Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




Laki-laki memang tidak menangis, dik. Tapi hatinya berdarah. –Rusdi Mathari 2017.

Sudah hampir sepuluh tahun, petuah Cak Rusdi mengudara, tersebar di rak-rak perpustakaan, digital dan offline. Tentang laki-laki yang terus terngiang terhadap kenangan. Dan doa-doa yang saban hari dirapalkan.

 
Ya Allah, dik. Ini bulan Juni, bulannya bapak Sapardi. Dan kita, sebagaimana manusia kelas menengah Indonesia, ya hanya itu-itu saja. Barangkali bapak Sapardi tidak mengira bahwa puisinya menjadi nyata. Hujan yang tak kenal musim dan angin.
Sementara dik, aku sudah mengatakan sebenernya. Berjuang sebisa-bisanya. Sudah melakukan yang terbaik. Tidak banyak. Dan aku tidak tahu, apa yang aku lakukan akan baik untuk mu. Untuk kita.


Masya Allah, Dik. Seharusnya sore ini saya berada di tepi sungai. Memandangi alang-alang masa lalu, yang pernah tumbuh, dan membuat gatal. Merasakan angin mengusik batang-batang padi. Sebelum matahari meninggalkan senja. Melihat perahu para penggali pasir. Sementara anak-anak gembala bertopi koran. Berangkat pulang ke rumah. Itu kata Franky Sahilatua. Syair yang sering didengarkan bapakku dengan kaset pitanya yang usang.

Nyatanya, sore ini. Kita masih mematut-matutkan diri, di ruangan ini. Kita memang butuh becermin, Dik. Bukan bercermin. Meskipun alang² banyak merecoki dan banyak tumbuh di dada. Tapi hati kita siapa yang punya.

Maka di sinilah kita, terperangkap di antara dinding ruangan yang kaku dan jam dinding yang berdetak serak. Di luar, rintik Juni jatuh satu-satu, persis seperti tebakan Pak Sapardi yang tak pernah meleset tentang ketabahan. Bedanya, ketabahan kita hari ini harus dibagi dua: antara menyembunyikan luka yang berdarah di dalam, atau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan cermin yang buram.

​"Sudah," bisikku pelan, entah pada angin yang menyelinap di sela jendela, atau pada bayanganmu yang berdiri di sudut mata. Aku sudah menyerahkan segalanya yang tersisa dari isi dompet dan isi kepala manusia kelas menengah. Berjuang sampai ke batas paling tepi, tempat di mana doa-doa tidak lagi diucapkan dengan suara, dengan denyut nadi yang tanpa jeda

​Kalau nanti perjuangan ini ternyata keliru untukmu, untuk kita, setidaknya catatlah satu hal: aku tidak pernah setengah hati. Hidupku selalu totalitas.

Dan ​sore akan segera melesat menjadi malam, Dik. Anak-anak gembala bertopi koran di lagu Franky Sahilatua mungkin sudah sampai di rumahnya yang hangat, merebahkan kepala di ranjang bambu tanpa perlu memikirkan besok harus mematut diri menjadi siapa lagi. Sementara kita? Kita masih di sini. Menghitung sisa hari di bulan Juni, sambil meraba dada kiri; memastikan bahwa yang berdarah di dalam sana masih sanggap berdetak untuk esok hari.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE