Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifaa

Persahabatan yang hangat perlu dipupuk dan dirawat. Setahun yang lalu, saat saya masih mengajar di IAIN Purwokerto, saya mempunyai kawan perjuangan. Saya ambil dengan diksi 'perjuangan', karena saat itu adalah benar-benar waktu perjuangan. Dia yang memompa semangat saya untuk terus berproses mengikuti alur dari-Nya.
.
.
Setiap senin pagi, saya harus meninggalkan anak istri. Subuh buta, saya dan dia memacu sepeda motor menembus dinginnya kabut Gunung Slamet. Saya dari arah Pemalang sementara dia dari arah Slawi. Kami janjian bertemu di rumah sakit Muhammadiyah Randudongkal. Salah satu diantara sepeda motor kami parkirkan di rumah sakit itu. Kemudian lanjut berbonceng sampai di Purwokerto.
.
.
Sebenarnya, banyak perbedaan diantara kami. Dia orang Muhammadiyah struktural. Sementara saya mendaku sebagai warga NU kultural. Tapi bukan perbedaan yang kami tonjolkan. Meski dia orang Muhammadiyah cum aktivis 'Islam Panci' [Mohon maaf, istilah Islam Panci adalah guyonan kami untuk menamakan sebuah organisasi Islam Khuruj–yang dulu, saat berdakwah keluar dari rumah dengan membawa panci, untuk menanak nasi di Masjid], dia orangnya asik, wawasan keberislamananya luas. Secara, dia lulusan magister Al Azhar Kairo Mesir. Sudut pandangnya Islam moderat. Tidak jauh dari grand syekh mufti Al Azhar.
.
.
Dalam peta politik luar negeri pun sama. Meskipun tadinya, dia IM [Ihwanul Muslimin] sentris–Buyutnya PKS di Mesir. Tetapi setelah kami mengalami sekian puluh purnama, dan di atas motor Randudongkal-Purwokerto bersama. Dia menerima diskusi-diskusi kecil-kecilan dari saya mengenai Islam dan Sosialis, juga mengenai Madzhab Syiah yang kebanyakan dari Wababi Takfiri memfatwakan Syiah bukan Islam.
.
.
Sekarang kabarnya, selain mengajar di IAIN Purwokerto, dia juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, juga menjadi Mudir asrama kedokteran di sana. Hari ini dia berada di Tegal. Story WhatsAppnya mengabarkan istrinya baru saja melahirkan. Tanpa ba-bi-bu saya segera mengabarkan selepas pulang kerja saya ke sana. Tentu saja di rumah sakit Muhammadiyah Tegal. Kami ngobrol cukup puas. Dengan segala omong besar akan membuat proyek buku, cita-cita dulu. Betapa menyenangkan bersahabat dengan seorang Muhammadiyah satu ini. Teringat, saat dulu pilihan presiden pun, pilihan kami sama. Teringat juga, saat shalat subuh di Purwokerto dulu. Jika dia menjadi imam, kita subuh tanpa qunut. Jika saya yang jadi Imam, tentu dengan qunut. Tapi seringkali dia yang jadi Imam. Haaaa
.
.
Tiba-tiba kemarin dari Yogya, kota yang terbuat dari tumpukan rindu, terdengar kabar Muhammadiyah dan NU berseteru. Tapi dari timeline fesbuk saya banyak yang memberi kabar NU dan Muhammadiyah baik-baik saja. Akan baik-baik saja selamanya.
.
.
Kalau sudah seperti ini. Saya akan mengenang kawanku yang lain. Dia orang Muhammadiyah kultural. Saat itu tahun 2012 di kota Kendal. Muhammadiyah menentukan waktu Ramadhan lebih dulu. Sementara NU dan pemerintah sehari setelah itu. Kawanku yang Muhammadiyah taat, menjalankan puasa sebagai syariat. Saat sore hari menjelang, saya bermaksud menemaninya ngabuburit sambil menunggu ia berbuka. Sementara saya minum kopi dan makan mendoan. Begitulah hangatnya persahabatan NU dan Muhammadiyah.
#DearDifa

Bapak saya, kakekmu adalah seorang guru. Beliau sebenarnya orang yang woles dalam setiap hal. Tapi tidak dengan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran.
.
.
Suatu ketika, saat saya masih SD, saya mendapatkan PR pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Diantara butir soal itu berbunyi begini; bagaimana bentuk permukaan bumi? Terdapat beberapa pilihan. Diantaranya adalah datar dan tidak datar. Saya menjawab datar, karena dengan asumsi saya yang punya globe bumi yang bundar rata. Saat itulah saya disentak bapak. Lalu dia menjelaskan bagaimana gunung yang menjulang tinggi dan lautan yang dalam. Ketahuilah, permukaan bumi itu tidak datar, wahai bujang! Kata bapak.
.
.
Setelah puluhan tahun kemudian, di tahun 2020 ini, di gunung Bromo ini saya membenarkan. Betapa maha artistiknya Allah dalam menciptakan semesta alam.  Keindahan bukit dan awan serta gunung,  tidak bisa dideskripsikan dengan kata. Kamera jadul HP saya pun juga hanya menangkap kedahsyatan yang prosentasenya cuma beberapa persen saja.
.
.
Nenek moyang kita bangsa Jawa, saat dalam keadaan tertentu, mereka akan menyepi. Tapa brata untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi. Pertapaan itu biasanya di gunung, di gua. Junjungan kita, rasul Muhammad pun sama. Meskipun beliau suku Quraisy, saat mendapatkan wahyu pertama kali, beliau berkhalwat di gua Hira. Sesuatu yang janggal dalam budaya bangsa Arab. Maka tidak heran, kata Syekh Maimoen Zubair Rembang mengatakan, raganya nabi Muhammad itu Arab, sedang hatinya adalah Jawa.
.
.
Maka dalam kesempatan ini, saya mencoba merenung diri, setelah hampir tiga dekade perjalanan saya ini. Saya mengingat. Dalam kitab Al Hikam, Syekh Ibnu Atoillah menjelaskan, kedudukan seorang hamba itu ada dua; Asbab dan Tajrid. Asbab itu jamak dari Sabab. Sebab. Jika kamu ingin sehat, maka olah raga. Jika kamu ingin pintar, maka belajar yang giat. Jika kamu ingin kaya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
.
.
Sebaliknya, kedudukan Tajrid itu tidak usah ngapa-ngapain. Jika kamu ingin pintar tidak usah belajar. Allah yang akan membuatmu pintar. Jika kamu ingin kaya tidak usah bekerja. Allah yang akan membuatmu kaya.
.
.
Jika kita lihat sepintas, para kekasih Allah itu berada di maqam Tajrid. Namun tidak begitu dalam penjelasan Al Hikam. Kekasih Allah pun juga ada di maqam Asbab. Jika kamu belajar, bekerja sesuai norma, untuk mencari ridho Allah, maka pada posisi itulah Allah mengasihani kita.
.
.
Pertanyaan selanjutnya adalah, pada posisi yang mana, yang pas untuk kita, Tajrid kah, atau Asbab? Wallahu A'lam. Kita lanjut kapan-kapan.


Bromo, 1 Maret 2020
#DearDifa

Konon kemapanan mematikan kreatifitas dan produktifitas dalam berkarya [Dalam menulis misalnya]. Tentu saja itu tidak bisa digeneralisasikan. Saya menulis ini saat saya di Surabaya. Ingat Surabaya ingat Dahllan Iskan. Dahlan Iskan itu tokoh Indonesia. Pernah menjadi menteri BUMN pada era presiden SBY. Juga pernah menjabat Dirut PLN. Bos Jawa Pos itu sekarang menjadi pengusaha dan keliling dunia. Dalam kemapanan dan kenyamanan kekayaan itu, dia setiap hari menulis. Setiap hari! Kadang saya mengikuti tulisannya di fanspage fesbuknya. DI'S Way.
.
.
Selain itu Emha Ainun Nadjib. Dia itu Kiai, seniman, budayawan, dan berbagai gelar yang disematkan oleh masyarakat kepadanya. Dia itu kolumnis produktif se-Indonesia! Tentu saja beliau orang kaya. Kaya akan batinnya. Kekayaan itu beliau bagi untuk para mustadhafiin dengan membesarkan hatinya rakyat miskin.
.
.
Maafkan saya, yang target awal tahun menulis satu minggu saja untukmu tidak bisa saya tunaikan. Kenyamanan semu yang fatamorgana ini kadang menggangu saya. Semoga saya baik-baik saja. Dan Tuhan tetap mengkasihani kita.
.
.
Di Surabaya ini, ada daerah yang bernama Kremil. Kita punya novel berjudul Kremil. Novel itu saya wariskan kepadamu juga adikmu, semoga saat kau dewasa akan membacanya. Novel karya Suprapto yang berlatar waktu tahun 1950an mengkisahkan tentang cinta, kehidupan, dan sebuah perjuangan. Kremil itu daerah prostitusi. Tentu saja tokoh-tokohnya diantaranya pelacur, germo, dlsbnya. Bukan itu poinnya. Kremil bagi saya adalah karya sastra yang luar biasa. Alur dan ceritanya sangat epik. Sejak walikotanya Risma, Kremil sudah tidak ada lagi.
.
.
Kremil itu mengkisahkan tentang kisah cinta di awal tahun-tahun kemerdekaan Indonesia. Konon syarat laki-laki dicintai oleh wanita itu hanya satu; harta. Tapi tesis itu dipatahkan Ibumu. Komitmen itu kami bangun saat saya masih tidak punya apa-apa. Saat saya masih menganggur belum bekerja. Saat saya masih begitu jelata [sekarang pun masih begini-begini saja]. Saya tidak begitu yakin, keimanan seperti apa, dan madzhab teologi mana, yang dipakai Ibumu hingga dia begitu percaya padaku. Gusti Allah selalu maha ndak tega kepada kita.
.
.
#DearDifa. Saya meskipun saya pernah sedikit membaca teori feminisme, saya tidak sepenuhnya memahami perempuan. Menurutmu, kamu memilih dicintai apa mencintai? Dicantai itu objek. Sedang mencintai adalah subjek. Para pecinta itu bersifat aktif, sedang seseorang yang dicintai cenderung pasif. Saya memilih sebagai pecinta Ibumu dan kamu. Kalau kamu?

Surabaya, 1 Maret 2020

#DearDifaa

Junjungan kita, Muhammad SAW. adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dia adalah master piecenya alam semesta. Tanpa kanjeng nabi, seisi dunia dan akhirat tidak akan tercipta. Dari sekian banyak kehebatan dan kisah-kisah hero tentang beliau, saya sangat suka dengan sikap tawadhu' beliau. Tawadhu' itu rendah hati.
.
.
Nabi yang sebaik-baiknya makhluk Allah pernah ngendika: "sebaik-baik manusia adalah kebermanfaatannya untuk manusia lain". Maknanya, nabi, yang bagaikan permata dianatara bebatuan, mengajak kita— para butiran debu kerikil, untuk menjadi manusia unggul. umatnya diberi kesempatan untuk mengikuti tauladan beliau–menjadi sebaik-baik manusia.
.
.
Sudah dua hari ini, pikiran saya kacau dan embuh. Seseorang yang kamu sebut dengan "Um Kaji" meninggalkan kita semua untuk selamanya. Dia sebenarnya bukan siapa-siapa kita. Tidak ada hubungan darah dengan kita. Namun secara emosi, dia sangat erat sekali.
.
.
Um kaji, secara teknis adalah orang yang membantu Ibu saya–nenekmu, berdagang di pasar. Namun realitanya setelah pulang dari pasar, selepas dzuhur, terkadang dia membantu permasalahan apa saja di rumah. Mulai dari hal-hal besar seperti membetulkan drainase yang mampet, membenarkan gendeng bocor, mencabut rumput depan rumah, dll.
.
.
Hingga hal yang remeh-temeh seperti membakar sampah, Um Kaji melakukannya. Bahkan pohon pisang di samping rumah adalah Um Kaji yang menamnya. Pohon mangga depan rumah kita, dulu beli cangkokan. Um Kaji lah yang memberi pupuk dan menyiram saat masih kecil. Ketika sudah besar, pohon mangga itu selalu berbuah tanpa kenal musim. Tidak jarang Um Kaji memanjat pohon itu untuk memetik mangga yang akan dipersembahkan untukmu. Kamu penyuka mangga.
.
.
Um Kaji tidak pernah jatuh sakit, dia selalu terlihat energik. Namun, karena sering membawa beban yang berat, Um Kaji pernah dioperasi hernia. Sebanyak dua kali. Saat operasi pertama, kami pikir, setelah operasi, dia akan pensiun dari pasar. Kenyataanya tidak. Seminggu setelah operasi, dia berangkat lagi.
.
.
Sebutannya Um Kaji, tentu dia pernah berhaji, saat berangkat haji inilah, Ibu saya benar-benar kerepotan. Tidak ada yang membantu Ibu di pasar, maka saya harus turun tangan. Tenaga saya tentu tidak sehebat Um Kaji untuk memanggul 50 Kilogram gula atau tepung aci, maka saya merasa ngap-ngapan. Dibantulah tenaga lain. Dan masih tidak sekuat Um kaji. Kami pikir, sepulang dari naik haji, Um Kaji tidak akan berangkat membantu di Pasar lagi. Kenyataannya tidak. Um Kaji masih ingin membantu lagi.
.
.
Suatu ketika, Um Kaji merasa sakit hernia lagi. Operasi yang dulu sebelah kanan, kini yang dia rasakan sebelah kiri. Saya yang mengantarkan untuk operasi kali kedua. Saat operasi inilah, tim dokter yang menangani operasi menunda karena suatu hal. Suatu hal inilah yang kelak suatu hari menjadi jalan berpulangnya dia menuju keabadian. Namun setelah diberi treatment operasi segera dijalankan. Kami juga berpikir, setelah operasi kedua ini, Um Kaji akan benar-benar pensiun. Dugaan kami selalu salah, Om Kaji baik-baik saja. Bahkan saya masih ingat, Om Kaji pulang dari operasi dengan menggunakan sepeda motor. Kuat sekali.
.
.
Akhir Januari 2020, hari minggu, di subuh yang membisu. Saya mengantar ibu saya ke pasar. Biasanya sudah ada Um Kaji di sana yang sudah membukakan toko. Namun pagi itu toko masih petang. Hanya lampu kuning yang redup bersusah payah menyinari gang. Biasanya, jika Um Kaji tidak berangkat, kunci di taruh di atas. Saya cari. Saya coba raba. Hasi nihil tidak ada.
.
.
Ibu saya mendapatkan telepon. Di ujung sana, suara dari keluarga Um Kaji. Suara itu menangis. Tidak jelas. Kami panik. Menduga-duga. Sebenarnya apa yang terjadi. Untuk memastikan, saya bergegas menuju rumahnya. Di depan rumah Um Kaji, sudah ada banyak tetangga yang membawa surat Yasin. Saya itu juga, saya tidak percaya, Um Kaji sudah benar-benar tidak ada.
.
.
Sabtu siang, Um Kaji masih sehat. Masih bugar. Saya juga sempat berkomunikasi. Minggu pagi, ketika dia akan pergi ke pasar, menstarter motornya tidak nyala. Dia terjatuh. Disinyalir serangan jantung. Namun Um Kaji saat serangan jantung itu dia sempat melawan maut, dia segera bangun. Tapi tubuhnya roboh kembali. Dan kita semua tahu, Um Kaji sejak minggu ini, benar-benar pensiun.
.
.
Um Kaji di pasar tidak hanya membantu Ibu saya saja. Juga mencabang, membuka dan menutup toko Haji Toni. Di pasar juga terkenal supel, periang, suka bercanda, dan hal-hal lain yang positif. Tentu saja banyak orang yang kehilanhan sosok Um Kaji.
.
.
#DearDifa. Saya mengkisahkan ini agar kamu kelak, saat sudah besar tidak lupa, pernah ada sosok Um Kaji yang dekat dengan kita. Juga banyak sekali orang yang menyayangimu—menyaksikan dan berbahagia atas kelahiranmu—,  mereka telah meninggalkan kita: alm. Hj. Aisyah, beliau adalah buyutmu, ibu dari mbah kakung dari jalur Ibumu. Lik Ulwiyah, dia adalah adik mbah putri dari jalur ibumu. Juga mbah H. Abdul Wahab, yang selalu menawarkanmu Yakult saat kita berkunjung, dia adalah kakak ipar dari nenek jalur bapak. Matua Baeh, yang kita pernah menjenguknya membawa pisang.
.
.
#DearDifa. Saya tidak menuntutmu untuk menjadi pribadi yang harus begini dan begitu. Bagi saya, menjadi manusia bermanfaat itu tidak harus menjadi pejabat atau ulama. Tidak harus menjadi guru, dosen, dokter, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Menjadi manusia bermanfaat itu menyingkirkan duri dari jalanan. Atau saat kita berkendara memberi kesempatan orang menyeberang duluan. Kita ini hanya orang awam, melakukan sesuatu yang kecil-kecil saja. Barangkali kita kelak dikumpulkan dengan para sebaik-baik manusia.
#DearDifa.

Saat ini saya sedang memohon dengan segala harapan. Bisa jadi proposal itu akan gol. Atau bisa jadi juga zonk. Kita cuma hanya minta belas kasihan padaNya. 
.
.
Alquran itu ilmu pasti. Tidak ada keraguan tentangnya. Tidak ada kebimbangan bagi orang yang bertakwa. Falya'buduu rabba hadzal bait, aladzi athama hum min juu'i wa amana hum min khouf, kata Alquran. Maka sembahlah Tuhan yang menciptakan baitullah (ka'bah). Yang memberi makan kepada orang lapar, dan memberi rasa aman kepada orang yang ketakutan.
.
.
Konon di dunia ini, persoalan manusia yang paling mendasar hanya dua saja: lapar dan takut. Lapar itu babagan tentang perut, sementara ketakutan itu menyelimuti segala hal. The Panas Dalam, Band Indie asal Bandung yang sekarang sepertinya sudah tidak Indie lagi, pernah menulis lirik "lagu Timur". Timur itu anaknya Pidi Baiq–sang Imam besar The Panas Dalam.
.
.
Salah satu liriknya gini: 
Jangan takut Maklampir,
Maklampir itu Farida Fasya.
Jangan takut tidak naik kelas,
Tinggal pindah sekolah, 
Jangan takut polisi,
Kalau tidur, kita gilas. 
Jangan takut tentara, 
Tentara itu punya istri.
.
.
Lohhh maaf, malah ngelantur ke The Panas Dalam. Intinya kalau kita beribadah ke sang pemilik baitullah kita akan dijamin untuk tidak pernah kelaparan dan ketakutan.
.
.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
.
.
Buy one get two. Kita beli dengan satu, berupa Taqwa. Allah memberikan dua: Jalan keluar dari segala permasalahan dan rezeki yang tidak bisa disangka. Taqwa itu mengahdirkan Allah dalam segala hal. Dalam setiap detik kehidupan.
.
.
Waqul, robighfir wa anta khoiru rohimin.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE