Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

Natal sudah terlewat, tahun baru juga sudah kita injak. Agenda tahun ini insya Allah akan lebih seru. Ketika saya menulis ini, baru saja saya menyelesaikan pekerjaan laporan akhir tahunan, yang melebihi batas waktu sampai tahun baru. Apa saya zolim? Mungkin saja iya. Tapi saya akan memberikan yang terbaik. Meski harus jungkir balik.
.
.
Semalam kita tidak kemana-mana. Selain saya tidak suka keramaian, saya juga masih banyak pekerjaan. Di luar juga semalam hujan. Kamu seperti biasa tidur di atas jam 10 malam. Tahun 2019 adalah hal yang luar biasa dalam hidup saya. Tuhan selalu tidak tega kepada saya, kepada kita. Cintanya selalu memercik kepada kita. Tahun ini saya mempunyai tekad: Setidaknya seminggu sekali, sesibuk apapun, saya akan rajin menulis di blog ini. Itu target saya. Entah bagaimana nanti dengan realisasinya.
.
.
Bisa jadi menulis di blog ini adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena tidak ada keuntungan finansial. Kadang juga saya heran kepada diri sendiri: Profesi saya bukan wartawan, juga bukan penulis. Profesi saya tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis. Lalu untuk apa saya menulis. Tapi setidaknya, jiwa raga saya merasa bahagia, ketika saya menyelesaikan satu judul tulisan. Ada rasa kepuasan.
.
.
#DearDifa. Saya meyakini, motivasi itu bukan dari luar kita. Tapi motivasi ada dalam manusia. Di dalam relung jiwa yang sunyi. Percayalah, kita sebenarnya tidak membutuhkan motivator. Kata presiden Jancukers, motivator sebenarnya motivancuk. Maka api itu saya gali, dan saya akan berusaha menjaganya agar tetap selalu menyala.
.
.
Api motivasi itu bernama Bapak saya. Kakekmu. Saat beliau meninggal dunia. Saya masih duduk kelas 1 SMP. Usia saya saat itu belum genap 13 tahun. Dalam usia segitu, tentu saja saya tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya bapak saya. Seciprat kenangan dan hangatnya kasih sayang tentu saja masih saya ingat. Dan kenangan-kenangan itu timbul tenggelam. Semoga suatu saat saya bisa menuliskan.
.
.
Terkadang dalam lamunan, saya ingin benar-benar tahu siapa bapak saya sebenarnya, bagaimana jalan pikirnya. Pengalaman dan perjalan hidupnya seperti apa. Terkadang, jika ada kesempatan, perjalan hidupnya dikisahkan oleh Ibu saya. Satu dua kawan bapak juga pernah mengkisahkan beberapa halaman perjalanan kehidupan bapak.
.
.
Bapak saya guru honorer biasa. Konon juga pernah menjabat kepala sekolah. Beberapa mantan muridnya, ketika dalam suatu kesempatan bertemu saya, memberikan kesan yang mendalam tentang Bapak ketika menjadi guru. Tapi sayang sekali, semua kisah dan perjalanan [Sedih, senang, dan bahagianya] tidak pernah dibagikan langsung kepada saya.
.
.
Harapan saya: Saya, kamu dan Ibumu selalu sehat. Umur kita panjang. Kami bisa melihatmu berkembang dan mengarungi dinamika kehidupan. Sembari semua berproses. Ijinkan saya mencatat untukmu. Menulis dan melantur apa saja. Barangkali suatu saat bermanfaat. Semoga kita selalu diberkahi dan diridhoi Allah.


Tegal, 1 Januari 2020
#DearDifaa

Sejujurnya saya malas menulis ini. Selain saya bukan seorang 'alim dalam agama, juga saya takut jika tulisan ini salah dipahami. Tapi apapun itu, saya tetap harus tuliskan ini untukmu. Untuk masa depan jamanmu.
.
.
Tahun baru 2020 akan segera tiba. Dan Bapakmu masih seperti ini saja. Kakekmu dulu tidak pernah mengajarkan resolusi kepada saya. Resolusi itu milik kaum priyayi. Dan kita golongan orang awam pinggir kali.
.
.
Sudah menjadi rutinitas tahunan di negeri kita. Setelah perdebatan Natal, akan muncul perdebatan lainnya. Sebentar lagi, akan ada pesan berantai, larangan untuk merayakan tahun baru dengan meniup terompet, komplit dengan dalilnya. Mereka—si penyebar pesan–, melakukan tafsir secara tekstuaal.
.
.
Tapi benarkah kita, jika meniup terompet akan auto memeluk agama Yahudi? #DearDifaa. Ada kisah yang sebaiknya harus kamu simak. Tokoh dalam kisah ini adalah seorang sastrawan. Dia mengkonfirmasi permintaan saya dalam pertemanan di Fesbuk. Maka kami berteman. Dan saya mengikuti berbagai hal yang dia bagi di akun fesbuknya. Privasi postingannya hanya bisa dibaca oleh daftar teman saja.
.
.
Darah dalam tubuhnya masih mengalir gen Nabi Muhammad. Dia Sayyid. Orang sekarang menggeneralisir dengan menyebut Habib. Namun, selayaknya sastrawan atau seniman, jalan pikirnya nyeleneh. Sepanjang saya ikuti, dia telah banyak pindah agama. Menjadi Budis, Hindu, Katolik, dan lain sebagainya.
.
.
Dia suka travelling ke luar negeri. Suatu ketika saat musim dingin tiba, dia ada agenda di Eropa [saya lupa nama negaranya]. Saat malam hari, dia harus pindah ke kota lain, namun sayang, dia tertinggal kereta. Waktu itu salju turun tebal. Dia gontai berjalan sendirian. Saat itulah dia melihat Sinagog tua [tempat ibadah umat Yahudi].
.
.
Di depan pintu besar Sinagog dia mengucapkan salam. Namun tidak ada yang membuka. Setelah sekian lama, dan dia juga mengeraskan suara. Pintu dibuka oleh seorang pria tua.
“Permisi, Pak. Saya melihat Sinagog ini, seolah memanggil saya untuk ke sini, dan Yahweh akan menolong saya di malam yang dingin ini”.
“Anda berasal dari Israel?”.
Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
“Kalau begitu, pergilah, agama ini hanya untuk anak turun Musa”.
“Tapi pak, saya masih ada ikatan darah dengan Musa, bertemu di kakek kami, Ibrahim”.
.
.
Tokoh kita memang diperbolehkan masuk ke dalam Sinagog. Tapi tidak boleh memeluk Yahudi. Agama Yahudi itu tidak pernah membuka lowongan pemeluk agama baru. Tapi jika kita meniup terompet –kata Sobat Gurun– kita auto Yahudi. Kadang saya bingung dengan logika macam ini. Mereka mendorong-dorong orang untuk menjadi Yahudi. Sementara Yahudi tidak open rekruitment sama sekali.
.
.
#DearDifa. Point catatan ini bukan halal atau haramnya meniup terompet, saya bukan kiai. Terompet memang konon budaya kaum kapitalis. Orang-orang hedonis akan menghamburkan uang saat pergantian malam, di tahun baru. Tapi ada pria penjual terompet di pinggir jalan, yang meningalkan anaknya yang masih kecil. Anak itu seperti kamu. Saya akan membelikanmu terompet itu. Kita memang bukan orang kaya, tapi masih banyak orang yang di bawah kita.
#Dear Difa
Saya menemukan gambar ini di Sosmed. Kurang lebih maknanya begini: 
Petugas kebersihan di Teheran, Iran memberitahu puterinya: "Puteriku, jangan kau beritahu kepada seorangpun tentang ayahmu yang bekerja menjadi petugas kebersihan kota, nanti semua orang membulymu. Kemudian ia pergi mencari sang ayah. Lalu ia memotret momen ini bersama ayahnya, dan ia tulis, "Inilah ayahku. Dan aku bangga padanya".
.
.
#DearDifa, Suatu saat jika kamu malu memiliki bapak pendosa. Saya tidak apa-apa.

#DearDifaa

Saat duduk santai bersama, melepas lelah, teman kerja saya yang usianya jauh dari saya membuka obrolan.
"Orang tua masih komplit?".
"Tinggal Ibu". Jawab saya
"Orang tua saya sudah tidak ada semua".
Dia bercerita, bagaimana dulu saat kecil hidup begitu bahagia, kedua orang tua masih ada semua. Kini sudah tidak ada.
.
.
Dulu, semua tetangga kanan kiri rumah masih ada, Uwak (budhe-pakdhe) masih komplit. Kini satupun sudah tak ada. Hidup seolah begitu cepat. Dia berkisah, Bapaknya meninggal ketika usianya 17 tahun. 0-10 tahun dia menyadari perilakunya belum ndolor. 10-17 tahun itulah masa dimana dia mengenal Bapaknya. Fase dimana dia ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Jadi, dia belajar mengenal bapaknya dalam kurun waktu 7 tahun. Waktu yang begitu cepat untuk dilalui.
.
.
Kini jumlah anaknya 3. Dia bercerita. Saat dia berkendara, dia selalu berdoa sepanjang jalan. Agar selalu dilimpahi keselamatan.
.
.
Akhir-akhir ini, WAG (WA Gropup) team kerja kami selalu ada saja yang membagikan berita duka. Setidaknya seminggu sekali. Rentetan nestapa itu selalu menghiasi percakapan kami. Maka, ketika teman saya tadi mengajak merenung. Sudah siapkah bekal kita. Sedang kualitas ibadah masih seperti itu saja.
.
.
26 Desember 15 tahun yang lalu, ribuan nyawa melayang di Aceh. Kejadian Tsunami itu menegaskan kan bahwa manusia itu tidak punya kekuatan atau kuasa. Digebyur air ajur. Ditiup angin kawur. Dibakar geseng.
.
.
Sore tadi, setelah kemarin saya berbincang dengan rekan kerja tentang kematian. Dibawah rintik-rintik hujan, saya membuka WhatsApp. Komandan saya membagikan berita salah satu teman saya sudah tiada. Begitu cepatnya. H. Akhmad Salimi Bin Tasori.. Alfatihah...
#DearDifa

Idealisme itu seperti keimanan. Kadang menanjak, juga tidak jarang tiarap. Saat dunia dikuasai oleh Zombie. Percayalah, masih ada orang sehat yang akan menyembuhkan luka dengan cinta.
.
.
Kemarin saya bertemu dengan kawan lama, selain mengobrol tentang planning bisnis, dia juga berbagi banyak hal. Sepintas kawan saya ini orang biasa saja. Tidak ada istimewa sama sekali tentangnya.
.
.
Dia kawan kuliah. Pria berambut lurus, yang dulu ketika ditanya teman-teman perempuan, perawatan apa yang dilakukan hingga rambutnya lurus? Dia jawab, cuma pakai sampo. "Cuma pakai sampo", adalah branding iklan televisi salah satu produk sampo yang waktu itu sedang boom.
.
.
Tapi lebih mendalam makna sebenarnya, cuma pakai sampo, adalah hal biasa, dilakukan oleh manusia pada umumnya. Sampo yang harganya bisa dijangkau. Betul, nak, dia pria biasa saja. Tapi tidak biasa dengan obrolan kami kemarin sore, saat hujan berjatuhan secara rintik-rintik.
.
.
Ada sesuatu besar yang tersimpan dalam jiwanya. Yang saya pun jelas tidak punya. Dia guru honorer yang sudah mempunyai dua anak. Anak pertamanya perempuan, namanya Kirana, satu tahun lebih tua dari usiamu. Anak kedua laki-laki, yang baru beberapa bulan kemarin lahir, namanya saya lupa, dulu saat komunikasi lewat chat, dia mengatakan, namanya: Nadiem Makarim. Tapi sepertinya saya salah.
.
.
Guru, honorer, dan dua anak. Itu adalah kata kunci catatan ini. Di negeri di mana kita hidup ini, menjadi guru adalah jalan ninja. Dulu saat kakekmu menjadi guru, semboyan 'pahlawan tanpa tanda jasa' masih berlaku. Kini, guru adalah pahlawan tanpa tanda tangan. Meskipun semua itu tidak bisa digeneralisasikan.
.
.
Suatu ketika, kawan saya tadi mengikuti prosedur tahapan sertifikasi guru. Dari mulai persiapan, sampai PLPG [semacam pelatihah guru]. Dia tahu, saat itu, sebenarnya belum jatah waktunya untuk mengikuti pengajuan sertifikasi. Dia baru mengajar sekitar 3 tahun. Sedang sertifikasi persyaratan dari pemerintah harus mengajar minimal 5 tahun.
.
.
Kepala sekolahnya mendorong dia untuk segera sertifikasi, tapi tidak dengan hati nuraninya. Nuraninya mengatakan harus 2 tahun lagi dia mengajar. Akan tetapi, dari pihak sekolah sudah membuat administrasi sedemikian rupa. Dibuat seolah dia sudah mengajar 5 tahun. Meskipun ijasah dan kelulusannya belum genap berusia 5 tahun.
.
.
Orang tua, teman-teman guru, semua mendukung dan mendorong. Maka dia tidak punya banyak pilihan, selain mengikuti tahapan-tahapan. Gaji sertifikasi tentu saja menggiurkan.
.
.
Saat sore yang di luar hujan, juga membuat hujan dalam diri saya. Begitu terharu dengan kawan saya ini, ketika dia mengatakan pada istrinya: "Jo (bojo- istri), jika aku lolos UTN (Ujian Tulis Negara) sertifikasi tahun ini, tolong jangan minta gaji sertifikasi selama 2 tahun, itu bukan hak kita, aku akan sumbangkan gaji selama 2 tahun itu untuk panti asuhan, untuk orang-orang yang membutuhkan".
.
.
Kau tahu, Nak. Uang itu menggiurkan. Uang itu juga menyenangkan. Tapi uang itu menyengsarakan, jika bukan hak kita. Ingin rasanya saya peluk kawan saya itu, tapi pelukan bukan budaya kita. Maka catatan ini adalah ekspresi saya.
.
.
Namun, kawan saya sangat bersyukur, dari total peserta ratusan dari seluruh penjuru Nusantara, dan 4 peserta dari provinsi Jawa Tengah, hanya kawan saya tidak lolos. Ketika saya tanya kenapa tidak lolos, dia jawab,
"Kemampuan saya hanya sebatas itu".
"Kenapa tidak sewa saya saja jadi joki ketika UTN?".
"Itu tambah tidak dibenarkan".


Guci, 27 Desember 2019.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE