Jika aku diijinkan untuk membenci, aku akan membenci jurusan kuliahku; pendidikan bahasa Arab. Aku merasa minder, kerdil, kecil. Jika aku ditanya oleh banyak orang tentang jurusan kuliahku. Sering aku jawab jurusanku adalah bahasa Asing.
Di kampus kuliahku dulu, program studi pendidikan bahasa Arab di bawah naungan jurusan bahasa dan sastra Asing. Tidak pede dengan status kuliah di prodi pendidikan bahasa Arab tentu bukan hanya aku saja yang merasakan, sederet beberapa teman, adik tingkat juga. Bahkan diantara mereka, menulis identitas diri di akun sosial media dengan 'kuliah di bahasa Asing'.
Aku tidak tahu, gejala sosial apa saat itu. Kurang pedeku berawal dari sebuah universitas tempatku kuliah, adalah bukan universitas berbau agama. Bukankah bahasa Arab adalah bahasa agama? Kenapa tidak di IAIN saja. Kurang lebih, teman SMA waktu itu mengolok. Kebetulan teman SMA itu kuliah jurusan pendidikan bahasa Inggris, tapi di IAIN Walisongo. Aku olok ganti juga.
Gap atau gank diantara mahasiswa itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika gank itu dibagi menjadi dua, gank mahasiswa bodoh dan mahasiswa pintar. Secara garis besar, itulah yang terjadi, yang aku amati. Kemampuan bahasa Arabku enol besar. dengan dibuktikan IPK akhir yang terjun bebas. Tentu karena aku tidak bisa meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku termasuk golongan mahasiswa aktif dan pintar. Maka berteman dengan mahasiswa-mahasiswa 'terbuang' adalah sebuah jalan ninjaku saat itu.
Waktu itu gank sangat kentara. Gank Mahasiswa pintar selalu melakukan aktivitas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa mereka: latihan debat bahasa Arab, khitobah atau pidato bahasa Arab, diskusi dengan bahasa Arab dan lain-lain. Sementara, gank mahasiswa pemalas berkumpul malam hari, tongkrong di Angkringan yang kami sebut sebagai Kucingan.
****
Waktu terus berlari, aku lulus dengan IPK pas-pasan. Sadar dengan kemampuan, aku tidak mungkin bisa mengajar, menjadi guru harus punya modal kualitas keilmuan. Kalau sekedar mengajar alif fathah A sin Domah Su, tentu aku bisa. Tapi kalau disuruh bercakap bahasa Arab, aku tiba-tiba sakit sarap.
Mungkin saja, sekelas madrasah ibtidaiyyah (setara SD) atau madrasah tsanawiyah (setara SMP) bahasa Arab masih dasar, mungkin aku masih bisa dengan kemampuan pas-pasan. Aku mencoba untuk melamar sebagai guru honorer di banyak MI, MTs, yang terjangkau jaraknya dari rumah. Tapi satu madrasah pun tidak ada respon. Pernah ada respon, dari MTs model unggulan, aku dipanggil kepala madrasah. Aku senang bukan kepalang. Inti dari wawancara tersebut aku disuruh merevisi redaksional surat lamaran. Aku revisi sesuai keinginan kepala madrasah. Dan revisian surat lamaran tidak ada follow up sampai sekarang.
Aku pikir, meski jadi guru adalah impian ibu, aku tdk punya akses jalan menuju sana. Aku banting setir, aku ingin jadi karyawan saja. Sudah sarjana, malu tidak dapat kerja. Aku taruh lamaran di Pabrik mana saja, sebagai tenaga apa saja. Seorang kakak tingkat jurusan seni rupa, mengajakku untuk menjadi asisten animasi. Aku ikuti, meski tidak ada jiwa-jiwa seni dalam diriku, aku bisa belajar. Animasi yang kami buat selalu kejar tayang di stasiun televisi swasta. Lembur setiap hari. Lelah tubuh karenanya. Kurang lebih tiga bulan aku mengundurkan diri.
Aku cari kerja lagi. Buah ikhtiar itu merekah, aku diterima sebagai sales profider kartu telpon prabayar. Asik juga, berangkat pukul 08:00 pulang 17:00, kerja di lapangan. Sebagai sales, tentu ada targetnya: per minggu 20 juta saat itu. Sangat enteng bagiku, karena ada satu outlet di wilayahku yang setiap minggunya selalu hampir di atas 15 juta. Tapi aku merasa ini bukan duniaku. Menjadi sekrup kapitalisme yang semu.
****
Aku bingung, setan jenis apa yang merasukiku saat itu, ketika Dulpahmi teman sejak SMA hingga kuliah S1, mengajak lanjut kuliah magister, ajakannya seolah seperti jampi. Aku mau.
Singkat cerita, aku lulus magister dengan tulisan tesis ala kadarnya. Tidak jauh seperti skripsi S1 yang sebagai syarat lulus saja.
Seorang teman jurusan bahasa Perancis mengontakku. Dia bertanya, apakah bersedia menjadi penerjemah Arab-Indonesia, Indonesia-Arab, di laman koran harian online. Aku jawab mau. Aku mengirim CV dan contoh teks terjemahan seadanya. Aku tidak berharap banyak dengan pekerjaan ini. Aku sadari kemampuan terjemahanku pas-pasan dibuktikan dengan 3SKS matakuliah tarjamah nilai BC di transkip nilai.
Namun, setelah beberapa minggu. HRD koran online menelepon aku. Bahwa sudah seleksi berkas, aku yang dipilih oleh pimpinan perusahaan. Surat kontrak perjanjian kerja sudah dikirim via email dari Jakarta. Tinggal aku tanda tangani dan aku kirim ulang lagi.
Dipekerjaan itulah sebenarnya aku banyak belajar, sesuatu yang aku benci (bahasa Arab), eh malah sebagai ladang nafkah untuk anak istri. Aku selalu berfikir positif, bahwa Tuhan selalu tidak teganan. Malu-malu aku harus akui, semua ini juga berkat dari guru-guru, dosen-dosenku dulu.
****
Antara bulan Agustus dan September. Biasanya, kampus almamaterku mempunyai hajat besar. Ulang tahun program studi. Diantara perhalatan besar itu, biasanya akan ada acara perkumpulan alumni. Tentu saja, aku tidak pernah ke sana, selain jauh, sebagai proletariat uang pas-pasan. Tentu saja, aku termasuk gank mahasiswa pemalas dan bodoh. Tidak akan betah hadir di acara-acara resmi tersebut.
Tapi ada hal yang mengusik perhatianku. Dari tahun ke tahun acara alumni tersebut adalah ajang pamer diri alumni. Alumni yang selalu menjadi pembicara selalu adalah orang yang sudah mapan. Punya karir yang bagus. Seolah sedang mengkomunikasikan bahwa, kuliah di Program Studi Pendidikan bahasa Arab akan mendapatkan peluang kerja yang luar biasa.
Mari kita akui bersama. Sekarang ini, segalanya dipandang, dinilai, berdasarkan materi, berdasarkan uang. Kejahatan kapitalisme inilah sumbernya. Asesor Akreditasi perguruan tinggi pada program studi, akan menilai. Penelusuran alumni sampai mana, sudah bekerja sebagai apa. Sebenarnya inti dari inti pertanyaannya adalah alumnimu Sudah bisa menghasilkan uang sebanyak berapa.
Tidak mungkin BAN PT akan menilai: oh alumnimu sudah banyak menjadi orang baik. Sudah banyak yang berlaku jujur. Sudah bisa memanusiakan manusia. Sudah berani menyuarakan mustadhafin yang berhak dibela.
Terkadang juga aku merasa sedih. Tag line yang digembor-gemborkan kuliah jurusan bahasa yang menurut Rasul Muhammad bahasanya ahli Surga, setelah lulus bisa langsung kerja, kok seolah kita mengkerdilkan diri, menyamakan diri dengan 'SMK pasti Bisa'. 😣
Tulisan panjang lebar, kali tinggi ini sebenarnya bukan bermaksud apa-apa. Bukan bermaksud aku membanggakan apa-apa, tentang diriku, karena tidak ada hal yang patut aku banggakan. Dan aku juga bukan orang hebat, karena hidup itu bukan hebat-hebatan. Aku orang biasa seperti Anda, yang terus berproses belajar. Belajar membuka diri, belajar memandang sesuatu pandangan baru, kuliah di bahasa Arab bagiku, ujung-ujungnya bukan sekedar uang, bukan pula kedudukan, pekerjaan, jabatan, bukan. Tapi keberkahan.
Berkah itu kalau tidak salah adalah bertambahnya kebaikan. Sesuatu yang di alam kapitalisme tidak memuat unsur ini. Kalau tidak salah, banyak sekali alumni yang bisa ditelusuri yang berkah ini, mereka mungkin saja hanya sekedar di rumah sebagai ibu rumah tangga tapi kehidupannya berkah. Atau mereka yang pagi harinya berniaga di pasar dan malam harinya mengajarkan anak-anak ngaji. Pendidikan bahasa Arab itu, harus terbang tinggi, lepas dari urusan dunia kapitalisme.
Selamat berpuasa...