#DearDifa
Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".
Guci, 27 Desember 2019.
Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".
Guci, 27 Desember 2019.