Kereta
Ada yang hilang dari kereta
Penjual minuman sachet diantara thermos yang selalu dibawa kesana kemari
Mbok-mbok tua menawarkan nasi yang terbungkus koran bekas dijerat karet warna-warni
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa
Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal
Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
Ada yang hilang dari kereta wajah wajah pengamen bernyanyi lantang, bernada ringan yang bersuara sumbang
Obrolan - obrolan renyah bercerita masa lalu yang teduh sejuk dan indah
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
**
Lirik Iksan Skuter di atas sangat pas untuk mendeskripsikan kereta hari ini. Dunia dan Isi-isinya pada akhirnya semua akan berubah. Tidak terkecuali gerbong-gerbong kereta. Saya pernah diskusi dengan seorang teman mengenai 'perubahan' yang terjadi.
Saya keluhkan padanya tentang sesuatu yang tidak mungkin saya temukan lagi di kereta: Ibu-ibu di stasiun Pekalongan yang menjajakan lontong, arem-arem dan gorengan. Mas-mas yang menawarkan "cang godog, cang godog". Kacang godhog, kacang rebus. Suara nyanyian pengamen. Berdesak-desakan. Tidak dapat kursi, duduk lesehan beralas koran, perjalanan Semarang-Tegal empat atau lima jam. Semua biasa. Dan baik-baik saja. Saya nikmati dan syukuri. Dan lain-lain yang sudah tidak ditemukan lagi.
Teman saya tadi, menyanggahnya. Dia berargumen bahwa management transportasi umum memang sudah seharusnya tidak kumuh. Terlebih kereta. Semua harus bersih, rapi, tertata. Rupanya teman saya ini seorang revolusioner. Saya tidak meneruskan untuk berdebat.
Beda lagi dengan kawan lain. Kawan saya yang satu ini juga mengalami apa yang saya rasakan. Kami bernostalgia, ketika itu Semarang-Tegal Kaligung hanya 9,000 rupiah. Mahasiswa Tegal Pemalang yang kuliah di Semarang bisa pulang tiap weekend. Tapi tentu dengan saya.
Atau saat kereta yang saya naiki berpas-pasan dengan kereta lain. Dulu masih mono rel. Kaligung lah yang mengalah, berhenti di stasiun terdekat. Belasan menit yang membosankan. Dulu belum ada gadget, apalagi media sosial untuk menghilangkan bosan. Berinteraksi dengan penumpang kereta lain adalah salah satu untuk memecahkan sepi, selain membaca buku (helehhhh gayane😎 ).
Yang paling asoy adalah berhenti di stasiun Pelabuan, Kabupaten Batang. Jika melihat ke arah utara, mata akan dimanjakan laut Jawa yang mempesona. Deburan ombak memecah karang yang pongah. Arah selatannya hijau sejuk, pohon-pohon jati baris berdiri rapi. Dulu Batang belum ada PLTU.
Saya tidak sedang mengungulkan kereta dulu lebih baik dari sekarang. Nadifa, sebagaimana anak seusianya yang lain menyukai kereta. Ini bagian dari kisah masa lalu yang kelak akan saya ceritakan padanya. Bahwa sesuatu yang dulu belum tentu buruk, dan sesuatu sekarang tidak selalu baik.
Terakhir kami melakukan perjalanan beberapa minggu yang lalu, kami berangkat dari stasiun Pemalang. Saya buang air di toilet di stasiun. Toilet sekarang tidak berbayar. Khayalan saya tertuju pada bapak paruhbaya yang dulu berpenghasilan dari recehan toilet ini. Ke manakah bapak itu... Ada yang hilang
Ah Nadifa, jaman terus berubah.
https://youtu.be/RxbFlaP9GB4
Ada yang hilang dari kereta
Penjual minuman sachet diantara thermos yang selalu dibawa kesana kemari
Mbok-mbok tua menawarkan nasi yang terbungkus koran bekas dijerat karet warna-warni
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa
Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal
Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
Ada yang hilang dari kereta wajah wajah pengamen bernyanyi lantang, bernada ringan yang bersuara sumbang
Obrolan - obrolan renyah bercerita masa lalu yang teduh sejuk dan indah
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
**
Lirik Iksan Skuter di atas sangat pas untuk mendeskripsikan kereta hari ini. Dunia dan Isi-isinya pada akhirnya semua akan berubah. Tidak terkecuali gerbong-gerbong kereta. Saya pernah diskusi dengan seorang teman mengenai 'perubahan' yang terjadi.
Saya keluhkan padanya tentang sesuatu yang tidak mungkin saya temukan lagi di kereta: Ibu-ibu di stasiun Pekalongan yang menjajakan lontong, arem-arem dan gorengan. Mas-mas yang menawarkan "cang godog, cang godog". Kacang godhog, kacang rebus. Suara nyanyian pengamen. Berdesak-desakan. Tidak dapat kursi, duduk lesehan beralas koran, perjalanan Semarang-Tegal empat atau lima jam. Semua biasa. Dan baik-baik saja. Saya nikmati dan syukuri. Dan lain-lain yang sudah tidak ditemukan lagi.
Teman saya tadi, menyanggahnya. Dia berargumen bahwa management transportasi umum memang sudah seharusnya tidak kumuh. Terlebih kereta. Semua harus bersih, rapi, tertata. Rupanya teman saya ini seorang revolusioner. Saya tidak meneruskan untuk berdebat.
Beda lagi dengan kawan lain. Kawan saya yang satu ini juga mengalami apa yang saya rasakan. Kami bernostalgia, ketika itu Semarang-Tegal Kaligung hanya 9,000 rupiah. Mahasiswa Tegal Pemalang yang kuliah di Semarang bisa pulang tiap weekend. Tapi tentu dengan saya.
Atau saat kereta yang saya naiki berpas-pasan dengan kereta lain. Dulu masih mono rel. Kaligung lah yang mengalah, berhenti di stasiun terdekat. Belasan menit yang membosankan. Dulu belum ada gadget, apalagi media sosial untuk menghilangkan bosan. Berinteraksi dengan penumpang kereta lain adalah salah satu untuk memecahkan sepi, selain membaca buku (helehhhh gayane😎 ).
Yang paling asoy adalah berhenti di stasiun Pelabuan, Kabupaten Batang. Jika melihat ke arah utara, mata akan dimanjakan laut Jawa yang mempesona. Deburan ombak memecah karang yang pongah. Arah selatannya hijau sejuk, pohon-pohon jati baris berdiri rapi. Dulu Batang belum ada PLTU.
Saya tidak sedang mengungulkan kereta dulu lebih baik dari sekarang. Nadifa, sebagaimana anak seusianya yang lain menyukai kereta. Ini bagian dari kisah masa lalu yang kelak akan saya ceritakan padanya. Bahwa sesuatu yang dulu belum tentu buruk, dan sesuatu sekarang tidak selalu baik.
Terakhir kami melakukan perjalanan beberapa minggu yang lalu, kami berangkat dari stasiun Pemalang. Saya buang air di toilet di stasiun. Toilet sekarang tidak berbayar. Khayalan saya tertuju pada bapak paruhbaya yang dulu berpenghasilan dari recehan toilet ini. Ke manakah bapak itu... Ada yang hilang
Ah Nadifa, jaman terus berubah.
https://youtu.be/RxbFlaP9GB4