Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearDHA

“Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik hari ini adalah kemarahan bentuk protes atas kejadian-kejadian yang melibatkan kepolisian. 


Ludwig Josef Johann Wittgenstein. Filsuf asal Austria. Lahir 1889. ​Pernah berkata kurang lebih: Kekacauan berpikir manusia terjadi ketika kita memaksakan satu label atau hukum universal untuk masalah-masalah yang sebenarnya berbeda konteksnya.

****

Saya memenuhi undangan LPDP sebagai peserta Persiapan Keberangkatan calon penerima beasiswa. Di Lembaga Pendidikan Sekolah Bahasa Polri, Jakarta Timur. Apa yang pertama dalam pikiran saya? Tentu saja menyeramkan. Ini semacam retret. Jauh hari saya sudah menyiapkan mental. Harus siap tahan banting. 


Dalam konteks pemimpin Indonesia sekarang ini. Yang paling menyeramkan dalam bayangan saya adalah, saya akan dididik seperti militer, sebagaimana para calon manager Kopdes. Oh tidak. Apa tubuh saya akan kuat. Bagaimana jika nyawa saya taruhannya. 


Perjalanan itu dimulai. Senin pagi hari ketika kalian belum bangun. Saya diantar Ibumu sampai Stasiun. Ibumu adalah support system yang paling keren bagiku. 


Saya tidak kenal siapa-siapa semuanya. Kecuali beberapa kawan kampus tujuan sama. Kereta berangkat dari Tegal tempat duduk saya sendirian. Di Cirebon, seorang laki-laki, berpakaian rapih duduk disisi saya. Dunia modern. Kereta modern. Sepertinya enggan basa-basi. Namun, saya sapa dia, silahkan mas. Kalo bertanya tujuan kemana jelas. Tujuan kereta ini adalah Jakarta. 


Saat dia sibuk menata dengan koper dan barang bawaannya. Saya tidak sengaja melihat namanya boarding pass. Rohman. Iseng saya cek di undangan PK LPDP. Cocok. 

“Mas, ikut PK LPDP di Jakarta, kah?.”

Betul jawabnya.Dia kaget, keisengan naluri detektif ini, membawa perjalanan ini tidak bener-bener sendiri. Dia berkisah banyak hal. Tujuan kampusnya prodi Komputer S2 UNY. Saya bercerita apa adanya.


Dari stasiun Jatinegara, kami menuju Gedung Sebasa bersama. Karena dia bukan kelompokku. Kami berpisah di depan meja registrasi. 


Sebelum kami sampai di Sebasa. Di Whatsapp group , seorang kawan menginfokan, harus berpakaian rapih. Karena disambut polisi. Pikiran kami macam-macam. Ini pasti akan disuruh cepat cepat. Sebagaimana dulu ketika saya Ospek es satu.


Di meja registrasi, seorang polisi menyapaku, menanyakan kelompokku. Berbasa-basi. Diselingi haha hihi. Dia memperkenalkan diri. Pak Miftah. Ada satu kesamaan yang kami bisa cukup banyak berbincang-bincang. Sama-sama ngapak. Dia asal Cilacap. Wajahnya seperti orang Ambon. Hampir mirip kawan saya Izam Kalijambu. Dia menceritakan bahwa dia pernah menjadi delegasi perdamaian PBB di Aleppo. Tentu saja dia fasih berbahasa Arab. 


Apakah pikiran saya tentang berapa 'jahatnya' polisi seketika itu hilang? Tentu saya iya. Tapi ternyata tidak. Sebasa dan saya tidur di Barak Dormitory masih menyimpan misterinya. 



#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Mendiang Umbu Landu Paranggi, yang sering disebut tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia pernah berpuisi. Apa ada angin di Jakarta?


Senin, 10 Agustus 2026 saya pergi ke Jakarta, memenuhi undangan LPDP. Selama enam hari itulah saya tak memegang HP. Semua dibatasi. Di tempat Diklat sekolah bahasa Polri. Dan saya akhirnya bisa menjawab pertanyaan Umbu.


Di Jakarta, tidak ada angin. Tidak ada cintamu. Tidak ada rengekanmu. Tak ada candamu. Yang ada hanya doa²mu yang deras memenuhi dadaku yang sesak.

Jika ada guru atau dosen, yang sabdanya bisa memeberkahi perjalanan hidupku, beliau adalah Pak Zaim. Kaprodi PBA Unnes saat saya masih menjadi mahasiswa baru.


Saya ingat-ingat lupa momentumnya. Beliau pernah mengajar mata kuliah semantik Al-quran. Tetapi bukan momen itu sepertinya. Sebagai mahasiswa pendidikan bahasa Arab dari kalangan ndeso, kelak saya tidak tahu akan menjadi apa selain jadi guru. Tentu saja banyak rasa was-was, minder dan segala OVT lainnya terhadap masa depan.


Pak Zaim hadir.


Beliau berkisah: dulu, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II tahun 1945, kondisi Jepang hancur lebur secara ekonomi, infrastruktur, dan mental. Kaisar Hirohito mengumpulkan para pejabatnya, pertanyaan pertama yang diajukan memang bukan tentang berapa jumlah tentara atau sisa emas yang dimiliki, hanya: "Berapa jumlah guru yang masih hidup? Kumpulkan!". Maka kita bisa melihat Jepang yang sekarang.


Sepenggal kisah itu, yang diceritakan Pak Zaim, menjadi gacuk (senjata rahasia) saat saya lulus, saat posisi saya terpojok. Di sebuah FGD (Focus Group Discussion), perekrutan tenaga kontrak kementerian — kementerian yang bukan urusannya pendidikan, bukan juga keagamaan, saya lolos meyakinkan para panelis dan peserta lain, bahwa saya sepertinya adalah salah satu guru yang wajib dikumpulkan kaisar Hirohito, untuk 'ndandani' kementerian tersebut.  Alhamdulillah terbukti, tenaga saya mewarnai kementerian tersebut tepat 5 tahun.


Bahkan, saat kemarin, ketika saya terpojokan dalam test susbtansi LPDP. Karena tujuan kampus dan Prodi S3 saya Alquran, sementara, proposal disertasi saya masih rasa berbau keguruan. Reviewer akademik sungguh sangat meremehkan. Di akhir sesi, saat closing statement, gacuk yang diberikan Pak Zaim saya keluarkan, bahwa saya adalah salah satu guru, sebagaimana Kaisar Jepang dulu mengumpulkan para guru waktu itu. saya akan membuat Indonesia yang saya cintai ini lebih maju. Reviewer tadi, yang mengejar dengan segala pertanyaan yang meremehkan hanya berdiri, tepuk tangan dan tersenyum lebar, waktu itu saya tidak tahu apa makna dibalik itu.


Ah ya. Betapa, sepenggal kisah dari Pak Zaim sangat memberkati hidupku.
****
Pak Zaim, bagiku, role model pendewasaan keislaman. Saya yang jebolan santri salaf, NU. Dulu di Unnes agak kaget, saat bertemu dengan kalangan non NU. Pak Zaim adalah tetangga saya. Hidup saya nebeng, di kakak sepupu saya Mas Abdul Azis dosen Psikologi, di Patemon. Saya juga punya kawan kentel, satu kamar, satu Prodi, Fahmi Najib —yang dia juga nebeng kakak sepupunya, Mbak Zulfa Sakhiyya, dosen Pendidikan Bahasa Inggris. Mas Azis dan Mbak Afa suami istri, maka saya dan Fahmi dipertemukan di Patemon ini selayaknya keluarga jauh yang dekat.


Nah, dulu rumah Pak Zaim ada di samping rumah Mas Azis. Sepulang kuliah, saat salat Magrib, Isya dan subuh, saya akan berjama'ah di masjid yang di depan komplek kami bersama Pak Zaim. Madjid desa, yang kebanyakan dari kalangan NU.


Sepenuturan salah satu kawan saya, yang dekat dengan Pak Zaim, beliau pernah NU, kemudian di Muhammadiyah. Namun, di masjid itu, saat pak zaim jadi makmum, saat subuh, beliau tetap mengikuti do'a qunut. Hal yang membuat saya sedikit tidak percaya adalah, di bulan Safar. Orang-orang kampung Patemon mengadakan salat talak balak. Agar terhindar dari macam mara bahaya. Pak Zaim ikut juga sebagai makmum. Shalat yang mungkin sebagian kalangan mengakatan bahwa ini adalah bid'ah.



Di kampus, beliau dipanggil ustadz, sebagaimana tradisi mahasiswa PBA. Sesekali menjadi khatib dan imam masjid besar kampus, seringkali kali juga menjadi da'i narasumber, mengisi ceramah di acara-acara resmi dan non resmi. Gayanya seperti ustad maulana, jama'ah oh jama'ah alhamdulillah. Konten ceramahnya segar segar. Berisi tentang islam yang moderat, tidak dikotak-kotakkan oleh organisasi dalam sekat.

****
Suatu ketika, saya dan Fahmi mengikuti acara kampus sampai senja tiba. Ingin pulang. Tapi sudah terlalu sore dari kampus ke Patemon. Kami tidak membawa motor. Angkutan juga sepertinya sudah tidak ada. Dulu belum ada Ojol. Kami melihat mobil sedan Toyota Corona masih terparkir di depan dekanat. Ini mobil Pak Zaim batin saya. Saya dan Fahmi menunggu Pak Zaim keluar dari kantor jurusan, Pak Zaim tahu maksud kami, kami dipersilahkan masuk. Dan karena canggung dan malu, kami berdua duduk di belakang. Betapa su'ul adabnya saya waktu itu. Menjadikan Pak Zaim selayaknya Saiq biasa.
****
Ah Pak Zaim, jika boleh, saya ingin nebeng terus pada ideologi panjenengan dalam tiap langkah hidupku, Pak Zaim. Ya Allah husnul Khatimah.

SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.

Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.

Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.

Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.




Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




Laki-laki memang tidak menangis, dik. Tapi hatinya berdarah. –Rusdi Mathari 2017.

Sudah hampir sepuluh tahun, petuah Cak Rusdi mengudara, tersebar di rak-rak perpustakaan, digital dan offline. Tentang laki-laki yang terus terngiang terhadap kenangan. Dan doa-doa yang saban hari dirapalkan.

 
Ya Allah, dik. Ini bulan Juni, bulannya bapak Sapardi. Dan kita, sebagaimana manusia kelas menengah Indonesia, ya hanya itu-itu saja. Barangkali bapak Sapardi tidak mengira bahwa puisinya menjadi nyata. Hujan yang tak kenal musim dan angin.
Sementara dik, aku sudah mengatakan sebenernya. Berjuang sebisa-bisanya. Sudah melakukan yang terbaik. Tidak banyak. Dan aku tidak tahu, apa yang aku lakukan akan baik untuk mu. Untuk kita.


Masya Allah, Dik. Seharusnya sore ini saya berada di tepi sungai. Memandangi alang-alang masa lalu, yang pernah tumbuh, dan membuat gatal. Merasakan angin mengusik batang-batang padi. Sebelum matahari meninggalkan senja. Melihat perahu para penggali pasir. Sementara anak-anak gembala bertopi koran. Berangkat pulang ke rumah. Itu kata Franky Sahilatua. Syair yang sering didengarkan bapakku dengan kaset pitanya yang usang.

Nyatanya, sore ini. Kita masih mematut-matutkan diri, di ruangan ini. Kita memang butuh becermin, Dik. Bukan bercermin. Meskipun alang² banyak merecoki dan banyak tumbuh di dada. Tapi hati kita siapa yang punya.

Maka di sinilah kita, terperangkap di antara dinding ruangan yang kaku dan jam dinding yang berdetak serak. Di luar, rintik Juni jatuh satu-satu, persis seperti tebakan Pak Sapardi yang tak pernah meleset tentang ketabahan. Bedanya, ketabahan kita hari ini harus dibagi dua: antara menyembunyikan luka yang berdarah di dalam, atau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan cermin yang buram.

​"Sudah," bisikku pelan, entah pada angin yang menyelinap di sela jendela, atau pada bayanganmu yang berdiri di sudut mata. Aku sudah menyerahkan segalanya yang tersisa dari isi dompet dan isi kepala manusia kelas menengah. Berjuang sampai ke batas paling tepi, tempat di mana doa-doa tidak lagi diucapkan dengan suara, dengan denyut nadi yang tanpa jeda

​Kalau nanti perjuangan ini ternyata keliru untukmu, untuk kita, setidaknya catatlah satu hal: aku tidak pernah setengah hati. Hidupku selalu totalitas.

Dan ​sore akan segera melesat menjadi malam, Dik. Anak-anak gembala bertopi koran di lagu Franky Sahilatua mungkin sudah sampai di rumahnya yang hangat, merebahkan kepala di ranjang bambu tanpa perlu memikirkan besok harus mematut diri menjadi siapa lagi. Sementara kita? Kita masih di sini. Menghitung sisa hari di bulan Juni, sambil meraba dada kiri; memastikan bahwa yang berdarah di dalam sana masih sanggap berdetak untuk esok hari.

Tidak ada teori revolusi tanpa praktek revolusi, begitu pula sebaliknya – Vladimir Ilyich Ulyanov, dalam bukunya, What Is To Be Done? 1902.


Vladimir Ilyich Ulyanov, atau masyhur dikenal Lenin, adalah salah satu tokoh idola pendekar kita. Dia terinspirasi banyak hal dari gerakan-gerakan kiri. Termasuk bapak kiri Indonesia, Tan Malaka. Di tulisan Pendekar (1), saya sudah menjelaskan bahwa dia adalah aktivis yang murni aktivis. 


Dia aktivis kiri, ideologinya punk. Kumpul anak vespa. Tapi siapa sangka, di lingkaran itu justru dia adalah jalan dakwahnya. Secara genetik, dia Gus, anak seorang Kiai. Abahnya adalah jalan petunjuk dalam tiap langkahnya menuju salik. Dia akan meminta restu saat melakukan sesuatu. Bahkan di malam itu, 

“Jika kamu mati, Nak. Aku yang akan bertanggungjawab membesarkan anak-anakmu.” Abahnya meneguhkan hatinya. 


Pendekar kita berangkat perang, dan kita tahu dia sekarang tumbang. Berbaring di rumah sakit. Lukanya dijahit. Situasi mencekam. Komunitas vespa berkumpul. LSM Bajingan Preman berhimpun. 2 irisan itu siap perang. Di jalanan kabupaten yang sepi dan panjang sudah disepakati. 


Parang. Samurai. Rantai. Siap diayunkan. Secara kuantitatif tentu saja barisan preman itu kalah jumlah. Komunitas vespa datang dari mana saja. Dari berbagai daerah. Atas nama solidaritas untuk pendekar kita. 


Barisan LSM ciut. Mereka berpikir, orang-orang vespa jika mati tidak mungkin ada yang menangisi. Begitulah vespa. Tapi jika LSM mati, masih ada anak istri yang harus dinafkahi. 


LSM menyerah. 


Paginya, loreng hijau menemui kakak pendekar kita. Saya belum cerita kakak pendekar. Dia adalah lawyer terkenal di daerah. Advokat yang merakyat. Dia yang selama ini mem-backup sepak terjang pendekar kita. Meskipun si kakak tentu saja banyak sambatnya. 


Loreng hijau memberikan 80 juta. Kepada kakak. Si kakak tentu saja harus berhimpun dulu dengan pendekar kita. Pendekar tentu saja menolak. Meja hijau harus diteruskan. Perjuangan hukum harus ditegakkan. Kira-kira begitu kata pendekar. 


Namun nyatanya, sampai kasus berakhir, tidak ada dalang yang betul-betul bertanggungjawab. Hanya sekumpulan 6 preman itu yang dipenjara 4.5 tahun. 


Pendekar kita, tentu saja sudah berjuang. Sekuat-kuatnya iman. Dan toko obat jahanam sampai sekarang masih terus menjual obat terlarang. 


Saat pendekar menolak damai uang 80 juta. Saya sebenernya biasa saja. Itu adalah bentuk penolakan yang memang seharusnya. Tapi ada momen yang dia ceritakan yang membuat saya sesintimentil. Masih tentang uang. 


Dulu, di kalangan kami, sebagai aktivis mahasiswa adalah kebanggaan. Yang tentu saja tidak hanya sekedar dapat pengalaman. Kami terhubung kepada banyak senior yang “sukses”. Itu adalah salah satu akses masa depan. Menjadi dinda yang baik. Siap terjun demo atas arahan senior. Misalnya. 


Di kalangan kami, sebagian memang seperti itu, dan sebagian lagi tentu saja tidak. Saat salah satu kawan angkatan pendekar kita ini mampir ke rumahnya, membawa mobil, baju yang necis. Tampangnya tidak seperti aktivis. Sepatu mahal. Dia menawarkan pendekar kita masuk ke partai. Pendekar menolak. Dia ingin hidup apa adanya. Biasa saja. 


Setelah bincang lama. Bernostalgia. Tibalah momen, ketika kawan pendekar kita pamitan. Kawan pendekar memberikan uang segepok ke anak pendekar. Kira-kira mungkin 3 juta. Si anak menolak dengan halus. 

“Kata abah, Naura tidak boleh menerima uang dari siapapun yang tidak jelas.”

Saya mak deg. Allah. Merinding. 


Betapa pendidikan yang sangat penting ini kadang saya abaikan. Bahkan kepada anak saya sendiri. Kata pendekar, momen di situlah dia menang besar. Meskipun motornya vespa butut. Rumahnya sederhana. Dan kawannya yang kini kaya raya. Rasanya kekayaan itu kalah dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak-anaknya. 


Kemenangan-kemenangan pendekar tentu saja tidak hanya itu, di banyak peristiwa, puluhan kali gelut di jalanan, berdebat argumentasi di panggung-panggung akademik, banyak ia menangkan. Tapi ada peristiwa yang tidak mungkin ia menangkan. Dia tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri ketika beceng anggota menepikan dia di jalan. Saat dia mempertanyakan legalitas pembangunan PT di daerahnya. 


Peristiwa ini sangat melelahkan jika diingat. Bahkan momen saat Agustus 2025 kemarin. Saat banyak aktivis ditangkap. Tanpa proses hukum yang berarti. Ini akan diceritakan di serial selanjutnya. Insya Allah. 

Cerita ini pernah viral. FYP di Sosmed. "Warung Setan" yang menjual obat-obatan perusak generasi muda digeruduk oleh pemuda seorang diri. Dia pendekar. Kemudian ia limbung ditusuk 5 kali. 3 di punggung. 2 di perut. Dan tangannya sobek menahan pisau. Sabetan samurai oleh 6 preman itu menjadikan dia harus berbaring di rumah sakit. Kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu. 


Saya perkenalkan dulu tokohnya, dia adalah junior saya. Umurnya masih muda. Dulu, di pekerjaan dia sangat tidak profesional. Sangat tidak profesional. Banyak kawan satu divisinya mengeluh punya team seperti dia. Karena menurutku, pekerjaan itu bukan habitatnya. Sebagai pemegang ideologi punk, sekaligus anak vespa, rasanya tidak mungkin akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Tapi dia pembelajar yang baik. Dia seorang aktivis. Murni aktivis.


Jika dulu di sosmed cerita pendekar vs preman berkedok LSM itu sepotong-sepotong, saya ingin coba cerita detailnya. Beberapa hari yang lalu dia mengunjungi tempat saya. Dia berkisah:


Malam saat takbir hari raya idul fitri, dia didatangi oleh seorang muridnya dengan panik tergopoh-gopoh. Bahwa kawannya yang juga muridnya si pendekar kesurupan. Oh iya tokoh kita ini adalah pengelola ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Semacam sekolah alternatif. Dia langsung samperin muridnya itu. Tidak ada yang bisa menolong. Dia analisis. Ini bukan kesurupan. Ini sakaw obat-obatan. Si murid di angkat tubuhnya. Dimiringkan. Tenggorokannya dibuka. Keluarlah muntahan yang disertai beberapa obat yang masih gelondongan. 


Hari raya ketiga. Dia juga menjumpai hal yang sama. Keponakannya sendiri overdosis obat yang luar biasa. Puncaknya adalah itu. Dia tidak sabar lagi. Datangilah warung penjual obat setan itu. Seorang diri. Dia memperingati. Lebih ke minta tolong. 

“Om, tolong jangan jual obat ini lagi.”

“Anda itu siapa? Aparat saja tidak berani memperingati.” sambil tersenyum merendahkan. 


Pendekar itu pulang. Kewajibannya amar ma'ruf nahi mungkar telah ia tunaikan. Hal yang paling dasar melalui lisan. Tetapi ia masih galau. Ia atur strategi lagi. Dia konsolidasi dengan beberapa organisasi kepemudaan. Dan hasilnya, organisasi itu tidak berani. Para organisator itu mengatakan bahwa warung itu dibekingi para perwira tinggi dan p*l*si. 


Di malam berikutnya, setelah dia melakukan meditasi. Dia berangkat lagi. Di warung itu dia ngamuk. Pemilik warung kalang kabut. Mengundang LSM preman, 3 orang yang jaga di warung itu juga kalah ditendang. Pendekar kita menang. Beberapa obat dan uang 25 juta ia diamankan. 


Petaka ini awalnya dari sana. Bos Mafia yang dari Jakarta video call ke pemilik warung saat penggerebekan itu. Pendekar kita memperkenalkan diri. Namanya. Alamat rumahnya. Siap untuk perang. Bos Mafia menawarkan sejumlah uang. 2 juta perbulan. Pendekar kita ini pendekar idealis. Tidak mungkin bisa menerima uang seperti itu. 


Esok malamnya ada pesan masuk. Meminta duel satu lawan satu. Di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Perjanjiannya adalah tanpa senjata tajam. Pendekar kita, belum mengiyakan. Ia meditasi lagi, meminta petunjuk ilahi. Dia juga meminta restu abahnya. Akhirnya ia menerima tantangan itu. 



Di malam yang dingin, di tempat yang sudah ditentukan. Dia hanya bawa seorang kawan. Dia ingin live streaming. Perkelahian ini harus disiarkan. Di luar dugaan, yang datang 6 orang. Semuanya membawa samurai panjang. Matilah. Kawannya pendekar ini langsung mengabarkan di whatsapp group, bahwa ia dan pendekar sedang dalam bahaya. 


Pendekar kita ini memang betul-betul pendekar. Dia jago bela diri. Sudah puluhan kali gelut dan perang di jalanan. Adrenalinnya sudah ia kuasai. Dia bisa mengatur emosi. Kapan ia harus gebug. Kapan ia harus menghindar. Dia tahu waktunya. Dia harus tetap percaya diri. Yang menjadi ia merasa di atas angin adalah, musuh-musuhnya bermata merah. Pertanda doping obat dan minuman keras. Sekali pukul pasti telak batinnya. 


Sebentar. Saya jeda. Menghela nafas nulisnya. Sayangnya saya tidak bisa menulis cerita silat seperti Wong Fei Hung. Tidak bisa mendeskripsikan dan menarasikan secara detail. 


Lanjut. Apa yang pendekar pikirkan ternyata di luar dugaan. 6 mengeroyok kanan kiri depan belakang, pendekar kita tumbang. Dan seandainya tangan dia tidak menahan laju pisau tepat mengenai mukanya, mungkin matanya sudah buta. Tangannya menangkis. Berdarah. Penuh luka. Pendekar kita tentu saja tidak kalah. 6 pengeroyok juga kena gebuk. Bajingan itu kabur. Tapi sayangnya akibat luka itu tidak mungkin bisa mengejar 6 bajingan itu. 


Kawan-kawannya yang dikabari di whatsapp group baru berdatangan. Sangat kesal. Markas para preman itu diporak porandakan. Tempat prostitusinya mowak mawik. Kawan-kawan pendekar balas dendam. 


Lalu bagaimana dengan keadaan pendekar? 

Setelah perang di jalanan, langkah selanjutnya perang di meja hukum. Bersambung dulu, temukan di tulisan selanjutnya. 

“Om, sehat? awet ya sejak aku SMA.”

Alhamdulillah mas. Jawabnya singkat sambil tertawa. Saya bayar dan tentu saja murah. Dari tarif umumnya.

Dia adalah kernet di bus Santoso. Bus kecil semacam Tayo. Jurusan Tegal Pemalang Moga. Senyumnya masih sama. Kaosnya dari dulu hanya itu, berkerah dan mungkin baju seragam kebesaran PO busnya. Celananya masih sama. Kain hitam panjang. Sendal jepit. Yang berbeda hanya rambutnya kini lebih banyak putihnya. Yang saya amati, dia sudah gonta-ganti pasangan partner supir. Tapi menurutku dia adalah kaptennya di sini.

Dia pengatur ritme jalanan. Dia tahu kapan harus ngetem berhenti lama. Kapan harus ngebut berpacu waktu. Saya lihat dia tak bawa jam tangan. Tapi presisi ketepatan waktu dia memiliknya. Sepertinya para akademisi dan politisi yang suka terlambat harus belajar banyak pada dia.

Terbukti, dulu saya akan tertinggal busnya jika terlambat satu menit saja. Kemudian ruang BK dan segala hukumannya sudah menunggu saya.

Puluhan tahun dia di jalanan. Membuat dia betul-betul sebagai seniman. Dia tahu jam-jam kendor dan jam-jam ramai. Ini adalah seni. Senyumnya yang khas. Ramahnya dengan berbagai penumpang. Busnya selalu ramai.

Dia semacam dewa dewi, punya penglihatan irfan ilahi. dia tahu betul-betul mana yang penumpang asli atau penumpang gadungan. Dia memitagasi berbagai kejahatan. Pencopetan yang paling sering katanya. Dia ingin memastikan penumpangnya aman. Ah andai dia ini penyelenggara negara, yang memastikan keamanan warganya.

Gen saya ini dan mungkin gen di bawah saya, jika sebagai pekerja banyak tipikal pekerja jop hopper. Atau kutu loncat. Dia kebalikannya. Dan mungkin banyak orangtua kita dulu, sepantarannya adalah tipikal pekerja stayer. Dia loyal kepada pekerjaan. Dedikasinya patut kita contoh.

Tentu saja dia sudah merasakan berbagai pahit manisnya di jalan. Ramai dan sepinya penumpang adalah hal biasa. Ramai disyukuri. Sepi juga di-alhamdulillahi. Ratusan, mungkin ribuan orang sudah dia antar. Cerita-cerita para pedagang yang menumpang sudah berapa episode yang dia dengar. Kisah klasik para pengamen jalanan. Calo yang dia berdayakan. Preman yang harus dia ajak damai.

Saya tidak tahu sudah berapa generasi anak sekolah yang sudah dia antar. Sekarang sudah menjadi orang besar. Saya masih ingat kebaikannya. Suatu kali. Kakak kelasku kehabisan uang. Dia satu kecamatan dengan saya. Dia meminta uang ku yang seribu untuk memenuhi pembayaran kepada Om Kernet itu. Dia malah mengangguk, ketawa dan meledek kami berdua. Ahhh hutang rasa yang tidak pernah aku bayarkan.

******
Tulisan ini, dibuat 1 Mei. Menuliskan sejarah dedikasinya om kernet pada kehidupan ini.

Jake Sabay Clemente, musisi asal Manila Filipina, beberapa bulan yang lalu, melalui lagunya, FYP di media sosial dengan tokoh fiksinya Ernesto. Ia menyanyikan lagu Still Waiting at The Door. Aku masih setia menunggumu di depan pintu. Secara fisik, Ernesto digambarkan sebagai pria paruh baya yang tampak bersahaja. Wajahnya memiliki garis-garis kelelahan, sering kali mengenakan pakaian pekerja kasar atau tukang kayu mengenakan kaos lusuh. Seorang pria yang telah bekerja keras seumur hidup namun menyimpan luka batin yang besar. Sayangnya, ia hanya karakter AI. Penampilan ini diciptakan menggunakan teknologi untuk memunculkan kesan seperti asli.


Ernesto bukan sekadar karakter, dia adalah representasi dari sisi rapuh seorang pria. Di banyak budaya, pria sering kali dituntut untuk kuat dan tidak menunjukkan kesedihan. Ernesto mendobrak itu. Melalui suaranya yang serak dan penuh beban, dia mewakili setiap pria yang merasa kesepian, gagal move on, atau merasa tertinggal oleh waktu sementara dunia terus berjalan.

Di belantika musik Arab, kita bisa temui, Basrah wa Atooh (2022?). Tersesat di Labirin Kenangan. Lagu Basrah wa Atooh. secara harfiah berarti Aku melamun dan tersesat, adalah salah satu karya paling melankolis Band Cairokee asal Kairo Mesir. Lagu ini menceritakan tentang kondisi psikologis seseorang yang raganya ada di masa kini, namun jiwanya tertinggal jauh di masa lalu. 


Di Indonesia, tentu saja ada The Godfather of Broken Heart. Didi Kempot. Salah satu lagunya adalah Tanjung Emas Ninggal Janji. Sama-sama pria yang menunggu.

Pria yang menunggu ketidakpastian. 


Saya teringat film Interstellar (2014). Seorang pria bagiku yang sangat menyedihkan. Di masa depan yang tidak terlalu jauh, Bumi sedang sekarat. Badai debu raksasa dan wabah penyakit tanaman (hawar) menghancurkan sumber pangan dunia, membuat oksigen semakin menipis. Manusia dipaksa kembali menjadi petani hanya untuk bertahan hidup.

Joseph Cooper, seorang mantan pilot penguji NASA yang kini menjadi petani jagung, secara tidak sengaja menemukan koordinat rahasia melalui fenomena gravitasi yang terjadi di kamar putrinya, Murph. Koordinat tersebut membawanya ke markas rahasia NASA yang dipimpin oleh Profesor Brand.

NASA mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan sebuah lubang cacing. Wormhole. Itu di dekat Saturnus yang diduga ditempatkan di sana oleh entitas misterius. Lubang ini adalah pintu menuju galaksi lain. 

Cooper direkrut untuk memimpin kru kapal Endurance guna menyusul misi sebelumnya. Misi Lazarus. Ia harus meninggalkan keluarganya, termasuk Murph yang merasa dikhianati oleh kepergian ayahnya, untuk mengunjungi tiga planet potensial: Miller, Mann, dan Edmunds.

Perjalanan ini penuh resiko, karena adanya dilatasi waktu. Karena lokasi planet-planet tersebut dekat dengan lubang hitam raksasa bernama Gargantua, waktu berjalan jauh lebih lambat bagi para kru dibandingkan dengan orang-orang di Bumi. Satu jam di sana sama dengan 7 tahun di bumi.

Ini bukan metafora. ini fisika Einstein. Semakin kuat gravitasi di sekitar, maka semakin lambat waktu berjalan. Kip Thorne, fisikawan hadiah nobel. Saat Cooper kembali ke kapal ternyata sudah 23 tahun yang lalu, anaknya sudah tumbuh dewasa, menikah, dan punya anak. Cucu-cucunya sudah tumbuh dewasa. Tapi Cooper masih dengan wajah yang sama, masih tubuh yang sama, karena buat dia hanya beberapa jam yang lalu.

Anggapan sebagian orang mungkin ini keren. Bagi saya ini bukan soal hidup abadi. Tapi soal hidup jauh lebih lama dari semua orang yang dicintai. Cooper masih ada, tapi ia kehilangan segalanya yang hidupnya berarti.

Ternyata itu bukan anugrah, tapi hukuman, dia menyaksikan orang yang dia cintai pergi satu persatu. Dan dia masih di sini tapi untuk siapa?

Film interstellar bukan hanya analogi, tapi fisikanya asli. Ernesto juga bukan hanya rekaan AI, namun budayanya ada di banyak belahan bumi. Lagu-lagu Cairokee tidak sekadar melodi, tapi jejak jiwa yang tertinggal dalam di hati. Dan Didi Kempot tidak sedang bernyanyi, ia sedang mewakili mereka yang tak pernah selesai. Ketika saya temui seorang kakek di masjid Agung Pemalang, berjamaah salat Isya. Ia menghabiskan sisa hidupnya menjual ketan bakar di sudut alun-alun Pemalang, sudah tidak ada siapapun yang menunggunya di rumah ketika ia pulang.  Saya dedikasikan tulisan ini untuk Kawan Temanggung dan Jepara saya.


Sebelum media sosial ramai dengan konten² tentang kecengengan dan kengenesan laki-laki. Di masa muda saya, sejujurnya, sudah menulisnya lebih lama di beranda fesbuk. Dulu saya kira itu cuma fase. Ternyata, itu bahasa yang sama, hanya sekarang dibicarakan oleh lebih banyak orang. Sekarang, di lorong-lorong media sosial, kita akan menemukan wajah laki-laki yang hampir serupa.


Tentang pencapaian dunia dan uang. Laki² dan rasa yang tidak bakal cukup karena ekonomi. Insecure terhadap standar peradaban. Membandingkan diri dengan orang lain yang lebih keren. Sampai kegagalan relasi dan penolakan. Dunia yang sungguh kejam. Sastra dan film-film cengeng turut serta membentuk karakter laki-laki miskin dan melankolis. Puncaknya hilangnya ketidakpercayaan diri. Banyak laki² miskin macam ini yang tidak punya ruang untuk bercerita. Apalagi bergembira?


Tadinya, saya kira, dunia laki² yang tidak punya “modal” dan “akses”, semasa muda semuanya sama. Seperti kebanyakan di sosial media. Lelahnya tidak hanya sekedar lelah. Pagi sampai petang fisik capek bekerja. Malamnya, batinnya lesu overthinking.

Tentu saja, semuanya tidak sama. Saya tahu. Betapa Tuhan membuat apa saja di dunia beraneka rupa. Tuhan menguatkan hati pemuda sekuat baja. Yang aksesnya minim, yang modalnya doa.

Syawal sebagai ajang silaturahmi. Mencharger energi. Obrolan di bawah rintik-rintik hujan, dan lampu temaram, dengan kopi pahit. Senja menuju magrib.


Saya tahu dia, dulu bagaimana, seharusnya dia berpandangan hidup penuh pesimistis. Seharusnya dia merasa tidak punya masa depan. Dan semestinya dia lelah dengan tekanan sosial dan  ekonomi. Dia tidak punya akses, tidak punya modal. Selalu diremehkan. Perjalanan asmaranya selalu kandas di jalan.

Di tengah kepulan asap itu, di bawah lampu temaram, seterang senter kandang pitik, tidak ada sedikitpun cerita tentang kerapuhan hidupnya.

Meki tampilannya alakadarnya. Rambut ikal yang dibiarkan. Baju hitam yang seperti dulu. Tapi sekarang dia adalah bos. Saat seorang pemuda lain yang penuh ambisi berjanji akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan. Dia tanpa janji kepada siapapun, lebih dulu memberdayakan banyak orang. Dia perancang. Dia bukan follower. Dia lebih dari flower. Usahanya menuju startup yang gegap gempita di bawah naungan Tuhannya. Dia seorang pembelajar yang baik. Pemimpin yang tegas. Memecat tim nya yang terlibat judi online.



“Rumah saya sekarang sudah terbuat dari tembok!.” Katanya datar. Kami melihat lalu lintas yang sibuk gerimis.
Dan banyak kisah yang dia ceritakan padaku, pencapaian-pencapaian yang katanya hanya dikisahkan padaku. Katanya, dia tahu, bahwa aku adalah yang tidak akan memandang pencapaiannya karena kesombongannya. Justru dalam hati, saya bangga dulu pernah membersamainya.


Di malam ini, saat gerimis datang dengan malu-malu, dan petang dingin menusuk tulang. Rasanya, doa yang sedikit aku panjatkan.
“Oh Allah, banyak-banyakan aku bertemu dengan manusia sepositif dia, agar kemungkinan-kemungkinan itu pasti ada.”


“Ketahuilah bahwa imammu (Ali) telah merasa cukup dari dunianya dengan dua helai pakaian usang dan dari makanannya dengan dua potong roti gandum kasar. Seandainya aku mau, aku bisa saja memakan madu yang murni, gandum yang terbaik, dan memakai pakaian sutra. Namun, mustahil bagiku jika hawa nafsuku mengalahkanku. Sementara di Hijaz atau Yamamah mungkin ada orang yang tidak punya harapan untuk mendapatkan sepotong roti."

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar. Ini adalah surat ke-45 Imam Ali yang terangkum. Surat kepada Gubernur Basrah, Utsman bin Hunaif.

Ada lagi. Surat yang ditulis oleh beliau. ​Ini adalah "Monumen Sastra" besar dalam Nahjul Balaghah. Surat ini ditulis saat Imam Ali dalam perjalanan pulang dari Perang Siffin. Isinya adalah curahan hati seorang ayah yang semakin menua, kepada putranya yang masih muda.
​Sebuah petikan Puitis:
​"Ketahuilah wahai putraku, sesungguhnya engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia. Untuk kefanaan, bukan untuk keabadian, dan untuk kematian, bukan untuk kehidupan. Engkau berada di tempat yang sewaktu-waktu bisa mengusirmu. Maka janganlah engkau tertipu oleh dunia yang memamerkan keindahannya, karena ia laksana fatamorgana yang menipu orang dahaga."

Adalagi surat Imam Ali. Surat kepada Malik al-Asytar. Surat nomor 53. ​Meskipun ini adalah konstitusi pemerintahan, surat panjang, bagian pembukanya sangat puitis dalam mendefinisikan kemanusiaan. Surat ini sangat sakral bagi para pengikut mazhab Syi'ah. Bisa jadi ini termasuk dalam doktrin kepemimpinan di Iran.

​"Janganlah engkau menjadi binatang buas terhadap rakyatmu, yang merasa puas dengan memangsa mereka. Karena sesungguhnya manusia itu ada dua jenis: Mereka adalah saudaramu dalam seiman, atau mereka adalah setaramu dalam kemanusiaan (Nadhirun laka fil-khalq)."

​Makna: Kalimat "setaramu dalam kemanusiaan" dianggap sebagai salah satu kalimat paling humanis dalam sejarah Islam. Struktur kalimatnya dalam bahasa Arab sangat ritmis dan kuat.

Surat kepada Ahli Bashrah. Surat nomor 1. ​Surat ini ditulis dengan gaya deskriptif yang sangat kuat saat menjelaskan tentang awal mula penciptaan dan rapuhnya tipu daya manusia.
​"Dunia ini adalah tempat yang penuh dengan cobaan. Siapa yang mengejarnya, maka dunia akan menjatuhkannya. Siapa yang duduk menantinya, maka dunia akan meninggalkannya. Ia laksana bayangan, jika engkau mengejarnya, ia lari darimu, tapi jika engkau membelakanginya, ia justru mengikutimu."

Begitulah dik. Imam Ali.

Menjelang hari raya Idulfitri, Hasan dan Husain bertanya kepada ibunya, Sayyidah Fatimah: "Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah menghias diri dengan baju baru, mengapa kami belum?"😭😭
​Sayyidah Fatimah, yang saat itu tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli kain, menjawab dengan penuh keteguhan: "Wahai putraku, baju kalian sedang ada di tukang jahit."

​Saat malam takbiran tiba, mereka bertanya lagi. Fatimah menangis dalam hati dan berdoa kepada Allah karena tidak ingin mengecewakan putranya. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk oleh seorang pria yang membawa bungkusan. Pria itu mengaku sebagai utusan tukang jahit. Ternyata, di dalamnya terdapat dua pasang pakaian indah.
​Imam Ali yang melihat hal itu bertanya, "Siapakah pria itu?" Rasulullah yang kemudian datang menjelaskan bahwa itu adalah Malaikat Jibril yang membawakan pakaian dari surga karena Allah tidak rida melihat kesedihan hati Fatimah dan anak-anaknya di hari raya.

​Referensi Kitab dalam ​kisah ini tercatat dalam beberapa kitab Manaqib dan Tafsir, di antaranya: ​Kitab Al-Awalim: Menjelaskan detail dialog antara Fatimah dan kedua putranya.

​Kitab Biharul Anwar (Karya Al-Majlisi): Jilid 43, Bab Keutamaan Hasan dan Husain. Di sini dijelaskan bahwa baju tersebut awalnya berwarna putih, lalu atas izin Allah berubah warna sesuai keinginan Hasan (Hijau) dan Husain (Merah). ​Kitab Dakhair al-Uqba (Karya Muhibbuddin al-Thabari): Seorang ulama besar yang mencatat kemuliaan keluarga Nabi.
*****
Di hari Asyura. 10 Muharram 61 H. Setelah semua sahabat dan keluarga pria Imam Husain gugur, Imam Husain berdiri sendirian. Beliau mendengar tangisan bayi dari tenda. Itulah Ali al-Asghar, putranya yang sedang sekarat karena kehausan setelah tiga hari blokade air oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

​Imam Husain sendrian membawa bayi itu ke hadapan pasukan musuh. Yang dipimpin Umar bin Sa'ad. Beliau mengangkat bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya dan berseru:

​"Wahai kaum! Jika kalian menganggapku bersalah, maka bayi ini tidak berdosa. Dia tidak meminta kekuasaan, dia hanya meminta setetes air karena lidahnya telah mengering."

​Pasukan musuh mulai goyah melihat pemandangan itu. Beberapa tentara menangis. Melihat pasukannya ragu, Umar bin Sa'ad memerintahkan pemanah terbaiknya, Harmalah bin Kahil, untuk memutus pembicaraan Husain.

​Harmalah melepaskan panah bercabang tiga manjadiq, yang biasanya digunakan untuk berburu binatang besar. Panah itu melesat dan merobek leher si kecil Ali al-Asghar yang sedang berada di pelukan ayahnya. Bayi itu tersenyum kecil lalu syahid seketika. 😭😭😭

Allahu Akbar.

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar.

Kesederhanaan keluarga nabi, yang sampai sekarang dijunjung tinggi oleh bangsa Iran terus melekat sampai detik ini. Dan hari-hari ini. Apa yang dialami Iran saat ini. Ketika Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk akan menginvasi Iran melalui darat. Mengobarkan semangat isu sektarian. Konon demi menjaga dua kota suci. Iran selalu teringat dawuh Imam Hussain: “Remember me when truth becomes alone.”

“Pulang jam berapa?”

Itu adalah Whatsapp dari istri saya.
Saya belum selesai menguji mahasiswa ujian komprehensif.
”15.30, insya Allah.” jawab saya.
“Di sini hujan deras disertai angin, lebih parah dari semalam”.

Ya Allah. Batin saya. Semalam, setelah salat gerhan bulan dan tarawih, di kampung hujan. Sangat deras. Angin tidak hanya sepoi. Tapi amboi. Memporak porandakan genteng-genteng rumah. Pohon pohon di pinggir jalan juga berjatuhan. Dan sore ini, katanya lebih parah.

15.00 WIB Pemalang belum hujan. Saya cek prediksi BMKG juga tidak ada tanda badai. Aman. 15.30 setelah semua hampir selesai. Saya salat ashar, kemudian duduk-duduk di depan gedung rektorat. Kampus ini terletak di tengah sawah. Pemandangan bisa melihat sekeliling alam ke atas raya.

Saya cek status whatsapp beberapa kawan di desa yang biasanya update tentang kondisi alam. Nyata! dia sedang adzan takbir, videonya memperlihatkan angin yang cukup besar. Meluluhlantakkan pohon depan balai desa.

Saat duduk di depan rektorat itulah. Tiba-tiba angin dan hujan datang. Ini badai. Serius ini angin yang besar.

Di samping kampus ada tower provider internet. Yang tingginya 100 meter. Ternyata ada pegawai masih di atas, mungkin sedang maintenance. Ah Tuhan semoga ia baik-baik saja. Nyata. Tali yang dia pakai jatuh terbawa angin. Tapi mungkin karena dia profesional dia aman turun bawah. Alhamdulillah.

Selanjutnya, saya bingung bagaimana pulangnya. Hari semakin sore. Nadifa anak saya belum punya lauk kesukaan untuk makan buka puasa. Saya kordinasi dengan istri, berkabar perkembangan kondisi hujan badai ini.

16.00 WIB saya memutuskan pulang. Istri tentu saja cemas. Dengan nama Allah yang Maha Rahman Rahim. Saya gas motor saya. Untal-untul dengan kawan yang se arah. Salah satunya mas Muhison, dia pustakawan di kampus kami.

“Mas gak usah ngebut-ngebut, ya. Maksimal 50-60 KM saja”. Pinta saya.
“Oke, pak”.
Gass.
Perjalanan belum ada 10 menit, di desa Surajaya, pohon tumbang di tengah jalan. Macet parah.

Di tengah itu, anggota tim BPBD Pemalang sedang sangat sibuk. Dengan beberapa mesin senso, war-wer war-wer, pohon besar di tengah jalan itu sedang diupayakan di potong.
Tapi kok lumayan lama.
Macet semakin menjadi. Sudah lebih 15 menit kami di sini.

“Pak, apa kita putar balik, lewat jalur pintas saja?” usul Mas Muhison.
“Di mana jalur pintas itu?”
Mas Muhison menjelaskan. Kami diskusi. Dan harus memutuskan detik itu juga. Pertimbangannya. Jalur alternatif tentu saja jalur persawahan. Kondisi jalan yang licin. Lumpur. Belum di tengah sawah yang disertai ancaman petir.

Kami memutuskan untuk menunggu.
Sekitar 10 menit. Alhamdulillah tim BPBD Pemalang berhasil menyingkirkan pohon yang tergelatak itu. Bravo BPBD!

Macet semakin parah. Dari arah lawan, jalur kanan kiri sudah ditutupi kendaraan. Polisi? Hehe jangan dicari.

Tapi akhirnya alhamdulillah, saya dan Mas Muhison bisa melewati kemacetan itu. Tapi, duh di mana dia sekarang? Dan rombongan kawan lain sudah kocar-kacir. Agaknya Muhison ini kecepatannya lebih dari 70 KM. Dia masih muda.

Saya gas pelan-pelan saja sesuai kemampuan daya saya.

Perjalanan belum sampai 7 menit. Mas Muhison berhenti di depan. Dia menunggu. Ini baru sampai di jalur antara Paguyangan dan Kebongede, Bantarbolang.

“Pak, di depan gak bisa lewat, jalur utama Bantarbolang tutup, pohon tumbang lagi”.
“Ya Allah, belok kiri ayo, Mas. Alternatif”.

Langit masih hujan. Saya masuk desa Paguyangan. Kanan kiri hutan. Jalannya bebatuan. Belum diaspal. Saya membayangkan. Desa ini dalam imajinasi saya adalah seperti desa Penari. Seperti kisah KKN Desa Penari. Semakin menuju desa semakin petang.

”Mas ini kok gak selesai-selesai. Jauh banget”, gerutu saya.
“Ya, pak. Gas aja”.

Muhison di dalam pekerjaan, orangnya tenang. Kalem. Dia masih muda. Cekatan. Di jalanan seperti ini, dia menunjukkan ketenangan juga.

Paguyangan. Belok kanan. Bayangan cerita horor KKN penari tidak ada di desa ini. Karena ini, karena di sini. Lautan manusia dengan kendaraannya. Macet parah. Sangat parah. Saya lupa. Jam jam ini adalah karyawan pulang.

CILAKA!

UMR Pemalang yang tak seberapa di Jateng, pabrik pabrik baru bermunculan. Tentu saja para pemodal suka dengan konsep ekonomi yang seperti ini. Di tengah macet jalanan desa yang kecil. Samar samar saya dengar obrolan karyawan itu.
“ngertia kayak kiye, miki donge ngelembur bae aja balik, neng pabrik, lumayan olih tambahan duit”.

Saya yang dibesarkan di kampung, belum pernah melihat macet separah ini. Muhison tidak tahu di mana di sekarang. Apa di depan. Atau di belakang. Situasi semakin chaos.
Dari arah depan, bus semi besar kecil, Santoso tetap melaju. Dari arah saya, dam truck berdiri diposisi. Jalan desa kecil tidak memungkinkan untuk saling berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah.

Beruntung ada para pemuda desa yang ikut mengatur jalanan.

Jam di motor sudah menunjukkan 17 lebih. masih macet. Saya kabarkan kepada istri. Bahwa saya aman. Dan masih terjebak macet. Untuk Nadifa buka makan seadanya.

Muhison, di mana dia.

Ah iya, dia alumni UIN Jakarta. Dulu di sana, sudah terbiasa macet. Sekarang, Skilnya dalam menyusuri kemacetan pasti dia masih punya. Sedang saya hanya mahasiswa Yogya.

Saya move sedikit-sedikit. Saya tidak ingin terbayang Muhison lagi. Haha.

Hari semakin petang. Saya stres parah. Di hati, sambil terus komat kamit selawat kepada nabi. Berharap pada Allah yang Maha Ndak Tegaan untuk segera mensudahi drama ini.

Di depan, ibu-ibu memberi petunjuk. Motor lewat sini. Kata dia.

Saya dan pemotor lainnya masuk di sana. Yang saya lalui jalur di depan bersama Muhison adalah jalan alternatif. Dan ini lebih alternatif. Jadi alternatifnya alternatif. Jalannya kecil. Bukan jalur biasa. Ini adalah pekarangan warga!

Berkelok-kelok, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Di tengah rumah penduduk. Sepertinya ini sudah masuk Desa KebonGede. Saya melalui sawah, melewati pemakaman desa. Belum pernah saya ke sini.

Langit semakin hitam petang.

Di depan. Hampir tiap tikungan. Penduduk setempat berdiri. Memberi arah jalan yang tepat. Mereka tentu saja tidak berkoordinasi. Saya menganggap ini adalah amal jariyah kebaikan mereka. Bentuk gotongroyong sebagai manusia pancasila: warga jaga warga.

Saya berhenti sejenak. Sambil mengistirahatkan tangan. Pergelangan tanganku masih sakit cidera kemarin. Memberi salam. Kepada seorang laki-laki berpayung. Berjaket Banser, bersarung lusuh. Berpeci miring.
“Bantarbolang masih jauh, Ndan?"
“Dekat, Kang.”
Wah, Nuwun, betapa banyak sekali urusan hidupku diselesaikan dengan para komandan Banser ini. Hutang rasa.

Lanjut lagi. Katanya dekat, kok 15 menit belum ketemu jalan besar beraspal. Wkwk tambah stress juga.

Saya membayangkan, kelak di hari nanti. Di hari pembalasan, akan seperti ini. Timbangan siapa yang lebih cepat. Bergantung dengan apa yang kita bawa, kalo bawannya mobil mungkin masih terjebak macet di tengah hutan di Paguyangan. Untungnya saya hanya bawa Vario. Sat set tas tes.

Alhamdulillah. Jalanan aspal Bantarbolang ketemu juga. Sudah masuk jalan utama. Saya tancap gas. Progress perjalanan sore ini menjelang buka puasa harus diselesaikan sampai rumah.

Di tengah jalan, saya mampir beli makanan buka puasa untuk istri dan anak. Alhamdulillah. Biasanya perjalanan cukup satu jam setengah. Sampai rumah setengah 7 lebih. Buka puasa. Minum. Makan.
Dan mati listrik. Tidak ada sinyal. Batrei HP tinggal 5 persen.

Saya belum ngabarin Mas Muhison.

Paginya. Saat sahur tiba, Muhison Whatsapp Saya. Memberi link berita. Yang terjadi di antara Paguyangan dan Kebongede. Seseorang tertindih tiang listrik yang terkena pohon tumbang.

Hal seperti ini, kecelakaan sepertinya biasa. Biasa. Sangat biasa. Lalu bagaimana Mitigasi pemerintah Kabupaten Pemalang.

Allahu Akbar.

Banyak artis yang kemudian terpeleset ke dalam kepribadian yang bukan dirinya, karena tak kuat menahan arus kebintangan yang memang memabukkan. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Orang-orang dengan latar belakang pekerjaan apa saja. Ketika sudah di atas, sangat sulit mengontrol dirinya sendiri.


Saya lebih suka menjadi seorang idealis daripada jadi orang populis. Bagi saya, tidak perlu saya harus disukai orang secara berlebihan jika itu harus mengorbankan jati diri saya yang sebenarnya.


( Chrisye )

******


Ada seorang penyanyi hebat di Indonesia ini, dan rupanya Tuhan menganugerahkan “suara malaikat” kepadanya. Dia konsisten di dunia tarik suara. Pernah satu kali dia bermain film, namun sejak itu dia tidak mau lagi memanfaatkan aji mumpung tersebut. Baginya, musik dan bernyanyi adalah dunianya, dan dia tidak mau sabet jaya ke bidang lain demi kejar setoran. 


Dia mu‘alaf dan rajin shalat di masjid dekat rumahnya. Semakin tua, karyanya semakin apik dan mewah, serta semakin banyak pintu rejeki terbuka baginya. Dia disebut Legenda dalam dunia musik Indonesia, namun semua orang yang pernah kenal dan bekerja sama dengannya akan mendapat kesan yang sama bahwa dia sangat rendah hati. 


Saat dia tampil solo untuk pertama kalinya dengan besar-besaran, ketika penonton mengelu-elukannya, dia malah berkata dalam hati, “Ya Allah, betapa aku ini kecil tak ada arti apa di hadapan-Mu.”


Tirulah Chrisye, yang ketika berada di puncak ketenaran, tetap rendah hati dan tak melakukan personal branding berlebihan.


Ditulis Oleh Pak Alfathiri Adlin. 

*****************************************

TAUFIQ ISMAIL


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.


Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.


Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!


Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.


Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye. 


Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!


Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!


Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.


_______________________________________


Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.


Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


* * *


Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.


Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”


Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.


Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan istri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 film. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #


Ketika Tangan dan Kaki BerkataLirik : Taufiq Ismail

Lagu : Chrisye


Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya…. sempurna


Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu yang hina

Lagi lagi ini. Pagi ini saya benar-benar kangen guru saya. Prof Suryadi. Saya tidak pernah benar-benar dapat nilai Mumtaz di kelas beliau. Hanya sekedar jayyid. Baik. Setidaknya, ini yang kelak menuntun hidup saya menuju lebih baik. Tentu saja saya tidak sedang mengklaim, saya ini orang baik. 


Melalui beliau, lagi lagi saya mengenal banyak hal, dari klasifikasi jenis hadits. Sampai banyak hal tentang manusia agung, sumbernya hadist: Rasul Muhammad–Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad. 


Ndilalah, di ramadhan ini, banyak waktu luang yang saya punya. Ini adalah rejeki. Saya seperti wali. Bisa berpindah-pindah daerah dalam satu hari. Sehabis subuh, saya ngelemprak di Leteh, Rembang. Ngaji pada Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Kitab Burdah. Karya Imam Al-Bushiri (610-695 H/1213-1296 M). 


Sehabis dhuhur, pindah tempat ngelemprak di Giren, Talang, Kabupaten Tegal. Kepada Habib Ahmad Bin Habib Abdullah Al Athas. Ngaji Kitab Muqodimah Hadramiyah. Kitab tentang Haji. Proletariat seperti saya, punya kepentingan apa mempelajari Bab tentang haji? Haha


Sorenya, menjelang buka, jika tidak ada jadwal, kadang saya ngabuburit di Cilandak Jakarta Selatan, di Nurcholish Madjid Society. Bersama murid-muridnya Cak Nur. Menyeruput sisa-sisa kebajikan Cak Nur yang masih tertinggal di bumi. 


Betapa menyenangkannya hidup saya. Seperti wali sakti. Tapi tentu saja semua itu saya kerjakan dari rumah. Teknologi yang bisa merubah saya menyerupai wali. 


Di subuh ini, Ngaji kepada Mbah Mus, adalah ngaji yang membuat saya lagi-lagi kangen pada Prof Suryadi. Persis. Sebagaimana ceramah-ceramah beliau. 


Ngaji tentang Burdah, itu mengaji tentang bagaimana puja puji kepada Kanjeng Nabi. Tidak ada celaan untuk manusia suci. Ajarannya adalah cinta. Tidak ada kebencian sedikitpun. Hari ini sudah masuk Fashl Tsalis. Bagian ketiga dari Nadzam Imam Al-Bushiri. 


Pilihan diksi² Imam Al-Bushiri itu luar biasa. Itulah kenapa ada yang sampai mabuk. Lupa dengan dirinya sendiri. Dari akibat dari memuji Nabi. Saya ingat, dulu di Yogya, ada seorang kiai sekaligus pengusaha sukses yang memberiku ijazah amalan supaya lekas kaya: bacalah Burdah. Meskipun kehidupanku yang sekarang ya hanya seperti ini, masih proletar. Tapi semuanya tetap alhamdulillah. 


Balik lagi ke syair Imam Al-Bushiri yang dibahas Mbah Mus. Cara Imam Imam Al-Bushiri memuji nabi itu, tidak meninggalkan pujiannya kepada Allah. Karena nabi sendiri yang diangkat oleh Allah. Warafa'na laka dzikrak. Supaya dipuji. Bukan karena nabi sendiri yang ingin dipuji. 


Imam Al-Bushiri sendiri dalam diksinya, mengatakan: Laisa lahu Haddun Yu'robuhu, tidak ada diksi yang tepat untuk mengungkapkan segala kebaikan Rasul Muhammad. Itu yang mengatakan Imam Al-Bushiri, pencipta Qasidah Burdah. 


Mbah Mus, mengatakan, Nabi sendiri itu ajarannya adalah cinta, penuh kasih sayang pada Ummatnya. Apakah ada ajaran, dakwahnya nabi yang memberatkan kita? 


Tidak ada. 


Semua sudah dihitung oleh nabi. 

Shalat susah? Mudah. Hanya 5 waktu. Jika tidak bisa berdiri, duduk. Jika tidak bisa duduk, tiduran. Di perjalanan? Ada klausul jamak. 

Zakat? mudah, kalo mampu, kalo ada harta, Mbah Mus mempercandai santri-santrinya yang kemungkinan besar malah orang-orang mustahiq zakat. Penerima zakat. Wkwkw.. 

Puasa? Mudah. Anak TK sekarang aja sudah pada puasa. 

Haji? Itu kan hanya untuk orang mampu. Gak seperti dapuranmu. Canda Mbah Mus. 


Pendeknya, apa yang diwajibkan oleh Kanjeng nabi itu sangat mudah dilaksanakan. 


Dan pagi ini, saat Mbah Mus menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah memberatkan umatnya, saya seperti mendengar suara Prof Suryadi di kelas Hadits dulu.Bahwa memahami Nabi bukan hanya memahami sanad dan matan, tapi memahami ruh kasih sayangnya.


Pada akhirnya, ngaji keliling dari Leteh, Giren, hingga Cilandak via layar ini membuat saya sadar. Kanjeng Nabi mewariskan agama yang mudah. Guru-guru saya, mewariskannya dengan senyum dan cinta. Dan untuk ukuran seorang proletar seperti saya, bisa menikmati semua kemewahan ilmu ini dari rumah, bukankah itu rezeki yang lebih dari sekadar nilai Mumtaz?




#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Subuh ini, saya mengenang guru saya, dosen saya di Yogya. Guru besar Hadist UIN Sunan Kalijaga. Profesor yang masih muda, tapi Allah mencintainya. Menjemput lebih dulu dari kita semua.

Pemikirannya luar biasa. Kebanyakan orang mengatakan liberal. Bagi saya tidak. Berbagai metodologi takhrij hadist beliau tentu saja hatam. Di sela-sela ceramah, beliau menyatakan, bahwa kelak anak-anak nya tidak akan diizinkan untuk berpindah agama, karena ini prinsipil. Saya ingat-ingat lupa konteksnya, kenapa saat itu beliau mengatakan demikian. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk mengerjakan apa saja. Menjadi apa saja.

Ramadhan tahun ini, insya Allah masih menyenangkan. Membahagiakan. Tidak perlu teori-teori kesehatan untuk menjelaskan legitimasi kenapa harus wajib puasa. Tidak perlu.  Karena ini adalah salah satu jalan cinta. Pun dengan Salat Tarawih.

#DearDifa, agama itu memang dogma. Doktrin kebenaran. Ia bersifat mutlak. Tapi saya ingin membawamu dan adikmu lebih dari ini: yang sebagian orang menyebutnya sebagai cinta. Tidak ada nilai tawar terhadap ideologi. Apalagi cinta. Termasuk rukun Islam ke empat, puasa.

Dalam teori sosial, degradasi budaya itu ada. Dulu, generasi dulu, saat memasuki bulan puasa kami menyambutnya dengan gegap-gempita. Bergema. Dari Tongtongprek sahur, kuliah subuh, jalan habis subuh, kelaparan, kejujuran, buku ramadhan, berburu takjil, buka puasa, jajan habis buka, dan lain sebagainya. Adalah sesuatu yg khas untuk menyambut euforia ramadhan. Seperti hukuman mememang. Tidak enak. kelaparan, kehausan, di siang hari. Dan malas-malasan untuk menegakkan salat tarawih di malam hari.

Pasca makan sahur yang ngantuk, tetapi harus ikut kajian kuliah subuh. Harus. Kenapa harus, karena kami dibekali buku catatan amal kebaikan yang harus ditandatangani oleh ustadz atau kiai. Saya dan kawan-kawan mencatat, merangkum apa saja isi ceramah yang disampaikan ustadz.

Buku itu, Difa. Kelak akan dikumpulkan setelah lebaran. Dan menjadi nilai yang akan dipertaruhkan di sekolah nantinya. Di dalam buku tersebut juga ada catatan amal, selama 30 hari itu, berapa hari puasa saya bolong-bolong. Buku itu ditulis saya sendiri, ditulis apa adanya, sejujur jujurnya. Dan jika catatan amalan itu buruk, minimal akan malu, akan diroasting banyak kawan di sekolah.

Begitulah, Difa. Degradasi muncul dengan adanya perubahan zaman. Dan mungkin faktor teknologi.

Salah satu hal yang paling menyenangkan tentang Ramadhan adalah tarawihnya. Jumlah rakaat yang banyak. Bagi golongan seperti kita 20 rakaat, 10 salam, dan 3 rakaat witir, 2 salam. Melelahkan. Sangat malas untuk dikerjakan. Tapi ini nostalgis sekali.

Tahun ini, di Masjidil Haram, melaksanakan salat tarawih hanya dilakukan 8 rakaat, 4 salam, dan 3 rakaat witir.

Maka, pertanyaannya, apakah masih relate, di dunia yang sekarang serba bergegas. Instan. Cepat. Fleksibel. Dengan melakukan tarawih yang 20 rakaat 3 witir itu?

Sangat relevan!

Saya didik dalam keluarga tarawih 20 rakaat. Kemudian mengaji doktrin Kitab Ahlu Sunah Wal. Jama'ah. Di dalamnya ada sejarah rakaat tarawih itu.
Di Indonesia, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama, tarawih 20 rakaat + 3 witir adalah praktik yang sangat mapan.
Ini bukan tradisi baru, tapi warisan panjang dari praktik para sahabat pada masa Umar bin Khattab. Secara historis, pada masa beliau, tarawih berjamaah dikumpulkan dan ditetapkan 20 rakaat. Sejak itu, mayoritas ulama empat mazhab menerima praktik ini sebagai bentuk kesepakatan umat (ijma’ amali).

Lalu Kenapa Ada yang 8 Rakaat?

Sebagian kelompok merujuk pada riwayat bahwa Rasul Muhammad tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir). Dari sini lahir praktik 8 rakaat, 3 witir.

Apakah masih relevan di Zaman Sekarang?
Kalau relevan diartikan sebagai: masih sesuai syariat, tentu saja iya. Masih diamalkan mayoritas umat, iya. Masih punya nilai spiritual? Sangat iya.

Yang sering membuat terasa tidak relevan itu bukan rakaatnya. Tapi tempo hidup kita yang makin cepat. Kita sanggup duduk 2 jam scroll HP, tapi 1 jam di masjid terasa lama. Kadang bukan tarawihnya yang berat, tapi hati kita yang belum siap pelan.
Tarawih itu qiyam Ramadhan.Yang dicari bukan angka, tapi ruh ibadahnya. 20 rakaat memberi ruang. Lebih banyak baca Qur’an. Lebih lama berdiri. Lebih banyak sujud. Lebih lama bersama jamaah.

Di desa-desa, tarawih 20 rakaat itu bukan sekadar ibadah, tapi ruang silaturahmi. Anak kecil lari-lari, orang sepuh duduk di saf belakang, setelahnya ada teh panas dan obrolan ringan. Kadang yang membuatnya relevan bukan dalilnya, tapi kehangatan sosialnya.

Saya, tentu saja tidak akan mengklaim ini hal yang paling benar.  Yang penting salat tarawih. Saya juga tidak ingin mencela orang yang tidak bisa tarawih karena sesuatu hal.
Sebagaimana ngendikanya Gus Baha. Agar tidak mencela atau memandang negatif orang yang tidak shalat tarawih karena bekerja, sebab tarawih hukumnya sunnah dan mencari nafkah halal adalah kewajiban. Beliau menekankan bahwa Islam tidak memberatkan, sehingga pekerja tidak perlu merasa berdosa jika melewatkan tarawih demi menafkahi keluarga. 

Tapi #DearDifa seperti dosen hadist saya, Saya ingin kau dan adikmu melanjutkan. Jika suatu malam nanti kau lelah berdiri di rakaat ke-17, ingatlah: yang sedang kau jaga bukan jumlahnya, tapi silsilah cinta kita.


Desember sebentar lagi selesai, semalam hujan, tapi langit pagi ini cerah sekali. Puluhan bintang gemintang yang menemani subuhku. Langit merah fajar menambah rasa syahdu.

Desember, letak matahari ada selatan bumi. Konon, itu yang membuat udara dingin sekali, matahari terbit dari pojok timur selatan.  Ayam berkokok, sisa suara jangkrik masih berbunyi. Tapi begitulah alam raya, bergerak. Santai. Apa adanya. Mengikuti ritme-Nya.

Sementara, di belahan bumi sana, manusia, dengan segala angan dan ambisinya, ingin mengatur semua. Hatinya kemrungsung. Otaknya berfikir. Kapan semua ini akan berakhir. Manusia itu adalah aku dan mungkin kamu.

Ini soal waktu kata seseorang. Biarkan menggelinding pelan. Atau subuh ini, yg asri, yang sejuk, kau ingin rubah tiba-tiba menjadi malam yang suram? Tidak. Ini hanya soal waktu. Toh kita bukan pengendali waktu. Kita hanya pengendali kapal, karena nenek moyangku seorang pelaut.

Desember sudah hampir habis hari ini. Perlahan saja kita nikmati. Detik demi detik, jam demi jam. Spotify sudah merilis Wrapped, di sana, lagu-lagu kesukaanku muncul. Artis-artis favoritku dari nomor lima sampai nomor satu. Berdasarkan apa yang saya putar selama satu tahun.

Wrapped Desember tahun ini hampir masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagu kesukaanku ya hanya itu-itu. Iksan Skuter, Pidi Baiq. Selain itu, ada ratusan lagu dari berbagai artis yang saya putar ternyata. Dari Arabic Indie, SKA, reggae, dan tentu saja Indonesia Indie. Dan yang mengejutkan adalah, lagu “gacuk”, sebagai senjata rahasia mumetku tidak muncul di urutan lagu favoritku.

Artinya apa, 2025 adalah tahun menyenangkan! Meskipun tidak sepenuhnya. Banyak kegagalan-kegagalan yang menyelimuti aku. Menamparku, memelukku sepanjang 2025 ini. Tapi toh Tuhan tidak mewajibkan kita untuk sukses dalam banyak hal. Tuhan hanya menyuruh kita berikhitiar. Tapi apapun itu, saya sangat berterimakasih. Bersyukur pada Dzat yang Maha Asih. RahmatNya menyelimuti segalanya. RahmanNya mem-backup semua.

Ibu yang sehat, anak-anak yang tumbuh berkembang, istri yang sabar, dan kesehatan bagi semua keluarga. Adalah sesuatu hal yang sangat penting dari segala ambisiku sebagai manusia. Saya tidak tahu, 2026 di depan sana ada apa. Tugas ku, kalo ada di depan mata, saya ikhtiari sebisanya. Saya pasrahkan pada Tuhan yang Maha Kuasa. 2026 insya Allah indah pada waktunya. Hanya urusan waktu.

Stand By Me Doraemon 2 rilis tahun 2021. Dan saya justru baru bisa menontonnya sampai akhir di akhir tahun ini. Mungkin memang begitu cara kerja waktu. Ada hal-hal yang baru terasa ketika kita sudah cukup lelah untuk memahaminya.

Stand By Me bukan film anak-anak. Ia justru terasa sebagai film untuk kita yang sudah dewasa, sudah merasakan pahit dunia, tapi diam-diam merindukan kekonyolan-kekonyolan di masa lalu. 

Doraemon tentu saja salah satu anime favorit saya waktu kecil. Dan saya kira, bagi kebanyakan kelahiran 90-an, kita tumbuh dengan tontonan semacam itu. Doraemon adalah imajinasi paling fiktif dari masa kecil kita. Kantong ajaibnya membuat segalanya terasa mungkin. Seandainya saja Doraemon benar-benar ada, mungkin alat-alatnya bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat seluruh Indonesia. Selain Doraemon, ada Dragon Ball, Detective Conan, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, tapi menjadi mewah lewat imajinasi otak kecil.

Dan bagian paling melankolis dari film ini adalah ketika kita mulai mengingat orang yang menyayangi kita dengan tulus, apa adanya, tanpa syarat. Orang yang kini sudah tiada. Nenek.

Nobita, bagi saya, sangat mirip dengan diri saya. Ceroboh, tergesa-gesa, konyol. Dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang membuat saya merasa seperti Nobita. Tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa diandalkan. Tidak percaya diri. Olahraga tidak bisa. Hampir selalu kalah dalam banyak hal. Dan yang paling mengkhawatirkan, perasaan seperti tidak punya masa depan.

Di Stand By Me 2, masa depan Nobita digambarkan sederhana: menikah. Itulah harapan nenek. Ia ingin melihat Nobita menikah. Hadir langsung di prosesi itu. Karena nenek tahu betul sifat cucunya sejak kecil. Ia khawatir, apakah Nobita benar-benar akan punya masa depan. Tapi menurut saya, yang dikhawatirkan nenek bukan hanya soal menikah. Yang dikhawatirkan adalah masa depan secara keseluruhan. Hidupnya nanti akan bagaimana.

Karena itulah, mesin waktu membawa Nobita Now kembali menemui neneknya. Ia ingin melihat nenek saat masih hidup. Ia juga melihat Nobita kecil, yang sejak dulu memang sudah ceroboh dan bodoh.  Dijahili Giant dan Suneo. Ketika bertemu nenek, Nobita ingin memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Dan di titik itu, saya ikut ingin menangis. Ah orang yang cintanya tanpa syarat.

Singkat cerita, karena kekhawatiran nenek, Nobita berjanji akan memperlihatkan masa depan. Ia berjanji akan menunjukkan bahwa kelak ia benar-benar menikah.

Namun perjuangan menuju masa depan itu tidak mudah. Nobita Future ternyata masih sama saja. Walaupun manusia bisa berubah, sifat ceroboh dan tidak percaya diri tetap melekat. Pernikahan yang sudah direncanakan dengan baik, akad yang tinggal menunggu beberapa menit, justru membuat Nobita Future kabur. Ia lari ke masa Nobita Now, menggunakan mesin waktu Doraemon yang tertinggal di toilet umum.

Di sinilah ujian Nobita Now dimulai. Ia berikhtiar dengan berbagai cara. Tentu saja dibantu alat-alat Doraemon. Banyak drama khas Doraemon terjadi. Alat yang tidak berfungsi, waktu yang hampir habis, kekacauan yang datang bertubi-tubi. Semua terasa seperti episode Doraemon biasa, tapi dengan lebih menguras emosi. Sebenernya, banyak kritik dari film ini, tapi saya suka. 

Ada perbedaan menarik dibanding Stand By Me pertama. Jika dulu Nobita Future tidak ingin berinteraksi dengan Doraemon, karena Doraemon adalah teman yang khusus disediakan Nobita Now, dan mungkin  ada kejadian yang memilukan yang tidak ingin Nobita Futur bercegkrama dengan Doraemon. Namun, di film kedua ini Nobita Future justru banyak bekerja sama dengan Nobita Now dan Doraemon. 

Doraemon adalah simbol dunia yang ramah. Harapannya, dunia itu tetap ada sekarang. Ketika hidup tidak lagi seramah dulu. Ketika semuanya terasa penuh perjuangan, kepala mumet, dan target pekerjaan seperti tidak ada habisnya.

Doraemon sebenarnya nyata. Ia adalah teman-teman kita saat masih kecil. Kehidupan yang dulu terasa ajaib. Bermain bola sampai magrib. Bersepeda sejauh kaki kecil kita sanggup. Berhenti di pinggir sawah untuk minum. Ajaibnya, kita selalu sehat dan bahagia.

Bagi saya, mesin waktu itu sebenarnya ada. Ia hidup di dalam hati dan pikiran. Kita bisa kembali ke masa lalu lewat ingatan. Kita bisa maju ke masa depan lewat cita-cita, mimpi dan angan, 

Nenek, mengkhawatirkan masa depan cucunya. Apakah bisa menikah. Apakah bisa hidup layak. Doanya panjang, sepanjang apapun itu di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya, lewat mesin waktu, nenek hadir di pernikahan Nobita. Mendengar pidato Nobita tentang nilai keluarga. Melihat cucu yang dulu ia khawatirkan, kini berdiri sebagai pengantin. Suasana pecah. Haru tidak terbendung.

Saya tidak tahu pasti, setiap kali saya mengalami kesulitan, kegagalan, dan kesedihan, kenapa rasanya nenek selalu hadir. Mendampingi. Menguatkan. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua bisa dilalui. Sebuah ruang sunyi di kepala, tempat doa nenek terus bekerja, tanpa pernah benar-benar tiada. 

Doraemon, nenek, please, stand by me.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE