Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate


#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah  Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.

Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah, kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara  usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing hitamkan saja setan. 

Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa. Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain, merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.

Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu  sudah sunatullah. Perseteruan ada di mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji Tuhan, saya  tidak punya kepentingan apa-apa.   

Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik, mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.


11 November 2019
Pertama, aku memohon ampun pada Allah, Tuhan seluruh alam. Atas apa yang selama ini aku lakukan. Kedua, aku meminta maaf yang sangat dalam. Pada banyak pihak yang termaktub secara terbuka atau tersirat dalam catatan ini. Aku tidak bermaksud untuk membuka dosa, aib, atau apapun itu sebutannya. Catatan ini hanya akan diposting di blog pribadiku. Tentu saja di sana sepi. Adapun jika ada pembaca yang mampir, berarti bonus, dan mungkin selebihnya musibah. Tujuan catatan ini adalah pembelejaran untuk anak-anakku kelak. Bahwa masih ada asa untuk Indonesia.
.
.
Difa, anakku. Cuaca akhir oktober tahun ini sangat panas. Di Tegal, tercatat dalam aplikasi hampir mendekati 38 derajat suhu panasnya. Yah, di luar sangat panas, tapi di dalam diri kita harus selalu sejuk. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini [yang mungkin akan membuat bertambah panas], aku sarankan untuk memutar lagu kesukaanmu.
.
.
Ini adalah catatan dari desa, untukmu, Difa. Budayawan asal Semarang pernah menulis, kurang lebih begini: "saya tidak korupsi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk koropsi". Lha mau korupsi bagaimana. Kesempatan tidak ada, jabatan tidak punya. Kewenangan apalagi. Dia menyadari, dia hanya budayawan. Bukan pejabat. Atau konglomerat yang bisa menyuap. Dalam catatan lanjutannya. Dia akan ragu pada dirinya sendiri, jika seandainya dia berada dalam posisi pejabat. Kemungkinan besar, dia tidak akan kuat untuk tidak korupsi.
.
.
Sialnya, laku korupsi, dalam penafsiranku, lebih luas, tidak hanya tentang merugikan uang negara. Menjadi pegawai pemerintahan atau pejabat itu sangat berpeluang untuk korupsi. Tetapi lebih merucut lagi: menjadi seorang hamba penyembah Tuhan juga penuh resiko untuk berlaku korup. Korup imannya, korup ibadahnya, korup shalatnya. Korup zakatnya. Korup hablu minnasnya. Dan lain sebagainya. Dalam arti luas, mungkin aku dan kamu adalah koruptor.
.
.
Sayangnya, aku tidak begitu mendalam memahami undang-undang tindak pidana korupsi di negeri ini. Sebagai pegawai semi pemerintahan, aku masih bisa bernafas lega ketika terlambat. Juga masih bisa menghirup kopi ketika deadline kerja belum terpenuhi. Tidak hanya aku, organisasi- organisasi yang aku dampingi mungkin juga begitu. Mungkin.
.
.
Di tengah iklim kerja yang seharusnya penuh kompetisi sehat, tidak jarang, konflik terjadi dalam organisasi. Terkadang aku sangat menyayangkan. Konflik di tubuh organisasi tidak termanajemen dengan baik. Padahal konflik ini, jika termanajemen dengan rapi, mungkin akan berakibat positif dalam iklim kerja. Perlu sentuhan tangan stake holder di atas tingkat organisasi yang aku dampingi.
.
.
Bagiku, yang pria kagetan. Di dunia ini apa yang tidak anomali. Semua kadang tampak aneh. Aturannya berbunyi A, tapi di lapangan kenyataan adalah B. Bahkan ada yang melenceng jauh, Z!
.
.
Desa adalah miniatur Indonesia. Desa bagian dari Indonesia, ataukah Indonesia  bagian dari desa? Ini sangat penting. Guna menentukan sikap, siapa yang sebenarnya yang paling berwenang. Siapa yang sesungguhnya membutuhkan.
.
.
Catatan ini sangat nanggung. Ditulis seorang pria yang galau. Sok idealis. Tapi seaslinya pragmatis. Jika kata Tan Malaka: 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.' Maka, si pria penulis ini adalah, tidak mempunyai kemewahan apa-apa. Tidak mempunyai kemewahan dalam idealis. Juga tidak punya kemewahan harta benda.
.
.
Ditulis pada hari Blogger Nasional 2019
PROF SURYADI. Profesor muda, guru besar ilmu hadits Uin Sunan Kalijaga. Belajar ilmu hadits dalam kelasnya tidak akan pernah bosan. Mahasiswa diajak menelusuri lorong waktu. Semacam piknik ke masa lalu. Seakan berziarah, sowan ke sumber pusatnya hadits: rasul Muhammad. Berkenalan dengan tokoh-tokoh rawi hadits. (Waladzi Nafsi Biyadih, sampai-sampai aku terbawa mimpi). Mahasiswa juga diajak bernalar kritis. Sangat menyenangkan. Sebagai jomblo saat itu, adalah hiburan yang menggembirakan.
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....
SHELDON J. PLANKTON masih menyimpan mimpinya mendapatkan resep bumbu rahasia krabby patty dari Crabs. Hari itu Bikini Bottom terasa panas. Impian Plankton, lebih tepatnya ambisinya, mengantarkannya untuk menghalalkan segala cara.


Siang terik, Plankton sibuk masak di dapur. Mencampur berbagai bahan makanan. Karen, si "WIFE" akronim dari Wired Integrated Female Electroencephalograph, mendekat.
"Apa yang sedang engkau lakukan, suamiku?"
"Aku sedang memasak untuk ku hidangankan pada Crabs. Aku campurkan DNA Patrick. Agar dia konyol dan bodoh, lalu dia akan dengan senang hati memberikan resep rahasia krabby patty padaku". Plankton terus mengaduk-aduk masakan itu. Mulutnya tertawa.
"Kali ini kau pasti gagal lagi!". Tukas Karen.


Benar apa kata Karen. Saat mengaduk, Plankton yang tubuhnya mungil terkena cipratan olahan makanan yang sudah  tercampur DNA Patrick. Dia memakannya! Seketika dia menjadi bodoh. Sialnya lagi olahan makanan itu meletup, meletus. Tersebar ke seluruh penjuru mata angin Bikini Bottom.


Yang diinginkan Plankton tercapai. Tuan Crabs menjadi bodoh. Tidak hanya tuan Crabs, SpongeBob, Squidward, juga Nyonya Pap–ibu guru kursus mengemudi–. Juga seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua menjadi bodoh dan konyol. Bikini Bottom menjadi keos. Orang-orang mirip seperti Patrick. Memperagakan segala hal yang lucu, konyol dan tentu saja tidak penting. Di atas kepala setiap orang terdapat benjolan besar. Seperti tonjolan pada kepalanya Patrick.


Kecuali dua penduduk yang tidak akan menjadi bodoh: Karen Plankton, dia komputer. Dan Sandy, dia seekor tupai dari Texas yang sekarang hijrah ke Bikini Bottom. Dia tidak terkena virus karena rumah dan helmnya kedap air.


Melihat situasi Bikini Bottom yang keos. Mereka berdua berpikir keras. Mereka tidak mungkin menemukan 'formula' untuk mengembalikan kondisi normal. Kesepakatan itu terjadi antara Sandy dan Karen: Membuat sekolah!


Setiap pagi, setiap hari. Penduduk berangkat sekolah. Gurunya tentu saja dua penduduk normal di Bikini Bottom. Peserta didik rata-rata pembelajar yang baik. Setiapkali Ibu guru Sandy atau Ibu guru Karen melakukan evaluasi, peserta didik menjawab dengan benar. Setiapkali menjawab pertanyaan dengan benar itulah, tanda benjolan sebagai tanda kebodohan di kepala mereka berangsur mengecil. Kecuali si Plankton pemalas itu.


Tibalah hari kelulusan. Seluruh peserta didik bergembira. Mereka akan mengikuti rangkaian acara wisuda. Namun, ada adegan yang menegangkan. Di sebuah koridor kelas sekolah yang gelap. Plankton si preman sekolah itu sedang membegal resep rahasia krabby patty dari Crabs. Tuan Crabs dengan mimik ketakutan, wajahnya yang bodoh, hampir saja memberikan resep itu. Namun, lampu dinyalakan. Sandy keluar dari ruangan dan memberi tepuk tangan. Ternyata tuan Crabs sedang mendalami pelajaran peran akting saja. Dia berhasil meraih nilai A dari ibu guru Sandy.


Tuan Crabs siswa cerdas. Karakternya sebagai pengusaha tidak mau rugi satu sen pun. Dia akan mengeksplor apa saja yang bisa menjadi tambang dolar. Dia lambang kapitalis.


****
Nah, meski agak kesiangan. Aku ucapkan selamat untuk adik-adikku yang hari ini mulai sekolah. Jadilah manusia cerdas. Jangan menjadi konyol. Jangan mau dibodohi. Kelak, saat sudah lulus sekolah. Kau tumbuh dewasa. Eksplorasi semua hal yang berbau uang. Tidak usah pedulikan alam yang rusak. Semua akan baik-baik saja. Asal anak-anak dan istrimu bisa berbahagia. Jadilah manusia terpelajar yang kapitalis.

Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat? - Cak Dlahom [Rusdi Mathari].


Disadari atau tidak, Kisah-kisah sufi yang sering didengarkan di pesantren-pesantren adalah kisah untuk mengasah kepedulian sosial seorang santri.  Aku ingin berkisah padamu dik, kisah tentang Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar pada masanya. Seorang tabi'ut tabi'in.


Hari itu, kesekian kalinya Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Setelah thawaf mengelilingi ka'bah. Beliau tertidur. Dalam tidurnya antara mimpi dan sadar, Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan antara dua malaikat:
"Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.
“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain.
“Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”.
Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak terperangah. Ibnu Mubarak menangis.
“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, berasal dari Damaskus. Seorang tukang sol sepatu".
"Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah". Seru malaikat.


Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.


Musim haji telah usai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Siapa sebenarnya Ali bin Muwaffaq. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus.


Damaskus tentu saja bukan kota kecil. Mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun, dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.
“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah sederhana itu.
“Wa’alaikum salam”
“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”
“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”.


Singkat cerita. Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya tentang percakapan dua malaikat di tanah suci kepada Ali bin Muwaffaq. Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, "apa sesungguhnya rahasia amalan-amalanmu, wahai Ali bin Muwaffaq?"

****

Ali bin Muwaffaq berkisah. Dia memang tidak jadi berangkat haji. Sesungguhnya dia telah menabung sejak lama. Menumpuk pundi-pundi uang. Hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu siang yang panas. Sebelum dia berangkat ke tanah suci, dia dan istrinya mencium masakan yang sangat sedap.


Istrinya saat itu sedang hamil. Sang istri nyidam menginkan masakan itu. Lalu Ali bin Muwaffaq mencari sumbernya, ternyata dari rumah tetangga. Sang tetangga adalah seorang janda. Anaknya banyak.


Demi sang istri dan calon buah hati, Ali bin Muwaffaq memberanikan diri mengetuk pintu rumah tetangga. Tanpa banyak basa-basi, dia mengutarakan maksud dan tujuan.


Sang tetangga berkata, "Wahai Ali bin Muwaffaq, maafkan aku, makanan ini halal untukku dan anak-anakku. Tetapi haram untuk mu dan istrimu".
"Lho kenapa?", Tanya Ali.
"Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati, tergeletak di pinggir kali. Aku potong dan sayati. Aku memasakknya menjadi masakan ini".


Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq si tukang sol sepatu merasa tertampar sekaligus sangat sedih. "Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan", dalam hati Ali.


Maka dia ambil seluruh uangnya dan diserahkan pada tetangga yang janda itu untuk memberikan makan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak jadi berangkat haji.


Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE