Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifaa
Sebelum ini, Bikini Bottom belum pernah merayakan natal. Setelah Sandy si tupai yang hijrah dari Texas merayakannya. Rumah Sandy yang kedap air dihias dengan ornamen pohon dan lampu natal, Spongsbob yang melihat merasa aneh. Kemudian Sandy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah hari raya besar, semua makhluk dan alam raya bergembira. Penuh suka cita. Natal.
.
.
Suatu hal yang kental dengan nuansa natal, adalah kedatangan Santa yang memberi hadiah kepada anak-anak yang baik dan saleh. Sandy juga menjelaskan itu kepada Spongsbob. Kita semua tahu, Spongsbob itu sangat lugu. Dan ia langsung percaya begitu saja.
.
.
Sepulang dari rumah Sandy, Spongsbob menyebarkan kisah natal dan Santa dengan hadiahnya ke seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua wargapun percaya dengan kisah Spongsbob. Mereka menghiasi rumah-rumah mereka dengan ornamen khas natal. Semua warga Bikini Bottom berbahagia menyambut natal, kecuali Squidward. Dia sama sekali tidak percaya apa itu Santa dan hadiah-hadiahnya. Dia golongan kafir. Atau mungkin agnostik.
.
.
Saat semua warga berkumpul di malam dingin penuh salju untuk menyambut kedatangan Santa. Squidward tertawa menghina. Dia berkata, bahwa Santa itu hanya dongeng belaka. Namun, warga masih yakin dengan cerita yang dibawa Spongsbob, mereka bernyanyi-nyanyi khas gereja.
.
.
Sampai larut malam, mereka terus bernyanyi dan berharap. Namun Santa tak kunjung tiba. Sampai pagi masih ada yang nyanyi, hingga tenggorokan mereka kering. Dan bibir mereka ndower. Mereka akhirnya bubar. Mereka kecewa dengan cerita Spongsbob. Spongsbob pembohong besar.
.
.
Mata Spongsbob sembab setelah menangisi nasibnya, ternyata Santa itu memang benar tidak nyata. Saat down itu lah Squidward mendatangi Spongsbob dengan nanar mata menghina serta mulut tertawa. Spongsbob yang sedang bersedih, memberikan sebungkus kado untuk Squidward. Mulanya, Squidward tidak bergeming, itu hanya kado biasa. Mungkin saja bekas celana dalamnya. Setelah dibuka, ternyata isi kado tersebut adalah Klarinet, alat musik kesukaan Squidward. Klarinet itu terbuat dari jenis kayu yang sudah hampir punah. Bahkan di sisi tengah Klarinet itu terukir nama "Squidward".
.
.
Squidward tentu saja sangat gembira. Namun ia tidak bisa melihat pria kecil malang yang menjadi tetangganya itu terus bersedih. Akhirnya Squidward memutuskan untuk menyamar menjadi Santa. Dalam rangka membuat Spongsbob bahagia.
.
.
Squidward lengkap dengan jenggot putih tebal dan topi merah putih serta kostum Santa siap membuat Spongsbob gembira. Spongsbob yang mengira bahwa itu adalah Santa beneran mulanya menggandeng anak kecil untuk meminta hadiah ke Santa. Squidward si Santa palsu itu bingung, dia tidak punya kado apa-apa. Dia masuk kedalam rumahnya. Menimbang apakah ada barang yang pas untuk hadiah anak kecil. Dia menemukan sisir rambut. Dia hadiahi anak itu. Anak tersebut menerima dan pulang dengan gembira. Tentu saja Spongsbob juga sangat bahagia. Ia berterimakasih pada Santa yang telah membawa natal ke Bikini Bottom.
.
.
Ternyata tidak sampai di sana. Warga yang semalam berkumpul dan menyanyi ternyata kini sudah antri. Mereka juga menginkan hadiah juga dari Santa. Maka seluruh perabotan rumah Squidward ludes dibagi-bagi sebagai hadiah. Sofa, meja, kursi, piano, dan lain-lain tidak tersisa sama sekali. Squidward marah kepada dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia. Hanya karena Spongsbob dia melakukan hal yang paling bodoh.
.
.
Saat marah-marah itulah, seseorang mengetok pintu rumah Squidward. Dia berkata dengan nada marah, "Silahkan bawa pintu itu, hanya itu yang tersisa". Namun setelah dibuka. Ternyata itu adalah Santa asli. Seorang pak tua dengan Rusa terbangnya, "Terimakasih Squidward, telah membawa natal ke Bikini Bottom". Squidward yang agnostik, kini ia benar-benar beriman.
****

Selamat natal untuk teman-temanku yang merayakannya. Damai selalu.
#DearDifaa
Jika ditanya kepada saya, apa yang paling menyenangkan di dunia ini? Akan aku jawab. Menikmati, menemani tiap fase tumbuh kembangmu, adalah hal yang paling membahagiakan. Sangat menyenangkan.
.
.
Barangkali, saya adalah lelaki pertama yang mencintaimu di dunia ini. Setelah nanti, suatu saat ada lelaki lain yang akan merasa paling mencintaimu ketimbang saya. Saya masih ingat, bagaimana dulu kamu belajar merangkak, berlatih berjalan. Kemudian Ibumu membelikan sandal dan sepatu yang berbunyi "cit" ketika diinjak. Jika melihatmu hari ini, yang sudah besar, mampu bercerita, merajuk, mengambek, dan tertawa adalah suatu keajaiban bagi saya. Karena saya melihatmu dulu, menggendongmu yang masih bayi berwarna merah baru lahir. Dan sekarang tiba-tiba sudah besar. Luar biasa.
.
.
Difa, bagi saya, parenting adalah pekerjaan yang paling luas cakupannya di dunia. dan besar pula peluang gagalnya. Maka dari itu, saya dan Ibumu tidak benar-benar mengadopsi sepenuhnya pelajaran parenting yang kami dapatkan dari orang tua kami. Ada yang kami terapkan, ada juga yang kami buang, karena tidak sesuai kondisi jamanmu. Bukan berarti kami sok-sokan menganggap orang tua kami telah gagal dalam mendidik, justru kami sangat bersyukur bisa mendapatkan pendidikan oleh nenek dan kekek dari Ibu dan Bapakmu.
.
.
Barangkali saya terlalu memanjakanmu. Memperbolehkanmu menonton Upin Ipin selepas shalat magrib. Juga memberimu menonton Youtube Kids saat kamu merengek, kemudian Ibumu agak keras memberi batasan waktu. Sejujurnya, saya sedang menerapkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib dawuhkan: perlakukan anakmu 0-7 tahun seperti raja.
.
.
Ketahuilah, Nak. Selagi itu tidak membahayakan keselamatanmu. Tidak mengganggu kesehatanmu. Tidak berbenturan dengan norma. Dan semua itu membahagiakanmu, saya akan mengatakan "iya" untukmu. Akan tetapi sambung Imam Ali: Perlakukan anakmu 7-20 tahun seperti tawanan perang.
.
.
Mungkin saya akan keras di usiamu pada fase itu. Jika saya tidak tega, mungkin Ibumu lebih keras dari saya. Imam Ali melanjutkan: Perlakukan anakmu di atas 20 tahun seperti teman. Semoga, jika umur saya panjang, saya akan menjadi teman diskusimu yang insya Allah asik.
.
.
Selain parenting, ada yang lebih penting. Yaitu belajar bersamamu. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi orang baik. Bapakmu yang malas ke mushola, tiba-tiba harus shalat berjamaah di sana. Itu semua karena rengekanmu. Saya kadang merasa terenyuh, di usiamu yang belum genap 3 tahun mampu menyanyikan Asma Alhusna, meskipun belum lengkap 99 nama. Juga kadang merasa bangga, saat kamu melafalkan bismillah dan melalarkan doa-doa. Juga kamu menyanyi-nyanyi lagu bahasa Inggris yang saya tidak mengerti.
.
.
Meskipun saya harus sadar, kebanggaan itu sebenarnya milik Allah, kamu tidak perlu berlomba-lomba dengan sesama manusia. Kamu tidak perlu mengalahkan siapa-siapa untuk terlihat hebat luar biasa.
.
.
Ada hal lucu yang perlu dicatat agar selalu ingat. Saya sering mengapresiasimu karena tindakanmu, dengan mengacungkan jempol dan berkata: "mantap jiwa". Suatu sore yang hujan, kamu berkata pada Ibumu, "Mama, mantap jiwane yaya". "Mama, mantap jiwanya sakit". Sambil menunjukan jempolmu yang lecet terkena mainan. Ahhh Nadifaa...
#DearDifaa
Sejarah itu tidak selalu penuh heroisme dan menyenangkan. Ada juga sejarah yang menceritakan kekelaman. Tapi bukan kekelaman, point dalam catatan ini. Kisah ini mungkin akan ada padanannya nanti di jamanmu. Ini kisahnya: Pernah suatu ketika, saat muktamar organisasi ormas Islam terbesar Indonesia, Nahdhatul Ulama, di Jombang tahun 2015. Dalam pemilihan ketua umumnya penuh intrik dan trik serta kental atmosfir politik.
.
.
Tentu saja, saya tidak bisa bercerita terus terang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sejarah terus berulang. Tokohnya saja yang berbeda. Saat itu, Kiai yang saya hormati dan panuti, KH. Mustofa Bisri, yang sering disebut Gus Mus, mengasingkan diri. Beliau pergi dari perhelatan Muktamar yang penuh hingar bingar. Beliau salah satu tokoh sentral, yang ngendikanya menjadi pertimbangan.
.
.
Dalam suatu kesempatan, Cak Nun, sahabatnya Gus Mus, mengomentari, kurang lebih begini: Gus Mus itu orang baik. Allah tidak tega kepada Gus Mus. Beliau diberi Allah meripatnya ditutupi untuk melihat hal-hal yang tidak baik. Terutama dalam Muktamar itu.
.
.
Kita bukan kelas Ulama, bukan pula  Brahmana, bukan juga satria. Kita hanya kelas proletar. Kita tidak bisa mengklaim, bahwa kita orang baik. Namun tidak ada salahnya kita mencoba menjadi pribadi baik. Berupaya, berusaha, berproses menjadi orang baik. Sering saya mengingatkan kepada diri saya sendiri. Yang paling berat saat ini bukan rindu, tapi idealisme.
.
.
Pekerjaan kedepan ternyata jauh lebih berat. Tapi pekerjaan dulu juga ada hikam, selain saling mengenal dengan banyak kawan. Saya pernah menjadi guru honorer, gaji 400 ribu, saat kamu masih bayi. Gaji segitu pada jaman itu, cukup untuk mengebul dapur rumah kita. Saya pernah meninggalkanmu yang terlelap, di senin subuh yang dingin. Menembus kabut gunung Slamet. Mengajar di kampus negeri dengan honor pas-pasan untuk transport. Juga pernah menjadi penerjemah abal-abal di sebuah media bahasa Arab, yang honornya tidak seberapa, namun dimanajemen sedemikian rupa oleh Ibumu untuk membelikanmu sepeda roda tiga.
.
.
Saya pernah menjadi aktivis. Teman-teman diluar organisasi, menilai organisasi saya borjuis. Tapi saat mendengarkan lagu film sound track Soe Hok Gie yang dinyanyikan bang Duta, saya merasa sebagai aktivis sosialis. Begitulah kehidupan, penuh kebisingan.
.
.
Jika kata Cak Nun, Allah itu ndak tega kepada Gus Mus untuk memperlihatkan keburukan. Saat ini, saya tidak benar-benar mengerti. Allah sedang dalam rangka apa kepada saya memperlihatkan semua ini. Tahun lalu, saya mengajukan proposal kepada Allah melalui catatan: Proposal kepada Allah. Tahun itu memang belum dikun oleh Allah. Tapi sebagai makhluk, kita senantiasa untuk husnuzon kepada Allah. Barangkali Allah menyiapkan yang lebih istimewa, sesuatu yang lebih besar, juga menantang. Semoga tahun ini diacc. Cukup sudah saya melihat neraka yang seolah tampak surga. Menggiurkan. Namun mematikan.


Kota Tegal, 24 Desember 2019.
Ingatanku kategori ingatan pendek. Untuk mensiasati hal ini kadang aku menulis catatan-catatan acara penting dalam memo handphone. Selain ingatan yang pendek, keburukanku adalah berubah pikiran: pagi tempe, sore  kedelai. Teman dekatku paham betul akan ini.
.
.
Tapi semua aku syukuri dan nikmati. Karena ada seorang teman yang lebih parah dari ingatan pendekku. Dan seorang teman yang lain ada yang lebih parah plin-plan dariku.
.
.
Catatan ini dalam rangka untuk mengingat. Aku pernah mendaftar, berjuang, dan mendambakan sebagai seorang CPNS. Jika suatu saat nanti aku mengolok-olok profesi PNS ini, aku harus tilik catatan ini. Bahwa sejujurnya aku pernah diam-diam menginkannya.
.
.
Dulu, saat-saat idealisme dijunjung tinggi. Aku sok-sokan tidak butuh duit. Pada kenyataannya, ketika kebutuhan sebagai seorang bapak mendesak, apapun aku lakukan. Pun dengan CPNS ini. Tahun 2018 adalah tahun-tahun yang melelahkan. Ketika aku dulu lolos administrasi dan mengerjakan soal, kemudian gagal. Tahun 2018 ini juga merupakan catatan panjang. Sekitar 10 daftar pertemananku banyak yang lolos CPNS. Sebuah angka yang luar biasa bagiku.
.
.
Aku pikir, menjadi seorang non CPNS itu harus kreatif. Tidak perlu menjilat untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak usah menggonggong untuk menjadi perhatian. Hidup tidak seasu itu. Kemampuanku hanya sebatas itu. Dan semua harus aku syukuri, jalani, dan nikmati. Kadang aku menasihati diri, membesarkan hatiku sendiri. Bahwa, di manapun aku berada. Aku harus anfa'ahum linnas.
.
.
Catatan ini juga, menjadi pengingat. Bahwa ketika kelak suatu saat nanti aku menolak paham 'Dunia Tanpa Kompetisi', tanpa lomba. Catatan ini menjadi tesis dan mungkin antitesis: Aku pernah berlomba dan kalah.
.
.
Akhirnya dengan berbesar hati, aku ucapkan selamat untuk teman-temanku yang lolos. Kalian luar biasa.
#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa

Barangkali ini hanya hayalan dan dongeng belaka. Tapi bukan itu poin penting dalam tulisan saya. Levitasi adalah terbang. Manusia bisa terbang. Terbang dengan sesungguhnya, tanpa bantuan alat atau pesawat. Bagaimana mungkin? Saya tidak dalam rangka mendoktrinmu harus percaya ini dan itu. Kebenaran kelak akan kau temukan sendiri.
.
.
Konon bangsa Nusantara, nenek moyangmu adalah bangsa yang memiliki kecanggihan teknologi termutakhir dari bangsa-bangsa di dunia. Borobudur salah satu produk teknologi bangsa kita.
.
.
Di Borobudur ada gambar relief orang dengan posisi melayang, barangkali sejak dulu nenek moyang kita pandai berkhayal. Atau bisa jadi adalah suatu gambaran riyil, digambar sebagai pesan untuk dikirim ke masa depan.
.
.
Seseorang teman Fesbuk saya menulis tentang Levitasi atau Levitation, adalah melakukan perjalanan memperpendek jarak ruang dan waktu, dimana suatu objek melayang tanpa dukungan mekanis.
.
.
Tampilan yang tergambar proporsional presisi pada artefak Borobudur secara konsisten dan berulang-berulang barangkali adalah mencirikan kejadian itu benar terjadi. Levitasi dilakukan dengan memberikan gaya ke atas yang menangkal tarikan gravitasi yaitu proses dimana sebuah objek melayang melawan gaya gravitasi bumi dalam posisi yang setabil.
.
.
Leluhur kita terdahulu sudah berada di level unggul. Telah dan mampu melakukan levitasi tanpa alat dan banyak tampil di relief Borobudur, sementara science saat ini berada di level 1.
.
.
Kita coba pahami fakta sejarah leluhur kita dengan kaca mata sains saat ini: Levitasi magnetik, apakah manusia bisa melakukannya? Dalam ilmu pasti alam jika magnet beda kutub di dekat kan akan tarik menarik dan jika sama kutub akan saling tolak. Itu hukum alam.
.
.
Jika bumi ini adalah satu kutub magnet dan manusia membuat juga medan magnet yang sejenis tentu manusia dapat menolak tarikan kutub magnet bumi dengan cara mengelola fisik manusia tersebut. Mengakselerasi unsur-unsur inti dalam tubuh. membentuk magnet, sehingga tubuh mempunyai medan magnet yang sejenis dengan medan magnet bumi. Dalam keadaan seperti ini pasti tubuh akan melayang karena medan magnet bumi dan tubuh sejenis sehingga tubuh tertolak oleh medan magnet bumi. Bagaimana mungkin unsur di tubuh manusia bisa dikondisikan? Nenek moyang kita telah melakukannya.
.
.
Dengan kontemplasi spiritual memaksimalkan daya energi tubuh di dalam mitokondria mengaktifkan proses fusi ATP. Kemudian membuat medan gaya magnet sejenis dengan kutub bumi. Menjadikan tubuh fisik menolak medan magnit gravitasi bumi. Sangat memungkinkan tubuh fisik manusia dapat melayang.
.
.
ATP adalah nukleosida trifosfat yang mengandung adenosina yang mengeluarkan energi bebas ketika ikatan fosfatnya dihidrolisis. Energi ini digunakan untuk menggerakkan reaksi endergonik. Mitokondria menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat. ATP reaktor fusi unsur oksigen dan hidrogen di dalam bagian terkecil tubuh manusia yang bernama Mitokondria penghasil energi dalam fisika.
.
.
Energi adalah properti fisika dari suatu objek. Bisa berpindah melalui interaksi fundamental yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Yang dikenal dengan hukum kekekalan energi. Menggunakan energi dari gradien konsentrasi ion hidrogen untuk membuat adenosina trifosfat.
.
.
ATP pembangkit energi menciptakan medan magnet sejenis dengan magnet bumi sehingga terjadi saling tolak antara tubuh dan bumi dan levitasi dimungkinkan terjadi.
.
.
Proses manusia mencapai tingkat tertentu hingga berkemampuan untuk berlevitasi dilakukan dengan prosesi kontemplasi Tapa-brata, istilah Jawa. Menyepi dan sunyi.
.
.
Leluhur Nusantara terdahulu sudah dapat melakukan teleportasi, telepati, levitasi juga menembus langit melintasi jagat raya dan mengelola Bulan. Maka selaras, ketika kau kelak besar nanti mendengar kisah-kisah para Wali sembilan tanah Jawa yang harus kumpul di Jawa Timur detik ini. Padahal asal dari para wali tersebut jauh, ada yang Jawa Barat dan lain sebagainya.
.
.
Kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar untuk membuat bangga berlebihan kita sebagai anak turun Nusantara. Tapi juga motivasi. Kenapa kita hidup hanya meributkan soal politik dan agama saja.
.
.
*****
Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan hangat saya yang dulu bersama di Jogja. Dia asal Jepara. Dan kini tinggal di Semarang. Dia pernah mengalami apa itu levitasi.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE