Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saya mencoba menafsirkan lagu “Kunang-Kunang” milik Pidi Baiq.

Barangkali, tidak semua para penikmat lagunya, paham betul tafsiran lagu ini. Ini hanya persepsi pribadi. Tapi kalau didenger baik-baik, ada rasa rindu yang disembunyikan di antara nada-nada ringan itu. Dan entah kenapa, saya yakin ini lagu tentang ayah.

Ternyata, bukan saya saja yang merasakan, salah satu komentar di lagu itu, dalam channel Youtube Pidi Baiq, seseorang mengenang 2 tahun ayahnya pergi. ðŸ¥€

Pada waktu ayah masih kecil, tahun satu delapan delapan empat. Kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang ayah sudah besar, tapi tetap saja kunang-kunang masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar ayah, teranglah dunia.”

Begitulah cara Pidi Baiq membuka lagu itu, absurd, lucu, tapi banyak hal yang perlu ditafsirkan.

Saya tahu Pidi. Saya mengikuti banyak karyanya bersama The Panas Dalam Bank dan sejumlah karya tulisnya. Itu jauh sebelum booming novel Dilan di tahun 2014 (?).  Kemudian difilmkan (2018?). Ia selalu bisa mengubah kesedihan menjadi lelucon yang manis, seperti orang tua yang menyembunyikan air mata di balik tawa. 

Kunang-kunang, makhluk kecil dengan cahaya redup, tapi indah. Dan Pidi membayangkan, seandainya ada yang sebesar ayah. Sosok yang dulu jadi cahaya di rumah, yang menuntun, yang diam-diam menanggung segala gelap, agar anaknya tetap merasa terang. Mungkin dunia akan baik-baik saja. Tidak se-menyesakkan ini. Tidak se-gelap ini. Tidak sesulit ini. Pada sebuah hidup yang tak baik-baik saja, dalam kesedihan yang datang berulang.

Bayangan saya jika saya masih punya cahaya sebesar itu. Mungkin dunia akan terasa lebih hangat, lebih mudah dijalani, lebih bisa ditertawakan.

"Kunang-kunang banyak terbang 
Kuning kuning malam kudus hening"

Adalah lirik pertama. Seperti lukisan kecil yang ditulis pakai kata. Malam yang sunyi, tidak ada suara apa-apa, tapi di situ beterbangan cahaya-cahaya kecil berwarna kuning.

Nah, kata “malam kudus hening” di situ bukan sekadar menggambarkan suasana malam yang tenang.
Itu semacam “malam yang sakral”  malam yang membawa rasa damai, tapi juga kesepian. Ada aura spiritual di balik absurd-nya Pidi. 

 "Ada satu Kunang-kunang
 Lihat terbang bimbang dan bergoyang"

Di antara semua cahaya kecil yang tenang dan indah itu, ada satu yang tidak stabil, goyah, ragu, kehilangan arah.

Bisa jadi, “kunang-kunang” di lagu ini metafora. “bimbang dan bergoyang” ini bisa diartikan sebagai si tokoh utama sendiri. Anak yang sedang berusaha tetap menyala di tengah hidup yang gelap, tapi cahaya dalam dirinya mulai goyah karena kehilangan ayah.

Dalam konteks lagu ini, bisa juga dibaca sebagai refleksi dan relasi tentang ayah dan anak:
Dulu ayah yang jadi cahaya, sekarang sang anak mencoba jadi kunang-kunang kecil yang meneruskan terang itu, meski belum se-terang ayahnya. Terbang bimbang, bergoyang. Dan berusaha tetap berusaha menyala.

Frasa biasa, tapi menyimpan seluruh fragmen rindu dan perjuangan hidup.

"Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang 

Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang"

Bagian ini adalah jantung dari seluruh lagu itu. Reff-nya pendek, diulang dua kali, tapi justru di situ letak kedalaman yang sulit dijelaskan. 

“Berkunang-kunang” di sini tidak cuma tentang cahaya kecil di malam hari. Pidi bermain di lapisan ganda. Berkunang-kunang bisa juga berarti “pusing, pandangan kabur,”. Sebuah metafora dari kelelahan hidup. Saat hidup terasa mumet, ketika dunia seperti berputar dan cahaya seolah hilang. Di situlah kenangan tentang ayah datang. 

Pengulangan kalimat itu dua kali bukan tanpa alasan. Yang pertama seperti panggilan lembut, yang kedua seperti pengakuan yang lebih dalam. Bahwa mengenang ayah bukan sekadar kebiasaan, tapi cara untuk tetap waras di dunia yang semakin keras. 

Dan frasa, “bila ku berkunang-kunang” itu adalah bentuk kejujuran paling manusiawi. Hidup ini memang sering bikin pusing, ekonomi tidak baik-baik saja, pikiran kadang kalut. Tapi di setiap momen gelap itu, kenangan tentang ayah menyalakan kembali sesuatu di dalam diri. Cahaya kecil, tapi cukup untuk melangkah lagi. Bangun kembali.

Pidi tidak menulis lirik dengan bahasa sedih. Dia pakai bahasa yang absurd, bahkan santai. Tapi itu justru bikin perasaan sedih para penikmatnya lebih nyata. Terlebih lengkingan suara Pidi dalam menyanyikannya.

"Kunang-kunang apa sama 
Bila pusing matamu berkunang-kunang 
Jangan sayang mentang mentang
 Kunang-kunang banyak begadang"

Kalimat Kunang-kunang apa sama, bila pusing matamu berkunang-kunang” di permukaan seperti guyonan. Tapi kalau kita lihat dari cara Pidi nulis, ini sebenarnya bentuk kegetiran yang disamarkan lewat tanya-tanya konyol.

Dia lagi sedih, lagi reflektif, tapi sengaja menyisipkan logika ngaco supaya tidak terlalu muram.

Seolah dia bilang: hidup gue lagi gelap, kepala lagi pusing, tapi yaudah lah, gue becandain aja biar nggak tambah berat. Pertanyaan “kunang-kunang apa sama?” itu retoris, yang tahu tentu saja hanya Pidi dan Tuhannya. Pun dengan frasa selanjutnya: Kunang-kunang banyak begadang.


di akhir lagu, pidi mengatakan:

"Yah kunang-kunang

seandainya Ayah persingkat

maka dia akan menjadi kunang dua".

 

Itulah letak kejeniusan sekaligus titik keharuan khas Pidi Baiq. Absurdnya bukan tanpa arah.  Itu cara Pidi menertawakan kesedihan. Kalimat “Seandainya Ayah persingkat, maka dia akan menjadi kunang dua” itu memang mainan kata yang kelihatannya cuma lucu. Dari kunang-kunang, menjadi kunang dua, alias kunang² , seperti di tulisan-tulisan santai orang Indonesia.

Tapi jika kita lebih dalam, di balik kelucuannya, ada lapisan kesedihan yang disamarkan tawa. Pidi sering banget seperti itu. Dia berbicara hal melankolis, sekaligus diselipin logika ngawur, biar tidak meledak tangisnya. Lebih tepatnya, si para penikmat karyanya, tidak menangis berdarah-darah.

Angkat topi tinggi-tinggi untuk Ayah Pidi. Terus berkarya. Sehat dan bahagia. Terimakasih. 

Sungguh ironi, kadang aku tertawa di depan kompor panas, bukan karena bahagia, tapi karena asap martabak mengaburkan air mata yang tak jadi jatuh. Orang-orang memanggilku “bang”, menyebut nama pesanan. Tak ada yang tahu, di setiap lipatan adonan, aku sembunyikan satu kenangan yang belum matang-matang juga: kamu.

Kau tahu? Sejak malam itu, aku berhenti menulis puisi. Karena setiap kata rindu yang kucoba tulis, berakhir jadi resep martabak. Satu sendok gula, dua tetes harap. Dan sedikit garam untuk menutupi pahit yang tak mau pergi.

Bisa jadi, senyummu dulu itu kutafsirkan sebagai: perjuangkan aku. Ternyata bukan.
Atau WhatsApp-mu yang dulu : Assalamu’alaikum. kukira kabar rindu, ternyata cuma tagihan uang kas kelas kala itu. Mungkin aku tumbuh bersama rasa percaya diri, yang ternyata hanya cara lain dari menyakiti diri sendiri.

Kadang aku iri pada minyak goreng di wajan. Ia bisa mendidih, menggelegak, lalu tenang lagi. Sementara aku, terjebak di panas yang sama, tapi tak pernah matang menjadi apa-apa.

Orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu cuma lewat, tak pernah mampir beli martabakku.

Lucu ya, aku ini penjual martabak yang bercita-cita jadi pelupa. Tapi setiap kali melupakanmu, yang muncul malah ingatan baru. Cara kamu tertawa waktu aku gugup di depan kelas, cara kamu menulis huruf ya Arab dengan titiknya yang miring. Semua itu menempel di kepala lebih kuat dari adonan di tanganku.

Buku-buku di rak rumah kontrakan sudah jadi saksi bisu. Dari Kierkegaard sampai Kahlil Gibran, semua kubaca dengan satu harapan. Semoga ada bab yang mengajarkanku cara berhenti mencintaimu. Tapi tidak ada. Mereka semua bicara tentang kehilangan, lalu berakhir dengan kata yang sama: ikhlas.
Dan aku benci kata itu. Karena setiap kali kubaca, aku tahu aku belum sampai di sana.

Kadang malam-malam aku ikut open mic. Katanya komedi bisa jadi terapi, dan tawa adalah cara paling rasional untuk bertahan hidup. Tapi bahkan di panggung, di bawah cahaya lampu dan tatapan orang-orang, aku masih melihat wajahmu di antara penonton. Mungkin itu sebabnya setiap punchline-ku terdengar seperti pengakuan. Dan dalam tiap tawa, terdengar seperti ejekan. 

Kemudia setelah semuanya selesai, aku pulang, menyapa sepi di kamar, menyalakan kipas angin yang berisik, lalu menatap langit-langit sambil bergumam:
“Lupa itu ternyata bukan soal waktu, tapi soal.... entah apa itu.”

Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa benar-benar lupa. Mereka memotong masa lalu seperti gunting memotong benang kusut. Cepat, rapi, dan tanpa rasa bersalah. Sedang aku, masih saja memunguti sisa-sisa yang jatuh di lantai ingatan. Kadang satu senyummu terselip di antara halaman buku, kadang suaramu muncul dari tawa penonton di kafe kecil tempatku open mic.

Ada malam-malam di mana aku membaca hanya untuk tidak memikirkanmu, tapi justru setiap kata mengantarku kembali ke wajahmu. “Cinta adalah penderitaan yang indah,” tulis satu pengarang.
Aku tutup bukunya, karena aku tahu, yang kualami bukan lagi indah, hanya sisa penderitaan yang belum selesai.

Aku pikir dengan berkomedi aku bisa menertawakan luka. Tapi rupanya, aku hanya sedang berlatih menyembunyikannya. Tawa di panggung hanyalah kamuflase. Sesudahnya, aku pulang dengan dada kosong, seperti martabak yang lupa diberi isi.

Dan entah kenapa, setiap kali wangi mentega menyeruak di udara, aku teringat pada sore-sore di mana kamu masih jadi kemungkinan.

Kini, bahkan aroma pun berubah jadi kenangan. Sungguh, hidup kadang terlalu pandai bercanda. 

Ada malam ketika aku benar-benar tak kuat lagi. Martabak habis, uang pas-pasan, dan hati masih tak punya rumah untuk pulang.

Aku duduk di depan wajan yang sudah dingin, memandangi bayanganku sendiri di genangan minyak bekas.
Lama sekali.

Seolah di situ aku bisa menemukan jawaban kenapa hidup terus mengulang rasa kehilangan yang sama.

Aku pernah berpikir untuk berhenti saja. Berhenti membaca, berhenti tampil, berhenti berharap.
Apa gunanya semua itu, kalau ujungnya cuma rindu yang tak sampai? Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku ingat, ada versi diriku di masa lalu yang pernah berjanji untuk bertahan. Untuk jadi kuat, meski tak ada yang memeluk.

Kadang aku berdoa, bukan untuk melupakanmu, tapi agar suatu hari nanti, kalau aku melihatmu lagi, aku bisa menatap tanpa gemetar. Itu saja. Itu Cukup.

Dan di titik itu, aku sadar. Mungkin aku tak sedang belajar melupakanmu,
aku hanya sedang belajar menerima kenyataan bahwa beberapa orang memang ditakdirkan cuma untuk singgah, bukan tinggal.

Sejak malam itu, aku mulai bicara dengan diriku sendiri.
Kadang di depan cermin kamar mandi kontrakan, kadang di tengah jalan sepi setelah open mic selesai.
Aku tanya. Kenapa kamu masih di sini?
Diriku yang lain menjawab pelan: Karena kamu belum benar-benar pergi.

Lucu, ya?
Orang-orang mengira aku kuat. Mereka melihatku bisa melucu di atas panggung, bisa jualan sambil senyum, bisa membaca buku filsafat dengan catatan penuh sorotan stabilo.
Tapi tak ada yang tahu, di antara tiap baris kalimat itu, ada namamu yang kutimpa paksa dengan tinta hitam.
Tak berhasil juga. Masih samar terlihat. Masih terbaca.

Aku mulai menghitung hari, bukan untuk berharap kamu kembali, tapi untuk tahu: sudah berapa lama aku hidup tanpa kamu.
Dan tetap saja, setiap hitungan berhenti di angka yang sama. Angka yang tak pernah selesai.

Pernah aku coba menulis lagi. Satu kalimat saja:
“Perasaan yang tak disampaikan akan membusuk di dada.”
Lalu aku diam.
Karena di dada ini memang sudah terlalu banyak yang busuk.

Aku menyalakan lampu kamar, tapi cahaya itu seperti tak mau menempel di dinding. Ia hanya melayang di udara, redup, menggantung, dan dingin. Mungkin begini rasanya kehilangan yang sejati. Bukan air mata, bukan teriak, tapi sunyi yang terlalu panjang, hingga akhirnya kau tak tahu lagi bagaimana rasanya berbicara tanpa menyebut nama seseorang.

Tapi aneh, semakin lama aku diam di dalam sunyi, semakin aku mengenali diriku sendiri.

Ternyata aku tidak hanya kehilanganmu, aku juga kehilangan bagian dari diriku yang dulu ingin membuatmu bahagia. Dan di sanalah aku mulai paham. Mungkin bukan kamu yang perlu kulepaskan,
tapi versi diriku yang terus menunggu di tempat yang sama.

Sekarang, setiap kali aku membuat martabak, aku melakukannya perlahan. Ada semacam ketenangan baru di antara bunyi wajan dan aroma mentega. Mungkin karena aku sudah tidak lagi berharap kamu datang membelinya atau sekedar menyapa. Mungkin karena akhirnya aku bisa menerima bahwa beberapa kenangan cukup disimpan, bukan diulang.

Aku masih membaca, tentu saja. Tapi bukan lagi untuk mencari cara melupakanmu. Aku membaca untuk belajar mencintai hidup, meski tak selalu ada alasan yang indah. Dan saat aku naik panggung lagi, aku tak lagi takut jika tiba-tiba wajahmu terlintas. Karena sekarang, kalau pun kau muncul di antara penonton, aku tahu, aku bisa tetap menertawakan kisahku sendiri tanpa merasa kalah.

Lucu, ya? Ternyata damai itu tidak datang dalam sorak atau tawa. Ia datang diam-diam, di sela-sela aroma martabak hangat, di antara halaman buku yang terlipat, di dalam diri yang akhirnya bisa berkata:
“Sudah cukup.”

Malam makin larut. Suara kendaraan Kota Bogor di luar menipis, menyisakan desau kipas angin dan detak kecil jam dinding yang entah sejak kapan berhenti pas di angka tiga dini hari.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi langit-langit yang retaknya membentuk pola tak beraturan, seperti peta, tapi tanpa tujuan.

Di luar jendela, lampu jalan berpendar kuning pucat, menembus tirai lusuh kamar kontrakan. Cahaya itu menimpa wajahku, separuh hangat, separuh dingin. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu memalingkan wajah dari bayanganku sendiri.

Aku menutup buku di pangkuan. Di halamannya terselip sehelai kertas order martabak, masih berbau mentega. Di sana, dengan tulisan tangan yang hampir pudar, ada satu kalimat yang dulu aku tulis untukmu:
“Jika suatu hari aku tak lagi menunggumu, bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya lelah jadi satu-satunya yang bertahan.”

Aku tersenyum kecil, bukan karena sudah bahagia,
tapi karena akhirnya aku tahu, bahwa beberapa kehilangan memang harus dibiarkan tinggal di tempatnya. Seperti halnya malam ini.
Diam.
Dingin.
Tapi jujur.

Yang tersisa di atas wajan.

Percayalah, dik, yang paling berat itu, bukan pergi ke masjid. Bukan. Yang paling berat adalah pulang dari masjid.” Saya lupa-lupa ingat yang mengatakan ini siapa. bagaimana ia menempel di dada ketika kita pulang, membuka pintu rumah, menegakkan punggung di depan cermin, dan melihat diri sendiri.


Di bawah lampu yang temaram, di teras yang masih lembab setelah hujan, lelaki tua itu duduk. Bukan ustadz ternama. Bukan tokoh yang namanya dipanggil. Orang kampung memanggilnya dengan nama kecilnya saja, atau kadang, diam-diam, “Mbah Sarmidi”. Nah Mbah Sarmadi adalah muadzin yg keren. Adzannya dan shalawatan dengan langgam Jawa, tentu saja saya banyak berhutang rasa. Ia sering sujud. Ia tak butuh mimbar untuk berbicara, karena kata-kata yang benar ia taruh di tindakan kecilnya: menolong tetangga, menahan lidah ketika gosip datang.


Ia pernah berkata, pendek, pada seorang pemuda yang bertanya karena penasaran: “Pergi ke masjid itu sebentar. Tapi pulang dari masjid… itu ujian.” Pemuda itu mengernyit, menunggu definisi besar. Mbahnya tersenyum, lalu bercerita pelan, seolah sedang melipat kain. “Kau tahu, manusia mudah pamer. Di dalam masjid, saat sujud, orang melihat langit. Tapi ketika keluar, sering ia lupa menundukkan hati. Ia menaruh sujud di saku baju, lalu mengeluarkan dompet—berbicara besar, menilai orang, merasa lebih suci. Itulah yang paling berat.”


Banyak ulama-ulama tasawuf dahulu berbicara tentang hal yang sama, tapi mereka memakai nama-nama besar, istilah-istilah yang membuat rasa hormat; sementara di kampung itu, pelajaran itu datang dalam bentuk sederhana: jangan pulang dengan dada penuh. Jangan pulang membawa lampu sorot yang menerangi semua kekurangan orang lain. Jangan pulang seolah ritual itu adalah jubah yang menjadikanmu berada di atas.


Malam itu, pemuda itu pulang dengan langkah berat. Di jalan, ada orang yang memotong jalan, ada warung yang menawarkan kopi, ada yang berdebat soal harta. Suara-suara itu merayap masuk, mencoba menyalakan api dalam dada. Pemuda itu memegang pintu rumah. Dia mendengar ibu di dapur, anak yang tertawa sambil menaruh piring. Ia membungkuk, menanggalkan sepatu, lalu teringat kata Mbah: pulang tanpa sombong. Ia menahan kalimat yang ingin keluar, menahan komentar yang ingin dilontarkan. Ia memilih diam. Ia masuk, duduk, memberi salam, membantu mengangkat panci.


Itulah ujian sebenarnya. Bukan seberapa lama kau sujud, bukan seberapa pandai kau membacakan ayat. Ujian adalah, ketika hatimu diberi kesempatan untuk menilai, untuk menghakimi, untuk menempatkan dirimu di ruang yang lebih tinggi, apakah kau akan memilih merendah atau menambah derajat di matamu sendiri? Apakah khutbah yang kau dengar akan menyirami kemauanmu untuk berbagi, atau malah akan jadi senjata untuk menumbuhkan rasa congkak bahwa ‘aku lebih tahu’?


Ulama-ulama tasawuf dulu menganjurkan muraqabah, mengawasi hati seperti menjaga bara api; mereka mengajarkan zuhud pada pujian, dan tawadhu’ pada sekilas sanjungan. Mereka sering menyuruh muridnya pulang dalam kesunyian, menimbang setiap kata yang akan diucapkan, menimbang setiap niat. Karena musuh besar sering bukan orang lain; musuh besar adalah pujian yang datang, lalu menempel di dalam dada, seperti karat yang menutup hati.


Mungkin, jika kita mau jujur, yang paling berat bukan soal ritual, tapi soal integritas hati—membiarkan ibadah itu mengubah perilaku, bukan hanya memberi sensasi suci sementara. Pergi ke masjid memberi kita suara-suara kolektif, gema sujud bersama, rasa hangat berjamaah. Tapi pulang dari masjid menuntut kerja batin yang panjang: menyingkirkan riya’, menyingkirkan kebanggaan, menyingkirkan kecenderungan untuk menilai. Pulang dari masjid menuntut kita membawa bekal yang tak tampak, kasih sayang, rendah hati, dan komitmen untuk bertindak.


Jadi, “yang paling berat itu pulang dari masjid,” ia bukan berbicara tentang jarak. Ia berbicara tentang beratnya menurunkan kepalsuan, dan ringan-ringannya hati yang tulus. Ia berbicara tentang keberanian untuk tidak memegang selembar keagungan ketika pulang, dan keberanian untuk memakai tangan sendiri untuk membantu, bukan tangan untuk menunjuk.


Di ujung jalan setapak, lelaki tua itu menutup kitab kecilnya, menyalakan lentera, dan menatap ke langit. Ia tidak ingin dikenal. Ia hanya ingin pulang dari masjid seperti pulang dari rumah sahabat, tanpa kepura-puraan, tanpa pretensi, dengan hati yang sama ketika ia sujud. Itu, katanya, sudah cukup.

Di tanah yang dikepung tembok dan doa, nama Marwan Barghouti masih disebut pelan-pelan oleh banyak orang. Bukan cuma oleh keluarga Fatah tempat ia lahir, tapi juga oleh Hamas—kelompok yang selama ini sering dianggap berseberangan.


Padahal keduanya lahir dari luka yang sama.

Bedanya, Fatah tumbuh dari jalur politik dan diplomasi, sementara Hamas memilih perlawanan bersenjata. Satu percaya pada meja perundingan, satu lagi percaya pada jalan perjuangan. Dan di antara keduanya, selalu ada rakyat yang masih mencari rumah.


Ketika Hamas menulis nama Marwan dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan, itu bukan sekadar strategi. Itu isyarat kecil bahwa mereka masih mengingat satu hal penting: bahwa kemerdekaan tak bisa lahir dari faksi, tapi dari persatuan. Bahwa Palestina, sebelum apa pun, adalah satu nama — satu nasib.


Israel menolak.


Marwan sudah lama dikurung sejak 2004, dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh membunuh orang Israel. Tuduhan yang bagi banyak orang terdengar ganjil: bagaimana mungkin bangsa yang dijajah dihukum karena melawan penjajahnya, sementara sang penjajah menulis sendiri aturan tentang “keamanan”?

Dunia diam, sebagaimana biasa. Tapi Marwan tidak.


Dari dalam sel yang sempit, ia tetap menulis, tetap berbicara, tetap percaya. Ketika Fatah dan Hamas pecah pada 2007, ia justru menyeru agar rakyat berhenti saling menyalahkan.


“Yang kita lawan bukan satu sama lain,” begitu kira-kira pesannya, “tapi sistem yang membuat kita terus bertengkar.” Dan mungkin karena itu orang-orang menyebutnya: Mandela-nya Palestina.


Ia tak pernah mencari simbol. Hidupnya sederhana, suaranya datar, tapi tegas. Ia menolak berpura-pura percaya pada “proses perdamaian” yang dari awal tak pernah jujur. Ia tahu, perundingan takkan melahirkan kemerdekaan kalau tanahnya terus direbut, kalau rakyatnya terus diusir.


Baginya, melawan bukan pilihan, tapi kewajaran bangsa yang dijajah.


Di mata banyak rakyat Palestina, Marwan adalah napas panjang. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya soal tanah, tapi juga soal martabat. Sebuah bangsa bisa hancur bukan karena penjajahan, tapi karena kehilangan rasa percaya satu sama lain.


Dan mungkin di situlah bedanya Marwan dengan para pemimpin lain — ia bicara dari luka, bukan dari kursi.


Ketika ia sadar bahwa proses perdamaian hanyalah taktik untuk memperpanjang pendudukan, ia mulai mengambil jarak dari elit Fatah. Langkah itu membuatnya jadi target pembunuhan pada 2001.


Namun sejarah, dengan caranya sendiri, melindungi orang-orang seperti Marwan: ia memenjarakan tubuhnya, tapi tidak pikirannya.


Sekarang, namanya kembali disebut.

Bersama tiga tokoh lain—Abbas al-Sayyid, Ahmed Saadat, dan Hassan Salameh—Hamas menuntut kebebasan mereka.


Media Israel bahkan menulis bahwa jika keempatnya keluar, “akan ada gelombang energi yang tak terlukiskan” di tengah rakyat Palestina.

Dan mungkin mereka benar. Karena di dunia yang penuh senjata, yang paling ditakuti penjajah bukanlah peluru, tapi persatuan.


Dan dari dalam penjara itu, Marwan masih mengajarkan satu hal yang tak pernah pudar: bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tempat yang pencahayaannya redup.



Ini tentang sebuah kursi. Sebelum bahas sok akademis dalam tulisan ini, saya selingi anekdot kisah Gus Dur. Saya tidak tahu sumbernya kredibel sahih atau tidak. Begini kisahnya:

Seorang santri bertanya pada Gus Dur, 

“Gus, ada berapa jenis setan?."

“Setan itu ada tiga”. Jawab Gus Dur singkat. 

“Apa saja itu, Gus?”

“Setan yang pertama adalah setan yang takut dengan ayat kursi. Saat dibacakan ayat kursi dia langsung pergi”

“Terus yang kedua gimana, Gus?”

“Jenis setan yang kedua ini wujudnya jelas, dia gak takut ayat kursi, tapi jika dilempar kursi, pasti pergi”

“Whahaa, ini kan setan berbentuk manusia. Kemudian yang jenis ketiga gimana, Gus?”

“Jenis ini yang agak lucu, mereka tidak takut ayat kursi, juga tidak takut dibanting kursi, malah mereka saling berebut kursi”.


******************************************

Dalam dunia sastra, ada satu pendekatan yang memandang karya bukan sekadar cerita, tapi kumpulan tanda yang membawa makna. Pendekatan itu disebut semiotika.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani sÄ“meion yang berarti “tanda.”


Secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tanda bekerja: bagaimana benda, kata, atau peristiwa bisa bermakna lebih dari yang tampak di permukaan.


Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Roland Barthes, seorang pemikir Prancis yang percaya bahwa di balik hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, selalu tersembunyi makna budaya dan mitos. 


Bagi Barthes, tanda tidak berhenti pada arti literalnya saja (yang disebut makna denotatif), tapi juga membawa makna kedua yang lebih dalam, yang disebut makna konotatif—makna yang muncul dari budaya, ingatan, dan cara kita menafsirkan dunia.


Tulisan “Kursi Kakek” adalah contoh yang sangat kuat dari cara tanda bekerja dalam kehidupan. Di permukaan, ia bercerita tentang masa kecil, tentang seorang kakek, tentang kursi kayu di rumah nenek. Tapi di kedalaman ceritanya, setiap benda di dalamnya membawa makna yang lebih luas—tentang rumah, tentang cinta, tentang spiritualitas yang diam-diam hidup di sela-sela rutinitas.


Kursi misalnya. Ia bukan hanya tempat duduk, tapi menjadi tanda dari kasih sayang dan kehadiran.


Kursi itu dibuat dengan tangan kakek sendiri, dan di sanalah segala kehangatan tubuh dan doa berpadu.


Ia menjadi ruang penyembuhan, tempat cucu kecil berbaring setelah dipijat, tempat kakek berdiam di usia senja, tempat para tetangga menunggu giliran doa.


Dalam pandangan semiotika, kursi itu bukan sekadar signifier—bentuk kayu dan senderan melengkung—tapi juga signified, yakni makna yang melekat: cinta, perhatian, sekaligus ingatan yang tak pernah padam.


Kursi menjadi simbol rumah dan akar. Ia menyimpan jejak tangan, waktu, dan doa yang telah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.


Lalu dapur.

Dalam kebudayaan Jawa, dapur bukan cuma ruang masak. Ia adalah jantung rumah, tempat di mana kehidupan lahir dan dipelihara. Nenek yang menyiapkan ketela goreng dan mendoan, bukan sekadar memberi makan, tapi menghadirkan rasa aman yang spiritual.


Asap dapur, aroma kayu bakar, dan suara gorengan adalah tanda-tanda kecil yang membawa kita pulang. Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos domestik, yaitu cara budaya menanamkan makna dalam keseharian—bahwa cinta dan doa bisa hidup lewat hal-hal kecil, bukan hanya lewat kata atau upacara.


Ada juga sembahyangan di seberang dapur. Dalam teks, ruang itu menjadi tanda sakral, tempat kakek berdoa untuk orang-orang yang datang mencari penyembuhan. Di situ, antara dunia nyata dan dunia spiritual seperti tidak ada batasnya.


Bagi Barthes, inilah lapisan konotasi yang paling dalam: makna yang lahir dari keyakinan dan tradisi. Ketika kakek duduk di kursinya, berdoa dalam diam, ia tidak hanya sedang melakukan ritual agama, tapi juga sedang menyatukan dunia—antara tubuh, alam, dan yang ilahi.


Benda-benda lain pun tak kalah berbicara. Ramuan pijat yang dibuat dari rempah dan minyak, misalnya, adalah tanda dari pengetahuan tubuh dan kasih. Ia menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga rasa takut dan lemah seorang anak kecil.


Sementara larangan bagi tamu untuk duduk di kursi itu menjadi tanda dari penghormatan—bahwa ada ruang yang tidak semua orang bisa masuki, karena di sana tersimpan makna yang sakral dan pribadi.


Melalui kacamata semiotika, seluruh cerita “Kursi Kakek” bisa dibaca sebagai jaringan tanda-tanda yang membentuk mitos tentang rumah. Rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang spiritual, tempat kasih sayang, doa, dan kenangan hidup berdampingan dalam keheningan yang hangat.


Kursi, dapur, ramuan, sembahyangan—semuanya menjadi simbol bagaimana manusia Jawa memaknai keseharian dengan cara yang lembut tapi dalam.


Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja.

Ia menyimpan tanda-tanda kecil yang kita bawa ke mana pun pergi. Kadang dalam bentuk kursi tua yang masih berdiri di sudut rumah, kadang dalam aroma ketela goreng, atau dalam doa yang kita bisikkan diam-diam saat tubuh terasa sakit.


Barthes pernah bilang, tanda selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Begitu juga kenangan—selalu menunggu kita untuk kembali, membaca ulang, dan menemukan makna baru dari hal-hal yang dulu tampak biasa. Sekarang luar biasa. 


Sejujurnya saat saya menulis kemarin saat senja. Mata saya berkaca-kaca. 


#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Senja ini, saya mengenang kursi di rumah nenek. Sebuah kursi yang dibuat langsung tangan kakek. Terbuat dari kayu. Sangat kokoh. Senderannya melekuk. Memanjakan setiap orang yang duduk. Tempat kakinya memanjang. Juga bisa ditekuk. Tepat untuk bermalas-malasan seharian. Meskipun ini bukan kursi goyang, tapi saya sangat nyaman. 


Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kursi itu. Apalagi jika dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Biasanya kakek akan memijatku terlebih dahulu. Seluruh baju saya dilepas. Hanya menggunakan celana dalam. Dengan ramuan ajaibnya. Semacam rempah dan ditaburi minyak. Saya dipijat. Antara nangis dan geli. Kemudian saya akan bermalas-malasan di kursi itu kembali. Kegiatan ini terus dilakukan hingga saya sunat. 


Kursi itu terletak di dapur. Dekat pertungkuan api. Sambil tiduran dan malas-malasan, nenek akan menyiapkan banyak makanan. Ketela goreng. Tempe mendoan. Dan lain sebagainya. Sangat bahagia. 


Letak dapur, persis di sebrang sembahyangan. Kakek memang seniman. Selain itu, dia adalah kiai setengah dukun. Meskipun dia tidak menobatkan diri. Tapi air yang didoakan kakek konon 'mandi'. Jika sore seperti ini, beberapa tetangga yang punya masalah akan datang. Sambil menunggu kakek berdoa di sembahyangan, biasanya 'si pasien' akan duduk di kursi itu. 


Tapi, tidak semua orang boleh duduk di kursi itu. Pernah suatu kali, kakek memberi isyarat pada salah satu tamunya untuk jangan duduk di kursi itu. Dan si tamu juga memahami. Kakek, tentu saja, saya tidak pernah sedikitpun melihat ia marah. 


Kursi itu, sekali lagi adalah tempat favorit para cucu kakek. Kami bisa berebut kursi itu. Saya adalah cucu tertua secara nasab. Karena bapak saya adalah anak pertama. Meskipun secara umur paling muda – Sebelum anak dari Bulik saya lahir. Maka sayalah yang paling sering duduk di kursi itu. 


Di usia senjanya, kakek banyak menghabiskan waktu di kursi itu. Dari obrolan dulu, sepertinya baru bisa saya tafsirkan sekarang ini: Kakek merindukan anak laki-lakinya. Paman saya. Dia pergi entah ke mana. Konon katanya ke Papua. Dia meninggalkan rumah ketika saya TK. dan pulang ketika saya kelas 1 MTs namun kakek sudah tiada. 


Kursi itu, bagi saya lebih dari kursi. Ia merupakan tempat paling nyaman di dunia. Yang terbuat dari sentuhan seni sekaligus doa. Semacam mantra, dari kakek untuk cucunya. Kelak, ketika saya sakit seperti ini, di senja ini, merindukan kursi kakek. Kemudian nenek menyediakan makanan di meja. Ah indahnya, dunia yang keras, akan baik-baik saja, mungkin semacam surga. 



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE