Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Kamu tahu elep, kan? Iya, bus kecil satu pintu yang beroperasi dalam kota atau antar kota sebelah. Saya sedang keranjingan naik ini. Saya bisa mendapatkan apa saja yang tidak bisa saya dapatkan dengan naik kendaraan pribadi. 


Di elep, saya bisa bertemu dengan banyak juragan. Dari juragan tahu, juragan ikan asin, sampai pengamen biasa, atau Ibu Jamu gendong, tidak ketinggalan juga buruh-buruh pabrik. Obrolan mereka terkadang melebihi dawuhnya Socrates – mengandung filosofis yang dalam.


Terkadang juga, mereka lebih religius dari ustadz-ustadz selebriti TV. Seperti siang Jumat kala itu, ketika elep benar-benar sepi. Hanya mengangkut saya seorang, Alhamdulillah di tengah jalan, ada Ibu naik yang tergopoh dengan barang dagangannya. Dia penjual lauk keliling.

Sang Supir elep bertanya,

“Jumat-jumat kaya kie rame, Yu?”. 

“Ya embuh, Um. Arane beh ikhtiar”. 

 “Muga-muga tah rame yah, Yu”. Tukas Supir sambil senyum tulus.

Aku 'mbak deg'. Padahal supir ini rejekinya sedang seret. Elepnya kosong melompong. Dia tetap harus setoran. Tapi semua itu, tidak membuat dia terhalang untuk mendoakan rejeki orang.


Elep bagi saya adalah, tempat di mana manusia bisa bertegur sapa, tanpa harus saling mengenal sebelumnya. Di dalam elep, segala topik pembicaraan bebas untuk dilontarkan. Ekonomi adalah topik yang paling trendi. Politik, kesehatan, isu sosial, kebanjiran, semua bidang mereka bak ahli. 


Saya baru berani pertama naik elep sendirian waktu SMP kelas satu. Awal tahun milenium. Kalau kita amati secara sederhana, banyak perubahan signifikan terhadap elep di kota kecilku. Menururunnya jumlah penumpang, salah satunya.


Fenomena ini cukup klise. Di saat pemerintah mempermudah ijin regulasi penjualan kendaaraan bermotor, masyarakat banyak beralih naik kendaraan pribadi. Disisi lain, pemerintah mengkampanyekan naik bus umum sabagai solusi mecetnya jalananan. 


Namun, jika kita amati, di elep yang setiap hari saya naiki, jarang sekali saya temukan supir (juragan bus elep) menggunakan jasa kenek. Artinya, SDM di kota kecilku yang dari tahun ke tahun semakin membludak ini, tidak mungkin lagi bekerja sebagai kenek bus elep. Hilanglah satu jenis profesi di dunia ini. Hai apakabar Om Kenek yang dulu menemani saya berangkat sekolah? Sekarang bekerja sebagai apa.


Di dunia ini apa yang tidak paradoks. Tidak setiap di elep, bisa saya temukan semua kebaikan. Ada juga yang menyebaikan bisa saya temukan di jam-jam tertentu. Juga kejelakan: Supir yang egois. Suka kebut-kebutan. Tukang palak berkedok calo. Copet yang semakin canggih. Dan, dan, dan lain-lain.


Tapi semua paradoks itu, harus saya terima, saya syukuri, dan saya ikhlasi, bukan? Aihhh kata-kata saya sudah seperti Socrates belum? 




#DearDifa


Lama sekali saya tidak menulis #DearDifa untukmu. 


Saya akan bercerita lagi.


Usiamu mendekati empat tahun. Hari ini kamu bisa menggambar, mewaranai, dengan bantuan Ibumu. Ah, Nak, Coretan-coretan itu, kamu bagai seniman. Ini tentu saja sebuah proses tumbuh kembang yang wajar di usiamu. Saya tidak ingin muluk-muluk tentangmu. Hanya ingin kita, semua orang, bergembira saja. 



Ini tentang warna, Difa, kamu sudah faham betul semua jenis-jenis warna, bahkan pelangi sekalipun yang rumit jumlahnya. Kecuali satu warna yang kamu masih bingung, mungkin kelak saat kau dewasa, kau akan menafsiri sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Satu warna itu, adalah abu-abu.



Suatu hari, saat saya masih muda, saya masih mengajar di Purwokerto. Seperti biasa, senin pagi sebelum subuh, kesibukan menyertai kami, Ibumu menyiapkan bekal sarapan untuk saya bawa. Sementara saya persiapan alakadarnya. Sebelum adzan subuh berkumandang saya tancap motor. Untuk meringkas waktu, saya biasa shalat subuh di mushala pom bensin Bantarbolang yang jaraknya dari rumah kita 45 menit.



Dan pagi itu, sehabis shalat subuh, matahari tidak nampak tanda-tanda wujudnya. Mendung mengawan-awan. Langit gelap. Biasanya, saya akan janjian bertemu dengan kawan saya yang Muhammadiyah di RS Randudongkal (lihat tulisan saya persahabatan NU dan Muhammadiyah). Namun, saat itu, dia sedang ada tugas di luar kota. Terpakasa saya melanjutkan perjalanan seorang diri.



Sampai di Kecamatan Belik, biasanya Gunung Slamet akan menyuguhkan pesonananya. Pagi itu tidak demikian. peteng! Kabut di mana-mana. Saya punya masalah dengan penglihatan. Mata saya minus sejak MTs, dan baru mengenakan kacamata setalah masuk SMA. Intinya, saya punya masalah dengan mata, dan pagi itu, masalah itu, benar-benar memperparah: saya tidak bisa melihat jarak kurang dari satu meter! Yang saya pandang semua abu-abu. Semua kabut. Ini sangat bahaya. Salah sedikit, fatal akibatnya. Medan jalan yang berkelok, penuh turunan dan tanjakan tajam. Kiri kanan jurang.



Jarak perjalanan yang penuh kabut itu kira-kira lebih dari 30 menit, dari Belik ke Purbalingga. Waktu itu, saya sudah pasrahkan semua kepada Allah. Dengan hati-hati, pelan-pelan. Tak lupa melafalkan shalawat. 



Tentu suatu saat nanti kau akan bertanya, kenapa 30 menit itu yang menyebalkan, saya terus tetap berjalan? #DearDifaa saya tentu banyak kekurangan dalam hal mengajar, tapi kekurangan itu, saya tidak ingin menambahkan lagi dengan terlambat masuk kelas. Saya bukan sok idealis, tapi begitulah saya. Saya akan tetap dan terus berjalan. Se-menyebalkan apapun keadaan.



#DearDifa. Kabut itu, mengiatkan padaku tentang banyak sesuatu. Salah satunya adalah ini. Presiden ke-2 Indonesia, akan diperingati haulnya. Yang memperingati tidak tanggung-tanggung, sebuah akun media sosial: NU Channel.


Suatu saat, jika kamu membuka wawasanmu, kamu akan mempelajari apa saja. Kamu akan mengintip profil presiden ke-2 Indonesia dari berbagai sudut pandang. Kenapa banyak yang keberatan Khaulnya diperingati. Terlebih oleh warga Nahdliyin sendiri. 



Sementara, salah satu pengurus struktural NU menyatakan bahwa, platform 'NU Channel' adalah akun unofficial, dia bukan akun resmi NU. Namun hal yang lain, ini bukan kabar burung: konon 'NU Channel' punya ruangan khusus yang besar di gedung PBNU.



#DearDifa, lagi-lagi saya melantur. Dunia ini abu-abu, tapi kita akan terus tetap berjalan. Banyak hal yang sebenarnya kita tidak tahu. Kalau sudah begini, saya ingat nasihat yang tepat dari K.H Ahmad Dahlan pada anak turunannya, yang bisa kita kontekstualkan ke NU: “Hidup-hidupilah NU, jangan hidup di NU”.

Setelah pembunuhan guru Paty yang memunculkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar, majalah mingguan satir Perancis Charlie Hebdo mencetak lagi kartun nabi Muhammad di edisi terbarunya. Ludes terjual dalam kurun sehari. Kartunis majalah itu mengungkapkan bahwa kebebasan berkespresi didukung publik Perancis.

 

Entah dari mana asal-usulnya, masyarakat meyakini, bahwa  itu lantas disebut sebagai wajah Nabi Muhammad karena jika pandangan Anda adalah Islam rahmah, tidak perlu marah. Bagaimana mungkin wajah nabi kita dilukisakan dalam kartun sejelek itu. Barangkali di sanalah letak kelucuan karikatur Westergaard itu: mencoba berimajinasi terhadap sesuatu yang tidak pernah dijumpai dan dilihatnya dan kemudian memang keliru sama sekali.

 

Nabi Muhammad adalah sosok yang disanjung dan menjadi panutan seluruh umat Islam. Lahir di Mekkah, Muhammad terlahir dari garis keturunan Ibrahim as. melalui Nabi Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar, budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.

 

Dalam buku Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis  yang ditulis oleh Karen Amstrong, digambarkan sebagai pria yang tampan, santun, jujur, dan cerdas. Beberapa hadis dan keterangan Sahabat juga mengungkapkan hal yang sama. Salah satu sebab orang-orang Quraisy (salah satu suku yang paling keras menentang ajaran Muhammad) tak mampu mengusir dan mengucilkan Nabi, karena perilaku Muhammad yang santun, jujur, dan cerdas bahkan sejak kanak-kanak. Sehingga dalam setiap persoalan, mereka yang menentang keras Muhammad pun selalu meminta Nabi untuk menjadi penengah atau hakim dalam setiap perkara.

 

Keterangan Karen tersebut, niscaya juga berlaku pada semua nabi dan orang-orang saleh yang lain. Pada mereka seolah berlaku ketetapan bahwa ucapan dan perbuatan kadarnya sama benar. Tidak ada misalnya, sejarah dari para nabi dan orang-orang saleh, apa pun agama yang dibawa oleh mereka, kemudian antara ucapan dan perbuatannya tidak singkron apalagi misalnya mengajarkan kebencian dan permusuhan. Wajah mereka, semuanya juga digambarkan sebagai wajah yang teduh, sehingga membuat banyak orang merasa aman berada di samping mereka.

Persoalannya, berdasarkan beberapa hadis, dalam Islam melarang orang membuat gambar dan menyimpannya dalam rumah. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dikabarkan oleh Bukhari, yang menyebut, “Bahwasanya Malaikat tidak masuk ketika gambar-gambar di rumah”, Apa alasan Nabi waktu mengatakan itu, penafsirannya juga multi tafsir. Jika dalam Ilmu Kajian Alquran terdapat Asbabun Nuzul (Sebab-sebab diturunkannya ayat), maka dalam Ilmu Hadis terdapat Asbabul Wurud (Sebab-sebab datangnya/keluarnya hadis). Hadis tentang malaikat rahmat, yang enggan masuk rumah karena terdapat gambar, juga bisa di-takhrij (analisis Hadis) dari berbagai sudut pandang kecakapan Rawi (periwayat Hadis),  dan lain-lain. Dari Takhrij Al Hadis itu bisa menentukan kualitas Hadis dan bisa dicerna kemana arah kontekstual ucapan Nabi pada waktu itu.

 

Ada sebuah cerita yang cukup menarik, saat peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) Nabi memasuki Mekkah untuk kali pertama sejak berpindah (hijrah) ke Madinah. Ketika mendekati Ka’bah, semua patung dan gambar yang mengelilingi Ka’bah dihancurkan. Kemudian Bilal mengumandangkan adzan

 

Sebagian ulama karena itu lalu sepakat bahwa tentang pelarangan gambar oleh fikih. Dengan tujuan agar tidak ada upaya untuk mengultuskan seseorang atau individu bahkan jika seseorang atau individu itu adalah seorang nabi sekali pun. Konteksnya adalah, perilaku suku Quraisy yang cepat menjadikan sesembahan dari gambar maupun patung. Sementara Nabi membawa ajaran yang mengajak manusia untuk hanya menyembah satu Tuhan, bukan yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan, Nabi sebenarnya mengajak manusia untuk selalu mengasah dan mengutamakan rohani ketimbang meributkan persoalan dzohir yang tampak, seperti gambar dan patung-patung. Bukankah agama memang sebuah ajaran yang mendasarkan pada hal-hal yang bersifat rohani? Dari rohani kemudian terbentuk perilaku dzohir.

Selain hadis dari Bukhari itu, tidak ada hadis yang secara langsung dan terang menjelaskan hal itu. Tidak juga di dalam al Quran. Namun jika Nabi sendiri sudah menghapus semua gambar di Ka’bah, barngkali logikanya lukisan atau gambar tentang dirinya juga dilarang. Kira-kira begitulah pendapat sebagian jumhur ulama, meskipun peristiwa tentang gambar itu sangat debatable yang idak akan pernah selesai,

Lalu bagaimana dengan kartun di Perancis itu? Pada suatu hari, datanglah Jibril kepada kanjeng nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah gara-gara lemparan batu oleh penduduk Thaif yang bertubi-tubi, mereka tidak bersedia menerima ajaran Islam. “Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan menolak saran dari Jibril. Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk Thaif. Nabi juga mengharapkan suatu saat generasi bertakwa lahir dari orang-orang Thaif yang telah mendzoliminya.

 

Bukan sekali dua kali saja, Kanjeng Nabi memperoleh perlakuan tidak mengenakan. Melainkan hampir setiap hari. sepanjang hidup. Pernah suatu ketika, seorang nenek Yahudi selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya, setiap kali nabi akan lewat di depan rumah itu. Lalu dari atas rumahnya si Yahudi menyiramkan kotoran unta kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula nabi tidak pernah marah, Nabi Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Nabi lewat ruah nenek Yahudi itu tanpa mendapat siraman kotoran dari nenek Yahudi. Bertanyalah Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” jawab para tetangga. Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk dan ketika ditemui, nenek Yahudi yang sedang terbaring tak berdaya, Nabi berkata, “Aku berdoa agar engkau segera sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramku dengan kotoran unta.” nenek Yahudi lalu menangis sesenggukan. Setelah sembuh, dia selalu menceritakan tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.

Maka kartun di majalah Charlie Hebdo yang katanya menggambarkan Nabi Muhammad itu, tak perlu disikapi dengan reaktif, terlebih dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Nabi Muhammad tidak akan  pernah berkurang hanya karena sebuah gambar yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghinanya maupun yang menyanjungnya.

 

Maka lihat dan amatilah, wajah di kartun itu, sesungguhnya sama sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis, juga diakui kaum orientalis sebagai wajah yang menyejukan, wajah yang penuh keteduhan. Juin (nama pena), pembuatnya, sekali lagi hanya berimajinasi. Celakanya, imajinasi itu memang keliru besar karena tampaknya dia memang tak pernah punya bayangan dan referensi sama sekali tentang wajah dan perilaku Nabi.

 


 #DearDifaa


Hidup yang fana ini sesekali memang harus kita rayakan. Cara merayakannya jangan tanyakan padaku. Kau akan menemukannya nanti. Di perjalanan nanti, ada banyak tanda yang akan membawamu merayakan kegembiraan sendiri. 



Difa, kehidupan yg fana ini, bagi sebagian orang adalah mampir berlomba. Hidup cuma merayakan, dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Bahkan, konon dulu, sebelum menuju kefanaan ini, kita juga berkompetisi. Kanjeng nabi Muhammad, panutan kita, juga membawa pesan dari Tuhan; supaya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Masalahnya, seringkali, kita yang makhluk fana ini, selalu mendambakan kemenangan dalam setiap perhelatan. Seringkali kita bersedih, ketika kekalahan adalah sebuah kenyataan. 



Itu dulu, sebelum saya tahu. Bahwa hidup itu bukan untuk hebat-hebatan. Kemenangan bukan tujuan. Dalam khazanah Maiyah, diceritakan, bahwa Allah tidak menuntut kita untuk berjaya. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa berhenti. Maka, saya berjuang semampu saya. Dan kau juga suatu saat harus berjuang semampu kamu. Sebisa kamu. 



Aku juga harus menceritakan padamu tentang ini; terdapat seseorang yang menghindari kompetisi. Dia sudah tidak menghiraukan apa-apa. Sudah tidak berkeinginan tentang dunia. Fokusnya hanya mencari ridho dan cintaNya. Suatu ketika seorang kawannya bertanya pada dia; “bagaimana mungkin Anda mengharapkan cinta Allah, jika Anda juga tidak dalam rangka berlomba-lomba meminta cinta”. Jawabnya; “Saya tidak bisa menjawab dan berargumentasi kepadamu. Jika aku menjawab, mungkin saja saya sudah masuk dalam arena lomba!”



Ada lagi kisah, ini asli, tentang sepenggal cerita, bagaimana manusia Indonesia bertahan dalam kemiskinan, ketiadaan dan merayakannya dengan penuh kegembiraan. Tokoh kita ini, ketika kecil, tidak tinggal bersama ibunya, karena orang tuanya bercerai. Dia tinggal bersama bapaknya. Pekerjaan bapak tukang becak. Ketika dia umur sekolah TK, sepertimu, dia bersosialisasi banyak dengan kawan. 



Berangkat dan pulang diantar jemput dengan bus sekolah. Setiap kali bus berhenti, menjemput teman-temannya satu persatu, teman-temannya berpamitan dan salam cium tangan pada ibu mereka. Sementara dia tidak. Suatu kesempatan, dia yang masih TK bertanya pada kakak perempuanya. “Kak, Ibu itu apa?” ditanya begitu, si Kakak menangis. Lalu memeluk adiknya. Dari caranya bertanya. Dia yang sudah TK tidak punya konsep dalam alam pikirannya, dia mengambil pilahan kata ‘apa’ bukan ‘siapa’ untuk meminta penjelasan dari arti kata ‘ibu’.  



Dia yang miskin, dia yang tekun belajar. Di sekolah selalu mendapatkan juara. Menjadi siswa teladan. Rangking 3 besar. Dari SD sampai SMP. Ironisnya, setiap kali pengambilan raport, tidak ada orang tuanya mengambil raportnya. Kakak perempuannya berkata, “Sudahlah dik, kamu ndak usah belajar, untuk apa mendapatkan juara. Kamu itu tidak membutuhkannya. Juara itu untuk orang lain saja yang lebih membutuhkan”. Nasihat ini tentu saja sangat nyeleneh. Tidak wajar. Juga njijiki. Tapi begitulah, kalau kita pelajari psiko dan sosio manusia Indonesia arus bawah itu menyenangkan sekali, banyak yang jauh melenceng dari teori.



Singkat cerita, nasihat kakak perempuannya ia terima. Justru ini adalah jalan hidup yang mencerahkan. Di SMA dia biasa-biasa saja. Menjadi siswa nyeleneh. Kenyelenehan ini yang menjadi cikal dasar, ia akan menjadi seniman besar.



#DearDifaa. Saya selalu mengambilkan tamsil untukmu dari kisah orang biasa saja. Bukan berarti kau harus begini dan begitu. Kamu harus jadi dirimu sendiri, Nak. Yang terpenting adalah bergembiralah. Tulisan ini tentang kompetisi dan lomba. Dua hari lagi, saya akan berlaga. Tentu saja saya manusia biasa. Bukan seperti kisah-kisah tokoh yang saya tuliskan di atas. Saya masih berharap kepada Allah. Untuk sekali lagi, tidak tega kepada saya. Tidak tega kepada kita. Dan meng-acc proposal kita.

 #DearDifa


Konon Tuhan itu bercakap dengan manusia melalui tanda. Tinggal manusia bisa membaca tanda itu atau tidak.



Saya dianugerahi banyak teman di Media Sosial dari beberapa kalangan. Dari teman itu saya mecoba, berusaha membaca tanda. Kadang Tuhan menyindir saya. Tidak jarang menyemangati juga. 



Seperti unggahan seorang profesor. Dia menulis tentang doa. Dia menganalogikan. Ketika ada pengamen dengan suara yang sumbang, buru-buru ia memberikan recehan. Jangan-jangan selama ini, suara doa kita juga sama sekali tidak indah untuk didengar, hingga Tuhan buru-buru mengabulkan keinginan. Betapa hina nian.



Suatu ketika, seorang teman seniman apdet status. Tokoh seniman ini adalah orang yang hidupnya penuh lika-liku. Seniman duda yang ditinggal kekasihnya. Tapi ia terus berkarya. Dalam statusnya ia mengucapkan: bertarunglah, jika kalah akuilah. Lalu bertarung lagi. Jika menang, kenangkanlah. Sebab kemenangan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Yang saya tahu, Tuhan Maha Ndak Teganan.



Begitulah, dua hari lagi saya harus siap dengan pertarungan itu. Tentu saya menyanyi dalam doa. Tidak peduli nyanyian saya terdengar sumbang. Toh jika dalam sepanjang hidup saya, saya terus berdoa dengan nyanyian jelek ini, saya tidak apa-apa. Jika diberi recehan juga saya terima. Karena sudah seharusnya, genetik saya mewarisi survive dalam mengarungi kehidupan.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE