Setelah pembunuhan guru Paty yang memunculkan kartun Nabi Muhammad
saat mengajar, majalah mingguan satir Perancis Charlie Hebdo mencetak lagi
kartun nabi Muhammad di edisi terbarunya. Ludes terjual dalam kurun sehari. Kartunis
majalah itu mengungkapkan bahwa kebebasan berkespresi didukung publik Perancis.
Entah dari mana asal-usulnya, masyarakat meyakini, bahwa itu lantas disebut sebagai wajah Nabi Muhammad
karena jika pandangan Anda adalah Islam rahmah, tidak perlu marah. Bagaimana
mungkin wajah nabi kita dilukisakan dalam kartun sejelek itu. Barangkali di
sanalah letak kelucuan karikatur Westergaard itu: mencoba berimajinasi terhadap
sesuatu yang tidak pernah dijumpai dan dilihatnya dan kemudian memang keliru
sama sekali.
Nabi
Muhammad adalah sosok yang disanjung dan menjadi panutan seluruh umat Islam.
Lahir di Mekkah, Muhammad terlahir dari garis keturunan Ibrahim as.
melalui Nabi Ismail.
Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar, budak
Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Menjelang setahun setelah kelahiran
Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas
permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail
diminta meninggalkan Kanaan.
Dalam
buku Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis yang ditulis oleh Karen Amstrong,
digambarkan sebagai pria yang tampan, santun, jujur, dan cerdas. Beberapa hadis
dan keterangan Sahabat juga mengungkapkan hal yang
sama. Salah satu sebab orang-orang Quraisy (salah
satu suku yang paling keras menentang ajaran Muhammad) tak mampu mengusir dan
mengucilkan Nabi, karena perilaku Muhammad yang santun, jujur, dan cerdas
bahkan sejak kanak-kanak. Sehingga dalam setiap persoalan, mereka yang
menentang keras Muhammad pun selalu meminta Nabi untuk menjadi penengah atau hakim
dalam setiap perkara.
Keterangan
Karen tersebut, niscaya juga berlaku pada semua nabi dan orang-orang saleh yang
lain. Pada mereka seolah berlaku ketetapan bahwa ucapan dan perbuatan kadarnya
sama benar. Tidak ada misalnya, sejarah dari para nabi dan orang-orang saleh,
apa pun agama yang dibawa oleh mereka, kemudian antara ucapan dan perbuatannya
tidak singkron apalagi misalnya mengajarkan kebencian dan permusuhan. Wajah
mereka, semuanya juga digambarkan sebagai wajah yang teduh, sehingga membuat
banyak orang merasa aman berada di samping mereka.
Persoalannya, berdasarkan beberapa hadis, dalam Islam melarang
orang membuat gambar dan menyimpannya dalam rumah. Salah satunya adalah sebuah
hadis yang dikabarkan oleh Bukhari, yang menyebut, “Bahwasanya Malaikat tidak masuk ketika gambar-gambar
di rumah”, Apa alasan Nabi waktu mengatakan itu, penafsirannya juga multi
tafsir. Jika dalam Ilmu Kajian Alquran terdapat Asbabun Nuzul (Sebab-sebab
diturunkannya ayat), maka dalam Ilmu Hadis terdapat Asbabul Wurud (Sebab-sebab
datangnya/keluarnya hadis). Hadis tentang malaikat rahmat, yang enggan masuk
rumah karena terdapat gambar, juga bisa di-takhrij (analisis Hadis) dari
berbagai sudut pandang kecakapan Rawi (periwayat Hadis), dan lain-lain. Dari Takhrij Al Hadis itu bisa
menentukan kualitas Hadis dan bisa dicerna kemana arah kontekstual ucapan Nabi
pada waktu itu.
Ada sebuah cerita yang cukup menarik, saat peristiwa Fathu Makkah
(pembebasan kota Makkah) Nabi memasuki Mekkah untuk kali pertama sejak
berpindah (hijrah) ke Madinah. Ketika mendekati Ka’bah, semua patung dan gambar yang mengelilingi Ka’bah dihancurkan.
Kemudian Bilal mengumandangkan adzan
Sebagian
ulama karena itu lalu sepakat bahwa tentang pelarangan gambar oleh fikih.
Dengan tujuan agar tidak ada upaya untuk mengultuskan seseorang atau individu
bahkan jika seseorang atau individu itu adalah seorang nabi sekali pun.
Konteksnya adalah, perilaku suku Quraisy yang cepat menjadikan sesembahan dari
gambar maupun patung. Sementara Nabi membawa ajaran yang mengajak manusia untuk
hanya menyembah satu Tuhan, bukan yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan,
Nabi sebenarnya mengajak manusia untuk selalu mengasah dan mengutamakan rohani
ketimbang meributkan persoalan dzohir yang tampak, seperti gambar dan
patung-patung. Bukankah agama memang sebuah ajaran yang mendasarkan pada hal-hal
yang bersifat rohani? Dari rohani kemudian terbentuk perilaku dzohir.
Selain
hadis dari Bukhari itu, tidak ada hadis yang secara langsung dan terang menjelaskan
hal itu. Tidak juga di dalam al Quran. Namun jika Nabi sendiri sudah menghapus
semua gambar di Ka’bah, barngkali logikanya lukisan atau gambar tentang dirinya
juga dilarang. Kira-kira begitulah pendapat sebagian jumhur ulama, meskipun peristiwa
tentang gambar itu sangat debatable yang idak akan pernah selesai,
Lalu bagaimana dengan kartun di Perancis itu? Pada suatu hari,
datanglah Jibril kepada
kanjeng nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah gara-gara lemparan batu oleh
penduduk Thaif yang bertubi-tubi, mereka tidak bersedia menerima ajaran Islam.
“Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit
gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan menolak
saran dari Jibril. Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk
Thaif. Nabi juga mengharapkan suatu saat generasi bertakwa lahir dari
orang-orang Thaif yang telah mendzoliminya.
Bukan
sekali dua kali saja, Kanjeng Nabi memperoleh perlakuan tidak mengenakan. Melainkan
hampir setiap hari. sepanjang hidup. Pernah suatu ketika, seorang nenek Yahudi
selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya, setiap kali nabi akan lewat di
depan rumah itu. Lalu dari atas rumahnya si Yahudi menyiramkan kotoran unta
kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula nabi tidak
pernah marah, Nabi Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti
pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Nabi lewat
ruah nenek Yahudi itu tanpa mendapat siraman kotoran dari nenek Yahudi. Bertanyalah
Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” jawab
para tetangga. Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk dan ketika ditemui,
nenek Yahudi yang sedang terbaring tak berdaya, Nabi berkata, “Aku berdoa agar
engkau segera sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramku dengan kotoran unta.”
nenek Yahudi lalu menangis sesenggukan. Setelah sembuh, dia selalu menceritakan
tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.
Maka kartun di majalah Charlie Hebdo yang katanya menggambarkan
Nabi Muhammad itu, tak perlu disikapi dengan reaktif, terlebih dengan cara-cara
yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Nabi Muhammad tidak akan pernah berkurang hanya karena sebuah gambar
yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghinanya maupun yang menyanjungnya.
Maka lihat dan amatilah, wajah di kartun itu, sesungguhnya sama
sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis, juga diakui
kaum orientalis sebagai wajah yang menyejukan, wajah yang penuh keteduhan. Juin
(nama pena), pembuatnya, sekali lagi hanya berimajinasi. Celakanya, imajinasi
itu memang keliru besar karena tampaknya dia memang tak pernah punya bayangan
dan referensi sama sekali tentang wajah dan perilaku Nabi.