Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

 

Aktor senior Agus Kuncoro, dalam sebuah kontennya ditanya, apa yang membanggakan menjadi seorang bapak. Dia menjawab dengan mantap.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.
Kemudian ditanya lagi, apa yang paling menyedihkan menjadi seorang bapak. Dia jawab dengan nada sedih.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.

Pertanyaan berbeda. Jawaban sama. Penuh semantik dan semiotika.

....
#DearDifa
Hari ini sepulang sekolah kamu berkisah, bahwa tadi pagi di sekolah, selesai doa di bawah langit bertengadah, kepala sekolah bertanya depan kelas 1 sampai 6, hari ini siapa yang ulang tahun. Dan kamu mengacungkan jari. Pak guru menghadiahi uang sepuluh ribu. Ah tiba-tiba saja.  Kamu bahagia.

Untuk hal-hal yang remeh temeh seperti itu, sepertinya tanganmu sering lebih bertuah dari bapak ibumu. Beberapa kali juga dapat doorprize dalam sebuah acara yang kita tidak tahu.


Delapan tahun yang lalu itu, Difa. Saat ibumu kesakitan, dan bapakmu kebingungan. Besok akan seperti apa? Dan harus bagaimana. Meskipun saya sampai detik ini, saya meyakini, bahwa nasab saya ini adalah kaya 7 turunan. Sayangnya saya adalah turunan ke delapan! Haha. Maka kita jalani bersama-sama. Berjuang. Dengan segala Maha Ndak Tega-anNya Tuhan.


Karena saya turunan kedelapan itulah, Difa, saya tidak ada memberi apa-apa. Hanya berbagai pengalaman. Dan sedikit pengetahuan.


Karena saya bukan tipikal orang yang berdarah-darah dalam mencari esensi kebenaran. Maka yang saya wariskan adalah kebenaran warisan. Bagi saya, saya merasa tentram, hati nyaman, untuk hal-hal yang bersifat nostalgian: Salat bersama bapak dan kakekku sebagai penduduk kabupaten pinggiran.


Lima waktu bersama-sama kita kerjakan. Karena kata seorang kawan, keaslian kita, hidup, adalah menunggu waktu salat tiba. Adapun bekerja, bertani, berdagang, belajar atau sekolah, itu hanya selingan saja.


#Deardifa
Saya tidak tahu, nanti selanjutnya akan seperti apa. Saya berdoa, ketika nanti, kelak, dalam susah dan sedihmu, selesai salat-salat mu, semuanya akan reda. Dan dalam senang dan bahagiamu, selesai salat kamu akan berterimakasih dan biasa saja tanpa jumawa.

Sebagaimana tanganmu yang bertuah dalam setiap acara, semoga hidupmu kelak beruntung dalam kegembiraan dan dinaungi Maha Tidak Tega-anNya. Sejahtera. Bahagia.


...................
Delapan tahun itu, Difa. Bayi merah darah itu, dan kebingungan saya saat itu. Kamu akan tumbuh menjadi remaja. Agus Kuncoro, rasa yang sama.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE