Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Menu Blog

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

DearHilwa, #DearDifa, #DearAsfar


Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan semoga dijauhkan dari segala hal yang berbahaya. Berbahaya itu luas maknanya. Berbahaya untukku saat ini. Atau berbahaya saatku nanti. Itu yang diajarkan bapakku dulu.


Hari-hari ini, tahun-tahun ini, saya sibuk dengan urusan duniawi. Seolah hasil dari usaha-usaha dan ikhtiar ini akan terus langgeng abadi. Tentunya tidak. Kesederhanaan bapakku dulu, yang sirkel pertemanannya hanya satu desa, dan tidak muluk-muluk menjadi apa atau siapa, perlu saya ceritakan kembali padamu. Tentu sebagai tanbih untuk ku.


Bulan Desember seharusnya turun penghujan. Cuaca semestinya dingin. Tapi sebaliknya suhu hati dan pikiran selalu memanas. Memikirkan nasib, bagaimana selanjutnya hari esok nanti. Makan apa saya nanti. Apa nanti segala cita dan mimpiku terpenuhi. Segala kemungkinan pasti ada dan terjadi. Dan itu sudah terjadi pada banyak lelaki tua, payah, dan miskin di sekitar saya: tua dalam keadaaan mengenaskan. Tidak dihiraukan.


Kalau tidak seperti itu, kemiskinan, kemelaratan, dan kepenyakitan membayangi-bayangi setiap lelaki yang tidak pasti di masa sekarang atau masa tua nanti. Mungkin ini, salah satu perlunya asuransi. Segala provider asuransi banyak beriklan, tapi jangankan asuransi, nasib kita hari ini?


Aihhh #DearDifa, berbagai cerita selama umurmu 6 tahun ini, telah kita lewati bersama. Susah sedihnya. Dan Allah sendiri yang menjamin kita, detik ini juga masih tertawa. Dan #DearHilwa, 2 tahun umurmu lebih, kita Insya Allah akan selalu berbahagia. Kita akan menggambarkan kisah-kisah penuh kegembiraan. 


Hari ini, bapakku, tepat sudah 20 tahun menghadap Allah. Banyak kisah-kisah yang sebenarnya saya ingat-ingat lupa. Tetapi lelaki itu, duhai #DearAsfar adalah lelaki yang sederhana. Proses hidupnya yang menempa menjadi lelaki apa adanya.


Maka, ketika saya memutar album Iksan Skuter 'Bapakku Indonesia', yang setiap pagi kita dengar bersama, ingatan-ingatan itu semakin jelas.


Lagu 'Pulang', adalah salah satu favorit saya. Lelaki dengan segudang prestasi kegagalannya. Merantau, tapi gagal. Lapar dan kedinginan tak berkesudahan. Merindukan pulang ke rumah, pada sore hari di teras duduk bersama bapakku ditemani teh panas ibu. Setelah gagal, ingin pulang, merindukan hal-hal yang sederhana: tidur di kasur empuk, diselimuti bapak, makan sayur bayam masakan ibu. Bagi saya, yang sudah 20 tahun berlalu, untuk mencapai itu, tentu tidak mungkin lagi di dunia ini: diselimuti bapak.


Lagu judul 'Bapak', Iksan skuter. Adalah hal yang mustahil lagi bagi aku. 

Ada manusia yang paling ingin aku peluk,

Tapi aku malu....

Tidak juga malu sebenarnya,

Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa,

Orang yang sepertinya tak peduli dengan apa yang kulakukan.

Diam-diam bertanya kabarku.

Diam-diam menanyakan segala hal tentangku pada ibu.

Melalui lagu ini, Iksan mengejawantahkan padaku, bahwa saya ini tidak mungkin lagi akan memeluk bapakku. Meskipun saya sudah dewasa. Keangkuhan-keangkuhan ku tidak bisa menembus waktu. 


Lagu, 'Nak Jangan Seperti Bapak', seolah bapakku sendiri yang mengatakannya langsung: 

Janganlah seperti bapak, yang, susah mewujudkan mimpinya. 

Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki. 

Ku iringi doa dari hati kami. 

Bapakku entah bagaimana mestinya, bagaimana keadaannya di sana, masih saja mendoakan aku, menyertakan langkah-langkahku. Lelaki sederhana itu, tamatan SLTA pada jamannya, membuang predikat apa saja. Tidak gila jabatan untuk menjadi kepala sekolah. Dan lebih memilih menemani masa-masa kecilku. Memboncengku dengan sepeda butut itu, kedua kakiku diamankan dengan tali yang terbuat dari sobekan kain agar tidak masuk ke jeruji besi sepeda itu.


Lagu 'Yang Ku Ingat Dari Mu', masih di Album Bapakku Indonesia: 

Yang kuingat darimu

Kau bisa membuat Masakan yang enak

Disaat ibu bepergian. 

Yang kuingat darimu

Terkadang dirimu joget dan melucu. Agar kami semua tertawa bahagia.

Itulah dirimu yang katanya ibu, lelaki tak romantis itu. 

Itulah dirimu yang kata tetangga galak tak pandai melucu.


Dari lagu ini, saya ingat, beberapa murid bapakku dulu, sangat sayang pada bapakku. Mereka mengatakan langsung padaku saat beberapa tahun lalu kami bertemu. Ini bukan sekedar klaim sepihak. Bahwa bapakku dulu, galaknya luar biasa. Tapi entah bagaimana, ia amat disayang para murid²nya. Metode dan strategi seperti apa yang dulu dia terapkan saat mengajar. 


Bapakku tentu orang yang humoris, setidaknya hanya denganku. Banyak banyolan-banyolan yang sering kami ulang² bersama, dan kami tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang biasa saja. Tapi kami bahagia. Pernah juga saya melihat dia menangis. Momen itu, adalah saat saya baru pulang dari khitan. Beliau merangkul pundakku sambil kami berjalan, dan berkata lirih: “aku khawatir”. 


Bapakku tentu tidak tahu teori-teori apa itu kesetaraan gender. Feminimisme. Tapi dari dialah saya belajar praktik bagaimana memperlakukan perempuan kesayangannya, berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, adalah hal biasa.


Lagu 'Pesan Untuk Mu', masih di Album yang sama: Jaga kehormatanku

Sepertiku menjagamu

Saat nanti ku mati

Ingat slalu pesanku.

Syair lagu ini, adalah lirik tentang pesan, agar aku tetap berintegritas sebagai manusia. Bagaimanapun pun keadaan ku sekarang dan nanti. Menjaga kehormatan bapakku adalah hal yang wajib, yang saya junjung tinggi: Integritas sebagai manusia. 


Pada akhirnya lagu 'Serigala Petarung' sebagai Gacuk atau senjata rahasia pemungkas untuk mengobarkan api semangat:

Aku takkan menyerah, tak lelah.

Aku takkan menangis, 

Mimpiku tak pernah habis.


#DearAsfar, insya Allah, jika diberi kesempatan, kesehatan, saya akan menemani mu menjadi lelaki yang lebih keren dari Bapakku. Bapakku menginggal dalam usia muda, aku ingin menemani mu sampai aku tua .

Dua puluh tahun yang lalu, lalu hujan turun memenuhiku, seakan diriku dengan Bapakku di teras rumah, ditemani teh panas ibu.

Alfatihah....

#DearAsfar

#DearHilwa

#DearDifa



Ada banyak alasan kenapa saya harus menyimak ngaji Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla, meskipun saya jarang ikut ngaji secara live. Namun dalam kesibukan aktivitas saya mencari keberkahan duniawi, Insya Allah saya sempatkan mendengar lewat rekaman di Spotify.


Diantara alasan itu adalah, metode ngaji. Meskipun yang dikaji pembahasan tasawuf hingga tauhid dan filsafat ala Imam Ghazali, yang cukup memeras otak dan membuat kernyitnya dahi. Metode Gus Ulil, seperti metode pesantren klasik; gramatika tarjamah tidak ditinggalkan. Pasti disisipi nahwu sharaf dalam pembahasan.


Selain itu, bagi saya Gus Ulil ini sosok yang unik, anak kiai yang berasal dari pesantren tradisional yang konservatif. Hingga jalan intelektualnya yang mengenyam pendidikan di Amerika. Maka tidak jarang, dalam ngaji istilah-istilah asing juga sering disebut. Tokoh-tokoh orientalis atau pemerhati Islam dari barat juga tidak luput dibahas. Tentu ini, menjadi literasi pengembangan wawasan santri.


Dalam ngaji terkahir, kitab Al Iqtishad fi Al I'tiqad – tentu saja karya Al Ghazali. Ini sedang seru-serunya pembahasan perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, tentang apakah kelak Tuhan bisa dilihat oleh manusia?


Sebagai santri yang tumbuh di kalangan pesantren NU, yang sudah mengenyam ilmu akidah Imam Abu Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidzi, tentu sudah terbiasa mempelajari “doktrin-doktrin” ilmu tentang ke-Esa-an Allah. Namun bagaimana ajaran tauhid Asy'ari dengan nalar-nalar Imam Ghazali mementalkan ajaran Mu'tazilah? Mu'tazilah ini adalah ahli dalam berlogika. Tapi justru logika ini dipatahkan oleh imam Al Ghazali.


Inilah salah satu keseruannya.


Sebelum membahas lebih dalam ke sana, Saya ingin berkisah lebih dahulu. Saat saya mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam negeri, saya mendapatkan dosen favorit. Dia mengampu mata kuliah Filsafat Bahasa. Dari beliau, Filsafat yang bagi saya dan teman-teman di kelas itu sukar karena kerumitannya, dibuat kelas yang hidup dan menyenangkan. Diskusi-diskusi filsafat yang sering diselingi canda tawa. Nah beliau ini mengaku berfaham Mu'tazilah.


Dari sini stereotip saya tentang Mu'tazilah berbeda. Bahwa dulu, ajaran Mu'tazilah itu sesat dan menyesatkan itu, ternyata jauh dari itu. 


Mereka memang mengedepankan nalar dalam beragama, memang iya. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan. 


Kembali ke laptop.


Kitab yang dibahas Gus Ulil, Al Iqtishad fi Al I'tiqad karya Imam Al Ghazali, Kata Al Iqtishad sendiri bermakna jalan tengah dan fi Al I’tiqad berarti dalam masalah akidah. Jadi kitab Al Iqtishad membahas jalan tengah dalam akidah. Jalan tengah yang dipilih Al Ghazali dalam kitab ini merupakan ciri beliau dalam bersikap dalam aqidah.


Mu'tazilah mengatakan bahwa di hari kelak, Allah tidak bisa dilihat oleh manusia. Bagaimana mungkin Allah bisa dilihat? Mu'tazilah menyatakan: Sesuatu bisa dilihat itu harus masuk dalam ruang dan waktu. Masuk dalam suatu arah. Misal, jika si A melihat si B, si A melihat si B harus dalam arah: depan, belakang, samping kanan, samping kiri, tengah, atas, dan bawah, itu adalah arah. Masuk ruang dan waktu. Namun dalam argumen Mu'tazilah, Allah itu di luar ruang. Maka, tidak mungkin bisa dilihat.


Argumentasi Mu'tazilah dipatahkan dengan perumpamaan sebuah cermin oleh Al Ghazali. Seseorang dapat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Padahal sesuatu yang dilihat di cermin adalah dirinya sendiri yang di luar ruang dan waktu. Itu bisa dilihat.


Menurut Al Ghazali, sebelum jauh pembahasan lebih panjang, ada sesuatu hal yang harus disamakan. Atau ada persepsi yang harus (Al Ghazali dan Mu'tazilah) sama-sama setuju sebagai dasar dalam adu argumentasi. Karena jika dasar berfikir saja sudah berbeda tentu tidak akan ada titik temu.


Sesuatu dasar itu adalah, pengertian ra'yun atau melihat. Al-Ghazali mengajak Klarifikasi lebih dahulu istilah melihat. Bagaimana pandangan Mu'tazilah dan Al Ghazali harus diselesaikan lebih dahulu, disamakan lebih dahulu tentang melihat.



Al Ghazali menawarkan makna arti melihat dengan berbagai syarat; pertama, harus ada mahal atau tempat. Tempat melihat, yang dimaksud Al Ghazali tempat adalah alat untuk melihat. Maka, alat melihat salah satunya adalah mata sebagai indera penglihatan.


Syarat kedua adalah, ada sesuatu yang dilihat. Ada muta'alaq atau objeknya. Kemudian syarat ketiga adalah ada yang melihat. Atau harus ada Failnya.


Maka apabila kita mengatakan ada aktivitas melihat, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang diajukan Al Ghazali: alat untuk melihat, objek untuk dilihat, dan siapa yang melihat.


Nah, berbicara objek penglihatan, biasanya ada ukuran, warna, benda, dan semua objek penglihatan. 


Namun Al Ghazali memberi pandangan bahwa mata itu bukan rukun atau pilar yang wajib ada sebagai syarat sah kegiatan melihat. Ada hati, ada otak, dan ada indera yang lain untuk melihat. Apakah itu boleh? Boleh kata Gus Ulil, dalam memaparkan teks Al Ghazali ini.


Pembahasan ini memang sedikit rumit. Karena saat belajar aqidah, secara tidak langsung juga belajar filsafat. 


Maka, menurut Al Ghazali, jika melihat Allah itu tidak harus melihat dengan mata, karena melihat tidak harus melalui mata saja.


Gus Ulil menambahkan, argumen Al Ghazali memang sedikit rapuh. Karena sisi lain, Al Ghazali sebetulnya ingin mengatakan bahwa, ketika Alquran menegaskan, kelak manusia yang beriman di hari akhir nanti bisa melihat Alla. Melihatnya itu tidak melalui mata, melainkan melihat secara majazi. Artinya ayat ini ditakwil. Seperti kalimat “Allah punya tangan”, itu bukan tangan dalam bentuk tangan biasa, sebagaimana tangan manusia, tapi tangan itu adalah kekuasaan Allah, maknanya. 


Ngaji Al Iqtishad fi Al I'tiqad, saat tulisan ini ditulis belum selesai pembahasan Asy'ariyah Vs Mu'tazilah.


Tulisan ini hanya interpretasi santri biasa. Berharap banyak keberkahan dari para Kiai Ulama.


Wallahu a'lam Bi shawab.



Suatu malam di tahun 2015, tanggal 17 Mei. Saya lupa harinya. Saya dan seorang kawan motoran dari Semarang menuju Yogya. Kemudian melingkar di Mocopat Syafaat. 

Hadir pula budayawan kondang Sujiwo Tedjo.


Saya masih ingat betul. Dalam tawasul awalnya Simbah, Setelah berkirim fatihah untuk Kanjeng nabi dan wali-wali, beliau bertawasul kepada kakek nenek moyang jamaah, untuk menghadirkan bahwa semua permalasahan para jamaah yang ada, agar nenek moyang mengetahui dan turut serta membantu berdoa supaya segala permasalahan hari ini segera menuju titik terang. 


Saya merinding. Seolah semua kakek nenek ku juga hadir di sana. Mengamini segala rengekan-rengekan manjak ku.


Setelah itu, Simbah berkirim fatihah, kepada anak cucu yang akan lahir kelak. Saya ber-amin sangat keras. Waktu itu, dua hari sebelumnya di tanggal 15 Mei, saya baru saja melamar perempuan yg kelak menjadi istri saya. Maka anak-anak saya hari ini adalah perwujudan dari doa-doa penuh kebaikan dan kebijaksanaan Simbah di malam itu.


Setelah tawasul selesai. Simbah berdoa untuk para jamaah, inti dari doa itu adalah, supaya para jamaah dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


Pada waktu itu, marabahaya dalam tafsir saya adalah kecelakaan lalulintas. Atau terkena musibah bencana alam. 

Namun, setelah 8 tahun hidup pasca Mocopat Syafaat malam itu, marabahaya itu tidak hanya sebatas kecelakaan lalulintas, atau musibah bencana alam non alam, tapi ternyata lebih jauh dari itu;


Kehidupan rumah tangga yang tentram, istri yang menerima. Hasil pekerjaan yang halal. Anak-anak yang saleh-salehah. Dan segala kehidupan yang tidak butuh intrik dan politik “kecurangan”, senggol kanan kiri, adalah bagi saya saat ini manifestasi doa Simbah untuk dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


......


Sudah menjadi kodratnya manusia, untuk merasa kekurangan. Setelah mendapatkan ini, pasti ingin itu.


Pun juga saya. Sebagai manusia biasa. 


Namun the wisdomnya Simbah selalu berputar-putar dalam telinga saya, kurang lebihnya;


Manusia itu akhsanu taqwim, masterpiece-Nya Allah. Lebih mulia dari apapun. Apalagi uang. Uang yang harusnya mengejarmu. Bukan kamu yang mengejar-ngejar uang.


Hari-hari ini saya berusaha memposisikan itu. Meskipun sulit. Tentu saya akan coba belajar. Saya tidak ingin mengejar apapun. Uanglah yang membutuhkan saya bukan saya yang butuh uang. 


Hidup lebih enteng. Lebih tentram. Saya tidak malu-malu mengakui bahwa saya ini anak maiyah. 


Maiyah memberikan saya banyak hal. Termasuk artikel jurnal ilmiah yang saya tulis tentang Simbah. Tapi saya tidak pernah berkontribusi apapun terhadap Simbah.


Doaku untukmu Simbah. Sehat cerah. Temani kami kembali.


 Kemarin hari Minggu.


Dari pagi saya sudah sibuk di depan layar komputer, menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Membaca banyak hal untuk saya baca dan teliti.



Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, jika manajemen waktu saya mumpuni.




Hal-hal yang saya lakukan saat minggu pagi sampai sore kemarin adalah pekerjaan bodoh yang saya lakukan. Istilahnya santri, saya menembel. Saya menambal beban pekerjaan selama satu semester dengan diganti satu hari.



Tentu kepala pusing, dengan sejumlah deadline yang ada.



Maka ketika sore tiba, dan pekerjaan sudah saya anggap selesai, saya menemui Difa dan Hilwa. Kami jajan cilok. Beli 4 ribu untuk dijadikan dua bungkus.



Difa makan ciloknya 4 biji. Habis. Hilwa makan 3 biji. Yang satu biji untuk diri saya sendiri. Anggap saja setusuk cilok itu sebagai bentuk apresiasi untuk diri saya sendiri setelah kerja minggu pagi sampai sore.

Suwun Gusti, ternyata saya masih keren (keren jare dewek mbuh apa wkwk).



Terkadang, untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang melelahkan dan berat, ada hal-hal yang di luar sana untuk membangkitkan semangat. Semacam energi di luar diriku sendiri. Pokoknya ini harus selesai.



Dan energi itu adalah doa ibu.



Semoga segalanya dimudahkan, kata ibu. Jadi di saat saya memasang tabung LPG, dan berhasil, itu bukan karena saya yang keren. Tapi doa ibu yang melampaui ke sana. Walau itu hanya sebatas memasang tabung. 



Aihh aku. Jangan sombong wahai aku. Tapi kamu harus tetap aku apresiasi, Wahai aku. Setusuk cilok lagi untukku dan untukmu. Ada aku di dalam aku.


Kematian jenis apa yang kelak kau inginkan? Adalah pertanyaan yang kadang menari-nari di otak saya.


Di usia yang melewati kepala tiga lebih, saya pernah melihat banyak fenomena orang-orang dengan berbagai jenis kematiannya. Pun demikian dengan engkau, bukan?


Ada orang yang mati secara mendadak, dan tidak jarang juga banyak orang yang mati dengan melawati berbagai penyakit dahulu sebelum dia meninggalkan dunia untuk selamanya.


Salah satu kakek sahabat saya, dia mati dengan kesan lucu, kakek ini memang dalam kesehariannya adl orang yang lucu. Hidupnya penuh canda tawa. Pun saat dia dalam masa-masa terkahirnya, ketika dia sudah terbaring dalam sakitnya dia berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil, sambil mengatakan, “Aku kok arep mati ndadak pengin nguyoh mbarang ki loh, jan jan...”.


Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan memejamkan mata selamanya. Para keluarga yang menunggunya terkesima. Konon Tuhan tidak bertanya seberapa banyak hartamu, dan bagaimana pencapaian duniamu. Tapi seberapa banyak manusia yang engkau buat tertawa bahagia.


Kembali ke topik atas, jenis kematian seperti apa yang kelak akan kau inginkan.


Apakah dengan mendadak, tanpa banyak pesan, atau dengan organ-organ tubuh dan jaringanmu yang rusak terlebih dahulu. Sambil kamu merepotkan keluarga terdekatmu. Ya jika kamu punya keluarga dan kerabat dekat.


Maka yang paling keren adalah, suami dan istri yang tetap saling berbagi dan melayani meski diantara keduanya salah satunya sudah mendekati ajalnya. Tentu jika kamu sudah bersuami atau beristri.



Orang yang akan melawati kematian konon adalah orang yang merasa kesepian. Tidak ingin ditinggal. Dia ingin ditunggu terus menerus.



Anak-anak saya tentu saja bukan anak saya untuk melayani kelak saya. Anak saya adalah anak untuk jamannya. Jamannya lebih membutuhkan mereka ketimbang saya pribadi. 



Saya juga tidak punya keluarga. Saya tidak punya adik, dan juga kakak. Lalu siapa yang akan menggantikan celanaku saat sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar ke kamar mandi. 



Siapa yang kelak akan membersihkan kotoran-kotoran ku. Yang cintanya melebihi jiji kepada kotoran itu.



Saya tidak tahu.



Jenis kematian kelak yang aku inginkan adalah yang mutmainah, jiwaku yang pasrah. Toh kata Gus Baha, hidup mati itu cuma sekedar pindah dari rahmatnya Allah di dunia menuju rahmatnya Allah di akhirat. 



Hidup kok penak temen Gusti. Kelak mati pun semoga enak juga...

 Untuk ikhwah Fillah. maafkan saya yang banyak kekurangan dalam menemani belajar metodologi pembelajaran. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. tulisan ini hanya sekedar bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita. 

.

.

Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, lalu di luar sana, banyak artikel ilmiah bertebaran tentang berbagai macam metodologi pembelajaran. Rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi “the great teacher”. Terlebih setelah masa pasca pandemik ini. Dulu semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli.


Tapi tidak butuh ahli, kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti kita [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif? Wallahu a'lam.

.

.

Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun, juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?

.

.

Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.

.

.

TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.

.

.

Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;

الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.

.

.

Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, kita tidak bisa memverifikasi adanya. Tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru. 

.

.

Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu. Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru. 

.

.

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa atau santri juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, sebagai guru jangan anti kritik terhadap murid.

.

.

Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sehat berkah selalu untuk teman² semua.

#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKamuYangBersemayamDalamSepi



Hari ini pikiran dan perasaan saya campur aduk. Konon sastra yang paling murni adalah puisi. Saya ingin sesekali membuat puisi untuk kalian. Bukan sekedar cerita bualan. Namun apa daya, tulisan ini sebisa-bisa saya, semampu saya.



Sejujurnya saya tidak ingin merawat kesedihan, selain tidak baik untuk kesehatan paru-paru, kesedihan itu seperti luka, menyakitkan. Namun biar bagaimanapun, kita sebagai orang kecil, rakyat jelata, terkadang kesedihan dan kesengsaraan tetap dijaga, supaya kita selalu mawas diri dan waspada, sebenarnya hidup itu tidak hanya tentang bahagia.


Setelah hari ini, saya menemani sepupu saya bertawasul meminta hajat-hajatnya di sebuah Makam Wali. Banyak kisah ketika dulu kami masih kecil yang kami ceritakan ulang. Sepakbola, belajar, berkelahi, memanjat, bersepeda sampai puluhan kilometer dan lain-lain. Sebagaimana kisah biasa, kisah-kisah kami dulu seperti kisah keromantisan anak-anak yang kan selalu kami kenang.


Sekarang sepupu saya bekerja sebagai supir di perusahaan Tengki Pertamina, hampir setiap hari berangkat jam 2 dini hari, pulang malam 11 malam. Dilanjut lagi, setiap hari seperti itu. Jarang pulang. Tidur di jalan gantian. Pahit manis kehidupan jalan ia rasakan. Pernah ia tertahan di Polres berhari-hari karena tak sengaja truknya melindas orang, dan korbannya meninggal.



Di tengah perjalanan pulang dari makam wali, handphone sepupu saya berdering. Dia mengatakan bahwa itu adalah telpon dari putrinya. Telpon ia angkat. Percakapan ayah-anak yang jarang bertemu karena sebuah keadaan mengalir. Bercerita tentang baju lebaran, puasa dan sebagainya.


Getir.

Pada dasarnya, saya ini lelaki picisan. Rintik sedan berjatuhan.



#DearDifa umur putri sepupuku itu kurang lebih setahun di atas mu. Dan kau pernah foto berdua dengannya. Tentu saya tidak bisa membayangkan jika saya jauh darimu. Bagaimana nanti saya akan mengobati rindu yang pastinya menggebu.



Putrinya itu memanggil sepupu saya dengan sebutan Abi. Dia berkisah, bahwa puasa tahun ini, puasanya full sebulan penuh tanpa bolong, baju lebarannya ada 3 pasang. Dan dia merajuk, lebaran hari ini abinya tidak menemuinya. Tidak membelikan baju lebaran untuknya. Percakapan-percakapan selanjutnya saya tidak tertarik mengikutinya.



Hatiku remuk redam.



Sepupuku itu masih seperti dulu, lelaki yang tabah dan kadang lucu.



...................

Seorang kawan saya, lelaki asli Jepara saat dulu berkunjung ke rumahku pernah mengatakan, bahwa laki-laki yang paling beruntung itu seperti saya, mempunyai dua anak perempuan. Anak perempuan, kata kawan saya adalah benteng, benteng untuk ayahnya. Benteng pertahanan dari segala hal negatif.


Teman saya yang lain juga mengatakan kurang lebih sama. Dia berhenti minum alkohol dan segala hal yg negatif berkat kelahiran putrinya.


Semoga saya demikian. Selama ini Allah tutup segala keburukan saya.



Adapun sepupu saya, dia lelaki yang baik, dari dulu dia sangat baik. Cuma terkadang agak semrawut, tapi sesungguhnya baik. Dan dia tentu saja berhak bahagia beserta istri barunya.



Walangsanga, 04 Syawal 1444 H.

Pintu diketuk.

Ini sudah pukul 10 malam. Ini adalah hari mendekati lebaran. Saya sebenarnya telah mengantuk setelah aktifitas pagi sampai sore hari itu. Dengan rasa malas saya membuka pintu. Ternyata memang dia.


.......................................................................


Seseorang tiba-tiba menghubungi saya, bahwa dia akan mengunjungi saya malam itu juga. Telah lama kami hilang kontak. Terakhir bertemu sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Dengan segala pertanyaan di hati, apa yang sebenarnya terjadi. Ada kepentingan apa dia malam-malam jauh-jauh mendatangi saya di pelosok desa.



Dia sahabat saya. Kuliah jurusan seni musik. Hampir 5 tahun di kota orang, dan dia adalah salah satu sahabat yang berasal dari satu kabupaten dengan saya. Segala manis pahitnya pernah melalui bersama. Beberapa kali saya juga hutang budi dengan dia. Saya tahu betul karakternya.



Saya duga dia akan meminta hutang atau jangan-jangan dia sedang terlibat masalah hukum yang besar. Yang nantinya pasti akan merepotkan saya. 😅 Ini sudah mendekati lebaran.



Dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang ini, apa pun bisa terjadi. Tapi yang jelas dia cukup tahu, bahwa kehidupan ekonomi saya dari dulu ya seperti itu-itu saja. Tak mungkin dia berhutang padaku.


Saya suguhkan beberapa makanan sisa berbuka puasa. Belum lama kita basa-basi. Dan tiba-tiba dia minta makan nasi. 😅 

Adegan ini tentu khusus untuk kawan yang dekat. Hanya nasi putih. wkwkw



Rasa penasaranku masih tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia.



“Bro, istrimu mana?”.



Pertanyaan ini memang agak sulit keluar dari mulut saya. Saya hampir tidak pernah bertanya kepada seseorang kapan dia nikah, dan kapan dia punya anak dan pertanyaan-pertanyaan tendensius lain. Bagi saya pertanyaan macam itu adalah pamali. 



Maka, agak canggung juga ketika saya menembak dengan pertanyaan itu. Terlebih dia tidak pernah aktif di sosial media. Saya tidak tahu kabar terbarunya.



Maka dia hanya senyum. Kemudian kami tertawa. 



Selanjutnya, dia menceritakan berbagai pencapaian-pencapaian yang telah diraih. Lebih tepatnya kegagalan-kegagalan dia sebagai manusia.



“Saya jadi ingat, saat dulu, ketika kita masih berjiwa muda, saat dalam sebuah evaluasi, kau mengkritik saya secara pedas, membabi buta, padahal dalam organisasi itu, kau adalah wakilku dan aku adalah ketuanya. Tapi kau mengkritik dalam forum, dilihat dan didengar banyak orang. Bahwa sebuah sumber kekacauan itu adalah aku, kritikanmu itu selalu aku kenang sampai sekarang, kritikan itu membangun". Kata dia dalam pertengahan obrolan kami.


Saya sendiri sudah lupa, kapan saya mengucapkan kritikan pada dia. Aihhh saya jadi kangen dengan diriku sendiri di masa lalu. Peluk erat untuk diriku waktu itu.



Dia sekarang sudah bangkit. Sudah siap menghadapi dunia lagi. 


Sebagai musisi dia berkisah, dia pernah stres mendengar bunyi-bunyi. Suara. Suara apapun. Tetasan air kamar mandi. Kicauan burung. Suara mesin motor. Dan lain-lain. 


Saya merasa kasihan dan takjub. Ini seperti yang digambarkan Andre Hirata, bahwa pemain orkestra mengulang-ulang terus suara dan nada yang sama, seperti kutukan menjadi kaset kusut yang rusak. Kalau hanya puluhan kali, tidak mengapa. Tapi jika sudah ratusan atau ribuan kali. Sudah pasti inalillahi.



Inilah mengapa, sebagai orang yang awam musik, saya harus apresiasi lebih kepada seniman musik.



Dia juga berkisah bagaimana kawan-kawannya (kawan-kawan saya juga) setia membantunya dari berbagai masalah. Belenggu hitam yang menjerat dia. Satu persatu dia lepaskan. Dan sudah menjadi takdir dia untuk berubah menjadi lebih baik lagi.



Di hadapan dia, tentu saya harus merasa tegar. Padahal setiap orang juga pasti mempunyai masalah yang dihadapi. Begitu juga dengan saya saat ini.



Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. 

“Bro, ini kalau dijadikan podcast tentu bagus sekali, ditonton banyak kawan kita”, kata saya.

“Ndasmuuu. Banyak sekali rahasia saya nantinya terbongkar wkwkwk”.



Sebelum dia pamit, saya bekali oleh-oleh “mantra ajaib”. Saya bukan dukun atau agamawan. Hanya sekedar mantra rasional biasa.


Sehat dan bangkit untuk kita semua.



Sebagai seorang laki-laki, saya harus akui ini. Ada ketakutan-ketakutan sendiri. Kekhawatiran hidup yang tak pasti. Salah satunya adalah cemas atas kebutuhan ekonomi yang dari tahun ketahun semakin tinggi.


Jika membaca berita, atau sebaran brosur iklan sekolah, pesantren dan perguruan tinggi, rasa-rasanya biaya pendidikan di Indonesia tidak mungkin saya gapai untuk membiayai pendidikan #DearDifa #DearHilwa dan #DearKauYangBersamayamDalamSepi kelak mereka dewasa nanti. Bingung dengan semua ini. 


Memang betul, di bank-bank BUMN ada pilihan menu layanan tabungan untuk biaya pendidikan anak-anak di masa depan. Yang katanya itu aman. Tapi persoalannya tidak seperti itu. Boro-boro untuk nabung, ya kan?



Namun selalu saya yakini dan saya syukuri, kelak pasti ada solusi. Keyakinan itu seyakin bahwa esok mentari akan terbit kembali.



Saya belajar dari Ikan Paus. Dan Juga Cicak.

Paus itu termasuk mamalia yang membuat saya kagum. Begitu pula saya takjub dengan cicak. Bukan ke paus atau cicak itu, tapi kepada sang pencipta mereka.


Setiap kali ada masalah tentang rizki dan mulai berfikir aneh-aneh “kelak suatu saat apa bisa membiayai anak-anak sekolah?” atau “Duh Allah, bagaimana ini. Saya bingung harus apa”. Saya selalu ingat tentang Paus dan cicak itu.


Ikan Paus, konon mereka butuh setidaknya dalam sehari membutuhkan 3-4 ton Krill– sejenis udang kecil yang hidup di lautan.


Paus Biru misalnya, dalam berikhtiar menangkap krill, dia membuka mulutnya dengan tubuh vertikal di tengah laut. Agar Krill yang sudah masuk di mulutnya mendatangkan ikan-ikan lain yang ukurannya lebih besar dari krill.



Siapa yang ajarkan dan mampu sediakan makanan sebegitu banyak, dengan populasi paus yang juga tidak sedikit?


Cicakpun demikian, dia pemangsa nyamuk. Nyamuk punya sayap. Sementara predatornya hanya punya 4 kaki. Tentu Allah akan mempermudah urusan rejeki cicak jika Dia menciptakan sayap untuk cicak. Tapi poinnya bukan di sana.



Semua makhluk yang Tuhan ciptakan pasti ada tujuan dan alasan. Tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu ya ibadah. Namun ibadah sendiri banyak sekali dimensinya. 


Lalu alasan paling logis kenapa kita diciptakan adalah supaya kita berfikir. Alquran sendiri yang mengatakan berkali-kali: Afala Tatafakuran, Afala Ta'qilun. 



Ohh Jadi begini cara Allah bagi-bagi rezeki. 

Bahwa Allah selalu rawat kita.



Hidup itu bukan selalu tentang gembira, bahagia, kenyang, tertawa dan hal-hal menyenangkan lainnya.



Setiap diri kita pasti mengalami tidak baik-baik saja. Melewati hal yang kurang menyenangkan harus tetap bergembira.



Tapi soal sayangnya Tuhan, jangan pernah buat kita syukuk atau ragu. Terus berbaik sangka, percaya paus sebesar itu, Tuhan rawat, cicak yang tidak punya sayap saja tetap makan nyamuk. Apalagi kita yang cuma butuh sepiring nasi setiap harinya.



Allah Yang Terus Maha Ndak Tega.


 #DearDifa

#DearHilwa


Saya selalu takjub dengan cara Allah mengasihani saya yang malang. Sebagaimana saya merasa sangat senang ketika suasana pagi hari, Allah selalu menghadiahi saya pagi, lagi dan lagi.


Contohnya adalah kalian berdua, #DearDifa lahir di bulan April 7 tahun yg silam. Bulan yang kata Syaikhona Maimun Zubair adalah bulan Robi' yang artinya bulan keempat. Konon, bulan ini adalah bulan Rasul Muhammad dilahirkan. Segala tonggak kehidupan tahun ini ditentukan, apakah akan kaya atau miskin. Akan mempunyai uang atau tidak. Ditentukan oleh Allah di bulan ini. 


Jika di bulan ini mempunyai uang, maka setahun mendatang akan dicukupkan oleh Allah kebutuhannya, itu yang ngendika adalah Mbah Mun. Tidak ada dalam literasi hadis atau kitab manapun. Tentu bisa diverifikasi oleh siapa saja.


Apakah seorang pekerja yang mendapatkan gaji tiap bulannya juga termasuk pemegang uang di Bulan April? Tanya seorang kawan, iya jawab saya. Tapi gaji itu seberapa lama bertahan ia pegang. Modern ini, banyak gaji pekerja yang “hanya lewat” saja.


April itu tentang keberkahan.


#DearHilwa lahir di bulan Juli. Bulan kebangkitan. Terdapat sejarah besar di Nahdlatul Ulama. Juli di tahun 1952, NU mendirikan partai sendiri dengan memisahkan diri dari Masyumi. Meskipun historiografi khitoh dan politik NU banyak sekali perdebatan. Akan tetapi Juli bagiku adalah bulan tonggak kebangkitan. Kebangkitan bagi santri atas berbagai keterpurukan.


Juli itu tentang kebangkitan.


Tapi di atas semua itu, saya merasa sangat bahagia dan bersyukur. Melihat keajaiban-keajaiban April Juli di depan mata saya. Keajaiban proses tumbuh kembang dua bayi orok yang merah darah, kini sudah berlari ke sana kemari. 


Keberkahan April. Kebangkitan Juli.


#DearDifa

#DearHilwa



#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi


Mata saya membiru, ketika melihat sebuah video yang lewat di beranda sosial media. Video itu adalah seorang ayah yang dipenjara dan dijenguk seorang anak perempuan. Perempuan kecil itu berusaha memeluk ayah yang berada di balik jeruji besi.



Beruntung polisi yang menjaga sel tahanan itu membukakan pintu besi agar perempuan kecil itu bisa memeluk ayahnya tanpa terhalang. Tentu sikap polisi baik itu dapat pujaan dari berbagai kalangan. Polisi baik itu seperti malaikat.


Hukum di Indonesia apapun bisa terjadi. Seorang ayah tadi yang dipenjara, belum tentu dia berbuat jahat. Atau mungkin kalaupun dia jahat, satu pelukan putrinya adalah obat. Pelukan adalah penawar segala macam jenis penyakit.


Mungkin seorang laki-laki dewasa bisa saja menahan rindu, jauh dari kekasihnya. Tapi tidak bisa jauh dari putri-putrinya. Pun dengan ayahmu yang cengeng ini.


#DearDifa #DearHilwa satu pelukan, ciuman yang bertubi-tubi dari kalian setiap hari, setiap saat adalah obat untukku. Obat untuk setiap kegelisahanku. Obat bagi kelelahanku. Obat atas dosa-dosaku.


Konon dalam sebuah penelitian kardiolog, jantung manusia adalah makhluk sosial, dia butuh pelukan dan kasih sayang orang sekeliling. Agar terus sehat. Terus bermanfaat. 


Dalam ilmu psikologi, satu pelukan juga sebagai terapi. Jaman yang semakin modern sakit mental tentu sering terjadi. Jika kau merasa sendiri, merasa sedih, katakanlah padaku, aku akan memelukmu.


Pelukan tentu bukan budaya kita. Amat jarang kita temui leluhur kita dalam banyak foto dan album–Dalam momen bahagia berpelukan. Namun dalam momen-momen tertekan, pilu, banyak mereka berpelukan. Seperti kisah Rumini yang tidak tega meninggalkan ibunya yang renta, mereka meninggal terkena wedus gembel Gunung Merapi dalam keadaan berpelukan. Dan kisah-kisah lainnya. Pelukan itu saling menguatkan.


#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi

Terimakasih pelukan-pelukan itu. Pada dasarnya saya sedang tidak baik-baik saja. Maka peluklah aku selamamu. Aku juga akan memelukmu selamaku. Walaupun aku tahu, salah satu hal yang saya khawatirkan tentang waktu. Kalian tumbuh dewasa. Dan malu untuk memeluk bapak.





 #DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersamayamDalamSepi


Aku mencintai kalian, sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.

Ini hari ke tujuh Ramadhan tahun 2023 saya tidak hapal tahun hijriyahnya. 


Momen Ramadhan adalah momen yang mengharu biru bagiku. Puasa adalah hal tentang yang menyenangkan, juga tentang mengenakan. ini bukan tentang surga-neraka. Hanya memori nostalgik saja. 


Dari tahun ketahun dari saya kecil, saya bisa masih ingat momen² itu. Jika dituliskan tentu bisa dijadikan buku. Bagaimana saya latihan lapar, mengenal seorang yang sangat berkesan yang bernama Ali di Sebuah masjid, kuliah subuh, puasa sampai duhur dibelikan nasi warteg oleh nenek. Sampai momen² yang tidak menyenangkan yang menimpaku di Pemalang.


Tapi lupakanlah hal-hal yang tidak baik. karena kita harus mencintai diri sendiri.



Tahun ini adalah Ramadhan ketiga setelah saya sakit asam lambung. Tahun ketiga ini saya merasa sangat sehat. Serangan gerd minim terjadi. Tentu semua ini berkat Maha Ndak Teganya Allah kepada saya. Melalui banyak terapi dan disiplinnya berbagai pengobatan. Juga tidak dipungkiri karena hadirnya #DearHilwa diantara kita.


Ramadhan tahun ini seolah memang mudah dijalani. Berkat Allah yang menguatkan segalanya tentang saya dan kita. Ramadhan ini juga #DearHilwa telah berhenti minum ASI, tentu ini tidak mudah. Betapa banyak pengorbanan dan segala bentuk kegiatan sebagai pengalihan. Dalam hati, saya tidak tega #DearHilwa, tetapi ini adalah siklus hidup. Kita terjebak dalam kubangan ini. Kita nikmati.


Banyak sekali hal yang ingin aku kisahkan kepada kalian #DearDifa #DearHilwa dan #DeerKauYangBersemayamDalamSepi 


Ini adalah tahun pertama #DearDifa berlatih puasa. Laku puasa adalah warisan leluhur-leluhur kita, mereka yang selalu berpuasa, menahan segala lapar dahaga dan hal-hal yang bersifat nafsu lainnya. Tidak terlalu sulit untuk membangunkan #DearDifa sahur, karena beberapa kali #DearHilwa juga ikut sahur.


Saya tidak tahu, apakah puasa kita akan diterima atau hanya sekedar menahan nafsu. Yang terpenting adalah kita menjalani sebagai bentuk kepatuhan kita kepada Allah.


Puasa itu bagi saya adalah seperti menikmati musik, tidak perlu orang tahu selera musik kita apa. Tidak perlu berisik. Yang penting kita menikmati keindahan-keindahan itu dalam diam. Karena hanya satu-satunya ibadah yang paling sunyi adalah puasa. Hanya Tuhan dan kita saja yang tahu.


Puasa itu juga bentuk mencintai diri sendiri. Ada banyak hal yeng bersifat negatif yang selalu masuk ke tubuh kita. Dari makanan dan minuman. Kita lerai sebentar demi kasihan tubuh kita. 


Tulisan ini tentu tidak ada dalil Alquran dan Sunnah. Karena sebuah rasa itu tidak perlu lagi dalil-dalil itu.


Aku ingin peluk kalian. 

#DearDifa 

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi




Disclaimer: Jangan teruskan membaca tulisan ini. Hanya asumsi, sedikit cocoklogi, dibumbui refrensi agar terlihat seperti akademisi. Tapi bisa jadi, ini mungkin nyata dan hakiki.


Lama sekali saya tidak menulis di blog, selain menulis beberapa artikel yang sudah menjadi kewajiban, saya juga terjebak dalam siklus kehidupan yang namanya kesibukan (helehhh sok sibuk). Dan sudah lama sekali saya ingin menulis tentang ini, tentang paksenasi, yang sebenarnya saya urungkan, selain bukan bidang keilmuan saya, saya tidak punya kepentingan apapun. Selain kepentinganku mencintai dan menjaga keluarga dan mengingatkan teman-teman semua. Terlebih pada pembaca setia blog saya.


Blog saya ini tentu saja bukan media scaremongering. Plandemik telah berlalu, pasca pakس coped yang sudah berlangsung 2 tahun ini, banyak hal telah terjadi, kehidupan new normal telah diterapkan. ekonomi melesat, pendidikan berjalan sebagaimana mestinya, dan seperti biasa perpolitikan kita mendekati 2024 semakin memanas. 


Tapi bukan itu maksud saya, saya ingin menunjukkan beberapa hal, pertama berita ini https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/new-zealand-australia-vaccination-mandates-protests-gain-numbers-2022-02-12/ . Di Australia dan Selandia baru masyarakat berdemo pasca paksenasi yang terus menerus diwajibkan di beberapa negara bagian. 


Sungguh kau tahu, kan, kawan? saya bukan tipe orang anti terhadap pemerintah Indonesia yang sah. Saya hormat kepada negara ini, dengan segala simbol-simbolnya saya cintai. Namun, setelah kebijakan PPKM dicabut oleh presiden di akhir tahun kemarin, kebijakan paksenasi tidak berakhir. Justru paksen keempat sudah ada yg menerimanya. Bagi jiwa-jiwa yang penuh tanda tanya, sebenarnya ini ada apa?


Sekali lagi saya tidak anti paksen. Tubuh saya juga menerima paksen coped. Hal yang ingin kukatan kepada sidang pembaca, yang Kedua adalah, tidak semua jenis paksen sama. Jika di media mainstream berkali-kali mengatakan kebermanfaatan semua jenis paksen itu sama semua, hanya tingkat prosentase efektivitasnya saja yang berbeda, tentu ini tidak salah, namun masih ada hal yang kurang. Kurang sosialisasi. Masyarakat kita tentu tidak banyak yang memahami tentang virologi, Pemerintah atau organisasi yang punya kewenangan tentu masih kurang memberikan edukasi yang komprehensif kepada masyarakat lebih luas. Padahal, jika kita telisik tidak semua jenis vaksin itu sama. lihat tabel dalam gambar ini.




Sumber gambar : https://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/jenis-vaksin-covid-19-yang-digunakan-di-indonesia

Di masyarakat kita secara luas, beberapa nama-nama paksen itu kurang populer, khususnya distribusi jenis paksen-paksen itu di daerah saya. Dari 11 nama jenis paksen itu hanya 4-6 yang mungkin terlihat jamak.


Saya sebenarnya ingin mengajak fokus pada platform jenis paksen itu. dari 11, kita bisa mengklasifikasikan 4 jenis platform: inactivated pirus, non replicating viral vektor, m-RNA, dan rekombinian protein sub unit.


Dari empat itu jenis platform tersebut, Setidaknya dalam ilmu teknologi pengembangan paksen, bisa dikerucut lagi dalam dua kategori platform, yaitu klasik dan terbaru. Platform klasik, merupakan teknologi yang selama ini sudah banyak digunakan untuk menghasilkan beragam paksen.


Platform klasik yang banyak digunakan antara lain paksen yang dikembangkan dari pirus utuh yang diinaktivasi atau pirus utuh yang dimatikan. Telah banyak paksen yang dihasilkan melalui teknologi ini, seperti Polio, Rabies, hingga paksen Hepatitis A. Sementara pada paksen coped 19, teknologi ini digunakan untuk pengembangan paksen.... (lihat kembali gambar tabel). Pak Presiden kita, dan hampir seluruh pejabat petinggi negara menggunakan jenis paksen ini. (karena keterbatasan jumlah, rakyat biasa, terlebih yang penerima bantuan pemerintah tidak bisa seluruhnya mengakses vaksin jenis ini).


Sementara, platform yang terbarukan adalah platform selain inactivated pirus. Nah ini yang sebenarnya berbahaya. sebut saja m-RNA, yang terbuat dari komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu. Rekayasa genetik ini yang sebenarnya sangat berbahaya bagi tubuh manusia, jika kita baca jurnal-jurnal internasional, beragam penelitian lanjutannya.


KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) untuk paksen m-RNA itu bukan sehari atau seminggu, tapi berbulan-bulan. Banyak jurnal yang membicarakan tentang efek dari jenis platform terbarukan salah satunya adalah ini https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8611574/ 


Mungkin pihak berwenang selalu menyangkal mRNA tidak terkait miokarditis atau radang jantung / henti jantung dan juga shedding pirus dari viral vector mutan adenovirus menyebabkan hepatitis dan gagal ginjal akut misterius. Tetapi dalam kaca mata awam saya, saya gunakan positivis. Jika Anda dalam lingkar pertemanan saya tentu paham sahabat-sahabat kita yang mendahului telah paksin keberapa, menggunakan jenis paksin platform apa. Saya sangat sedih. 


Jika Anda menggunakan jenis platform paksin itu, tentu masih ada solusinya, cara mengatasi pirus Adenovirus dan dampak paksin itu bisa dilihat disini. https://pekokers.wordpress.com/2022/10/22/cara-mengatasi-virus-adenovirus/


Wallahu a'lam bi shawab.
Sehat selalu untuk kita semua.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE