Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Tuhanku...
Cintai anakku,
Dengan cinta yang tidak buta
Jangan manjakan ia oleh suka
Paksa ia mencicipi luka
Taburkan duri dikakinya
Cambuklah punggungnya
Agar mengerti dia
Hidup tak seindah khayalan tentang sorga


Tuhanku,
Jangan izinkan ia berdoa
Jika masih mengartikannya meminta
Kedatangannya di kaki-Mu, Paduka
Hanya karena rindu dan nyatakan cinta


Bungkam mulutnya jika ia memohon menang
Karena itu mengharapkan kekalahan orang
Hidup tak boleh ia artikan sebagai perlombaan
Cukuplah merupakan peristiwa agung Kau ciptakan
Tuhan hanyalah istilah yang dibuat manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Sebutan nama tuhan secara bahasa itu banyak ragamnya. Oleh sebab itu, banyak sekali istilah meski muaranya adalah sama, satu. Jika dalam ajaran Islam menyebut “tidak ada tuhan kecuali Allah”, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Ketika manusia mengumumkan dirinya sebagai tuhan, tentu ia tetap meyakini keberadaan tuhan di luar dirinya. Di ujung kebinasaan jasadnya, Firaun tak kuasa menolak suara ruhnya bahwa ajaran Musa tentang tuhan yang satu, benar adanya. Ketika ajaran materialisme menghinggapi sejarah peradaban manusia dengan isu kebebasan sehingga menghilangkan keberadaan dan peran serta tuhan (ateis) misalnya, hakikat ajarannya justru mengakui keberadaan tuhan. Bukankah kebebasan (nafsu) yang menjadi panglima ajaran materialisme dan juga liberalisme adalah wujud tuhan itu sendiri?
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan 43)
Gambaran akan Tuhan, tidak mungkin tak ada pada manusia. Sebagai bagian dari (kehendak) tuhan, pada manusia hakikatnya ada kemutlakan. Sebuah fitrah untuk mempercayai dan mengakui tuhan. Jika kemudian apa yang diyakini sebagai tuhan diwujudkan dalam banyak bentuk dan keyakinan, itu juga tak lepas dari kehendak tuhan sebagai satu-satunya pemilik segala kehendak. Tuhan adalah sesuatu yang wajib dan pasti ada bagi manusia, bahkan pada saat keberadaan tuhan ditolak dan diabaikan sekalipun.
Apa yang kemudian disebut sebagai tuhan, sejatinya hanya istilah manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Penyebutan nama tuhan secara bahasa, oleh sebab itu banyak ragam kendati muaranya pasti satu. Jika kemudian, ajaran Islam menyebutkan tidak ada tuhan kecuali Allah, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Kata Allah dalam bahasa Arab pada dasarnya sama dengan kata ilah (tuhan). Makna dari kata Allah adalah juga sama dengan makna dari kata ilah. Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya. Dalam bahasa Arab, kata “ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (bersifat umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat sementara kata Allah adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.
Ucapan seperti “ya Ilahi” atau “ya Allah” juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “ilah” kecuali bahwa yang satu (Allah) hanya digunakan untuk makna khusus sedangkan yang lainnya “ilah” lebih bersifat umum. Dalam kitab Tauhid dan Syirik, Syekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, karena berasal dari satu akar kata.
Kekhususan makna pada nama Allah dalam hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab menggunakan lafal “al ilah”. Penambahan kata “al” pada “ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab Majma’ul Bayan Jilid 9, Al Thabarsi menerangkan, bahwa huruf “i” pada “al ilah” menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga kemudian “al ilah” diucapkan sebagai Allah.
Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul lafal Allah juga diungkapkan Thabarsi dalam Majma’ul Bayan Jilid 1. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (seorang pakar gramatika tentang asal-usul lafal Allah) Thabarsi menjelaskan perubahan dari ilah menjadi Allah disebabkan penisbian huruf hamzah di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah yang tak bisa dipisahkan. Maka ketika menyebut “ya Allah”, pengucapannya bukan “yallah” melainkan “ya Allah”. Seandainya tidak ada huruf hamzah dalam kata aslinya, menurut Thabarsi niscaya pengucapan hamzah tersebut tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.
Tentang lafal Allah yang berasal dari kata ilah dengan menghilangkan huruf hamzah dan menggantinya dengan kata “al”, juga dijelaskan oleh Ar Raghib dalam kitab Al Mufradat. Nama tersebut dikhususkan bagi nama Allah sebagai Wajibul Wujud, Zat yang mutlak wajib ada. “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam 65).
Tuhan dalam Al Quran
Karena itu bisa dimengerti jika para ahli tauhid lalu memaknai Allah dan ilah dengan makna yang satu yaitu tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir (mufassirin) dalam kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” kata “ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah), dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar). Maka kalimat “Tidak ada tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada tuhan yang wajib disembah secara benar (hak) kecuali Allah”.
Kesimpulan para mufassirinmengacu kepada Al Quran surat Az Zuhruf 84, “Dan Dia adalah tuhan (yang disembah) di langit dan tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia adalah bijaksana dan mengetahui segala sesuatu.”
Selain kata “ilah”, kata yang bermakna tuhan adalah “rabb” yang berarti mengatur atau menuntun. Kata ini misalnya tertuang dalam surat Al Fatihah ayat kedua, “Segala puji milik Allah, rabb semesta alam.” Ayat 65 surat Maryam juga menggunakan kata rabb untuk menjelaskan tentang Allah, “Rabbatas langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah menyembah-Nya.”
Al Quran juga banyak menyebut nama Allah dengan sebutan “huwa”. Salah satunya diterangkan dalam surat Al An’an ayat ketiga. “Dan huwaadalah Allah yang disembah, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.”
Dalam bahasa Arab, “huwa” adalah dhamir (kata ganti) untuk seorang lelaki yang tidak kelihatan. Itu sebab, Allah dalam ajaran Islam cenderung dipahami sebagai maskulinitas karena hanya kata “huwa” yang digunakan dalam Al Quran, dan bukan “hiya” (perempuan).
Di Balik Nama Allah
Dari banyaknya ragam istilah dan makna tentang Allah, tak bisa tidak, Allah adalah pemilik semua nama (sifat) ketuhanan. Dalam surat Al A’raf ayat 180 diterangkan “Hanya milik Allah asma’ul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asma-Nya”
Dalam kitab Futuhatul Makiyyah Juz III Ibnu Arabi menjelaskan, sesungguhnya Allah merupakan hakikat dari seluruh nama-nama ketuhanan. Lafal “Allah” adalah lafdzul jalalah. Secara bahasa, jalalah berasal dari akar kata “Al Jalal” yang berarti “Zat” yang berhak untuk diagungkan, utama, berkuasa, berwibawa, pelaksana segala urusan, dan kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk. “Jalla Jalaluhu” karena itu adalah nama Allah yang satu, yang tahu akan zat-Nya yang suci dan meliputi semua sifat –Al Hayat, Al Azaliyah, Al Ilmu, Al Qudrah, Al Bashar, As Sami’u, Al Iradah dan seterusnya. Itulah nama-nama Allah, yang bahkan Dia menyebutkan untuk zat-Nya, dan disebut sebagai isim al a’dham. Tak satupun makhluk, apalagi hanya manusia, yang berhak atas nama-nama Allah. Al Quran menyebutkan ada 99 nama Allah dalam al asma’ al husna.
Dari seluruh nama itu, maka secara umum nama Allah bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama adalah nama-nama jalaliyyah yang menggambarkan kemutlakan kekuasaan Allah. Termasuk dalam kelompok ini adalah nama agung (Al Akbar), pemaksa (Al Qahhar), keras (Al Jabbar), sombong (Al Mutakbbir), pembalas (Dzun Tiqam). Kedua adalah nama-nama jamaliyyah yang berhubungan dengan kecintaan, keindahan dan kecantikan, seperti pengasih (Ar Rahman), penyayang (Ar Rahim), pengampun (Al Ghaffar), lembut (Al Lathiif), dan sebagainya.
Ada perbedaan konsekuensi terhadap manusia, yang timbul akibat nama-nama Allah. Nama-nama jalaliyyah menyebabkan manusia tunduk dan takut dan wajib mengikuti syariat (hukum) Allah, dan jamaliyyah menekankan manusia kepada aspek kecintaan terhadap Allah. Meskipun jalliyyah dan jamaliyyah hakikatnya adalah wujud Allah, menurut beberapa ahli tafsir Al Quran, jumlah nama Allah pada jamaliyyah lebih banyak dibanding jumlah nama pada jalaliyah. Hadits qudsi juga menyebutkan, “Cinta-Ku melampaui murka-Ku.”
Tak lalu dengan semua nama-Nya, manusia bisa mengetahui hakikat Allah. Nama-nama, istilah atau apapun julukan yang ditujukan untuk Allah hanyalah salah satu cara untuk mengenal (kekuasan) Allah. Di balik semua nama dan istilah, Allah adalah Allah dan hanya Allah yang tahu akan Allah.
 Sumber: Abdullah Imam Bachwar dan Rusdi Mathari
Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuatan itu yang membentuk karakterku sebagai manusia. Saya diberi rizki oleh Tuhan. Diberikan segalanya. Tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan itu. Orang-orang menyebutnya barokah.


Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.


Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.


Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.


Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.


Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.


"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.


Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.


Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah
Aku kadang tidak habis pikir. Kenapa operator salah satu pompa bensin kecil di kotaku pelayanannya sangat tidak ramah. Tersenyum saja susah. Operator itu lelaki setengah baya. Bertubuh ceking. Jika tidak mengenakan topi, rambutnya terlihat ikal. Matanya merah, pertanda ia sangat lelah. Terkadang mulutnya berbau alkohol. Pernah suatu ketika aku mengajak basa-basi. Tapi ia tak menggubris sama sekali.


Seorang teman berkabar. Pom yang aku maksud, konon sering melakukan kecurangan. Manipulasi nota pembayaran. Mengurangi takaran bensin, dan lain-lain. Aku jadi malas untuk mengisi bensin di sana. Pom tersebut terletak di jalan Pantura. Oleh karena itu, customer kebanyakan kendaraan dari luar kota.


Hingga terjadilah adegan dalam suatu perjalanan. Aku sangat terpaksa untuk mampir di pom-bensin tersebut. Kejadian ini terjadi ramadhan tahun lalu. Saat itu aku pulang dari Purwokerto. Setelah mengikuti RDK (Rapat dalam kantor).


Aku pulang sore. Matahari hampir terbenam. Langit memerah. Senja sudah merekah. Jarak tempuh rumahku masih sekitar 25 menitan lagi. Sementara maghrib sudah datang. Pada detik itu pula, indikator bensin memberi signal sudah hampir habis. Waktu itu tubuhku sungguh sangat lemas. Ingin segera berbuka. Atau sekedar minum air mineral untuk melepas dahaga. Aku tidak bawa bekal air. Celakanya juga, uang di dompet tinggal 7 ribu.


Aku diberi dua pilihan oleh keadaan: pertama, membeli air mineral, dan harap-harap cemas semoga motor bisa sampai rumah. Kedua, membeli bensin, dan menunda berbuka.


Aku pilih yang kedua. Dengan pertimbangan indikator bensinku sebenarnya sudah tipis sejak masuk Purbalingga. Aku tidak mau berjudi lebih dalam lagi. Satu-satunya pom yang tersisa adalah pom yang selalu aku hindari itu.


Tidak ada pilihan. Aku mampir isi bensin 7 ribu. Operator masih sama dengan yang dulu. Miskin senyum. Tentu dengan tubuhku yang masih lemas, berkomunikasi pun malas. Pom bensin sangat sepi. Bisa langsung ngisi tanpa antri. Setelah aku bayarkan uangku. Si operator mengambil sesuatu di meja. Sambil menyerahkan kepadaku dia berkata,

"Keh, Mas. Go takjil, mbokan durung buka".
Seplastik es campur dan 3 kurma.
Aku jawab dengan berbinar, "Suwun, Om!"


Kadang sesuatu yang kita tidak sukai
Kita selalu hindari, terdapat kebaikan di dalamnya. Terimakasih Tuhan. Maturnembahnuwun Ya Ramadhan...
Suatu ketika, antara Maulana Rumi dengan muridnya. Beranjak dari pertanyaan-pertanyaan, dijawab dengan jawaban-jawaban nan indah.

"Apa itu racun ?"
"Apapun yang lebih dari kebutuhan kita, itu adalah racun . Bisa jadi, kekayaan, kekuasaan, kebencian, cinta, kemiskinan, ego, kemalasan, keserakahan, ambisi, dan bisa apapun".


"Apa itu ketakutan ?"
"Ketidak mampuan menerima ketidak pastian. Bila kita mampu menerima ketidak pastian, maka itu menjadi sebuah petualangan .


"Apa itu iri?"
"Ketidak mampuan melihat kebaikan pada orang lain. Bila kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain, maka itu menjadi sebuah inspirasi".


"Apa itu kemarahan ?"
"Ketidak mampuan menerima hal-hal diluar kendali kita. Bila kita mampu menerima, maka itu menjadi bentuk toleransi".


"Apa itu kebencian ?"
"Ketidak mampuan menerima orang lain. Bila kita menerima siapapun tanpa syarat, itu lah Cinta".


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE