Pertama, aku memohon ampun pada Allah, Tuhan seluruh alam. Atas apa yang selama ini aku lakukan. Kedua, aku meminta maaf yang sangat dalam. Pada banyak pihak yang termaktub secara terbuka atau tersirat dalam catatan ini. Aku tidak bermaksud untuk membuka dosa, aib, atau apapun itu sebutannya. Catatan ini hanya akan diposting di blog pribadiku. Tentu saja di sana sepi. Adapun jika ada pembaca yang mampir, berarti bonus, dan mungkin selebihnya musibah. Tujuan catatan ini adalah pembelejaran untuk anak-anakku kelak. Bahwa masih ada asa untuk Indonesia.
.
.
Difa, anakku. Cuaca akhir oktober tahun ini sangat panas. Di Tegal, tercatat dalam aplikasi hampir mendekati 38 derajat suhu panasnya. Yah, di luar sangat panas, tapi di dalam diri kita harus selalu sejuk. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini [yang mungkin akan membuat bertambah panas], aku sarankan untuk memutar lagu kesukaanmu.
.
.
Ini adalah catatan dari desa, untukmu, Difa. Budayawan asal Semarang pernah menulis, kurang lebih begini: "saya tidak korupsi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk koropsi". Lha mau korupsi bagaimana. Kesempatan tidak ada, jabatan tidak punya. Kewenangan apalagi. Dia menyadari, dia hanya budayawan. Bukan pejabat. Atau konglomerat yang bisa menyuap. Dalam catatan lanjutannya. Dia akan ragu pada dirinya sendiri, jika seandainya dia berada dalam posisi pejabat. Kemungkinan besar, dia tidak akan kuat untuk tidak korupsi.
.
.
Sialnya, laku korupsi, dalam penafsiranku, lebih luas, tidak hanya tentang merugikan uang negara. Menjadi pegawai pemerintahan atau pejabat itu sangat berpeluang untuk korupsi. Tetapi lebih merucut lagi: menjadi seorang hamba penyembah Tuhan juga penuh resiko untuk berlaku korup. Korup imannya, korup ibadahnya, korup shalatnya. Korup zakatnya. Korup hablu minnasnya. Dan lain sebagainya. Dalam arti luas, mungkin aku dan kamu adalah koruptor.
.
.
Sayangnya, aku tidak begitu mendalam memahami undang-undang tindak pidana korupsi di negeri ini. Sebagai pegawai semi pemerintahan, aku masih bisa bernafas lega ketika terlambat. Juga masih bisa menghirup kopi ketika deadline kerja belum terpenuhi. Tidak hanya aku, organisasi- organisasi yang aku dampingi mungkin juga begitu. Mungkin.
.
.
Di tengah iklim kerja yang seharusnya penuh kompetisi sehat, tidak jarang, konflik terjadi dalam organisasi. Terkadang aku sangat menyayangkan. Konflik di tubuh organisasi tidak termanajemen dengan baik. Padahal konflik ini, jika termanajemen dengan rapi, mungkin akan berakibat positif dalam iklim kerja. Perlu sentuhan tangan stake holder di atas tingkat organisasi yang aku dampingi.
.
.
Bagiku, yang pria kagetan. Di dunia ini apa yang tidak anomali. Semua kadang tampak aneh. Aturannya berbunyi A, tapi di lapangan kenyataan adalah B. Bahkan ada yang melenceng jauh, Z!
.
.
Desa adalah miniatur Indonesia. Desa bagian dari Indonesia, ataukah Indonesia bagian dari desa? Ini sangat penting. Guna menentukan sikap, siapa yang sebenarnya yang paling berwenang. Siapa yang sesungguhnya membutuhkan.
.
.
Catatan ini sangat nanggung. Ditulis seorang pria yang galau. Sok idealis. Tapi seaslinya pragmatis. Jika kata Tan Malaka: 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.' Maka, si pria penulis ini adalah, tidak mempunyai kemewahan apa-apa. Tidak mempunyai kemewahan dalam idealis. Juga tidak punya kemewahan harta benda.
.
.
Ditulis pada hari Blogger Nasional 2019
.
.
Difa, anakku. Cuaca akhir oktober tahun ini sangat panas. Di Tegal, tercatat dalam aplikasi hampir mendekati 38 derajat suhu panasnya. Yah, di luar sangat panas, tapi di dalam diri kita harus selalu sejuk. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini [yang mungkin akan membuat bertambah panas], aku sarankan untuk memutar lagu kesukaanmu.
.
.
Ini adalah catatan dari desa, untukmu, Difa. Budayawan asal Semarang pernah menulis, kurang lebih begini: "saya tidak korupsi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk koropsi". Lha mau korupsi bagaimana. Kesempatan tidak ada, jabatan tidak punya. Kewenangan apalagi. Dia menyadari, dia hanya budayawan. Bukan pejabat. Atau konglomerat yang bisa menyuap. Dalam catatan lanjutannya. Dia akan ragu pada dirinya sendiri, jika seandainya dia berada dalam posisi pejabat. Kemungkinan besar, dia tidak akan kuat untuk tidak korupsi.
.
.
Sialnya, laku korupsi, dalam penafsiranku, lebih luas, tidak hanya tentang merugikan uang negara. Menjadi pegawai pemerintahan atau pejabat itu sangat berpeluang untuk korupsi. Tetapi lebih merucut lagi: menjadi seorang hamba penyembah Tuhan juga penuh resiko untuk berlaku korup. Korup imannya, korup ibadahnya, korup shalatnya. Korup zakatnya. Korup hablu minnasnya. Dan lain sebagainya. Dalam arti luas, mungkin aku dan kamu adalah koruptor.
.
.
Sayangnya, aku tidak begitu mendalam memahami undang-undang tindak pidana korupsi di negeri ini. Sebagai pegawai semi pemerintahan, aku masih bisa bernafas lega ketika terlambat. Juga masih bisa menghirup kopi ketika deadline kerja belum terpenuhi. Tidak hanya aku, organisasi- organisasi yang aku dampingi mungkin juga begitu. Mungkin.
.
.
Di tengah iklim kerja yang seharusnya penuh kompetisi sehat, tidak jarang, konflik terjadi dalam organisasi. Terkadang aku sangat menyayangkan. Konflik di tubuh organisasi tidak termanajemen dengan baik. Padahal konflik ini, jika termanajemen dengan rapi, mungkin akan berakibat positif dalam iklim kerja. Perlu sentuhan tangan stake holder di atas tingkat organisasi yang aku dampingi.
.
.
Bagiku, yang pria kagetan. Di dunia ini apa yang tidak anomali. Semua kadang tampak aneh. Aturannya berbunyi A, tapi di lapangan kenyataan adalah B. Bahkan ada yang melenceng jauh, Z!
.
.
Desa adalah miniatur Indonesia. Desa bagian dari Indonesia, ataukah Indonesia bagian dari desa? Ini sangat penting. Guna menentukan sikap, siapa yang sebenarnya yang paling berwenang. Siapa yang sesungguhnya membutuhkan.
.
.
Catatan ini sangat nanggung. Ditulis seorang pria yang galau. Sok idealis. Tapi seaslinya pragmatis. Jika kata Tan Malaka: 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.' Maka, si pria penulis ini adalah, tidak mempunyai kemewahan apa-apa. Tidak mempunyai kemewahan dalam idealis. Juga tidak punya kemewahan harta benda.
.
.
Ditulis pada hari Blogger Nasional 2019