Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Jamaah
Dulu ketika kecil, setiap shalat jamaah, saya dan teman-teman pasti berhadiah semprot oleh salah satu sesepuh surau. Sebagai anak-anak pasti suka bermain-main: teriak, tertawa, berbalas kejahilan saat shalat. Tentu saja apa yang saya lakukan dengan teman-teman sangat mengganggu kekhusu'an para jamaah. Hampir setiap di surau kekerasan verbal kami terima.
"Bocah cilik, ora usah maring langgar! Mana pada balik!”.
Hingga kami beranjak besar, sekolah di luar kota, para sesepuh surau 'berpulang' satu persatu. Surau semakin sepi, ditinggal jamaahnya mati.
Saat saya remaja, kebisingan anak-anak sudah jarang ada. Sesepi jamaah yang hanya satu dua.
*****
Kini saya sudah menjadi bapak, generasi sudah berubah, tapi tidak dipungkiri terulangnya sejarah:
Isya tadi, pertama kalinya Nadifa ikut saya shalat jamaah di surau. Tentu saja dengan ibunya. Nadifa belum genap dua tahun. Meskipun komunikasinya sudah lancar, ada beberapa hal saya dan ibunya sulit untuk menjelaskan. Contohnya saat kami menjelaskan tentang tidak diperbolehkan berdiri di depan orang yang sedang shalat. Saya berupaya menjelaskan dengan bahasa yang mudah diterima Nadifa. Nadifa jawab "Gih", tanda dia paham.
Saya dan ibunya Difa sudah sepakat. Difa hanya akan di luar serambi surau saja. Dan kalau ada kesempatan, ibunya juga akan shalat juga, tentu tidak ikut jamaah, atau minimal masbuk saja.
Nah, saat ibunya lengah, Nadifa berlari menuju shaf laki-laki, dia memanggil-manggil ayah! Saya di barisan depan mulai keringat dingin. Benar saja, difa sudah menemukan saya. Dia berdiri depan saya. Ibunya memanggil, berbisik lirih dari serambi untuk mengajak Difa ke luar kembali. Difa tidak menghirau. Saat Imam sudah melakukan rukuk, saya putuskan untuk membatalkan shalat. ðŸ˜‚
Saya gendong dia ke ibunya. Difa menangis karena yang dia inginkan adalah bersama ayahnya. Tapi, setelah keadaan cukup terkendali saya shalat kembali.
*****
Ah iya, maafkan Difa yang sudah mengganggu kekhusu'an para jamaah. Jangan marahi anak-anak yang ramai di surau. Anak adalah utusan kita untuk masa depan. Percayalah Nadifa dan generasinya akan betah berjamaah dan akan memakmurkan surau di masa depan.
Gacuk
Bukan jan*uk, adalah semacam senjata rahasia yang harus kau miliki, yang orang lain tidak punyai. Gacuk digunakan hanya saat ketika hidupmu terdesak. Saat kau bersedih, saat kau merasa sepi dan sendiri. Tanyakan dalam dirimu dalam sunyi. Gacuk seperti apa yang kau miliki?
Cerita ini saya dapatkan dari seorang teman, dia seorang Muhammadiyah, dia kuliah di Kairo. Teman saya ini mempunyai teman satu angkatan kuliah, sebut saja namanya Fulan. Fulan ini orang yang sangat istimewa, dia mahasiswa Al Azhar yang semangatnya luar biasa.
Ketika teman-teman satu angkatan sudah naik tingkat semua. Dia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang tidak pernah naik tingkat. Berbagai jurusan sudah ia jalani. Dan hasilnya nihil. Dia tidak naik tingkat! Saya tidak bisa bayangkan betapa kesepian, kesedihan, dan kesendirian Fulan pada saat itu. Bertahun-tahun di negara orang.
Fulan membaca keadaan. Dia tidak mungkin akan menjalani proses akademik yang melelahkan terus menerus. Sementara umurnya terus bertambah. Fulan banting setir. Singkat cerita dia bekerja sebagai satpam di KBRI Mesir.
Bertahun-tahun dia jalani bekerja sebagai satpam. Dia sudah bukan mahasiswa Al Azhar lagi. Ketika KBRI membuka peluang bagi pekerjanya untuk kuliah jarak jauh di Indonesia, Fulan mendaftar. Dia diterima di UAD Yogyakarta. Kuliah jarak jauh, pulang ke Indonesia hanya saat prosesi wisuda.
Setelah menamatkan S1, Kemudian kembali berangkat lagi ke Mesir, masih bekerja di KBRI. Suatu ketika KBRI membuka peluang bagi para pekerjanya untuk melanjutkan pasca sarjana. Fulan mendaftar. Kuliah jarak jauh lagi di UNS. Pulang ke Indonesia saat penyusunan tesis. Selesai dengan tugas akhir magister, kemudian ia diwisuda.
Setelah S2 selesai, Fulan tidak kembali ke Mesir. Dia menetap dan tinggal di Indonesia. Ketika pemerintah membuka beasiswa program doktoral, dia mendaftar. Singkat cerita dia lolos sebagai doktor dan kemudian dia diterima di sebuah kampus negeri sebagai dosen tetap non pns.
Karir teman-teman satu angkatannya dulu di Mesir yang lulusan S1 hanya mentok jadi guru, dai, ustadz. Sementara Fulan tidak membawa embel-embel "lulusan Al Azhar" tapi menjadi dosen tetap. Manis sekali bukan, karirnya Fulan? Tapi dia harus melewati kesedihan, kesepian yang panjang di negeri orang.
Dan terakhir, Fulan sekarang sudah berpulang. doktor filolog kebanggaan kampus telah meninggalkan dunia. Tuhan mencintai orang gigih, yang punya daya juang semangat luar biasa. Fulan punya gacuk yang sudah dia gunakan. Apa kita punya gacuk, dik?
Empati
Apakah kamu pernah cuek kepada pedagang keliling, semisal ibu-ibu penjual nasi keliling atau gorengan keliling atau apapun, yang menjajakan barang dagangannya dengan memanggil-manggil calon konsumen? Saya sering. Terkadang saya hanya menjawab "mboten atau tidak". Karena memang saya enggan atau tidak membutuhkan 'dagangan' penjual tersebut.
Dulu ketika masih di Semarang, saya punya teman. Lebih tepatnya dia teman dari kakak-kakakku, sebut saja namanya A. Suatu ketika, saat kami sedang mengadakan acara tasyakuran kecil-kecilan di kediaman B. Bakar-bakaran. Lewatlah penjual coek, atau bahasa Tegalnya layah watu. A ini tipe orang yang tidak tega kepada orang lain. Dia akan membantu dan berkorbankan apa saja yang bisa ia korbankan. Meskipun dia jauh dari kata 'ada' (pada saat itu), dia akan menolong siapa saja yang bisa dia tolong. Dia akan bahagia jika di sekelilingnya baik-baik saja. Saya tidak bisa mendeskripsikan secara detail kebaikan A ini.
Kembali ke pedagang layah watu. Pedagang tersebut adalah seorang kakek. Layah-layah tersebut dipikul. Pasti sangat berat. Si kakek menawarkan dagangannya pada kami. A orang yang baik. Sangat baik. A hendak membeli layah karena kasihan kepada kakek. Namun belum sempat membeli, A dicegah oleh B. Dan B berkata kepada A:
"Jika kamu membeli layah hanya berbekal kasihan kepada si kakek, itu adalah awal kesombongan. Bahwa kamu jauh melebihi segalanya dari si kakek. Tidak kah kamu tahu, bahwa kakek ini orang yang kuat. Lagi pula kita tidak membutuhkan layah, karena di kediamanku sudah ada. Layah kakek ini akan terjual habis".
Sebagai junior, saya menjadi penyimak, dan mengambil banyak ilmu hikmah dari kedua kakak tingkat saya, A dan B.
****
Masih tentang empati. Saya punya teman kerja. Saat siang, kami ngaso di masjid tempat kerja, kami dihampiri oleh ibu-ibu penjual nasi. Terkadang kami membeli. Lebih seringnya tidak, karena kami sudah dibawakan bekal oleh istri untuk makan siang.
Ada hal yang menarik. Saat kami menolak ibu-ibu penjual nasi, setidaknya ada 3 kosakata yang teman saya ucapkan kepada ibu penjual: ngampunten, matur nuwun, dan mboten. Maaf, terimakasih, dan tidak.
Saking seringnya kami menolak ibu penjual nasi, hingga saya hapal persis tiga kosakata yang akan disampaikan oleh teman saya. Saya pun bertanya, kenapa harus dengan tiga kosakata tersebut. Kenapa harus minta maaf.
Dia menjawab dengan berkisah; teman kerja saya ini dulu studinya di luar negeri. Bertahun-tahun tinggal di sana hanya mendapat beasiswa studi. Tidak dengan hidupnya. Tempat tinggal, transportasi, uang jajan semuanya pribadi. Saat-saat uangnya menipis, dia nekat untuk menjual makanan khas Indonesia. Dia produksi sendiri, dan dia jual keliling sendiri. Dia menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu. Di lingkungan tempat tinggal warga Indonesia dan Malaysia.
Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Hodges, S.D., & Klein, K.J. (2001). Regulating the costs of empathy: the price of being human. Journal of Socio-Economics.
Kau tahu, dik, saya hanya belajar empati lewat teori-teori. Terlebih, saya bukan pembelajar yang baik
Kereta
Ada yang hilang dari kereta
Penjual minuman sachet diantara thermos yang selalu dibawa kesana kemari
Mbok-mbok tua menawarkan nasi yang terbungkus koran bekas dijerat karet warna-warni
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa
Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal
Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
Ada yang hilang dari kereta wajah wajah pengamen bernyanyi lantang, bernada ringan yang bersuara sumbang
Obrolan - obrolan renyah bercerita masa lalu yang teduh sejuk dan indah
Banyak Doa ... Banyak Cerita...
Aku tak tahu ini apa Kesedihan ataukah bahagia
Yang aku temukan kereta kini ada laki laki berseragam, bertubuh tegap, bertampang sangar
Yang aku temukan kereta kini mahal, Makananya pun mahal,
Apapun jadi mahal, semua serba mahal Hilang dari Kereta Hilang dari Kereta
**
Lirik Iksan Skuter di atas sangat pas untuk mendeskripsikan kereta hari ini. Dunia dan Isi-isinya pada akhirnya semua akan berubah. Tidak terkecuali gerbong-gerbong kereta. Saya pernah diskusi dengan seorang teman mengenai 'perubahan' yang terjadi.
Saya keluhkan padanya tentang sesuatu yang tidak mungkin saya temukan lagi di kereta: Ibu-ibu di stasiun Pekalongan yang menjajakan lontong, arem-arem dan gorengan. Mas-mas yang menawarkan "cang godog, cang godog". Kacang godhog, kacang rebus. Suara nyanyian pengamen. Berdesak-desakan. Tidak dapat kursi, duduk lesehan beralas koran, perjalanan Semarang-Tegal empat atau lima jam. Semua biasa. Dan baik-baik saja. Saya nikmati dan syukuri. Dan lain-lain yang sudah tidak ditemukan lagi.
Teman saya tadi, menyanggahnya. Dia berargumen bahwa management transportasi umum memang sudah seharusnya tidak kumuh. Terlebih kereta. Semua harus bersih, rapi, tertata. Rupanya teman saya ini seorang revolusioner. Saya tidak meneruskan untuk berdebat.
Beda lagi dengan kawan lain. Kawan saya yang satu ini juga mengalami apa yang saya rasakan. Kami bernostalgia, ketika itu Semarang-Tegal Kaligung hanya 9,000 rupiah. Mahasiswa Tegal Pemalang yang kuliah di Semarang bisa pulang tiap weekend. Tapi tentu dengan saya.
Atau saat kereta yang saya naiki berpas-pasan dengan kereta lain. Dulu masih mono rel. Kaligung lah yang mengalah, berhenti di stasiun terdekat. Belasan menit yang membosankan. Dulu belum ada gadget, apalagi media sosial untuk menghilangkan bosan. Berinteraksi dengan penumpang kereta lain adalah salah satu untuk memecahkan sepi, selain membaca buku (helehhhh gayane😎 ).
Yang paling asoy adalah berhenti di stasiun Pelabuan, Kabupaten Batang. Jika melihat ke arah utara, mata akan dimanjakan laut Jawa yang mempesona. Deburan ombak memecah karang yang pongah. Arah selatannya hijau sejuk, pohon-pohon jati baris berdiri rapi. Dulu Batang belum ada PLTU.
Saya tidak sedang mengungulkan kereta dulu lebih baik dari sekarang. Nadifa, sebagaimana anak seusianya yang lain menyukai kereta. Ini bagian dari kisah masa lalu yang kelak akan saya ceritakan padanya. Bahwa sesuatu yang dulu belum tentu buruk, dan sesuatu sekarang tidak selalu baik.
Terakhir kami melakukan perjalanan beberapa minggu yang lalu, kami berangkat dari stasiun Pemalang. Saya buang air di toilet di stasiun. Toilet sekarang tidak berbayar. Khayalan saya tertuju pada bapak paruhbaya yang dulu berpenghasilan dari recehan toilet ini. Ke manakah bapak itu... Ada yang hilang
Ah Nadifa, jaman terus berubah.
https://youtu.be/RxbFlaP9GB4
Jika suatu hari nanti kau bersedih karena satu hal, dik,  percayalah ada banyak sekali hal yang akan membuatmu tersenyum.


Dua tahun. Seakan waktu berlari. Banyak sekali momen bersamamu. kelak kau tumbuh dewasa, ayah akan merindukannya: sebuah lompatan waktu yang luar biasa. Ayah sangat menikmati. Ayah sungguh sangat mensyukuri.


Kau akan tumbuh menjadi gadis periang. Penolong sesama. Senang berbagi. Gemar mengasihi. Bertoleransi. Kepada siapa saja yang membutuhkanmu, kau akan siap selalu.


Hari ini ibumu memasak kecil-kecilan. Nasi kuning. Kami bagikan kepada tetangga sanak famili. Sebagai rasa syukur yang sangat tinggi kepada Allah yang telah menghadirkanmu di tengah-tengah kami.


Dua tahun. Momen yang sangat luar biasa. Apa perlu ayah ceritakan satu persatu, dik? Baiklah. Kini kau semakin fasih melafalkan bahasa! Itu adalah hal yang sangat menggembirakan. Kau sudah mulai pandai mengaji. Surat An Nas adalah surat favoritmu, selain surat 'Alhamdu'. Kau juga pewaris HTI. Hisbu Tahlil Indonesia; Jika ayah mengucapkan "Laa Ilaha illa Allah" yang diulang-ulang, kepalamu akan bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti alunan 'illa Allah'. Entah, dulu siapa yang mengajarkan.


Kau suka menyanyi 'Hai Tayo'. Menyanyi lagu anak-anak seusiamu: balonku ada lima, naik kereta api, kodok pinggir kali dan lain-lain. Kau, tidak seperti ayahmu yang pemalas, kau pembelajar yang hebat, dik.


Selain itu, dari kau bayi baru klower hingga sekarang, tidurmu selalu larut malam. Apakah kau kelak kau akan menjadi salik perempuan, penjaga malam, dik?


Hari ini 17 April 2019. bertepatan dengan pemilu, Indonesia berpesta. Meski ayahmu golput, kita insya Allah akan berbahagia.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE