Pernah dengar kisah Layla Majnun? Aku akan cerita ulang dengan bahasaku. Diantara banyak kisah Layla Majnun ada kisah yang paling dramatis yang selalu terngiang dalam kepalaku. Adalah piring pecah.
Qays nama asli dari Majnun. Dia digadang-gadang menggantikan ayahnya kelak sebagai ketua suku. Kepala suku yang berpendidikan, alim, saleh, berwibawa, bijak besari bisa mengayomi sukunya. Di madrasah dia malah tergila-gila dengan Layla.
Rasa cintanya Layla kepada Qays dipendam dalam-dalam. Sebaliknya, cintanya Qays kepada Layla diekspresikan. Disebarluaskan.
Suatu hari, ayahnya Layla mengadakan perhelatan pesta. Para kepala suku, orang mustdhafin, fakir miskin, anak yatim, janda, semua penduduk dapat undangan.
Saat itu Qays sedang duduk seorang diri di lembah nan sunyi yang terdapat mata air. Qays melamun. Dari arah jauh dia melihat rombongan kafilah berduyun-duyun. Ketika rombongan melewati oase, Qays masih saja hanyut dalam lamunan. Qays ditegur oleh kepala rombongan.
"Kisanak, sedang apa Anda berada di sini?"
Tetap saja Qays acuh.
Kemudian ditanya kembali,
"Apa engkau tidak ikut datang ke pestanya Abu Layla (Bapaknya Layla). Semua orang diundang! Tidak pandang bulu, pengemis, pengembara, boleh datang semua".
Sontak Qays terbangun dari lamunan. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam rombongan.
Ketika Qays dan rombongan sudah mendekati tempat pesta, Qays melihat orang-orang sedang mengantri makanan. Wajah yang biasanya pucat karena derita cinta, tatapan kosong karena lamunan yang tiada akhir. Tiba-tiba jadi memerah. Qays sumringah. Qays penuh gairah. Oh Tuhan, ini rumah Layla, kekasihnya.
Saat itu, sudah banyak orang yang sudah berkumpul. Ada yang duduk, ada yang berdiri, makan dan minum. Sebagian orang yang berada di sana tentu kenal Qays sebagai anak kepala suku yang majnun (gila). Para penyair membaca syair indahnya. Perempuan penari perut turut serta meramaikan suasana. Beberapa pihak keluarga dibantu pembantunya memberikan piring dan menuangkan gule kambing serta roti kepada orang yang antri. Termasuk Layla di sana.
Tahu bahwa Layla ikut membantu memberikan piring dan menuang kuah gule, Qays senang bukan kepalang. Ia ikut antri di barisan yang ujungnya terdapat Layla.
Setelah antrian panjang, kini tiba giliran Qays di depan Layla. Dua keturunan Adam dan Hawa saling bertatapan. Lama. Layla memberikan piring Qays. Memberikan roti pipih khas Arab sambil menuang gule. Anehnya, Layla memegang erat piring yang sudah berada di tangan Qays. Layla menarik piring tersebut. Dengan sengaja Layla menghempaskan piring ke bawah. Piring pecah. Gulai berserakan di tanah. Qays malah tersenyum tipis.
Setelah itu, Qays kembali lagi ke antrian belakang. Qays mengantri panjang. Sampai dihadapan Layla adegan piring pecah kembali terjadi. Layla memecahkan piringnya Qays lagi. Terus seperti itu berulang-ulang kali sampai gulai benar-benar habis.
Setelah acara selesai, para tamu mengerumuni Qays. Qays saat itu sedang senyam senyum.
Salah satu orang yang berkerumun angkat bicara, "Qays, apa engkau tidak malu, sudah dipermalukan Layla seperti itu. Sudahlah, sadar diri saja, yakinkan dirimu bahwa Layla itu tidak menyukaimu".Seorang lain bertanya, "Mengapa engkau malah terlihat bahagia?" Qays menjawab, "Layla menginginkan aku untuk tidak lekas pergi. Ia ingin melihatku kembali."
Qays nama asli dari Majnun. Dia digadang-gadang menggantikan ayahnya kelak sebagai ketua suku. Kepala suku yang berpendidikan, alim, saleh, berwibawa, bijak besari bisa mengayomi sukunya. Di madrasah dia malah tergila-gila dengan Layla.
Rasa cintanya Layla kepada Qays dipendam dalam-dalam. Sebaliknya, cintanya Qays kepada Layla diekspresikan. Disebarluaskan.
Suatu hari, ayahnya Layla mengadakan perhelatan pesta. Para kepala suku, orang mustdhafin, fakir miskin, anak yatim, janda, semua penduduk dapat undangan.
Saat itu Qays sedang duduk seorang diri di lembah nan sunyi yang terdapat mata air. Qays melamun. Dari arah jauh dia melihat rombongan kafilah berduyun-duyun. Ketika rombongan melewati oase, Qays masih saja hanyut dalam lamunan. Qays ditegur oleh kepala rombongan.
"Kisanak, sedang apa Anda berada di sini?"
Tetap saja Qays acuh.
Kemudian ditanya kembali,
"Apa engkau tidak ikut datang ke pestanya Abu Layla (Bapaknya Layla). Semua orang diundang! Tidak pandang bulu, pengemis, pengembara, boleh datang semua".
Sontak Qays terbangun dari lamunan. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam rombongan.
Ketika Qays dan rombongan sudah mendekati tempat pesta, Qays melihat orang-orang sedang mengantri makanan. Wajah yang biasanya pucat karena derita cinta, tatapan kosong karena lamunan yang tiada akhir. Tiba-tiba jadi memerah. Qays sumringah. Qays penuh gairah. Oh Tuhan, ini rumah Layla, kekasihnya.
Saat itu, sudah banyak orang yang sudah berkumpul. Ada yang duduk, ada yang berdiri, makan dan minum. Sebagian orang yang berada di sana tentu kenal Qays sebagai anak kepala suku yang majnun (gila). Para penyair membaca syair indahnya. Perempuan penari perut turut serta meramaikan suasana. Beberapa pihak keluarga dibantu pembantunya memberikan piring dan menuangkan gule kambing serta roti kepada orang yang antri. Termasuk Layla di sana.
Tahu bahwa Layla ikut membantu memberikan piring dan menuang kuah gule, Qays senang bukan kepalang. Ia ikut antri di barisan yang ujungnya terdapat Layla.
Setelah antrian panjang, kini tiba giliran Qays di depan Layla. Dua keturunan Adam dan Hawa saling bertatapan. Lama. Layla memberikan piring Qays. Memberikan roti pipih khas Arab sambil menuang gule. Anehnya, Layla memegang erat piring yang sudah berada di tangan Qays. Layla menarik piring tersebut. Dengan sengaja Layla menghempaskan piring ke bawah. Piring pecah. Gulai berserakan di tanah. Qays malah tersenyum tipis.
Setelah itu, Qays kembali lagi ke antrian belakang. Qays mengantri panjang. Sampai dihadapan Layla adegan piring pecah kembali terjadi. Layla memecahkan piringnya Qays lagi. Terus seperti itu berulang-ulang kali sampai gulai benar-benar habis.
Setelah acara selesai, para tamu mengerumuni Qays. Qays saat itu sedang senyam senyum.
Salah satu orang yang berkerumun angkat bicara, "Qays, apa engkau tidak malu, sudah dipermalukan Layla seperti itu. Sudahlah, sadar diri saja, yakinkan dirimu bahwa Layla itu tidak menyukaimu".Seorang lain bertanya, "Mengapa engkau malah terlihat bahagia?" Qays menjawab, "Layla menginginkan aku untuk tidak lekas pergi. Ia ingin melihatku kembali."