#DearDifa
#DearHilwa
dan
#DearKauYangBersamayamDalamSepi
Aku mencintai kalian, sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.
Ini hari ke tujuh Ramadhan tahun 2023 saya tidak hapal tahun hijriyahnya.
Momen Ramadhan adalah momen yang mengharu biru bagiku. Puasa adalah hal tentang yang menyenangkan, juga tentang mengenakan. ini bukan tentang surga-neraka. Hanya memori nostalgik saja.
Dari tahun ketahun dari saya kecil, saya bisa masih ingat momen² itu. Jika dituliskan tentu bisa dijadikan buku. Bagaimana saya latihan lapar, mengenal seorang yang sangat berkesan yang bernama Ali di Sebuah masjid, kuliah subuh, puasa sampai duhur dibelikan nasi warteg oleh nenek. Sampai momen² yang tidak menyenangkan yang menimpaku di Pemalang.
Tapi lupakanlah hal-hal yang tidak baik. karena kita harus mencintai diri sendiri.
Tahun ini adalah Ramadhan ketiga setelah saya sakit asam lambung. Tahun ketiga ini saya merasa sangat sehat. Serangan gerd minim terjadi. Tentu semua ini berkat Maha Ndak Teganya Allah kepada saya. Melalui banyak terapi dan disiplinnya berbagai pengobatan. Juga tidak dipungkiri karena hadirnya #DearHilwa diantara kita.
Ramadhan tahun ini seolah memang mudah dijalani. Berkat Allah yang menguatkan segalanya tentang saya dan kita. Ramadhan ini juga #DearHilwa telah berhenti minum ASI, tentu ini tidak mudah. Betapa banyak pengorbanan dan segala bentuk kegiatan sebagai pengalihan. Dalam hati, saya tidak tega #DearHilwa, tetapi ini adalah siklus hidup. Kita terjebak dalam kubangan ini. Kita nikmati.
Banyak sekali hal yang ingin aku kisahkan kepada kalian #DearDifa #DearHilwa dan #DeerKauYangBersemayamDalamSepi
Ini adalah tahun pertama #DearDifa berlatih puasa. Laku puasa adalah warisan leluhur-leluhur kita, mereka yang selalu berpuasa, menahan segala lapar dahaga dan hal-hal yang bersifat nafsu lainnya. Tidak terlalu sulit untuk membangunkan #DearDifa sahur, karena beberapa kali #DearHilwa juga ikut sahur.
Saya tidak tahu, apakah puasa kita akan diterima atau hanya sekedar menahan nafsu. Yang terpenting adalah kita menjalani sebagai bentuk kepatuhan kita kepada Allah.
Puasa itu bagi saya adalah seperti menikmati musik, tidak perlu orang tahu selera musik kita apa. Tidak perlu berisik. Yang penting kita menikmati keindahan-keindahan itu dalam diam. Karena hanya satu-satunya ibadah yang paling sunyi adalah puasa. Hanya Tuhan dan kita saja yang tahu.
Puasa itu juga bentuk mencintai diri sendiri. Ada banyak hal yeng bersifat negatif yang selalu masuk ke tubuh kita. Dari makanan dan minuman. Kita lerai sebentar demi kasihan tubuh kita.
Tulisan ini tentu tidak ada dalil Alquran dan Sunnah. Karena sebuah rasa itu tidak perlu lagi dalil-dalil itu.
Aku ingin peluk kalian.
#DearDifa
#DearHilwa
dan
#DearKauYangBersemayamDalamSepi