#DearHilwa saya menulis ini dengan hati yang sedang embuh. Anggap saja ini adalah surat cintaku kepadamu yang kesekian kalinya. Bahwa saya sangat mencintaimu. Sebagaimana saya mencintai kakak dan adikmu.
Banyak sekali kekuranganku sebagai bapak. Menjadikan dhalim kepada dirimu, Hilwa. Ketidakmampuanku secara ekonomi, misalnya. Dan keterbatasanku sebagai manusia.
Tapi di luar kekuranganku, bahwa saya tahu, di dalam tubuhmu yang mungil, terdapat rasa syukur yang besar. Itulah kenapa, Hilwa. Bahwa Allah selalu tidak Maha Tega kepada kita.
Di bulan Juli yang dingin. Saat pertama kali kehadiranmu di tengah-tengah kita. saya merasa hangat. Dan sampai sekarang saya merasa hangat dengan canda dan tawamu.
Sebagai manusia biasa. Saat adikmu lahir yang jaraknya 2 tahun dari usiamu. Secara psikologis saya terguncang. Kamu yang sedang rewel-rewelnya, ditambah adikmu yang baru lahir. Anak sekecil kamu, harus berbagi apapun itu dengan adikmu. Kasih sayang ibumu yang berlimpah ruah, harus kamu bagi juga dengan adikmu. Mainan-mainan itu. Dan segala tetek-bengeknya, kamu harus memenuhi standar orang dewasa: mengerti dan mengasihani.
Hingga suatu hari, saat kamu sakit, dan nafasmu berbunyi, ibumu tahu, ini bukan sakit biasa. Tapi lagi-lagi Allah maha tidak tega kepada kita. Alam menyembuhkan dirinya.
Hilwa, di luar sana, dunia sangat keras. Ditempa, diguncang, digodok. Berpindah dari kegagalan satu kegagalan lain. Menjadikan saya tidak baik-baik saja, saya merasa babak belur dihajar banyak kepentingan dunia. Namun, saat pulang menemui mu, dipeluk dicium olehmu, adalah obat untukku.
Lelaki memang tidak bercerita, tapi saya sebagai bapakmu akan cerita sepanjang malammu. Berkisah tentang apa saja. Cerita-cerita yang kau senangi. Lelaki memang tidak bercerita. Hanya menulis blog saja.
#Dearhilwa. Dalam tubuhmu yang mungil terdapat rasa syukur yang besar. Saya banyak belajar. Sehat kita semua.