Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

TGB Hasan Basri, pertamakali ke Madura pada tahun 1989. 


Mendiang ayahnya begitu gembira pada suatu pagi, ketika dia mengusulkan diri mondok ke Madura. Ayahnya bolos ngantor hari itu. Langsung mengajak sang ibu belanja tas dan perlengkapan mondok anaknya di pusat kota Mataram. 


Dia sebenarnya tidak terlalu yakin mau mondok.


Hari itu juga, sore harinya, TGB Hasan diruwat. Sang Ayah mengundang semua keluarga, terutama tetua dari keluarga. Selamatan untuk dia yang mau berangkat mondok. 


TGB Hasan dibawa ke beberapa mbah yang sudah jadi Tuan Guru untuk didoakan, karena projek dia mondok ini projek nekat saja dan berdasarkan keyakinan. 


Pengakuannya, waktu itu, dia blank ilmu dasar agama. Baca Al Qur’an saja tidak bisa. Apalagi mau menulis atau bercakap Arab. 


Dia mengenal al-Qur’an, hadis arbain, mata goyah dan lainnya berdasarkan hafalan walaupun tidak melek baca teks Arabnya— Tapi hanya kurang dari sebulan di pondok Al-Amien Madura, dia bisa baca al-Qur’an juga tajwidnya. 


Keesokan hari, mereka berangkat menumpangi bus Wisata Komodo menuju Surabaya. Ada delapan orang yang ikut mengantarkan. 


Si Ayah begitu yakin kalau dia akan kerasan mondok sampai selesai. Dan ini pertaruhan, karena kakak-kakaknya banyak yang gagal mondok.


Sampailah mereka di kantor ayah, di sekiatar kawasan Ampel. Salah seorang sopir kantor ayah mengajakan TGB Hasan keliling melihat Surabaya. Diajak ke mall, kemudian belanja. Tentu saja TGB Hasan merasa beruntung dan senang. 


Dia mengira Madura tidak jauh dari kota Surabaya. Dia tidak mengira harus menyebrang lagi dari Surabaya. Maklum tidak ada google map zaman itu.


Setelah mobil yang mereka tumpangi mendarat. dia melihat tanah memerah di sepanjang jalan. Terik matahari menyentuh kulitnya sehingga agak gatal. Dia mulai keder. Dia berbisik ke ibunya agar dia dibawa kembali ke kantor ayah saja dan pulang lagi ke Lombok.


Ibunya tampaknya tidak berani kepada ayah. “Persoalan mondok ini salah satu doa ayahmu”, kata ibu.


Singkatnya, dia di Madura hampir delapan tahun.  


Apa yang dia dapatkan? TGB Hasan bisa baca kitab gundul, belajar seni, bisa bahasa Inggris dan banyak wawasan lainnya.


Madura membentuk dia secara intelektual dan estetis. 


Betapa berhutangya dia kepada pulau Madura.


Dia juga tidak percaya kalau bisa menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. 


Dia memiliki guru-guru yang luar biasa. Sampai hari ini, paling tidak setiap selesai solat, wajah beliau-beliau membayangi TGB Hasan. Yai Idris, Yai Ahmad, Yai Jamal, Yai Maktum, dan banyak Yai lainnya. 


Kalau tidak berkah, tidak mungkin tanah Madura melahirkan orang mulai seperti guru-guru dia.


Dan tentu saja juga para guru mulia, para Yai lain, di pesantren-pesantren tua di Madura lainnya. Ada pesantren Bata-Bata dan An-Nuqayah yang sering datangi. Belum lagi pesantren di Pamekasan dan bagian pelosok lainnya di Sumenep, Bangkalan dan Sampang.


Dia berkisah, sosok kiai Kholil, cucu Mbah Khalil Bangkalan, yang sering ke pondoknya menemui Yai Ahmad. Keduanya adalah petinggi BASRA masa itu. 


Kadang dia melihat KH Wahid Zaini dari Paiton, begitu juga dengan iparnya KH Hasan Abdul Wafi dan banyak lainnya.


Ketika Yai Ahmad mengajar kitab Muhtasor Ihya, karya Imam Ghazali, biasanya dia diceritakan tentang kiai-kiai Madura dari masa lalu. Atau kiai dari Madura masa itu. 


Kadang sore, saat ngaji kitab Minhajul Abidin kepada Yai Idris, tiba-tiba ada seorang Yai datang mengucap salam keras. Dan memanggil Yai Idris dengan “lek” (paman). Ia tidak membuka sepatunya, langsung masuk ke dhalem memakai sepatunya. 


Dia tahu itu adalah Yai Sa’di dari An-Nuqayah, ponakan Yai Idris. Khelaf, kata Yai Idris singkat melihat ponakannya datang.


Tapi tidak sekalipun Kiai Ahmad atau Kiai Idris bercerita tentang Kiai Idris Patapan yang merupakan kakek buyut mereka. 


Ia para mulia madura tidak sekarlatan banyak yang menggeneralisasi rasisme Madura seperti Meksiko. 


TGB Hasan mengenal Madura bukan saja dari kultur pesantrennya. Dia paham perempuan-perempuan Madura itu cantik-cantik. Di berapa desa tertentu para perempuannya umumnya cantik: putih atau agak coklat, mata tajam, alis tebal, rambut lurus dan badan yang aduhai. 


Sayangnya TGB tidak mungkin menyebut dadanya.


Para lakinya juga sama. Banyak yang cenderung mancung hidungnya dan memiliki badan yang kekar dan tangguh.


Selama di Madura, TGB Hasan juga menemukan energi orang Madura berkesenian. Baik modern atau seni tradisi. 


Yai Zawawi Imron seperti orang tua TGB Hasan sendiri. 


Ada juga pekerja seni dan budayawan yang sudah mulai berumur, Pakdhe Syaf dan Pakdhe Dayat (keduanya aktif di FB). keduanya akrab luar dalam dengan TGB Hasan Basri. 


Madura bagi TGB Hasan, adalah sebuah rendezvous kultural. Di dalamnya dia tidak melihat ada yang asli. Madura telah mencampurnya menjadi campuran yang memiliki karakter. 


Madura mengajari TGB Hasan tentang harkat seorang manusia karena ia manusia. 


Dia tahu identitas seperti kelas, etnis dan ras itu cair, tidak esensial dari Madura daripada dari Stuart Hall atau Paul Gilroy.


Kelak setelah di Yogya, TGB tambah paham rasisme kepada orang Madura.


Umumnya teman-teman dia yang merasa dari Jawa agak sebelah mata melihat orang Madura.


Stereotipikalisme etnis atau persangkaan etnis itu sama saja muasalnya dengan persangkaan kelas sosial. Ia merambati otak siapapun. Terutama mereka yang sekolahan. Sedikit sekali orang terpelajar yang mampu melampui cerita rasisme atau persangkaan etnik yang mereka pelajari.


Antara persangkaan kelas, etnis dan rasa sama jahatnya. Semuanya penyakit bani adam yang belum lagi ada obat mujarabnya sampai sekarang. 


Teknologi digital yang dibanggakan kita selama ini, justeru menyuburkan persangkaan kelas, etnis, dan ras. Bukan malah menguranginya.


Saya kira pendidikan rasa, feeling, kepekaan, atau seni yang paling cepat memangkas penyakit rasisme daripada peningkatan kemampuan digital, atau sekedar olah intelektual ala kampus.


Setiap mengenang madura TGB Hasan selalu ingat kata-kata dari James Baldwin, kawan kerennya dari Amerika, penulis novel itu berkata : “Saya bangga dengan orang-orang ini bukan karena warna kulit mereka, tetapi karena kecerdasan, kekuatan spiritual, dan kecantikan mereka." 


Lalu, oknum yang mendzalimi Yai Mim di Malang itu, yang merupakan Madura, tentu saja, jangan digeneralisir untuk semua tentang Madura. 


Wallahu'alam...

Hari ini, di INSIP, kampus tempat saya dibesarkan, ada Studium General. Suasananya meriah, penuh kehangatan, penuh canda, tawa, guyonan, ger-geran, tapi juga kaya akan ilmu dan motivasi. Saya duduk, mendengarkan, dan di hati saya tumbuh semacam semangat baru.

Ada tiga orang di panggung akademik itu. Pak AZIZ HAKIM, Kasubdit Ketenagaan Kemenag, ahli tata hukum negara. Pak M. Adib Abdhushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama. Dan Pak Muammar, moderator acara, dosen senior INSIP, Warek 3, sekaligus senior yang disegani.

Mereka bertiga punya benang merah, sama-sama berangkat dari IAIN Walisongo Semarang. Dulu mereka mahasiswa, sama-sama aktivis. Dan karena pernah melewati susah senang bersama, di panggung itu mereka lebih mirip teman lama yang reuni. Bercanda, saling roasting, dan kita yang mendengar ikut hanyut dalam tawa.

Pak Aziz Hakim lebih realistis. Meski kuliahnya sampai 14 semester, ia justru bangga karena masa mudanya dipenuhi dengan forum-forum diskusi di pojok kampus, literasi, demonstrasi, dan menulis di media massa sejak awal kuliah. Nilai, bagi beliau, bukan sekadar angka, tapi kualitas diri. Saya jadi teringat masa lalu saya, merasa pernah sok-sokan jadi aktivis, sering meremehkan kelas dosen. Sekarang saya juga menyesal. Tapi dengan beliau, jelas, saya tidak ada apa-apanya.

Lalu, ada Pak Adib. Anak kiai besar dari Pekalongan, seorang Gus, tapi justru memilih SMP dan SMA umum. Seangkatan dengan Pak Muammar, tapi jauh lebih cepat. S2 dua kali, di IAIN Walisongo dan Flinders University Australia, lalu S3 di sana juga. Sejak S1 sudah jadi editor handal, CV-nya penuh publikasi. Sangar.

Ada satu titik yang terasa menyentuh bagi saya. Saat beliau cerita masa-masa menulis tesis, bolak-balik mukim di Pesantren Futuhiyyah Demak. Mungkin tepat di masa itu, saya masih bocah ingusan. Baru jadi santri. Sering menangis di pojokan, jauh dari rumah, nyuci baju sendiri, makan seadanya. Rasanya seperti ada garis tipis yang mempertemukan kami, meski pada level dan keadaan yang berbeda.

Pak Adib berbeda dengan Pak Aziz Hakim. Kalau Pak Aziz HAkim mendorong mahasiswa untuk jangan hanya kuliah-pulang, tapi harus aktif berorganisasi, Pak Adib mengajak ke arah spiritual. Saya merinding ketika mendengar kisahnya, bagaimana di Australia, saat mumet-mumetnya menulis disertasi, ia bertawasul kepada Syekh Abdul Qodir al-Jailani dengan membaca Manaqib. Aih, Di negeri jauh, seorang akademisi modern, sudah go internasional masih menggantungkan diri pada spiritualitas ala pesantren.

Itu klimaksnya. Saya yakin, orang-orang besar, orang-orang yang diberi jabatan, mereka semua punya riyadhoh, laku batin. Pak Adib jelas bukan hanya bersandar pada doa. Sejak awal, ia menyiapkan diri total, belajar bahasa Inggris, berjuang keras, meski ditertawakan kawan-kawannya. Ikhtiar tanpa batas. Bersungguh-sungguh secara totalitas. Dan tetap saja, ia tidak meninggalkan riyadohnya.

Beliau mengingatkan agar menjauhi hal-hal negatif dari HP, memanfaatkan teknologi untuk belajar, menjaga tahajud. Saya termenung. Kadang, ogikanya, orang sukses, sudah punya jabatan, harta, kekuasaan, untuk apa lagi berdoa. Tapi justru mereka tidak pernah berhenti.

Saya teringat sopir truk proyek tol yang pernah saya lihat. Saat istirahat di masjid, ia sempatkan salat duha. Padahal, kalau ia tidak salat, urugan tanahnya bisa lebih banyak, penghasilan tambah besar. Tapi jawabannya sederhana, “duha itu minta keselamatan, Mas.”

Mungkin, yang dimaksud keselamatan, tidak keselamatan di jalan saja. Untuk bekal kelak nanti.

Itulah laku batin. Dan Pak Adib menegaskan itu dengan contoh lain, dari dekat posisi jabatannya dengan Menteri Agama. Tak jarang ia menuliskan teks pidatonya. Dan dari cerita beliau, Menteri Agama yang sekarang tidak pernah absen puasa Senin-Kamis.

Sorenya, saya pulang dengan dada yang penuh. Tawa, canda, roasting, ilmu, motivasi, tapi yang paling menetap adalah rasa merinding itu. Bahwa orang-orang besar, pada dasarnya, adalah orang-orang yang masih setia pada laku batin.


Dulu, tahun 2008, Facebook masih baru, beranda dihiasi kabar teman, saudara, tetangga. Hangat, dekat, sederhana.

Lalu, tahun 2014, Twitter dengan Twitwar-nya hadir.
Meski namanya “war”, kadang percakapan itu cerdaskan, menantang otak, membuat tertawa, membuat berpikir.

Saya rindu masa-masa itu.

Sekarang, beranda sosial media berubah. Jangkauannya luas, banyak orang yang tidak saya kenal muncul, kabar politik, berita pemerintah, iklan, opini pedas. Saya merasa lelah, otak dan hati dipenuhi sampah informasi, stres meninggi. 

Biasanya saya cek sosial media malam hari, atau sepulang berkegiatan di sore hari.
Kadang phobia membuka, terutama berita pemerintah, kabar yang bikin cemas.
Tapi di sisi lain, ssebagian orang sosial media juga ladang, tempat orang mencari penghasilan, membangun konten, menanam benih peluang.

Seperti biasa, saya belajar memilih, memilah mana yang perlu, mana yang cukup dilewatkan. Memberi ruang untuk hati bernapas, untuk pikiran tenang, untuk kehidupan nyata yang menunggu di sekitar.

Tanah, Ingatan, dan Ketahanan Pangan
Nenek saya, kakek saya, petani.

Saya masih ingat, saat musim panen dulu, udara sore dipenuhi bau jerami yang baru dipotong. Burung-burung beterbangan mencari sisa gabah.  Dan di pematang sawah, saya kecil berlari-lari, bermain layang-layang, sementara kakek dan nenek menunduk. Dengan sabar memungut butir padi. Butir hidup yang kelak tersaji di meja makan kami.

Hari ini disebut Hari Tani. tapi bagi saya, ia hanyalah hari biasa. Karena tanah tidak pernah menunggu tanggal di kalender. Karena petani tidak mengenal seremoni atau pesta. Setiap hari adalah hari tani. Sebagaimana setiap hari adalah hari santri. Hari kartini. Hari perjuangan dalam kehidupan.

Kalau hanya dijadikan momentum seremonial, seperti Hari Kartini yang tiba-tiba siswa dipaksa memakai kebaya. Atau Hari Santri yang diwajibkan memakai peci. Bagi saya, justru mengkerdilkan makna yang seharusnya lebih luas, lebih dalam.
                                                                 
Mbah Nun, dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya ketahanan pangan. Bahwa bangsa ini tidak akan kuat, bila tidak mandiri pada tanahnya sendiri. Mas Sabrang pun sama, di forum Maiyah Mocopat Syafaat Yogyakarta, berpesan agar jamaah membangun ketahanan pangan minimal di skala rumah tangga.
Ia juga mengingatkan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan, siapa pun yang masih memiliki tanah, sebaiknya jangan menjualnya.

Sebab tanah adalah masa depan. Tanah adalah kehidupan.

Maiyah mendidik kita, untuk tidak sekadar menjadi follower. pengikut arus yang menunggu tren global. Kita diajak menjadi flower. bunga yang tumbuh dari akar sendiri. Yang mekar di tanahnya sendiri. Yang memberi keharuman bagi sekitarnya.

Kesadaran pangan, bukan karena Bill Gates atau miliarder dunia lain sedang berinvestasi di sektor pertanian, tetapi karena nasi di piring kita, berasal dari keringat kakek dan nenek kita, dari doa petani yang mungkin tak pernah dikenal namanya.

Hari Tani. Bukanlah pesta tahunan. Bukan panggung politik. Bukan pula simbol kosong di kalender.
Hari Tani adalah setiap detik.  Setiap tarikan cangkul.  Setiap butir keringat. setiap nasi yang kita kunyah dengan doa syukur.

Dan di sana, ada wajah kakek saya, ada doa nenek saya, ada perjuangan yang diam-diam menyelamatkan hidup kita semua. 
24 September 2025

Jelek-jelek gini, saya pernah menjadi guru PPKn di sebuah SMK, Saya tidak tahu manajemen lembaga itu, bisa-bisanya saya jadi guru PPKn. Namun saya suka, murid-murid itu juga mungkin sama.

Di kelas itu, kami sedang membahas tentang ideologi dunia—kapitalisme dan sosialisme. Anak-anak muda dengan bahasa mereka yang polos, sebenarnya sudah paham bahwa kapitalisme hanya melahirkan jurang: yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Sosialisme, di sisi lain, tampak menjanjikan pemerataan, meski sejarah membuktikan bahwa praktiknya tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Sebagai pengajar, saya mencoba menuntun mereka untuk melihat bahwa kedua ideologi itu sama-sama menyimpan jebakan. 

Tentu saya bukan pembela Liberlias-Kapitalis. Kapitalis memberi ruang kompetisi. Yang kuat akan selalu menyingkirkan yang lemah. Sementara sosialisme ingin meniadakan kelas, namun pada akhirnya tetap saja melahirkan penguasa baru dengan wajah yang berbeda.

Indonesia memang berlandaskan Pancasila. Realitanya, sila-sila itu seringkali hanya berhenti ditulisan dan hapalan. Tidak sampai pada laku dalam kehidupan. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, tampak diagungkan, tetapi pada praktiknya banyak tuhan-tuhan lain yang disembah: jabatan, uang, popularitas. 

Kemanusiaan yang adil dan beradab seolah menjadi slogan kosong ketika kita melihat betapa seringnya keadilan hanya berpihak pada mereka yang punya kuasa. Persatuan Indonesia pun retak oleh kepentingan golongan, apalagi sila keempat dan kelima—kerakyatan serta keadilan sosial—seringkali hanya menjadi jargon politik yang hilang bersama berakhirnya masa kampanye. 


Di tengah situasi seperti itu, saya berada pada posisi kelas menengah. Kelas yang sering disebut tulang punggung negara, namun justru kerap menanggung beban paling berat. Bagi kelas bawah, ada beragam bantuan sosial dan jaminan kesehatan. Bagi kelas atas, mereka tak perlu memikirkan itu semua—uang mereka tidak berseri, seolah tidak ada habisnya. Pernah suatu kali saya menyaksikan petinggi saya waktu itu, dengan mudah mentransfer satu miliar rupiah seolah hanya memindahkan recehan. Sedangkan bagi saya, mentransfer seratus ribu kepada seorang kawan saja masih disertai doa semoga uang itu kembali, meski dalam hati ada rasa pasrah kalau hilang selamanya. haha

Kelas menengah, dengan segala keterbatasannya, seringkali terjepit. Bayar iuran kesehatan saja bisa menunggak beberapa bulan. Pendidikan anak terasa semakin mahal. Hukum berjalan timpang: yang kecil digilas aturan, yang besar bisa membeli pasal. Budaya dan agama kadang justru menambah beban, ketika keduanya dipelintir menjadi alat legitimasi, bukan lagi sumber ketenteraman. Menjadi kelas menengah adalah menjadi saksi betapa negara ini tidak sungguh-sungguh hadir untuk semua lapisan.

Dari bacaan saya tentang sosialisme, termasuk tulisan para pemikir Indonesia seperti Tan Malaka, ada sebuah cita-cita tentang negara tanpa kelas. Sebuah dunia di mana tidak ada jurang yang memisahkan kaya dan miskin. Secara ideal, gagasan itu indah. Saya pernah menjadi pengagum ini. 

saya menemukan ada titik persinggungan yang menarik antara sosialisme dengan ajaran Islam. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan.  Kepada Mustadhafiin tentu saja. 

Islam mengenal konsep zakat, infak, sedekah, yang secara langsung mengalirkan harta dari yang punya kepada yang tidak punya. Bahkan dalam sejarah, ada masa ketika baitul mal mampu menjamin kebutuhan masyarakat, hingga nyaris tidak ada orang yang berhak menerima zakat karena semua telah tercukupi. Semangat itu mirip dengan yang dicita-citakan para pemikir sosialis. Meski tentu saja ruhnya berbeda.

Di sinilah saya kemudian teringat pada pemikiran Cak Nun. Ia sering menyebut tentang jalan alternatif yang tidak harus ikut-ikutan pada kapitalisme ataupun sosialisme. Sebuah jalan yang ia sebut sebagai “ekonomi yang diberkahi Tuhan.” 

Bukan sekadar menghitung untung rugi, bukan pula semata membagi rata tanpa jiwa. Ekonomi ini berpijak pada keberkahan—tentang bagaimana rezeki yang kita dapat tidak hanya halal secara formal, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Bahwa harta tidak menimbulkan kesombongan, melainkan menumbuhkan ke-solidaritas-an.

Mungkin inilah opsi yang sering luput dari peta ideologi dunia: sebuah ekonomi yang mengalir, cukup, dan menenangkan, karena Tuhan ridha di dalamnya.

Ekonomi yang diberkahi Tuhan, bagi saya, bukanlah konsep yang bisa disamakan dengan teori-teori ekonomi modern yang rumit. Ia lebih menyerupai laku hidup—cara kita memandang rezeki, memelihara harta, dan menempatkan manusia lain dalam lingkaran kehidupan kita. 

Saya jadi teringat obrolan dengan Bang Andi, seorang akuntan. Senior saya saat mbambung. Katanya, “Ekonomi Maiyah (secara makro), tidak dapat dilihat dari pandangan jagad cilik. Singkat kata, bagaimana kita bisa tahu orang lain sudah menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya? Tapi dalam pandangan jagad gedhe, kita bisa saling berprasangka bahwa kita saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas. Bertemu dengan orang yang sama-sama menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas, dan bertemu peristiwa-kegiatan-tujuan yang saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas.”


Perkataan itu bagi saya terlalu dalam, seperti gaya Sabrang, yang kerap membuat saya berhenti sejenak untuk mencerna. Namun justru dari kedalaman itu, saya teringat lagi pada nasihat Cak Nun yang lebih sederhana: “Wes dudu maqammu untuk mencari uang, uanglah yang seharusnya mencari kalian. Karena manusia itu Ahsanu Taqwiim. Masterpiece-Nya Tuhan."

Wallahu A'lam.

Semalam, saya ikut sebuah acara yang tidak akan mudah saya lupakan. Dentuman bass, irama reggae yang menghentak pelan, dan suara shalawat yang menggema dari panggung. Di sana, berdiri seorang musisi dengan jalan sunyi dakwahnya: Hamed Uye.

Di sosial media ada yang mengatakan, Hamed Uye adalah santri Tebu Ireng, Jombang. Dan saya bisa merasakan betul aura ke-santrian-nya, meski ia berambut gondrong gimbal, dan berdiri bukan di mimbar, namun di atas panggung musik reggae. Konon, syafaat Kanjeng Nabi itu tidak eksklusif, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu. Dan semalam, Hamed Uye membuktikannya. Ia mengajak semua orang untuk bersholawat, apapun latar belakangnya. Yang suka habib, monggo. Yang dekat dengan kiai, silakan. Musiknya tidak memecah belah. Reggae versi Hamed Uye justru terasa multikulturalis—milik semua orang.

Lagu pertama yang dinyanyikan malam itu adalah Indonesia Tanah Air Beta. Bagi saya, ini tanda cinta tanah air yang tulus pada Indonesia. Hidup yang berat, harga kebutuhan yang terus menggila, dan dengan segala permasalah rakyat Indonesia: Pinjol, Judol dan lain-lain. Namun Hamed Uye mengajak terus menerus cinta Indonesia. Lagu-lagu berikutnya membuat nostalgia saya bangkit. Ada shalawat pesantren Langitan, ada Yarobbi Antal Hadi—shalawat yang akrab di telinga anak-anak 80–90an, dan bagi saya pribadi, jadi teman masa kecil waktu SD.

Dentuman reggae itu, atau SKA yang lebih ritmis, bagi saya bukan sekadar musik. Ia adalah musik hati. Pernah menemani saya menyelesaikan skripsi, tesis, dan malam-malam panjang penuh gelisah. Semalam, dentuman itu kembali hadir, dan Hamed Uye membungkusnya dengan shalawat.

Karena kebaikan hati seorang teman, sebelum naik panggung saya sempat bertemu Hamed Uye di tempat istirahatnya. Dalam hati, saya ingin banyak bicara, menyebut bahwa saya salah satu follower setianya di media sosial, ingin berbasa-basi panjang. Ingin mengutarakan di platform Spotify perlu update lagu-lagu yang baru. Tapi yang keluar dari mulut saya malam itu, hanya satu kalimat sederhana: “Sukses dan sehat selalu, Cak.”

Grogi, iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa haru. Karena di hadapan saya bukan sekadar musisi reggae. Melainkan seseorang yang telah mengantarkan saya bernostalgia dengan shalawat-shalawat masa kecil. Shalawat-shalawat yang dulu diputar ayah, melalui tape recorder dengan kaset pita. 

Saya percaya, suatu saat Hamed Uye akan menjadi besar. Jalan dakwahnya insyaAllah akan diridhai dan dicintai Kanjeng Nabi. Sebab ia mengajak bukan dengan marah, bukan dengan sekat, melainkan dengan nada—yang mampu menyatukan semua hati yang semuanya rindu Kanjeng Nabi. 

............................................................................................................................................................

Semalam, adalah anniversary pernikahan saya dan istri. Kami berdua, menonton Hamed Uye, dengan shalawat-shalawatnya. Semacam doa. Kabulkanlah doa kami, jaga kami, lindungi kami.

Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarga. 

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Pasti, suatu saat nanti, kau akan mendengar kisah masyhur ini. Tentang Sayyidina Ali. Saat sedang genting-gentingnya Rasul Muhammad akan hijrah ke Madinah. Kafir Quraisy menutup semua akses jalan dari rumahnya. Rencana pembunuhan terhadap nabi begitu matang.


Hingga malam itu, dalam rangka mengelabuhi niat jahat kafir Quraisy, Sayyidina Ali mengorbankan dirinya untuk tidur di ranjang nabi. Nabi, karena campur tangan Allah, bebas aman menuju Madinah. Sementara Sayyidina Ali yang berbaring di ranjang nabi, dia merasa was-was. Artinya dia siap dengan segala resiko. 


Saya pertama kali mendengar kisah ini, saat duduk di sekolah dasar, dari ceramahnya Zainuddin MZ, di radio Raka Tegal yang diputer Bapak saya, setelah subuh. Tadinya saya tidak paham, kok bisa-bisanya Sayyidina Ali mau menggantikan nabi. 


Dibalik kisah kanjeng Nabi lolos dari kepungan kafir Quraisy itu, ada kisah lain. Kisah yang berlangsung di langit. 


Kisah ini ditulis oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya: Allah berfirman kepada Jibril dan Mikail. “Sesungguhnya Aku menjadikan kalian berdua sebagai saudara. Dan satu diantara kalian, Aku berikan umur panjang. Sekarang kalian pilih, mana yang lebih panjang umurnya?”.


Jibril dan Mikail Tidak ada yang mengalah. 


“Apakah kalian berdua tidak bisa meniru manusia yang bernama Ali bin Abi Thalib?”.


““Aku jadikan Ali dan Muhammad sebagai saudara. Ali menggantikan tidur di ranjangnya Muhammad, sebagai penebus nyawa Muhammad. Ali mengalah kepada Muhammad. supaya Muhammad tidak dibunuh oleh kafir Quraisy. Dia rela. Dia mau.”


“Turunlah, wahai Jibril dan Mikail. Lindungilah Ali dari musuh-musuhnya Muhammad.”


Kemudian mereka berdua turun dari langit ke bumi. Melindungi Ali. Jibril berada di samping kepalanya Sayyidina Ali, sementara Mikail disamping kedua kakinya. 


Dalam kisah itu, Jibril memberikan apresiasi kepada Sayidina Ali, “Kamu kok keren sekali, wahai anak laki-laki Abu Thalib. Allah membanggakanmu di hadapan para malaikat. Karena sifat itsarmu. 


Begitulah, dik. Itsar atau altruisme sebenarnya sikap sederhana. Sangat sederhana. Mengalah. Mendahulukan orang lain. Untuk mencari keridhaan Tuhan. 


Ada kisah lagi, dari Abu Hasan Al Antoqi. Dia tokoh Sufi dari kota Antoqia, atau Antiokhia, sebuah kota kuno yang penting di Asia Kecil, kini berlokasi dekat kota modern Antakya, di provinsi Hatay, Turki. Kota ini terkenal sebagai pusat kebudayaan, perdagangan, dan keagamaan pada zaman Helenistik, Romawi, dan Bizantium. 



Abu Hasan adalah seorang Sufi, yang sedang melancong bersama banyak sufi lain. Dulu, pekerjaan Sufi, dalam rangka untuk tadzkiatun Nafs dan mencari Ridha Tuhan, salah satu metodenya adalah Rihlah. Jalan-jalan.



Sesampainya di Kota Ray, sekarang Teheran, Iran. Saat malam tiba, mereka kelaparan. Ada sekitar 30 orang lebih, sementara Abu Hasan dan kawan-kawannya mempunyai beberapa roti yang terbatas. Yang tidak mungkin membuat kenyang seluruh rombongan tersebut. 



Agar semuanya terbagi, mereka memutuskan memecah jumlah roti itu menjadi banyak. mencincang roti itu menjadi banyak bagian. Kemudian mematikan lampu. Agar tidak ketahuan siapa yang makan banyak. Siapa yang mendapatkan sedikit. Pokoknya makan bersama. 



Saat lampu dinyalakan kembali. Ternyata roti itu masih utuh. Dari 30 orang, tidak ada yang makan sedikitpun. 



Kenapa roti itu masih utuh, karena semua berfikir sama. Mereka Ingin mendahulukan kawannya. Mementingkan kawan lain dari pada urusan sendiri. 


Kisah lain tentang altruisme dari Syu'bah. Dia seorang tabi'in. Ulama besar. Syu'bah bin al-Hajjaj, seorang ahli hadis yang hidup pada abad ke-2 Hijriah. 



Suatu hari, datanglah seorang peminta-minta menemui Syu'bah. Sementara Syu'bah tidak mempunyai apa-apa. Uang tidak punya. Makanan apalagi. 


Akhirnya, Syu'bah memutuskan untuk mencongkel atap rumahnya untuk diberikan kepada peminta itu. 


Begitulah dik, kisah-kisah itsar dari salafus saleh. 


Namun, sebenernya, kisah altruisme atau itsar ada di sekitar saya. Dari kawan-kawan saya dulu. Ada kawan saya dari Kudus, Temanggung. Ada kawan saya dari Jepara. Bumiayu. Mereka, ah iya, beberapa dari mereka tidak mengenal satu sama lain. Namun mereka begitu dekat dengan sikap tawadhu' dan itsar. Insya Allah, suatu saat akan saya bagi satu persatu kisah-kisah mereka. Saya bukan penjilat kawan. Untuk saat ini, fisik saya tidak mungkin dekat dengan mereka. Tapi saya sangat berhutang rasa dari sikap-sikap istar mereka. 


Dan akhirnya percayalah, dik. Mengalah itu bukan kalah. Kita tetap keren. 


Asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum, London, Inggris mengungkap lengkap tentang siapa Muhammad berdasarkan kitab-kitab sejarah kuno. Benarkah Muhammad adalah nabi yang telah lama ditunggu?


Judul Buku: Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik

Penulis: Martin Lings

Penerbit: Serambi, April 2007

Halaman: 668 Halaman

Judul Asli: Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, diterbitkan oleh The Islamic Texs Society, Cambridge, United Kingdom 1991


Digubah dari tulisan Cak Rusdi Mathari dalam blognya. 


Lings pernah bekerja sebagai asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum, memang mengungkap lebih lengkap tentang hubungan kaum cerdik pandai kaum Nasrani dengan Nabi Muhammad saw. (semoga Allah memberinya rahmat dan kesejahteraan) meskipun kemudian argumen Lings dianggap sepi oleh kaum Kristen. Informasi tentang kenabian Muhammad menurut Lings, sebetulnya sudah jelas, baik melalui risalah kitab suci (al Quran dan Injil) maupun sumber-sumber klasik: tidak pernah berdiri sendiri. Muhammad menurut Lings, dipengaruhi oleh keturunan, lingkungan, dan tentu saja campur tangan Tuhan. Tiga faktor itu, langsung dan tidak langsung telah menempatkan Muhammad sebagai nabi.


Dari garis keturunan, Muhammad adalah salah satu keturunan Ibrahim melalui Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Ismail sendiri berarti “Tuhan telah mendengar”. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.


Genesis mengabadikan peristiwa yang dialami oleh Ismail dan Hajar melalui Kitab Kejadian pasal 21. Dalam ayat 10, Injil mengungkapkan, “Usirlah perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba itu akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku, Ishak.” Pada ayat 17 disebutkan, “Apakah yang engkau susahkan, Hajar? Jangan takut sebab Allah telah mendengar anak itu dari tempat ia terbaring.” Di dalam ayat 20, Ismail dikisahkan oleh Genesis menetap di gurun dan juluki sebagai pemanah (Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1990). Nama Ismail setelah itu tak pernah disebutkan oleh Genesis kecuali dalam Mazmur pasal 84 ayat 7, yang secara tidak langsung memuji Ismail dan ibunya.


Bakaah dalam Bahasa Arab adalah Mekah. Dan di Mekah Ismail menurunkan banyak suku bangsa, yang terkuat adalah suku Fihr. Suku ini keturunan langsung Ismail dari jalur laki-laki, dan kemudian dikenal sebagai suku Quraisy. Adapun keturunan Ismail dari jalur perempuan disebut sebagai suku Quraisy Pinggiran. Karena pengaruhnya yang kuat, Quraisy dipercaya menjadi pemegang kekuasaan atas Mekah: melayani para peziarah yang datang ke Ka’bah.


Sekitar empat abad setelah Masehi, Qushay seorang laki-laki Quraisy menikahi perempuan bernama Hulayl, keturunan Quraiy Pinggiran. Pernikahan itu membuahkan empat anak laki-laki, salah satunya diberi nama Abdul Manaf. Setelah menikah, Abdul Manaf mempunyai empat anak lelaki; Abdu Syams, Hasyim, Al Muththalib, dan Naufal.


Keliru besar jika ada yang menganggap Muhammad adalah keturunan langsung Al Muththalib. Muththalib dalam hal ini hanyalah kakek buyut tidak langsung dari Muhammad, karena kakek buyut Muhammad yang langsung adalah Hasyim saudara Muthathalib. Selain berkuasa atas Mekah, Hasyim inilah yang membangun dua rute perjalanan kafilah besar dari Mekah: kafilah musim dingin ke Yaman dan kafilah musim panas ke barat laut Arab. Di antara dua musim itu, rutenya diarahkan ke Palestina dan Syiria yang pernah menjadi jajahan Romawi dari Eropa.


Salah satu pemberhentian utama dari kafilah musim panas adalah Yastrib (Madinah). Kendati mayoritas suku di sana adalah Arab, banyak kaum Yahudi yang menetap di Yastrib. Mereka menguasai oasis, dan tetap menjalankan agamanya sendiri, di luar kepercayaan pagan yang dianut hampir oleh sebagian besar suku Arab. Salah suku bangsa Yahudi yang berada di kota itu adalah Khazraj.


Hasyim menikahi Salmah, salah seorang perempuan dari suku Khazraj yang berpengaruh pada sukunya. Meskipun dari istri-istrinya yang lain Hasyim dikaruniai tiga putra, tidak ada yang lebih terkenal dibanding Syaibah, putra Hasyim dari perkawinannya dengan Salmah. Tidak seperti putra Hasyim yang lain yang tinggal di Mekah, Syaibah menetap di Yastrib bersama ibunya. Namun kepandaian Syaibah terdengar hingga di Mekah.


Sewaktu Hasyim menyerahkan kekuasaan Mekah kepada Muththalib, sang adik, Muththalib lalu berinisiatif memungut Syaibah, keponakannya itu, untuk tinggal di Mekah. Karena Syaibah diboyong ke Mekah menggunakan unta milik Muththalib, orang-orang di Mekah lalu memanggil-manggil Syaibah dengan panggilan Abd al-Muththalib atau “budak Muththalib”. Sejak itulah, Syaibah menetap di Mekah dan dikenal dengan nama Abdul Muththalib.


Tentang Kaum Hanif

Dari Abdul Muththalib inilah, sejarah Mekah dan juga sejarah Muhammad, kelak banyak dicatat oleh al Quran dan juga oleh sejarah. Dia memiliki tiga belas anak laki-laki dan enam anak perempuan hasil dari pernikahannya dengan beberapa perempuan. Abd Allah, ayah Muhammad, adalah salah satu dari tiga belas putra Abdul Muththalib itu. Nama-nama lain dari putra Abdul Muththalib yang juga terkenal adalah Harits, Zubair, Hamzah, Abbas, Abu Lahab (musuh utama Muhammad dalam penyebaran Islam di Mekah), dan Abu Thalib (ayah dari Jafar dan Ali).


Ada kisah menarik, ketika Abd Allah akan dinikahkan dengan Aminah dari Bani Zuhra. Dalam perjalanan menuju puak itu, Abd Allah bersama Abdul Muththalib harus melewati daerah yang dihuni oleh Bani Asad, salah satu klan dari Quraisy. Bani ini, termasuk salah satu klan yang tetap mempertahankan kepercayaan Ibrahim di tengah masyarakat Quraisy yang pagan. Nama-nama yang terkenal dari klan ini adalah Khadijah, Waraqah, dan Qutaylah. Pada saat dua lelaki Quraisy itu melintas di wilayah Bani Asad itulah, Qutaylah (saudara perempuan Waraqah) berdiri di depan pintu rumahnya. Qutaylah memperhatikan kedua ayah-anak itu, tapi perhatian utamanya tertuju kepada Abd Allah, laki-laki berusia 25 tahun.


Bukan baru sekali itu Qutaylah memperhatikan lelaki lewat. Tapi kali ini Abd Allah menarik perhatiannya secara istimewa. Memang, dalam hal ketampanan, Abd Allah adalah Yusuf pada zamannya. Tapi, bukan itu yang menarik Qutaylah. Muhammad ibn Ishaq di dalam buku Sirah Rasul Allah, Kehidupan Nabi edisi Wustendfeld, menggambarkan pada saat itu Qutaylah melihat cahaya pada wajah Abd Allah yang seolah memancar dari luar dunia. Qutaylah lalu tak bisa menahan diri untuk tidak menyapa dua lelaki itu dan kepada Abd Allah, dia menyatakan secara terus terang keinginannya: agar Abd Allah memilihnya sebagai istri. Mendapat “lamaran” yang tak disangka, Abd Allah hanya mampu menjawab bahwa dirinya menuruti ayahnya dan harus menikahi Aminah.


Sehari setelah pernikahan Abd Allah dengan Aminah, Abd Allah kembali bertemu dengan Qutaylah. Perempuan itu tak menyapa Abd Allah meski matanya menatap tajam. Ketika ditanya oleh Abd Allah ada apa, Qutaylah menjawab “ Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang. Hari ini engkau tak lagi bisa memenuhi harapanku.” Pernikahan itu berlangsung pada tahun 569 Masehi dan tahun setelah itu dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun ketika Muhammad dilahirkan.


Mengapa Qutaylah meminta Abd Allah untuk menjadi suaminya?


Kendati sebagian besar suku Arab seperti Khuzaah, Hawazin, dan juga sebagian dari suku Quraisy adalah kaum pagan, sebagian kecil di antara mereka tetap mempertahankan agama Ibrahim atau setidaknya lebih dekat ke agama itu. Puak Hasyim dan Abdul Muththalib adalah salah satu di antara suku Qurays yang mempertahankan agama Ibrahim: tidak melakukan ritual penyembahan kepada berhala. Di luar mereka, Bani Asad termasuk puak yang menegakkan agama Ibrahim secara murni, jauh dari sikap tradisional. Mereka dikenal sebagai kaum hanif atau ortodok yang menganggap berhala-berhala yang ada di Mekah najis dan menimbulkan polusi. Istilah hanif yang digunakan oleh Lings berbeda dengan yang digunakan oleh Guntur. Guntur menunjuk hanif untuk Bani Hasyim.


Penolakan mereka untuk berkompromi terhadap pemujaan berhala dan seringnya mereka bicara terang-terangan tentang agama Ibrahim, menyebabkan mereka menjadi golongan yang terpinggirkan dalam masyarakat Mekah. Abdul Muththalib mengenal salah satu dari kaum hanif itu yaitu Waraqah, yang bersama kaumnya Bani Asad, memeluk agama Nasrani. Kaum inilah yang meyakini bahwa akan datang seorang nabi setelah Isa as.


Meskipun kepercayaan mereka tidak tersebar secara luas, mereka didukung oleh satu atau dua aliran besar gereja timur dan juga para astrolog dan para peramal. Mengenai kaum Yahudi –karena menurut mereka garis kenabian baru berakhir pada Mesias– hampir seluruhnya sepakat mengharapkan seorang nabi. Pendeta dan para rahib Yahudi meramalkan bahwa tanda-tanda kedatangan seorang nabi telah tiba, dan tentu saja nabi tersebut adalah (harus) seorang Yahudi, karena mereka mengklaim diri mereka sebagai bangsa pilihan.


Adapun kaum Kristen termasuk Waraqah meragukan hal itu. Mereka tidak melihat alasan mengapa nabi terakhir itu harus bukan Arab. Bangsa Arab di mata mereka lebih membutuhkan seorang nabi ketimbang kaum Yahudi, yang setidaknya masih mengikuti agama Ibrahim dan hanya menyembah satu Tuhan dan tidak menyembah berhala. Tidak ada yang bisa meluruskan bangsa Arab dan kesalahan agama mereka kecuali seorang nabi.

Ka’bah sebagai pusat Mekah pada masa itu dikelilingi 360 berhala.


Jumlah itu belum termasuk berhala-berhala kecil dan besar yang disimpan di setiap rumah di Mekah sebagai penjaga rumah. Bila mereka melakukan kegiatan apa pun khususnya jika hendak bepergian jauh, orang-orang Mekah itu akan menghadap berhala dan bersujud di depannya, memohon berkah dan keselamatan. Itu juga yang dilakukan oleh hampir semua bangsa Arab, termasuk sebagian masyarakat Arab Kristen di daerah selatan yaitu di Najran dan Yaman dan di utara dekat perbatasa Syria.


Nestor dan Bahirah

Abdul Muththalib dan kaumnya, Quraisy yang berkuasa atas Mekah dan juga suku-suku pagan tidak memusuhi orang Nasrani. Kaum Kristen yang kadangkala datang untuk memberikan penghormatan pada maqam Ibrahim diterima baik oleh Quraisy, seperti yang bisa mereka lakukan kepada tamu-tamu lainnya. Pada salah satu dinding Ka’bah, kaum Nasrani bahkan diberi kehormatan membuat lukisan Perawan Maria dan anaknya, Kristus –yang gambarnya jelas-jelas lebih menarik perhatian karena berbeda dengan gambar-gambar yang lain.


Waraqah yang dapat membaca dan telah mempelajari Injil dan teologi mampu melihat suatu janji Kristus. Janji itu secara umum oleh umat Nasrani dianggap merujuk ke Mukjizat Pantekosta. Meskipun bahasanya tak jelas (cryptic), mukjizat itu tersirat dalam Injil Yohanes pasal 16 ayat 13 “Ia tak akan berkata tentang dirinya, namun segala yang dapat ia dengar, itulah yang akan ia katakan.”


Sebagai kakak, Waraqah sering membicarakan isi Injil dengan Qutaylah adiknya. Pembicaraannya tentang akan datangnya seorang nabi dan waktu kedatangan itu tidak akan lama lagi, sangat membekas pada diri Qutaylah. Itu sebabnya, ketika melihat Abd Allah, Qutaylah meminta lelaki itu menikahinya: karena pada wajah Abd Allah seolah ada cahaya seperti yang banyak diceritakan oleh para pendahulunya tentang tand-tanda kelahiran para nabi. Sejarah membuktikan bahwa pernyataan Qutaylah kepada Abd Allah sehari setelah pria itu menikah dengan Aminah — cahaya itu tak ada lagi pada wajahnya– menjadi kenyataan, karena cahaya (kenabian) itu berpindah kepada Muhammad, putranya; yang kemudian menjadi lebih terang.


Kendati Lings tidak menyimpulkan, tapi sampai pada tahap ini terungkap, bahwa dari garis keturunan, Muhammad adalah keturunan orang-orang pilihan dari garis Ismail, putra Ibrahim. Dengan demikian, menurut Lings, Ibrahim bukan hanya melahirkan dua anak dari dua istri, namun dari dua anak itu pula Ibrahim melahirkan dua bangsa besar yang menjadi sarana “kehendak langit”, yang kepada kedua bangsa itu, Allah bukan saja menjanjikan kemakmuran duniawi, melainkan juga keluhuran spritiual. Dua spiritual, dua agama, dua dunia bagi Tuhan; dua lingkaran dan karena itu juga dua pusat.


Itulah tempat yang disucikan bukan atas pilihan manusia, tapi telah menjadi ketetapan “Kerajaan Langit”. Ada dua pusat suci yang melingkupi Ibrahim: satu di daerahnya di Kanaan, dan satu lagi di sebelah barat Kanaan, satu lembah tandus yang berjarak empat puluh hari perjalanan unta dari Kanaan. Tempat itu adalah Bakah yang kemudian dikenal sebagai Mekah, itu.


Tentang bagaimana pribadi dan perilaku Muhammad secara lahiriah, yang tampan, santun, jujur, cerdas, dan sebagainya; juga dibahas terperinci oleh Lings. Dalam konteks kenabian Muhammad dan hubungannnya dengan kaum cerdik pandai Kristen, menurut Lings, bukan saja terjadi pada tahun-tahun awal menjelang kelahiran Muhammad melainkan juga setelah Muhammad beranjak dewasa, terutama sejak dia memulai hubungan dengan Kahdijah, sepupu Waraqah.


Di Mekah, Khadijah adalah konglomerat yang cantik. Dia berurusan dengan Muhammad kali pertama ketika meminta Muhammad mewakilinya melakukan jual-beli ke Syiria. Muhammad setuju, dan Kahdijah menawarkan Maysarah, budaknya, untuk menemani Muhammad. Dikisahkan oleh Muhammad ibn Sa’d dalam kitab at Thabaqat al Kabir edisi Leyden Belanda, kabilah dagang Muhammad tiba di Bostra (di selatan Syria), kota yang memiliki biara dan di dalamnya dihuni oleh pendeta Kristen dari masa ke masa: di Bostra bila seorang pendeta meninggal, ia akan digantikan oleh yang lain, dan pengganti ini mewarisi seluruh isi biara termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Salah satu manuskrip di Bostra itu berisi tentang ramalan akan datangnya seorang nabi kepada bangsa Arab.


Di Bostra, Muhammad berteduh di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari rumah Nestor, seorang pendeta Kristen. Bertanyalah Nestor kepada Maysarah, “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?” Maysarah lalu menjawab, “Dia orang Quraisy, dari keluarga penjaga Tanah Suci.” “Tidak, dia tak lain adalah seorang nabi,” kata Nestor.


Jawaban Nestor sama dengan yang diberikan oleh Bahira, pendeta sebelum Nestor— ditempat yang sama, ketika pada usia sembilan tahun, Muhammad diajak oleh Abu Thalib sang paman berniaga ke Syria. Dibandingkan dengan Nestor, Bahirah lebih “mengenal” Muhammad, karena pada jamuan makan yang disediakannya untuk kabilah Abu Thalib itu Bahirah bahkan meminta Muhammad melepas jubahnya hanya untuk melihat punggung Muhammad.


Rahasia Namus

Keterangan pendeta Nestor itulah yang diceritakan oleh Maysarah kepada nyonyanya, setelah dia dan Muhammad kembali di Mekah. Khadijah lantas mengulang cerita Maysarah kepada sepupunya, Waraqah. ”Telah lama aku tahu bahwa seorang nabi akan diutus dan saatnya kini telah tiba,” kata Waraqah.


Beberapa waktu sesudah itu, Khadijahl lantas melamar Muhammad untuk menjadi suaminya. Sebagai mas kawin, Muhammad membayar dua puluh ekor unta betina yang dibayarkan oleh Hamzah, paman Muhammad. Ketika menikah dengan Muhammad, usia Khadijah sudah menginjak 40 tahun, sementara Muhammad baru berusia 25 tahun. Hingga masa sebelum Muhammad menerima wahyu kenabian, tak banyak riwayat yang menceritakan hubungan Muhammad dengan Khadijah.


Sejarah kemudian mencatat, Muhammad yang ketakutan datang kepada Khadijah pada suatu malam dan meminta istrinya itu untuk memeluk dan menyelimutinya. Sebelum malam itu, Muhammad adalah lelaki yang dikenal suka menyendiri dan menyepi (tahanmust) pada malam hari di gua di Bukit Hira’ di pinggiran kota Mekah. Bagi orang Quraisy, tahanmust bukan sesuatu yang asing dan menjadi praktik tradisional di kalangan keturunan Ismail. Muhammad melakukannya sejak menikah dengan Khadijah hingga malam itu, tepat pada bulan Ramadhan tahun 636 Masehi: Muhammad disergap rasa takut luar biasa.


Ketika ketakutannya mereda, Muhammad menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya kepada Khadijah. Waraqah yang mendapat cerita dari Kahdijah berkata, bahwa yang mendatangi Muhammad adalah Namus. Dalam Bahasa Yunani Namus adalah Hukum Tuhan atau Roh. “Kudus, Kudus demi Tuhan yang menguasai jiwaku yang datang kepada Muhammad adalah Namus yang terbesar yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh dia adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkan dia!” kata Waraqah yang saat itu sudah tua dan buta, kepada Khadijah.


Buku yang ditulis oleh Lings, sepenuhnya bercerita tentang Muhammad luar dalam, yang tersirat dan yang tersurat. Narasi dan komposisi bahasa dari Lings dalam buku ini membawa jantung saya seolah berhenti berdetak. Selain mengungkap peran kaum cerdik kaum Kristen, Lings juga mengungkapkan bahwa Rayhanah salah satu istri Muhammad adalah orang Yahudi dari Bani Nadhir.


Dari keseluruhan isi bukunya, Lings terlihat menempatkan Muhammad sebagai sosok yang patut dipuji dan berhak menjadi nabi. Selaras dengan banyak kitab-kitab kisah nabawiyah. 



DearDifa
DearHilwa
DearAsfar


Thread adalah media sosial, anak turun dari Instagram. Seperti halnya Fesbuk, ia masih di bawah Meta Platform. Pemilik dan asalnya tentu sudah tahu. Mark Zuckerberg. Fungsi thread seperti Twitter, atau X. Menjangkau setiap apa yang dihubungkan dengan keadaan sosial, pikiran pengguna.


Hari-hari ini selain fokus dalam kegiatan sehari-hari, saya banyak menyimak sosmed Thread ini daripada sosmed lain.


Peristiwa Indonesia, akhir Agustus 2025 kemarin adalah runtutan peristiwa yang melelahkan. Tragedi almarhum Affan Kurniawan dan banyak peristiwa di berbagai penjuru Indonesia, setiap detik kita disuguhi berita-berita yang mengerikan. Kelelahan sosial. Ekonomi yang tidak kunjung membaik.


Untungnya, masih banyak berita yang patut kita simak. Dari banyak tragedi itu, netizen Malaysia mengikuti perkembangan apa yang ada di Indonesia. Yang banyak dialami rakyat jelata Indonesia. Lagi-lagi saya terkesima, bahwa dibalik semua kejadian hitam itu, ada mutiara yang patut kita puja. Malaysia.


Bisa jadi selama ini, kita banyak bertengkar, banyak berebut dengan Malaysia. Kebudayaan, roasting sepakbola dan sebagainya. Tetapi justru disaat-saat seperti ini, netizen Malaysia banyak membantu Indonesia. Mereka mengubah lokasi food delivery service berada di Indonesia. Kemudian chating dengan driver platform tersebut dengan berusaha bahasa Indonesia yang bisa dipahami. Lalu mentransfer sejumlah uang untuk dibelikan makanan dan dibagikan kepada orang-orang yang dalam tragedi itu.


#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar


Bisa jadi, Indonesia-Malaysia seperti kalian, adalah kakak beradik, yang sering saling berebut ketika bermain. Saling mengejek, sampai di antara kalian menangis. Tetapi saat-saat seperti ini. Ketika Indonesia sedang sakit parah, yang memperdulikan adalah adiknya. Memberikan banyak perhatian. Saling menyayangi. Saling mengasihi. Saling memerlukan.


Itulah kenapa dik, banyak pelukan jauh yang kita dapatkan dari Malaysia hari-hari ini. Termasuk dukungan demo dari warga dan mahasiswa Malaysia di KBRI Kuala Lumpur.


Rukun, saling menyayangi, dan saling support hanya itu yang bisa saya wariskan.


Di Thread juga, saya temukan kawan lama saya, yang kontennya banyak ditanggapi oleh warga net. Baik tanggapan positif maupun negatif. Namun, kebanyakan negatif. Karena kontennya hanya itu-itu saja. Kawan lama saya itu perempuan, dia menikah dengan lelaki militer luar negeri. Pelajaran yang bisa diambil dari dia adalah. Tidak cukup belajar bahasa asing. Belajar tentang filsafat, ideologi, hukum tata negara, dan feminisme, akan membukakan kita banyak jendela-jendela dunia.


Itulah kenapa dik, dunia terlalu keras, untuk kita yang hanya mengandalkan keikhlasan.


Satu lagi sebenarnya saya temukan di Thread. Kawan saya lama lain, seorang perempuan tangguh, yang belum sepenuhnya pulih, pasca dia ditinggalkan anaknya yang sudah lama. Saya tidak bisa bercerita terlalu lama tentang kesedihan. Dia pasti akan menemukan jalan keluar.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE