Di acara haul masyayikh salafiyah Pemalang, seorang lelaki menghampiri saya dan bertanya dengan ramah, “kang Aziz, yak?”
Saya mengamati wajahnya sejenak. Dia tampak jauh lebih muda dari saya: kacamata bundar, berpeci, menggendong anak kecil, dan tubuhnya tinggi jangkung. Saya menebak-nebak, tapi wajahnya benar-benar terasa asing.
Akhirnya saya menyerah. Otak saya gagal menemukan ingatan dan tidak menemukan clue dari mana seharusnya saya menggali memori untuk mengenal orang ini.
"Ngampunten saya lupa. Sampean siapa ya?" tanya saya selembut mungkin.
“Saya Bagus,” sahut orang itu tersenyum maklum.
Nama itu seperti kunci yang membuka pintu masa lalu. Bagus. Saya langsung mengingat. Anak kecil yang dulu masih SMP, masih lugu. Tapi wajah ini… bukan dia. Rasanya seperti puzzle yang belum lengkap. Suara dan gaya bicaranya mirip, tapi wajahnya tetap terasa asing.
Meskipun demikian kami tetap mengobrol. Pembicaraan mulai asyik dan seru. Saya tertawa saat dia menyebut satu demi satu kenangan lucu, nama ustadz killer, dan momen ketika kami kabur bareng dari ngaji. Dan di tengah tawa itu, terjadi sesuatu yang aneh dan cukup magis.
Pelan-pelan, wajahnya mulai berubah di mata saya. Seperti kabut yang menyingkir. Dari balik lelaki tegap itu, saya mulai melihat mata Bagus yang dulu, mata jenaka yang menyipit saat tertawa. Senyumnya kembali seperti dulu, bahkan cara dia mengangguk pun terasa familiar.
Saat itu, dada saya terasa hangat dan aneh. Rasanya seperti sedang menonton film yang wajah tokohnya berubah dari sekarang ke masa lalu, tapi ini bukan film. Ini nyata. Saya sedang melihat waktu bekerja mundur, dan teman lama saya kembali hadir dalam bentuk yang saya kenal dulu.
Aneh banget, kan. Apa yang sebenarnya terjadi di momen tersebut? Mengapa otak bisa “mengganti” wajah seseorang secara perlahan seperti itu? Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami hal ini. Utamanya saat dalam situasi reuni.
Secara ilmiah, hal ini bisa dijelaskan. Ketika pertama kali melihat Bagus, bagian otak saya, yang bernama fusiform face area, tidak mengenali wajah tuanya. Otak bagian ini memang bertugas mengenali wajah, tapi perubahan drastis akibat pertambahan usia membuatnya ragu.
Namun ketika Bagus mulai bicara, tertawa, menyebut nama-nama dan cerita masa lalu, bagian lain dari otak saya ikut bekerja. Namanya hipokampus yang menyimpan memori jangka panjang dan korteks prefrontal medial yang memproses kenangan sosial dan emosional.
Otak menerima data-data baru dan mulai mencocokkan petunjuk: suara, gerakan tangan, gaya bicara, dan humor. Terjadilah apa yang biasa disebut dengan pattern recognition.
Dan ketika cukup banyak petunjuk cocok, otak membuat “keputusan visual” untuk mengembalikan citra lama yang lebih akrab. Inilah yang disebut visual override, realita baru dibentuk dari dalam. Bukan dari apa yang saya lihat, tapi dari apa yang saya ingat dan rasakan.
Emosi punya peran penting. Karena Bagus adalah bagian dari masa remaja saya, masa yang penuh warna dan hangat, amigdala ikut aktif, menguatkan kenangan dengan lapisan perasaan. Itu sebabnya, saya bukan hanya “melihat” Bagus saat SMP, tapi juga “merasakan” dia seolah tak pernah pergi jauh. Otak saya menyatukan potongan waktu, menciptakan kembali seseorang yang sudah lama hilang di lorong-lorong ingatan.
Dan saat itulah saya sadar, kita semua menyimpan dunia kecil di kepala masing-masing. Dunia yang bisa memanggil kembali siapa pun yang pernah berarti, hanya dari sepotong suara, tawa, atau nama yang akrab. Momen wajah Bagus berubah bukan hanya keajaiban otak, tapi juga bukti bahwa kenangan itu hidup dan bisa menyapa kita kapan saja.
Setelah kami mengobrol cukup lama, Bagus menatap saya dan tertawa kecil. "Sampean tau nggak kang Aziz..." katanya sambil menyeruput teh yang sudah dingin, "...tadinya saya juga nggak ngenalin sampean."
"Hah??" saya kaget.
"Iya, soalnya sampean keliatan tua banget!" katanya sambil ngakak.
Saya melongo.
"Tapi temen-temen yang lain bilang itu sampean. Pas saya perhatiin cara sampean ngomong, cara bergerak, ketawa, baru saya yakin kalo itu sampean."
Saya terdiam. Lalu kami berdua ketawa, agak pahit, agak manis. Saya menyadari bahwa Bagus juga mempunyai pengalaman yang sama. Ternyata saya juga menua seperti semua temen lainnya.
Sebuah pemahaman baru menyeruak bahwa bukan hanya wajah yang berubah dimakan waktu, cara kita memandang dan dikenali pun ikut berubah. Namun justru di situlah letak keajaibannya: bahwa yang sejati dari diri kita bukan hanya wajah, tapi semua jejak yang pernah kita tinggalkan dalam ingatan orang lain.