Untuk ikhwah Fillah. maafkan saya yang banyak kekurangan dalam menemani belajar metodologi pembelajaran. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. tulisan ini hanya sekedar bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita.
.
.
Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, lalu di luar sana, banyak artikel ilmiah bertebaran tentang berbagai macam metodologi pembelajaran. Rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi “the great teacher”. Terlebih setelah masa pasca pandemik ini. Dulu semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli.
Tapi tidak butuh ahli, kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti kita [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif? Wallahu a'lam.
.
.
Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun, juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?
.
.
Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.
.
.
TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.
.
.
Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;
الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.
.
.
Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, kita tidak bisa memverifikasi adanya. Tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru.
.
.
Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu. Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru.
.
.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa atau santri juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, sebagai guru jangan anti kritik terhadap murid.
.
.
Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sehat berkah selalu untuk teman² semua.