Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Menu Blog

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Setelah pembunuhan guru Paty yang memunculkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar, majalah mingguan satir Perancis Charlie Hebdo mencetak lagi kartun nabi Muhammad di edisi terbarunya. Ludes terjual dalam kurun sehari. Kartunis majalah itu mengungkapkan bahwa kebebasan berkespresi didukung publik Perancis.

 

Entah dari mana asal-usulnya, masyarakat meyakini, bahwa  itu lantas disebut sebagai wajah Nabi Muhammad karena jika pandangan Anda adalah Islam rahmah, tidak perlu marah. Bagaimana mungkin wajah nabi kita dilukisakan dalam kartun sejelek itu. Barangkali di sanalah letak kelucuan karikatur Westergaard itu: mencoba berimajinasi terhadap sesuatu yang tidak pernah dijumpai dan dilihatnya dan kemudian memang keliru sama sekali.

 

Nabi Muhammad adalah sosok yang disanjung dan menjadi panutan seluruh umat Islam. Lahir di Mekkah, Muhammad terlahir dari garis keturunan Ibrahim as. melalui Nabi Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar, budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.

 

Dalam buku Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis  yang ditulis oleh Karen Amstrong, digambarkan sebagai pria yang tampan, santun, jujur, dan cerdas. Beberapa hadis dan keterangan Sahabat juga mengungkapkan hal yang sama. Salah satu sebab orang-orang Quraisy (salah satu suku yang paling keras menentang ajaran Muhammad) tak mampu mengusir dan mengucilkan Nabi, karena perilaku Muhammad yang santun, jujur, dan cerdas bahkan sejak kanak-kanak. Sehingga dalam setiap persoalan, mereka yang menentang keras Muhammad pun selalu meminta Nabi untuk menjadi penengah atau hakim dalam setiap perkara.

 

Keterangan Karen tersebut, niscaya juga berlaku pada semua nabi dan orang-orang saleh yang lain. Pada mereka seolah berlaku ketetapan bahwa ucapan dan perbuatan kadarnya sama benar. Tidak ada misalnya, sejarah dari para nabi dan orang-orang saleh, apa pun agama yang dibawa oleh mereka, kemudian antara ucapan dan perbuatannya tidak singkron apalagi misalnya mengajarkan kebencian dan permusuhan. Wajah mereka, semuanya juga digambarkan sebagai wajah yang teduh, sehingga membuat banyak orang merasa aman berada di samping mereka.

Persoalannya, berdasarkan beberapa hadis, dalam Islam melarang orang membuat gambar dan menyimpannya dalam rumah. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dikabarkan oleh Bukhari, yang menyebut, “Bahwasanya Malaikat tidak masuk ketika gambar-gambar di rumah”, Apa alasan Nabi waktu mengatakan itu, penafsirannya juga multi tafsir. Jika dalam Ilmu Kajian Alquran terdapat Asbabun Nuzul (Sebab-sebab diturunkannya ayat), maka dalam Ilmu Hadis terdapat Asbabul Wurud (Sebab-sebab datangnya/keluarnya hadis). Hadis tentang malaikat rahmat, yang enggan masuk rumah karena terdapat gambar, juga bisa di-takhrij (analisis Hadis) dari berbagai sudut pandang kecakapan Rawi (periwayat Hadis),  dan lain-lain. Dari Takhrij Al Hadis itu bisa menentukan kualitas Hadis dan bisa dicerna kemana arah kontekstual ucapan Nabi pada waktu itu.

 

Ada sebuah cerita yang cukup menarik, saat peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) Nabi memasuki Mekkah untuk kali pertama sejak berpindah (hijrah) ke Madinah. Ketika mendekati Ka’bah, semua patung dan gambar yang mengelilingi Ka’bah dihancurkan. Kemudian Bilal mengumandangkan adzan

 

Sebagian ulama karena itu lalu sepakat bahwa tentang pelarangan gambar oleh fikih. Dengan tujuan agar tidak ada upaya untuk mengultuskan seseorang atau individu bahkan jika seseorang atau individu itu adalah seorang nabi sekali pun. Konteksnya adalah, perilaku suku Quraisy yang cepat menjadikan sesembahan dari gambar maupun patung. Sementara Nabi membawa ajaran yang mengajak manusia untuk hanya menyembah satu Tuhan, bukan yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan, Nabi sebenarnya mengajak manusia untuk selalu mengasah dan mengutamakan rohani ketimbang meributkan persoalan dzohir yang tampak, seperti gambar dan patung-patung. Bukankah agama memang sebuah ajaran yang mendasarkan pada hal-hal yang bersifat rohani? Dari rohani kemudian terbentuk perilaku dzohir.

Selain hadis dari Bukhari itu, tidak ada hadis yang secara langsung dan terang menjelaskan hal itu. Tidak juga di dalam al Quran. Namun jika Nabi sendiri sudah menghapus semua gambar di Ka’bah, barngkali logikanya lukisan atau gambar tentang dirinya juga dilarang. Kira-kira begitulah pendapat sebagian jumhur ulama, meskipun peristiwa tentang gambar itu sangat debatable yang idak akan pernah selesai,

Lalu bagaimana dengan kartun di Perancis itu? Pada suatu hari, datanglah Jibril kepada kanjeng nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah gara-gara lemparan batu oleh penduduk Thaif yang bertubi-tubi, mereka tidak bersedia menerima ajaran Islam. “Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan menolak saran dari Jibril. Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk Thaif. Nabi juga mengharapkan suatu saat generasi bertakwa lahir dari orang-orang Thaif yang telah mendzoliminya.

 

Bukan sekali dua kali saja, Kanjeng Nabi memperoleh perlakuan tidak mengenakan. Melainkan hampir setiap hari. sepanjang hidup. Pernah suatu ketika, seorang nenek Yahudi selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya, setiap kali nabi akan lewat di depan rumah itu. Lalu dari atas rumahnya si Yahudi menyiramkan kotoran unta kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula nabi tidak pernah marah, Nabi Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Nabi lewat ruah nenek Yahudi itu tanpa mendapat siraman kotoran dari nenek Yahudi. Bertanyalah Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” jawab para tetangga. Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk dan ketika ditemui, nenek Yahudi yang sedang terbaring tak berdaya, Nabi berkata, “Aku berdoa agar engkau segera sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramku dengan kotoran unta.” nenek Yahudi lalu menangis sesenggukan. Setelah sembuh, dia selalu menceritakan tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.

Maka kartun di majalah Charlie Hebdo yang katanya menggambarkan Nabi Muhammad itu, tak perlu disikapi dengan reaktif, terlebih dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Nabi Muhammad tidak akan  pernah berkurang hanya karena sebuah gambar yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghinanya maupun yang menyanjungnya.

 

Maka lihat dan amatilah, wajah di kartun itu, sesungguhnya sama sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis, juga diakui kaum orientalis sebagai wajah yang menyejukan, wajah yang penuh keteduhan. Juin (nama pena), pembuatnya, sekali lagi hanya berimajinasi. Celakanya, imajinasi itu memang keliru besar karena tampaknya dia memang tak pernah punya bayangan dan referensi sama sekali tentang wajah dan perilaku Nabi.

 


 #DearDifaa


Hidup yang fana ini sesekali memang harus kita rayakan. Cara merayakannya jangan tanyakan padaku. Kau akan menemukannya nanti. Di perjalanan nanti, ada banyak tanda yang akan membawamu merayakan kegembiraan sendiri. 



Difa, kehidupan yg fana ini, bagi sebagian orang adalah mampir berlomba. Hidup cuma merayakan, dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Bahkan, konon dulu, sebelum menuju kefanaan ini, kita juga berkompetisi. Kanjeng nabi Muhammad, panutan kita, juga membawa pesan dari Tuhan; supaya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Masalahnya, seringkali, kita yang makhluk fana ini, selalu mendambakan kemenangan dalam setiap perhelatan. Seringkali kita bersedih, ketika kekalahan adalah sebuah kenyataan. 



Itu dulu, sebelum saya tahu. Bahwa hidup itu bukan untuk hebat-hebatan. Kemenangan bukan tujuan. Dalam khazanah Maiyah, diceritakan, bahwa Allah tidak menuntut kita untuk berjaya. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa berhenti. Maka, saya berjuang semampu saya. Dan kau juga suatu saat harus berjuang semampu kamu. Sebisa kamu. 



Aku juga harus menceritakan padamu tentang ini; terdapat seseorang yang menghindari kompetisi. Dia sudah tidak menghiraukan apa-apa. Sudah tidak berkeinginan tentang dunia. Fokusnya hanya mencari ridho dan cintaNya. Suatu ketika seorang kawannya bertanya pada dia; “bagaimana mungkin Anda mengharapkan cinta Allah, jika Anda juga tidak dalam rangka berlomba-lomba meminta cinta”. Jawabnya; “Saya tidak bisa menjawab dan berargumentasi kepadamu. Jika aku menjawab, mungkin saja saya sudah masuk dalam arena lomba!”



Ada lagi kisah, ini asli, tentang sepenggal cerita, bagaimana manusia Indonesia bertahan dalam kemiskinan, ketiadaan dan merayakannya dengan penuh kegembiraan. Tokoh kita ini, ketika kecil, tidak tinggal bersama ibunya, karena orang tuanya bercerai. Dia tinggal bersama bapaknya. Pekerjaan bapak tukang becak. Ketika dia umur sekolah TK, sepertimu, dia bersosialisasi banyak dengan kawan. 



Berangkat dan pulang diantar jemput dengan bus sekolah. Setiap kali bus berhenti, menjemput teman-temannya satu persatu, teman-temannya berpamitan dan salam cium tangan pada ibu mereka. Sementara dia tidak. Suatu kesempatan, dia yang masih TK bertanya pada kakak perempuanya. “Kak, Ibu itu apa?” ditanya begitu, si Kakak menangis. Lalu memeluk adiknya. Dari caranya bertanya. Dia yang sudah TK tidak punya konsep dalam alam pikirannya, dia mengambil pilahan kata ‘apa’ bukan ‘siapa’ untuk meminta penjelasan dari arti kata ‘ibu’.  



Dia yang miskin, dia yang tekun belajar. Di sekolah selalu mendapatkan juara. Menjadi siswa teladan. Rangking 3 besar. Dari SD sampai SMP. Ironisnya, setiap kali pengambilan raport, tidak ada orang tuanya mengambil raportnya. Kakak perempuannya berkata, “Sudahlah dik, kamu ndak usah belajar, untuk apa mendapatkan juara. Kamu itu tidak membutuhkannya. Juara itu untuk orang lain saja yang lebih membutuhkan”. Nasihat ini tentu saja sangat nyeleneh. Tidak wajar. Juga njijiki. Tapi begitulah, kalau kita pelajari psiko dan sosio manusia Indonesia arus bawah itu menyenangkan sekali, banyak yang jauh melenceng dari teori.



Singkat cerita, nasihat kakak perempuannya ia terima. Justru ini adalah jalan hidup yang mencerahkan. Di SMA dia biasa-biasa saja. Menjadi siswa nyeleneh. Kenyelenehan ini yang menjadi cikal dasar, ia akan menjadi seniman besar.



#DearDifaa. Saya selalu mengambilkan tamsil untukmu dari kisah orang biasa saja. Bukan berarti kau harus begini dan begitu. Kamu harus jadi dirimu sendiri, Nak. Yang terpenting adalah bergembiralah. Tulisan ini tentang kompetisi dan lomba. Dua hari lagi, saya akan berlaga. Tentu saja saya manusia biasa. Bukan seperti kisah-kisah tokoh yang saya tuliskan di atas. Saya masih berharap kepada Allah. Untuk sekali lagi, tidak tega kepada saya. Tidak tega kepada kita. Dan meng-acc proposal kita.

 #DearDifa


Konon Tuhan itu bercakap dengan manusia melalui tanda. Tinggal manusia bisa membaca tanda itu atau tidak.



Saya dianugerahi banyak teman di Media Sosial dari beberapa kalangan. Dari teman itu saya mecoba, berusaha membaca tanda. Kadang Tuhan menyindir saya. Tidak jarang menyemangati juga. 



Seperti unggahan seorang profesor. Dia menulis tentang doa. Dia menganalogikan. Ketika ada pengamen dengan suara yang sumbang, buru-buru ia memberikan recehan. Jangan-jangan selama ini, suara doa kita juga sama sekali tidak indah untuk didengar, hingga Tuhan buru-buru mengabulkan keinginan. Betapa hina nian.



Suatu ketika, seorang teman seniman apdet status. Tokoh seniman ini adalah orang yang hidupnya penuh lika-liku. Seniman duda yang ditinggal kekasihnya. Tapi ia terus berkarya. Dalam statusnya ia mengucapkan: bertarunglah, jika kalah akuilah. Lalu bertarung lagi. Jika menang, kenangkanlah. Sebab kemenangan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Yang saya tahu, Tuhan Maha Ndak Teganan.



Begitulah, dua hari lagi saya harus siap dengan pertarungan itu. Tentu saya menyanyi dalam doa. Tidak peduli nyanyian saya terdengar sumbang. Toh jika dalam sepanjang hidup saya, saya terus berdoa dengan nyanyian jelek ini, saya tidak apa-apa. Jika diberi recehan juga saya terima. Karena sudah seharusnya, genetik saya mewarisi survive dalam mengarungi kehidupan.

 #DearDifaa


Pelajaran sejarah adalah bagi saya pelajaran yang membosankan. Selain hanya mendengarkan guru mendongeng, saat itu saya juga harus menghapalkan tokoh, peristiwa, sekaligus tanggal dan tahunnya. Konon, sejarah itu milik pengusa yang sedang duduk di singga sana.

.

.

Suatu hari, ketika saya sudah mentas dari bangku sekolah, saya baru tahu; ada satu tokoh, tokoh ini adalah tokoh sentral, bagaimana tokoh ini berperan sebagai pemantik pergerakan yang disebut nasionalisme dalam lingkungan kolonialiasme Belanda. Dia yang awal mula membidani lahirnya sebuah bangsa, yang kelak bangsa itu menamakan dirinya Indonesia. 

.

.

Tokoh ini, kelak saat kamu besar, mungkin tidak akan mengenalnya. Tidak pernah dijadikan nama jalan di kota-kota maupun di desa. Tahun 2006 pemerintah memang sudah menetapkan bahwa dia pahlawan. Tapi tempat peristirahatannya yang terkahir tidak di makam pahlawan. Karena sebenarnya dia dilupakan dan yang terlupakan. Maka, ijinkan saya memintamu menyimpan baik-baik nama tokoh ini; Raden Mas Tirto Adhi Soerja. 

.

.

Dia anak Bupati Bojonegoro. Darah biru. Keturunan ningrat. Saat manusia sebangsanya tidak mendapatkan akses pendidikan, dia memperoleh pendidikan Eropa. Pada jaman itu, awal tahun 1900an, perbedaan kelas sosial sangat kental sekali. Rakyat jelata akan menyembah, membungkuk jika menghadap atau bertemu dengan pejabat. Nah, R.M Tirto menolak sembah dan sungkem. Baginya, yang sudah mendapatkan pendidikan Eropa, manusia di atas bumi ini adalah sama. Dia tidak membutuhkan sembah dari rakyat jelata. Karena manusia itu hakikatnya sama, maka pribumi, Belanda, dan semua ras manusia juga seharusnya kedudukannya sama. Perbudakan, penjajahan, kolonialisme harus dibuang.

.

.

Dialah manusia pertama Hindia Belanda, yang menginisiasi membentuk organisasi. Dia melawan tirani melalui wadah bernama organisasi. Dia juga Bapak pers Indonesia. Dia yang pertama kali menerbitkan koran berbahasa Melayu, bahasa yang kelak akan menjadi bahasa Indonesia. Bahasa yang kelak akan menjadi bahasa sumpah pemuda.

.

.

#DearDifa. Dia fasih berbahasa Belanda baik tulis maupun lisan. Jika umurku panjang, ijinkan aku nanti berkisah banyak hal padamu. Kita akan berdiskusi panjang. Aku akan menjadi teman mengobrolmu. Bisa jadi akulah teman debatmu. Dan, Difa. Tepat hari ini, 17 Agustus tahun 1918. Seorang lelaki pembela rakyat, meninggal tanpa banyak orang mengiringi pemakamannya. 17 Agustus 1945 Merdekalah bangsa kita. Dan R.M Tirto tetap saja dilupakan.

 #DearDifa

Simpan baik-baik nama gadis kecil ini: Ghina Bou Hamdan. Dalam acara The Voice Kids for Arab 2015, ia menyanyikan Atoua Toufuli (Give Us the Chilhood). Ghina, saat itu, hampir tidak bisa menyelesaikan nyanyiannya. Dan banyak orang yang menangis mendengar ia menyanyi. 

.

.

Kau tahu, Nak. Kenapa Ghina dan para pendengar menangis? Mereka rindu nikmat kedamaian. Damai yang seharusnya mereka rasakan sejak kanak-kanak. Lagu ini, mengkisahkan kerinduan seorang bocah Lebanon, Remi Bendali. Dia merasa kegembiraan kanak-kanaknya tercabut karena perang pada tahun 1985. Kala itu, Remi berusia 5 tahun. Lebanon sedang porak poranda akibat perang sekterian. 

.

.

Konon, lagu ini adalah lagu wajib anak-anak di dunia Arab. Lagu yang mereflesikan kerinduan seorang anak akan kedamaian yang hingga hari ini, tanah para nabi itu tak pernah berhenti bergejolak. Tontonlah videonya ini: https://youtu.be/y7KqSrXnpSg

.

.

Pada sore hari tanggal 4 Agustus 2020 pukul 18.08 waktu setempat, terjadi ledakan di Pelabuhan Beirut yang berlokasi di Beirut, Lebanon. Sekitar 137 orang meninggal dunia, 80 orang hilang,dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka.

.

.

#DearDifaa, dulu bangsa kita juga mengalami hal yang sama, di atas tanah yang belum dinamai Indonesia. Perang, suasana mencekam. Tidak ada canda tawa anak. Bernyanyilah, Nak. Nyanyianmu akan diperdengarkan banyak orang. Dan akan menghibur Bapakmu ini. 

#DearDifa

Kisah ini jauh-jauh hari sebelum pandemi ini masuk ke negara itu. Saat itu umurmu belum genap 3 tahun. Kamu sakit. Suhu tubuhmu panas. Disertai batuk kering juga. Kesepakatan itu terjadi di antara kita. Bahkan kamu yang menginkannya: periksa.
.
.
Kita pergi bukan ke dokter, bukan pula ke tabib. Di desa kita, tabib jaman ini sudah tidak ada. Kita pergi ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu adalah seorang perempuan tua, namanya Bu Ken. Meski Bu Ken bukan seorang dokter atau perawat, tempat dia buka praktek sangat laris. Banyak juga pasien dari tetangga desa. Bisa jadi, karena tarif bayarnya yang merakyat. Jika berobat di dokter paling minim sekali berobat 50 ribu, maka di Bu Ken hanya 20 ribu. Atau mungkin saja, pelayanannya yang supel. Ramah. Dan juga banyak pasien yang sembuh.
.
.
Di Bu Ken inilah kamu sendiri yang mengambil nomor antrian, dan mengantri bersama ibumu di dalam. Sementara saya menunggumu di luar. Tempat di Bu Ken agak sempit. Rata-rata pasien Bu Ken adalah anak-anak. Kata Ibumu, saat tiba giliranmu, kali ini kau tidak seperti biasanya; merajuk digendongan. Takut diperiksa dan ingin segera pulang. Kali ini kau berjalan sendiri, menuju ruang kerja Bu Ken. Naik ke bad sendiri. Membuka baju sendiri agar dadamu dibuka. Dan siap untuk diperiksa. Tentu saja, Bu Ken takjub dengan apa yang kamu lakukan. Dengan cekatan Bu Ken memeriksamu dengan stetoskponya.
.
.
Stetoskop itu, bisa jadi adalah alat yang sama yang dulu memeriksa saya saat kecil – sepertimu yang sedang sakit. Waktu sepertinya begitu cepat. Memerlukan lamunan panjang untuk menyadari bahwa saya sudah setua ini.
.
.
Konon, Bu Ken bukan asli orang desa kita. Jika mendengar intonasi berbicara, sepertinya dia berasal Solo. Dan menetap di sini bersuami sang suami. Suatu ketika, saat saya kecil dan sakit. Ibu saya membawa ke Bu Ken. Namun sial. Bu Ken hari itu tutup. Rumahnya sepi. Karena sebuah kepercayaan dan keyakinan tinggi, saya jika tidak diperiksa Bu Ken sakitnya lama sembuh. Pernah mencoba berobat ke dokter. Tapi tidak ada tanda sembuh. Maka, saya disuruh memegang pagar rumahnya saja. Dan bim salabim. Tentu saja Tuhanlah yang maha menyembuhkan.
.
.
Kisah tentang lompatan-lompatan waktu seperti kisah Bu Ken juga dialami Ibumu. Dulu, Ibunya Ibumu –nenekmu, melahirkan bayinya di rumah bersalin Bidan Solihin. Si bayi itu, setelah berusia 25 tahun menjadi istri saya. Saat hamil, bayi yang sudah dewasa itu yang dilahirkan di Bidan Solihin, melahirkan juga di bidan Solihin. Bayi yang dilahirkan itu kamu. 
.
.
Sehat selalu untuk semua makhluk yang melompati waktu. Waktu tidak beranjak ke mana-mana. Hanya kita yang semakin tua.
#DearDifa

Kemarin tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional. Pendidikan, kata seorang teman–dia seorang seniman Yogya, adalah agar membuat manusia menjadi tidak jahat-jahat amat. Seperti biasa, dia membuat status fesbuknya dalam rangka lucu-lucuan. Tapi tidak dengan anggapan saya. Dia sedang serius. Manusia itu tadinya jahat. Sangat jahat. Datanglah alam pikir buah pendidikan dengan tetek bengeknya kurikulum, agar mencetak manusia tidak jahat. Tapi seriuskah? Manusia menjadi tidak jahat setelah dia berpendidikan? Kamu yang akan menjawab nanti di jamanmu.
.
.
Mengingat pendidikan, saya kemarin membelikanmu mainan huruf abjad. Tentu tujuannya adalah agar kamu mengenal huruf. Kemudian membaca. Kemudian bisa menulis. Karena saya benar-benar tidak mengingat, bagaimana cara dulu bapak saya mengenalkan saya pada huruf.
.
.
Yang saya ingat adalah ketika saya di kelas 1 SD, berada di kelas, latihan membaca, dipandu seorang guru; ini Budi, ini bapak Budi. Kelas satu saya sudah membaca. Saya sangat beruntung. Bapak saya yang juga guru mempunyai beberapa koleksi buku. Buku tentang cerita rakyat Nusantara. Juga beberapa buku pelajaran bahasa Indonesia. Yang sebenarnya, semua buku itu, milik perpustakaan sekolah di mana bapak saya mengajar. Ketika bapak sudah tiada. Buku-buku itu dikembalikan lagi.
.
.
Tentang sebuah huruf, dulu Belanda saat menjajah kita membuat klaim sepihak. Membuat survei. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang buta huruf. Tidak bisa baca tulis. Benar saja. Yang dimaksud baca tulis adalah baca dan tulis huruf abjad. Padahal kondisi rakyat saat itu, banyak yang kenal huruf Arab Pegon. Juga aksara Nusantara (Jawa, Bali, Lampung, dlsbya)Tapi mereka dianggap buta huruf.
.
.
Ini adalah masa-masa emas umurmu. Belajar segala sesuatu dengan gampang. Saya berharap. Sebelum kamu kenal dengan huruf abjad, hijaiyyah, dan berbagai aksara dunia. Kamu kenal dulu dengan Hanacaraka. Hanacaraka itu huruf asli leluhur nenek moyangmu. Saya tidak tahu, jika kehidupan ini masih berlangsung, apakah Hanacaraka masih digunakan oleh anak turunmu atau sudah usang.
.
.
Tapi apalah saya. Kurang semangat untuk mengenalkanmu pada Hanacaraka. Tulisan saya ini saja adalah huruf abjad. Terlebih jarang media, mainan, yang menggunakan Hanacaraka. Jadi kamu fokus hanya dengan huruf abjad. Sudah menjadi prinsip saya, hidup yang biasa-biasa saja, tidak perlu menjadi hero yang sok-sokan.
.
.
Saya ini lelaki yang bisa bahagia dari hal-hal sederhana. Saat masa pandemi. Mengetahui tentangmu. Di usia tiga tahun ini, kamu sudah membedakan huruf o dan angka 0 saja, sudah membuat imunku meningkat. Sesederhana itu saya bisa bersyukur. Tentu saja saya tidak menuntutmu kamu segera bisa kenal huruf hijaiyyah, kemudian menghapal Alquran. Itu terlalu sundul langit bagi saya. Alquran tentu sangat baik dihapalkan. Tapi menjalani kehidupan yang “'Ngur’ani” [berupaya menjalani ajaran Alquran, menjadi orang baik, jujur, dlsbya] adalah hal yang harus kita lakukan. Sehat selalu, Nadifa.
Untuk teman² PBA STIT 2018, maafkan saya yang baru sempat menunaikan janji. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. Akan tetapi, tulisan ini bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita. 
.
.
Hari ini tanggal 1 Mei, ditetapkan menjadi hari buruh dunia. Muara pendidikan kita, di negeri tercinta kita, adalah berujung menjadi buruh. Bukankah ustadz, guru, seorang pendidik, sejatinya juga adalah buruh? Saya berharap, suatu saat teman² menggali, siapa dan untuk apa semangat buruh itu ada. Besok tanggal 2 Mei, hari pendidikan negeri kita. Sangat cocok dikaitkan dengan mata kuliah kita; metodologi pembelajaran bahasa Arab.
.
.
Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi the great teacher. Terlebih dalam masa pandemik ini. Semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli. Tapi tidak butuh ahli kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti itu [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif?
.
.
Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?
.
.
Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.
.
.
TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.
.
.
Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;
الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.
.
.
Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru. 
.
.
Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu.  Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru. 
.
.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, jangan anti kritik terhadap murid.
.
.
Oh iya, mengenai sharaf. Refleksi saya terhadap sharaf adalah; kebiasaan kita, ilmu ini dipakai hanya sebagai objek ilmu. Tidak sebagai alat pisau analisis. Saya berharap, kedepan kita akan banyak menganalisis berbagai macam objek penelitian dengan memakai pisau bedah ini. Bgaiamana  kita langsung saja mencoba latihan analisis salah satu surat Alquran dengan analisis morfologi?
.
.
Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sukses selalu untuk PBA STIT 2018.

#DearDifa

Ini hari Senin. Biasanya saya menulis #DearDifa hari Sabtu. Tapi apa pentingnya nama hari pada detik-detik ini. Semua sama saja. Segala aktifitas dilakukan dari rumah. Sudah 14 hari pelajar Indonesia belajar di rumah. Kabarnya tahun ini tidak ada UN [Ujian Nasional] untuk tingkat kelas akhir. Sebagian pekerja formalpun bekerja dari rumah. Bukan hanya di Indonesia. Kondisi yang sama juga dialami oleh banyak negara di dunia.  Kejadian yang luar biasa.
.
.
Sayangnya, tidak semua pekerjaan dilakukan dari rumah. Pekerja non formal,  abang ojek misalnya. Kalau tidak keluar rumah, tidak mungkin mereka bisa makan. Maka, jika kondisi negara dilockdown yang paling rentan secara ekonomi adalah para pekerja non formal.
.
.
Perhari kemarin [29/03], Indonesia yang postif terjangkit Cofid 19 sejumlah 1285 orang. Di negara kita, yang meninggal dan sembuh banyak yang meninggal. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Yang jelas, negara kita juara 1 seluruh dunia, presentase jumlah orang meninggal.
.
.
Ada dua cara penanggulangan Cofid 19 yang sudah sukses diterapkan di negara lain. Pertama Lockdown, diterapkan di Tiongkok. Mereka sukses besar. Mata rantai penyebaran pandemik Corona terputus. Meskipun ada konsekuensi besar dari kebijakan Lockdown. Kedua tes massal. Diterapkan di Korea Selatan. Korsel membuat alat tes sendiri. Dan menerapkan tes jutaan warga negaranya. Sehingga bisa memetakan mana warga yang terjangkit, untuk segera diisolasi dan diobati.
.
.
Sampai detik ini, obat dari Cofid 19 belum ditemukan. Seluruh ilmuwan berlomba untuk meneliti. Dan di negara yang kita cinta, dua kebijakan pilihan tadi belum menjadi pilihan. Pemerintah pusat kita belum memberi aba-aba. Kecuali Pemkot Tegal yang sudah me-lockdown wilayahnya. Warga kota Tegal nyaris tidak bisa kemana-mana! Tentu ada positif dan negatif kebijakan tersebut.
.
.
Pemerintah Amerika di bawah Presiden Trump, baru-baru ini, dalam keadaan seperti ini, mengintruksikan warganya untuk tetap berliburan, tetap berkerumun, bergerombol. Dan perusahan tetap berjalan seperti biasa. Untuk mengatasi Cofid-19, Trump agaknya mempunyai cara lain;
.
.
Ternyata, selain kebijakan dua diatas [Lockdown dan Tes Massal], ada alternatif kebijakan lain, yaitu Herd Immunity. Kekebalan kelompok. Adalah keadaan ketika sebagian besar orang kebal terhadap penularan penyakit tertentu.
.
.
Herd immunity bisa tercipta dengan dua cara, salah satunya dengan menyuntikkan vaksin untuk penyakit tertentu secara masif. Ini biasa dilakukan dalam bentuk imunisasi. Semakin besar cakupan imunisasi, semakin tinggi pula herd immunity.
.
.
Cara kedua adalah dengan mekanisme alami. Herd immunity diupayakan dengan membiarkan virus menginfeksi seluruh atau sebagian besar orang. Ini dilakukan ketika virus tertentu belum ditemukan atau sedang diupayakan vaksinnya.
.
.
Tentu saja, herd immunity pada COVID-19 hanya dapat dilakukan dengan cara kedua, karena sampai saat ini vaksinnya belum ditemukan. Masalahnya, mengupayakan cara ini, sama saja bunuh diri massal.
.
.
Tapi begitulah sistem Kapitalisme yang dianut Amerika. Amerika sebagai negara besar dan maju adalah karena sistem kapitalisnya. Perusahaan-perusahaan dibiarkan bersaing. Yang kuat yang menang. Yang hebat yang bertahan. Yang ecek-ecek yang akan tumbang. Begitu juga Herd Immunty. Yang kuat menahan virus yang akan hidup. Yang lemah yang akan mati! Para Lansia, kekebalannya sudah menurun yang akan banyak korban. Juga balita sepertimu, yang imunnya belum terbentuk secara sempurna, juga sangat beresiko.
.
.
Dalam situasi dunia yang kacau balau, kita beruntung masih bisa bergembira menonton Upin Ipin, salah satu kartun kesukaanmu. Salah satu tokoh dalam Upin Ipin adalah Uncle Muhto. Uncle Muhto mempunyai bisnis kedai di Kampung Durian Runtuh. Dia ingin berinofasi dengan dagangannya. Salah satunya adalah menambah menu makanan berupa Ayam Panggang. Di Kampung Durian Runtuh,  yang mampu memasak Ayam Panggang dengan cita rasa dahsyat hanya Opah seorang. Maka, dia meminta Opah untuk memasak setiap hari untuk dihidangkan sebagai menu andalan di Kedai Uncle Mutho. Sayangnya, cara berfikir Opah itu tidak kapitalsitik, yang memanfaatkan keadaan dan skil yang ia punya untuk meraup keuntungan besar. Opah hanya akan memasak Ayam Panggang setiap hari cuma dua ekor. Tidak lebih dari itu.
.
.
Jika kita cermati, kehidupan Opah sehari-hari juga biasa-biasa saja. Opah selaku kepala keluarga tidak bekerja sebagai orang kantoran. Kak Ros (Kakak dari Upin Ipin) pun sama, dia hanya pelajar, yang sesekali mendapatkan honor dari ia membuat komik ‘Kembara Kembar Nakal’. Sesekali kita lihat, Opah sedang berkebun di kebun samping rumah. Sangat sederhana. Tidak sepeerti Kapitalistik yang megah dan pongah. Sebentar lagi system itu akan hancur dengan sendirinya. Lalu apa langkah pemerintah Indonesia? Sulit menjelaskannya untukmu.
.
.
Hari minggu kemarin kita tidak kemana-mana. Dan memang kita jarang kemana-mana. Sesekali kita memang pernah ke Balaikota Tegal. Biasanya kamu ingin naik odong-odong kereta yang berputar-putar itu. Sekarang kota Tegal Lockdown, tentu saja balaikota saat minggu pagi juga sepi. Mungkin balaikota, jika semua ini sudah berakhir, akan menjadi daftar tempat yang harus kita kunjungi. Menyaksikanmu berbahagia menaiki odong-odong kereta. Berputar-putar. Seperti hidup yang hanya seperti ini saja, terus berputar.

Tegal, 30 Maret 2020


#DearDifa
Saat saya menulis ini kamu masih tertidur. Kemudian saya membetulkan selimutmu yang berantakan. Semoga mimpimu indah. Seperti hari-hari yang kita jalani akhir-akhir ini. Semua bagai mimpi. Mimpi yang teramat buruk. Saya berharap ingin segera menyudahi mimpi ini.
.
.
Seperti halnya tebakan para ahli, Indonesia tidak akan siap mengahadapi pandemik Corona, saat pandemik itu menyebar di sini. Kemarin (18/3), Indonesia menduduki peringkat pertama dunia angka kematiannya! Dari 227 pasien positif Corona, 19 yang meninggal.
.
.
Fasilitas kesehatan kita belum memadai seperti di luar negeri sana. Saat seseorang ingin mengecek kesehatan, apakah virus itu bersarang di tubuhnya, dia harus merogoh kocek lebih dalam. Konon kabarnya, di laboraturium universitas Indonesia, sekali cek dihargai Rp. 2.500.000, sebuah nominal yang menyundul langit bagi rakyat kecil seperti kita.
.
.
Begitulah negara kita, semoga di jamanmu nanti, semua aspek negeri akan menjadi lebih baik. Selain virus Corona, ada kabar yang kurang baik. Sepertinya Tuhan sedang menggoga saya. Proposal bertahun-tahun itu hampir diacc. Hampir saja Tuhan mengatakan Kun. Juga hampir saja hati saya melambung tinggi. Setelah shalat jumat saya cek, ternyata ada yang lebih pantas dari saya. Sebagai manusia tentu saja ada sedikit kecewa-kecewanya. Benar agaknya, dunia mungkin hanya sekedar main-main saja. Kita yang main-main, orang lain yang dapat senangnya.
.
.
Harapan tentu saja masih ada. Kanjeng Sunan Ampel Surabaya itu dakwahnya menggunakan metode sabung ayam. Berjudi. Karena rata-rata masyarakat saat itu hobi berjudi. Barangsiapa yang kalah dengan Jagonya Kanjeng Sunan, dia akan tunduk dan masuk Islam. Karena Kanjeng Sunan itu kekakasih Allah. Segala hal yang dilakukannya selalu mujur. Jagonya menang terus. Masyarakat berbondong-bondong masuk Islam.
.
.
Gus Dur [KH. Abdurahman Wahid] beliau terkenal selain dikenal sebagai humoris, beliau terkenang juga sebagai seorang yang humanis, dalam suatu kesempatan pernah berkata, "Urip itu keplek", Hidup itu judi. Beliau mengatakan itu tentu saja sambil berkelakar, dalam rangka membuat besar hatinya para rakyat kecil yang setiap hari harus mencari rejeki menafakahi anak istrinya. Tukang becak, penjual somey, pedangan asongan, dlsbnya.
.
.
Tapi jika semua variabel-variabel itu tertuju padaku, "perjudian" kali ini saya kalah. Saya pulang. Mbangun desa lagi. Membuat peluang-peluang lagi. Membangun mitra dengan organisasi dunia, untuk mengentaskan pendidikan bagi mustadhafiiin di Tegal.
.
.
Saya jadi ingat pengajian Maiyah di Surabaya. Ketika itu diselenggarakan di komplek Doli [komplek pelacuran] yang kini sudah ditutup oleh Risma. Di sana  Mbah Nun berkata, lebih tepatnya berdoa dalam rangka membesarkan hatinya para pelacur itu, “jadikan aku apa saja ya Allah, jadikan aku pelacur, gento, dan lain-lain. Asal Engkau meridhoi aku jadi hambaMu”. Kemudian ditutup shalawat dan gamelan Kiai Kanjeng. Kuncinya Allah ridho.
.
.
#DearDifa. Saat usiamu belum genap 3 tahun kalender Hijriyah kemarin. Ketika ditanya apa cita-citamu, kamu jawab dengan lantang, ingin menjadi dokter. Saya tidak tahu kamu dapat inspirasi 'jadi dokter' dari mana. Ibumu memberitahu, mungkin dari video yang diputer yang didownload dari Youtube asal cita-citamu itu.
.
.
Kalau kau ingin jadi dokter, jadilah. Saya akan memberimu sepasang sayap. Saya biarkan kamu terbang bebas. Begitulah sebaik-baik saya mencintaimu. Menjadi dokter konon itu berat. Dan saya yakin kau pasti kuat. Hari-hari ini, dokter dan tenaga medis adalah garda terdepan dalam perang melawan pandemik Corona. Terkadang mereka tidak pulang dari rumah sakit berhari-hari, meninggalkan anak dan keluarganya.
.
.
Seorang perawat perempuan asal Tiongkok yang sedang berjibaku menangani Corona, disusul anak dan suaminya. Mereka makan bersama di pelataran rumah sakit. Sebuah pemandangan yang mengilukan hati. Makan bersama bagi kelurga itu adalah sebuah kekayaan dan keistimewaan yang luar biasa, meskipun hanya di pelataran rumah sakit. Dan si ibu tentu jaga jarak dengan anak dan suaminya.
.
.
Hari-hari ini, sesama manusia memang harus menjaga jarak. Untuk mengurangi resiko penyebaran pandemik Corona. Tapi tidak dengan dokter spesial paru berusia 80 tahun [saya lupa namanya]. Tadinya saya kurang percaya dengan tulisan yang banyak dibagikan teman-teman di Fesbuk. Setelah ada seorang teman membagikan cerita bahwa dokter yang usianya 80 tahun itu adalah rekan kerja dari istrinya. Dokter yang sudah seharusnya masuk usia pensiun itu terus bekerja. Berjihad menyerahakan seluruh jiwa raga, berperang di garis paling depan melawan Corona.
.
.
Kita sedang dalam berjudi antara hidup dan mati, melawan Corona. Cita-citamu masih ingin jadi dokter, nak? Terbanglah tinggi suatu hari nanti. Begitulah aku, sebaik-baik mencintaimu.


#DearDifaa
Tepat hari ini, kalender hijriyah 20 Rajab menunjukan kamu ulang tahun ketiga. Sehat dan jayalah selalu. Kita tidak merayakan pesta pora, hanya menengadahkan tangan kita ke atas, seraya meminta Tuhan yang maha esa tetap mengasihani kita.
.
.
Tepat hari ini juga, situasi dunia sedang chaos. Disebabkan virus Corona yang lahir di Wuhan-China, kini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali negeri yang kita cintai, Indonesia. Organasasi kesehatan dunia, WHO sudah merilis bahwa virus ini adalah pandemik.
.
.
Di Italia sudah ribuan orang yang positif, seribu lebih meninggal dunia. Di Iran juga, hampir seribu yang meninggal. Pemerintah Arab Saudi melarang jamaah Umroh dari luar. Di Indonesia per hari ini (15/03) 96 orang yang positif, 5 diantaranya meninggal dunia. 5 orang itu salah satunya di provinsi kita, Jawa Tengah. Tepatnya di Solo. Wali kota Solo menetapkan wabah ini adalah kejadian luar biasa. Semua aktivitas manusia di luar dihentikan. Pasar dan mall sepi. Sekolah diliburkan. 
.
.
Solo itu agak jauh dari kota kita, akan tetapi saat Gubernur Jateng konferensi pers kemarin, warga Jateng 27 yang suspect. 1 diantaranya ada di rumah sakit Tegal. Tidak dijelaskan lebih rinci rumah sakit mana dan warga Tegal mana. 
.
.
Secara geofrafis, kota kita sebenarnya dekat dengan Jakarta. Tetangga kita banyak yang mengadu nasib di sana, mencari kebutuhan di Jakarta. Kemarin juga, gubernur Jakarta menyatakan hampir di semua kecamatan Jakarta terdapat pasien yang suspect. 
.
.
Karena virus ini pandemik, dia bisa beradapatasi dengan semua iklim di dunia, hampir semua negara di dunia terkena virus ini. Presiden Amerika sudah melarang pesawat dari luar memasuki negaranya. Negara-negara lain juga hampir sama, memperketat lalu lintas manusia. Tapi sayangnya, di Ibu kota provinsi kita, di pelabuhan Tanjung Mas, kapal pesiar yang mengangkut wisatawan Australia dan Selandia Baru diberi ijin berlabuh, penumpangnya bebas turun dari kapal. Kata petugas berwenang di sana, wisatawan itu semua negatif Corona. Hanya bermodal detektor suhu tubuh.
.
Jika kita mengacu dari banyak pengalaman, virus ini tidak bisa dideteksi dengan suhu tubuh saja. Dia akan mengalami inkubasi selama 14 hari setelah tertular. Jadi, jika ada orang yang tertular dia akan biasa saja gejalanya sebelum 14 hari kedepan. Ketika mendekati hari ke-14 pasien suspect akan merasa suhu tubuh naik, flu, tenggorokan kering, sesak nafas, dan badan yang seperti dikeroyok massa. 
.
.
Mungkin benar apa kata pemerintah pusat, sudah seharusnya, kita tidak perlu was-was dan takut dengan wabah ini. Tapi keterbukaan informasi, dan cara-cara penanggulangan pemerintah sudah saatnya tidak dirahasiakan. Saat ini, Indonesia semakin kacau, wabah ini bukan soal urusan politik. Pemimpin sejati akan lahir dari ujian besar ini.
.
.
Italia sudah melakukan seperti di China, Lockdown. Semua akses menuju dan keluar kota dikunci, kecamatan dikunci, desa dikunci, pintu rumah dikunci, semua dikunci. China terbukti sukses. Sudah hampir nihil pasien positif di sana. Bahkan China yang telah mengekspor virus ke seluruh dunia, tidak ingin virus ini kembali lagi dengan cara membatasi lalu lintas manusia menuju China.
.
.
Di Indonesia, pemerintah kita santuy saja. Tidak ada gelagat metode apa yang akan dipakai untuk menangani wabah ini. Orang Nusantara dari jaman dahulu sudah sakti katanya. Memang benar, kemarin saat saya mengobrol dengan pramuniaga toko di Pemalang, mati sudah takdir. Kita besok mati juga tidak tahu, tidak harus mati sebab Corona, katanya. Pramuniaga tersebut sama seperti kita. Rakyat kecil. 
.
.
Tentang wabah Corona ini, saya jadi ingat novel Inferno karya Dan Brown terbit di New York 2013. Novel ini berkisah tentang konspirasi jahat. Sumber masalahnya adalah populasi. Populasi di dunia ini semakin hari semakin meningkat. Populasi yang banyak membawa masalah sendiri dalam sektor ekonomi. Sumber daya yang ada, tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan manusia. Maka solusinya, dibuatlah wabah untuk mengurangi populasi. Tentu saja novel itu banyak kita jumpai drama, ada juga tokoh yang menolak konspirasi itu. 
.
.
Tapi mudah-mudahan saya salah, mengkaitkan novel itu dengan wabah ini. Hari ini hari kelahiranmu, hari lahir adalah hari perjuangan untuk hidup. Hidup yang bahagia adalah hak setiap individu. Teringat pada adzan Isya malam itu, bayi merah menangis merekah. Bayi itu kini sudah besar. Sudah bisa merapalkan doa-doa. Hapal Qulhu. Tetap sehat dan jayalah kamu. Semoga wabah ini segera berlalu.


#DearDifaa

Kemarin kita menonton animasi kesukaanmu; Tayo. Episode kemarin sepertinya serial awal karir Tayo sebagai bus kota. Dia kedatangan seorang teman baru. Bus kecil berwarna abu-abu. Dia datang dari desa berkunjung ke kota. 
.
.
Si bus udik dari desa tercengang dengan segala hingar bingar kota. Awalnya ia tersesat. Tidak tahu jalan. Tidak tahu harus pergi kemana. Ndilalah dia bertemu Tayo. Karena Tayo adalah bus kecil ramah, dia menawarkan diri untuk menemani bus ndeso itu keliling kota. Untuk melihat segala keindahan jalanan kota. Tentu saja, bus ndesa itu senang bukan kepalang.
.
.
Di jalanan, saat melihat gedung pencakar langit dan jembatan panjang membentang, Tayo dan Bus Ndesa itu banyak disapa oleh penduduk kota. Ada yang mengucapkan terimakasih karena telah mengajarkan cara berkendara yang baik. Ada juga yang menyapa sekedar basa-basi. Bahkan si Kereta cepat bawah tanah, saat bertemu Tayo, dia lajunya pelankan. Mereka mengobrol dengan hangat. Pada intinya, si bus desa sangat berkesan dengan kepribadian Tayo yang banyak disukai khalayak.
.
.
Karena penasaran dengan kepribadian Tayo yang punya wibawa, Bus Desa bertanya, 
"Apakah kamu seorang bos, wahai Tayo?".
"Bos???", Tayo bingung mau menjawab apa. Akhirnya dia membenarkan bahwa dialah seorang Bos. Saat itu Tayo dengan jumawanya berbohong kalau dia adalah bos seluruh bus kota. Saat itulah petaka dimulai.
.
.
Tayo yang jumawa meninggalkan bus desa. Bus desa itu akhirnya melaju sendiri. Namun naas, dia tersesat. Beruntung dia bertemu dengan Lany [teman Tayo]. Dengan Lany bus desa dibawa ke tempat istirahat para bus. Di sanalah para bus berkumpul. Saat bus desa dan banyak bus mengobrol, datanglah Tayo. Tayo kaget, karena bus desa memanggilnya Boss Tayo. Dan seluruh teman-teman Tayo juga kaget, ternyata mereka [bus desa dan Tayo] sudah saling kenal. 
.
.
Sebelum kebohongan itu terbongkar, Tayo cepat-cepat mengajak bus desa keliling kota kembali. Hari sudah beranjak senja. Tayo tidak biasa berkendara jika malam, karena Tayo memang belum cukup lama tinggal di kota. Akhirnya mereka tersesat. Saat itulah Tayo melakukan pengakuan dosa. Dia bukan boss sebenarnya. Dan tidak ada boss di bus kota. Kami semuanya berteman. Si bus desa tidak kecewa dengan Tayo. Menjadi apapun Tayo, tanpa embel-embel pun, Tayo adalah kepribadian hangat yang menyenangkan. 
.
.
#DearDifa, saat di Yogya, saya punya teman, lebih tepatnya senior. Dia bukan teman kuliah. Saya mengenalnya di kampus ISI Yogya. Rambutnya gondrong, penampilannya acak awur. Celana jinsnya sobek di bagian lutut. Penampilannya seperti seniman betulan. Saya mengenalnya lebih dalam saat dia menjadi ketua panitia Pameran Pesta Buku Yogya. Dan saya ada di bagian divisinya. Dia tidak pernah menjelaskan bagaimana dia berasal. Teman-teman pada hormat dengannya. Yang orang Jawa, akan berbicara dengan Jawa Krama pada dia. Teman dari Madura berbicara dengan bahasa Madura halusnya. Yang dari luar Jawa, menggunakan bahasa Indonesia baku. Hanya saya yang orang Jawa, karena kebelumtahuan saya, saat mengobrol dengannya dengan Jawa Ngaka.
.
.
Selidik dan dari berbagai informasi teman, ternyata dia Gus besar dari Surabaya. Dia yang menggarap sebagai panitia inti saat Muktamar NU di Jombang. Hidupnya biasa saja. Dia tinggal di kos yang kusam. Saat saya ke kosnya. Dia berkisah, untuk menyambung hidupnya di Yogya, terkadang dia menjual lukisan dari kanvas. Terkadang juga berbisnis buku. Dlsbnya yang dia tidak pernah menggunakan atribut ke-Gus-annya.
.
.
Saya juga punya teman, dia adalah seniorku PBA Yogya. Penampilannya biasa saja. Kepribadiannya juga sangat hangat. Dia berasal dari Ngawi Jawa Timur. Istrinya orang Purwokerto. Setelah lulus, saat saya tanya apa kesibukannya, dia menjawab hanya berdagang bawang goreng yang sudah dikemas cantik, saya pernah diberinya secara cuma-cuma. Bawang goreng itu juga pernah menjadi lauk makanmu, saat umurmu sekitar satu tahun. 
.
.
Suatu ketika, saat di Purwokerto, saya diajaknya untuk ke rumahnya. Ternyata itu bukan rumah, melainkan Pondok Pesantren besar. Santrinya hampir ribuan. Rata-rata mahasiswa Purwokerto Unsoed dan IAIN. Bapak maratuanya yang Kiai itu juga salah satu petinggi kampus negeri di Purwokerto. Informasi selanjutnya dia ternyata Gus dari Ngawi. Sang penjual bawang goreng itu Gus juga hafidz.
.
.
#DearDifa, saya tidak mengajakmu menjadi pribadi yang extrofert atau introfert. Semua akan menjadi laku batinmu suatu hari nanti. Semua kisah diatas, memang tidak mengandung kisah nubuwah atau wali. Tapi kita akan sama-sama belajar dari apa saja, dari siapa saja, bahkan dari pendengki. 
#DearDifaa

Persahabatan yang hangat perlu dipupuk dan dirawat. Setahun yang lalu, saat saya masih mengajar di IAIN Purwokerto, saya mempunyai kawan perjuangan. Saya ambil dengan diksi 'perjuangan', karena saat itu adalah benar-benar waktu perjuangan. Dia yang memompa semangat saya untuk terus berproses mengikuti alur dari-Nya.
.
.
Setiap senin pagi, saya harus meninggalkan anak istri. Subuh buta, saya dan dia memacu sepeda motor menembus dinginnya kabut Gunung Slamet. Saya dari arah Pemalang sementara dia dari arah Slawi. Kami janjian bertemu di rumah sakit Muhammadiyah Randudongkal. Salah satu diantara sepeda motor kami parkirkan di rumah sakit itu. Kemudian lanjut berbonceng sampai di Purwokerto.
.
.
Sebenarnya, banyak perbedaan diantara kami. Dia orang Muhammadiyah struktural. Sementara saya mendaku sebagai warga NU kultural. Tapi bukan perbedaan yang kami tonjolkan. Meski dia orang Muhammadiyah cum aktivis 'Islam Panci' [Mohon maaf, istilah Islam Panci adalah guyonan kami untuk menamakan sebuah organisasi Islam Khuruj–yang dulu, saat berdakwah keluar dari rumah dengan membawa panci, untuk menanak nasi di Masjid], dia orangnya asik, wawasan keberislamananya luas. Secara, dia lulusan magister Al Azhar Kairo Mesir. Sudut pandangnya Islam moderat. Tidak jauh dari grand syekh mufti Al Azhar.
.
.
Dalam peta politik luar negeri pun sama. Meskipun tadinya, dia IM [Ihwanul Muslimin] sentris–Buyutnya PKS di Mesir. Tetapi setelah kami mengalami sekian puluh purnama, dan di atas motor Randudongkal-Purwokerto bersama. Dia menerima diskusi-diskusi kecil-kecilan dari saya mengenai Islam dan Sosialis, juga mengenai Madzhab Syiah yang kebanyakan dari Wababi Takfiri memfatwakan Syiah bukan Islam.
.
.
Sekarang kabarnya, selain mengajar di IAIN Purwokerto, dia juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, juga menjadi Mudir asrama kedokteran di sana. Hari ini dia berada di Tegal. Story WhatsAppnya mengabarkan istrinya baru saja melahirkan. Tanpa ba-bi-bu saya segera mengabarkan selepas pulang kerja saya ke sana. Tentu saja di rumah sakit Muhammadiyah Tegal. Kami ngobrol cukup puas. Dengan segala omong besar akan membuat proyek buku, cita-cita dulu. Betapa menyenangkan bersahabat dengan seorang Muhammadiyah satu ini. Teringat, saat dulu pilihan presiden pun, pilihan kami sama. Teringat juga, saat shalat subuh di Purwokerto dulu. Jika dia menjadi imam, kita subuh tanpa qunut. Jika saya yang jadi Imam, tentu dengan qunut. Tapi seringkali dia yang jadi Imam. Haaaa
.
.
Tiba-tiba kemarin dari Yogya, kota yang terbuat dari tumpukan rindu, terdengar kabar Muhammadiyah dan NU berseteru. Tapi dari timeline fesbuk saya banyak yang memberi kabar NU dan Muhammadiyah baik-baik saja. Akan baik-baik saja selamanya.
.
.
Kalau sudah seperti ini. Saya akan mengenang kawanku yang lain. Dia orang Muhammadiyah kultural. Saat itu tahun 2012 di kota Kendal. Muhammadiyah menentukan waktu Ramadhan lebih dulu. Sementara NU dan pemerintah sehari setelah itu. Kawanku yang Muhammadiyah taat, menjalankan puasa sebagai syariat. Saat sore hari menjelang, saya bermaksud menemaninya ngabuburit sambil menunggu ia berbuka. Sementara saya minum kopi dan makan mendoan. Begitulah hangatnya persahabatan NU dan Muhammadiyah.
#DearDifa

Bapak saya, kakekmu adalah seorang guru. Beliau sebenarnya orang yang woles dalam setiap hal. Tapi tidak dengan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran.
.
.
Suatu ketika, saat saya masih SD, saya mendapatkan PR pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Diantara butir soal itu berbunyi begini; bagaimana bentuk permukaan bumi? Terdapat beberapa pilihan. Diantaranya adalah datar dan tidak datar. Saya menjawab datar, karena dengan asumsi saya yang punya globe bumi yang bundar rata. Saat itulah saya disentak bapak. Lalu dia menjelaskan bagaimana gunung yang menjulang tinggi dan lautan yang dalam. Ketahuilah, permukaan bumi itu tidak datar, wahai bujang! Kata bapak.
.
.
Setelah puluhan tahun kemudian, di tahun 2020 ini, di gunung Bromo ini saya membenarkan. Betapa maha artistiknya Allah dalam menciptakan semesta alam.  Keindahan bukit dan awan serta gunung,  tidak bisa dideskripsikan dengan kata. Kamera jadul HP saya pun juga hanya menangkap kedahsyatan yang prosentasenya cuma beberapa persen saja.
.
.
Nenek moyang kita bangsa Jawa, saat dalam keadaan tertentu, mereka akan menyepi. Tapa brata untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi. Pertapaan itu biasanya di gunung, di gua. Junjungan kita, rasul Muhammad pun sama. Meskipun beliau suku Quraisy, saat mendapatkan wahyu pertama kali, beliau berkhalwat di gua Hira. Sesuatu yang janggal dalam budaya bangsa Arab. Maka tidak heran, kata Syekh Maimoen Zubair Rembang mengatakan, raganya nabi Muhammad itu Arab, sedang hatinya adalah Jawa.
.
.
Maka dalam kesempatan ini, saya mencoba merenung diri, setelah hampir tiga dekade perjalanan saya ini. Saya mengingat. Dalam kitab Al Hikam, Syekh Ibnu Atoillah menjelaskan, kedudukan seorang hamba itu ada dua; Asbab dan Tajrid. Asbab itu jamak dari Sabab. Sebab. Jika kamu ingin sehat, maka olah raga. Jika kamu ingin pintar, maka belajar yang giat. Jika kamu ingin kaya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
.
.
Sebaliknya, kedudukan Tajrid itu tidak usah ngapa-ngapain. Jika kamu ingin pintar tidak usah belajar. Allah yang akan membuatmu pintar. Jika kamu ingin kaya tidak usah bekerja. Allah yang akan membuatmu kaya.
.
.
Jika kita lihat sepintas, para kekasih Allah itu berada di maqam Tajrid. Namun tidak begitu dalam penjelasan Al Hikam. Kekasih Allah pun juga ada di maqam Asbab. Jika kamu belajar, bekerja sesuai norma, untuk mencari ridho Allah, maka pada posisi itulah Allah mengasihani kita.
.
.
Pertanyaan selanjutnya adalah, pada posisi yang mana, yang pas untuk kita, Tajrid kah, atau Asbab? Wallahu A'lam. Kita lanjut kapan-kapan.


Bromo, 1 Maret 2020
#DearDifa

Konon kemapanan mematikan kreatifitas dan produktifitas dalam berkarya [Dalam menulis misalnya]. Tentu saja itu tidak bisa digeneralisasikan. Saya menulis ini saat saya di Surabaya. Ingat Surabaya ingat Dahllan Iskan. Dahlan Iskan itu tokoh Indonesia. Pernah menjadi menteri BUMN pada era presiden SBY. Juga pernah menjabat Dirut PLN. Bos Jawa Pos itu sekarang menjadi pengusaha dan keliling dunia. Dalam kemapanan dan kenyamanan kekayaan itu, dia setiap hari menulis. Setiap hari! Kadang saya mengikuti tulisannya di fanspage fesbuknya. DI'S Way.
.
.
Selain itu Emha Ainun Nadjib. Dia itu Kiai, seniman, budayawan, dan berbagai gelar yang disematkan oleh masyarakat kepadanya. Dia itu kolumnis produktif se-Indonesia! Tentu saja beliau orang kaya. Kaya akan batinnya. Kekayaan itu beliau bagi untuk para mustadhafiin dengan membesarkan hatinya rakyat miskin.
.
.
Maafkan saya, yang target awal tahun menulis satu minggu saja untukmu tidak bisa saya tunaikan. Kenyamanan semu yang fatamorgana ini kadang menggangu saya. Semoga saya baik-baik saja. Dan Tuhan tetap mengkasihani kita.
.
.
Di Surabaya ini, ada daerah yang bernama Kremil. Kita punya novel berjudul Kremil. Novel itu saya wariskan kepadamu juga adikmu, semoga saat kau dewasa akan membacanya. Novel karya Suprapto yang berlatar waktu tahun 1950an mengkisahkan tentang cinta, kehidupan, dan sebuah perjuangan. Kremil itu daerah prostitusi. Tentu saja tokoh-tokohnya diantaranya pelacur, germo, dlsbnya. Bukan itu poinnya. Kremil bagi saya adalah karya sastra yang luar biasa. Alur dan ceritanya sangat epik. Sejak walikotanya Risma, Kremil sudah tidak ada lagi.
.
.
Kremil itu mengkisahkan tentang kisah cinta di awal tahun-tahun kemerdekaan Indonesia. Konon syarat laki-laki dicintai oleh wanita itu hanya satu; harta. Tapi tesis itu dipatahkan Ibumu. Komitmen itu kami bangun saat saya masih tidak punya apa-apa. Saat saya masih menganggur belum bekerja. Saat saya masih begitu jelata [sekarang pun masih begini-begini saja]. Saya tidak begitu yakin, keimanan seperti apa, dan madzhab teologi mana, yang dipakai Ibumu hingga dia begitu percaya padaku. Gusti Allah selalu maha ndak tega kepada kita.
.
.
#DearDifa. Saya meskipun saya pernah sedikit membaca teori feminisme, saya tidak sepenuhnya memahami perempuan. Menurutmu, kamu memilih dicintai apa mencintai? Dicantai itu objek. Sedang mencintai adalah subjek. Para pecinta itu bersifat aktif, sedang seseorang yang dicintai cenderung pasif. Saya memilih sebagai pecinta Ibumu dan kamu. Kalau kamu?

Surabaya, 1 Maret 2020

#DearDifaa

Junjungan kita, Muhammad SAW. adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dia adalah master piecenya alam semesta. Tanpa kanjeng nabi, seisi dunia dan akhirat tidak akan tercipta. Dari sekian banyak kehebatan dan kisah-kisah hero tentang beliau, saya sangat suka dengan sikap tawadhu' beliau. Tawadhu' itu rendah hati.
.
.
Nabi yang sebaik-baiknya makhluk Allah pernah ngendika: "sebaik-baik manusia adalah kebermanfaatannya untuk manusia lain". Maknanya, nabi, yang bagaikan permata dianatara bebatuan, mengajak kita— para butiran debu kerikil, untuk menjadi manusia unggul. umatnya diberi kesempatan untuk mengikuti tauladan beliau–menjadi sebaik-baik manusia.
.
.
Sudah dua hari ini, pikiran saya kacau dan embuh. Seseorang yang kamu sebut dengan "Um Kaji" meninggalkan kita semua untuk selamanya. Dia sebenarnya bukan siapa-siapa kita. Tidak ada hubungan darah dengan kita. Namun secara emosi, dia sangat erat sekali.
.
.
Um kaji, secara teknis adalah orang yang membantu Ibu saya–nenekmu, berdagang di pasar. Namun realitanya setelah pulang dari pasar, selepas dzuhur, terkadang dia membantu permasalahan apa saja di rumah. Mulai dari hal-hal besar seperti membetulkan drainase yang mampet, membenarkan gendeng bocor, mencabut rumput depan rumah, dll.
.
.
Hingga hal yang remeh-temeh seperti membakar sampah, Um Kaji melakukannya. Bahkan pohon pisang di samping rumah adalah Um Kaji yang menamnya. Pohon mangga depan rumah kita, dulu beli cangkokan. Um Kaji lah yang memberi pupuk dan menyiram saat masih kecil. Ketika sudah besar, pohon mangga itu selalu berbuah tanpa kenal musim. Tidak jarang Um Kaji memanjat pohon itu untuk memetik mangga yang akan dipersembahkan untukmu. Kamu penyuka mangga.
.
.
Um Kaji tidak pernah jatuh sakit, dia selalu terlihat energik. Namun, karena sering membawa beban yang berat, Um Kaji pernah dioperasi hernia. Sebanyak dua kali. Saat operasi pertama, kami pikir, setelah operasi, dia akan pensiun dari pasar. Kenyataanya tidak. Seminggu setelah operasi, dia berangkat lagi.
.
.
Sebutannya Um Kaji, tentu dia pernah berhaji, saat berangkat haji inilah, Ibu saya benar-benar kerepotan. Tidak ada yang membantu Ibu di pasar, maka saya harus turun tangan. Tenaga saya tentu tidak sehebat Um Kaji untuk memanggul 50 Kilogram gula atau tepung aci, maka saya merasa ngap-ngapan. Dibantulah tenaga lain. Dan masih tidak sekuat Um kaji. Kami pikir, sepulang dari naik haji, Um Kaji tidak akan berangkat membantu di Pasar lagi. Kenyataannya tidak. Um Kaji masih ingin membantu lagi.
.
.
Suatu ketika, Um Kaji merasa sakit hernia lagi. Operasi yang dulu sebelah kanan, kini yang dia rasakan sebelah kiri. Saya yang mengantarkan untuk operasi kali kedua. Saat operasi inilah, tim dokter yang menangani operasi menunda karena suatu hal. Suatu hal inilah yang kelak suatu hari menjadi jalan berpulangnya dia menuju keabadian. Namun setelah diberi treatment operasi segera dijalankan. Kami juga berpikir, setelah operasi kedua ini, Um Kaji akan benar-benar pensiun. Dugaan kami selalu salah, Om Kaji baik-baik saja. Bahkan saya masih ingat, Om Kaji pulang dari operasi dengan menggunakan sepeda motor. Kuat sekali.
.
.
Akhir Januari 2020, hari minggu, di subuh yang membisu. Saya mengantar ibu saya ke pasar. Biasanya sudah ada Um Kaji di sana yang sudah membukakan toko. Namun pagi itu toko masih petang. Hanya lampu kuning yang redup bersusah payah menyinari gang. Biasanya, jika Um Kaji tidak berangkat, kunci di taruh di atas. Saya cari. Saya coba raba. Hasi nihil tidak ada.
.
.
Ibu saya mendapatkan telepon. Di ujung sana, suara dari keluarga Um Kaji. Suara itu menangis. Tidak jelas. Kami panik. Menduga-duga. Sebenarnya apa yang terjadi. Untuk memastikan, saya bergegas menuju rumahnya. Di depan rumah Um Kaji, sudah ada banyak tetangga yang membawa surat Yasin. Saya itu juga, saya tidak percaya, Um Kaji sudah benar-benar tidak ada.
.
.
Sabtu siang, Um Kaji masih sehat. Masih bugar. Saya juga sempat berkomunikasi. Minggu pagi, ketika dia akan pergi ke pasar, menstarter motornya tidak nyala. Dia terjatuh. Disinyalir serangan jantung. Namun Um Kaji saat serangan jantung itu dia sempat melawan maut, dia segera bangun. Tapi tubuhnya roboh kembali. Dan kita semua tahu, Um Kaji sejak minggu ini, benar-benar pensiun.
.
.
Um Kaji di pasar tidak hanya membantu Ibu saya saja. Juga mencabang, membuka dan menutup toko Haji Toni. Di pasar juga terkenal supel, periang, suka bercanda, dan hal-hal lain yang positif. Tentu saja banyak orang yang kehilanhan sosok Um Kaji.
.
.
#DearDifa. Saya mengkisahkan ini agar kamu kelak, saat sudah besar tidak lupa, pernah ada sosok Um Kaji yang dekat dengan kita. Juga banyak sekali orang yang menyayangimu—menyaksikan dan berbahagia atas kelahiranmu—,  mereka telah meninggalkan kita: alm. Hj. Aisyah, beliau adalah buyutmu, ibu dari mbah kakung dari jalur Ibumu. Lik Ulwiyah, dia adalah adik mbah putri dari jalur ibumu. Juga mbah H. Abdul Wahab, yang selalu menawarkanmu Yakult saat kita berkunjung, dia adalah kakak ipar dari nenek jalur bapak. Matua Baeh, yang kita pernah menjenguknya membawa pisang.
.
.
#DearDifa. Saya tidak menuntutmu untuk menjadi pribadi yang harus begini dan begitu. Bagi saya, menjadi manusia bermanfaat itu tidak harus menjadi pejabat atau ulama. Tidak harus menjadi guru, dosen, dokter, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Menjadi manusia bermanfaat itu menyingkirkan duri dari jalanan. Atau saat kita berkendara memberi kesempatan orang menyeberang duluan. Kita ini hanya orang awam, melakukan sesuatu yang kecil-kecil saja. Barangkali kita kelak dikumpulkan dengan para sebaik-baik manusia.
#DearDifa.

Saat ini saya sedang memohon dengan segala harapan. Bisa jadi proposal itu akan gol. Atau bisa jadi juga zonk. Kita cuma hanya minta belas kasihan padaNya. 
.
.
Alquran itu ilmu pasti. Tidak ada keraguan tentangnya. Tidak ada kebimbangan bagi orang yang bertakwa. Falya'buduu rabba hadzal bait, aladzi athama hum min juu'i wa amana hum min khouf, kata Alquran. Maka sembahlah Tuhan yang menciptakan baitullah (ka'bah). Yang memberi makan kepada orang lapar, dan memberi rasa aman kepada orang yang ketakutan.
.
.
Konon di dunia ini, persoalan manusia yang paling mendasar hanya dua saja: lapar dan takut. Lapar itu babagan tentang perut, sementara ketakutan itu menyelimuti segala hal. The Panas Dalam, Band Indie asal Bandung yang sekarang sepertinya sudah tidak Indie lagi, pernah menulis lirik "lagu Timur". Timur itu anaknya Pidi Baiq–sang Imam besar The Panas Dalam.
.
.
Salah satu liriknya gini: 
Jangan takut Maklampir,
Maklampir itu Farida Fasya.
Jangan takut tidak naik kelas,
Tinggal pindah sekolah, 
Jangan takut polisi,
Kalau tidur, kita gilas. 
Jangan takut tentara, 
Tentara itu punya istri.
.
.
Lohhh maaf, malah ngelantur ke The Panas Dalam. Intinya kalau kita beribadah ke sang pemilik baitullah kita akan dijamin untuk tidak pernah kelaparan dan ketakutan.
.
.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
.
.
Buy one get two. Kita beli dengan satu, berupa Taqwa. Allah memberikan dua: Jalan keluar dari segala permasalahan dan rezeki yang tidak bisa disangka. Taqwa itu mengahdirkan Allah dalam segala hal. Dalam setiap detik kehidupan.
.
.
Waqul, robighfir wa anta khoiru rohimin.

#DearDifaa

Hari ini, hari minggu, jam 06.00 kamu masih terlelap. Biasanya kamu akan bangun satu setengah jam lagi. Seperti biasa, kamu tidur sangat malam. Semalam hujan. Sederas apapun hujan, ia adalah rahmat. Sebencana apapun dunia, kasih Tuhan akan selalu melekat.
.
.
Hari-hari Januari tahun ini adalah hari yang melelahkan. Dunia diselimuti kesedihan. Berbagai bencana alam menghantam. Juga bencana perang. Jenderal Iran, Qassem Sulaimani yang Syahid dirudal Amerika dengan cara curang, di Bandara sipil Irak, ia mempunyai anak. Anak itu seorang perempuan, tentu saja ia pasti bersedih ditinggal Ayahnya meninggal. Tapi kata-katanya yang mengalir indah mencerminkan jiwanya yang teguh, kurang lebih begini:  “Ayah saya bak botol kaca yang berisi parfum, jika seseorang memecah botol itu, wewangian akan menyerbak keseluruh dunia.” Tidak harus faham pepatah Parsi untuk memahami kalimat tadi.
.
.
Konon, maju mundurnya bangsa bergantung pada bagaimana isi pikiran para perempuannya. Ada khadijah yang mendukung dakwah nabi Muhammad. Ada Fatimah sang mutiara. Di Nusantara, terdapat banyak perempuan selain Kartini yang punya andil dalam peradaban banga kita, mereka tidak dikenal permukaan. Dan nama anak perempuan sang jenderal yang Syahid itu adalah Zainab Sulaimani. Catatlah, Difa, barangkali akan berguna untukmu suatu saat nanti.
.
.
Membicarakan tentang perempuan, semalam kita shalat maghrib di rumah. Kamu merajuk. Meminta ibumu shalat berdiri di depan, sedang Ayahmu di belakang. Ibumu memberimu nasihat, menganalogikan:
“Saat kita naik motor, kita jalan-jalan, posisi ayah ada di mana?”
“Di depan.” Jawabmu.
“Kalau Mama?”
“Di belakang”.
“Kalau Difa?”.
“Pangku, atau di tengah”. Jawabmu dengan tertawa.
“Nah, berarti kalau shalat, Mama juga di belakang”.

Akhirnya, kamu memahami itu. Dan posisi Ayah tidak bisa dimakzulkan dari Imam. Tapi tahukah kamu, Difa. Barangkali ini akan menjadi perdebatan panjang saat kau besar nanti. Ada pendapat Fuqaha yang tidak populer, seorang perempuan boleh menjadi Imam laki-laki. Lelaki itu seorang layaknya lelaki, ia bukan banci. Tapi pendapat ini tidak populer. Dan mungkin tidak boleh dipopulerkan. Saya tidak memunculkan sumbernya. Cari literasi sendiri. Tentu saja saya tidak memaksamu untuk menyetujui pendapat yang tidak populer itu.
.
.
Terus belajar, belajar terus, Nadifa.

#DearDifa

Natal sudah terlewat, tahun baru juga sudah kita injak. Agenda tahun ini insya Allah akan lebih seru. Ketika saya menulis ini, baru saja saya menyelesaikan pekerjaan laporan akhir tahunan, yang melebihi batas waktu sampai tahun baru. Apa saya zolim? Mungkin saja iya. Tapi saya akan memberikan yang terbaik. Meski harus jungkir balik.
.
.
Semalam kita tidak kemana-mana. Selain saya tidak suka keramaian, saya juga masih banyak pekerjaan. Di luar juga semalam hujan. Kamu seperti biasa tidur di atas jam 10 malam. Tahun 2019 adalah hal yang luar biasa dalam hidup saya. Tuhan selalu tidak tega kepada saya, kepada kita. Cintanya selalu memercik kepada kita. Tahun ini saya mempunyai tekad: Setidaknya seminggu sekali, sesibuk apapun, saya akan rajin menulis di blog ini. Itu target saya. Entah bagaimana nanti dengan realisasinya.
.
.
Bisa jadi menulis di blog ini adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena tidak ada keuntungan finansial. Kadang juga saya heran kepada diri sendiri: Profesi saya bukan wartawan, juga bukan penulis. Profesi saya tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis. Lalu untuk apa saya menulis. Tapi setidaknya, jiwa raga saya merasa bahagia, ketika saya menyelesaikan satu judul tulisan. Ada rasa kepuasan.
.
.
#DearDifa. Saya meyakini, motivasi itu bukan dari luar kita. Tapi motivasi ada dalam manusia. Di dalam relung jiwa yang sunyi. Percayalah, kita sebenarnya tidak membutuhkan motivator. Kata presiden Jancukers, motivator sebenarnya motivancuk. Maka api itu saya gali, dan saya akan berusaha menjaganya agar tetap selalu menyala.
.
.
Api motivasi itu bernama Bapak saya. Kakekmu. Saat beliau meninggal dunia. Saya masih duduk kelas 1 SMP. Usia saya saat itu belum genap 13 tahun. Dalam usia segitu, tentu saja saya tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya bapak saya. Seciprat kenangan dan hangatnya kasih sayang tentu saja masih saya ingat. Dan kenangan-kenangan itu timbul tenggelam. Semoga suatu saat saya bisa menuliskan.
.
.
Terkadang dalam lamunan, saya ingin benar-benar tahu siapa bapak saya sebenarnya, bagaimana jalan pikirnya. Pengalaman dan perjalan hidupnya seperti apa. Terkadang, jika ada kesempatan, perjalan hidupnya dikisahkan oleh Ibu saya. Satu dua kawan bapak juga pernah mengkisahkan beberapa halaman perjalanan kehidupan bapak.
.
.
Bapak saya guru honorer biasa. Konon juga pernah menjabat kepala sekolah. Beberapa mantan muridnya, ketika dalam suatu kesempatan bertemu saya, memberikan kesan yang mendalam tentang Bapak ketika menjadi guru. Tapi sayang sekali, semua kisah dan perjalanan [Sedih, senang, dan bahagianya] tidak pernah dibagikan langsung kepada saya.
.
.
Harapan saya: Saya, kamu dan Ibumu selalu sehat. Umur kita panjang. Kami bisa melihatmu berkembang dan mengarungi dinamika kehidupan. Sembari semua berproses. Ijinkan saya mencatat untukmu. Menulis dan melantur apa saja. Barangkali suatu saat bermanfaat. Semoga kita selalu diberkahi dan diridhoi Allah.


Tegal, 1 Januari 2020

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE