Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Aku kadang tidak habis pikir. Kenapa operator salah satu pompa bensin kecil di kotaku pelayanannya sangat tidak ramah. Tersenyum saja susah. Operator itu lelaki setengah baya. Bertubuh ceking. Jika tidak mengenakan topi, rambutnya terlihat ikal. Matanya merah, pertanda ia sangat lelah. Terkadang mulutnya berbau alkohol. Pernah suatu ketika aku mengajak basa-basi. Tapi ia tak menggubris sama sekali.


Seorang teman berkabar. Pom yang aku maksud, konon sering melakukan kecurangan. Manipulasi nota pembayaran. Mengurangi takaran bensin, dan lain-lain. Aku jadi malas untuk mengisi bensin di sana. Pom tersebut terletak di jalan Pantura. Oleh karena itu, customer kebanyakan kendaraan dari luar kota.


Hingga terjadilah adegan dalam suatu perjalanan. Aku sangat terpaksa untuk mampir di pom-bensin tersebut. Kejadian ini terjadi ramadhan tahun lalu. Saat itu aku pulang dari Purwokerto. Setelah mengikuti RDK (Rapat dalam kantor).


Aku pulang sore. Matahari hampir terbenam. Langit memerah. Senja sudah merekah. Jarak tempuh rumahku masih sekitar 25 menitan lagi. Sementara maghrib sudah datang. Pada detik itu pula, indikator bensin memberi signal sudah hampir habis. Waktu itu tubuhku sungguh sangat lemas. Ingin segera berbuka. Atau sekedar minum air mineral untuk melepas dahaga. Aku tidak bawa bekal air. Celakanya juga, uang di dompet tinggal 7 ribu.


Aku diberi dua pilihan oleh keadaan: pertama, membeli air mineral, dan harap-harap cemas semoga motor bisa sampai rumah. Kedua, membeli bensin, dan menunda berbuka.


Aku pilih yang kedua. Dengan pertimbangan indikator bensinku sebenarnya sudah tipis sejak masuk Purbalingga. Aku tidak mau berjudi lebih dalam lagi. Satu-satunya pom yang tersisa adalah pom yang selalu aku hindari itu.


Tidak ada pilihan. Aku mampir isi bensin 7 ribu. Operator masih sama dengan yang dulu. Miskin senyum. Tentu dengan tubuhku yang masih lemas, berkomunikasi pun malas. Pom bensin sangat sepi. Bisa langsung ngisi tanpa antri. Setelah aku bayarkan uangku. Si operator mengambil sesuatu di meja. Sambil menyerahkan kepadaku dia berkata,

"Keh, Mas. Go takjil, mbokan durung buka".
Seplastik es campur dan 3 kurma.
Aku jawab dengan berbinar, "Suwun, Om!"


Kadang sesuatu yang kita tidak sukai
Kita selalu hindari, terdapat kebaikan di dalamnya. Terimakasih Tuhan. Maturnembahnuwun Ya Ramadhan...
Suatu ketika, antara Maulana Rumi dengan muridnya. Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan, dijawab dengan jawaban-jawaban nan indah.

"Apa itu racun ?"
"Apapun yang lebih dari kebutuhan kita, itu adalah racun . Bisa jadi, kekayaan, kekuasaan, kebencian, cinta, kemiskinan, ego, kemalasan, keserakahan, ambisi, dan bisa apapun".


"Apa itu ketakutan ?"
"Ketidak mampuan menerima ketidak pastian. Bila kita mampu menerima ketidak pastian, maka itu menjadi sebuah petualangan .


"Apa itu iri?"
"Ketidak mampuan melihat kebaikan pada orang lain. Bila kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain, maka itu menjadi sebuah inspirasi".


"Apa itu kemarahan ?"
"Ketidak mampuan menerima hal-hal diluar kendali kita. Bila kita mampu menerima, maka itu menjadi bentuk toleransi".


"Apa itu kebencian ?"
"Ketidak mampuan menerima orang lain. Bila kita menerima siapapun tanpa syarat, itu lah Cinta".


"Menurutmu, apa yang paling ajaib di dunia ini?" tanya seorang perempuan berkerdung merah.

"Sujud," ujar sang lelaki berpeci.

"kenapa sujud?!" tanya perempuan dengan air muka datar.

"Saat sujud, engkau berbisik pada tanah, tapi langitlah sebenarnya yang mendengarkan."

"So Sweet... ."

"Ajaib bukan?"

"lumayan."

"Oya, apa yang biasanya kau bisikan ke bumi saat sujud?" selidik sang perempuan.

"Aku membisikan namamu," jawab lelaki itu.

"Ah, kau..."

"Tapi sayangnya langit tak pernah mendengarkannya," tambah lelaki itu.

"Hua ha ha ha..." perempuan di depannya terbahak.


Seorang lelaki ingusan menyurati sang istri melalui blog pribadinya:


Dear istriku. Terimakasih sudah menemani hari-hariku. Sudah menemani kepayahan hidupku. Mau diajak melarat bersama. Menemani kemiskinan dan kepapaanku. Terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Engkau akuntan terbaik. Manager uang luar biasa. Chef yang selalu masak enak, meskipun makanan sederhana. Saat aku atau anak sakit, kau dokter pribadi yang selalu ada. Kau wanita karir 24 jam. Gajimu adalah surga.
Sehat selalu sayang. Berkah selalu sayang.


Semoga kita diberkahi Allah. Selamat dan panjang umur.
Pernah dengar kisah Layla Majnun? Aku akan cerita ulang dengan bahasaku. Diantara banyak kisah Layla Majnun ada kisah yang paling dramatis yang selalu terngiang dalam kepalaku. Adalah piring pecah.


Qays nama asli dari Majnun. Dia digadang-gadang menggantikan ayahnya kelak sebagai ketua suku. Kepala suku yang berpendidikan, alim, saleh, berwibawa, bijak besari bisa mengayomi sukunya. Di madrasah dia malah tergila-gila dengan Layla.


Rasa cintanya Layla kepada Qays dipendam dalam-dalam. Sebaliknya, cintanya Qays kepada Layla diekspresikan. Disebarluaskan.


Suatu hari, ayahnya Layla mengadakan perhelatan pesta. Para kepala suku, orang mustdhafin, fakir miskin, anak yatim, janda,  semua penduduk dapat undangan.


Saat itu Qays sedang duduk seorang diri di lembah nan sunyi yang terdapat mata air. Qays melamun. Dari arah jauh dia melihat rombongan kafilah berduyun-duyun. Ketika rombongan melewati oase, Qays masih saja hanyut dalam lamunan. Qays ditegur oleh kepala rombongan.

"Kisanak, sedang apa Anda berada di sini?"
Tetap saja Qays acuh.
Kemudian ditanya kembali,
"Apa engkau tidak ikut datang ke pestanya Abu Layla (Bapaknya Layla). Semua orang diundang! Tidak pandang bulu, pengemis, pengembara, boleh datang semua".
Sontak Qays terbangun dari lamunan. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam rombongan.


Ketika Qays dan rombongan sudah mendekati tempat pesta, Qays melihat orang-orang sedang mengantri makanan. Wajah yang biasanya pucat karena derita cinta, tatapan kosong karena lamunan yang tiada akhir. Tiba-tiba jadi memerah. Qays sumringah. Qays penuh gairah. Oh Tuhan, ini rumah Layla, kekasihnya.


Saat itu, sudah banyak orang yang sudah berkumpul. Ada yang duduk, ada yang berdiri, makan dan minum. Sebagian orang yang berada di sana tentu kenal Qays sebagai anak kepala suku yang majnun (gila). Para penyair membaca syair indahnya. Perempuan penari perut turut serta meramaikan suasana. Beberapa pihak keluarga dibantu pembantunya memberikan piring dan menuangkan gule kambing serta roti kepada orang yang antri. Termasuk Layla di sana.


Tahu bahwa Layla ikut membantu memberikan piring dan menuang kuah gule, Qays senang bukan kepalang. Ia ikut antri di barisan yang ujungnya terdapat Layla.


Setelah antrian panjang, kini tiba giliran Qays di depan Layla. Dua keturunan Adam dan Hawa saling bertatapan. Lama. Layla memberikan piring Qays. Memberikan roti pipih khas Arab sambil menuang gule. Anehnya, Layla memegang erat piring yang sudah berada di tangan Qays.  Layla menarik piring tersebut. Dengan sengaja Layla menghempaskan piring ke bawah. Piring pecah. Gulai berserakan di tanah. Qays malah tersenyum tipis.


Setelah itu, Qays kembali lagi ke antrian belakang. Qays mengantri panjang. Sampai dihadapan Layla adegan piring pecah kembali terjadi. Layla memecahkan piringnya Qays lagi. Terus seperti itu berulang-ulang kali sampai gulai benar-benar habis.


Setelah acara selesai, para tamu mengerumuni Qays. Qays saat itu sedang senyam senyum.
Salah satu orang yang berkerumun angkat bicara, "Qays, apa engkau tidak malu, sudah dipermalukan Layla seperti itu. Sudahlah, sadar diri saja, yakinkan dirimu bahwa  Layla itu tidak menyukaimu".Seorang lain bertanya, "Mengapa engkau malah terlihat bahagia?" Qays menjawab, "Layla menginginkan aku untuk tidak lekas pergi. Ia ingin melihatku kembali."
Kisah cinta ini aku ambil dari buku ajar bahasa Arab. Tema Al hayatu Az zaujia, kehidupan rumah tangga. Sebenarnya lebih mengena jika diceritakan dengan bahasa aslinya. Tapi akan aku coba untuk bercerita:


Syahdan, ada seorang lelaki yang sangat tampan, ia mencintai bunga desa. Bunga desa ternyata juga memendam perasaan yang sama. Singkat cerita akhirnya mereka menikah. Mereka berbahagia.


Suatu hari, sang bunga desa mengalami sakit kulit. Hingga berubahlah wajah cantiknya menjadi jelek. Dihari yang sama, sang suami tiba-tiba buta. Mereka melangsungkan kehidupan rumah tangga selama 40 tahun dengan tetap berbahagia dan bergembira: mereka berinteraksi dengan saling mencintai dan saling memuliakan.


Hingga datanglah hari kematian sang istri. Sang suami sangat terpukul dan sangat bersedih hati. Di maqbaroh, setelah prosesi pemakaman selasai. Datanglah waktu ketika para pelayat pulang meninggalkan kuburan. Sang suami berdiri. Dari arah belakang terdengar suara menyapanya.
"Hendak kemana, Wahai Fulan?"
"Saya mau pulang ke rumah"
"Mari saya antarkan ke rumahmu"
"Tidak usah, Terimakasih"
"Bagaimana mungkin kamu tahu arah jalan pulang, sedang engkau buta".
"Saya tidak buta!!! Sesungguhnya saya pura-pura buta supaya saya tidak menyakiti hati istri saya".


Sang suami sesungguhnya tahu, waktu itu wajah istrinya menjadi jelek, maka dia memilih untuk pura-pura menjadi buta selama 40 tahun. Sehingga dia tidak menyakiti hati istrinya. Suami-istri saling mencintai, mengasihi dengan penuh kedalaman.

Jika aku diijinkan untuk membenci, aku akan membenci jurusan kuliahku; pendidikan bahasa Arab. Aku merasa minder, kerdil, kecil. Jika aku ditanya oleh banyak orang tentang jurusan kuliahku. Sering aku jawab jurusanku adalah bahasa Asing.


Di kampus kuliahku dulu, program studi pendidikan bahasa Arab di bawah naungan jurusan bahasa dan sastra Asing. Tidak pede dengan status kuliah di prodi pendidikan bahasa Arab tentu bukan hanya aku saja yang merasakan, sederet beberapa teman, adik tingkat juga. Bahkan diantara mereka, menulis identitas diri di akun sosial media dengan 'kuliah di bahasa Asing'.


Aku tidak tahu, gejala sosial apa saat itu. Kurang pedeku berawal dari sebuah universitas tempatku kuliah, adalah bukan universitas berbau agama. Bukankah bahasa Arab adalah bahasa agama? Kenapa tidak di IAIN saja. Kurang lebih, teman SMA waktu itu mengolok. Kebetulan teman SMA itu kuliah jurusan pendidikan bahasa Inggris, tapi di IAIN Walisongo. Aku olok ganti juga.


Gap atau gank diantara mahasiswa itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika gank itu dibagi menjadi dua, gank mahasiswa bodoh dan mahasiswa pintar. Secara garis besar, itulah yang terjadi, yang aku amati. Kemampuan bahasa Arabku enol besar. dengan dibuktikan IPK akhir yang terjun bebas. Tentu karena aku  tidak bisa meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku termasuk golongan mahasiswa aktif dan pintar. Maka berteman dengan mahasiswa-mahasiswa 'terbuang' adalah sebuah jalan ninjaku saat itu.


Waktu itu gank sangat kentara. Gank Mahasiswa pintar selalu melakukan aktivitas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa mereka: latihan debat bahasa Arab, khitobah atau pidato bahasa Arab, diskusi dengan bahasa Arab dan lain-lain. Sementara, gank mahasiswa pemalas berkumpul malam hari, tongkrong di Angkringan yang kami sebut sebagai Kucingan.

****
Waktu terus berlari, aku lulus dengan IPK pas-pasan. Sadar dengan kemampuan, aku tidak mungkin bisa mengajar, menjadi guru harus punya modal kualitas keilmuan. Kalau sekedar mengajar alif fathah A sin Domah Su, tentu aku bisa. Tapi kalau disuruh bercakap bahasa Arab, aku tiba-tiba sakit sarap.


Mungkin saja, sekelas madrasah ibtidaiyyah (setara SD) atau madrasah tsanawiyah (setara SMP) bahasa Arab masih dasar, mungkin aku masih bisa dengan kemampuan pas-pasan. Aku mencoba untuk melamar sebagai guru honorer di banyak MI, MTs, yang terjangkau jaraknya dari rumah. Tapi satu madrasah pun tidak ada respon. Pernah ada respon, dari MTs model unggulan, aku dipanggil kepala madrasah. Aku senang bukan kepalang. Inti dari wawancara tersebut aku disuruh merevisi redaksional surat lamaran. Aku revisi sesuai keinginan kepala madrasah. Dan revisian surat lamaran tidak ada follow up sampai sekarang.


Aku pikir, meski jadi guru adalah impian ibu, aku tdk punya akses jalan menuju sana. Aku banting setir, aku ingin jadi karyawan saja. Sudah sarjana, malu tidak dapat kerja. Aku taruh lamaran di Pabrik mana saja, sebagai tenaga apa saja. Seorang kakak tingkat jurusan seni rupa, mengajakku untuk menjadi asisten animasi. Aku ikuti, meski tidak ada jiwa-jiwa seni dalam diriku, aku bisa belajar. Animasi yang kami buat selalu kejar tayang di stasiun televisi swasta. Lembur setiap hari. Lelah tubuh karenanya. Kurang lebih tiga bulan aku mengundurkan diri.


Aku cari kerja lagi. Buah ikhtiar itu merekah, aku diterima sebagai sales profider kartu telpon prabayar. Asik juga, berangkat pukul 08:00 pulang 17:00, kerja di lapangan. Sebagai sales, tentu ada targetnya: per minggu 20 juta saat itu. Sangat enteng bagiku, karena ada satu outlet di wilayahku yang setiap minggunya selalu hampir di atas 15 juta. Tapi aku merasa ini bukan duniaku. Menjadi sekrup kapitalisme yang semu.

****
Aku bingung, setan jenis apa yang merasukiku saat itu, ketika Dulpahmi teman sejak SMA hingga kuliah S1, mengajak lanjut kuliah magister, ajakannya seolah seperti jampi. Aku mau.


Singkat cerita, aku lulus magister dengan tulisan tesis ala kadarnya. Tidak jauh seperti skripsi S1 yang sebagai syarat lulus saja.


Seorang teman jurusan bahasa Perancis mengontakku. Dia bertanya, apakah bersedia menjadi penerjemah Arab-Indonesia, Indonesia-Arab, di laman koran harian online. Aku jawab mau. Aku mengirim CV dan contoh teks terjemahan seadanya. Aku tidak berharap banyak dengan pekerjaan ini. Aku sadari kemampuan terjemahanku pas-pasan dibuktikan dengan 3SKS matakuliah tarjamah nilai BC di transkip nilai.


Namun, setelah beberapa minggu. HRD koran online menelepon aku. Bahwa sudah seleksi berkas, aku yang dipilih oleh pimpinan perusahaan. Surat kontrak perjanjian kerja sudah dikirim via email dari Jakarta. Tinggal aku tanda tangani dan aku kirim ulang lagi.


Dipekerjaan itulah sebenarnya aku banyak belajar, sesuatu yang aku benci (bahasa Arab), eh malah sebagai ladang nafkah untuk anak istri. Aku selalu berfikir positif, bahwa Tuhan selalu tidak teganan. Malu-malu aku harus akui, semua ini juga berkat dari guru-guru, dosen-dosenku dulu.


****

Antara bulan Agustus dan September. Biasanya, kampus almamaterku mempunyai hajat besar. Ulang tahun program studi. Diantara perhalatan besar itu, biasanya akan ada acara perkumpulan alumni. Tentu saja, aku tidak pernah ke sana, selain jauh, sebagai proletariat uang pas-pasan. Tentu saja, aku termasuk gank mahasiswa pemalas dan bodoh. Tidak akan betah hadir di acara-acara resmi tersebut.


Tapi ada hal yang mengusik perhatianku. Dari tahun ke tahun acara alumni tersebut adalah ajang pamer diri alumni. Alumni yang selalu menjadi pembicara selalu adalah orang yang sudah mapan. Punya karir yang bagus. Seolah sedang mengkomunikasikan bahwa, kuliah di Program Studi Pendidikan bahasa Arab akan mendapatkan peluang kerja yang luar biasa.


Mari kita akui bersama. Sekarang ini, segalanya dipandang, dinilai, berdasarkan materi, berdasarkan uang. Kejahatan kapitalisme inilah sumbernya. Asesor Akreditasi perguruan tinggi pada program studi, akan menilai. Penelusuran alumni sampai mana, sudah bekerja sebagai apa. Sebenarnya inti dari inti pertanyaannya adalah alumnimu Sudah bisa menghasilkan uang sebanyak berapa.


Tidak mungkin BAN PT akan menilai: oh alumnimu sudah banyak menjadi orang baik. Sudah banyak yang berlaku jujur. Sudah bisa memanusiakan manusia. Sudah berani menyuarakan mustadhafin yang berhak dibela.


Terkadang juga aku merasa sedih. Tag line yang digembor-gemborkan kuliah jurusan bahasa yang menurut Rasul Muhammad  bahasanya ahli Surga, setelah lulus bisa langsung kerja, kok seolah kita mengkerdilkan diri, menyamakan diri dengan 'SMK pasti Bisa'. 😣


Tulisan panjang lebar, kali tinggi ini sebenarnya bukan bermaksud apa-apa. Bukan bermaksud aku membanggakan apa-apa, tentang diriku, karena tidak ada hal yang patut aku banggakan. Dan aku juga bukan orang hebat, karena hidup itu bukan hebat-hebatan. Aku orang biasa seperti Anda, yang terus berproses belajar. Belajar membuka diri,  belajar memandang sesuatu pandangan baru, kuliah di bahasa Arab bagiku, ujung-ujungnya bukan sekedar uang, bukan pula kedudukan, pekerjaan, jabatan, bukan. Tapi keberkahan.



Berkah itu kalau tidak salah adalah bertambahnya kebaikan. Sesuatu yang di alam kapitalisme tidak memuat unsur ini. Kalau tidak salah, banyak sekali alumni yang bisa ditelusuri yang berkah ini, mereka mungkin saja hanya sekedar di rumah sebagai ibu rumah tangga tapi kehidupannya berkah. Atau mereka yang pagi harinya berniaga di pasar dan malam harinya mengajarkan anak-anak ngaji. Pendidikan bahasa Arab itu, harus terbang tinggi, lepas dari urusan dunia kapitalisme.


Selamat berpuasa...
Dikisahkan, ada seorang lelaki yang merasa sangat jatuh cinta kepada Rabiah Al-Adawiyah. Betapa tak tertahankan sebuah rasa cinta itu, akhirnya sang lelaki ini mendatangi Rabiah.

"Ada apa gerangan engkau mendatangiku, wahai Lelaki?" tanya Rabiah.

"Aku sangat mencintaimu, wahai Rabiah," jawab si Lelaki.

"Apa yang membuatmu merasa begitu sangat mencintaiku?" kembali tanya Rabiah.

"Matamu, dan kesalehanmu," kembali jawab si Lelaki.

"Mataku? Kesalehanku? Benarkah? Kalau begitu, engkau lebih tepat untuk saudara perempuanku. Meripatnya lebih indah dari meripatku. Dia juga lebih saleh dibanding diriku. Dia bahkan lebih muda dariku. Dia sedang berdiri di sana, di belakang tempatmu berdiri," terang Rabiah.

Dan, si Lelaki itu menoleh. Di belakangnya ternyata tak ada siapa-siapa.

"Engkau pendusta!! Cinta itu tidak menoleh kepada yang lainnya," tegas Rabiah, sembari meninggalkan si Lelaki itu sendiri.


Aku tulis ini, ketika Nadifa sedang tertidur, suhu badannya sangat tinggi. Aku kompres. Dan sedikitpun aku tidak menoleh selain kepadanya. Nadifa. 

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE