Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifana

Ayahmu bergolongan darah AB, golongan darah jenis ini saya dapat warisan dari ayah saya, kakekmu. Konon penyandang jenis Goldar ini berjumlah sedikit di dunia. Saya cenderung realistis, jarang menyikapi hal-hal yang di luar nalar, tentang kecenderungan psikologi golongan darah  misalnya. Saya tidak begitu percaya. Namun ada satu hal yang saya aminkan, sebagai tabiat golongan darah AB, karena saya juga mengalaminya. Teman-teman saya yang AB juga saya amati seperti saya: Ngantukan.
.
.
Tabiat jenis ini kadang merasa mengganggu aktivitas saya. Saya jarang tidur larut malam. Jika terpaksa harus beraktivitas malam, ketik siang, alam bawah sadar saya menagih untuk tidur. Itu terjadi sejak dulu. Saya pernah, bahkan sering tertidur di kelas saat duduk di bangku SMP.
.
.
Beruntung. Sangat beruntung. Ibumu adalah wanita yang luar biasa, menerima saya dengan segala kejelekannya. Tapi, sejak kehadarinmu April 2017 silam, penyakit ini membawa cerita.
.
.
Saat pertama kali, kami mengajakmu pulang ke rumah dari rumah bersalin.  Adalah sebuah cobaan pertama, air susu ibumu tidak mau keluar. Kamu sangat kelaparan. Kami putuskan untuk membeli susu formula. Namun, susu formula kamu enggan meminumnya. Segala upaya kami lakukan: Ibumu meminum jamu, ramuan-ramuan. Dan mulutmu berusaha, berupaya, terus menerus meminum air susu ibumu. Akhirnya, Tuhan itu Maha tidak teganan kepada kita. Air susu ibu mengalir. Sejak bayimu, kamu adalah perempuan pejuang.
.
.
Tidak sampai di situ. Sejak kamu bayi. Kamu tidak pernah tidur gasik. Paling cepat tidurmu jam 10. Itupun selalu diselingi drama dulu. Saat kamu bayi, tidurmu selepas adzan subuh. Bablas sampai siang, sampai malam. Bangun saat adzan isya menjelang. Dari isya sampai subuh, kamu mengajak kami ronda. Kamu mengajak bermain-main. Tersenyum. Diselingi menangis tentu saja. Kata ibumu yang bidan itu, fase tidur bayi memang wajar begitu. Tapi mungkin tidak denganmu. Sampai 40 hari lebih usiamu.
.
.
Bahkan sampai usiamu menginjak satu tahun. Tidurmu selalu larut malam. Pernah suatu ketika, kamu tidak tidur, hanya untuk menunggu saya pulang dari lembur kerja. Jam 1 dini hari. Ayahmu yang pengantuk berat, kadang ini adalah jalan ninja yang harus saya tempuh.
.
.
Saya pikir, golongan darah kita sama: AB. Dibuktikan pada saat saya kena flu, kamu sangat gampang tertular virus itu. Atau sebaliknya saat kamu pileg. Saya kena juga. Tapi jika dengan fase-fase tidurmu yang terus menerus seperti itu. Saya sangat sangsi. Tapi itu tidak mengapa. Tidak masalah bagi saya. Kamu perempuan pejuang. Sudah sepantasnya kamu menjaga malam.
.
.
Kembali membahas mengantuk. Ada suatu kisah, seseorang dan keluarganya yang selamat dari musibah. Itu karena ia terus terjaga ketika malam. Atau kisah yang rizki, wangsit, wahyu, atau apalah itu sebutannya, yang turun ketika malam. Kisah yang seperti ini, kelak kamu akan banyak menemukannya. Tapi ada suatu kisah. Terjadi pada teman saya. Dulu dia ketua OSIS saat SMA. Beberapa hari yang lalu dia dan keluarganya bepergian ke luar kota. Saat di jalan dia mengantuk berat. Hingga mobil yang dikendarainya oleng menabrak truck yang terparkir di pinggir jalan. Anaknya, yang seusiamu meninggal dunia dalam kecelakan itu. Saya juga seorang ayah. Tapi saya tidak bisa membayangkan suasana hati dia sebagai ayah. Remuk redamlah hatinya.
.
.
Betapa mengantuk itu adalah hal sepele, namun berakibat luar biasa. Maka, ketika kamu demam, badanmu panas. Kami bergantian mengompres tubuh mungilmu, sampai larut malam. Sampai dini hari menjelang.
.
.
Hari ini tidak tahu hari apa, sepertinya hari selasa biasa. Saya hanya ingin berkisah saja. Cepatlah besar matahariku.
Hanya karena aku mendengar lelaki yang berdaham. Tiba-tiba mengguncang pori-pori rindu. Dia hampir mirip dengan bapakku. Rambutnya yang putih nyaris botak. Hidungnya yang mancung. Perawakannya pendek. Caranya mengenakan sepatu. Kumis yang sebagian memutih. Sampai tertawa terbahak yang membuatnya jadi tampak lebih muda.
.
.
Saat-saat tertentu, aku jauh lebih bodoh dari biasanya. Aku yang bukan pecinta burung, mengitari keliling pasar burung. berharap menemukan warna dan suara Jalak yang dulu dipelihara bapak. Tentu saja itu hanya untuk menuntaskan hasrat yang ambigu. Aku benar-benar merindu.
.
.
Dan siang tadi, dengan alasan yang tidak jelas, aku memutuskan membawa diriku menelusuri lorong-lorong itu.

#hariAyah

#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah  Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.

Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah, kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara  usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing hitamkan saja setan. 

Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa. Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain, merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.

Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu  sudah sunatullah. Perseteruan ada di mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji Tuhan, saya  tidak punya kepentingan apa-apa.   

Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik, mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.


11 November 2019
Pertama, aku memohon ampun pada Allah, Tuhan seluruh alam. Atas apa yang selama ini aku lakukan. Kedua, aku meminta maaf yang sangat dalam. Pada banyak pihak yang termaktub secara terbuka atau tersirat dalam catatan ini. Aku tidak bermaksud untuk membuka dosa, aib, atau apapun itu sebutannya. Catatan ini hanya akan diposting di blog pribadiku. Tentu saja di sana sepi. Adapun jika ada pembaca yang mampir, berarti bonus, dan mungkin selebihnya musibah. Tujuan catatan ini adalah pembelejaran untuk anak-anakku kelak. Bahwa masih ada asa untuk Indonesia.
.
.
Difa, anakku. Cuaca akhir oktober tahun ini sangat panas. Di Tegal, tercatat dalam aplikasi hampir mendekati 38 derajat suhu panasnya. Yah, di luar sangat panas, tapi di dalam diri kita harus selalu sejuk. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini [yang mungkin akan membuat bertambah panas], aku sarankan untuk memutar lagu kesukaanmu.
.
.
Ini adalah catatan dari desa, untukmu, Difa. Budayawan asal Semarang pernah menulis, kurang lebih begini: "saya tidak korupsi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk koropsi". Lha mau korupsi bagaimana. Kesempatan tidak ada, jabatan tidak punya. Kewenangan apalagi. Dia menyadari, dia hanya budayawan. Bukan pejabat. Atau konglomerat yang bisa menyuap. Dalam catatan lanjutannya. Dia akan ragu pada dirinya sendiri, jika seandainya dia berada dalam posisi pejabat. Kemungkinan besar, dia tidak akan kuat untuk tidak korupsi.
.
.
Sialnya, laku korupsi, dalam penafsiranku, lebih luas, tidak hanya tentang merugikan uang negara. Menjadi pegawai pemerintahan atau pejabat itu sangat berpeluang untuk korupsi. Tetapi lebih merucut lagi: menjadi seorang hamba penyembah Tuhan juga penuh resiko untuk berlaku korup. Korup imannya, korup ibadahnya, korup shalatnya. Korup zakatnya. Korup hablu minnasnya. Dan lain sebagainya. Dalam arti luas, mungkin aku dan kamu adalah koruptor.
.
.
Sayangnya, aku tidak begitu mendalam memahami undang-undang tindak pidana korupsi di negeri ini. Sebagai pegawai semi pemerintahan, aku masih bisa bernafas lega ketika terlambat. Juga masih bisa menghirup kopi ketika deadline kerja belum terpenuhi. Tidak hanya aku, organisasi- organisasi yang aku dampingi mungkin juga begitu. Mungkin.
.
.
Di tengah iklim kerja yang seharusnya penuh kompetisi sehat, tidak jarang, konflik terjadi dalam organisasi. Terkadang aku sangat menyayangkan. Konflik di tubuh organisasi tidak termanajemen dengan baik. Padahal konflik ini, jika termanajemen dengan rapi, mungkin akan berakibat positif dalam iklim kerja. Perlu sentuhan tangan stake holder di atas tingkat organisasi yang aku dampingi.
.
.
Bagiku, yang pria kagetan. Di dunia ini apa yang tidak anomali. Semua kadang tampak aneh. Aturannya berbunyi A, tapi di lapangan kenyataan adalah B. Bahkan ada yang melenceng jauh, Z!
.
.
Desa adalah miniatur Indonesia. Desa bagian dari Indonesia, ataukah Indonesia  bagian dari desa? Ini sangat penting. Guna menentukan sikap, siapa yang sebenarnya yang paling berwenang. Siapa yang sesungguhnya membutuhkan.
.
.
Catatan ini sangat nanggung. Ditulis seorang pria yang galau. Sok idealis. Tapi seaslinya pragmatis. Jika kata Tan Malaka: 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.' Maka, si pria penulis ini adalah, tidak mempunyai kemewahan apa-apa. Tidak mempunyai kemewahan dalam idealis. Juga tidak punya kemewahan harta benda.
.
.
Ditulis pada hari Blogger Nasional 2019
PROF SURYADI. Profesor muda, guru besar ilmu hadits Uin Sunan Kalijaga. Belajar ilmu hadits dalam kelasnya tidak akan pernah bosan. Mahasiswa diajak menelusuri lorong waktu. Semacam piknik ke masa lalu. Seakan berziarah, sowan ke sumber pusatnya hadits: rasul Muhammad. Berkenalan dengan tokoh-tokoh rawi hadits. (Waladzi Nafsi Biyadih, sampai-sampai aku terbawa mimpi). Mahasiswa juga diajak bernalar kritis. Sangat menyenangkan. Sebagai jomblo saat itu, adalah hiburan yang menggembirakan.
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE