Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Barangkali ini hanya hayalan dan dongeng belaka. Tapi bukan itu poin penting dalam tulisan saya. Levitasi adalah terbang. Manusia bisa terbang. Terbang dengan sesungguhnya, tanpa bantuan alat atau pesawat. Bagaimana mungkin? Saya tidak dalam rangka mendoktrinmu harus percaya ini dan itu. Kebenaran kelak akan kau temukan sendiri.
.
.
Konon bangsa Nusantara, nenek moyangmu adalah bangsa yang memiliki kecanggihan teknologi termutakhir dari bangsa-bangsa di dunia. Borobudur salah satu produk teknologi bangsa kita.
.
.
Di Borobudur ada gambar relief orang dengan posisi melayang, barangkali sejak dulu nenek moyang kita pandai berkhayal. Atau bisa jadi adalah suatu gambaran riyil, digambar sebagai pesan untuk dikirim ke masa depan.
.
.
Seseorang teman Fesbuk saya menulis tentang Levitasi atau Levitation, adalah melakukan perjalanan memperpendek jarak ruang dan waktu, dimana suatu objek melayang tanpa dukungan mekanis.
.
.
Tampilan yang tergambar proporsional presisi pada artefak Borobudur secara konsisten dan berulang-berulang barangkali adalah mencirikan kejadian itu benar terjadi. Levitasi dilakukan dengan memberikan gaya ke atas yang menangkal tarikan gravitasi yaitu proses dimana sebuah objek melayang melawan gaya gravitasi bumi dalam posisi yang setabil.
.
.
Leluhur kita terdahulu sudah berada di level unggul. Telah dan mampu melakukan levitasi tanpa alat dan banyak tampil di relief Borobudur, sementara science saat ini berada di level 1.
.
.
Kita coba pahami fakta sejarah leluhur kita dengan kaca mata sains saat ini: Levitasi magnetik, apakah manusia bisa melakukannya? Dalam ilmu pasti alam jika magnet beda kutub di dekat kan akan tarik menarik dan jika sama kutub akan saling tolak. Itu hukum alam.
.
.
Jika bumi ini adalah satu kutub magnet dan manusia membuat juga medan magnet yang sejenis tentu manusia dapat menolak tarikan kutub magnet bumi dengan cara mengelola fisik manusia tersebut. Mengakselerasi unsur-unsur inti dalam tubuh. membentuk magnet, sehingga tubuh mempunyai medan magnet yang sejenis dengan medan magnet bumi. Dalam keadaan seperti ini pasti tubuh akan melayang karena medan magnet bumi dan tubuh sejenis sehingga tubuh tertolak oleh medan magnet bumi. Bagaimana mungkin unsur di tubuh manusia bisa dikondisikan? Nenek moyang kita telah melakukannya.
.
.
Dengan kontemplasi spiritual memaksimalkan daya energi tubuh di dalam mitokondria mengaktifkan proses fusi ATP. Kemudian membuat medan gaya magnet sejenis dengan kutub bumi. Menjadikan tubuh fisik menolak medan magnit gravitasi bumi. Sangat memungkinkan tubuh fisik manusia dapat melayang.
.
.
ATP adalah nukleosida trifosfat yang mengandung adenosina yang mengeluarkan energi bebas ketika ikatan fosfatnya dihidrolisis. Energi ini digunakan untuk menggerakkan reaksi endergonik. Mitokondria menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat. ATP reaktor fusi unsur oksigen dan hidrogen di dalam bagian terkecil tubuh manusia yang bernama Mitokondria penghasil energi dalam fisika.
.
.
Energi adalah properti fisika dari suatu objek. Bisa berpindah melalui interaksi fundamental yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Yang dikenal dengan hukum kekekalan energi. Menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat.
.
.
ATP pembangkit energi menciptakan medan magnet sejenis dengan magnet bumi sehingga terjadi saling tolak antara tubuh dan bumi dan levitasi dimungkinkan terjadi.
.
.
Proses manusia mencapai tingkat tertentu hingga berkemampuan untuk berlevitasi dilakukan dengan prosesi kontemplasi Tapa-brata, istilah Jawa. Menyepi dan sunyi.
.
.
Leluhur Nusantara terdahulu sudah dapat melakukan teleportasi, telepati, levitasi juga menembus langit melintasi jagat raya dan mengelola Bulan. Maka selaras, ketika kau kelak besar nanti mendengar kisah-kisah para Wali sembilan tanah Jawa yang harus kumpul di Jawa Timur detik ini. Padahal asal dari para wali tersebut jauh, ada yang Jawa Barat dan lain sebagainya.
.
.
Kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar untuk membuat bangga berlebihan kita sebagai anak turun Nusantara. Tapi juga motivasi. Kenapa kita hidup hanya meributkan soal politik dan agama saja.
.
.
*****
Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan hangat saya yang dulu bersama di Jogja. Dia asal Jepara. Dan kini tinggal di Semarang. Dia pernah mengalami apa itu levitasi.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Hari ini adalah hari ketiga saya mendekam di rumah sakit. Mungkin ini kali pertama saya harus bernostalgia ditusuk-tusuk jarum suntik. Pertama kenal jarum suntik dan infus adalah saat kena gigit nyamuk DB, kira-kira umur saya waktu itu 5 tahun. Sudah lupa rasanya
.
.
Orang kecil seperti kita dalam memandang peristiwa, tentu saja harus lihat dari sudut pandang hikam. Kalau tidak, tentu kita akan banyak sambat selebihnya misuwur. Pun dengan apa yang saya alami beberapa hari ini. Meskipun saya yang sakit, saya yang tidak tega adalah kepada ibumu.
.
.
Meskipun banyak sanak, sodara, teman datang menangung rasa itu. Ibumu tetap saja memikul berat beban fisik dan psikologis. Itulah kenapa, Nak. Ketika saya sehat. Saya tidak segan-segan untuk  mencuci pakaian keluarga kita, mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Sekedar mengurangi beban fisik yg ditanggung ibumu. "Apa bapak tidak malu, melakukan pekerjaan perempuan?" kelak mungkin ketika kau dewasa bertanya seperti itu. Tidak Nak, bagi saya pekerjaan sebenarnya tidak berjenis kelamin. Kita saja yang sering mengkotak-kotakkan.
.
.
Semalam ibumu berkirim kabar. Kamu ingin jalan-jalan ketempat bapak (RS). Tentu saja itu tidak akan dilakukan, karena hari sudah malam. Dan kau masih kecil, rentan tertular penyakit. Saya akan segera sembuh, nak. Setelah sembuh, akan bergaya hidup sehat. Saya akan menyaksikanmu bergembira, tumbuh kembang menelusuri lorong-lorong liku dunia.
.
.
Kisah rumah sakit itu berawal ketika saya pulang dari pekerjaan di luar kota. Sebenarnya saya enggan menuduh siapa dan mengapa bisa terjadi. Wong ini sudah sunatullah. Tapi untukmu akan aku ceritakan, siapa tahu kamu bisa mengambil hikmahnya.
.
.
Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan saya dalam tekanan pekerjaan. Tibalah saatnya, kantor mengundang kami untk melakukan sesuatu. Semacam piknik. Saya sudah komunikasi dengan ibumu. Pada acara itu saya akan ijin saja. Karena tempat yang cukup jauh, ditambah cuaca yang ekstrim. Di sana kebalikannya cuaca dari kota kita. Selain itu, hari-hari tugas saya hampir tidak pernah ijin. Alasan yang peling melankolis: sejujurnya saya tidak tega meninggalkan kalian hanya untuk sekedar pesta.
.
.
Namun ibumu mendesak saya, untuk berangkat saja, karena selain sayang [eman-eman], ini adalah kesempatan liburan gratis. Percayalah, sampai di sini, saya sedang tidak menyudutkan ibumu. Akhirnya saya berangkat.
.
.
Singkat cerita, di sana saya makan kambing guling. Sebuah makanan yang asing bagi perut saya. Orang proletariat seperti kita memang tidak cocok dengan makanan seperti itu. Kita sudah terlalu akrab dengan tahu tempe. Tapi jika tahu dan tempe terus menerus, asam urat mengintai. Memang terlalu sulit kita hidup di Indonesia. Tapi ada seribu cara untuk bergembira.
.
.
Sepulang dari kegiatan itulah. Demam tidak kunjung turun, vertigo semakin menjadi. Ahad pagi, ketika seluruh dokter sedang berolahraga. Tidak ada dokter yang buka. Instalasi Gawat Darurat adalah tujuan utama.
.
.
Betapa sakit itu sama sekali tidak enak. Sehat itu anugrah luar biasa.
#DearDifana

Ayahmu bergolongan darah AB, golongan darah jenis ini saya dapat warisan dari ayah saya, kakekmu. Konon penyandang jenis Goldar ini berjumlah sedikit di dunia. Saya cenderung realistis, jarang menyikapi hal-hal yang di luar nalar, tentang kecenderungan psikologi golongan darah  misalnya. Saya tidak begitu percaya. Namun ada satu hal yang saya aminkan, sebagai tabiat golongan darah AB, karena saya juga mengalaminya. Teman-teman saya yang AB juga saya amati seperti saya: Ngantukan.
.
.
Tabiat jenis ini kadang merasa mengganggu aktivitas saya. Saya jarang tidur larut malam. Jika terpaksa harus beraktivitas malam, ketik siang, alam bawah sadar saya menagih untuk tidur. Itu terjadi sejak dulu. Saya pernah, bahkan sering tertidur di kelas saat duduk di bangku SMP.
.
.
Beruntung. Sangat beruntung. Ibumu adalah wanita yang luar biasa, menerima saya dengan segala kejelekannya. Tapi, sejak kehadarinmu April 2017 silam, penyakit ini membawa cerita.
.
.
Saat pertama kali, kami mengajakmu pulang ke rumah dari rumah bersalin.  Adalah sebuah cobaan pertama, air susu ibumu tidak mau keluar. Kamu sangat kelaparan. Kami putuskan untuk membeli susu formula. Namun, susu formula kamu enggan meminumnya. Segala upaya kami lakukan: Ibumu meminum jamu, ramuan-ramuan. Dan mulutmu berusaha, berupaya, terus menerus meminum air susu ibumu. Akhirnya, Tuhan itu Maha tidak teganan kepada kita. Air susu ibu mengalir. Sejak bayimu, kamu adalah perempuan pejuang.
.
.
Tidak sampai di situ. Sejak kamu bayi. Kamu tidak pernah tidur gasik. Paling cepat tidurmu jam 10. Itupun selalu diselingi drama dulu. Saat kamu bayi, tidurmu selepas adzan subuh. Bablas sampai siang, sampai malam. Bangun saat adzan isya menjelang. Dari isya sampai subuh, kamu mengajak kami ronda. Kamu mengajak bermain-main. Tersenyum. Diselingi menangis tentu saja. Kata ibumu yang bidan itu, fase tidur bayi memang wajar begitu. Tapi mungkin tidak denganmu. Sampai 40 hari lebih usiamu.
.
.
Bahkan sampai usiamu menginjak satu tahun. Tidurmu selalu larut malam. Pernah suatu ketika, kamu tidak tidur, hanya untuk menunggu saya pulang dari lembur kerja. Jam 1 dini hari. Ayahmu yang pengantuk berat, kadang ini adalah jalan ninja yang harus saya tempuh.
.
.
Saya pikir, golongan darah kita sama: AB. Dibuktikan pada saat saya kena flu, kamu sangat gampang tertular virus itu. Atau sebaliknya saat kamu pileg. Saya kena juga. Tapi jika dengan fase-fase tidurmu yang terus menerus seperti itu. Saya sangat sangsi. Tapi itu tidak mengapa. Tidak masalah bagi saya. Kamu perempuan pejuang. Sudah sepantasnya kamu menjaga malam.
.
.
Kembali membahas mengantuk. Ada suatu kisah, seseorang dan keluarganya yang selamat dari musibah. Itu karena ia terus terjaga ketika malam. Atau kisah yang rizki, wangsit, wahyu, atau apalah itu sebutannya, yang turun ketika malam. Kisah yang seperti ini, kelak kamu akan banyak menemukannya. Tapi ada suatu kisah. Terjadi pada teman saya. Dulu dia ketua OSIS saat SMA. Beberapa hari yang lalu dia dan keluarganya bepergian ke luar kota. Saat di jalan dia mengantuk berat. Hingga mobil yang dikendarainya oleng menabrak truck yang terparkir di pinggir jalan. Anaknya, yang seusiamu meninggal dunia dalam kecelakan itu. Saya juga seorang ayah. Tapi saya tidak bisa membayangkan suasana hati dia sebagai ayah. Remuk redamlah hatinya.
.
.
Betapa mengantuk itu adalah hal sepele, namun berakibat luar biasa. Maka, ketika kamu demam, badanmu panas. Kami bergantian mengompres tubuh mungilmu, sampai larut malam. Sampai dini hari menjelang.
.
.
Hari ini tidak tahu hari apa, sepertinya hari selasa biasa. Saya hanya ingin berkisah saja. Cepatlah besar matahariku.
Hanya karena aku mendengar lelaki yang berdaham. Tiba-tiba mengguncang pori-pori rindu. Dia hampir mirip dengan bapakku. Rambutnya yang putih nyaris botak. Hidungnya yang mancung. Perawakannya pendek. Caranya mengenakan sepatu. Kumis yang sebagian memutih. Sampai tertawa terbahak yang membuatnya jadi tampak lebih muda.
.
.
Saat-saat tertentu, aku jauh lebih bodoh dari biasanya. Aku yang bukan pecinta burung, mengitari keliling pasar burung. berharap menemukan warna dan suara Jalak yang dulu dipelihara bapak. Tentu saja itu hanya untuk menuntaskan hasrat yang ambigu. Aku benar-benar merindu.
.
.
Dan siang tadi, dengan alasan yang tidak jelas, aku memutuskan membawa diriku menelusuri lorong-lorong itu.

#hariAyah

#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah  Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.

Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah, kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara  usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing hitamkan saja setan. 

Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa. Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain, merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.

Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu  sudah sunatullah. Perseteruan ada di mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji Tuhan, saya  tidak punya kepentingan apa-apa.   

Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik, mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.


11 November 2019

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE