Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa.

Saat ini saya sedang memohon dengan segala harapan. Bisa jadi proposal itu akan gol. Atau bisa jadi juga zonk. Kita cuma hanya minta belas kasihan padaNya. 
.
.
Alquran itu ilmu pasti. Tidak ada keraguan tentangnya. Tidak ada kebimbangan bagi orang yang bertakwa. Falya'buduu rabba hadzal bait, aladzi athama hum min juu'i wa amana hum min khouf, kata Alquran. Maka sembahlah Tuhan yang menciptakan baitullah (ka'bah). Yang memberi makan kepada orang lapar, dan memberi rasa aman kepada orang yang ketakutan.
.
.
Konon di dunia ini, persoalan manusia yang paling mendasar hanya dua saja: lapar dan takut. Lapar itu babagan tentang perut, sementara ketakutan itu menyelimuti segala hal. The Panas Dalam, Band Indie asal Bandung yang sekarang sepertinya sudah tidak Indie lagi, pernah menulis lirik "lagu Timur". Timur itu anaknya Pidi Baiq–sang Imam besar The Panas Dalam.
.
.
Salah satu liriknya gini: 
Jangan takut Maklampir,
Maklampir itu Farida Fasya.
Jangan takut tidak naik kelas,
Tinggal pindah sekolah, 
Jangan takut polisi,
Kalau tidur, kita gilas. 
Jangan takut tentara, 
Tentara itu punya istri.
.
.
Lohhh maaf, malah ngelantur ke The Panas Dalam. Intinya kalau kita beribadah ke sang pemilik baitullah kita akan dijamin untuk tidak pernah kelaparan dan ketakutan.
.
.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
.
.
Buy one get two. Kita beli dengan satu, berupa Taqwa. Allah memberikan dua: Jalan keluar dari segala permasalahan dan rezeki yang tidak bisa disangka. Taqwa itu mengahdirkan Allah dalam segala hal. Dalam setiap detik kehidupan.
.
.
Waqul, robighfir wa anta khoiru rohimin.

#DearDifaa

Hari ini, hari minggu, jam 06.00 kamu masih terlelap. Biasanya kamu akan bangun satu setengah jam lagi. Seperti biasa, kamu tidur sangat malam. Semalam hujan. Sederas apapun hujan, ia adalah rahmat. Sebencana apapun dunia, kasih Tuhan akan selalu melekat.
.
.
Hari-hari Januari tahun ini adalah hari yang melelahkan. Dunia diselimuti kesedihan. Berbagai bencana alam menghantam. Juga bencana perang. Jenderal Iran, Qassem Sulaimani yang Syahid dirudal Amerika dengan cara curang, di Bandara sipil Irak, ia mempunyai anak. Anak itu seorang perempuan, tentu saja ia pasti bersedih ditinggal Ayahnya meninggal. Tapi kata-katanya yang mengalir indah mencerminkan jiwanya yang teguh, kurang lebih begini:  “Ayah saya bak botol kaca yang berisi parfum, jika seseorang memecah botol itu, wewangian akan menyerbak keseluruh dunia.” Tidak harus faham pepatah Parsi untuk memahami kalimat tadi.
.
.
Konon, maju mundurnya bangsa bergantung pada bagaimana isi pikiran para perempuannya. Ada khadijah yang mendukung dakwah nabi Muhammad. Ada Fatimah sang mutiara. Di Nusantara, terdapat banyak perempuan selain Kartini yang punya andil dalam peradaban banga kita, mereka tidak dikenal permukaan. Dan nama anak perempuan sang jenderal yang Syahid itu adalah Zainab Sulaimani. Catatlah, Difa, barangkali akan berguna untukmu suatu saat nanti.
.
.
Membicarakan tentang perempuan, semalam kita shalat maghrib di rumah. Kamu merajuk. Meminta ibumu shalat berdiri di depan, sedang Ayahmu di belakang. Ibumu memberimu nasihat, menganalogikan:
“Saat kita naik motor, kita jalan-jalan, posisi ayah ada di mana?”
“Di depan.” Jawabmu.
“Kalau Mama?”
“Di belakang”.
“Kalau Difa?”.
“Pangku, atau di tengah”. Jawabmu dengan tertawa.
“Nah, berarti kalau shalat, Mama juga di belakang”.

Akhirnya, kamu memahami itu. Dan posisi Ayah tidak bisa dimakzulkan dari Imam. Tapi tahukah kamu, Difa. Barangkali ini akan menjadi perdebatan panjang saat kau besar nanti. Ada pendapat Fuqaha yang tidak populer, seorang perempuan boleh menjadi Imam laki-laki. Lelaki itu seorang layaknya lelaki, ia bukan banci. Tapi pendapat ini tidak populer. Dan mungkin tidak boleh dipopulerkan. Saya tidak memunculkan sumbernya. Cari literasi sendiri. Tentu saja saya tidak memaksamu untuk menyetujui pendapat yang tidak populer itu.
.
.
Terus belajar, belajar terus, Nadifa.

#DearDifa

Natal sudah terlewat, tahun baru juga sudah kita injak. Agenda tahun ini insya Allah akan lebih seru. Ketika saya menulis ini, baru saja saya menyelesaikan pekerjaan laporan akhir tahunan, yang melebihi batas waktu sampai tahun baru. Apa saya zolim? Mungkin saja iya. Tapi saya akan memberikan yang terbaik. Meski harus jungkir balik.
.
.
Semalam kita tidak kemana-mana. Selain saya tidak suka keramaian, saya juga masih banyak pekerjaan. Di luar juga semalam hujan. Kamu seperti biasa tidur di atas jam 10 malam. Tahun 2019 adalah hal yang luar biasa dalam hidup saya. Tuhan selalu tidak tega kepada saya, kepada kita. Cintanya selalu memercik kepada kita. Tahun ini saya mempunyai tekad: Setidaknya seminggu sekali, sesibuk apapun, saya akan rajin menulis di blog ini. Itu target saya. Entah bagaimana nanti dengan realisasinya.
.
.
Bisa jadi menulis di blog ini adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena tidak ada keuntungan finansial. Kadang juga saya heran kepada diri sendiri: Profesi saya bukan wartawan, juga bukan penulis. Profesi saya tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis. Lalu untuk apa saya menulis. Tapi setidaknya, jiwa raga saya merasa bahagia, ketika saya menyelesaikan satu judul tulisan. Ada rasa kepuasan.
.
.
#DearDifa. Saya meyakini, motivasi itu bukan dari luar kita. Tapi motivasi ada dalam manusia. Di dalam relung jiwa yang sunyi. Percayalah, kita sebenarnya tidak membutuhkan motivator. Kata presiden Jancukers, motivator sebenarnya motivancuk. Maka api itu saya gali, dan saya akan berusaha menjaganya agar tetap selalu menyala.
.
.
Api motivasi itu bernama Bapak saya. Kakekmu. Saat beliau meninggal dunia. Saya masih duduk kelas 1 SMP. Usia saya saat itu belum genap 13 tahun. Dalam usia segitu, tentu saja saya tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya bapak saya. Seciprat kenangan dan hangatnya kasih sayang tentu saja masih saya ingat. Dan kenangan-kenangan itu timbul tenggelam. Semoga suatu saat saya bisa menuliskan.
.
.
Terkadang dalam lamunan, saya ingin benar-benar tahu siapa bapak saya sebenarnya, bagaimana jalan pikirnya. Pengalaman dan perjalan hidupnya seperti apa. Terkadang, jika ada kesempatan, perjalan hidupnya dikisahkan oleh Ibu saya. Satu dua kawan bapak juga pernah mengkisahkan beberapa halaman perjalanan kehidupan bapak.
.
.
Bapak saya guru honorer biasa. Konon juga pernah menjabat kepala sekolah. Beberapa mantan muridnya, ketika dalam suatu kesempatan bertemu saya, memberikan kesan yang mendalam tentang Bapak ketika menjadi guru. Tapi sayang sekali, semua kisah dan perjalanan [Sedih, senang, dan bahagianya] tidak pernah dibagikan langsung kepada saya.
.
.
Harapan saya: Saya, kamu dan Ibumu selalu sehat. Umur kita panjang. Kami bisa melihatmu berkembang dan mengarungi dinamika kehidupan. Sembari semua berproses. Ijinkan saya mencatat untukmu. Menulis dan melantur apa saja. Barangkali suatu saat bermanfaat. Semoga kita selalu diberkahi dan diridhoi Allah.


Tegal, 1 Januari 2020
#DearDifaa

Sejujurnya saya malas menulis ini. Selain saya bukan seorang 'alim dalam agama, juga saya takut jika tulisan ini salah dipahami. Tapi apapun itu, saya tetap harus tuliskan ini untukmu. Untuk masa depan jamanmu.
.
.
Tahun baru 2020 akan segera tiba. Dan Bapakmu masih seperti ini saja. Kakekmu dulu tidak pernah mengajarkan resolusi kepada saya. Resolusi itu milik kaum priyayi. Dan kita golongan orang awam pinggir kali.
.
.
Sudah menjadi rutinitas tahunan di negeri kita. Setelah perdebatan Natal, akan muncul perdebatan lainnya. Sebentar lagi, akan ada pesan berantai, larangan untuk merayakan tahun baru dengan meniup terompet, komplit dengan dalilnya. Mereka—si penyebar pesan–, melakukan tafsir secara tekstuaal.
.
.
Tapi benarkah kita, jika meniup terompet akan auto memeluk agama Yahudi? #DearDifaa. Ada kisah yang sebaiknya harus kamu simak. Tokoh dalam kisah ini adalah seorang sastrawan. Dia mengkonfirmasi permintaan saya dalam pertemanan di Fesbuk. Maka kami berteman. Dan saya mengikuti berbagai hal yang dia bagi di akun fesbuknya. Privasi postingannya hanya bisa dibaca oleh daftar teman saja.
.
.
Darah dalam tubuhnya masih mengalir gen Nabi Muhammad. Dia Sayyid. Orang sekarang menggeneralisir dengan menyebut Habib. Namun, selayaknya sastrawan atau seniman, jalan pikirnya nyeleneh. Sepanjang saya ikuti, dia telah banyak pindah agama. Menjadi Budis, Hindu, Katolik, dan lain sebagainya.
.
.
Dia suka travelling ke luar negeri. Suatu ketika saat musim dingin tiba, dia ada agenda di Eropa [saya lupa nama negaranya]. Saat malam hari, dia harus pindah ke kota lain, namun sayang, dia tertinggal kereta. Waktu itu salju turun tebal. Dia gontai berjalan sendirian. Saat itulah dia melihat Sinagog tua [tempat ibadah umat Yahudi].
.
.
Di depan pintu besar Sinagog dia mengucapkan salam. Namun tidak ada yang membuka. Setelah sekian lama, dan dia juga mengeraskan suara. Pintu dibuka oleh seorang pria tua.
“Permisi, Pak. Saya melihat Sinagog ini, seolah memanggil saya untuk ke sini, dan Yahweh akan menolong saya di malam yang dingin ini”.
“Anda berasal dari Israel?”.
Wajah tokoh kita ini Sayyid, sudah barang tentu hidungnya mancung, ada garis Timur Tengahnya.
“Bukan, pak”.
“Dari negara Timur Tengah mana Anda?”.
“Saya berasal dari Indonesia”.
“Apakah Anda keturunan Musa?”.
“Saya keturunan Muhammad”.
“Kalau begitu, pergilah, agama ini hanya untuk anak turun Musa”.
“Tapi pak, saya masih ada ikatan darah dengan Musa, bertemu di kakek kami, Ibrahim”.
.
.
Tokoh kita memang diperbolehkan masuk ke dalam Sinagog. Tapi tidak boleh memeluk Yahudi. Agama Yahudi itu tidak pernah membuka lowongan pemeluk agama baru. Tapi jika kita meniup terompet –kata Sobat Gurun– kita auto Yahudi. Kadang saya bingung dengan logika macam ini. Mereka mendorong-dorong orang untuk menjadi Yahudi. Sementara Yahudi tidak open rekruitment sama sekali.
.
.
#DearDifa. Point catatan ini bukan halal atau haramnya meniup terompet, saya bukan kiai. Terompet memang konon budaya kaum kapitalis. Orang-orang hedonis akan menghamburkan uang saat pergantian malam, di tahun baru. Tapi ada pria penjual terompet di pinggir jalan, yang meningalkan anaknya yang masih kecil. Anak itu seperti kamu. Saya akan membelikanmu terompet itu. Kita memang bukan orang kaya, tapi masih banyak orang yang di bawah kita.
#Dear Difa
Saya menemukan gambar ini di Sosmed. Kurang lebih maknanya begini: 
Petugas kebersihan di Teheran, Iran memberitahu puterinya: "Puteriku, jangan kau beritahu kepada seorangpun tentang ayahmu yang bekerja menjadi petugas kebersihan kota, nanti semua orang membulymu. Kemudian ia pergi mencari sang ayah. Lalu ia memotret momen ini bersama ayahnya, dan ia tulis, "Inilah ayahku. Dan aku bangga padanya".
.
.
#DearDifa, Suatu saat jika kamu malu memiliki bapak pendosa. Saya tidak apa-apa.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE