Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Dikisahkan, ada seorang lelaki yang merasa sangat jatuh cinta kepada Rabiah Al-Adawiyah. Betapa tak tertahankan sebuah rasa cinta itu, akhirnya sang lelaki ini mendatangi Rabiah.

"Ada apa gerangan engkau mendatangiku, wahai Lelaki?" tanya Rabiah.

"Aku sangat mencintaimu, wahai Rabiah," jawab si Lelaki.

"Apa yang membuatmu merasa begitu sangat mencintaiku?" kembali tanya Rabiah.

"Matamu, dan kesalehanmu," kembali jawab si Lelaki.

"Mataku? Kesalehanku? Benarkah? Kalau begitu, engkau lebih tepat untuk saudara perempuanku. Meripatnya lebih indah dari meripatku. Dia juga lebih saleh dibanding diriku. Dia bahkan lebih muda dariku. Dia sedang berdiri di sana, di belakang tempatmu berdiri," terang Rabiah.

Dan, si Lelaki itu menoleh. Di belakangnya ternyata tak ada siapa-siapa.

"Engkau pendusta!! Cinta itu tidak menoleh kepada yang lainnya," tegas Rabiah, sembari meninggalkan si Lelaki itu sendiri.


Aku tulis ini, ketika Nadifa sedang tertidur, suhu badannya sangat tinggi. Aku kompres. Dan sedikitpun aku tidak menoleh selain kepadanya. Nadifa. 

Wali.
"Ulama yang dianggap besar adalah ulama yang laku dan terkenal. Sementara kekasih Allah yang tinggal di lereng gunung, yang setiap hari senantiasa menangis karena melihat manusia yang semakin hari semakin tamak dan bergegas menuju ke hancuran, tidak pernah diperhitungkan oleh siapapun. Alasannya sederhana: dia tidak masuk tv." -Prayogi R. Saputra, dalam Spiritual Journey Emha.
Akan kuceritakan kepadamu, dik, tentang kisah wali. Tahun ini tahun politik, meski hujan dan udara dingin, orang awam seperti kita kepala akan ikut panas, jika lihat adu goblog oleh kedua kubu muncul di postingan. Alangkah baiknya, kita perbanyak membaca dan mendengar kisah agung para kekasih Tuhan.
Kisah ini diceritakan oleh panutanku, Gus Azinuddin Aufar Jika kamu tahu nama besarnya, pasti kau paham dengan hobinya; pemanjat gunung. Bukan gunung yang lain, tapi gunung sebenar-benarnya gunung.
Suatu ketika, saat dalam perjalanan mendaki di daerah Timur. Dia bertemu dengan seorang yang sudah sepuh. Bapak tua ini mendaki gunung seorang diri. Mereka ketemu di tempat ngaso untuk bermalam, setelah tenda didirikan, Gus Azinuddin mendekati simbah. Singkat cerita, dalam berbagai percakapan antara Gus Din (panggilan akrab Gus Azinuddin) dan simbah terseliplah kisah:
Simbah saat muda dulu hobi mendaki. Pada suatu malam di pendakian. Saat dia akan bermalam, ternyata tenda yang dibawa rusak. Waktu itu cuaca sangat berangin dan hujan lebat. Simbah terus berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba simbah melihat gubuk kecil.
Dia mengetuk pintu gubuk dan berkata:
"Tendaku rusak, apa boleh aku berteduh di sini?"
Tuan rumah menerimanya. Simbah masuk ke dalam gubuk. Simbah diperbolehkan berteduh, bahkan menginap. Tidak hanya itu, dalam gubuk sederhana, ia disuguhi berbagai makanan yang enak dan lezat.
Malam itu, ketika akan tidur, simbah mendengar suara aneh. suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Merdu, mendayu serta menghanyutkan pendengaran. Seakan suara itu suara surgawi. Malam itu simbah tidak bisa tidur karena suara tersebut.
Esoknya, dia bertanya kepada tuan rumah. suara apa yang didengarnya malam itu. Tuan rumah menjawab: "Aku tak bisa memberitahumu, karena kamu bukan seorang ahli zuhud, bukan sufi apalagi wali".
Dia memohon penjelasan berulangkali, tapi tetap ditolak.
Simbah terpaksa pergi dengan kecewa.
Bertahun-tahun kemudian, setelah tidak mampu melupakan suara itu, simbah kembali ke gubuk di gunung dan memohon lagi.
"Aku tak bisa memberitahumu, sebab kamu bukan ahli zuhud, bukan sufi apalagi seorang wali."
"Sependek pemahamanku, wali itu hak prerogatif Tuhan, Tuhan sendiri yang menatapkan siapa yang menjadi kekasihNya. Tapi hidup zuhud bisa diupayakan. Jika cara untuk mengetahui sumber suara tersebut adalah menjadi zuhud, maka tolong ajarkan aku ilmu zuhud".
Tuan rumah menjawab: "Kamu harus berkelana menjelajah bumi, dan kemudian beritahu kami ada berapa banyak batang rumput di dunia dan berapa banyak jumlah pasir yang ada. Saat kau menemukan jawabannya, tentu akan mengajarkanmu ilmu zuhud."
Simbah mulai pengembaraan, puluhan tahun kemudian simbah kembali, dengan rambut sudah memutih semuanya.
"Guru, saya sudah mengetahui jawabannya. Secara desain ilahi, bumi selalu dalam kondisi berubah terus menerus, hanya Tuhan yang tahu jawaban dari pertanyaan yang dulu engkau ujikan. Semua manusia hanya bisa mengetahui tentang dirinya sendiri, itupun cuma bisa kalau yang bersangkutan jujur, instrospektif dan bersedia menyingkirkan segala kemunafikan."
Tuan rumah menjawab: "Selamat, kamu bisa menjadi pembelajar zuhud di sini. Aku akan menunjukkan padamu jalan ke misteri suara suci yang kau cari."
Kemudian simbah dibawa ke sebuah pintu kayu. "Suaranya berasal dari balik pintu reot itu," kata tuan rumah sambil menyerahkan kunci.
Dia membuka pintu itu, ternyata di balik pintu kayu itu ada peti yang terbuat dari batu. Tuan rumah memberi kunci untuk peti batu tersebut dan ketika simbah membukanya, ternyata ada peti yang terbuat dari rubi. Berturut-turut setelah membuka pintu rubi, ada peti dari jamrud, mutiara dan intan.
Terakhir simbah menemukan peti yang terbuat dari emas. Suara surgawi yang dia cari sudah terdengar jelas. Tuan rumah menyerahkan kunci peti emas sambil berkata: "Ini peti terakhir, jawaban yang kau cari ada di balik peti ini."
Dengan tangan gemetar, simbah membuka kunci peti emas, dan perlahan membuka pintu itu. Begitu melihat sumber suara yang dicarinya berpuluh tahun, pesona dari apa yang dia lihat membuatnya tak kuasa berdiri, dia jatuh berlutut.
Apa yang simbah lihat sampai jatuh, berlutut dan menangis tersedu sedih adalah....
"Aku tak bisa menceritakan apa yg simbah lihat. Karena kau bukan ahli zuhud, bukan sufi, apalagi wali", kata Gus Din kepadaku.
"What The......." kataku dalam hati.
Jamaah
Dulu ketika kecil, setiap shalat jamaah, saya dan teman-teman pasti berhadiah semprot oleh salah satu sesepuh surau. Sebagai anak-anak pasti suka bermain-main: teriak, tertawa, berbalas kejahilan saat shalat. Tentu saja apa yang saya lakukan dengan teman-teman sangat mengganggu kekhusu'an para jamaah. Hampir setiap di surau kekerasan verbal kami terima.
"Bocah cilik, ora usah maring langgar! Mana pada balik!”.
Hingga kami beranjak besar, sekolah di luar kota, para sesepuh surau 'berpulang' satu persatu. Surau semakin sepi, ditinggal jamaahnya mati.
Saat saya remaja, kebisingan anak-anak sudah jarang ada. Sesepi jamaah yang hanya satu dua.
*****
Kini saya sudah menjadi bapak, generasi sudah berubah, tapi tidak dipungkiri terulangnya sejarah:
Isya tadi, pertama kalinya Nadifa ikut saya shalat jamaah di surau. Tentu saja dengan ibunya. Nadifa belum genap dua tahun. Meskipun komunikasinya sudah lancar, ada beberapa hal saya dan ibunya sulit untuk menjelaskan. Contohnya saat kami menjelaskan tentang tidak diperbolehkan berdiri di depan orang yang sedang shalat. Saya berupaya menjelaskan dengan bahasa yang mudah diterima Nadifa. Nadifa jawab "Gih", tanda dia paham.
Saya dan ibunya Difa sudah sepakat. Difa hanya akan di luar serambi surau saja. Dan kalau ada kesempatan, ibunya juga akan shalat juga, tentu tidak ikut jamaah, atau minimal masbuk saja.
Nah, saat ibunya lengah, Nadifa berlari menuju shaf laki-laki, dia memanggil-manggil ayah! Saya di barisan depan mulai keringat dingin. Benar saja, difa sudah menemukan saya. Dia berdiri depan saya. Ibunya memanggil, berbisik lirih dari serambi untuk mengajak Difa ke luar kembali. Difa tidak menghirau. Saat Imam sudah melakukan rukuk, saya putuskan untuk membatalkan shalat. ðŸ˜‚
Saya gendong dia ke ibunya. Difa menangis karena yang dia inginkan adalah bersama ayahnya. Tapi, setelah keadaan cukup terkendali saya shalat kembali.
*****
Ah iya, maafkan Difa yang sudah mengganggu kekhusu'an para jamaah. Jangan marahi anak-anak yang ramai di surau. Anak adalah utusan kita untuk masa depan. Percayalah Nadifa dan generasinya akan betah berjamaah dan akan memakmurkan surau di masa depan.
Gacuk
Bukan jan*uk, adalah semacam senjata rahasia yang harus kau miliki, yang orang lain tidak punyai. Gacuk digunakan hanya saat ketika hidupmu terdesak. Saat kau bersedih, saat kau merasa sepi dan sendiri. Tanyakan dalam dirimu dalam sunyi. Gacuk seperti apa yang kau miliki?
Cerita ini saya dapatkan dari seorang teman, dia seorang Muhammadiyah, dia kuliah di Kairo. Teman saya ini mempunyai teman satu angkatan kuliah, sebut saja namanya Fulan. Fulan ini orang yang sangat istimewa, dia mahasiswa Al Azhar yang semangatnya luar biasa.
Ketika teman-teman satu angkatan sudah naik tingkat semua. Dia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang tidak pernah naik tingkat. Berbagai jurusan sudah ia jalani. Dan hasilnya nihil. Dia tidak naik tingkat! Saya tidak bisa bayangkan betapa kesepian, kesedihan, dan kesendirian Fulan pada saat itu. Bertahun-tahun di negara orang.
Fulan membaca keadaan. Dia tidak mungkin akan menjalani proses akademik yang melelahkan terus menerus. Sementara umurnya terus bertambah. Fulan banting setir. Singkat cerita dia bekerja sebagai satpam di KBRI Mesir.
Bertahun-tahun dia jalani bekerja sebagai satpam. Dia sudah bukan mahasiswa Al Azhar lagi. Ketika KBRI membuka peluang bagi pekerjanya untuk kuliah jarak jauh di Indonesia, Fulan mendaftar. Dia diterima di UAD Yogyakarta. Kuliah jarak jauh, pulang ke Indonesia hanya saat prosesi wisuda.
Setelah menamatkan S1, Kemudian kembali berangkat lagi ke Mesir, masih bekerja di KBRI. Suatu ketika KBRI membuka peluang bagi para pekerjanya untuk melanjutkan pasca sarjana. Fulan mendaftar. Kuliah jarak jauh lagi di UNS. Pulang ke Indonesia saat penyusunan tesis. Selesai dengan tugas akhir magister, kemudian ia diwisuda.
Setelah S2 selesai, Fulan tidak kembali ke Mesir. Dia menetap dan tinggal di Indonesia. Ketika pemerintah membuka beasiswa program doktoral, dia mendaftar. Singkat cerita dia lolos sebagai doktor dan kemudian dia diterima di sebuah kampus negeri sebagai dosen tetap non pns.
Karir teman-teman satu angkatannya dulu di Mesir yang lulusan S1 hanya mentok jadi guru, dai, ustadz. Sementara Fulan tidak membawa embel-embel "lulusan Al Azhar" tapi menjadi dosen tetap. Manis sekali bukan, karirnya Fulan? Tapi dia harus melewati kesedihan, kesepian yang panjang di negeri orang.
Dan terakhir, Fulan sekarang sudah berpulang. doktor filolog kebanggaan kampus telah meninggalkan dunia. Tuhan mencintai orang gigih, yang punya daya juang semangat luar biasa. Fulan punya gacuk yang sudah dia gunakan. Apa kita punya gacuk, dik?
Empati
Apakah kamu pernah cuek kepada pedagang keliling, semisal ibu-ibu penjual nasi keliling atau gorengan keliling atau apapun, yang menjajakan barang dagangannya dengan memanggil-manggil calon konsumen? Saya sering. Terkadang saya hanya menjawab "mboten atau tidak". Karena memang saya enggan atau tidak membutuhkan 'dagangan' penjual tersebut.
Dulu ketika masih di Semarang, saya punya teman. Lebih tepatnya dia teman dari kakak-kakakku, sebut saja namanya A. Suatu ketika, saat kami sedang mengadakan acara tasyakuran kecil-kecilan di kediaman B. Bakar-bakaran. Lewatlah penjual coek, atau bahasa Tegalnya layah watu. A ini tipe orang yang tidak tega kepada orang lain. Dia akan membantu dan berkorbankan apa saja yang bisa ia korbankan. Meskipun dia jauh dari kata 'ada' (pada saat itu), dia akan menolong siapa saja yang bisa dia tolong. Dia akan bahagia jika di sekelilingnya baik-baik saja. Saya tidak bisa mendeskripsikan secara detail kebaikan A ini.
Kembali ke pedagang layah watu. Pedagang tersebut adalah seorang kakek. Layah-layah tersebut dipikul. Pasti sangat berat. Si kakek menawarkan dagangannya pada kami. A orang yang baik. Sangat baik. A hendak membeli layah karena kasihan kepada kakek. Namun belum sempat membeli, A dicegah oleh B. Dan B berkata kepada A:
"Jika kamu membeli layah hanya berbekal kasihan kepada si kakek, itu adalah awal kesombongan. Bahwa kamu jauh melebihi segalanya dari si kakek. Tidak kah kamu tahu, bahwa kakek ini orang yang kuat. Lagi pula kita tidak membutuhkan layah, karena di kediamanku sudah ada. Layah kakek ini akan terjual habis".
Sebagai junior, saya menjadi penyimak, dan mengambil banyak ilmu hikmah dari kedua kakak tingkat saya, A dan B.
****
Masih tentang empati. Saya punya teman kerja. Saat siang, kami ngaso di masjid tempat kerja, kami dihampiri oleh ibu-ibu penjual nasi. Terkadang kami membeli. Lebih seringnya tidak, karena kami sudah dibawakan bekal oleh istri untuk makan siang.
Ada hal yang menarik. Saat kami menolak ibu-ibu penjual nasi, setidaknya ada 3 kosakata yang teman saya ucapkan kepada ibu penjual: ngampunten, matur nuwun, dan mboten. Maaf, terimakasih, dan tidak.
Saking seringnya kami menolak ibu penjual nasi, hingga saya hapal persis tiga kosakata yang akan disampaikan oleh teman saya. Saya pun bertanya, kenapa harus dengan tiga kosakata tersebut. Kenapa harus minta maaf.
Dia menjawab dengan berkisah; teman kerja saya ini dulu studinya di luar negeri. Bertahun-tahun tinggal di sana hanya mendapat beasiswa studi. Tidak dengan hidupnya. Tempat tinggal, transportasi, uang jajan semuanya pribadi. Saat-saat uangnya menipis, dia nekat untuk menjual makanan khas Indonesia. Dia produksi sendiri, dan dia jual keliling sendiri. Dia menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu. Di lingkungan tempat tinggal warga Indonesia dan Malaysia.
Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Hodges, S.D., & Klein, K.J. (2001). Regulating the costs of empathy: the price of being human. Journal of Socio-Economics.
Kau tahu, dik, saya hanya belajar empati lewat teori-teori. Terlebih, saya bukan pembelajar yang baik

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE