Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Ini adalah tulisan seorang dokter spesialis jantung sekaligus dosen di Universitas Mataram. Salah satu dokter favorit saya di Media Sosial. Dia mempunyai pandangan yang tidak biasa dengan dokter  lain. Statusnya di Fesbuk selalu saya ikuti. Selain menenangkan. Juga tidak menakutkan.


Tulisan ini saya gubah sedikit:


Roseto sebuah kota kecil di pinggiran Pensylvania, Amerika serikat. Penduduknya kebanyakan imigran Italia yang datang sebelum era tahun 1900an. Sebagian besar mereka bekerja di tambang. 



Apa yang menarik tentang Roseto dan penduduknya?



Dokter setempat yang selama 17 tahun bekerja di Roseto tidak menemukan masyarakatnya yang berusia di atas 65 tahun mengalami penyakit jantung.



Fakta itu tentu mengejutkan, karena pada masa itu menurut akal sehat mustahil ada dokter yang selama karirnya tidak menemukan pasien penyakit jantung. 



Pada era tahun 1950-an, penyakit jantung menjadi epidemik di Amerika. Obat penurun kolesterol atau pencegah penyakit jantung belum ditemukan. Penyakit jantung menempati posisi penyebab utama meninggalnya pria di bawah usia 65 tahun di sana.



Hal ini membuat Steward Wolf (dokter) yang tinggal di Pensylvania tertarik datang ke Roseto untuk meneliti:

Pertama, dari catatan kematian, Wolf tidak menemukan masyarakat di atas usia 65 tahun meninggal karena penyakit jantung.


Kedua, dari studi ginealogis (kajian tentang silsilah keturunan), Wolf juga tidak menemukan adanya peran keturunan termasuk pada leluhur mereka di Italia sendiri. 


Dari dua penelitian pilotnya, wolf mengambil kesimpulan sama sekali tidak ditemukan ada masyarakat Roseto yang mengalami serangan jantung pada usia di bawah 55 tahun, bahkan sekedar menunjukkan gejala penyakit jantung saja tidak. Bahkan yang meninggal karena berbagai penyebab hanya sekitar 30 sampai 35 persen dari yang diprediksi, ini adalah sebuah keajaiban di masa itu. 



Karena masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, Wolf mengajak seorang sosiolog bernama John Bruhn untuk ikut terlibat dalam penelitiannya. Fakta  apa yang mereka dapatkan?


Pertama, tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, tidak ada kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan. Orang-orang ini meninggal karena usianya yang sudah menua.


Kedua, pola makan Roseto tidak berbeda dengan penduduk Amerika umumnya,  makan pizza dengan roti tebal ditambah pepperoni, salami, ham, kadang-kadang telur dan memasak makanannya sebagian besar dengan lemak babi. Merekapun jarang berlatih yoga, juga jarang lari pagi yang rutin. Lagi-lagi Wolf dibuat bingung, ternyata bukan pola makan dan olah raga rahasia keajaiban kesehatan penduduk Roseto.


Ketiga, Wolf dan Bruhn mencoba menelaah genetik orang Roseto yang tinggal di belahan Amerika yang lain. Lagi-lagi karakter gen mereka walaupun masih punya garis Keturunan yang sama, tidak bisa menjawab kenapa mereka yang tinggal di Roseto lebih sehat jantung mereka dibandingkan keturunan Roseto yang tinggal di luar Roseto.


Keempat, apakah mungkin lingkungan di Roseto lebih nyaman? Tidak juga, kota Nazareth dan Bangor mempunyai karakteristik sama secara geografi, angka serangan jantung mereka 3 kali Roseto.


Benar-benar membuat kedua peneliti ini bingung bukan main. Tapi Tuhan masih baik pada mereka. Saat mereka sedang berjalan pulang dari upaya meneliti, mereka baru sadar, masyarakat di sana sering ngobrol di pinggir jalan, makan bersama dengan tetangga, ketika ada kegiatan sosial apapun, praktis semua pekerjaan mereka hentikan.


Mereka saling berkunjung satu sama lain. Rasa hormat yang muda pada yang tua. Suatu situasi yang tidak didapatkan dibelahan Amerika manapun. Suatu ikatan sosial yang begitu kuat. 



Sayangnya ketika Wolf dan Bruhn mempresentasikan penelitiannya di forum ilmiah, mereka dicibir dan disepelekan. 


Bagaimana mungkin hanya karena 'ngobrol dan berpapasan di jalan,  membuat seseorang terhindar dari penyakit jantung? Faktor sepele yang mengabaikan bagaimana pola makan dan olah raga sebagai penentu apakah seseorang berisiko menderita penyakit jantung koroner.



Penelitian mengenai Roseto effect terus berlanjut sampai hari ini. Wolf dan Bruhn pun membuat buku menarik yang mengulas mendalam Roseto yang dituangkan dalam "The power of clan: the influence of human relationship on heart disease". Kemudian dikupas ulang dalam beberapa bab dalam buku "outliers " oleh Malcolm Gladwel.


Kelompok Cenetarian di Blue Zone juga memiliki kemiripan karakteristik yang sama. Mereka sebagian besar memiliki keluarga yang bahagia dan keterhubungan sosial yang sempurna.


Hari ini kita belajar...


Kita adalah mahluk biofilia, yang hidup perlu berkumpul dan memerlukan dukungan sosial. Ini terbukti masyarakat purba selalu tinggal dalam rumah panggung besar bersama. Melakukan sesuatu bersama-sama. Kitapun ketika memiliki kesamaan hobi, ketika kita berkumpul, ngobrol, ada rasa senang yang tak bisa dijelaskan. Sungguh benar hadist Rasulullah bahwasanya silaturahmi akan menambah rejekimu pun dia akan memperpanjang usiamu.


𝑃𝑎𝑟𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑑𝑖𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑎𝑟𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑙𝑎𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡𝑜𝑟𝑖𝑢𝑚, seberapa sehat pola makanmu, dan seberapa sering berolahraga, 


𝑘𝑒𝑡𝑒𝑟ℎ𝑢𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑙 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑚𝑢


Diambil dari status Fesbuk Basuki Rahmat.

 #DearHilwaa


Hilwa itu berasal dari bahasa Arab, artinya manis. Harapannya, pekerti dan masa depannya juga manis.


Tulisan ini bukan saya mendustakan nikmat Tuhan, namun sebaliknya. Tuhan hadir dalam banyak hal, termasuk dari wajah ibu-ibu di bus umum itu. Betapa saya hutang rasa pada mereka, yang telah memberlakukan anak bayiku kedua, Hilwa.


Delapan bulan usianya. Saya pikir, seperti anggapan banyak orang, ketika bertambah anak, saya akan mendapatkan rejeki yang luar biasa, rejeki yang tidak diduga-duga. Tapi kenyataannya, masih saja kehidupan ekonomi saya seperti ini. Betapapun kerasnya hidup, orang sekelilingku adalah manusia luar biasa. Mereka menerima.


Dulu saya mengira, kelak anak kedua nasibnya tidak semuram kakaknya yang motoran ke mana-mana. Saya pikir, saya sudah siap mempunyai kendaraan roda empat. Tapi begitulah nasib. 


Sampai suatu ketika, Hilwa yang delapan bulan, terjebak di bus umum minim ventilasi. Cuaca sedang panas-panasnya. 


Hilwa ini bagaikan sungai yang mengalir di malam hari. Sejuk. Damai. Tenang. Anteng. kesehariannya ia jarang rewel. Dan di bus umum itu, di tengah siang bolong itu, tangisannya pecah. Keringatnya basah kuyup membanjiri wajahnya. Suara tangisnya tidak berhenti hingga suaranya serak.


Ia tidak berhenti juga menangis meski sudah diiming-imingi diajak bermain dengan banyak ibu-ibu penumpang bus itu.


Duhai Adik Hilwa, ingin ku bisikan padamu: bus umum itu adalah tempat di mana manusia saling bertegur sapa, tanpa kenal sebelumnya. Betapa saya sangat hutang rasa pada mereka, pada ibu-ibu di bus umum itu.


Begitulah nasib kita, Dik, dan maafkan ayahmu yang miskin ini.


4 Ramadan 1443 Hijriyah

 #DearBapak

Memelihara pusaramu saja, aku tak mampu.

Anakmu yg merasa miskin, yg bisa jadi sesungguhnya tidak miskin-miskin amat, aku tak mampu.


Suatu saat, sungguh aku berharap aku bisa  bersamamu lagi. Menaiki sepeda bareng lagi.  Sepeda kecilku, pemberian mu, yang kaki kecilku belum kuat mengayuh itu, digandeng dengan tanganmu. 

Aku ingin jadi ahli ibadah seperti mu. Dunia yang semakin embuh, aku ingin mendengar lelucon-lelucon mu yang sebenarnya kita tahu tidak lucu. Namun kita menertawakan itu.

Sungguh hari-hari ini aku kangen, rindu, dan ingin sekali mengobrol denganmu.

Bapak, memelihara pusaramu saja aku tak mampu.


#DearDifaa

#DearHilwa


Mbak Yenny Zanuba Wahid, putri Almarhum Gus Dur, ketika diwawancara oleh Prof Abdul Gaffar Karim di Channel YT DPP UGM, tentang bagaimana rasanya menjadi anak Gus Dur. Dia menjawab, bahwa awalnya dia merasa terbebani, dari sisi personal, dia selalu akan diukur, dibandingkan dengan bayang-bayang Bapaknya. 


Orang-orang, akan memberi parameter bahwa kehebatannya seperti para leluhurnya, Kakeknya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah salah satu pendiri bangsa Indonesia, Kakek buyutnya KH. Hasyim Asy'ari pendiri organisasi Islam terbesar: Nahdlatul Ulama. Dan ayahnya adalah presiden Indonesia. Sudah barang tentu, orang akan berekspektasi besar terhadap dia.


Jadi, ketika dia akan melangkah selalu berhati-hati, saat dia mau melakukan tindakan apapun, akan selalu berrefleksi terlebih daulu, apakah jalan ini ada dampak negatif bagi nama keluarga. Hal ini semacam rambu-rambu bagi dia. 


Apakah ini mengekang? Tanya Prof Gaffar.

Awalnya dulu tersiksa, namun akhirnya saya bersyukur, Jawab Yenny.


Terkadang manusia tidak jauh dari kealpaan. Apalagi bagi yang pernah bergerak di politik, pemerintahan. Ada saja momen-momen yang bertentangan dengan hati nurani. 


Nah, menjadi anaknya Gus Dur adalah benteng agar  tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. 


#DearDifaa #DearHilwaa Apa yang sudah ditanam oleh para sesepuh dulu, sudah bisa dipanen anaknya sekarang. Orang-orang menyebutnya dengan kebaikan. Integritas. 


Dari sebuah pekerjaan yang saya geluti lebih dari dua tahun ini, ada banyak hikmah yang saya yakini saya akan mengambilnya. Saya dipertemukan dengan berbagai karakter manusia. Dari yang putih, sampai yang hitam. 


Manusia baik dan buruk akan kelihatan ketika sedang duduk sebagai “raja”. Pemangku kebijakan. Atau sekedar sebagai kaki tangan raja. Setiap orang baik tentu saja berpeluang melakukan hal-hal buruk, kecuali dia mempunyai tameng, senjata rahasia, untuk terus berlaku lurus.


Jika mbak Yenni Wahid tamengnya adalah orang tuanya, para sesepuhnya. Maka terdapat orang yang saya kenal tamengnya adalah masa silamnya. 


“Saya dari dulu sudah biasa tidak punya uang mas, jadi kalau sekarang tidak punya uang ya tidak masalah”. Kalimat itu dikatakan oleh seorang ”raja” kepada saya waktu siang di udara yang dingin.


Lagi,

“Saya kan asli Provinsi J, Rumah saya itu desa pelosok, Mas. Berangkat sekolah ke ibu kota kecamatan harus jalan kaki 10 KM, itu belum pulangnya saya ngarit rumput untuk makan kambing”. Kata seorang pelayan masyarakat,  sekaligus pejabat anggota keamanan negara. 


#DearDifaa #DearHilwaa

Saya tidak tahu, harus pakai tameng seperti saya agar berlaku lurus, nenek kakekku dulu orang petani biasa, tapi nenekmu selalu berpesan untuk selalu jangan pernah meninggalkan shalat. 


Duhai kalian berdua, PR saya, senjata apa yang harus saya siapkan untuk mengarungi zaman kalian nanti. Duhai aku. Berbuat baiklah. 


Rambu-rambu itu adalah kebaikan, yang membentengi kebaikan.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE