Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Cerita asal-usul ilmu Nahwu banyak dalam berbagai literatur Arab klasik. Dikisahkan, tokoh yang pertama kali mengkonsep, meng-epistemologi, aksiologi, hingga meng-ontologi Ilmu Nahwu (dan tata bahasa Arab lainnya–sharaf). Adalah Abu Aswad Ad Du'ali. Seorang Tabi'in yang tsiqah riwayat haditsnya.


Dalam buku Qowaidu Nahwi Bi Uslubi Al Ashri, karangan Muhammad Bakar Ismail, salah satu pengajar di Universitas Al Azhar, Kairo. (Saya ngaji kitab ini dari dosen saya Ustadz Yusuf Ahmad Hasyim, semoga Allah memberikan kesehatan selalu kepada beliau). Diceritakan, bahwa sebenarnya penggagas Ilmu Nahwu adalah  Imam Ali bin Abi Thalib. Abu Aswad, adalah salah satu pengikut beliau yang pandai dalam bahasa, maka Abu Aswad yang didelegasikan langsung oleh Imam Ali untuk merumuskan Nahwu.


Ada banyak faktor,  kenapa Nahwu harus lahir sebagai Ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah kesulitan orang Ajam (non Arab) dalam mempelajari dan menyampaikan perkataan bahasa Arab, sebagai bahasa agama dalam Al-Qur'an.


Sebelum Nahwu (dan Sharaf ) lahir. Orang Ajam, akan selalu kesusahan. Bahkan orang-orang Arab sendiri pun juga kesulitan dalam menerka bahasa Al-Qur'an. Banyak kisah tentang orang-orang yang menafsirkan ayat Alquran karena kesalahan nahwu. Masyhurnya cerita surat At Taubah, misalnya. Baca  Kesalahan bacaan Nahwu

Manusia modern,  selalu mendapatkan kabar apapun dengan sangat cepat. Kabar duka, lara, hingga kegembiraan, pernikahan. Biasanya kabar² itu bisa diakses dalam platform WhatsApp Grup (selanjutnya ditulis WAG).

Dalam WAG, para anggota WAG bisa berbagi informasi. Saya punya WAG yang anggotanya multi budaya dan agama. Sebuah WAG hobby. Jumlah anggotanya ratusan. Kami sering berbagi informasi apa saja. Salah satunya adalah informasi kematian seseorang.

Nah di sana letak masalah terjadi. Fomo penggunaan stiker bahasa Arab, untuk membalas informasi di WAG, kadang begitu banyak. Celakanya, jika informasi yang meninggal dunia adalah laki-laki, beberapa peserta WAG membalasnya dengan dhamir (kata ganti perempuan). Atau semisal, informasi yang sakit adalah orang ketiga (dia), namun yang terjadi adalah, do'a dalam stikernya menggunakan kata ganti orang kedua (Syafakallah).

Ini mungkin sulit dijelaskan. Ketika peserta WAG, yang latah menggunakan stiker WA, do'a dalam bahasa Arab, agar terlihat lebih khusuk mungkin, atau agar terlihat religius dan islami. Namun sejatinya, tata bahasa mereka salah besar.

Fenomena ini sebenarnya saya sambil lalu, toh saya tidak punya kewajiban menjelaskan hakikat kebenaran. Terlebih situasi dalam WAG tidak kondusif jika terjadi perselisihan. Saya lebih menghindari keributan.

Saya jadi teringat kepada guru saya, K.H. Abdul Basyir, kalau tidak salah beliau asal Brebes dan menjadi salah satu santri kinasih K.H. Muslih Mranggen (salah satu pendiri Tarekat Jatman yang berafiliasi dengan NU), hingga beliau mendirikan sendiri pesantren di Mranggen.

Dari beliau saya kenal nadzam-nadzam Al Imrithi dan Alfiyah. Dan saya sebagai murid yang paling bebal di kelas, selalu dihukum berdiri depan kelas karena tidak hafal setoran nadzam yang sudah menjadi deadline itu. Terus terang, saya malu, stres, dan rasanya ingin pulang saja tidak perlu menjadi santri lagi. Tapi beliau dalam menghukumku, penuh dengan cinta. “Ziz, Ziz, adoh-adoh saka Tegal, setoran nadzam ora tahu apal“. Beliu berkata seperti itu dengan sangat memaklumiku.


Tanda cinta tidak harus dengan bunga. Mungkin begitu kira-kira yang bisa menggambarkan para kiai dan guru dalam membimbing muridnya. Hingga keberkahan itu memunculkan ndarunya. Beberapa minggu yang lalu, beliau sowan kepada Allah untuk selamanya.(Dalam sedih saya berdoa: Insya Allah, beliau dimaafkan segala kesalahannya, diterima semua amal baiknya).


Sebagaimana beliau memaklumi kebebalan dan kebodohan otakku, mungkin saja saya juga harus maklum terhadap do'a-do'a yang dipanjatkan dalam WAG meskipun salah dalam kaidah Nahwu.


Karena doa yang khusu'. Ucapan yang tulus, yang tidak hanya membagikan stiker yang bisa melampaui langit-langit kesadaran manusia. Menyalip dzikirnya malaikat. Sebagai wujud partisipasi sosial yang paling rendah. Tidak hanya sebatas terkotak dalam lingkaran kaidah bahasa yang tidak mungkin bisa berubah.



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE