Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Suatu ketika, antara Maulana Rumi dengan muridnya. Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan, dijawab dengan jawaban-jawaban nan indah.

"Apa itu racun ?"
"Apapun yang lebih dari kebutuhan kita, itu adalah racun . Bisa jadi, kekayaan, kekuasaan, kebencian, cinta, kemiskinan, ego, kemalasan, keserakahan, ambisi, dan bisa apapun".


"Apa itu ketakutan ?"
"Ketidak mampuan menerima ketidak pastian. Bila kita mampu menerima ketidak pastian, maka itu menjadi sebuah petualangan .


"Apa itu iri?"
"Ketidak mampuan melihat kebaikan pada orang lain. Bila kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain, maka itu menjadi sebuah inspirasi".


"Apa itu kemarahan ?"
"Ketidak mampuan menerima hal-hal diluar kendali kita. Bila kita mampu menerima, maka itu menjadi bentuk toleransi".


"Apa itu kebencian ?"
"Ketidak mampuan menerima orang lain. Bila kita menerima siapapun tanpa syarat, itu lah Cinta".


"Menurutmu, apa yang paling ajaib di dunia ini?" tanya seorang perempuan berkerdung merah.

"Sujud," ujar sang lelaki berpeci.

"kenapa sujud?!" tanya perempuan dengan air muka datar.

"Saat sujud, engkau berbisik pada tanah, tapi langitlah sebenarnya yang mendengarkan."

"So Sweet... ."

"Ajaib bukan?"

"lumayan."

"Oya, apa yang biasanya kau bisikan ke bumi saat sujud?" selidik sang perempuan.

"Aku membisikan namamu," jawab lelaki itu.

"Ah, kau..."

"Tapi sayangnya langit tak pernah mendengarkannya," tambah lelaki itu.

"Hua ha ha ha..." perempuan di depannya terbahak.


Seorang lelaki ingusan menyurati sang istri melalui blog pribadinya:


Dear istriku. Terimakasih sudah menemani hari-hariku. Sudah menemani kepayahan hidupku. Mau diajak melarat bersama. Menemani kemiskinan dan kepapaanku. Terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Engkau akuntan terbaik. Manager uang luar biasa. Chef yang selalu masak enak, meskipun makanan sederhana. Saat aku atau anak sakit, kau dokter pribadi yang selalu ada. Kau wanita karir 24 jam. Gajimu adalah surga.
Sehat selalu sayang. Berkah selalu sayang.


Semoga kita diberkahi Allah. Selamat dan panjang umur.
Pernah dengar kisah Layla Majnun? Aku akan cerita ulang dengan bahasaku. Diantara banyak kisah Layla Majnun ada kisah yang paling dramatis yang selalu terngiang dalam kepalaku. Adalah piring pecah.


Qays nama asli dari Majnun. Dia digadang-gadang menggantikan ayahnya kelak sebagai ketua suku. Kepala suku yang berpendidikan, alim, saleh, berwibawa, bijak besari bisa mengayomi sukunya. Di madrasah dia malah tergila-gila dengan Layla.


Rasa cintanya Layla kepada Qays dipendam dalam-dalam. Sebaliknya, cintanya Qays kepada Layla diekspresikan. Disebarluaskan.


Suatu hari, ayahnya Layla mengadakan perhelatan pesta. Para kepala suku, orang mustdhafin, fakir miskin, anak yatim, janda,  semua penduduk dapat undangan.


Saat itu Qays sedang duduk seorang diri di lembah nan sunyi yang terdapat mata air. Qays melamun. Dari arah jauh dia melihat rombongan kafilah berduyun-duyun. Ketika rombongan melewati oase, Qays masih saja hanyut dalam lamunan. Qays ditegur oleh kepala rombongan.

"Kisanak, sedang apa Anda berada di sini?"
Tetap saja Qays acuh.
Kemudian ditanya kembali,
"Apa engkau tidak ikut datang ke pestanya Abu Layla (Bapaknya Layla). Semua orang diundang! Tidak pandang bulu, pengemis, pengembara, boleh datang semua".
Sontak Qays terbangun dari lamunan. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam rombongan.


Ketika Qays dan rombongan sudah mendekati tempat pesta, Qays melihat orang-orang sedang mengantri makanan. Wajah yang biasanya pucat karena derita cinta, tatapan kosong karena lamunan yang tiada akhir. Tiba-tiba jadi memerah. Qays sumringah. Qays penuh gairah. Oh Tuhan, ini rumah Layla, kekasihnya.


Saat itu, sudah banyak orang yang sudah berkumpul. Ada yang duduk, ada yang berdiri, makan dan minum. Sebagian orang yang berada di sana tentu kenal Qays sebagai anak kepala suku yang majnun (gila). Para penyair membaca syair indahnya. Perempuan penari perut turut serta meramaikan suasana. Beberapa pihak keluarga dibantu pembantunya memberikan piring dan menuangkan gule kambing serta roti kepada orang yang antri. Termasuk Layla di sana.


Tahu bahwa Layla ikut membantu memberikan piring dan menuang kuah gule, Qays senang bukan kepalang. Ia ikut antri di barisan yang ujungnya terdapat Layla.


Setelah antrian panjang, kini tiba giliran Qays di depan Layla. Dua keturunan Adam dan Hawa saling bertatapan. Lama. Layla memberikan piring Qays. Memberikan roti pipih khas Arab sambil menuang gule. Anehnya, Layla memegang erat piring yang sudah berada di tangan Qays.  Layla menarik piring tersebut. Dengan sengaja Layla menghempaskan piring ke bawah. Piring pecah. Gulai berserakan di tanah. Qays malah tersenyum tipis.


Setelah itu, Qays kembali lagi ke antrian belakang. Qays mengantri panjang. Sampai dihadapan Layla adegan piring pecah kembali terjadi. Layla memecahkan piringnya Qays lagi. Terus seperti itu berulang-ulang kali sampai gulai benar-benar habis.


Setelah acara selesai, para tamu mengerumuni Qays. Qays saat itu sedang senyam senyum.
Salah satu orang yang berkerumun angkat bicara, "Qays, apa engkau tidak malu, sudah dipermalukan Layla seperti itu. Sudahlah, sadar diri saja, yakinkan dirimu bahwa  Layla itu tidak menyukaimu".Seorang lain bertanya, "Mengapa engkau malah terlihat bahagia?" Qays menjawab, "Layla menginginkan aku untuk tidak lekas pergi. Ia ingin melihatku kembali."
Kisah cinta ini aku ambil dari buku ajar bahasa Arab. Tema Al hayatu Az zaujia, kehidupan rumah tangga. Sebenarnya lebih mengena jika diceritakan dengan bahasa aslinya. Tapi akan aku coba untuk bercerita:


Syahdan, ada seorang lelaki yang sangat tampan, ia mencintai bunga desa. Bunga desa ternyata juga memendam perasaan yang sama. Singkat cerita akhirnya mereka menikah. Mereka berbahagia.


Suatu hari, sang bunga desa mengalami sakit kulit. Hingga berubahlah wajah cantiknya menjadi jelek. Dihari yang sama, sang suami tiba-tiba buta. Mereka melangsungkan kehidupan rumah tangga selama 40 tahun dengan tetap berbahagia dan bergembira: mereka berinteraksi dengan saling mencintai dan saling memuliakan.


Hingga datanglah hari kematian sang istri. Sang suami sangat terpukul dan sangat bersedih hati. Di maqbaroh, setelah prosesi pemakaman selasai. Datanglah waktu ketika para pelayat pulang meninggalkan kuburan. Sang suami berdiri. Dari arah belakang terdengar suara menyapanya.
"Hendak kemana, Wahai Fulan?"
"Saya mau pulang ke rumah"
"Mari saya antarkan ke rumahmu"
"Tidak usah, Terimakasih"
"Bagaimana mungkin kamu tahu arah jalan pulang, sedang engkau buta".
"Saya tidak buta!!! Sesungguhnya saya pura-pura buta supaya saya tidak menyakiti hati istri saya".


Sang suami sesungguhnya tahu, waktu itu wajah istrinya menjadi jelek, maka dia memilih untuk pura-pura menjadi buta selama 40 tahun. Sehingga dia tidak menyakiti hati istrinya. Suami-istri saling mencintai, mengasihi dengan penuh kedalaman.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE