Jamaah
Dulu ketika kecil, setiap shalat jamaah, saya dan teman-teman pasti berhadiah semprot oleh salah satu sesepuh surau. Sebagai anak-anak pasti suka bermain-main: teriak, tertawa, berbalas kejahilan saat shalat. Tentu saja apa yang saya lakukan dengan teman-teman sangat mengganggu kekhusu'an para jamaah. Hampir setiap di surau kekerasan verbal kami terima.
"Bocah cilik, ora usah maring langgar! Mana pada balik!”.
Hingga kami beranjak besar, sekolah di luar kota, para sesepuh surau 'berpulang' satu persatu. Surau semakin sepi, ditinggal jamaahnya mati.
"Bocah cilik, ora usah maring langgar! Mana pada balik!”.
Hingga kami beranjak besar, sekolah di luar kota, para sesepuh surau 'berpulang' satu persatu. Surau semakin sepi, ditinggal jamaahnya mati.
Saat saya remaja, kebisingan anak-anak sudah jarang ada. Sesepi jamaah yang hanya satu dua.
*****
*****
Kini saya sudah menjadi bapak, generasi sudah berubah, tapi tidak dipungkiri terulangnya sejarah:
Isya tadi, pertama kalinya Nadifa ikut saya shalat jamaah di surau. Tentu saja dengan ibunya. Nadifa belum genap dua tahun. Meskipun komunikasinya sudah lancar, ada beberapa hal saya dan ibunya sulit untuk menjelaskan. Contohnya saat kami menjelaskan tentang tidak diperbolehkan berdiri di depan orang yang sedang shalat. Saya berupaya menjelaskan dengan bahasa yang mudah diterima Nadifa. Nadifa jawab "Gih", tanda dia paham.
Saya dan ibunya Difa sudah sepakat. Difa hanya akan di luar serambi surau saja. Dan kalau ada kesempatan, ibunya juga akan shalat juga, tentu tidak ikut jamaah, atau minimal masbuk saja.
Nah, saat ibunya lengah, Nadifa berlari menuju shaf laki-laki, dia memanggil-mangg il ayah! Saya di barisan depan mulai keringat dingin. Benar saja, difa sudah menemukan saya. Dia berdiri depan saya. Ibunya memanggil, berbisik lirih dari serambi untuk mengajak Difa ke luar kembali. Difa tidak menghirau. Saat Imam sudah melakukan rukuk, saya putuskan untuk membatalkan shalat. 😂
Saya gendong dia ke ibunya. Difa menangis karena yang dia inginkan adalah bersama ayahnya. Tapi, setelah keadaan cukup terkendali saya shalat kembali.
*****
Ah iya, maafkan Difa yang sudah mengganggu kekhusu'an para jamaah. Jangan marahi anak-anak yang ramai di surau. Anak adalah utusan kita untuk masa depan. Percayalah Nadifa dan generasinya akan betah berjamaah dan akan memakmurkan surau di masa depan.
*****
Ah iya, maafkan Difa yang sudah mengganggu kekhusu'an para jamaah. Jangan marahi anak-anak yang ramai di surau. Anak adalah utusan kita untuk masa depan. Percayalah Nadifa dan generasinya akan betah berjamaah dan akan memakmurkan surau di masa depan.