Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate


Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat? - Cak Dlahom [Rusdi Mathari].


Disadari atau tidak, Kisah-kisah sufi yang sering didengarkan di pesantren-pesantren adalah kisah untuk mengasah kepedulian sosial seorang santri.  Aku ingin berkisah padamu dik, kisah tentang Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar pada masanya. Seorang tabi'ut tabi'in.


Hari itu, kesekian kalinya Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Setelah thawaf mengelilingi ka'bah. Beliau tertidur. Dalam tidurnya antara mimpi dan sadar, Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan antara dua malaikat:
"Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.
“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain.
“Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”.
Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak terperangah. Ibnu Mubarak menangis.
“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, berasal dari Damaskus. Seorang tukang sol sepatu".
"Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah". Seru malaikat.


Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.


Musim haji telah usai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Siapa sebenarnya Ali bin Muwaffaq. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus.


Damaskus tentu saja bukan kota kecil. Mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun, dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.
“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah sederhana itu.
“Wa’alaikum salam”
“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”
“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”.


Singkat cerita. Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya tentang percakapan dua malaikat di tanah suci kepada Ali bin Muwaffaq. Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, "apa sesungguhnya rahasia amalan-amalanmu, wahai Ali bin Muwaffaq?"

****

Ali bin Muwaffaq berkisah. Dia memang tidak jadi berangkat haji. Sesungguhnya dia telah menabung sejak lama. Menumpuk pundi-pundi uang. Hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu siang yang panas. Sebelum dia berangkat ke tanah suci, dia dan istrinya mencium masakan yang sangat sedap.


Istrinya saat itu sedang hamil. Sang istri nyidam menginkan masakan itu. Lalu Ali bin Muwaffaq mencari sumbernya, ternyata dari rumah tetangga. Sang tetangga adalah seorang janda. Anaknya banyak.


Demi sang istri dan calon buah hati, Ali bin Muwaffaq memberanikan diri mengetuk pintu rumah tetangga. Tanpa banyak basa-basi, dia mengutarakan maksud dan tujuan.


Sang tetangga berkata, "Wahai Ali bin Muwaffaq, maafkan aku, makanan ini halal untukku dan anak-anakku. Tetapi haram untuk mu dan istrimu".
"Lho kenapa?", Tanya Ali.
"Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati, tergeletak di pinggir kali. Aku potong dan sayati. Aku memasakknya menjadi masakan ini".


Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq si tukang sol sepatu merasa tertampar sekaligus sangat sedih. "Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan", dalam hati Ali.


Maka dia ambil seluruh uangnya dan diserahkan pada tetangga yang janda itu untuk memberikan makan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak jadi berangkat haji.


Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

Jika Anda berada di taman yang terdapat bunga yang warna warni. Cantik. Tentu Anda akan memetik bunga yang tercantik. Untuk dihirup baunya. Atau sekedar dibawa pulang untuk menemani hari Anda. Itu sebagai tamsil, bahwa Tuhan akan 'mengambil' orang-orang baik. Orang istimewa. Orang yang dikasihi-Nya.


Gus Dur (Allahu Yarhamhu). Mantan presiden Indonesia. Ketika ditanya seseorang. "Kenapa penjenengan suka ziarah kubur, Gus?". Gus Dur jawab sekenanya, "Karena orang mati tidak punya kepentingan". Secara tidak langsung jawaban Gus Dur menohok relung hati saya. Gus Dur itu Kiai. Tentu ilmu agamanya tinggi. Tapi Gus Dur tidak menjawab hukum dan berbagai macam dalil tentang ziarah kubur. Terlepas 'asbabun nuzul' Gus Dur saat menjawab pertanyaan itu menjadi tokoh nasional. Yang tentu saja banyak di sekitarnya pasti punya kepentingan. Dari jawaban Gus Dur itulah saya harus belajar. Belajar pada orang mati tentu saja. Belajar tentang apa? Belajar apa saja. Tokoh pertama adalah Gus Dur. Allah menyayangi beliau. Gus Dur dengan berbagai sepak terjang kontroversial dalam hidupnya. Saya merindunya.

Tokoh kedua adalah mbah Surip. Sang maestro reggae meninggal sekitar sepuluh tahun lalu. 04 Agustus 2009. Mbah Surip bagi saya saat itu adalah segalanya. Istimewa. Meski orangnya sudah meninggal, dendangan musik dan suaranya selalu mewarnai hari-hari saya yang kelabu. Siang dan malam. Mbah Surip itu bukan perihal lagu 'Tak Gendong'-nya saja. Ada banyak deretan judul lagu yang kebanyakan orang tidak tahu. Lagu religi pun ada, meski lirik dan suaranya tetap kental dengan jenaka.


Konon sebelum meninggal, mbah Surip belum sempat untuk menyelesaikan album religi. Mbah Surip seperti halnya Gito Rollies. Seorang Rocker, yang sebelum meninggal, dalam konsernya menangis saat menyanyikan lagu Rock berjudul 'Cinta yang Tulus'. Lagu yang sangat kentara akan cinta sejati. Lagu yang dipersembahkan oleh hamba untuk kekasihnya: Allah. Mbah Surippun sama.


Mbah Surip adalah kegetiran. Kegetiran manusia Indonesia. Tertawanya adalah kesedihannya. Orang Indonesia meskipun banyak masalah, ditolak perempuan pujaannya. Atau gaji pas-pasan, tarif dasar listrik naik, BBM naik, hutang semakin melangit. Tapi mereka tetap masih bisa ngopi dan merokok, serta tertawa dan tentu saja insya Allah bahagia. Itulah mbah Surip, representasi manusia Indonesia. Kepadanya saya belajar tertawa, meski sedang lara. Qonaah bahasa agamanya. I love you full, Mbah.


Tokoh berikutnya adalah Zainul Arifin, Allahu Yarhamhu. Mas Zainul dalam perjalanan terakhir hidupnya adalah vokalis Kiai Kanjeng. Suaranya bening. Menggetarkan 'sesuatu' yang di dalam. Di kota asalnya, Mojokerto, mas Zainul dikenal sebagai qori. Seorang pentilawah atau pembaca ayat-ayat suci. dengan teknik, gaya dan cengkok lisanul arabi. Ada 7 (tujuh) tradisi maqam tilawah, yang masing-masing berbeda genre-nya. Ketujuh maqam tilawah: bayati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika dan jiharka. Dan mas Zainul menguasai keseluruh maqam tilawah tersebut.


Saat tur-tur Emha dan Kiai Kanjeng ke seluruh penjuru tanah air dan beberapa kali ke luar negeri; Mesir, Abu Dhabi, Inggris, Vatikan, Belanda, Finlandia, dan lain sebagainya; mas Zainul salah salah satu vokalis andalan Kiai Kanjeng. Di negara-negara Timur Tengah, sebagai pusat kebudayaan Arab — mas Zainul yang kemampuan komunikasi bahasa Arabnya minim — justru sangat dielu-elukan karena kemampuan mengolah suara yang 'sangat Arab'. Langgam Arabic. Di Maroko misalnya, mas Zainul membawakan lagu yang sangat familiar bagi masyarakat setempat: Allah Ya Maulana, mendapat aplus meriah. Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko saat itu, meminta untuk bertemu dengan mas Zainul. Rektor bersama ketua lembaga bahasa universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu yang sering saya putar ketika sendiri di malam yang sunyi, adalah 'Kuncine Lawang Suwarga, Laa Ila ha Illa Allah'. 13 Juni 2015, mas Zainul lebih dirindui oleh Tuhan-nya. Allah bersegera ingin bertemu seorang makhluk-Nya yang sangat indah ketika melantunkan firman-firman-Nya.


Dari mas Zainul, tentu saja suaraku yang cempreng tidak akan belajar meniru suaranya. Tapi suaranya yang lembut, menginspirasi hidup kita seharusnya terus berfikir positif, jernih dan bening. Mas Zainul adalah keindahan. Dan kita suatu saat nanti akan bermuara ke yang Maha Indah.


Rusdi Amrullah bin Mathari adalah tokoh berikutnya. Allah menyayanginya. Semasa hidupnya beliau adalah seorang jurnalis. Dalam lingkungan pergaulannya dia orang yang baik. Sangat baik. Dia punya semboyan "Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan". Dia seorang idealis. Cak Rusdi, panggilan akrabnya seorang penulis. Menulis apa saja.


Yang paling saya suka adalah petuah-petuahnya tentang agama. "Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?"


Dulu, setiap pagi di beranda Facebook adalah keriaan yang disajikan oleh Rusdi Mathari. Hingga akhir hayatnya Cak Rusdi terus menulis. Belajar integritas itu bukan kepada penyelenggara negara. Cukup kepada Cak Rusdi saja.


Kepada beliau-beliau alfatihah....
Tuhanku...
Cintai anakku,
Dengan cinta yang tidak buta
Jangan manjakan ia oleh suka
Paksa ia mencicipi luka
Taburkan duri dikakinya
Cambuklah punggungnya
Agar mengerti dia
Hidup tak seindah khayalan tentang sorga


Tuhanku,
Jangan izinkan ia berdoa
Jika masih mengartikannya meminta
Kedatangannya di kaki-Mu, Paduka
Hanya karena rindu dan nyatakan cinta


Bungkam mulutnya jika ia memohon menang
Karena itu mengharapkan kekalahan orang
Hidup tak boleh ia artikan sebagai perlombaan
Cukuplah merupakan peristiwa agung Kau ciptakan
Tuhan hanyalah istilah yang dibuat manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Sebutan nama tuhan secara bahasa itu banyak ragamnya. Oleh sebab itu, banyak sekali istilah meski muaranya adalah sama, satu. Jika dalam ajaran Islam menyebut “tidak ada tuhan kecuali Allah”, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Ketika manusia mengumumkan dirinya sebagai tuhan, tentu ia tetap meyakini keberadaan tuhan di luar dirinya. Di ujung kebinasaan jasadnya, Firaun tak kuasa menolak suara ruhnya bahwa ajaran Musa tentang tuhan yang satu, benar adanya. Ketika ajaran materialisme menghinggapi sejarah peradaban manusia dengan isu kebebasan sehingga menghilangkan keberadaan dan peran serta tuhan (ateis) misalnya, hakikat ajarannya justru mengakui keberadaan tuhan. Bukankah kebebasan (nafsu) yang menjadi panglima ajaran materialisme dan juga liberalisme adalah wujud tuhan itu sendiri?
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan 43)
Gambaran akan Tuhan, tidak mungkin tak ada pada manusia. Sebagai bagian dari (kehendak) tuhan, pada manusia hakikatnya ada kemutlakan. Sebuah fitrah untuk mempercayai dan mengakui tuhan. Jika kemudian apa yang diyakini sebagai tuhan diwujudkan dalam banyak bentuk dan keyakinan, itu juga tak lepas dari kehendak tuhan sebagai satu-satunya pemilik segala kehendak. Tuhan adalah sesuatu yang wajib dan pasti ada bagi manusia, bahkan pada saat keberadaan tuhan ditolak dan diabaikan sekalipun.
Apa yang kemudian disebut sebagai tuhan, sejatinya hanya istilah manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Penyebutan nama tuhan secara bahasa, oleh sebab itu banyak ragam kendati muaranya pasti satu. Jika kemudian, ajaran Islam menyebutkan tidak ada tuhan kecuali Allah, hal itu disebabkan dari pemaknaan istilah dalam bahasa Arab.
Kata Allah dalam bahasa Arab pada dasarnya sama dengan kata ilah (tuhan). Makna dari kata Allah adalah juga sama dengan makna dari kata ilah. Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya. Dalam bahasa Arab, kata “ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (bersifat umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat sementara kata Allah adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.
Ucapan seperti “ya Ilahi” atau “ya Allah” juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “ilah” kecuali bahwa yang satu (Allah) hanya digunakan untuk makna khusus sedangkan yang lainnya “ilah” lebih bersifat umum. Dalam kitab Tauhid dan Syirik, Syekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, karena berasal dari satu akar kata.
Kekhususan makna pada nama Allah dalam hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab menggunakan lafal “al ilah”. Penambahan kata “al” pada “ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab Majma’ul Bayan Jilid 9, Al Thabarsi menerangkan, bahwa huruf “i” pada “al ilah” menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga kemudian “al ilah” diucapkan sebagai Allah.
Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul lafal Allah juga diungkapkan Thabarsi dalam Majma’ul Bayan Jilid 1. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (seorang pakar gramatika tentang asal-usul lafal Allah) Thabarsi menjelaskan perubahan dari ilah menjadi Allah disebabkan penisbian huruf hamzah di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah yang tak bisa dipisahkan. Maka ketika menyebut “ya Allah”, pengucapannya bukan “yallah” melainkan “ya Allah”. Seandainya tidak ada huruf hamzah dalam kata aslinya, menurut Thabarsi niscaya pengucapan hamzah tersebut tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.
Tentang lafal Allah yang berasal dari kata ilah dengan menghilangkan huruf hamzah dan menggantinya dengan kata “al”, juga dijelaskan oleh Ar Raghib dalam kitab Al Mufradat. Nama tersebut dikhususkan bagi nama Allah sebagai Wajibul Wujud, Zat yang mutlak wajib ada. “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam 65).
Tuhan dalam Al Quran
Karena itu bisa dimengerti jika para ahli tauhid lalu memaknai Allah dan ilah dengan makna yang satu yaitu tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir (mufassirin) dalam kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” kata “ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah), dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar). Maka kalimat “Tidak ada tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada tuhan yang wajib disembah secara benar (hak) kecuali Allah”.
Kesimpulan para mufassirinmengacu kepada Al Quran surat Az Zuhruf 84, “Dan Dia adalah tuhan (yang disembah) di langit dan tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia adalah bijaksana dan mengetahui segala sesuatu.”
Selain kata “ilah”, kata yang bermakna tuhan adalah “rabb” yang berarti mengatur atau menuntun. Kata ini misalnya tertuang dalam surat Al Fatihah ayat kedua, “Segala puji milik Allah, rabb semesta alam.” Ayat 65 surat Maryam juga menggunakan kata rabb untuk menjelaskan tentang Allah, “Rabbatas langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah menyembah-Nya.”
Al Quran juga banyak menyebut nama Allah dengan sebutan “huwa”. Salah satunya diterangkan dalam surat Al An’an ayat ketiga. “Dan huwaadalah Allah yang disembah, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.”
Dalam bahasa Arab, “huwa” adalah dhamir (kata ganti) untuk seorang lelaki yang tidak kelihatan. Itu sebab, Allah dalam ajaran Islam cenderung dipahami sebagai maskulinitas karena hanya kata “huwa” yang digunakan dalam Al Quran, dan bukan “hiya” (perempuan).
Di Balik Nama Allah
Dari banyaknya ragam istilah dan makna tentang Allah, tak bisa tidak, Allah adalah pemilik semua nama (sifat) ketuhanan. Dalam surat Al A’raf ayat 180 diterangkan “Hanya milik Allah asma’ul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asma-Nya”
Dalam kitab Futuhatul Makiyyah Juz III Ibnu Arabi menjelaskan, sesungguhnya Allah merupakan hakikat dari seluruh nama-nama ketuhanan. Lafal “Allah” adalah lafdzul jalalah. Secara bahasa, jalalah berasal dari akar kata “Al Jalal” yang berarti “Zat” yang berhak untuk diagungkan, utama, berkuasa, berwibawa, pelaksana segala urusan, dan kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk. “Jalla Jalaluhu” karena itu adalah nama Allah yang satu, yang tahu akan zat-Nya yang suci dan meliputi semua sifat –Al Hayat, Al Azaliyah, Al Ilmu, Al Qudrah, Al Bashar, As Sami’u, Al Iradah dan seterusnya. Itulah nama-nama Allah, yang bahkan Dia menyebutkan untuk zat-Nya, dan disebut sebagai isim al a’dham. Tak satupun makhluk, apalagi hanya manusia, yang berhak atas nama-nama Allah. Al Quran menyebutkan ada 99 nama Allah dalam al asma’ al husna.
Dari seluruh nama itu, maka secara umum nama Allah bisa dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama adalah nama-nama jalaliyyah yang menggambarkan kemutlakan kekuasaan Allah. Termasuk dalam kelompok ini adalah nama agung (Al Akbar), pemaksa (Al Qahhar), keras (Al Jabbar), sombong (Al Mutakbbir), pembalas (Dzun Tiqam). Kedua adalah nama-nama jamaliyyah yang berhubungan dengan kecintaan, keindahan dan kecantikan, seperti pengasih (Ar Rahman), penyayang (Ar Rahim), pengampun (Al Ghaffar), lembut (Al Lathiif), dan sebagainya.
Ada perbedaan konsekuensi terhadap manusia, yang timbul akibat nama-nama Allah. Nama-nama jalaliyyah menyebabkan manusia tunduk dan takut dan wajib mengikuti syariat (hukum) Allah, dan jamaliyyah menekankan manusia kepada aspek kecintaan terhadap Allah. Meskipun jalliyyah dan jamaliyyah hakikatnya adalah wujud Allah, menurut beberapa ahli tafsir Al Quran, jumlah nama Allah pada jamaliyyah lebih banyak dibanding jumlah nama pada jalaliyah. Hadits qudsi juga menyebutkan, “Cinta-Ku melampaui murka-Ku.”
Tak lalu dengan semua nama-Nya, manusia bisa mengetahui hakikat Allah. Nama-nama, istilah atau apapun julukan yang ditujukan untuk Allah hanyalah salah satu cara untuk mengenal (kekuasan) Allah. Di balik semua nama dan istilah, Allah adalah Allah dan hanya Allah yang tahu akan Allah.
 Sumber: Abdullah Imam Bachwar dan Rusdi Mathari
Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuatan itu yang membentuk karakterku sebagai manusia. Saya diberi rizki oleh Tuhan. Diberikan segalanya. Tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan itu. Orang-orang menyebutnya barokah.


Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.


Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.


Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.


Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.


Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.


"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.


Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.


Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE