Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#Dear Difa
Saya menemukan gambar ini di Sosmed. Kurang lebih maknanya begini: 
Petugas kebersihan di Teheran, Iran memberitahu puterinya: "Puteriku, jangan kau beritahu kepada seorangpun tentang ayahmu yang bekerja menjadi petugas kebersihan kota, nanti semua orang membulymu. Kemudian ia pergi mencari sang ayah. Lalu ia memotret momen ini bersama ayahnya, dan ia tulis, "Inilah ayahku. Dan aku bangga padanya".
.
.
#DearDifa, Suatu saat jika kamu malu memiliki bapak pendosa. Saya tidak apa-apa.

#DearDifaa

Saat duduk santai bersama, melepas lelah, teman kerja saya yang usianya jauh dari saya membuka obrolan.
"Orang tua masih komplit?".
"Tinggal Ibu". Jawab saya
"Orang tua saya sudah tidak ada semua".
Dia bercerita, bagaimana dulu saat kecil hidup begitu bahagia, kedua orang tua masih ada semua. Kini sudah tidak ada.
.
.
Dulu, semua tetangga kanan kiri rumah masih ada, Uwak (budhe-pakdhe) masih komplit. Kini satupun sudah tak ada. Hidup seolah begitu cepat. Dia berkisah, Bapaknya meninggal ketika usianya 17 tahun. 0-10 tahun dia menyadari perilakunya belum ndolor. 10-17 tahun itulah masa dimana dia mengenal Bapaknya. Fase dimana dia ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Jadi, dia belajar mengenal bapaknya dalam kurun waktu 7 tahun. Waktu yang begitu cepat untuk dilalui.
.
.
Kini jumlah anaknya 3. Dia bercerita. Saat dia berkendara, dia selalu berdoa sepanjang jalan. Agar selalu dilimpahi keselamatan.
.
.
Akhir-akhir ini, WAG (WA Gropup) team kerja kami selalu ada saja yang membagikan berita duka. Setidaknya seminggu sekali. Rentetan nestapa itu selalu menghiasi percakapan kami. Maka, ketika teman saya tadi mengajak merenung. Sudah siapkah bekal kita. Sedang kualitas ibadah masih seperti itu saja.
.
.
26 Desember 15 tahun yang lalu, ribuan nyawa melayang di Aceh. Kejadian Tsunami itu menegaskan kan bahwa manusia itu tidak punya kekuatan atau kuasa. Digebyur air ajur. Ditiup angin kawur. Dibakar geseng.
.
.
Sore tadi, setelah kemarin saya berbincang dengan rekan kerja tentang kematian. Dibawah rintik-rintik hujan, saya membuka WhatsApp. Komandan saya membagikan berita salah satu teman saya sudah tiada. Begitu cepatnya. H. Akhmad Salimi Bin Tasori.. Alfatihah...
#DearDifa

Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".


Guci, 27 Desember 2019.

#DearDifa
Kisah ini saya dapatkan dari teman MTs (SMP). Dia bekerja di Kedubes Aljazair. Sore itu dia kedatangan tamu. Seorang Alim. Beliau adalah pengasuh sebuah zawiyah [pesantren] di salah satu provinsi di Aljazair yang berjarak sekitar lima jam dari ibukota.
.
.
Kedatangan beliau ke kantornya memang sebuah agenda. Kebetulan pimpinan menyampaikan ingin bertemu beliau dan kebetulan hari itu juga beliau di ibukota sedang mengantarkan keluarganya yang akan pulang liburan ke negara asal.
.
.
Kedatangan beliau ke kantor, selain membicarakan program kerjasama,  beliau juga diamanahi untuk mengelola zawiyah oleh abahnya. Tahun  2018 zawiyah beliau telah memberikan beasiswa untuk 53 santri asal Indonesia. dan ditahun 2019 memberikan beasiswa lagi untuk 37 santri Indonesia yang menghafal Alquran di zawiyah beliau. Di kantor itulah mereka berbagi tentang banyak hal.
.
.
Di antara hal yang beliau bagi ke teman saya adalah tentang metode parenting  anak. Beliau menceritakan anak salah seorang kawan beliau yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk cinta kepada nabi.
.
.
Alkisah, beliau mempunyai kawan yang anaknya setiap diucapkan nama kanjeng nabi Muhammad Saw. selalu memegang dadanya seolah-olah nama Muhammad menghujam di hatinya. Si anak merasakan kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam kepada nabi.
.
.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada temannya yang merupakan ayah dari anak tersebut, apakah sang anak pura-pura atau memang kenyataan demikian. sang ayah menjawab, bahwa hal tersebut adalah benar adanya. Sang ayah mulai cerita. Sejak kecil, sang anak telah dididik untuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap kali anak tersebut berbuat baik, malam harinya sang ayah akan memberikan parfum ke tangan dan wajahnya ketika dia tidur. Serta memberikan hadiah di samping tempat tidurnya. Saat sang anak terbangun, dia akan mencium aroma wangi dari parfum tersebut dan menemukan hadiah di samping tempat tidurnya. Sang anak bertanya kepada sang ayah, dari mana asal parfum dan hadiah tersebut. Sang ayah menjawab, bahwa semalam Nabi Muhammad datang kepadanya dan memberikan hadiah karena hari itu sang anak telah berbuat baik.
.
.
Suatu hari ketika, sang anak berbuat nakal, malam harinya sang ayah tidak memberikan parfum dan hadiah. Esok paginya sang ayah mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin datang pada malam itu karena pada siang harinya sang anak berbuat nakal.
.
.
Kegiatan ini terus dilakukan hingga sang anak mulai dewasa dan mampu berpikir. Namun, hal ini telah menjadi pelajaran berharga bagi sang anak untuk membiasakan berbuat baik sejak kecil.
.
.
Ketika sang ayah ditanya, darimana dapat ide untuk melakukan hal tersebut memberikan hadiah secara diam-diam ketika anak tidur jika pada hari itu sang anak berbuat baik dan menisbatkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad—
.
.
Sang ayah menjawab, ide tersebut dia dapatkan dari temannya yang beragama Kristen yang anaknya sangat fanatik dengan sosok Baba Noel (Santa Claus) yang suka memberikan hadiah kepada anak-anak yang baik di malam natal.
.
.
Cerita tentang Baba Noel (Santa Claus) dia modifikasi dan dia ganti tokoh Santa dengan sang Nabi.
.
.
Di negara kita, mengucapkan tahniah, selamat natal menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan setiap tahunnya. Di Aljazair, teman sang alim mampu mengambil hikmah dari hal yang diperdebatkan sekalipun. Melampaui semua itu. Seribu langkah lebih maju. bukan terlarut dalam perdebatan.
#DearDifaa
Sebelum ini, Bikini Bottom belum pernah merayakan natal. Setelah Sandy si tupai yang hijrah dari Texas merayakannya. Rumah Sandy yang kedap air dihias dengan ornamen pohon dan lampu natal, Spongsbob yang melihat merasa aneh. Kemudian Sandy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah hari raya besar, semua makhluk dan alam raya bergembira. Penuh suka cita. Natal.
.
.
Suatu hal yang kental dengan nuansa natal, adalah kedatangan Santa yang memberi hadiah kepada anak-anak yang baik dan saleh. Sandy juga menjelaskan itu kepada Spongsbob. Kita semua tahu, Spongsbob itu sangat lugu. Dan ia langsung percaya begitu saja.
.
.
Sepulang dari rumah Sandy, Spongsbob menyebarkan kisah natal dan Santa dengan hadiahnya ke seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua wargapun percaya dengan kisah Spongsbob. Mereka menghiasi rumah-rumah mereka dengan ornamen khas natal. Semua warga Bikini Bottom berbahagia menyambut natal, kecuali Squidward. Dia sama sekali tidak percaya apa itu Santa dan hadiah-hadiahnya. Dia golongan kafir. Atau mungkin agnostik.
.
.
Saat semua warga berkumpul di malam dingin penuh salju untuk menyambut kedatangan Santa. Squidward tertawa menghina. Dia berkata, bahwa Santa itu hanya dongeng belaka. Namun, warga masih yakin dengan cerita yang dibawa Spongsbob, mereka bernyanyi-nyanyi khas gereja.
.
.
Sampai larut malam, mereka terus bernyanyi dan berharap. Namun Santa tak kunjung tiba. Sampai pagi masih ada yang nyanyi, hingga tenggorokan mereka kering. Dan bibir mereka ndower. Mereka akhirnya bubar. Mereka kecewa dengan cerita Spongsbob. Spongsbob pembohong besar.
.
.
Mata Spongsbob sembab setelah menangisi nasibnya, ternyata Santa itu memang benar tidak nyata. Saat down itu lah Squidward mendatangi Spongsbob dengan nanar mata menghina serta mulut tertawa. Spongsbob yang sedang bersedih, memberikan sebungkus kado untuk Squidward. Mulanya, Squidward tidak bergeming, itu hanya kado biasa. Mungkin saja bekas celana dalamnya. Setelah dibuka, ternyata isi kado tersebut adalah Klarinet, alat musik kesukaan Squidward. Klarinet itu terbuat dari jenis kayu yang sudah hampir punah. Bahkan di sisi tengah Klarinet itu terukir nama "Squidward".
.
.
Squidward tentu saja sangat gembira. Namun ia tidak bisa melihat pria kecil malang yang menjadi tetangganya itu terus bersedih. Akhirnya Squidward memutuskan untuk menyamar menjadi Santa. Dalam rangka membuat Spongsbob bahagia.
.
.
Squidward lengkap dengan jenggot putih tebal dan topi merah putih serta kostum Santa siap membuat Spongsbob gembira. Spongsbob yang mengira bahwa itu adalah Santa beneran mulanya menggandeng anak kecil untuk meminta hadiah ke Santa. Squidward si Santa palsu itu bingung, dia tidak punya kado apa-apa. Dia masuk kedalam rumahnya. Menimbang apakah ada barang yang pas untuk hadiah anak kecil. Dia menemukan sisir rambut. Dia hadiahi anak itu. Anak tersebut menerima dan pulang dengan gembira. Tentu saja Spongsbob juga sangat bahagia. Ia berterimakasih pada Santa yang telah membawa natal ke Bikini Bottom.
.
.
Ternyata tidak sampai di sana. Warga yang semalam berkumpul dan menyanyi ternyata kini sudah antri. Mereka juga menginkan hadiah juga dari Santa. Maka seluruh perabotan rumah Squidward ludes dibagi-bagi sebagai hadiah. Sofa, meja, kursi, piano, dan lain-lain tidak tersisa sama sekali. Squidward marah kepada dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia. Hanya karena Spongsbob dia melakukan hal yang paling bodoh.
.
.
Saat marah-marah itulah, seseorang mengetok pintu rumah Squidward. Dia berkata dengan nada marah, "Silahkan bawa pintu itu, hanya itu yang tersisa". Namun setelah dibuka. Ternyata itu adalah Santa asli. Seorang pak tua dengan Rusa terbangnya, "Terimakasih Squidward, telah membawa natal ke Bikini Bottom". Squidward yang agnostik, kini ia benar-benar beriman.
****

Selamat natal untuk teman-temanku yang merayakannya. Damai selalu.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE