Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Menu Blog

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Desember sebentar lagi selesai, semalam hujan, tapi langit pagi ini cerah sekali. Puluhan bintang gemintang yang menemani subuhku. Langit merah fajar menambah rasa syahdu.

Desember, letak matahari ada selatan bumi. Konon, itu yang membuat udara dingin sekali, matahari terbit dari pojok timur selatan.  Ayam berkokok, sisa suara jangkrik masih berbunyi. Tapi begitulah alam raya, bergerak. Santai. Apa adanya. Mengikuti ritme-Nya.

Sementara, di belahan bumi sana, manusia, dengan segala angan dan ambisinya, ingin mengatur semua. Hatinya kemrungsung. Otaknya berfikir. Kapan semua ini akan berakhir. Manusia itu adalah aku dan mungkin kamu.

Ini soal waktu kata seseorang. Biarkan menggelinding pelan. Atau subuh ini, yg asri, yang sejuk, kau ingin rubah tiba-tiba menjadi malam yang suram? Tidak. Ini hanya soal waktu. Toh kita bukan pengendali waktu. Kita hanya pengendali kapal, karena nenek moyangku seorang pelaut.

Desember sudah hampir habis hari ini. Perlahan saja kita nikmati. Detik demi detik, jam demi jam. Spotify sudah merilis Wrapped, di sana, lagu-lagu kesukaanku muncul. Artis-artis favoritku dari nomor lima sampai nomor satu. Berdasarkan apa yang saya putar selama satu tahun.

Wrapped Desember tahun ini hampir masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagu kesukaanku ya hanya itu-itu. Iksan Skuter, Pidi Baiq. Selain itu, ada ratusan lagu dari berbagai artis yang saya putar ternyata. Dari Arabic Indie, SKA, reggae, dan tentu saja Indonesia Indie. Dan yang mengejutkan adalah, lagu “gacuk”, sebagai senjata rahasia mumetku tidak muncul di urutan lagu favoritku.

Artinya apa, 2025 adalah tahun menyenangkan! Meskipun tidak sepenuhnya. Banyak kegagalan-kegagalan yang menyelimuti aku. Menamparku, memelukku sepanjang 2025 ini. Tapi toh Tuhan tidak mewajibkan kita untuk sukses dalam banyak hal. Tuhan hanya menyuruh kita berikhitiar. Tapi apapun itu, saya sangat berterimakasih. Bersyukur pada Dzat yang Maha Asih. RahmatNya menyelimuti segalanya. RahmanNya mem-backup semua.

Ibu yang sehat, anak-anak yang tumbuh berkembang, istri yang sabar, dan kesehatan bagi semua keluarga. Adalah sesuatu hal yang sangat penting dari segala ambisiku sebagai manusia. Saya tidak tahu, 2026 di depan sana ada apa. Tugas ku, kalo ada di depan mata, saya ikhtiari sebisanya. Saya pasrahkan pada Tuhan yang Maha Kuasa. 2026 insya Allah indah pada waktunya. Hanya urusan waktu.

Stand By Me Doraemon 2 rilis tahun 2021. Dan saya justru baru bisa menontonnya sampai akhir di akhir tahun ini. Mungkin memang begitu cara kerja waktu. Ada hal-hal yang baru terasa ketika kita sudah cukup lelah untuk memahaminya.

Stand By Me bukan film anak-anak. Ia justru terasa sebagai film untuk kita yang sudah dewasa, sudah merasakan pahit dunia, tapi diam-diam merindukan kekonyolan-kekonyolan di masa lalu. 

Doraemon tentu saja salah satu anime favorit saya waktu kecil. Dan saya kira, bagi kebanyakan kelahiran 90-an, kita tumbuh dengan tontonan semacam itu. Doraemon adalah imajinasi paling fiktif dari masa kecil kita. Kantong ajaibnya membuat segalanya terasa mungkin. Seandainya saja Doraemon benar-benar ada, mungkin alat-alatnya bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat seluruh Indonesia. Selain Doraemon, ada Dragon Ball, Detective Conan, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, tapi menjadi mewah lewat imajinasi otak kecil.

Dan bagian paling melankolis dari film ini adalah ketika kita mulai mengingat orang yang menyayangi kita dengan tulus, apa adanya, tanpa syarat. Orang yang kini sudah tiada. Nenek.

Nobita, bagi saya, sangat mirip dengan diri saya. Ceroboh, tergesa-gesa, konyol. Dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang membuat saya merasa seperti Nobita. Tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa diandalkan. Tidak percaya diri. Olahraga tidak bisa. Hampir selalu kalah dalam banyak hal. Dan yang paling mengkhawatirkan, perasaan seperti tidak punya masa depan.

Di Stand By Me 2, masa depan Nobita digambarkan sederhana: menikah. Itulah harapan nenek. Ia ingin melihat Nobita menikah. Hadir langsung di prosesi itu. Karena nenek tahu betul sifat cucunya sejak kecil. Ia khawatir, apakah Nobita benar-benar akan punya masa depan. Tapi menurut saya, yang dikhawatirkan nenek bukan hanya soal menikah. Yang dikhawatirkan adalah masa depan secara keseluruhan. Hidupnya nanti akan bagaimana.

Karena itulah, mesin waktu membawa Nobita Now kembali menemui neneknya. Ia ingin melihat nenek saat masih hidup. Ia juga melihat Nobita kecil, yang sejak dulu memang sudah ceroboh dan bodoh.  Dijahili Giant dan Suneo. Ketika bertemu nenek, Nobita ingin memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Dan di titik itu, saya ikut ingin menangis. Ah orang yang cintanya tanpa syarat.

Singkat cerita, karena kekhawatiran nenek, Nobita berjanji akan memperlihatkan masa depan. Ia berjanji akan menunjukkan bahwa kelak ia benar-benar menikah.

Namun perjuangan menuju masa depan itu tidak mudah. Nobita Future ternyata masih sama saja. Walaupun manusia bisa berubah, sifat ceroboh dan tidak percaya diri tetap melekat. Pernikahan yang sudah direncanakan dengan baik, akad yang tinggal menunggu beberapa menit, justru membuat Nobita Future kabur. Ia lari ke masa Nobita Now, menggunakan mesin waktu Doraemon yang tertinggal di toilet umum.

Di sinilah ujian Nobita Now dimulai. Ia berikhtiar dengan berbagai cara. Tentu saja dibantu alat-alat Doraemon. Banyak drama khas Doraemon terjadi. Alat yang tidak berfungsi, waktu yang hampir habis, kekacauan yang datang bertubi-tubi. Semua terasa seperti episode Doraemon biasa, tapi dengan lebih menguras emosi. Sebenernya, banyak kritik dari film ini, tapi saya suka. 

Ada perbedaan menarik dibanding Stand By Me pertama. Jika dulu Nobita Future tidak ingin berinteraksi dengan Doraemon, karena Doraemon adalah teman yang khusus disediakan Nobita Now, dan mungkin  ada kejadian yang memilukan yang tidak ingin Nobita Futur bercegkrama dengan Doraemon. Namun, di film kedua ini Nobita Future justru banyak bekerja sama dengan Nobita Now dan Doraemon. 

Doraemon adalah simbol dunia yang ramah. Harapannya, dunia itu tetap ada sekarang. Ketika hidup tidak lagi seramah dulu. Ketika semuanya terasa penuh perjuangan, kepala mumet, dan target pekerjaan seperti tidak ada habisnya.

Doraemon sebenarnya nyata. Ia adalah teman-teman kita saat masih kecil. Kehidupan yang dulu terasa ajaib. Bermain bola sampai magrib. Bersepeda sejauh kaki kecil kita sanggup. Berhenti di pinggir sawah untuk minum. Ajaibnya, kita selalu sehat dan bahagia.

Bagi saya, mesin waktu itu sebenarnya ada. Ia hidup di dalam hati dan pikiran. Kita bisa kembali ke masa lalu lewat ingatan. Kita bisa maju ke masa depan lewat cita-cita, mimpi dan angan, 

Nenek, mengkhawatirkan masa depan cucunya. Apakah bisa menikah. Apakah bisa hidup layak. Doanya panjang, sepanjang apapun itu di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya, lewat mesin waktu, nenek hadir di pernikahan Nobita. Mendengar pidato Nobita tentang nilai keluarga. Melihat cucu yang dulu ia khawatirkan, kini berdiri sebagai pengantin. Suasana pecah. Haru tidak terbendung.

Saya tidak tahu pasti, setiap kali saya mengalami kesulitan, kegagalan, dan kesedihan, kenapa rasanya nenek selalu hadir. Mendampingi. Menguatkan. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua bisa dilalui. Sebuah ruang sunyi di kepala, tempat doa nenek terus bekerja, tanpa pernah benar-benar tiada. 

Doraemon, nenek, please, stand by me.

 

Senyum-senyum dia. Berbahagia. Ketika namanya disebut sebagai peraih jumlah nilai akhir terbesar di kelasnya. Padahal bapaknya dulu tidak pernah meraih juara apapun. Wkw

Di kelasnya, semua rata² laki. Hanya dia dan satu kawan perempuan bernama Jihan. Penuturan wali kelasnya, meski dia sebagai salah dua sebagai perempuan, semangat belajarnya mengimbangi murid laki-laki. Bagi saya ini pembelajaran baik tentang gender untuknya: Seorang perempuan juga bisa melakukan apa saja yang bisa dilakukan laki-laki.

Saat tiba waktunya konseling satu persatu, dan mengambil buku raport, saya bertanya pada wali kelasnya. Apakah penilaian ini objektif. Wali kelas menjawab, sangat objektif. Ibunya, tentu saja tahu kemampuan dia sebenernya. Yang hanya menonton Nobita di serial anime Doraemon. Dia suka tertawa dengan nilai-nilai ulangan Nobita.

Bocah ini, tentu saja seperti bocah lainnya. Selalu berpuas diri. Akan menuntut janji² saya, membelikan sesuatu yang dia inginkan. Memberinya sebuah pengalaman dan petualangan baru.

Namun, ketahuilah, #DearNadifa, bahwa tidak hanya sekedar angka-angka, yang akan mempermudah kehidupanmu kelak. Keberkahan ilmu, ketulusan hatimu, kebaikan pekertimu yang Allah akan selalu menyayangimu.

#MengambilRaport
#DearNadifa

Saya seharusnya memang belajar berdamai dengan apa saja. Termasuk dengan malam ini.

Malam ketika mata tak mau terpejam, pikiran enggan tunduk.

Maka saya kembali meraih sebuah novel lama, Miramar, karya Naguib Mahfouz, sastrawan besar dunia dari Mesir. Novel tentang sebuah hotel. Tentang losmen, kata orang-orang dulu. Tentang orang-orang yang singgah, mengobrol, berpesta, saling mencurigai, saling menyimpan rahasia. Novel yang dulu pernah saya jadikan draf proposal disertasi, tapi malam ini saya membacanya tanpa beban akademik apa pun. Saya tidak sedang mencari objek penelitian. Saya hanya ingin menikmati diksi-diksinya. Keindahan bahasa yang berjalan pelan, tenang, tapi tiba-tiba menikam.

Di kepala saya, Miramar hampir senafas dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sama-sama berbicara tentang manusia, tentang perempuan, tentang kebangkitan pascarevolusi. Bedanya, Mahfouz mengurung semua itu di satu penginapan. Dan justru di situlah ia menjadi hidup. Latar waktunya, Mesir pascarevolusi -- terasa berdenyut pelan, seperti detak jam tua di dinding hotel.

Di telinga saya, Payung Teduh mengalun.
Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Ah, mungkin hanya sedikit manusia yang masih terjaga di jam-jam seperti ini. Saya tidak ingin overthinking. 

Saya tidak sedang ingin bicara ideologi. Tidak ingin sok pandai menguliti pesan-pesan politik dalam sastra. Malam ini, sastra hanya membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman dahulu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu nikmat. Ekstasi yang tenang. Mabuk yang pelan. Plot-plot Mahfouz berjalan seperti orang mengantuk, terlihat jinak, dan diam-diam memukul.

Saya berpikir, seandainya hidup di dunia nyata bisa dinikmati seperti menikmati sastra, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot memikirkan cara membuat rakyat bahagia. Toh, alur hidup kebanyakan orang sudah sangat nyastrawi: orang-orang kecil, penuh utang, tukang becak, pengemudi ojek, pekerja jalanan, dan saya sendiri—semuanya punya kisah yang layak ditulis.

Saya pernah membaca sebuah artikel independen. Katanya, lebih dari 70 persen rakyat Indonesia tidak akan bertahan hidup jika tidak bekerja selama satu atau dua bulan. Tidak ada penghasilan, maka wassalam. Entah artikel itu benar atau salah. Mungkin banyak salahnya. Tapi juga tidak sepenuhnya keliru.

Secara kuantitatif, memang masuk akal. Orang yang tak bekerja berbulan-bulan, karena bencana atau apa pun, tentu kesulitan makan. Tapi nyatanya, orang-orang Indonesia itu luar biasa dalam urusan bertahan hidup. Kisah-kisah di sekitar kita membuktikannya. Mereka jatuh, bangkit, tertawa, dan entah bagaimana caranya, baik-baik saja.

Orang yang selalu melihat cahaya di tengah gelap semacam itu, bagi saya, adalah Emha Ainun Najib. Ia menguatkan, membesarkan hati orang-orang tertindas. Mustadh‘afin. Rakyat jelata yang tetap bisa bergurau meski hidupnya penuh kesusahan.

Namun tetap saja, ketimpangan di negeri ini terasa ironis. Terlalu jomplang. Saya membayangkan para tokoh, termasuk agamawan, yang gemar meributkan dan memperebutkan sesuatu, menciptakan polarisasi, membuat rakyat kecil bertengkar tanpa ujung. Di media sosial, di mushola, di kehidupan bertetangga. Mungkin ini cara meninabobokan kita: dibuat sibuk berdebat, mendukung hal-hal yang nyaris tak berdampak apa pun pada hidup kita sendiri.

Lalu ketika bencana alam datang, pemerintah kita…
Ah, pikiran saya berhenti di situ.

Malam semakin larut. Payung Teduh terus bergema di kepala. Sisa-sisa dialog di losmen Miramar masih mengambang di awang-awang.

Saya bertanya pelan: besok, anak-anakku dan zamannya nanti, akankah masih seperti ini? Di negara bernama Indonesia yang saya cintai.

Lagu Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan pun selesai. Dan malam kembali sunyi.

 

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya adalah, ketika saya krenteg tentang sesuatu, biasanya Tuhan memberikan petunjuk lewat sesuatu. Seperti satu hal ini. 


Semalam. Gus Abduh, Gus Abdullah bin Kiai Ahmad Cikura, dalam ta'limnya, ngaji tentang اِكْتَفَى -- merasa cukup. Syekh Ibn ‘Aṭā’illah selalu punya cara membuat satu kata kecil berubah jadi cermin besar. Jika saya melihat ke sana, tapi yang terpajang justru wajah saya sendiri, lengkap dengan segala keinginan yang tak selesai.


Saya sedang dalam mengevaluasi siapapun. Kepada sistem, seseorang ataupun badan. Saya sedang mencoba menyelami diri saya sendiri. 


Andaikan saya belajar rasa cukup.

Dan semua manusia di dunia ini merasa cukup. 


Kalau politisi merasa cukup, mereka tidak akan menjual rakyatnya demi kursi yang cuma sementara. Kalau pengusaha merasa cukup, mereka tidak akan merebut hak orang kecil yang cuma ingin hidup wajar. Kalau penguasa merasa cukup, mereka tidak akan takut kehilangan jabatan sehingga menindas siapa saja yang berbeda suara.


Dan kalau kita semua merasa cukup.,mungkin bumi ini tidak sesak oleh nafsu yang meletup-letup tiap hari.


Tapi manusia, terkhusus saya, sering lupa bahwa cukup itu bukan soal apa yang ada di tangan, tapi apa yang tenang di dalam dada.


Syekh Ibn ‘Aṭā’illah pernah bilang,

"Bagaimana hatimu akan bercahaya, sedangkan bayang-bayang dirimu sendiri masih menutupi jalan menuju-Nya?"


Mungkin saja, rasa cukup itu cahaya kecil itu.

Kalau cahaya itu ada, dunia jadi teduh.

Kalau hilang, ya jadilah berita-berita yang tiap hari bikin kita sesak.


Beberapa hari ini, dada saya remuk redam, salah satu mahasiswa saya, yang tinggal di Aceh Tengah, dia menulis di whatsapp group. Memberi kabar dirinya, keluarganya, dalam situasi bencana banjir di Sumatera. Dari caranya menulis, saya tahu, ada beban dan....asudahlah saya tidak bisa melanjutkan inI. Sedih hati ini. 


Dari itu, saya membayangkan sebuah dunia, yang saya sebut: politisi jujur, pengusaha tidak rakus, penguasa adil, dan alim ulama tidak merebutkan jabatan. Dunia yang terasa seperti pagi setelah hujan. Bersih, wangi, dan menenangkan.


Mungkin, tugas saya bukan menunggu dunia seperti itu. Atau mengubah seperti Ultraman. Tugas saya adalah menjadi bagian kecil dari cukup itu:

cukup dalam ambisi, cukup dalam kemarahan, cukup dalam menghakimi orang, cukup dalam gelisah mengejar yang tak perlu.


Sebab, bagi saya, bencana besar selain banjir, selain pandemi, dan krisis ekonomi. Adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merasa: Ini cukup. 

Ada orang-orang yang kalau kita sebut namanya. Dada langsung hangat. Bukan karena kita selalu sepakat. Tapi karena lewat dia, kita pernah merasa. Islam itu luas sekali. Buat saya, salah satunya Gus Ulil Abshar Abdalla. 


Saya suka cara dia bicara. Cara dia nulis. Kadang saya bingung, beliau kalau ceramah kayak lagi nulis, atau kalau lagi nulis kayak lagi ceramah. Lisan dan tulisannya terasa seirama. Tenang. Terukur. Jarang naik nada. Pelan-pelan nusuk ke kepala.


Dan di balik semua itu, ada dunia ilmu yang rapi banget. Cara dia baca kitab, nahwu shorofnya rapih. Balaghah, mantiq, bukan cuma deretan istilah dalam cover kitab. Tapi jadi cara dia menata kalimat, mengurutkan argumen, membangun jembatan antara teks dan realitas.


Kadang pengajiannya aqidah. Kadang tasawuf. Kadang soal wacana sosial. Tapi entah kenapa, di sela-selanya, struktur bahasa itu selalu nongol. Pelan. Tidak menggurui. Tapi kerasa. Mengena. 


Dari sisi pemikiran, saya juga banyak sepakat dengan Islam Liberal. Dengan Islib, dengan semangat membaca ulang teks. Melihat Alquran dan Hadis bukan sebagai pagar listrik yang bikin orang takut mendekat, tapi sebagai ruang dialog. Tafsir yang sadar konteks. Keberanian mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita telan bulat-bulat.


Sebagian orang marah, takut, atau alergi sama kata “liberal”. Buat saya, itu cuma satu fase. Satu jalan. Satu cara untuk bilang bahwa iman itu juga butuh berpikir. Butuh berani ragu, kemudian mencari. Butuh ruang untuk mengakui bahwa hidup ini nggak sesederhana hitam putih.


Menurut saya, banyak gagasan Islam Liberal yang dibawa Gus Ulil itu, kalau ditarik ke belakang, tidak jauh-jauh dari tradisi pesantren.


Pesantren, dari dulu ngaji kitab ya isinya debat, bantah-bantahan, qiyas, khilaf, perbedaan mazhab. Kitab kuning bukan kitab satu suara. Justru penuh keramaian pendapat. Cuma mungkin, sebagian dari kita punya nostalgia romantis pada “kepatuhan”, lupa bahwa dulu para ulama itu, tukang debat juga.


Di sisi lain, saya juga pelan-pelan kenal dunia lain. Dunia Islam kiri progresif. Nama-nama seperti Gus Fayyadh. Gus Roy Murtadho.


Kalau Gus Ulil banyak diasosiasikan dengan Amerika dan tradisi liberalnya, Gus Fayyadh tumbuh dengan jejak Prancis yang penuh sejarah gerakan-gerakan sosialis, kiri, pro-rakyat. Gus Roy juga berjalan di jalur Islam kiri progresif. Mereka berangkat dari tempat yang sama: pesantren, kitab kuning, ngaji, hormat pada tradisi. Tapi langkah mereka banyak turun ke jalan. Berhadapan langsung dengan aparat, kapital, kebijakan.


Mereka bicara soal mustadh’afin bukan sebagai istilah di kitab tafsir, tapi sebagai wajah-wajah konkret. Petani yang tanahnya tiba-tiba digusur. Kampung yang dibelah tambang. Hutan yang digunduli. Sungai yang dicemari. Yang mereka baca bukan cuma teks. Tapi juga peta konflik agraria, peta izin tambang, peta orang kecil yang terpinggirkan.


Nama Gunung Wadas pernah menggema.

Di sana, perlawanan terhadap tambang bukan sekadar “demo lingkungan”. Tapi jeritan orang-orang yang rumah, tanah, dan ingatan hidupnya terancam. Dan di saat ramai-ramai NU dengan urusan tambang, suara-suara seperti Gus Fayyadh dan Gus Roy muncul sebagai penyeimbang. Mengingatkan. Mengkritik. Mengajak melihat lagi relasi antara ormas keagamaan, negara, dan kapital.


Lalu datang momen yang bikin dada saya campur aduk. Perdebatan soal tambang, lingkungan, dan sikap NU.

Di situ, Gus Roy dan Gus Fayyadh bersuara lantang. Lalu di sisi lain, Gus Ulil menyebut mereka sebagai semacam “wahabi lingkungan”. Sebuah istilah yang, entah kenapa, bikin saya kaget, gemeteran.


Di suatu talkshow di televisi, Gus Ulil menjelaskan tentang tambang, tentang konsep “bad mining” dan “good mining”. Tentang bagaimana sumber daya alam bisa dikelola untuk kemaslahatan, bukan mesti ditolak mentah-mentah. Ada argumen ekonomi. Ada argumen tentang negara. Ada argumen tentang realitas pembangunan. Semuanya tersusun rapi. Keren. Secara struktur logika, nyaris tak ada celah.


Tapi di satu titik, ketika dia bicara bahwa alam punya kemampuan memulihkan diri, bahwa kerusakan bisa dinormalisasi, saya tiba-tiba ngerasa lemas.


Bukan karena saya lebih pintar. Bukan.

Tapi karena bayangan saya bukan hanya grafik pertumbuhan ekonomi, melainkan banjir, longsor, sawah tertimbun, kampung hilang.


Hari hari ini, ketika saya melihat berita banjir di Sumatera. Melihat orang-orang mengungsi. Rumah hanyut. Sawah rusak. Air keruh bercampur lumpur dan entah apa lagi. Saya jadi bertanya pelan-pelan di dalam hati, siapa yang sebenarnya paling sering salah, dan siapa yang paling sering terluka.


Di titik itu, kekaguman saya pada Gus Ulil tidak hilang. Sama sekali tidak. Saya masih melihat dia sebagai seorang kiai. Seorang intelektual. Pendiri Ghazalian College. Santri yang membawa tradisi Ihya’ ke ruang-ruang digital. Politisi yang tetap baca kitab. Guru yang membuat banyak anak muda merasa, Islam itu bisa cerdas sekaligus lembut.


Tapi di saat yang sama, ada ruang di hati saya yang terasa robek setiap kali lingkungan dibahas terlalu tenang. Terlalu yakin. Terlalu percaya pada konsep “pengelolaan yang baik” di tengah kenyataan kekuasaan yang timpang. Di antara narasi-narasi rapi, saya terbayang wajah petani yang nggak punya akses ke ruang studio. Yang suaranya cuma terdengar sebagai “keributan lokal”.


Di seberang sana, ada Gus Fayyadh. Ada Gus Roy Murtadho. Islam kiri progresif.

Mereka bawa Marxisme, teori kelas, analisis kapitalisme. Tapi semua itu mereka tarik sampai ke warung kopi, sudut-sudut desa, jalanan licin di depan kantor bupati. Ada yang menyebut mereka terlalu radikal. Terlalu kiri. Terlalu marah. Tapi mungkin, dalam marah itu, ada cinta yang bentuknya berbeda.


Kalau Gus Ulil mengajarkan saya pentingnya kebebasan berpikir, pentingnya menghindari fanatisme dalam memahami agama. Maka lewat Gus Fayyadh dan Gus Roy, saya diingatkan bahwa ada bentuk fanatisme lain yang perlu dicurigai. Fanatisme pada “kemajuan” yang melupakan siapa yang tergilas.


Pada akhirnya, saya tidak ingin memaksa diri untuk memilih satu dan meniadakan yang lain.

Saya masih ingin duduk tenang, membuka kitab, mendengar Gus Ulil mengurai kalimat Imam al-Ghazali pelan-pelan. Mengikuti jalan pikirannya yang bersih, balaghah-nya yang rapi, nahwu shorof yang ia rawat dalam setiap bacaan.


Tapi saya juga ingin suatu hari, kalau ada petani yang menangis karena tanahnya hendak dirampas atas nama pembangunan, saya berdiri di sebelah mereka. Meski cuma dengan suara kecil. Meski cuma dengan tulisan yang terselip di antara timeline.


Mungkin, di situ posisi saya sebagai murid zaman ini. Menyimpan kagum pada Gus Ulil dan Islam Liberal. Belajar marah dengan cara Islam kiri progresif. Dan di antara keduanya, mencoba tetap memeluk bumi. Agar ketika kita bicara tentang langit, tentang ayat-ayat, tentang tafsir dan teori, kita tidak lupa bahwa ada akar yang pelan-pelan tercabut.


Dan entah kenapa, di tengah semua itu, saya cuma bisa berdoa pelan.

Duhai Allah, jagalah orang-orang yang kami kagumi. Dan sekaligus, jagalah hutan, gunung, sungai, dan kampung yang tak punya akun media sosial untuk membela diri.

 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Saya pernah punya seorang kawan dari jurusan seni. Ia bukan anak orang kaya, dan kamera yang akhirnya ia miliki—dengan lensa panjang yang tampak gagah di genggamannya—bukan hasil hadiah atau fasilitas orang tua. Kamera itu lahir dari kerja keras, dari keringat yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari kacamata awam, hasil jepretannya tampak biasa saja, seolah tak ada yang istimewa. Namun karya-karyanya dihargai banyak pihak, mendapat apresiasi yang tak pernah ia minta. Banyak orang merasa tersentuh, meski tak semua mengerti teknik yang ia gunakan.


Sebelum ia memiliki kamera, ia lebih dulu menulis. Tentang kemiskinan, rasa sepi, ketimpangan, tentang dunia yang sering terasa bengkok dan tidak adil. Ia belajar memotret kenyataan melalui kata-kata, jauh sebelum memotret melalui lensa. Mungkin di situlah ia menemukan mata kedua: mata yang tidak sekadar melihat, tapi menghayati.


Dari dia saya belajar bahwa menjadi fotografer tidak selalu memerlukan kamera. Saya tidak paham teori pencahayaan, komposisi, atau fokus. Tapi saya tahu bahwa setiap hari, dunia memberi banyak pemandangan yang bisa dipotret dengan hati. Seperti saat terjebak macet panjang di jalanan kota yang berdebu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima. Panas menyengat, suara klakson saling bersahutan, dan wajah-wajah manusia menampakkan ragam cerita. Ada yang mengeluh keras, ada yang menumpahkan amarah tanpa tujuan. Namun ada juga pedagang kecil yang duduk santai di bawah motornya, memanfaatkan bayangan mesin sebagai atap sementara, menunggu pembeli dengan wajah tenang.


Pemandangan seperti itu selalu terasa indah jika dilihat dengan mata yang tepat. Bahkan ketika hujan turun, ketika dingin menusuk, atau ketika langit membakar kulit. Setiap keadaan punya ruangnya sendiri untuk dinikmati. Tidak semuanya perlu diumumkan atau diteriakkan kepada dunia.


Saya teringat pesan nenek dari masa kecil: tidak elok mengeluh pada keadaan. Panas yang terasa panas tidak perlu dijadikan pengumuman. Hujan yang membasahi tidak harus menjadi status. Dingin yang menggigit bukan alasan menuntut simpati. Semua itu seperti rezeki—ada porsinya, ada hikmahnya, dan tidak perlu semua orang tahu.


Dari pelajaran itu, saya mengerti bahwa menjadi fotografer tanpa kamera bukan kekurangan. Itu cara lain untuk melihat kehidupan. Untuk menangkap cerita yang berjalan tanpa suara. Untuk menyimpan pemandangan paling jujur yang tak pernah butuh filter atau bingkai.


Dan kadang, karya paling indah bukan yang bisa dipajang di dinding atau diposting di media sosial. Tapi yang diam-diam tinggal di dada.


Sejak kecil, saya punya banyak cita-cita. Dan dua di antaranya terdengar, sangat heroik, sekaligus sangat tidak mungkin saya capai dengan kondisi saya hari ini.

Pertama, saya ingin bekerja di TVRI. Ya, TVRI hitam putih yang saya tonton waktu kecil. Yang gambarnya burem, antenanya harus diputer dulu pakai galah bambu, dan kalau hujan petir gambarnya jadi cacing kejang. Tapi entah kenapa, buat saya keren sekali menjadi bagian dari TVRI. Rasanya seperti jadi orang penting di republik ini, meski cuma baca acara jadwal siaran. Hingga saat ini saya suka sekali menonton berita TVRI.

Dan cita-cita kedua. Saya ingin menjadi qori. Qori tilawah Al-Qur’an. Sebuah seni tarik suara yang memadukan keindahan maqamat, tetapi tetap menjaga esensi tajwid. Meskipun suara saya sebenarnya sangat jelek. Jelek sekali.
Yang kalau dikasih nilai seratus, sembilan puluh sembilannya itu karena Allah Maha Pengampun.

Saya terinspirasi dari paman saya. Keluarga dari ibu saya, meski agak jauh. Beliau seorang qori hebat di kampung kami. Juara nasional. Lucunya, beliau dulu anggota Polri. Sudah pensiun, sudah sepuh, tapi kalau pengajian kampung-kampung, dia yang baca. Dan puncaknya selalu di  shalat Jumat Kliwon. Hari sakral. Shalat jum'at ketika masjid besar penuh sesak.

Dan ketika paman saya membaca. Saya berani bersumpah. Bahkan angin pun berhenti bergerak. Daun-daun pohon seperti menahan napas. Sampai jago pun lupa cara berkokok.

Setiap tarikan napasnya seperti menegakkan iman. Setiap pengeluaran lafaz seperti membelah dada dan memasukkan cahaya ke dalamnya.
Dan keindahan kalam Allah turun begitu lembut, bagai hujan yang jatuh satu demi satu, tapi mampu menumbuhkan seluruh ladang hati.

Indah sekali. Saya yakin siapa pun yang hadir saat itu akan diam. Dan pulang dengan dada yang lapang.

Lalu kembali ke realitas.

Saya ditakdirkan dengan suara yang biasa saja. Untuk tidak menyebutnya dengan kejujuran penuh: suara saya sebenarnya sangat jelek. Teramat jelek. Hahaa

Dulu di pesantren ada kelas qori. Saya paling malas ikut kelas itu. Saya sadar diri. Saya pernah ikut paling tidak satu atau dua kali. Selebihnya saya bolos. Kabur. Bersembunyi di belakang kitab alfiyah, sambil pura-pura sibuk menghapal. Wkwkwk.

Lalu waktu berjalan.
Ternyata hidup tidak selalu menyenangkan, dan saya belajar menjadi prajurit: bertahan dalam keadaan apa pun.

Dan hari ini, saat asesmen lapangan izin prodi magister, karena hari Ahad dan tidak ada orang lain, maka petaka itu terjadi.

Saya ditunjuk sebagai qori. Di depan teman-teman kampus. Di depan para profesor.
Di depan bu Rektor.

Dan tentu saja kita semua bisa menebak hasilnya: amat sangat memalukan. Saya grogi setengah mati. Suara saya bergetar seperti speaker masjid yang kesetrum.

Dan yang lebih menyakitkan dari suara saya sendiri adalah ketika Bu Rektor berdiri, tersenyum, dan berkata pada asesor:

“Beliau ini biasanya qori-nya bagus… tapi hari ini berbeda.”
Saya ingin menghilang.
Kalau bisa, saya ingin menjadi sajadah. Atau sandal jepit. Atau apa pun yang tidak terlihat manusia. Wkwkwkw.

Tapi sudahlah.

Hikmahnya jelas. Saya tidak akan pernah ditunjuk menjadi qori lagi. Dan itu salah satu bentuk kemenangan yang paling realistis dalam hidup saya.

Dulu, saat saya mahasiswa PPL di Kendal, karena saya koordinator mahasiswa, saya qori juga. Tidak separah hari ini. Tapi tetap saja traumatis.

Hari ini saya hanya bisa berdoa.
Semoga asesmen lapangan prodi magister kampus saya berhasil.
Sukses.
Dan tentu saja. bukan karena qori-nya saya.

Anak kecil yang dulu duduk di depan televisi tabung, tiap Minggu pagi jam sembilan, menunggu Indosiar memutar kembali dunia yang terasa jauh dari kampungnya. Dunia para Saiya.

Di situ, di antara kursi plastik dan suara ayam tetangga, ia menemukan Goku. Bukan sebagai pahlawan super, tapi sebagai teman imajinasi yang membuat hidupnya terasa lebih luas dari pagar rumah yang terbuat dari bambu.

Anehnya, bertahun-tahun lewat, anak itu kini tumbuh menjadi orang yang sering mumet oleh hal-hal yang bahkan Vegeta pun mungkin tak mau mengurusnya, tagihan, pekerjaan, tuntutan, luka-luka hati yang tidak terlihat.

Mumet yang tidak bisa dikalahkan dengan satu kali hantaman Kamehameha.
Mumet yang cuma bisa dipikul pelan-pelan sambil menunggu dada kembali lapang.

Dan justru di saat itulah, kenangan tentang Goku datang lagi.
Goku yang tidak pernah digambarkan sebagai keturunan ningrat, bukan keturunan kiai, bukan anak habib, bukan orang besar yang semua jalannya sudah dirapikan.
Ia cuma seseorang yang terus berlatih. Terus naik level. Berusaha mencoba menjadi lebih baik dari kemarin.
Sederhana, tapi tegas untuk dirinya senidiri. Seorang biasa yang memilih untuk tidak berhenti.

Akira Toriyama, lelaki yang jarang dilihat orang di balik layar, telah memberi anak kecil itu satu pelajaran penting tanpa ceramah, tanpa ayat, tanpa pidato.
Bahwa, siapa pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya hari ini.
Bahwa batas kemampuan itu bukan tembok, melainkan pintu yang menunggu diketuk.

Kadang anak itu, yang kini sudah dewasa, menyadari bahwa kehidupan bukan tentang menjadi jagoan.
Tapi tentang keberanian untuk menambah sedikit kekuatan, sedikit pemahaman, sedikit keberanian, setiap hari.
Seperti Goku yang selalu kembali berlatih meski tubuhnya babak belur, kita pun belajar untuk berdamai dengan mumet, bukan kabur darinya.

Karena di balik kepala yang penuh dan hari-hari yang berat, ada peluang kecil untuk “naik wujud”, versi Super Saiya yang tidak memancarkan cahaya emas, tetapi memancarkan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati.

Dan mungkin, tanpa sadar, anak kecil yang dulu duduk di depan Indosiar itu sedang menghidupi pesan yang diwariskan Toriyama:
bahwa manusia biasa pun berhak tumbuh luar biasa, selama ia berani melampaui dirinya sendiri.

Super saiya itu sedang mumet, mengatur strategi baru.

Memang begitulah kejadiannya.

Sekitar pukul sebelas malam, Suleman ditemukan meninggal di ruang wudu Mushala Nurul Huda. Di samping tubuhnya yang basah kuyup tergeletak seorang perempuan muda bernama Siti Nur, kader posyandu yang juga bendahara mushala itu. Keduanya ditemukan oleh anak-anak yang datang hendak belajar ngaji lebih awal menjelang subuh. Saat itu air masih menggenang di lantai, dan lampu-lampu mushala padam seluruhnya.

Berita tentang kematian mereka beredar lebih cepat daripada kabar azan subuh.


Dalam waktu singkat nama Suleman, guru ngaji yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar anak-anak kampung itu, menjadi buah bibir. Orang-orang membicarakan posisi tubuhnya, cara meninggalnya, dan dengan siapa ia ditemukan. Di warung kopi, di beranda rumah, bahkan di grup WhatsApp warga, kalimat yang berulang-ulang terdengar sama:

“Guru ngaji meninggal berduaan dengan janda muda.”

Beberapa ibu rumah tangga bahkan menyarankan agar mushala itu ditutup sementara, menunggu pembersihan dan doa tolak bala. Sementara di pengajian Jumat, seorang ustadz sempat berkata dengan nada getir, “Begitulah, kadang setan datang dari pintu yang kita kira paling suci.”

Pemakaman Suleman berlangsung sederhana. Tak banyak yang datang. Hanya dua santri tua, satu tetangga dekat, dan tentu saja istrinya, Rukiyah, yang sudah lama sakit dan nyaris tak sanggup berdiri. Tak ada khotbah panjang, tak ada doa yang mengiringi lebih dari tiga menit. Angin pagi lewat di antara nisan-nisan baru, membawa bisik-bisik yang tak sempat ditepis siapa pun.

Sesudah itu, nama Suleman lenyap dari pengeras suara mushala. Anak-anak diminta mengaji di rumah Ustadz Mahfud.

Dan setiap kali orang lewat di depan ruang wudu yang sudah dikeringkan itu, mereka menunduk, bukan karena hormat, tapi karena malu menyebut sesuatu yang tabu.

“Sudah lama sebenarnya mereka berdua dekat,” kata seseorang di warung.
“Alim di depan, tapi siapa tahu di belakang.”

Begitulah manusia: sekali percaya pada gosip, maka kebenaran tak lagi butuh bukti.

Baru seminggu kemudian, petugas dari kelurahan datang membawa berkas laporan. Mereka mencari seseorang dari DKM untuk menandatangani dokumen bantuan air bersih. Dalam percakapan yang singkat dan nyaris diabaikan warga itu, terkuak sebuah hal kecil: malam sebelum kejadian, pompa air mushala rusak total.

Padahal, keesokan paginya akan diadakan pengajian akbar dan vaksinasi massal di halaman mushala. Suleman yang bertanggung jawab atas persiapan itu merasa gelisah, karena mushala tak boleh kering dari air wudu atau untuk sekedar cuci tangan.

Ia sempat menyambangi beberapa warga untuk meminjam kunci sumur umum RT sebelah, tapi hanya Siti Nur, bendahara mushala yang juga petugas posyandu, yang masih terjaga malam itu.

Mereka berdua ke mushala bukan untuk hal lain. Hanya untuk memastikan air tersedia esok hari.

Menurut keterangan petugas PLN yang memeriksa pagi berikutnya, kabel mesin pompa itu sudah lama terkelupas. Begitu mesin dinyalakan, arus listrik bocor ke genangan air.

Suleman yang berdiri paling dekat tersengat lebih dulu. Siti yang panik mencoba menarik tubuhnya.

Keduanya jatuh bersamaan, dalam posisi yang kemudian disalahartikan orang sebagai aib.

Tak ada yang tahu peristiwa itu hingga subuh tiba.

Namun kebenaran, seperti air, selalu datang terlambat. Dan sering kali, sudah terlalu keruh untuk dipercaya. Laporan resmi kelurahan tak pernah benar-benar dibaca warga.
Orang-orang sudah terlanjur menutup telinga dengan keyakinan mereka sendiri.

Hanya Rukiyah, istri Suleman, yang tetap datang ke mushala setiap sore. Meskipun sakit. Ia duduk di serambi dengan langkah tertatih, membawa ember besar. Kadang ia menimba air dari bak, menuangkannya perlahan ke lantai ruang wudu. Tak seorang pun tahu untuk apa. Mungkin hanya kebiasaan lama yang tak sempat ia buang.

Suatu kali seorang bocah menegurnya, “Buat apa airnya, Bu?”
Rukiyah tersenyum kecil.

“Biar besok kalau orang mau salat, gak kepleset.
Dulu Bapakmu juga begitu.”

Anak itu mengangguk, menatap permukaan air yang bergetar karena angin. Di luar, langit mulai gelap, seperti hendak hujan lagi.

Dan begitulah, bertahun-tahun kemudian, setiap kali air mushala macet atau hujan turun deras, orang-orang kampung masih menoleh ke arah ruang wudu itu. Bukan karena takut tersengat listrik, tapi karena, entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang menatap balik dari sana . Sesuatu yang ingin berkata bahwa kebenaran tak selalu datang lebih cepat dari gosip.

Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Mereka hanya berdiri diam, memandangi ember di pojok mushala yang tak pernah kosong dari air.

Di antara sunyi dan rasa takutnya sendiri, ia memegang perutnya yang bergetar oleh kehidupan yang tak pernah ia rencanakan. Dunia di sekitarnya penuh tudingan, tapi di dadanya hanya ada satu kalimat yang tak bisa dijelaskan. Tuhan telah memilihku. Bahkan ketika aku tak meminta apa-apa.


Kisah itu sering diceritakan saat saya masih kecil sebagai kisah mukjizat. Seorang perempuan melahirkan tanpa laki-laki. Mungkin, di balik itu, ada pesan yang lebih lembut dari sekadar keajaiban.


Amina Wadud pernah menulis bahwa Maryam bukan sekadar “ibu nabi”, tapi perempuan yang menjadi ruang bagi wahyu. Bukan tubuhnya yang luar biasa, melainkan keberaniannya untuk percaya pada sesuatu yang di luar nalar. Ia berdiri sendirian, tapi tak pernah kehilangan arah.


Ia tak menunggu seorang laki-laki untuk menegaskan eksistensinya. ia berdiri di hadapan Tuhan. Utuh, suci, dan berdaulat atas dirinya sendiri. Mendobrak patriarki karena Maryam tidak membutuhkan figur laki-laki untuk “menggenapkan” dirinya. Ia mandiri secara spiritual dan moral. Sekaligus emansipasi. Perempuan bisa menjadi perantara wahyu, bisa membawa kebenaran ilahi, tanpa perlu peran laki-laki di belakangnya


Di sisi lain, Fazlur Rahman menafsirkan mukjizat bukan sebagai pelanggaran hukum alam. Melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam. Ia bilang, Al-Qur’an tidak berbicara kepada manusia pada zamannya, tapi juga untuk manusia di setiap zaman. Sahih li Kuli Zaman. Maka yang harus dibaca bukan hanya apa yang terjadi, tapi mengapa itu dikisahkan.


Maryam, dalam pandangan itu, adalah simbol tentang sesuatu yang melampaui struktur lama. Kekuasaan Tuhan tidak tunduk pada rumus sosial, dan kebenaran bisa lahir dari rahim siapa saja yang bersih hatinya. Walaupun tanpa restu masyarakat, tanpa figur laki-laki yang melindungi.


Ulil Abshar Abdalla, dalam salah satu tulisannya, pernah berkata panjang tentang Maryam. Ia menyebut Maryam sebagai wajah spiritualitas yang lembut sekaligus tegas. Perempuan yang memeluk kesunyian, namun dalam diamnya justru melahirkan suara paling nyaring tentang tauhid.


Kata Ulil, kisah Maryam adalah “protes lembut” terhadap tatanan yang menyingkirkan perempuan dari ruang suci. Ia hadir bukan untuk melawan, tapi untuk menunjukkan bahwa kesucian dan kekuatan bisa berjalan beriring. kelembutan juga bisa melahirkan mukjizat.


Lalu aku berpikir. Mungkinkah kelahiran Isa bukan sekadar kisah iman, tapi juga cermin bagi rasio yang gelisah. Kita ingin semua hal bisa dijelaskan, diberi rumus, dibuktikan. Tapi di hadapan kisah ini, rasio kita hanya bisa menunduk dan berkata: mungkin tidak semua hal harus masuk akal; sebagian cukup masuk ke makna.


Karena di balik setiap kisah yang tampak mustahil, selalu ada Tuhan yang sedang berbisik: “Aku masih bisa menciptakan keajaiban, bahkan lewat kesunyian seorang perempuan.”


Dan entah mengapa, aku selalu merasa, Maryam itu seperti setiap orang yang sedang berjuang sendirian. Yang merasa tak dipahami, tapi terus percaya bahwa ada alasan di balik setiap luka. Bahwa kadang, sesuatu yang tak masuk akal justru cara Tuhan membentuk kekuatan baru.


Kisah Maryam bukan hanya tentang kelahiran Isa, tapi tentang kelahiran iman di dalam diri manusia. Bahwa yang paling suci bukanlah mereka yang tak pernah goyah, tapi mereka yang tetap percaya di tengah tudingan, di tengah ragu, di tengah rasa sakit.


Dan di sanalah mukjizat sejati tinggal, bukan di rahim yang melahirkan tanpa ayah, tapi di hati yang berani percaya, bahkan ketika seluruh dunia menertawakan keyakinannya.


Saya mencoba menafsirkan lagu “Kunang-Kunang” milik Pidi Baiq.

Barangkali, tidak semua para penikmat lagunya, paham betul tafsiran lagu ini. Ini hanya persepsi pribadi. Tapi kalau didenger baik-baik, ada rasa rindu yang disembunyikan di antara nada-nada ringan itu. Dan entah kenapa, saya yakin ini lagu tentang ayah.

Ternyata, bukan saya saja yang merasakan, salah satu komentar di lagu itu, dalam channel Youtube Pidi Baiq, seseorang mengenang 2 tahun ayahnya pergi. 🥀

Pada waktu ayah masih kecil, tahun satu delapan delapan empat. Kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang ayah sudah besar, tapi tetap saja kunang-kunang masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar ayah, teranglah dunia.”

Begitulah cara Pidi Baiq membuka lagu itu, absurd, lucu, tapi banyak hal yang perlu ditafsirkan.

Saya tahu Pidi. Saya mengikuti banyak karyanya bersama The Panas Dalam Bank dan sejumlah karya tulisnya. Itu jauh sebelum booming novel Dilan di tahun 2014 (?).  Kemudian difilmkan (2018?). Ia selalu bisa mengubah kesedihan menjadi lelucon yang manis, seperti orang tua yang menyembunyikan air mata di balik tawa. 

Kunang-kunang, makhluk kecil dengan cahaya redup, tapi indah. Dan Pidi membayangkan, seandainya ada yang sebesar ayah. Sosok yang dulu jadi cahaya di rumah, yang menuntun, yang diam-diam menanggung segala gelap, agar anaknya tetap merasa terang. Mungkin dunia akan baik-baik saja. Tidak se-menyesakkan ini. Tidak se-gelap ini. Tidak sesulit ini. Pada sebuah hidup yang tak baik-baik saja, dalam kesedihan yang datang berulang.

Bayangan saya jika saya masih punya cahaya sebesar itu. Mungkin dunia akan terasa lebih hangat, lebih mudah dijalani, lebih bisa ditertawakan.

"Kunang-kunang banyak terbang 
Kuning kuning malam kudus hening"

Adalah lirik pertama. Seperti lukisan kecil yang ditulis pakai kata. Malam yang sunyi, tidak ada suara apa-apa, tapi di situ beterbangan cahaya-cahaya kecil berwarna kuning.

Nah, kata “malam kudus hening” di situ bukan sekadar menggambarkan suasana malam yang tenang.
Itu semacam “malam yang sakral”  malam yang membawa rasa damai, tapi juga kesepian. Ada aura spiritual di balik absurd-nya Pidi. 

 "Ada satu Kunang-kunang
 Lihat terbang bimbang dan bergoyang"

Di antara semua cahaya kecil yang tenang dan indah itu, ada satu yang tidak stabil, goyah, ragu, kehilangan arah.

Bisa jadi, “kunang-kunang” di lagu ini metafora. “bimbang dan bergoyang” ini bisa diartikan sebagai si tokoh utama sendiri. Anak yang sedang berusaha tetap menyala di tengah hidup yang gelap, tapi cahaya dalam dirinya mulai goyah karena kehilangan ayah.

Dalam konteks lagu ini, bisa juga dibaca sebagai refleksi dan relasi tentang ayah dan anak:
Dulu ayah yang jadi cahaya, sekarang sang anak mencoba jadi kunang-kunang kecil yang meneruskan terang itu, meski belum se-terang ayahnya. Terbang bimbang, bergoyang. Dan berusaha tetap berusaha menyala.

Frasa biasa, tapi menyimpan seluruh fragmen rindu dan perjuangan hidup.

"Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang 

Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang"

Bagian ini adalah jantung dari seluruh lagu itu. Reff-nya pendek, diulang dua kali, tapi justru di situ letak kedalaman yang sulit dijelaskan. 

“Berkunang-kunang” di sini tidak cuma tentang cahaya kecil di malam hari. Pidi bermain di lapisan ganda. Berkunang-kunang bisa juga berarti “pusing, pandangan kabur,”. Sebuah metafora dari kelelahan hidup. Saat hidup terasa mumet, ketika dunia seperti berputar dan cahaya seolah hilang. Di situlah kenangan tentang ayah datang. 

Pengulangan kalimat itu dua kali bukan tanpa alasan. Yang pertama seperti panggilan lembut, yang kedua seperti pengakuan yang lebih dalam. Bahwa mengenang ayah bukan sekadar kebiasaan, tapi cara untuk tetap waras di dunia yang semakin keras. 

Dan frasa, “bila ku berkunang-kunang” itu adalah bentuk kejujuran paling manusiawi. Hidup ini memang sering bikin pusing, ekonomi tidak baik-baik saja, pikiran kadang kalut. Tapi di setiap momen gelap itu, kenangan tentang ayah menyalakan kembali sesuatu di dalam diri. Cahaya kecil, tapi cukup untuk melangkah lagi. Bangun kembali.

Pidi tidak menulis lirik dengan bahasa sedih. Dia pakai bahasa yang absurd, bahkan santai. Tapi itu justru bikin perasaan sedih para penikmatnya lebih nyata. Terlebih lengkingan suara Pidi dalam menyanyikannya.

"Kunang-kunang apa sama 
Bila pusing matamu berkunang-kunang 
Jangan sayang mentang mentang
 Kunang-kunang banyak begadang"

Kalimat Kunang-kunang apa sama, bila pusing matamu berkunang-kunang” di permukaan seperti guyonan. Tapi kalau kita lihat dari cara Pidi nulis, ini sebenarnya bentuk kegetiran yang disamarkan lewat tanya-tanya konyol.

Dia lagi sedih, lagi reflektif, tapi sengaja menyisipkan logika ngaco supaya tidak terlalu muram.

Seolah dia bilang: hidup gue lagi gelap, kepala lagi pusing, tapi yaudah lah, gue becandain aja biar nggak tambah berat. Pertanyaan “kunang-kunang apa sama?” itu retoris, yang tahu tentu saja hanya Pidi dan Tuhannya. Pun dengan frasa selanjutnya: Kunang-kunang banyak begadang.


di akhir lagu, pidi mengatakan:

"Yah kunang-kunang

seandainya Ayah persingkat

maka dia akan menjadi kunang dua".

 

Itulah letak kejeniusan sekaligus titik keharuan khas Pidi Baiq. Absurdnya bukan tanpa arah.  Itu cara Pidi menertawakan kesedihan. Kalimat “Seandainya Ayah persingkat, maka dia akan menjadi kunang dua” itu memang mainan kata yang kelihatannya cuma lucu. Dari kunang-kunang, menjadi kunang dua, alias kunang² , seperti di tulisan-tulisan santai orang Indonesia.

Tapi jika kita lebih dalam, di balik kelucuannya, ada lapisan kesedihan yang disamarkan tawa. Pidi sering banget seperti itu. Dia berbicara hal melankolis, sekaligus diselipin logika ngawur, biar tidak meledak tangisnya. Lebih tepatnya, si para penikmat karyanya, tidak menangis berdarah-darah.

Angkat topi tinggi-tinggi untuk Ayah Pidi. Terus berkarya. Sehat dan bahagia. Terimakasih. 

Sungguh ironi, kadang aku tertawa di depan kompor panas, bukan karena bahagia, tapi karena asap martabak mengaburkan air mata yang tak jadi jatuh. Orang-orang memanggilku “bang”, menyebut nama pesanan. Tak ada yang tahu, di setiap lipatan adonan, aku sembunyikan satu kenangan yang belum matang-matang juga: kamu.

Kau tahu? Sejak malam itu, aku berhenti menulis puisi. Karena setiap kata rindu yang kucoba tulis, berakhir jadi resep martabak. Satu sendok gula, dua tetes harap. Dan sedikit garam untuk menutupi pahit yang tak mau pergi.

Bisa jadi, senyummu dulu itu kutafsirkan sebagai: perjuangkan aku. Ternyata bukan.
Atau WhatsApp-mu yang dulu : Assalamu’alaikum. kukira kabar rindu, ternyata cuma tagihan uang kas kelas kala itu. Mungkin aku tumbuh bersama rasa percaya diri, yang ternyata hanya cara lain dari menyakiti diri sendiri.

Kadang aku iri pada minyak goreng di wajan. Ia bisa mendidih, menggelegak, lalu tenang lagi. Sementara aku, terjebak di panas yang sama, tapi tak pernah matang menjadi apa-apa.

Orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu cuma lewat, tak pernah mampir beli martabakku.

Lucu ya, aku ini penjual martabak yang bercita-cita jadi pelupa. Tapi setiap kali melupakanmu, yang muncul malah ingatan baru. Cara kamu tertawa waktu aku gugup di depan kelas, cara kamu menulis huruf ya Arab dengan titiknya yang miring. Semua itu menempel di kepala lebih kuat dari adonan di tanganku.

Buku-buku di rak rumah kontrakan sudah jadi saksi bisu. Dari Kierkegaard sampai Kahlil Gibran, semua kubaca dengan satu harapan. Semoga ada bab yang mengajarkanku cara berhenti mencintaimu. Tapi tidak ada. Mereka semua bicara tentang kehilangan, lalu berakhir dengan kata yang sama: ikhlas.
Dan aku benci kata itu. Karena setiap kali kubaca, aku tahu aku belum sampai di sana.

Kadang malam-malam aku ikut open mic. Katanya komedi bisa jadi terapi, dan tawa adalah cara paling rasional untuk bertahan hidup. Tapi bahkan di panggung, di bawah cahaya lampu dan tatapan orang-orang, aku masih melihat wajahmu di antara penonton. Mungkin itu sebabnya setiap punchline-ku terdengar seperti pengakuan. Dan dalam tiap tawa, terdengar seperti ejekan. 

Kemudia setelah semuanya selesai, aku pulang, menyapa sepi di kamar, menyalakan kipas angin yang berisik, lalu menatap langit-langit sambil bergumam:
“Lupa itu ternyata bukan soal waktu, tapi soal.... entah apa itu.”

Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa benar-benar lupa. Mereka memotong masa lalu seperti gunting memotong benang kusut. Cepat, rapi, dan tanpa rasa bersalah. Sedang aku, masih saja memunguti sisa-sisa yang jatuh di lantai ingatan. Kadang satu senyummu terselip di antara halaman buku, kadang suaramu muncul dari tawa penonton di kafe kecil tempatku open mic.

Ada malam-malam di mana aku membaca hanya untuk tidak memikirkanmu, tapi justru setiap kata mengantarku kembali ke wajahmu. “Cinta adalah penderitaan yang indah,” tulis satu pengarang.
Aku tutup bukunya, karena aku tahu, yang kualami bukan lagi indah, hanya sisa penderitaan yang belum selesai.

Aku pikir dengan berkomedi aku bisa menertawakan luka. Tapi rupanya, aku hanya sedang berlatih menyembunyikannya. Tawa di panggung hanyalah kamuflase. Sesudahnya, aku pulang dengan dada kosong, seperti martabak yang lupa diberi isi.

Dan entah kenapa, setiap kali wangi mentega menyeruak di udara, aku teringat pada sore-sore di mana kamu masih jadi kemungkinan.

Kini, bahkan aroma pun berubah jadi kenangan. Sungguh, hidup kadang terlalu pandai bercanda. 

Ada malam ketika aku benar-benar tak kuat lagi. Martabak habis, uang pas-pasan, dan hati masih tak punya rumah untuk pulang.

Aku duduk di depan wajan yang sudah dingin, memandangi bayanganku sendiri di genangan minyak bekas.
Lama sekali.

Seolah di situ aku bisa menemukan jawaban kenapa hidup terus mengulang rasa kehilangan yang sama.

Aku pernah berpikir untuk berhenti saja. Berhenti membaca, berhenti tampil, berhenti berharap.
Apa gunanya semua itu, kalau ujungnya cuma rindu yang tak sampai? Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku ingat, ada versi diriku di masa lalu yang pernah berjanji untuk bertahan. Untuk jadi kuat, meski tak ada yang memeluk.

Kadang aku berdoa, bukan untuk melupakanmu, tapi agar suatu hari nanti, kalau aku melihatmu lagi, aku bisa menatap tanpa gemetar. Itu saja. Itu Cukup.

Dan di titik itu, aku sadar. Mungkin aku tak sedang belajar melupakanmu,
aku hanya sedang belajar menerima kenyataan bahwa beberapa orang memang ditakdirkan cuma untuk singgah, bukan tinggal.

Sejak malam itu, aku mulai bicara dengan diriku sendiri.
Kadang di depan cermin kamar mandi kontrakan, kadang di tengah jalan sepi setelah open mic selesai.
Aku tanya. Kenapa kamu masih di sini?
Diriku yang lain menjawab pelan: Karena kamu belum benar-benar pergi.

Lucu, ya?
Orang-orang mengira aku kuat. Mereka melihatku bisa melucu di atas panggung, bisa jualan sambil senyum, bisa membaca buku filsafat dengan catatan penuh sorotan stabilo.
Tapi tak ada yang tahu, di antara tiap baris kalimat itu, ada namamu yang kutimpa paksa dengan tinta hitam.
Tak berhasil juga. Masih samar terlihat. Masih terbaca.

Aku mulai menghitung hari, bukan untuk berharap kamu kembali, tapi untuk tahu: sudah berapa lama aku hidup tanpa kamu.
Dan tetap saja, setiap hitungan berhenti di angka yang sama. Angka yang tak pernah selesai.

Pernah aku coba menulis lagi. Satu kalimat saja:
“Perasaan yang tak disampaikan akan membusuk di dada.”
Lalu aku diam.
Karena di dada ini memang sudah terlalu banyak yang busuk.

Aku menyalakan lampu kamar, tapi cahaya itu seperti tak mau menempel di dinding. Ia hanya melayang di udara, redup, menggantung, dan dingin. Mungkin begini rasanya kehilangan yang sejati. Bukan air mata, bukan teriak, tapi sunyi yang terlalu panjang, hingga akhirnya kau tak tahu lagi bagaimana rasanya berbicara tanpa menyebut nama seseorang.

Tapi aneh, semakin lama aku diam di dalam sunyi, semakin aku mengenali diriku sendiri.

Ternyata aku tidak hanya kehilanganmu, aku juga kehilangan bagian dari diriku yang dulu ingin membuatmu bahagia. Dan di sanalah aku mulai paham. Mungkin bukan kamu yang perlu kulepaskan,
tapi versi diriku yang terus menunggu di tempat yang sama.

Sekarang, setiap kali aku membuat martabak, aku melakukannya perlahan. Ada semacam ketenangan baru di antara bunyi wajan dan aroma mentega. Mungkin karena aku sudah tidak lagi berharap kamu datang membelinya atau sekedar menyapa. Mungkin karena akhirnya aku bisa menerima bahwa beberapa kenangan cukup disimpan, bukan diulang.

Aku masih membaca, tentu saja. Tapi bukan lagi untuk mencari cara melupakanmu. Aku membaca untuk belajar mencintai hidup, meski tak selalu ada alasan yang indah. Dan saat aku naik panggung lagi, aku tak lagi takut jika tiba-tiba wajahmu terlintas. Karena sekarang, kalau pun kau muncul di antara penonton, aku tahu, aku bisa tetap menertawakan kisahku sendiri tanpa merasa kalah.

Lucu, ya? Ternyata damai itu tidak datang dalam sorak atau tawa. Ia datang diam-diam, di sela-sela aroma martabak hangat, di antara halaman buku yang terlipat, di dalam diri yang akhirnya bisa berkata:
“Sudah cukup.”

Malam makin larut. Suara kendaraan Kota Bogor di luar menipis, menyisakan desau kipas angin dan detak kecil jam dinding yang entah sejak kapan berhenti pas di angka tiga dini hari.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi langit-langit yang retaknya membentuk pola tak beraturan, seperti peta, tapi tanpa tujuan.

Di luar jendela, lampu jalan berpendar kuning pucat, menembus tirai lusuh kamar kontrakan. Cahaya itu menimpa wajahku, separuh hangat, separuh dingin. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu memalingkan wajah dari bayanganku sendiri.

Aku menutup buku di pangkuan. Di halamannya terselip sehelai kertas order martabak, masih berbau mentega. Di sana, dengan tulisan tangan yang hampir pudar, ada satu kalimat yang dulu aku tulis untukmu:
“Jika suatu hari aku tak lagi menunggumu, bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya lelah jadi satu-satunya yang bertahan.”

Aku tersenyum kecil, bukan karena sudah bahagia,
tapi karena akhirnya aku tahu, bahwa beberapa kehilangan memang harus dibiarkan tinggal di tempatnya. Seperti halnya malam ini.
Diam.
Dingin.
Tapi jujur.

Yang tersisa di atas wajan.

Percayalah, dik, yang paling berat itu, bukan pergi ke masjid. Bukan. Yang paling berat adalah pulang dari masjid.” Saya lupa-lupa ingat yang mengatakan ini siapa. bagaimana ia menempel di dada ketika kita pulang, membuka pintu rumah, menegakkan punggung di depan cermin, dan melihat diri sendiri.


Di bawah lampu yang temaram, di teras yang masih lembab setelah hujan, lelaki tua itu duduk. Bukan ustadz ternama. Bukan tokoh yang namanya dipanggil. Orang kampung memanggilnya dengan nama kecilnya saja, atau kadang, diam-diam, “Mbah Sarmidi”. Nah Mbah Sarmadi adalah muadzin yg keren. Adzannya dan shalawatan dengan langgam Jawa, tentu saja saya banyak berhutang rasa. Ia sering sujud. Ia tak butuh mimbar untuk berbicara, karena kata-kata yang benar ia taruh di tindakan kecilnya: menolong tetangga, menahan lidah ketika gosip datang.


Ia pernah berkata, pendek, pada seorang pemuda yang bertanya karena penasaran: “Pergi ke masjid itu sebentar. Tapi pulang dari masjid… itu ujian.” Pemuda itu mengernyit, menunggu definisi besar. Mbahnya tersenyum, lalu bercerita pelan, seolah sedang melipat kain. “Kau tahu, manusia mudah pamer. Di dalam masjid, saat sujud, orang melihat langit. Tapi ketika keluar, sering ia lupa menundukkan hati. Ia menaruh sujud di saku baju, lalu mengeluarkan dompet—berbicara besar, menilai orang, merasa lebih suci. Itulah yang paling berat.”


Banyak ulama-ulama tasawuf dahulu berbicara tentang hal yang sama, tapi mereka memakai nama-nama besar, istilah-istilah yang membuat rasa hormat; sementara di kampung itu, pelajaran itu datang dalam bentuk sederhana: jangan pulang dengan dada penuh. Jangan pulang membawa lampu sorot yang menerangi semua kekurangan orang lain. Jangan pulang seolah ritual itu adalah jubah yang menjadikanmu berada di atas.


Malam itu, pemuda itu pulang dengan langkah berat. Di jalan, ada orang yang memotong jalan, ada warung yang menawarkan kopi, ada yang berdebat soal harta. Suara-suara itu merayap masuk, mencoba menyalakan api dalam dada. Pemuda itu memegang pintu rumah. Dia mendengar ibu di dapur, anak yang tertawa sambil menaruh piring. Ia membungkuk, menanggalkan sepatu, lalu teringat kata Mbah: pulang tanpa sombong. Ia menahan kalimat yang ingin keluar, menahan komentar yang ingin dilontarkan. Ia memilih diam. Ia masuk, duduk, memberi salam, membantu mengangkat panci.


Itulah ujian sebenarnya. Bukan seberapa lama kau sujud, bukan seberapa pandai kau membacakan ayat. Ujian adalah, ketika hatimu diberi kesempatan untuk menilai, untuk menghakimi, untuk menempatkan dirimu di ruang yang lebih tinggi, apakah kau akan memilih merendah atau menambah derajat di matamu sendiri? Apakah khutbah yang kau dengar akan menyirami kemauanmu untuk berbagi, atau malah akan jadi senjata untuk menumbuhkan rasa congkak bahwa ‘aku lebih tahu’?


Ulama-ulama tasawuf dulu menganjurkan muraqabah, mengawasi hati seperti menjaga bara api; mereka mengajarkan zuhud pada pujian, dan tawadhu’ pada sekilas sanjungan. Mereka sering menyuruh muridnya pulang dalam kesunyian, menimbang setiap kata yang akan diucapkan, menimbang setiap niat. Karena musuh besar sering bukan orang lain; musuh besar adalah pujian yang datang, lalu menempel di dalam dada, seperti karat yang menutup hati.


Mungkin, jika kita mau jujur, yang paling berat bukan soal ritual, tapi soal integritas hati—membiarkan ibadah itu mengubah perilaku, bukan hanya memberi sensasi suci sementara. Pergi ke masjid memberi kita suara-suara kolektif, gema sujud bersama, rasa hangat berjamaah. Tapi pulang dari masjid menuntut kerja batin yang panjang: menyingkirkan riya’, menyingkirkan kebanggaan, menyingkirkan kecenderungan untuk menilai. Pulang dari masjid menuntut kita membawa bekal yang tak tampak, kasih sayang, rendah hati, dan komitmen untuk bertindak.


Jadi, “yang paling berat itu pulang dari masjid,” ia bukan berbicara tentang jarak. Ia berbicara tentang beratnya menurunkan kepalsuan, dan ringan-ringannya hati yang tulus. Ia berbicara tentang keberanian untuk tidak memegang selembar keagungan ketika pulang, dan keberanian untuk memakai tangan sendiri untuk membantu, bukan tangan untuk menunjuk.


Di ujung jalan setapak, lelaki tua itu menutup kitab kecilnya, menyalakan lentera, dan menatap ke langit. Ia tidak ingin dikenal. Ia hanya ingin pulang dari masjid seperti pulang dari rumah sahabat, tanpa kepura-puraan, tanpa pretensi, dengan hati yang sama ketika ia sujud. Itu, katanya, sudah cukup.

Di tanah yang dikepung tembok dan doa, nama Marwan Barghouti masih disebut pelan-pelan oleh banyak orang. Bukan cuma oleh keluarga Fatah tempat ia lahir, tapi juga oleh Hamas—kelompok yang selama ini sering dianggap berseberangan.


Padahal keduanya lahir dari luka yang sama.

Bedanya, Fatah tumbuh dari jalur politik dan diplomasi, sementara Hamas memilih perlawanan bersenjata. Satu percaya pada meja perundingan, satu lagi percaya pada jalan perjuangan. Dan di antara keduanya, selalu ada rakyat yang masih mencari rumah.


Ketika Hamas menulis nama Marwan dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan, itu bukan sekadar strategi. Itu isyarat kecil bahwa mereka masih mengingat satu hal penting: bahwa kemerdekaan tak bisa lahir dari faksi, tapi dari persatuan. Bahwa Palestina, sebelum apa pun, adalah satu nama — satu nasib.


Israel menolak.


Marwan sudah lama dikurung sejak 2004, dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh membunuh orang Israel. Tuduhan yang bagi banyak orang terdengar ganjil: bagaimana mungkin bangsa yang dijajah dihukum karena melawan penjajahnya, sementara sang penjajah menulis sendiri aturan tentang “keamanan”?

Dunia diam, sebagaimana biasa. Tapi Marwan tidak.


Dari dalam sel yang sempit, ia tetap menulis, tetap berbicara, tetap percaya. Ketika Fatah dan Hamas pecah pada 2007, ia justru menyeru agar rakyat berhenti saling menyalahkan.


“Yang kita lawan bukan satu sama lain,” begitu kira-kira pesannya, “tapi sistem yang membuat kita terus bertengkar.” Dan mungkin karena itu orang-orang menyebutnya: Mandela-nya Palestina.


Ia tak pernah mencari simbol. Hidupnya sederhana, suaranya datar, tapi tegas. Ia menolak berpura-pura percaya pada “proses perdamaian” yang dari awal tak pernah jujur. Ia tahu, perundingan takkan melahirkan kemerdekaan kalau tanahnya terus direbut, kalau rakyatnya terus diusir.


Baginya, melawan bukan pilihan, tapi kewajaran bangsa yang dijajah.


Di mata banyak rakyat Palestina, Marwan adalah napas panjang. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya soal tanah, tapi juga soal martabat. Sebuah bangsa bisa hancur bukan karena penjajahan, tapi karena kehilangan rasa percaya satu sama lain.


Dan mungkin di situlah bedanya Marwan dengan para pemimpin lain — ia bicara dari luka, bukan dari kursi.


Ketika ia sadar bahwa proses perdamaian hanyalah taktik untuk memperpanjang pendudukan, ia mulai mengambil jarak dari elit Fatah. Langkah itu membuatnya jadi target pembunuhan pada 2001.


Namun sejarah, dengan caranya sendiri, melindungi orang-orang seperti Marwan: ia memenjarakan tubuhnya, tapi tidak pikirannya.


Sekarang, namanya kembali disebut.

Bersama tiga tokoh lain—Abbas al-Sayyid, Ahmed Saadat, dan Hassan Salameh—Hamas menuntut kebebasan mereka.


Media Israel bahkan menulis bahwa jika keempatnya keluar, “akan ada gelombang energi yang tak terlukiskan” di tengah rakyat Palestina.

Dan mungkin mereka benar. Karena di dunia yang penuh senjata, yang paling ditakuti penjajah bukanlah peluru, tapi persatuan.


Dan dari dalam penjara itu, Marwan masih mengajarkan satu hal yang tak pernah pudar: bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tempat yang pencahayaannya redup.



Ini tentang sebuah kursi. Sebelum bahas sok akademis dalam tulisan ini, saya selingi anekdot kisah Gus Dur. Saya tidak tahu sumbernya kredibel sahih atau tidak. Begini kisahnya:

Seorang santri bertanya pada Gus Dur, 

“Gus, ada berapa jenis setan?."

“Setan itu ada tiga”. Jawab Gus Dur singkat. 

“Apa saja itu, Gus?”

“Setan yang pertama adalah setan yang takut dengan ayat kursi. Saat dibacakan ayat kursi dia langsung pergi”

“Terus yang kedua gimana, Gus?”

“Jenis setan yang kedua ini wujudnya jelas, dia gak takut ayat kursi, tapi jika dilempar kursi, pasti pergi”

“Whahaa, ini kan setan berbentuk manusia. Kemudian yang jenis ketiga gimana, Gus?”

“Jenis ini yang agak lucu, mereka tidak takut ayat kursi, juga tidak takut dibanting kursi, malah mereka saling berebut kursi”.


******************************************

Dalam dunia sastra, ada satu pendekatan yang memandang karya bukan sekadar cerita, tapi kumpulan tanda yang membawa makna. Pendekatan itu disebut semiotika.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani sēmeion yang berarti “tanda.”


Secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tanda bekerja: bagaimana benda, kata, atau peristiwa bisa bermakna lebih dari yang tampak di permukaan.


Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Roland Barthes, seorang pemikir Prancis yang percaya bahwa di balik hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, selalu tersembunyi makna budaya dan mitos. 


Bagi Barthes, tanda tidak berhenti pada arti literalnya saja (yang disebut makna denotatif), tapi juga membawa makna kedua yang lebih dalam, yang disebut makna konotatif—makna yang muncul dari budaya, ingatan, dan cara kita menafsirkan dunia.


Tulisan “Kursi Kakek” adalah contoh yang sangat kuat dari cara tanda bekerja dalam kehidupan. Di permukaan, ia bercerita tentang masa kecil, tentang seorang kakek, tentang kursi kayu di rumah nenek. Tapi di kedalaman ceritanya, setiap benda di dalamnya membawa makna yang lebih luas—tentang rumah, tentang cinta, tentang spiritualitas yang diam-diam hidup di sela-sela rutinitas.


Kursi misalnya. Ia bukan hanya tempat duduk, tapi menjadi tanda dari kasih sayang dan kehadiran.


Kursi itu dibuat dengan tangan kakek sendiri, dan di sanalah segala kehangatan tubuh dan doa berpadu.


Ia menjadi ruang penyembuhan, tempat cucu kecil berbaring setelah dipijat, tempat kakek berdiam di usia senja, tempat para tetangga menunggu giliran doa.


Dalam pandangan semiotika, kursi itu bukan sekadar signifier—bentuk kayu dan senderan melengkung—tapi juga signified, yakni makna yang melekat: cinta, perhatian, sekaligus ingatan yang tak pernah padam.


Kursi menjadi simbol rumah dan akar. Ia menyimpan jejak tangan, waktu, dan doa yang telah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.


Lalu dapur.

Dalam kebudayaan Jawa, dapur bukan cuma ruang masak. Ia adalah jantung rumah, tempat di mana kehidupan lahir dan dipelihara. Nenek yang menyiapkan ketela goreng dan mendoan, bukan sekadar memberi makan, tapi menghadirkan rasa aman yang spiritual.


Asap dapur, aroma kayu bakar, dan suara gorengan adalah tanda-tanda kecil yang membawa kita pulang. Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos domestik, yaitu cara budaya menanamkan makna dalam keseharian—bahwa cinta dan doa bisa hidup lewat hal-hal kecil, bukan hanya lewat kata atau upacara.


Ada juga sembahyangan di seberang dapur. Dalam teks, ruang itu menjadi tanda sakral, tempat kakek berdoa untuk orang-orang yang datang mencari penyembuhan. Di situ, antara dunia nyata dan dunia spiritual seperti tidak ada batasnya.


Bagi Barthes, inilah lapisan konotasi yang paling dalam: makna yang lahir dari keyakinan dan tradisi. Ketika kakek duduk di kursinya, berdoa dalam diam, ia tidak hanya sedang melakukan ritual agama, tapi juga sedang menyatukan dunia—antara tubuh, alam, dan yang ilahi.


Benda-benda lain pun tak kalah berbicara. Ramuan pijat yang dibuat dari rempah dan minyak, misalnya, adalah tanda dari pengetahuan tubuh dan kasih. Ia menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga rasa takut dan lemah seorang anak kecil.


Sementara larangan bagi tamu untuk duduk di kursi itu menjadi tanda dari penghormatan—bahwa ada ruang yang tidak semua orang bisa masuki, karena di sana tersimpan makna yang sakral dan pribadi.


Melalui kacamata semiotika, seluruh cerita “Kursi Kakek” bisa dibaca sebagai jaringan tanda-tanda yang membentuk mitos tentang rumah. Rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang spiritual, tempat kasih sayang, doa, dan kenangan hidup berdampingan dalam keheningan yang hangat.


Kursi, dapur, ramuan, sembahyangan—semuanya menjadi simbol bagaimana manusia Jawa memaknai keseharian dengan cara yang lembut tapi dalam.


Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja.

Ia menyimpan tanda-tanda kecil yang kita bawa ke mana pun pergi. Kadang dalam bentuk kursi tua yang masih berdiri di sudut rumah, kadang dalam aroma ketela goreng, atau dalam doa yang kita bisikkan diam-diam saat tubuh terasa sakit.


Barthes pernah bilang, tanda selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Begitu juga kenangan—selalu menunggu kita untuk kembali, membaca ulang, dan menemukan makna baru dari hal-hal yang dulu tampak biasa. Sekarang luar biasa. 


Sejujurnya saat saya menulis kemarin saat senja. Mata saya berkaca-kaca. 


#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Senja ini, saya mengenang kursi di rumah nenek. Sebuah kursi yang dibuat langsung tangan kakek. Terbuat dari kayu. Sangat kokoh. Senderannya melekuk. Memanjakan setiap orang yang duduk. Tempat kakinya memanjang. Juga bisa ditekuk. Tepat untuk bermalas-malasan seharian. Meskipun ini bukan kursi goyang, tapi saya sangat nyaman. 


Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kursi itu. Apalagi jika dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Biasanya kakek akan memijatku terlebih dahulu. Seluruh baju saya dilepas. Hanya menggunakan celana dalam. Dengan ramuan ajaibnya. Semacam rempah dan ditaburi minyak. Saya dipijat. Antara nangis dan geli. Kemudian saya akan bermalas-malasan di kursi itu kembali. Kegiatan ini terus dilakukan hingga saya sunat. 


Kursi itu terletak di dapur. Dekat pertungkuan api. Sambil tiduran dan malas-malasan, nenek akan menyiapkan banyak makanan. Ketela goreng. Tempe mendoan. Dan lain sebagainya. Sangat bahagia. 


Letak dapur, persis di sebrang sembahyangan. Kakek memang seniman. Selain itu, dia adalah kiai setengah dukun. Meskipun dia tidak menobatkan diri. Tapi air yang didoakan kakek konon 'mandi'. Jika sore seperti ini, beberapa tetangga yang punya masalah akan datang. Sambil menunggu kakek berdoa di sembahyangan, biasanya 'si pasien' akan duduk di kursi itu. 


Tapi, tidak semua orang boleh duduk di kursi itu. Pernah suatu kali, kakek memberi isyarat pada salah satu tamunya untuk jangan duduk di kursi itu. Dan si tamu juga memahami. Kakek, tentu saja, saya tidak pernah sedikitpun melihat ia marah. 


Kursi itu, sekali lagi adalah tempat favorit para cucu kakek. Kami bisa berebut kursi itu. Saya adalah cucu tertua secara nasab. Karena bapak saya adalah anak pertama. Meskipun secara umur paling muda – Sebelum anak dari Bulik saya lahir. Maka sayalah yang paling sering duduk di kursi itu. 


Di usia senjanya, kakek banyak menghabiskan waktu di kursi itu. Dari obrolan dulu, sepertinya baru bisa saya tafsirkan sekarang ini: Kakek merindukan anak laki-lakinya. Paman saya. Dia pergi entah ke mana. Konon katanya ke Papua. Dia meninggalkan rumah ketika saya TK. dan pulang ketika saya kelas 1 MTs namun kakek sudah tiada. 


Kursi itu, bagi saya lebih dari kursi. Ia merupakan tempat paling nyaman di dunia. Yang terbuat dari sentuhan seni sekaligus doa. Semacam mantra, dari kakek untuk cucunya. Kelak, ketika saya sakit seperti ini, di senja ini, merindukan kursi kakek. Kemudian nenek menyediakan makanan di meja. Ah indahnya, dunia yang keras, akan baik-baik saja, mungkin semacam surga. 



TGB Hasan Basri, pertamakali ke Madura pada tahun 1989. 


Mendiang ayahnya begitu gembira pada suatu pagi, ketika dia mengusulkan diri mondok ke Madura. Ayahnya bolos ngantor hari itu. Langsung mengajak sang ibu belanja tas dan perlengkapan mondok anaknya di pusat kota Mataram. 


Dia sebenarnya tidak terlalu yakin mau mondok.


Hari itu juga, sore harinya, TGB Hasan diruwat. Sang Ayah mengundang semua keluarga, terutama tetua dari keluarga. Selamatan untuk dia yang mau berangkat mondok. 


TGB Hasan dibawa ke beberapa mbah yang sudah jadi Tuan Guru untuk didoakan, karena projek dia mondok ini projek nekat saja dan berdasarkan keyakinan. 


Pengakuannya, waktu itu, dia blank ilmu dasar agama. Baca Al Qur’an saja tidak bisa. Apalagi mau menulis atau bercakap Arab. 


Dia mengenal al-Qur’an, hadis arbain, mata goyah dan lainnya berdasarkan hafalan walaupun tidak melek baca teks Arabnya— Tapi hanya kurang dari sebulan di pondok Al-Amien Madura, dia bisa baca al-Qur’an juga tajwidnya. 


Keesokan hari, mereka berangkat menumpangi bus Wisata Komodo menuju Surabaya. Ada delapan orang yang ikut mengantarkan. 


Si Ayah begitu yakin kalau dia akan kerasan mondok sampai selesai. Dan ini pertaruhan, karena kakak-kakaknya banyak yang gagal mondok.


Sampailah mereka di kantor ayah, di sekiatar kawasan Ampel. Salah seorang sopir kantor ayah mengajakan TGB Hasan keliling melihat Surabaya. Diajak ke mall, kemudian belanja. Tentu saja TGB Hasan merasa beruntung dan senang. 


Dia mengira Madura tidak jauh dari kota Surabaya. Dia tidak mengira harus menyebrang lagi dari Surabaya. Maklum tidak ada google map zaman itu.


Setelah mobil yang mereka tumpangi mendarat. dia melihat tanah memerah di sepanjang jalan. Terik matahari menyentuh kulitnya sehingga agak gatal. Dia mulai keder. Dia berbisik ke ibunya agar dia dibawa kembali ke kantor ayah saja dan pulang lagi ke Lombok.


Ibunya tampaknya tidak berani kepada ayah. “Persoalan mondok ini salah satu doa ayahmu”, kata ibu.


Singkatnya, dia di Madura hampir delapan tahun.  


Apa yang dia dapatkan? TGB Hasan bisa baca kitab gundul, belajar seni, bisa bahasa Inggris dan banyak wawasan lainnya.


Madura membentuk dia secara intelektual dan estetis. 


Betapa berhutangya dia kepada pulau Madura.


Dia juga tidak percaya kalau bisa menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. 


Dia memiliki guru-guru yang luar biasa. Sampai hari ini, paling tidak setiap selesai solat, wajah beliau-beliau membayangi TGB Hasan. Yai Idris, Yai Ahmad, Yai Jamal, Yai Maktum, dan banyak Yai lainnya. 


Kalau tidak berkah, tidak mungkin tanah Madura melahirkan orang mulai seperti guru-guru dia.


Dan tentu saja juga para guru mulia, para Yai lain, di pesantren-pesantren tua di Madura lainnya. Ada pesantren Bata-Bata dan An-Nuqayah yang sering datangi. Belum lagi pesantren di Pamekasan dan bagian pelosok lainnya di Sumenep, Bangkalan dan Sampang.


Dia berkisah, sosok kiai Kholil, cucu Mbah Khalil Bangkalan, yang sering ke pondoknya menemui Yai Ahmad. Keduanya adalah petinggi BASRA masa itu. 


Kadang dia melihat KH Wahid Zaini dari Paiton, begitu juga dengan iparnya KH Hasan Abdul Wafi dan banyak lainnya.


Ketika Yai Ahmad mengajar kitab Muhtasor Ihya, karya Imam Ghazali, biasanya dia diceritakan tentang kiai-kiai Madura dari masa lalu. Atau kiai dari Madura masa itu. 


Kadang sore, saat ngaji kitab Minhajul Abidin kepada Yai Idris, tiba-tiba ada seorang Yai datang mengucap salam keras. Dan memanggil Yai Idris dengan “lek” (paman). Ia tidak membuka sepatunya, langsung masuk ke dhalem memakai sepatunya. 


Dia tahu itu adalah Yai Sa’di dari An-Nuqayah, ponakan Yai Idris. Khelaf, kata Yai Idris singkat melihat ponakannya datang.


Tapi tidak sekalipun Kiai Ahmad atau Kiai Idris bercerita tentang Kiai Idris Patapan yang merupakan kakek buyut mereka. 


Ia para mulia madura tidak sekarlatan banyak yang menggeneralisasi rasisme Madura seperti Meksiko. 


TGB Hasan mengenal Madura bukan saja dari kultur pesantrennya. Dia paham perempuan-perempuan Madura itu cantik-cantik. Di berapa desa tertentu para perempuannya umumnya cantik: putih atau agak coklat, mata tajam, alis tebal, rambut lurus dan badan yang aduhai. 


Sayangnya TGB tidak mungkin menyebut dadanya.


Para lakinya juga sama. Banyak yang cenderung mancung hidungnya dan memiliki badan yang kekar dan tangguh.


Selama di Madura, TGB Hasan juga menemukan energi orang Madura berkesenian. Baik modern atau seni tradisi. 


Yai Zawawi Imron seperti orang tua TGB Hasan sendiri. 


Ada juga pekerja seni dan budayawan yang sudah mulai berumur, Pakdhe Syaf dan Pakdhe Dayat (keduanya aktif di FB). keduanya akrab luar dalam dengan TGB Hasan Basri. 


Madura bagi TGB Hasan, adalah sebuah rendezvous kultural. Di dalamnya dia tidak melihat ada yang asli. Madura telah mencampurnya menjadi campuran yang memiliki karakter. 


Madura mengajari TGB Hasan tentang harkat seorang manusia karena ia manusia. 


Dia tahu identitas seperti kelas, etnis dan ras itu cair, tidak esensial dari Madura daripada dari Stuart Hall atau Paul Gilroy.


Kelak setelah di Yogya, TGB tambah paham rasisme kepada orang Madura.


Umumnya teman-teman dia yang merasa dari Jawa agak sebelah mata melihat orang Madura.


Stereotipikalisme etnis atau persangkaan etnis itu sama saja muasalnya dengan persangkaan kelas sosial. Ia merambati otak siapapun. Terutama mereka yang sekolahan. Sedikit sekali orang terpelajar yang mampu melampui cerita rasisme atau persangkaan etnik yang mereka pelajari.


Antara persangkaan kelas, etnis dan rasa sama jahatnya. Semuanya penyakit bani adam yang belum lagi ada obat mujarabnya sampai sekarang. 


Teknologi digital yang dibanggakan kita selama ini, justeru menyuburkan persangkaan kelas, etnis, dan ras. Bukan malah menguranginya.


Saya kira pendidikan rasa, feeling, kepekaan, atau seni yang paling cepat memangkas penyakit rasisme daripada peningkatan kemampuan digital, atau sekedar olah intelektual ala kampus.


Setiap mengenang madura TGB Hasan selalu ingat kata-kata dari James Baldwin, kawan kerennya dari Amerika, penulis novel itu berkata : “Saya bangga dengan orang-orang ini bukan karena warna kulit mereka, tetapi karena kecerdasan, kekuatan spiritual, dan kecantikan mereka." 


Lalu, oknum yang mendzalimi Yai Mim di Malang itu, yang merupakan Madura, tentu saja, jangan digeneralisir untuk semua tentang Madura. 


Wallahu'alam...

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE