Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Di acara haul masyayikh salafiyah Pemalang, seorang lelaki menghampiri saya dan bertanya dengan ramah, “kang Aziz, yak?”


Saya mengamati wajahnya sejenak. Dia tampak jauh lebih muda dari saya: kacamata bundar, berpeci, menggendong anak kecil, dan tubuhnya tinggi jangkung. Saya menebak-nebak, tapi wajahnya benar-benar terasa asing. 


Akhirnya saya menyerah. Otak saya gagal menemukan ingatan dan tidak menemukan clue dari mana seharusnya saya menggali memori untuk mengenal orang ini.


"Ngampunten saya lupa. Sampean siapa ya?" tanya saya selembut mungkin.


“Saya Bagus,” sahut orang itu tersenyum maklum.


Nama itu seperti kunci yang membuka pintu masa lalu. Bagus. Saya langsung mengingat. Anak kecil yang dulu masih SMP, masih lugu. Tapi wajah ini… bukan dia. Rasanya seperti puzzle yang belum lengkap. Suara dan gaya bicaranya mirip, tapi wajahnya tetap terasa asing.


Meskipun demikian kami tetap mengobrol. Pembicaraan mulai asyik dan seru. Saya tertawa saat dia menyebut satu demi satu kenangan lucu, nama ustadz killer, dan momen ketika kami kabur bareng dari ngaji. Dan di tengah tawa itu, terjadi sesuatu yang aneh dan cukup magis.


Pelan-pelan, wajahnya mulai berubah di mata saya. Seperti kabut yang menyingkir. Dari balik lelaki tegap itu, saya mulai melihat mata Bagus yang dulu, mata jenaka yang menyipit saat tertawa. Senyumnya kembali seperti dulu, bahkan cara dia mengangguk pun terasa familiar. 


Saat itu, dada saya terasa hangat dan aneh. Rasanya seperti sedang menonton film yang wajah tokohnya berubah dari sekarang ke masa lalu, tapi ini bukan film. Ini nyata. Saya sedang melihat waktu bekerja mundur, dan teman lama saya kembali hadir dalam bentuk yang saya kenal dulu. 


Aneh banget, kan. Apa yang sebenarnya terjadi di momen tersebut? Mengapa otak bisa “mengganti” wajah seseorang secara perlahan seperti itu? Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami hal ini. Utamanya saat dalam situasi reuni.


Secara ilmiah, hal ini bisa dijelaskan. Ketika pertama kali melihat Bagus, bagian otak saya, yang bernama fusiform face area, tidak mengenali wajah tuanya. Otak bagian ini memang bertugas mengenali wajah, tapi perubahan drastis akibat pertambahan usia membuatnya ragu. 


Namun ketika Bagus mulai bicara, tertawa, menyebut nama-nama dan cerita masa lalu, bagian lain dari otak saya ikut bekerja. Namanya hipokampus yang menyimpan memori jangka panjang dan korteks prefrontal medial yang memproses kenangan sosial dan emosional. 


Otak menerima data-data baru dan mulai mencocokkan petunjuk: suara, gerakan tangan, gaya bicara, dan humor. Terjadilah apa yang biasa disebut dengan pattern recognition. 


Dan ketika cukup banyak petunjuk cocok, otak membuat “keputusan visual” untuk mengembalikan citra lama yang lebih akrab. Inilah yang disebut visual override, realita baru dibentuk dari dalam. Bukan dari apa yang saya lihat, tapi dari apa yang saya ingat dan rasakan.


Emosi punya peran penting. Karena Bagus adalah bagian dari masa remaja saya, masa yang penuh warna dan hangat, amigdala ikut aktif, menguatkan kenangan dengan lapisan perasaan. Itu sebabnya, saya bukan hanya “melihat” Bagus saat SMP, tapi juga “merasakan” dia seolah tak pernah pergi jauh. Otak saya menyatukan potongan waktu, menciptakan kembali seseorang yang sudah lama hilang di lorong-lorong ingatan.


Dan saat itulah saya sadar, kita semua menyimpan dunia kecil di kepala masing-masing. Dunia yang bisa memanggil kembali siapa pun yang pernah berarti, hanya dari sepotong suara, tawa, atau nama yang akrab. Momen wajah Bagus berubah bukan hanya keajaiban otak, tapi juga bukti bahwa kenangan itu hidup dan bisa menyapa kita kapan saja.


Setelah kami mengobrol cukup lama, Bagus menatap saya dan tertawa kecil. "Sampean tau nggak kang Aziz..." katanya sambil menyeruput teh yang sudah dingin, "...tadinya saya juga nggak ngenalin sampean."


"Hah??" saya kaget.


"Iya, soalnya sampean keliatan tua banget!" katanya sambil ngakak.


Saya melongo.


"Tapi temen-temen yang lain bilang itu sampean. Pas saya perhatiin cara sampean ngomong, cara bergerak, ketawa, baru saya yakin kalo itu sampean."


Saya terdiam. Lalu kami berdua ketawa, agak pahit, agak manis. Saya menyadari bahwa Bagus juga mempunyai pengalaman yang sama. Ternyata saya juga menua seperti semua temen lainnya.


Sebuah pemahaman baru menyeruak bahwa bukan hanya wajah yang berubah dimakan waktu, cara kita memandang dan dikenali pun ikut berubah. Namun justru di situlah letak keajaibannya: bahwa yang sejati dari diri kita bukan hanya wajah, tapi semua jejak yang pernah kita tinggalkan dalam ingatan orang lain.

Pada akhir tahun 2023 lalu, Hamid Dabashi, intelektual Iran yang menetap di AS dan mengajar di Universitas Columbia, melalui tulisannya (opini) di MEE, salah satu media elektronik yang serba " sedang-sedang", meminta agar pemerintah Iran ikut campur di persoalan genosida Israel terhadap penduduk sipil di Gaza.  maksudnya melakukan intervensi militer membela bangsa Palestina. Saya lupa judul opini di MEE tersebut. waktu itu saya spontans batin, kok tumben kamerad ini berharap pada pemerintah Iran yang sering dikritiknya untuk tidak ragu melawan Israel secara militer? [Kamerad adalah kata sapaan dalam ideologi sayap kiri, seperti halnya kata Bung untuk memanggil bung Karno].

Sebelum melanjutkan, saya ingin bercerita tentang Dabashi.

Dalam rentang  waktu kurang dari lima tahun, Dabashi telah menulis setengah lusin buku tentang negerinya. Tentang Iran. Semua bukunya tentang Iran ingin menunjukkan kekayaan kultural Iran, terutama kekayaan akan seni dan pengetahuan; keragaman aliran politik; keragaman religio maupun ideologi yang berkembang; posisi Syi'isme dalam rentang sejarah Iran; dampak kolonialisme dan tumbuhnya kultur pelacur imperial (the imperial whore) di tengan kelas menengah-terpelajar Iran ( ini penyakit umum di mana mana).

Saya suka membaca tulisan kawan Iran satu ini, walaupun tidak sepenuhnya setuju. Kritik tajamnya terhadap para mullah dan pemerintahan mereka yang dianggap Dabashi korup dan kehilangan ruh Syiahnya, saya imbangi dengan membaca banyak buku tentang Syiah dengan beragam aliran dan kroniknya. di antaranya saya saya membaca pakar Syiah Ismailiyah, farhad daftary.

Sikap sekulernya secara intelektual hampir saja membuatnya "melupakan" kesyiahannya. Ia tidak ingin tampak saleh sebagaimana para mullah yang dianggapnya tertinggal dan jauh dari kekayaan kultur Persia yang luar biasa. Mistisme sekular berdiri di atas fondasi: zahir tampak maksiat, batin tercerahkan.

salah satu yang sering diulangnya, kebanggaannya menceritakan  latar belakang keluarganya di Ahwaz yang unik.

Ibunya seorang penganut Syiah yang taat, seringkali keras kepada agar belajar ilmu agama: solat dan membawa al-Qur'an. dari kecil membiasakannya melakukan sejumlah ritual Syiah. Membawanya menziarahi berapa situs suci Syiah secara reguler, termasuk datang ke makam Imam Reza di Mashad.

Sementara ayahnya, seorang pekerja di perusahaan kereta api. setiap kali ia pulang kerja, sambil memutar radio ia menenggak vodka. Jarang menunjukkan diri sebagai bagian tradisi Syiah.

Dabashi pada awal karirnya banyak menulis tentang Islam, tentang sejumlah sufi dan sufisme dari Iran dan yang diterima di kalangan Suni, seperti Syaikhul Maqtul Ainul Qudhat Hamadani dan tokoh lainnya.

Setelah mendalami sosiologi pengetahuan dan menjadi guru besar di Universitas Columbia, ia semakin keras mengkritik pemerintahan para Mullah di negerinya. Tapi ia lebih "kejam lagi" mengkritik negara imperialis semacam AS, kroni supremasis-rasisnya di Amerika yang tidak pernah sembuh; menghabisi para intelektual pesolek dan lacur, terutama mereka yang berlatar belakang dunia ketiga (tidak sedikit dari Iran); Dan kegundahannya dengan para pemimpin dunia Islam di Timur-Tengah.

Suatu kali (pernah saya tulis) Ia harus ke Palestina dalam suatu konfrensi ilmiah tentang perkembangan perfilman Palestina. Ketika pesawatnya mulai terbang rendag di atas tanah pendudukan Israel, ia melihat Al-Quds, di luar kuasanya, ia tidak sadar, bibirnya merafal al-Fatehah. Setelah mendarat dan melewati sejumlah pos pemeriksaan, ia sampai di hotel yang disediakan panitia yang ternyata tidak jauh jaraknya dari al-Quds. Selesai mandi ia mencari taksi menuju al-Quds. supirnya bertanya: apakah kamu seorang muslim? Dabashi menjawab, aku seorang Syiah. Supir taksi melihat mimiknya sehingga keduanya ngakak di perjalanan ke Al-Quds yang sakral itu. memasuki halaman Al-Quds ia semakin dak kuasa pada dirinya, kesyiahannya yang tertanam kuat dalam dirinya (embodied) keluar, ia merafal doa-doa yang di masalalu sering dibacanya. Airmatanya tidak terasa memabasi jenggot yang tidak lebat.

kembali ke pertanyaan, kenapa Dabashi meminta pemerintah Iran segera ambil bagian secara militer melawan Israel di kawasan? 

Dabashi menyadari bahwa Iran, walaupun bukan negara paling besar di kawasan Timur Tengah, satu-satunya kekuatan yang mampu melakukan campur tangan militer melawan dominasi dan kecongkakan Israel.

Seperti dalam banyak tulisannya, di tengah kekurangan pemerintahan para Mullah, Iran masih memiliki ragam elemen lain dalam pemerintahan, terlebih di tengah masyarakat sipilnya.

Banyak sekali ilmuwan, intelektual, seniman dan kelompok progresif di tengah warga sipil Iran yang memilih menetap di Iran dan memiliki sikap kritis pada pemerintahan para Mullah. dan paling penting adalah mereka tidak mau jadi piaran imperial AS dan Zionis.

Intinya, Iran bukan semata pemerintahan para Ayatullah. Dan politik syiah dalam konteks negara modern tidak sesempit yang ditulis para analis soal pemerintahan para mullah.

Iran tidak saja terlihat lebih maju dari segi pengembangan teknologi berat dan informasi dibandingkan negara muslim lainnya di kawasan.  Dan teknologi berat bukan satu-satunya ukuran untuk menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan pengimbangan dominasi para penjajah dan para imperial di kawasan Timur-Tengah. harus dikatakan, seperti ditulis orang Dabashi, Iran memiliki bakat dan kultur anti- rendah- diri dihadapan kaum imperial, tidak mau tunduk, dan tidak mau menjadi domba para imperial dan kaum zionis.

Dan tentu harus diakaui adanya keragaman pemikiran politik syiah yang lebih maju dibandingkan dengan politik sunni, terutama kemampuan para imam dari kalangan dua belas imam dan imamiyah dalam merumuskan model dan design politik Syiah ketika harus berhadapan dengan model negara-modern yang mematikan dan ingin menyaingi peran agama itu sendiri.

Sunni sejak semula memang agak cuek dengan urusan politik, doktrin politiknya terbentuk belakangan, makanya hanya mampu dan  cocok bikin Ormas. Dan paling jauh jadi Parpol.  itupun ormas dan parpolnya dijejali para pelacur imperial seperti AS dan Yahudi. Tidak sekedar ormas besar, sampai ormas dan parpol yang jenggotan itu bagian dari kultur imperial.

Saya tidak setuju dengan analisa berapa orang Indonesia yang menganggap Iran hanya ingin memperluas pengaruhnya di kawasan Timur-Tengah. perang memabalas serangan Israel (dengan beckingan AS) oleh Iran hanya akan berakhir sebagai perang balas-balasan yang tidak akan ada akhirnya, dan tanpa pemenang. Langkah pemerintah Iran dan masyarakat tidak sesempit itu dalam melihat posisi negerinya di kawasan Timur Tengah.

di tengah embargo, pengepungan amerika dengan deretan pangkalan militernya, permusuhan negara-negara Arab, dan  kesulitan lainnya, Iran tetap menunjukkkan bagaimana caranya hidup terhormat, yakni menghargai pengetahuan apa saja, menyelami akar kebudayaan sendiri, mandiri dan berani melawan. '

Jadi tidak sekedar kalah menang. Tapi bagaimana tegak tidak mau tunduk  walaupun keliatan lusuh dan lemah. Inilah mistisme khas Iran (saya tidak mengatakan Syiah) sebagaimana dikatakan oleh Guru Agung abad 16, Shadruddin Muattallihin (Mulla Shadra), daalm tafsirnya atas surat al-Fatehah, bahwa ketika insan kamil mengejewantah pada diri seorang, apakah masih relevan masalah mazhab dan aliran?

Tuan Guru Hasan Basri Mataram.


BASRAH, dik. Pada abad 7 sampai 8 Hijriyah adalah kota yang sudah menua, kota yang diselimuti hikmah, sebagaimana seorang tetua bijak yang pernah jatuh cinta. Ia telah melewati kejayaan dan luka, tapi tetap menyimpan getar cinta Ilahi dalam setiap sudutnya. 


Di sanalah, cerita sejarah kekasih Tuhan ber gender perempuan Rabi’ah Adawiyah, jejak cintanya kepada Tuhan tetap hadir hingga hari ini. Dalam senyap, dalam bait-bait doa, dalam mata yang berlinang karena rindu yang tak bisa dijelaskan. Meski dia tidak mau surga, dia adalah pemadam api neraka. 


Kisah-kisah yang saya sampaikan padamu dik, semua ada referensinya. Ini bukan sekedar pedoman nulis ilmiah. Karena cerita tentang kekasih Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan positivisme keilmiahan. 


Kisah ini dinukil dari Syekh Faridudin Attar, seorang sastrawan berkebangsaan Persia. Dalam bukunya Tadkiratul Auliya. 


Kisah tentang Rabi'ah adalah perjalanan spiritual yang melampaui ruang, sebuah kisah yang mengganjal, dari padang sunyi, menuju eksistensi diri. Untuk pergi berhaji, Rabi'ah tidak punya harta dan status sosial. Yang ia punya adalah cinta yang menyala-nyala pada Tuhan. 


Suatu hari, Rabi'ah hendak menunaikan ibadah haji. Namun ia sudah tua, dan tidak kuat berjalan dari Basrah ke Makkah. Ia tetap berjalan. Sendirian. Menembus padang pasir. Tanpa kendaraan. Di tengah perjalanan, tubuhnya roboh, kemudian dia memandang langit dan berkata, 

“Tuhanku, aku tidak sanggup melangkah lagi, tapi Engkau tahu, aku datang tiada lain hanya untuk Mu”.

Saat itu juga, Ka'bah datang menghampiri Rabi'ah. Orang-orang heran, Ka'bah tidak ada di tempatnya. 

”Aku tidak mencari rumahNya. Tapi aku mencari sang pemilik rumah”. Kata Rabi'ah. 

****

Kau tahu, dik. Haji bukan sekedar perjalanan badan ke Makkah, tapi perjalanan jiwa ke tauhid, ke dalam pusat diri. Ka'bah adalah simbol, ia tidak butuh dikunjungi jika hati masih penuh dunia. 

“Apa gunanya thawaf jika engkau masih mengelilingi egomu sendiri”. Kata seseorang. 


Ka'bah berdiri sebelum Islam, ia pernah dikuasai oleh berhala, disucikan Ibrahim, diselamatkan Rasul Muhammad. Dia adalah saksi, pembusukan tauhid oleh kabilah Arab, saksi kebangkitan spiritual lewat wahyu, dan saksi dari kepercayaan tribal menuju Keesaan Ilahi. 


Dalam dunia yang sibuk, riuh, dan bising. Kadang kita perlu hening, agar bisa dijemput kembali oleh poros kefitrahan kita. Ka'bah tidak berpindah tempat. Namun, bagi jiwa yang murni, ia akan datang sendiri. 


Tidak semua dari kita mempunyai kesempatan ke Baitullah. Tapi itu bukan alasan untuk jauh dari Nya. Karena sesungguhnya perjalanan yang suci, bukan soal jarak. Tapi soal arah hati. 

“Jika hatimu bersih, maka setiap sujud adalah Makkah, jika hidupmu lurus, maka setiap detak adalah Talbiyah.”. Kata Rabi'ah Al Adawiyah. 


Tegal, 12 Dzulhijjah 1447 H





FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE