Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

“Om, sehat? awet ya sejak aku SMA.”

Alhamdulillah mas. Jawabnya singkat sambil tertawa. Saya bayar dan tentu saja murah. Dari tarif umumnya.

Dia adalah kernet di bus Santoso. Bus kecil semacam Tayo. Jurusan Tegal Pemalang Moga. Senyumnya masih sama. Kaosnya dari dulu hanya itu, berkerah dan mungkin baju seragam kebesaran PO busnya. Celananya masih sama. Kain hitam panjang. Sendal jepit. Yang berbeda hanya rambutnya kini lebih banyak putihnya. Yang saya amati, dia sudah gonta-ganti pasangan partner supir. Tapi menurutku dia adalah kaptennya di sini.

Dia pengatur ritme jalanan. Dia tahu kapan harus ngetem berhenti lama. Kapan harus ngebut berpacu waktu. Saya lihat dia tak bawa jam tangan. Tapi presisi ketepatan waktu dia memiliknya. Sepertinya para akademisi dan politisi yang suka terlambat harus belajar banyak pada dia.

Terbukti, dulu saya akan tertinggal busnya jika terlambat satu menit saja. Kemudian ruang BK dan segala hukumannya sudah menunggu saya.

Puluhan tahun dia di jalanan. Membuat dia betul-betul sebagai seniman. Dia tahu jam-jam kendor dan jam-jam ramai. Ini adalah seni. Senyumnya yang khas. Ramahnya dengan berbagai penumpang. Busnya selalu ramai.

Dia semacam dewa dewi, punya penglihatan irfan ilahi. dia tahu betul-betul mana yang penumpang asli atau penumpang gadungan. Dia memitagasi berbagai kejahatan. Pencopetan yang paling sering katanya. Dia ingin memastikan penumpangnya aman. Ah andai dia ini penyelenggara negara, yang memastikan keamanan warganya.

Gen saya ini dan mungkin gen di bawah saya, jika sebagai pekerja banyak tipikal pekerja jop hopper. Atau kutu loncat. Dia kebalikannya. Dan mungkin banyak orangtua kita dulu, sepantarannya adalah tipikal pekerja stayer. Dia loyal kepada pekerjaan. Dedikasinya patut kita contoh.

Tentu saja dia sudah merasakan berbagai pahit manisnya di jalan. Ramai dan sepinya penumpang adalah hal biasa. Ramai disyukuri. Sepi juga di-alhamdulillahi. Ratusan, mungkin ribuan orang sudah dia antar. Cerita-cerita para pedagang yang menumpang sudah berapa episode yang dia dengar. Kisah klasik para pengamen jalanan. Calo yang dia berdayakan. Preman yang harus dia ajak damai.

Saya tidak tahu sudah berapa generasi anak sekolah yang sudah dia antar. Sekarang sudah menjadi orang besar. Saya masih ingat kebaikannya. Suatu kali. Kakak kelasku kehabisan uang. Dia satu kecamatan dengan saya. Dia meminta uang ku yang seribu untuk memenuhi pembayaran kepada Om Kernet itu. Dia malah mengangguk, ketawa dan meledek kami berdua. Ahhh hutang rasa yang tidak pernah aku bayarkan.

******
Tulisan ini, dibuat 1 Mei. Menuliskan sejarah dedikasinya om kernet pada kehidupan ini.

Jake Sabay Clemente, musisi asal Manila Filipina, beberapa bulan yang lalu, melalui lagunya, FYP di media sosial dengan tokoh fiksinya Ernesto. Ia menyanyikan lagu Still Waiting at The Door. Aku masih setia menunggumu di depan pintu. Secara fisik, Ernesto digambarkan sebagai pria paruh baya yang tampak bersahaja. Wajahnya memiliki garis-garis kelelahan, sering kali mengenakan pakaian pekerja kasar atau tukang kayu mengenakan kaos lusuh. Seorang pria yang telah bekerja keras seumur hidup namun menyimpan luka batin yang besar. Sayangnya, ia hanya karakter AI. Penampilan ini diciptakan menggunakan teknologi untuk memunculkan kesan seperti asli.


Ernesto bukan sekadar karakter, dia adalah representasi dari sisi rapuh seorang pria. Di banyak budaya, pria sering kali dituntut untuk kuat dan tidak menunjukkan kesedihan. Ernesto mendobrak itu. Melalui suaranya yang serak dan penuh beban, dia mewakili setiap pria yang merasa kesepian, gagal move on, atau merasa tertinggal oleh waktu sementara dunia terus berjalan.

Di belantika musik Arab, kita bisa temui, Basrah wa Atooh (2022?). Tersesat di Labirin Kenangan. Lagu Basrah wa Atooh. secara harfiah berarti Aku melamun dan tersesat, adalah salah satu karya paling melankolis Band Cairokee asal Kairo Mesir. Lagu ini menceritakan tentang kondisi psikologis seseorang yang raganya ada di masa kini, namun jiwanya tertinggal jauh di masa lalu. 


Di Indonesia, tentu saja ada The Godfather of Broken Heart. Didi Kempot. Salah satu lagunya adalah Tanjung Emas Ninggal Janji. Sama-sama pria yang menunggu.

Pria yang menunggu ketidakpastian. 


Saya teringat film Interstellar (2014). Seorang pria bagiku yang sangat menyedihkan. Di masa depan yang tidak terlalu jauh, Bumi sedang sekarat. Badai debu raksasa dan wabah penyakit tanaman (hawar) menghancurkan sumber pangan dunia, membuat oksigen semakin menipis. Manusia dipaksa kembali menjadi petani hanya untuk bertahan hidup.

Joseph Cooper, seorang mantan pilot penguji NASA yang kini menjadi petani jagung, secara tidak sengaja menemukan koordinat rahasia melalui fenomena gravitasi yang terjadi di kamar putrinya, Murph. Koordinat tersebut membawanya ke markas rahasia NASA yang dipimpin oleh Profesor Brand.

NASA mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan sebuah lubang cacing. Wormhole. Itu di dekat Saturnus yang diduga ditempatkan di sana oleh entitas misterius. Lubang ini adalah pintu menuju galaksi lain. 

Cooper direkrut untuk memimpin kru kapal Endurance guna menyusul misi sebelumnya. Misi Lazarus. Ia harus meninggalkan keluarganya, termasuk Murph yang merasa dikhianati oleh kepergian ayahnya, untuk mengunjungi tiga planet potensial: Miller, Mann, dan Edmunds.

Perjalanan ini penuh resiko, karena adanya dilatasi waktu. Karena lokasi planet-planet tersebut dekat dengan lubang hitam raksasa bernama Gargantua, waktu berjalan jauh lebih lambat bagi para kru dibandingkan dengan orang-orang di Bumi. Satu jam di sana sama dengan 7 tahun di bumi.

Ini bukan metafora. ini fisika Einstein. Semakin kuat gravitasi di sekitar, maka semakin lambat waktu berjalan. Kip Thorne, fisikawan hadiah nobel. Saat Cooper kembali ke kapal ternyata sudah 23 tahun yang lalu, anaknya sudah tumbuh dewasa, menikah, dan punya anak. Cucu-cucunya sudah tumbuh dewasa. Tapi Cooper masih dengan wajah yang sama, masih tubuh yang sama, karena buat dia hanya beberapa jam yang lalu.

Anggapan sebagian orang mungkin ini keren. Bagi saya ini bukan soal hidup abadi. Tapi soal hidup jauh lebih lama dari semua orang yang dicintai. Cooper masih ada, tapi ia kehilangan segalanya yang hidupnya berarti.

Ternyata itu bukan anugrah, tapi hukuman, dia menyaksikan orang yang dia cintai pergi satu persatu. Dan dia masih di sini tapi untuk siapa?

Film interstellar bukan hanya analogi, tapi fisikanya asli. Ernesto juga bukan hanya rekaan AI, namun budayanya ada di banyak belahan bumi. Lagu-lagu Cairokee tidak sekadar melodi, tapi jejak jiwa yang tertinggal dalam di hati. Dan Didi Kempot tidak sedang bernyanyi, ia sedang mewakili mereka yang tak pernah selesai. Ketika saya temui seorang kakek di masjid Agung Pemalang, berjamaah salat Isya. Ia menghabiskan sisa hidupnya menjual ketan bakar di sudut alun-alun Pemalang, sudah tidak ada siapapun yang menunggunya di rumah ketika ia pulang.  Saya dedikasikan tulisan ini untuk Kawan Temanggung dan Jepara saya.


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE