Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearDifa


Konon Tuhan itu bercakap dengan manusia melalui tanda. Tinggal manusia bisa membaca tanda itu atau tidak.



Saya dianugerahi banyak teman di Media Sosial dari beberapa kalangan. Dari teman itu saya mecoba, berusaha membaca tanda. Kadang Tuhan menyindir saya. Tidak jarang menyemangati juga. 



Seperti unggahan seorang profesor. Dia menulis tentang doa. Dia menganalogikan. Ketika ada pengamen dengan suara yang sumbang, buru-buru ia memberikan recehan. Jangan-jangan selama ini, suara doa kita juga sama sekali tidak indah untuk didengar, hingga Tuhan buru-buru mengabulkan keinginan. Betapa hina nian.



Suatu ketika, seorang teman seniman apdet status. Tokoh seniman ini adalah orang yang hidupnya penuh lika-liku. Seniman duda yang ditinggal kekasihnya. Tapi ia terus berkarya. Dalam statusnya ia mengucapkan: bertarunglah, jika kalah akuilah. Lalu bertarung lagi. Jika menang, kenangkanlah. Sebab kemenangan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Yang saya tahu, Tuhan Maha Ndak Teganan.



Begitulah, dua hari lagi saya harus siap dengan pertarungan itu. Tentu saya menyanyi dalam doa. Tidak peduli nyanyian saya terdengar sumbang. Toh jika dalam sepanjang hidup saya, saya terus berdoa dengan nyanyian jelek ini, saya tidak apa-apa. Jika diberi recehan juga saya terima. Karena sudah seharusnya, genetik saya mewarisi survive dalam mengarungi kehidupan.

 #DearDifaa


Pelajaran sejarah adalah bagi saya pelajaran yang membosankan. Selain hanya mendengarkan guru mendongeng, saat itu saya juga harus menghapalkan tokoh, peristiwa, sekaligus tanggal dan tahunnya. Konon, sejarah itu milik pengusa yang sedang duduk di singga sana.

.

.

Suatu hari, ketika saya sudah mentas dari bangku sekolah, saya baru tahu; ada satu tokoh, tokoh ini adalah tokoh sentral, bagaimana tokoh ini berperan sebagai pemantik pergerakan yang disebut nasionalisme dalam lingkungan kolonialiasme Belanda. Dia yang awal mula membidani lahirnya sebuah bangsa, yang kelak bangsa itu menamakan dirinya Indonesia. 

.

.

Tokoh ini, kelak saat kamu besar, mungkin tidak akan mengenalnya. Tidak pernah dijadikan nama jalan di kota-kota maupun di desa. Tahun 2006 pemerintah memang sudah menetapkan bahwa dia pahlawan. Tapi tempat peristirahatannya yang terkahir tidak di makam pahlawan. Karena sebenarnya dia dilupakan dan yang terlupakan. Maka, ijinkan saya memintamu menyimpan baik-baik nama tokoh ini; Raden Mas Tirto Adhi Soerja. 

.

.

Dia anak Bupati Bojonegoro. Darah biru. Keturunan ningrat. Saat manusia sebangsanya tidak mendapatkan akses pendidikan, dia memperoleh pendidikan Eropa. Pada jaman itu, awal tahun 1900an, perbedaan kelas sosial sangat kental sekali. Rakyat jelata akan menyembah, membungkuk jika menghadap atau bertemu dengan pejabat. Nah, R.M Tirto menolak sembah dan sungkem. Baginya, yang sudah mendapatkan pendidikan Eropa, manusia di atas bumi ini adalah sama. Dia tidak membutuhkan sembah dari rakyat jelata. Karena manusia itu hakikatnya sama, maka pribumi, Belanda, dan semua ras manusia juga seharusnya kedudukannya sama. Perbudakan, penjajahan, kolonialisme harus dibuang.

.

.

Dialah manusia pertama Hindia Belanda, yang menginisiasi membentuk organisasi. Dia melawan tirani melalui wadah bernama organisasi. Dia juga Bapak pers Indonesia. Dia yang pertama kali menerbitkan koran berbahasa Melayu, bahasa yang kelak akan menjadi bahasa Indonesia. Bahasa yang kelak akan menjadi bahasa sumpah pemuda.

.

.

#DearDifa. Dia fasih berbahasa Belanda baik tulis maupun lisan. Jika umurku panjang, ijinkan aku nanti berkisah banyak hal padamu. Kita akan berdiskusi panjang. Aku akan menjadi teman mengobrolmu. Bisa jadi akulah teman debatmu. Dan, Difa. Tepat hari ini, 17 Agustus tahun 1918. Seorang lelaki pembela rakyat, meninggal tanpa banyak orang mengiringi pemakamannya. 17 Agustus 1945 Merdekalah bangsa kita. Dan R.M Tirto tetap saja dilupakan.

 #DearDifa

Simpan baik-baik nama gadis kecil ini: Ghina Bou Hamdan. Dalam acara The Voice Kids for Arab 2015, ia menyanyikan Atoua Toufuli (Give Us the Chilhood). Ghina, saat itu, hampir tidak bisa menyelesaikan nyanyiannya. Dan banyak orang yang menangis mendengar ia menyanyi. 

.

.

Kau tahu, Nak. Kenapa Ghina dan para pendengar menangis? Mereka rindu nikmat kedamaian. Damai yang seharusnya mereka rasakan sejak kanak-kanak. Lagu ini, mengkisahkan kerinduan seorang bocah Lebanon, Remi Bendali. Dia merasa kegembiraan kanak-kanaknya tercabut karena perang pada tahun 1985. Kala itu, Remi berusia 5 tahun. Lebanon sedang porak poranda akibat perang sekterian. 

.

.

Konon, lagu ini adalah lagu wajib anak-anak di dunia Arab. Lagu yang mereflesikan kerinduan seorang anak akan kedamaian yang hingga hari ini, tanah para nabi itu tak pernah berhenti bergejolak. Tontonlah videonya ini: https://youtu.be/y7KqSrXnpSg

.

.

Pada sore hari tanggal 4 Agustus 2020 pukul 18.08 waktu setempat, terjadi ledakan di Pelabuhan Beirut yang berlokasi di Beirut, Lebanon. Sekitar 137 orang meninggal dunia, 80 orang hilang,dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka.

.

.

#DearDifaa, dulu bangsa kita juga mengalami hal yang sama, di atas tanah yang belum dinamai Indonesia. Perang, suasana mencekam. Tidak ada canda tawa anak. Bernyanyilah, Nak. Nyanyianmu akan diperdengarkan banyak orang. Dan akan menghibur Bapakmu ini. 

#DearDifa

Kisah ini jauh-jauh hari sebelum pandemi ini masuk ke negara itu. Saat itu umurmu belum genap 3 tahun. Kamu sakit. Suhu tubuhmu panas. Disertai batuk kering juga. Kesepakatan itu terjadi di antara kita. Bahkan kamu yang menginkannya: periksa.
.
.
Kita pergi bukan ke dokter, bukan pula ke tabib. Di desa kita, tabib jaman ini sudah tidak ada. Kita pergi ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu adalah seorang perempuan tua, namanya Bu Ken. Meski Bu Ken bukan seorang dokter atau perawat, tempat dia buka praktek sangat laris. Banyak juga pasien dari tetangga desa. Bisa jadi, karena tarif bayarnya yang merakyat. Jika berobat di dokter paling minim sekali berobat 50 ribu, maka di Bu Ken hanya 20 ribu. Atau mungkin saja, pelayanannya yang supel. Ramah. Dan juga banyak pasien yang sembuh.
.
.
Di Bu Ken inilah kamu sendiri yang mengambil nomor antrian, dan mengantri bersama ibumu di dalam. Sementara saya menunggumu di luar. Tempat di Bu Ken agak sempit. Rata-rata pasien Bu Ken adalah anak-anak. Kata Ibumu, saat tiba giliranmu, kali ini kau tidak seperti biasanya; merajuk digendongan. Takut diperiksa dan ingin segera pulang. Kali ini kau berjalan sendiri, menuju ruang kerja Bu Ken. Naik ke bad sendiri. Membuka baju sendiri agar dadamu dibuka. Dan siap untuk diperiksa. Tentu saja, Bu Ken takjub dengan apa yang kamu lakukan. Dengan cekatan Bu Ken memeriksamu dengan stetoskponya.
.
.
Stetoskop itu, bisa jadi adalah alat yang sama yang dulu memeriksa saya saat kecil – sepertimu yang sedang sakit. Waktu sepertinya begitu cepat. Memerlukan lamunan panjang untuk menyadari bahwa saya sudah setua ini.
.
.
Konon, Bu Ken bukan asli orang desa kita. Jika mendengar intonasi berbicara, sepertinya dia berasal Solo. Dan menetap di sini bersuami sang suami. Suatu ketika, saat saya kecil dan sakit. Ibu saya membawa ke Bu Ken. Namun sial. Bu Ken hari itu tutup. Rumahnya sepi. Karena sebuah kepercayaan dan keyakinan tinggi, saya jika tidak diperiksa Bu Ken sakitnya lama sembuh. Pernah mencoba berobat ke dokter. Tapi tidak ada tanda sembuh. Maka, saya disuruh memegang pagar rumahnya saja. Dan bim salabim. Tentu saja Tuhanlah yang maha menyembuhkan.
.
.
Kisah tentang lompatan-lompatan waktu seperti kisah Bu Ken juga dialami Ibumu. Dulu, Ibunya Ibumu –nenekmu, melahirkan bayinya di rumah bersalin Bidan Solihin. Si bayi itu, setelah berusia 25 tahun menjadi istri saya. Saat hamil, bayi yang sudah dewasa itu yang dilahirkan di Bidan Solihin, melahirkan juga di bidan Solihin. Bayi yang dilahirkan itu kamu. 
.
.
Sehat selalu untuk semua makhluk yang melompati waktu. Waktu tidak beranjak ke mana-mana. Hanya kita yang semakin tua.
#DearDifa

Kemarin tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional. Pendidikan, kata seorang teman–dia seorang seniman Yogya, adalah agar membuat manusia menjadi tidak jahat-jahat amat. Seperti biasa, dia membuat status fesbuknya dalam rangka lucu-lucuan. Tapi tidak dengan anggapan saya. Dia sedang serius. Manusia itu tadinya jahat. Sangat jahat. Datanglah alam pikir buah pendidikan dengan tetek bengeknya kurikulum, agar mencetak manusia tidak jahat. Tapi seriuskah? Manusia menjadi tidak jahat setelah dia berpendidikan? Kamu yang akan menjawab nanti di jamanmu.
.
.
Mengingat pendidikan, saya kemarin membelikanmu mainan huruf abjad. Tentu tujuannya adalah agar kamu mengenal huruf. Kemudian membaca. Kemudian bisa menulis. Karena saya benar-benar tidak mengingat, bagaimana cara dulu bapak saya mengenalkan saya pada huruf.
.
.
Yang saya ingat adalah ketika saya di kelas 1 SD, berada di kelas, latihan membaca, dipandu seorang guru; ini Budi, ini bapak Budi. Kelas satu saya sudah membaca. Saya sangat beruntung. Bapak saya yang juga guru mempunyai beberapa koleksi buku. Buku tentang cerita rakyat Nusantara. Juga beberapa buku pelajaran bahasa Indonesia. Yang sebenarnya, semua buku itu, milik perpustakaan sekolah di mana bapak saya mengajar. Ketika bapak sudah tiada. Buku-buku itu dikembalikan lagi.
.
.
Tentang sebuah huruf, dulu Belanda saat menjajah kita membuat klaim sepihak. Membuat survei. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang buta huruf. Tidak bisa baca tulis. Benar saja. Yang dimaksud baca tulis adalah baca dan tulis huruf abjad. Padahal kondisi rakyat saat itu, banyak yang kenal huruf Arab Pegon. Juga aksara Nusantara (Jawa, Bali, Lampung, dlsbya)Tapi mereka dianggap buta huruf.
.
.
Ini adalah masa-masa emas umurmu. Belajar segala sesuatu dengan gampang. Saya berharap. Sebelum kamu kenal dengan huruf abjad, hijaiyyah, dan berbagai aksara dunia. Kamu kenal dulu dengan Hanacaraka. Hanacaraka itu huruf asli leluhur nenek moyangmu. Saya tidak tahu, jika kehidupan ini masih berlangsung, apakah Hanacaraka masih digunakan oleh anak turunmu atau sudah usang.
.
.
Tapi apalah saya. Kurang semangat untuk mengenalkanmu pada Hanacaraka. Tulisan saya ini saja adalah huruf abjad. Terlebih jarang media, mainan, yang menggunakan Hanacaraka. Jadi kamu fokus hanya dengan huruf abjad. Sudah menjadi prinsip saya, hidup yang biasa-biasa saja, tidak perlu menjadi hero yang sok-sokan.
.
.
Saya ini lelaki yang bisa bahagia dari hal-hal sederhana. Saat masa pandemi. Mengetahui tentangmu. Di usia tiga tahun ini, kamu sudah membedakan huruf o dan angka 0 saja, sudah membuat imunku meningkat. Sesederhana itu saya bisa bersyukur. Tentu saja saya tidak menuntutmu kamu segera bisa kenal huruf hijaiyyah, kemudian menghapal Alquran. Itu terlalu sundul langit bagi saya. Alquran tentu sangat baik dihapalkan. Tapi menjalani kehidupan yang “'Ngur’ani” [berupaya menjalani ajaran Alquran, menjadi orang baik, jujur, dlsbya] adalah hal yang harus kita lakukan. Sehat selalu, Nadifa.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE