Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuatan itu yang membentuk karakterku sebagai manusia. Saya diberi rizki oleh Tuhan. Diberikan segalanya. Tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan itu. Orang-orang menyebutnya barokah.


Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.


Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.


Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.


Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.


Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.


"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.


Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.


Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah
Aku kadang tidak habis pikir. Kenapa operator salah satu pompa bensin kecil di kotaku pelayanannya sangat tidak ramah. Tersenyum saja susah. Operator itu lelaki setengah baya. Bertubuh ceking. Jika tidak mengenakan topi, rambutnya terlihat ikal. Matanya merah, pertanda ia sangat lelah. Terkadang mulutnya berbau alkohol. Pernah suatu ketika aku mengajak basa-basi. Tapi ia tak menggubris sama sekali.


Seorang teman berkabar. Pom yang aku maksud, konon sering melakukan kecurangan. Manipulasi nota pembayaran. Mengurangi takaran bensin, dan lain-lain. Aku jadi malas untuk mengisi bensin di sana. Pom tersebut terletak di jalan Pantura. Oleh karena itu, customer kebanyakan kendaraan dari luar kota.


Hingga terjadilah adegan dalam suatu perjalanan. Aku sangat terpaksa untuk mampir di pom-bensin tersebut. Kejadian ini terjadi ramadhan tahun lalu. Saat itu aku pulang dari Purwokerto. Setelah mengikuti RDK (Rapat dalam kantor).


Aku pulang sore. Matahari hampir terbenam. Langit memerah. Senja sudah merekah. Jarak tempuh rumahku masih sekitar 25 menitan lagi. Sementara maghrib sudah datang. Pada detik itu pula, indikator bensin memberi signal sudah hampir habis. Waktu itu tubuhku sungguh sangat lemas. Ingin segera berbuka. Atau sekedar minum air mineral untuk melepas dahaga. Aku tidak bawa bekal air. Celakanya juga, uang di dompet tinggal 7 ribu.


Aku diberi dua pilihan oleh keadaan: pertama, membeli air mineral, dan harap-harap cemas semoga motor bisa sampai rumah. Kedua, membeli bensin, dan menunda berbuka.


Aku pilih yang kedua. Dengan pertimbangan indikator bensinku sebenarnya sudah tipis sejak masuk Purbalingga. Aku tidak mau berjudi lebih dalam lagi. Satu-satunya pom yang tersisa adalah pom yang selalu aku hindari itu.


Tidak ada pilihan. Aku mampir isi bensin 7 ribu. Operator masih sama dengan yang dulu. Miskin senyum. Tentu dengan tubuhku yang masih lemas, berkomunikasi pun malas. Pom bensin sangat sepi. Bisa langsung ngisi tanpa antri. Setelah aku bayarkan uangku. Si operator mengambil sesuatu di meja. Sambil menyerahkan kepadaku dia berkata,

"Keh, Mas. Go takjil, mbokan durung buka".
Seplastik es campur dan 3 kurma.
Aku jawab dengan berbinar, "Suwun, Om!"


Kadang sesuatu yang kita tidak sukai
Kita selalu hindari, terdapat kebaikan di dalamnya. Terimakasih Tuhan. Maturnembahnuwun Ya Ramadhan...
Suatu ketika, antara Maulana Rumi dengan muridnya. Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan, dijawab dengan jawaban-jawaban nan indah.

"Apa itu racun ?"
"Apapun yang lebih dari kebutuhan kita, itu adalah racun . Bisa jadi, kekayaan, kekuasaan, kebencian, cinta, kemiskinan, ego, kemalasan, keserakahan, ambisi, dan bisa apapun".


"Apa itu ketakutan ?"
"Ketidak mampuan menerima ketidak pastian. Bila kita mampu menerima ketidak pastian, maka itu menjadi sebuah petualangan .


"Apa itu iri?"
"Ketidak mampuan melihat kebaikan pada orang lain. Bila kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain, maka itu menjadi sebuah inspirasi".


"Apa itu kemarahan ?"
"Ketidak mampuan menerima hal-hal diluar kendali kita. Bila kita mampu menerima, maka itu menjadi bentuk toleransi".


"Apa itu kebencian ?"
"Ketidak mampuan menerima orang lain. Bila kita menerima siapapun tanpa syarat, itu lah Cinta".


"Menurutmu, apa yang paling ajaib di dunia ini?" tanya seorang perempuan berkerdung merah.

"Sujud," ujar sang lelaki berpeci.

"kenapa sujud?!" tanya perempuan dengan air muka datar.

"Saat sujud, engkau berbisik pada tanah, tapi langitlah sebenarnya yang mendengarkan."

"So Sweet... ."

"Ajaib bukan?"

"lumayan."

"Oya, apa yang biasanya kau bisikan ke bumi saat sujud?" selidik sang perempuan.

"Aku membisikan namamu," jawab lelaki itu.

"Ah, kau..."

"Tapi sayangnya langit tak pernah mendengarkannya," tambah lelaki itu.

"Hua ha ha ha..." perempuan di depannya terbahak.


Seorang lelaki ingusan menyurati sang istri melalui blog pribadinya:


Dear istriku. Terimakasih sudah menemani hari-hariku. Sudah menemani kepayahan hidupku. Mau diajak melarat bersama. Menemani kemiskinan dan kepapaanku. Terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Engkau akuntan terbaik. Manager uang luar biasa. Chef yang selalu masak enak, meskipun makanan sederhana. Saat aku atau anak sakit, kau dokter pribadi yang selalu ada. Kau wanita karir 24 jam. Gajimu adalah surga.
Sehat selalu sayang. Berkah selalu sayang.


Semoga kita diberkahi Allah. Selamat dan panjang umur.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE