Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

Kisah ini jauh-jauh hari sebelum pandemi ini masuk ke negara itu. Saat itu umurmu belum genap 3 tahun. Kamu sakit. Suhu tubuhmu panas. Disertai batuk kering juga. Kesepakatan itu terjadi di antara kita. Bahkan kamu yang menginkannya: periksa.
.
.
Kita pergi bukan ke dokter, bukan pula ke tabib. Di desa kita, tabib jaman ini sudah tidak ada. Kita pergi ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu adalah seorang perempuan tua, namanya Bu Ken. Meski Bu Ken bukan seorang dokter atau perawat, tempat dia buka praktek sangat laris. Banyak juga pasien dari tetangga desa. Bisa jadi, karena tarif bayarnya yang merakyat. Jika berobat di dokter paling minim sekali berobat 50 ribu, maka di Bu Ken hanya 20 ribu. Atau mungkin saja, pelayanannya yang supel. Ramah. Dan juga banyak pasien yang sembuh.
.
.
Di Bu Ken inilah kamu sendiri yang mengambil nomor antrian, dan mengantri bersama ibumu di dalam. Sementara saya menunggumu di luar. Tempat di Bu Ken agak sempit. Rata-rata pasien Bu Ken adalah anak-anak. Kata Ibumu, saat tiba giliranmu, kali ini kau tidak seperti biasanya; merajuk digendongan. Takut diperiksa dan ingin segera pulang. Kali ini kau berjalan sendiri, menuju ruang kerja Bu Ken. Naik ke bad sendiri. Membuka baju sendiri agar dadamu dibuka. Dan siap untuk diperiksa. Tentu saja, Bu Ken takjub dengan apa yang kamu lakukan. Dengan cekatan Bu Ken memeriksamu dengan stetoskponya.
.
.
Stetoskop itu, bisa jadi adalah alat yang sama yang dulu memeriksa saya saat kecil – sepertimu yang sedang sakit. Waktu sepertinya begitu cepat. Memerlukan lamunan panjang untuk menyadari bahwa saya sudah setua ini.
.
.
Konon, Bu Ken bukan asli orang desa kita. Jika mendengar intonasi berbicara, sepertinya dia berasal Solo. Dan menetap di sini bersuami sang suami. Suatu ketika, saat saya kecil dan sakit. Ibu saya membawa ke Bu Ken. Namun sial. Bu Ken hari itu tutup. Rumahnya sepi. Karena sebuah kepercayaan dan keyakinan tinggi, saya jika tidak diperiksa Bu Ken sakitnya lama sembuh. Pernah mencoba berobat ke dokter. Tapi tidak ada tanda sembuh. Maka, saya disuruh memegang pagar rumahnya saja. Dan bim salabim. Tentu saja Tuhanlah yang maha menyembuhkan.
.
.
Kisah tentang lompatan-lompatan waktu seperti kisah Bu Ken juga dialami Ibumu. Dulu, Ibunya Ibumu –nenekmu, melahirkan bayinya di rumah bersalin Bidan Solihin. Si bayi itu, setelah berusia 25 tahun menjadi istri saya. Saat hamil, bayi yang sudah dewasa itu yang dilahirkan di Bidan Solihin, melahirkan juga di bidan Solihin. Bayi yang dilahirkan itu kamu. 
.
.
Sehat selalu untuk semua makhluk yang melompati waktu. Waktu tidak beranjak ke mana-mana. Hanya kita yang semakin tua.
#DearDifa

Kemarin tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional. Pendidikan, kata seorang teman–dia seorang seniman Yogya, adalah agar membuat manusia menjadi tidak jahat-jahat amat. Seperti biasa, dia membuat status fesbuknya dalam rangka lucu-lucuan. Tapi tidak dengan anggapan saya. Dia sedang serius. Manusia itu tadinya jahat. Sangat jahat. Datanglah alam pikir buah pendidikan dengan tetek bengeknya kurikulum, agar mencetak manusia tidak jahat. Tapi seriuskah? Manusia menjadi tidak jahat setelah dia berpendidikan? Kamu yang akan menjawab nanti di jamanmu.
.
.
Mengingat pendidikan, saya kemarin membelikanmu mainan huruf abjad. Tentu tujuannya adalah agar kamu mengenal huruf. Kemudian membaca. Kemudian bisa menulis. Karena saya benar-benar tidak mengingat, bagaimana cara dulu bapak saya mengenalkan saya pada huruf.
.
.
Yang saya ingat adalah ketika saya di kelas 1 SD, berada di kelas, latihan membaca, dipandu seorang guru; ini Budi, ini bapak Budi. Kelas satu saya sudah membaca. Saya sangat beruntung. Bapak saya yang juga guru mempunyai beberapa koleksi buku. Buku tentang cerita rakyat Nusantara. Juga beberapa buku pelajaran bahasa Indonesia. Yang sebenarnya, semua buku itu, milik perpustakaan sekolah di mana bapak saya mengajar. Ketika bapak sudah tiada. Buku-buku itu dikembalikan lagi.
.
.
Tentang sebuah huruf, dulu Belanda saat menjajah kita membuat klaim sepihak. Membuat survei. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang buta huruf. Tidak bisa baca tulis. Benar saja. Yang dimaksud baca tulis adalah baca dan tulis huruf abjad. Padahal kondisi rakyat saat itu, banyak yang kenal huruf Arab Pegon. Juga aksara Nusantara (Jawa, Bali, Lampung, dlsbya)Tapi mereka dianggap buta huruf.
.
.
Ini adalah masa-masa emas umurmu. Belajar segala sesuatu dengan gampang. Saya berharap. Sebelum kamu kenal dengan huruf abjad, hijaiyyah, dan berbagai aksara dunia. Kamu kenal dulu dengan Hanacaraka. Hanacaraka itu huruf asli leluhur nenek moyangmu. Saya tidak tahu, jika kehidupan ini masih berlangsung, apakah Hanacaraka masih digunakan oleh anak turunmu atau sudah usang.
.
.
Tapi apalah saya. Kurang semangat untuk mengenalkanmu pada Hanacaraka. Tulisan saya ini saja adalah huruf abjad. Terlebih jarang media, mainan, yang menggunakan Hanacaraka. Jadi kamu fokus hanya dengan huruf abjad. Sudah menjadi prinsip saya, hidup yang biasa-biasa saja, tidak perlu menjadi hero yang sok-sokan.
.
.
Saya ini lelaki yang bisa bahagia dari hal-hal sederhana. Saat masa pandemi. Mengetahui tentangmu. Di usia tiga tahun ini, kamu sudah membedakan huruf o dan angka 0 saja, sudah membuat imunku meningkat. Sesederhana itu saya bisa bersyukur. Tentu saja saya tidak menuntutmu kamu segera bisa kenal huruf hijaiyyah, kemudian menghapal Alquran. Itu terlalu sundul langit bagi saya. Alquran tentu sangat baik dihapalkan. Tapi menjalani kehidupan yang “'Ngur’ani” [berupaya menjalani ajaran Alquran, menjadi orang baik, jujur, dlsbya] adalah hal yang harus kita lakukan. Sehat selalu, Nadifa.
Untuk teman² PBA STIT 2018, maafkan saya yang baru sempat menunaikan janji. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. Akan tetapi, tulisan ini bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita. 
.
.
Hari ini tanggal 1 Mei, ditetapkan menjadi hari buruh dunia. Muara pendidikan kita, di negeri tercinta kita, adalah berujung menjadi buruh. Bukankah ustadz, guru, seorang pendidik, sejatinya juga adalah buruh? Saya berharap, suatu saat teman² menggali, siapa dan untuk apa semangat buruh itu ada. Besok tanggal 2 Mei, hari pendidikan negeri kita. Sangat cocok dikaitkan dengan mata kuliah kita; metodologi pembelajaran bahasa Arab.
.
.
Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi the great teacher. Terlebih dalam masa pandemik ini. Semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli. Tapi tidak butuh ahli kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti itu [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif?
.
.
Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?
.
.
Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.
.
.
TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.
.
.
Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;
الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.
.
.
Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru. 
.
.
Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu.  Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru. 
.
.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, jangan anti kritik terhadap murid.
.
.
Oh iya, mengenai sharaf. Refleksi saya terhadap sharaf adalah; kebiasaan kita, ilmu ini dipakai hanya sebagai objek ilmu. Tidak sebagai alat pisau analisis. Saya berharap, kedepan kita akan banyak menganalisis berbagai macam objek penelitian dengan memakai pisau bedah ini. Bgaiamana  kita langsung saja mencoba latihan analisis salah satu surat Alquran dengan analisis morfologi?
.
.
Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sukses selalu untuk PBA STIT 2018.

#DearDifa

Ini hari Senin. Biasanya saya menulis #DearDifa hari Sabtu. Tapi apa pentingnya nama hari pada detik-detik ini. Semua sama saja. Segala aktifitas dilakukan dari rumah. Sudah 14 hari pelajar Indonesia belajar di rumah. Kabarnya tahun ini tidak ada UN [Ujian Nasional] untuk tingkat kelas akhir. Sebagian pekerja formalpun bekerja dari rumah. Bukan hanya di Indonesia. Kondisi yang sama juga dialami oleh banyak negara di dunia.  Kejadian yang luar biasa.
.
.
Sayangnya, tidak semua pekerjaan dilakukan dari rumah. Pekerja non formal,  abang ojek misalnya. Kalau tidak keluar rumah, tidak mungkin mereka bisa makan. Maka, jika kondisi negara dilockdown yang paling rentan secara ekonomi adalah para pekerja non formal.
.
.
Perhari kemarin [29/03], Indonesia yang postif terjangkit Cofid 19 sejumlah 1285 orang. Di negara kita, yang meninggal dan sembuh banyak yang meninggal. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Yang jelas, negara kita juara 1 seluruh dunia, presentase jumlah orang meninggal.
.
.
Ada dua cara penanggulangan Cofid 19 yang sudah sukses diterapkan di negara lain. Pertama Lockdown, diterapkan di Tiongkok. Mereka sukses besar. Mata rantai penyebaran pandemik Corona terputus. Meskipun ada konsekuensi besar dari kebijakan Lockdown. Kedua tes massal. Diterapkan di Korea Selatan. Korsel membuat alat tes sendiri. Dan menerapkan tes jutaan warga negaranya. Sehingga bisa memetakan mana warga yang terjangkit, untuk segera diisolasi dan diobati.
.
.
Sampai detik ini, obat dari Cofid 19 belum ditemukan. Seluruh ilmuwan berlomba untuk meneliti. Dan di negara yang kita cinta, dua kebijakan pilihan tadi belum menjadi pilihan. Pemerintah pusat kita belum memberi aba-aba. Kecuali Pemkot Tegal yang sudah me-lockdown wilayahnya. Warga kota Tegal nyaris tidak bisa kemana-mana! Tentu ada positif dan negatif kebijakan tersebut.
.
.
Pemerintah Amerika di bawah Presiden Trump, baru-baru ini, dalam keadaan seperti ini, mengintruksikan warganya untuk tetap berliburan, tetap berkerumun, bergerombol. Dan perusahan tetap berjalan seperti biasa. Untuk mengatasi Cofid-19, Trump agaknya mempunyai cara lain;
.
.
Ternyata, selain kebijakan dua diatas [Lockdown dan Tes Massal], ada alternatif kebijakan lain, yaitu Herd Immunity. Kekebalan kelompok. Adalah keadaan ketika sebagian besar orang kebal terhadap penularan penyakit tertentu.
.
.
Herd immunity bisa tercipta dengan dua cara, salah satunya dengan menyuntikkan vaksin untuk penyakit tertentu secara masif. Ini biasa dilakukan dalam bentuk imunisasi. Semakin besar cakupan imunisasi, semakin tinggi pula herd immunity.
.
.
Cara kedua adalah dengan mekanisme alami. Herd immunity diupayakan dengan membiarkan virus menginfeksi seluruh atau sebagian besar orang. Ini dilakukan ketika virus tertentu belum ditemukan atau sedang diupayakan vaksinnya.
.
.
Tentu saja, herd immunity pada COVID-19 hanya dapat dilakukan dengan cara kedua, karena sampai saat ini vaksinnya belum ditemukan. Masalahnya, mengupayakan cara ini, sama saja bunuh diri massal.
.
.
Tapi begitulah sistem Kapitalisme yang dianut Amerika. Amerika sebagai negara besar dan maju adalah karena sistem kapitalisnya. Perusahaan-perusahaan dibiarkan bersaing. Yang kuat yang menang. Yang hebat yang bertahan. Yang ecek-ecek yang akan tumbang. Begitu juga Herd Immunty. Yang kuat menahan virus yang akan hidup. Yang lemah yang akan mati! Para Lansia, kekebalannya sudah menurun yang akan banyak korban. Juga balita sepertimu, yang imunnya belum terbentuk secara sempurna, juga sangat beresiko.
.
.
Dalam situasi dunia yang kacau balau, kita beruntung masih bisa bergembira menonton Upin Ipin, salah satu kartun kesukaanmu. Salah satu tokoh dalam Upin Ipin adalah Uncle Muhto. Uncle Muhto mempunyai bisnis kedai di Kampung Durian Runtuh. Dia ingin berinofasi dengan dagangannya. Salah satunya adalah menambah menu makanan berupa Ayam Panggang. Di Kampung Durian Runtuh,  yang mampu memasak Ayam Panggang dengan cita rasa dahsyat hanya Opah seorang. Maka, dia meminta Opah untuk memasak setiap hari untuk dihidangkan sebagai menu andalan di Kedai Uncle Mutho. Sayangnya, cara berfikir Opah itu tidak kapitalsitik, yang memanfaatkan keadaan dan skil yang ia punya untuk meraup keuntungan besar. Opah hanya akan memasak Ayam Panggang setiap hari cuma dua ekor. Tidak lebih dari itu.
.
.
Jika kita cermati, kehidupan Opah sehari-hari juga biasa-biasa saja. Opah selaku kepala keluarga tidak bekerja sebagai orang kantoran. Kak Ros (Kakak dari Upin Ipin) pun sama, dia hanya pelajar, yang sesekali mendapatkan honor dari ia membuat komik ‘Kembara Kembar Nakal’. Sesekali kita lihat, Opah sedang berkebun di kebun samping rumah. Sangat sederhana. Tidak sepeerti Kapitalistik yang megah dan pongah. Sebentar lagi system itu akan hancur dengan sendirinya. Lalu apa langkah pemerintah Indonesia? Sulit menjelaskannya untukmu.
.
.
Hari minggu kemarin kita tidak kemana-mana. Dan memang kita jarang kemana-mana. Sesekali kita memang pernah ke Balaikota Tegal. Biasanya kamu ingin naik odong-odong kereta yang berputar-putar itu. Sekarang kota Tegal Lockdown, tentu saja balaikota saat minggu pagi juga sepi. Mungkin balaikota, jika semua ini sudah berakhir, akan menjadi daftar tempat yang harus kita kunjungi. Menyaksikanmu berbahagia menaiki odong-odong kereta. Berputar-putar. Seperti hidup yang hanya seperti ini saja, terus berputar.

Tegal, 30 Maret 2020


#DearDifa
Saat saya menulis ini kamu masih tertidur. Kemudian saya membetulkan selimutmu yang berantakan. Semoga mimpimu indah. Seperti hari-hari yang kita jalani akhir-akhir ini. Semua bagai mimpi. Mimpi yang teramat buruk. Saya berharap ingin segera menyudahi mimpi ini.
.
.
Seperti halnya tebakan para ahli, Indonesia tidak akan siap mengahadapi pandemik Corona, saat pandemik itu menyebar di sini. Kemarin (18/3), Indonesia menduduki peringkat pertama dunia angka kematiannya! Dari 227 pasien positif Corona, 19 yang meninggal.
.
.
Fasilitas kesehatan kita belum memadai seperti di luar negeri sana. Saat seseorang ingin mengecek kesehatan, apakah virus itu bersarang di tubuhnya, dia harus merogoh kocek lebih dalam. Konon kabarnya, di laboraturium universitas Indonesia, sekali cek dihargai Rp. 2.500.000, sebuah nominal yang menyundul langit bagi rakyat kecil seperti kita.
.
.
Begitulah negara kita, semoga di jamanmu nanti, semua aspek negeri akan menjadi lebih baik. Selain virus Corona, ada kabar yang kurang baik. Sepertinya Tuhan sedang menggoga saya. Proposal bertahun-tahun itu hampir diacc. Hampir saja Tuhan mengatakan Kun. Juga hampir saja hati saya melambung tinggi. Setelah shalat jumat saya cek, ternyata ada yang lebih pantas dari saya. Sebagai manusia tentu saja ada sedikit kecewa-kecewanya. Benar agaknya, dunia mungkin hanya sekedar main-main saja. Kita yang main-main, orang lain yang dapat senangnya.
.
.
Harapan tentu saja masih ada. Kanjeng Sunan Ampel Surabaya itu dakwahnya menggunakan metode sabung ayam. Berjudi. Karena rata-rata masyarakat saat itu hobi berjudi. Barangsiapa yang kalah dengan Jagonya Kanjeng Sunan, dia akan tunduk dan masuk Islam. Karena Kanjeng Sunan itu kekakasih Allah. Segala hal yang dilakukannya selalu mujur. Jagonya menang terus. Masyarakat berbondong-bondong masuk Islam.
.
.
Gus Dur [KH. Abdurahman Wahid] beliau terkenal selain dikenal sebagai humoris, beliau terkenang juga sebagai seorang yang humanis, dalam suatu kesempatan pernah berkata, "Urip itu keplek", Hidup itu judi. Beliau mengatakan itu tentu saja sambil berkelakar, dalam rangka membuat besar hatinya para rakyat kecil yang setiap hari harus mencari rejeki menafakahi anak istrinya. Tukang becak, penjual somey, pedangan asongan, dlsbnya.
.
.
Tapi jika semua variabel-variabel itu tertuju padaku, "perjudian" kali ini saya kalah. Saya pulang. Mbangun desa lagi. Membuat peluang-peluang lagi. Membangun mitra dengan organisasi dunia, untuk mengentaskan pendidikan bagi mustadhafiiin di Tegal.
.
.
Saya jadi ingat pengajian Maiyah di Surabaya. Ketika itu diselenggarakan di komplek Doli [komplek pelacuran] yang kini sudah ditutup oleh Risma. Di sana  Mbah Nun berkata, lebih tepatnya berdoa dalam rangka membesarkan hatinya para pelacur itu, “jadikan aku apa saja ya Allah, jadikan aku pelacur, gento, dan lain-lain. Asal Engkau meridhoi aku jadi hambaMu”. Kemudian ditutup shalawat dan gamelan Kiai Kanjeng. Kuncinya Allah ridho.
.
.
#DearDifa. Saat usiamu belum genap 3 tahun kalender Hijriyah kemarin. Ketika ditanya apa cita-citamu, kamu jawab dengan lantang, ingin menjadi dokter. Saya tidak tahu kamu dapat inspirasi 'jadi dokter' dari mana. Ibumu memberitahu, mungkin dari video yang diputer yang didownload dari Youtube asal cita-citamu itu.
.
.
Kalau kau ingin jadi dokter, jadilah. Saya akan memberimu sepasang sayap. Saya biarkan kamu terbang bebas. Begitulah sebaik-baik saya mencintaimu. Menjadi dokter konon itu berat. Dan saya yakin kau pasti kuat. Hari-hari ini, dokter dan tenaga medis adalah garda terdepan dalam perang melawan pandemik Corona. Terkadang mereka tidak pulang dari rumah sakit berhari-hari, meninggalkan anak dan keluarganya.
.
.
Seorang perawat perempuan asal Tiongkok yang sedang berjibaku menangani Corona, disusul anak dan suaminya. Mereka makan bersama di pelataran rumah sakit. Sebuah pemandangan yang mengilukan hati. Makan bersama bagi kelurga itu adalah sebuah kekayaan dan keistimewaan yang luar biasa, meskipun hanya di pelataran rumah sakit. Dan si ibu tentu jaga jarak dengan anak dan suaminya.
.
.
Hari-hari ini, sesama manusia memang harus menjaga jarak. Untuk mengurangi resiko penyebaran pandemik Corona. Tapi tidak dengan dokter spesial paru berusia 80 tahun [saya lupa namanya]. Tadinya saya kurang percaya dengan tulisan yang banyak dibagikan teman-teman di Fesbuk. Setelah ada seorang teman membagikan cerita bahwa dokter yang usianya 80 tahun itu adalah rekan kerja dari istrinya. Dokter yang sudah seharusnya masuk usia pensiun itu terus bekerja. Berjihad menyerahakan seluruh jiwa raga, berperang di garis paling depan melawan Corona.
.
.
Kita sedang dalam berjudi antara hidup dan mati, melawan Corona. Cita-citamu masih ingin jadi dokter, nak? Terbanglah tinggi suatu hari nanti. Begitulah aku, sebaik-baik mencintaimu.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE