#DearDifana
Ayahmu bergolongan darah AB, golongan darah jenis ini saya dapat warisan dari ayah saya, kakekmu. Konon penyandang jenis Goldar ini berjumlah sedikit di dunia. Saya cenderung realistis, jarang menyikapi hal-hal yang di luar nalar, tentang kecenderungan psikologi golongan darah misalnya. Saya tidak begitu percaya. Namun ada satu hal yang saya aminkan, sebagai tabiat golongan darah AB, karena saya juga mengalaminya. Teman-teman saya yang AB juga saya amati seperti saya: Ngantukan.
.
.
Tabiat jenis ini kadang merasa mengganggu aktivitas saya. Saya jarang tidur larut malam. Jika terpaksa harus beraktivitas malam, ketik siang, alam bawah sadar saya menagih untuk tidur. Itu terjadi sejak dulu. Saya pernah, bahkan sering tertidur di kelas saat duduk di bangku SMP.
.
.
Beruntung. Sangat beruntung. Ibumu adalah wanita yang luar biasa, menerima saya dengan segala kejelekannya. Tapi, sejak kehadarinmu April 2017 silam, penyakit ini membawa cerita.
.
.
Saat pertama kali, kami mengajakmu pulang ke rumah dari rumah bersalin. Adalah sebuah cobaan pertama, air susu ibumu tidak mau keluar. Kamu sangat kelaparan. Kami putuskan untuk membeli susu formula. Namun, susu formula kamu enggan meminumnya. Segala upaya kami lakukan: Ibumu meminum jamu, ramuan-ramuan. Dan mulutmu berusaha, berupaya, terus menerus meminum air susu ibumu. Akhirnya, Tuhan itu Maha tidak teganan kepada kita. Air susu ibu mengalir. Sejak bayimu, kamu adalah perempuan pejuang.
.
.
Tidak sampai di situ. Sejak kamu bayi. Kamu tidak pernah tidur gasik. Paling cepat tidurmu jam 10. Itupun selalu diselingi drama dulu. Saat kamu bayi, tidurmu selepas adzan subuh. Bablas sampai siang, sampai malam. Bangun saat adzan isya menjelang. Dari isya sampai subuh, kamu mengajak kami ronda. Kamu mengajak bermain-main. Tersenyum. Diselingi menangis tentu saja. Kata ibumu yang bidan itu, fase tidur bayi memang wajar begitu. Tapi mungkin tidak denganmu. Sampai 40 hari lebih usiamu.
.
.
Bahkan sampai usiamu menginjak satu tahun. Tidurmu selalu larut malam. Pernah suatu ketika, kamu tidak tidur, hanya untuk menunggu saya pulang dari lembur kerja. Jam 1 dini hari. Ayahmu yang pengantuk berat, kadang ini adalah jalan ninja yang harus saya tempuh.
.
.
Saya pikir, golongan darah kita sama: AB. Dibuktikan pada saat saya kena flu, kamu sangat gampang tertular virus itu. Atau sebaliknya saat kamu pileg. Saya kena juga. Tapi jika dengan fase-fase tidurmu yang terus menerus seperti itu. Saya sangat sangsi. Tapi itu tidak mengapa. Tidak masalah bagi saya. Kamu perempuan pejuang. Sudah sepantasnya kamu menjaga malam.
.
.
Kembali membahas mengantuk. Ada suatu kisah, seseorang dan keluarganya yang selamat dari musibah. Itu karena ia terus terjaga ketika malam. Atau kisah yang rizki, wangsit, wahyu, atau apalah itu sebutannya, yang turun ketika malam. Kisah yang seperti ini, kelak kamu akan banyak menemukannya. Tapi ada suatu kisah. Terjadi pada teman saya. Dulu dia ketua OSIS saat SMA. Beberapa hari yang lalu dia dan keluarganya bepergian ke luar kota. Saat di jalan dia mengantuk berat. Hingga mobil yang dikendarainya oleng menabrak truck yang terparkir di pinggir jalan. Anaknya, yang seusiamu meninggal dunia dalam kecelakan itu. Saya juga seorang ayah. Tapi saya tidak bisa membayangkan suasana hati dia sebagai ayah. Remuk redamlah hatinya.
.
.
Betapa mengantuk itu adalah hal sepele, namun berakibat luar biasa. Maka, ketika kamu demam, badanmu panas. Kami bergantian mengompres tubuh mungilmu, sampai larut malam. Sampai dini hari menjelang.
.
.
Hari ini tidak tahu hari apa, sepertinya hari selasa biasa. Saya hanya ingin berkisah saja. Cepatlah besar matahariku.
Ayahmu bergolongan darah AB, golongan darah jenis ini saya dapat warisan dari ayah saya, kakekmu. Konon penyandang jenis Goldar ini berjumlah sedikit di dunia. Saya cenderung realistis, jarang menyikapi hal-hal yang di luar nalar, tentang kecenderungan psikologi golongan darah misalnya. Saya tidak begitu percaya. Namun ada satu hal yang saya aminkan, sebagai tabiat golongan darah AB, karena saya juga mengalaminya. Teman-teman saya yang AB juga saya amati seperti saya: Ngantukan.
.
.
Tabiat jenis ini kadang merasa mengganggu aktivitas saya. Saya jarang tidur larut malam. Jika terpaksa harus beraktivitas malam, ketik siang, alam bawah sadar saya menagih untuk tidur. Itu terjadi sejak dulu. Saya pernah, bahkan sering tertidur di kelas saat duduk di bangku SMP.
.
.
Beruntung. Sangat beruntung. Ibumu adalah wanita yang luar biasa, menerima saya dengan segala kejelekannya. Tapi, sejak kehadarinmu April 2017 silam, penyakit ini membawa cerita.
.
.
Saat pertama kali, kami mengajakmu pulang ke rumah dari rumah bersalin. Adalah sebuah cobaan pertama, air susu ibumu tidak mau keluar. Kamu sangat kelaparan. Kami putuskan untuk membeli susu formula. Namun, susu formula kamu enggan meminumnya. Segala upaya kami lakukan: Ibumu meminum jamu, ramuan-ramuan. Dan mulutmu berusaha, berupaya, terus menerus meminum air susu ibumu. Akhirnya, Tuhan itu Maha tidak teganan kepada kita. Air susu ibu mengalir. Sejak bayimu, kamu adalah perempuan pejuang.
.
.
Tidak sampai di situ. Sejak kamu bayi. Kamu tidak pernah tidur gasik. Paling cepat tidurmu jam 10. Itupun selalu diselingi drama dulu. Saat kamu bayi, tidurmu selepas adzan subuh. Bablas sampai siang, sampai malam. Bangun saat adzan isya menjelang. Dari isya sampai subuh, kamu mengajak kami ronda. Kamu mengajak bermain-main. Tersenyum. Diselingi menangis tentu saja. Kata ibumu yang bidan itu, fase tidur bayi memang wajar begitu. Tapi mungkin tidak denganmu. Sampai 40 hari lebih usiamu.
.
.
Bahkan sampai usiamu menginjak satu tahun. Tidurmu selalu larut malam. Pernah suatu ketika, kamu tidak tidur, hanya untuk menunggu saya pulang dari lembur kerja. Jam 1 dini hari. Ayahmu yang pengantuk berat, kadang ini adalah jalan ninja yang harus saya tempuh.
.
.
Saya pikir, golongan darah kita sama: AB. Dibuktikan pada saat saya kena flu, kamu sangat gampang tertular virus itu. Atau sebaliknya saat kamu pileg. Saya kena juga. Tapi jika dengan fase-fase tidurmu yang terus menerus seperti itu. Saya sangat sangsi. Tapi itu tidak mengapa. Tidak masalah bagi saya. Kamu perempuan pejuang. Sudah sepantasnya kamu menjaga malam.
.
.
Kembali membahas mengantuk. Ada suatu kisah, seseorang dan keluarganya yang selamat dari musibah. Itu karena ia terus terjaga ketika malam. Atau kisah yang rizki, wangsit, wahyu, atau apalah itu sebutannya, yang turun ketika malam. Kisah yang seperti ini, kelak kamu akan banyak menemukannya. Tapi ada suatu kisah. Terjadi pada teman saya. Dulu dia ketua OSIS saat SMA. Beberapa hari yang lalu dia dan keluarganya bepergian ke luar kota. Saat di jalan dia mengantuk berat. Hingga mobil yang dikendarainya oleng menabrak truck yang terparkir di pinggir jalan. Anaknya, yang seusiamu meninggal dunia dalam kecelakan itu. Saya juga seorang ayah. Tapi saya tidak bisa membayangkan suasana hati dia sebagai ayah. Remuk redamlah hatinya.
.
.
Betapa mengantuk itu adalah hal sepele, namun berakibat luar biasa. Maka, ketika kamu demam, badanmu panas. Kami bergantian mengompres tubuh mungilmu, sampai larut malam. Sampai dini hari menjelang.
.
.
Hari ini tidak tahu hari apa, sepertinya hari selasa biasa. Saya hanya ingin berkisah saja. Cepatlah besar matahariku.