudah banyak orang yang sudah berkumpul. Ada yang duduk, ada yang berdiri, makan dan minum. Sebagian orang yang berada di sana tentu kenal Qays sebagai anak kepala suku yang majnun (gila). Para penyair membaca syair indahnya. Perempuan penari perut turut serta meramaikan suasana. Beberapa pihak keluarga dibantu pembantunya memberikan piring dan menuangkan gule kambing serta roti kepada orang yang antri. Termasuk Layla di sana.


Tahu bahwa Layla ikut membantu memberikan piring dan menuang kuah gule, Qays senang bukan kepalang. Ia ikut antri di barisan yang ujungnya terdapat Layla.


Setelah antrian panjang, kini tiba giliran Qays di depan Layla. Dua keturunan Adam dan Hawa saling bertatapan. Lama. Layla memberikan piring Qays. Memberikan roti pipih khas Arab sambil menuang gule. Anehnya, Layla memegang erat piring yang sudah berada di tangan Qays.  Layla menarik piring tersebut. Dengan sengaja Layla menghempaskan piring ke bawah. Piring pecah. Gulai berserakan di tanah. Qays malah tersenyum tipis.


Setelah itu, Qays kembali lagi ke antrian belakang. Qays mengantri panjang. Sampai dihadapan Layla adegan piring pecah kembali terjadi. Layla memecahkan piringnya Qays lagi. Terus seperti itu berulang-ulang kali sampai gulai benar-benar habis.


Setelah acara selesai, para tamu mengerumuni Qays. Qays saat itu sedang senyam senyum.
Salah satu orang yang berkerumun angkat bicara, "Qays, apa engkau tidak malu, sudah dipermalukan Layla seperti itu. Sudahlah, sadar diri saja, yakinkan dirimu bahwa  Layla itu tidak menyukaimu".Seorang lain bertanya, "Mengapa engkau malah terlihat bahagia?" Qays menjawab, "Layla menginginkan aku untuk tidak lekas pergi. Ia ingin melihatku kembali."
Kisah cinta ini aku ambil dari buku ajar bahasa Arab. Tema Al hayatu Az zaujia, kehidupan rumah tangga. Sebenarnya lebih mengena jika diceritakan dengan bahasa aslinya. Tapi akan aku coba untuk bercerita:


Syahdan, ada seorang lelaki yang sangat tampan, ia mencintai bunga desa. Bunga desa ternyata juga memendam perasaan yang sama. Singkat cerita akhirnya mereka menikah. Mereka berbahagia.


Suatu hari, sang bunga desa mengalami sakit kulit. Hingga berubahlah wajah cantiknya menjadi jelek. Dihari yang sama, sang suami tiba-tiba buta. Mereka melangsungkan kehidupan rumah tangga selama 40 tahun dengan tetap berbahagia dan bergembira: mereka berinteraksi dengan saling mencintai dan saling memuliakan.


Hingga datanglah hari kematian sang istri. Sang suami sangat terpukul dan sangat bersedih hati. Di maqbaroh, setelah prosesi pemakaman selasai. Datanglah waktu ketika para pelayat pulang meninggalkan kuburan. Sang suami berdiri. Dari arah belakang terdengar suara menyapanya.
"Hendak kemana, Wahai Fulan?"
"Saya mau pulang ke rumah"
"Mari saya antarkan ke rumahmu"
"Tidak usah, Terimakasih"
"Bagaimana mungkin kamu tahu arah jalan pulang, sedang engkau buta".
"Saya tidak buta!!! Sesungguhnya saya pura-pura buta supaya saya tidak menyakiti hati istri saya".


Sang suami sesungguhnya tahu, waktu itu wajah istrinya menjadi jelek, maka dia memilih untuk pura-pura menjadi buta selama 40 tahun. Sehingga dia tidak menyakiti hati istrinya. Suami-istri saling mencintai, mengasihi dengan penuh kedalaman.

Jika aku diijinkan untuk membenci, aku akan membenci jurusan kuliahku; pendidikan bahasa Arab. Aku merasa minder, kerdil, kecil. Jika aku ditanya oleh banyak orang tentang jurusan kuliahku. Sering aku jawab jurusanku adalah bahasa Asing.


Di kampus kuliahku dulu, program studi pendidikan bahasa Arab di bawah naungan jurusan bahasa dan sastra Asing. Tidak pede dengan status kuliah di prodi pendidikan bahasa Arab tentu bukan hanya aku saja yang merasakan, sederet beberapa teman, adik tingkat juga. Bahkan diantara mereka, menulis identitas diri di akun sosial media dengan 'kuliah di bahasa Asing'.


Aku tidak tahu, gejala sosial apa saat itu. Kurang pedeku berawal dari sebuah universitas tempatku kuliah, adalah bukan universitas berbau agama. Bukankah bahasa Arab adalah bahasa agama? Kenapa tidak di IAIN saja. Kurang lebih, teman SMA waktu itu mengolok. Kebetulan teman SMA itu kuliah jurusan pendidikan bahasa Inggris, tapi di IAIN Walisongo. Aku olok ganti juga.


Gap atau gank diantara mahasiswa itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika gank itu dibagi menjadi dua, gank mahasiswa bodoh dan mahasiswa pintar. Secara garis besar, itulah yang terjadi, yang aku amati. Kemampuan bahasa Arabku enol besar. dengan dibuktikan IPK akhir yang terjun bebas. Tentu karena aku  tidak bisa meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku termasuk golongan mahasiswa aktif dan pintar. Maka berteman dengan mahasiswa-mahasiswa 'terbuang' adalah sebuah jalan ninjaku saat itu.


Waktu itu gank sangat kentara. Gank Mahasiswa pintar selalu melakukan aktivitas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa mereka: latihan debat bahasa Arab, khitobah atau pidato bahasa Arab, diskusi dengan bahasa Arab dan lain-lain. Sementara, gank mahasiswa pemalas berkumpul malam hari, tongkrong di Angkringan yang kami sebut sebagai Kucingan.

****
Waktu terus berlari, aku lulus dengan IPK pas-pasan. Sadar dengan kemampuan, aku tidak mungkin bisa mengajar, menjadi guru harus punya modal kualitas keilmuan. Kalau sekedar mengajar alif fathah A sin Domah Su, tentu aku bisa. Tapi kalau disuruh bercakap bahasa Arab, aku tiba-tiba sakit sarap.


Mungkin saja, sekelas madrasah ibtidaiyyah (setara SD) atau madrasah tsanawiyah (setara SMP) bahasa Arab masih dasar, mungkin aku masih bisa dengan kemampuan pas-pasan. Aku mencoba untuk melamar sebagai guru honorer di banyak MI, MTs, yang terjangkau jaraknya dari rumah. Tapi satu madrasah pun tidak ada respon. Pernah ada respon, dari MTs model unggulan, aku dipanggil kepala madrasah. Aku senang bukan kepalang. Inti dari wawancara tersebut aku disuruh merevisi redaksional surat lamaran. Aku revisi sesuai keinginan kepala madrasah. Dan revisian surat lamaran tidak ada follow up sampai sekarang.


Aku pikir, meski jadi guru adalah impian ibu, aku tdk punya akses jalan menuju sana. Aku banting setir, aku ingin jadi karyawan saja. Sudah sarjana, malu tidak dapat kerja. Aku taruh lamaran di Pabrik mana saja, sebagai tenaga apa saja. Seorang kakak tingkat jurusan seni rupa, mengajakku untuk menjadi asisten animasi. Aku ikuti, meski tidak ada jiwa-jiwa seni dalam diriku, aku bisa belajar. Animasi yang kami buat selalu kejar tayang di stasiun televisi swasta. Lembur setiap hari. Lelah tubuh karenanya. Kurang lebih tiga bulan aku mengundurkan diri.


Aku cari kerja lagi. Buah ikhtiar itu merekah, aku diterima sebagai sales profider kartu telpon prabayar. Asik juga, berangkat pukul 08:00 pulang 17:00, kerja di lapangan. Sebagai sales, tentu ada targetnya: per minggu 20 juta saat itu. Sangat enteng bagiku, karena ada satu outlet di wilayahku yang setiap minggunya selalu hampir di atas 15 juta. Tapi aku merasa ini bukan duniaku. Menjadi sekrup kapitalisme yang semu.

****
Aku bingung, setan jenis apa yang merasukiku saat itu, ketika Dulpahmi teman sejak SMA hingga kuliah S1, mengajak lanjut kuliah magister, ajakannya seolah seperti jampi. Aku mau.


Singkat cerita, aku lulus magister dengan tulisan tesis ala kadarnya. Tidak jauh seperti skripsi S1 yang sebagai syarat lulus saja.


Seorang teman jurusan bahasa Perancis mengontakku. Dia bertanya, apakah bersedia menjadi penerjemah Arab-Indonesia, Indonesia-Arab, di laman koran harian online. Aku jawab mau. Aku mengirim CV dan contoh teks terjemahan seadanya. Aku tidak berharap banyak dengan pekerjaan ini. Aku sadari kemampuan terjemahanku pas-pasan dibuktikan dengan 3SKS matakuliah tarjamah nilai BC di transkip nilai.


Namun, setelah beberapa minggu. HRD koran online menelepon aku. Bahwa sudah seleksi berkas, aku yang dipilih oleh pimpinan perusahaan. Surat kontrak perjanjian kerja sudah dikirim via email dari Jakarta. Tinggal aku tanda tangani dan aku kirim ulang lagi.


Dipekerjaan itulah sebenarnya aku banyak belajar, sesuatu yang aku benci (bahasa Arab), eh malah sebagai ladang nafkah untuk anak istri. Aku selalu berfikir positif, bahwa Tuhan selalu tidak teganan. Malu-malu aku harus akui, semua ini juga berkat dari guru-guru, dosen-dosenku dulu.


****

Antara bulan Agustus dan September. Biasanya, kampus almamaterku mempunyai hajat besar. Ulang tahun program studi. Diantara perhalatan besar itu, biasanya akan ada acara perkumpulan alumni. Tentu saja, aku tidak pernah ke sana, selain jauh, sebagai proletariat uang pas-pasan. Tentu saja, aku termasuk gank mahasiswa pemalas dan bodoh. Tidak akan betah hadir di acara-acara resmi tersebut.


Tapi ada hal yang mengusik perhatianku. Dari tahun ke tahun acara alumni tersebut adalah ajang pamer diri alumni. Alumni yang selalu menjadi pembicara selalu adalah orang yang sudah mapan. Punya karir yang bagus. Seolah sedang mengkomunikasikan bahwa, kuliah di Program Studi Pendidikan bahasa Arab akan mendapatkan peluang kerja yang luar biasa.


Mari kita akui bersama. Sekarang ini, segalanya dipandang, dinilai, berdasarkan materi, berdasarkan uang. Kejahatan kapitalisme inilah sumbernya. Asesor Akreditasi perguruan tinggi pada program studi, akan menilai. Penelusuran alumni sampai mana, sudah bekerja sebagai apa. Sebenarnya inti dari inti pertanyaannya adalah alumnimu Sudah bisa menghasilkan uang sebanyak berapa.


Tidak mungkin BAN PT akan menilai: oh alumnimu sudah banyak menjadi orang baik. Sudah banyak yang berlaku jujur. Sudah bisa memanusiakan manusia. Sudah berani menyuarakan mustadhafin yang berhak dibela.


Terkadang juga aku merasa sedih. Tag line yang digembor-gemborkan kuliah jurusan bahasa yang menurut Rasul Muhammad  bahasanya ahli Surga, setelah lulus bisa langsung kerja, kok seolah kita mengkerdilkan diri, menyamakan diri dengan 'SMK pasti Bisa'. 😣


Tulisan panjang lebar, kali tinggi ini sebenarnya bukan bermaksud apa-apa. Bukan bermaksud aku membanggakan apa-apa, tentang diriku, karena tidak ada hal yang patut aku banggakan. Dan aku juga bukan orang hebat, karena hidup itu bukan hebat-hebatan. Aku orang biasa seperti Anda, yang terus berproses belajar. Belajar membuka diri,  belajar memandang sesuatu pandangan baru, kuliah di bahasa Arab bagiku, ujung-ujungnya bukan sekedar uang, bukan pula kedudukan, pekerjaan, jabatan, bukan. Tapi keberkahan.



Berkah itu kalau tidak salah adalah bertambahnya kebaikan. Sesuatu yang di alam kapitalisme tidak memuat unsur ini. Kalau tidak salah, banyak sekali alumni yang bisa ditelusuri yang berkah ini, mereka mungkin saja hanya sekedar di rumah sebagai ibu rumah tangga tapi kehidupannya berkah. Atau mereka yang pagi harinya berniaga di pasar dan malam harinya mengajarkan anak-anak ngaji. Pendidikan bahasa Arab itu, harus terbang tinggi, lepas dari urusan dunia kapitalisme.


Selamat berpuasa...

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE